Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Pasar Borobudur, Denyut Ekonomi Warga di Kawasan Wisata…
Ekonomi

Pasar Borobudur, Denyut Ekonomi Warga di Kawasan Wisata Candi

Di dekat terminal dan candi, pasar ini melayani warga sekaligus wisatawan, tetapi banyak kios di dalamnya kosong karena pedagang memilih tepi jalan. Inilah kisah Pasar Borobudur antara denyut harian, penataan, dan pariwisata.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 15.18 WIB
Ilustrasi Pasar Borobudur dengan pedagang dan pembeli
Ilustrasi pedagang dan pembeli di los pasar tradisional dengan sayur, buah, jajanan, dan kerajinan anyaman. (Ilustrasi: KabarTidar)

Pasar Borobudur adalah pasar rakyat yang menjadi denyut ekonomi warga di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dan keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari posisi Borobudur sebagai kawasan wisata kelas dunia. Pasar ini melayani kebutuhan sehari-hari warga sekitar, mulai dari sayur, sembako, daging, ikan, pakaian, hingga kerajinan, sekaligus menjadi tempat bertemunya warga, pedagang, dan wisatawan yang singgah dalam perjalanan menuju Candi Borobudur. Artikel ini menguraikan peran, isi, persoalan, dan masa depan pasar ini dari sumber yang dapat ditelusuri, serta membedakannya dari pasar-pasar lain di Magelang dan dari kawasan pasar seni yang sering dikacaukan dengan pasar rakyat ini.

Untuk memahami Pasar Borobudur, pembaca perlu membedakan tiga hal yang sering tercampur dalam percakapan sehari-hari. Pertama, Pasar Borobudur sebagai pasar rakyat atau pasar tradisional di Kecamatan Borobudur, tempat warga berbelanja kebutuhan harian. Kedua, Kampung Seni Borobudur di Dusun Kujon, Desa Borobudur, yang dibangun sebagai tempat relokasi bagi pedagang dan pengrajin yang sebelumnya menempati lahan parkir di pintu keluar Candi Borobudur. Ketiga, Pasar Medang, yaitu pasar rakyat yang digelar pada momen tertentu di area Candi Borobudur, misalnya pada perayaan Waisak, dengan kuliner dari pedagang Kampung Seni Borobudur hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ketiga hal ini berkaitan, tetapi tidak sama, dan artikel ini akan menjaga pembedaan itu agar pembaca tidak salah alamat ketika berkunjung.

Pasar Borobudur sebagai pasar rakyat terletak di kawasan Borobudur, tidak jauh dari Terminal Borobudur, menurut kesaksian pengunjung yang dimuat dalam direktori daring. Kedekatan dengan terminal ini penting, karena terminal adalah simpul transportasi yang memudahkan warga dari desa-desa sekitar untuk datang berbelanja, dan memudahkan pedagang untuk membawa dagangan dari sentra produksi. Pasar yang dekat dengan terminal juga mudah dijangkau wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi, karena mereka dapat turun dari kendaraan umum dan langsung berjalan menuju pasar. Kedekatan ini, di sisi lain, juga menjadi sumber persoalan, karena arus kendaraan, pedagang kaki lima, dan pembeli yang berhenti di tepi jalan dapat saling berebut ruang.

Pasar Borobudur dan Isi Dagangannya

Sebagai pasar tradisional, Pasar Borobudur menjual hampir semua kebutuhan masyarakat dari berbagai kalangan, sebagaimana digambarkan oleh pengunjung yang pernah berbelanja di sana. Bahan kebutuhan sehari-hari seperti sembako, sayuran, bumbu, beras, daging sapi, daging ayam, dan ikan tersedia di pasar ini, di samping pakaian dan kerajinan tangan, termasuk tas dan pernak-pernik yang khas. Jajanan pasar yang dijual sangat bervariasi dan dapat membuat pembeli bernostalgia, menurut kesaksian yang sama, karena jajanan tradisional yang dijual di pasar sering kali adalah jajanan yang sudah dikenal sejak masa kecil. Keragaman ini adalah ciri khas pasar rakyat, yang tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual kenangan dan kebiasaan makan.

Salah satu ciri yang paling sering disebut oleh pengunjung adalah sistem tawar-menawar yang masih hidup di pasar ini. Pembeli dapat menawar harga, dan penjual yang ramah akan melayani tawar-menawar itu sebagai bagian dari interaksi, bukan sekadar transaksi. Seorang pengunjung bahkan menulis bahwa ia pribadi memilih untuk tidak menawar bila harganya sudah masuk akal, terutama untuk penjual yang sudah tua, karena baginya hal itu adalah cara yang tepat untuk membantu perekonomian warga lokal. Kesaksian semacam ini menunjukkan bahwa tawar-menawar di pasar tradisional bukan hanya soal harga, melainkan soal hubungan sosial antara penjual dan pembeli yang dibangun dari pertemuan yang berulang.

Di samping kebutuhan harian, Pasar Borobudur juga dikenal sebagai pusat jajanan tradisional yang menawarkan berbagai kuliner unik dan kaya rasa, menurut tulisan tentang jajanan di pasar ini. Pengunjung dapat menemukan makanan khas yang tidak hanya lezat, tetapi juga sarat dengan nilai budaya lokal, dan pasar ini menjadi tempat bertemunya berbagai inovasi kuliner yang terus berkembang. Suasana pasar yang ramai, interaksi langsung dengan pedagang yang ramah dan berpengetahuan tentang produk mereka, serta pertunjukan seni lokal yang kadang digelar di sekitar pasar, membuat kunjungan ke pasar ini terasa sebagai perjalanan budaya, bukan sekadar belanja. KabarTidar sebelumnya telah membahas jajanan pasar tradisional Magelang, dan Pasar Borobudur adalah salah satu tempat di mana pembahasan itu dapat dirasakan secara langsung.

Bagi wisatawan, Pasar Borobudur menawarkan pengalaman yang berbeda dari pusat oleh-oleh di sekitar candi. Di pusat oleh-oleh, barang sudah dikemas rapi dan harganya sudah pasti, sedangkan di pasar rakyat, barang masih dalam keadaan segar, pembeli dapat memilih sendiri, dan penjual dapat bercerita tentang asal barangnya. Pengalaman ini lebih dekat dengan kehidupan warga sehari-hari, dan karena itu lebih berkesan bagi wisatawan yang ingin memahami Borobudur di luar candinya. Wisatawan yang datang ke pasar sebaiknya datang pada pagi hari, ketika pasar paling ramai dan dagangan paling lengkap, serta membawa uang tunai secukupnya dan tas belanja sendiri.

Pasar Borobudur Bukan Pasar Muntilan, Salaman, atau Grabag

Kabupaten Magelang memiliki banyak pasar kecamatan, dan masing-masing memiliki karakter serta wilayah layanannya sendiri. KabarTidar sebelumnya telah membahas Pasar Muntilan, Pasar Salaman, dan Pasar Grabag, dan Pasar Borobudur perlu dibedakan dari ketiganya agar pembaca tidak menganggap semua pasar di Magelang itu sama. Pasar Muntilan melayani kawasan Muntilan yang padat dan berada di jalur utama Magelang menuju Yogyakarta, Pasar Salaman melayani kawasan Salaman di sisi barat, dan Pasar Grabag melayani kawasan Grabag di lereng Gunung Andong dan Sumbing. Pasar Borobudur, sebaliknya, melayani kawasan Borobudur yang sangat dipengaruhi oleh pariwisata Candi Borobudur, sehingga dagangan, pembeli, dan persoalannya pun memiliki warna pariwisata yang lebih kuat.

Perbedaan lain terletak pada hubungan pasar dengan destinasi wisata di sekitarnya. Pasar Muntilan, Salaman, dan Grabag terutama melayani warga dan petani di wilayahnya, sedangkan Pasar Borobudur melayani warga sekaligus wisatawan yang singgah. Akibatnya, Pasar Borobudur memiliki dua wajah, yaitu wajah pasar harian bagi warga dan wajah etalase bagi wisatawan. Dua wajah ini dapat saling menguatkan, karena wisatawan yang berbelanja di pasar menambah penghasilan pedagang, dan pedagang yang ramah membuat wisatawan betah. Namun dua wajah ini juga dapat saling bertabrakan, bila pedagang lebih mengutamakan wisatawan dan mengabaikan warga, atau bila keramaian wisatawan membuat warga enggan masuk ke pasar. Menjaga keseimbangan antara kedua wajah ini adalah tugas pengelola pasar.

Dari sisi persoalan, keempat pasar ini juga memiliki kesamaan, yaitu persoalan pedagang yang berjualan di luar area resmi dan memanfaatkan badan jalan. Persoalan ini tidak hanya terjadi di Borobudur, tetapi juga di Muntilan, dan karena itu Pemerintah Kabupaten Magelang menyoroti kedua pasar itu secara bersamaan dalam rencana penataan. Namun solusi untuk masing-masing pasar tidak dapat disamakan begitu saja, karena kondisi jalan, terminal, dan kawasan wisata di Borobudur berbeda dengan kondisi di Muntilan. Artikel ini akan menguraikan persoalan Borobudur secara khusus pada bagian berikutnya, agar pembaca tidak mengira bahwa penataan di Muntilan otomatis menyelesaikan persoalan di Borobudur.

Pembaca yang ingin membandingkan pasar-pasar di Magelang dapat membaca artikel-artikel KabarTidar tentang pasar kecamatan lainnya, termasuk pasar kecamatan di Magelang secara umum dan Pasar Rejowinangun di Kota Magelang. Perbandingan itu akan menunjukkan bahwa pasar tradisional di Magelang bukanlah peninggalan masa lalu yang seragam, melainkan jaringan ekonomi yang hidup dan berbeda-beda sesuai dengan wilayahnya. Pasar Borobudur adalah simpul dari jaringan itu yang paling dekat dengan pariwisata dunia, dan karena itu kisahnya paling banyak bersinggungan dengan kebijakan pariwisata nasional.

Persoalan Kios Kosong dan Pedagang di Tepi Jalan

Persoalan yang paling sering diberitakan tentang Pasar Borobudur adalah banyaknya pedagang yang memilih berjualan di luar kios resmi mereka, bahkan hingga ke tepi jalan, padahal kios di dalam pasar telah disediakan dan dimiliki oleh pedagang tersebut. Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Pantjaraningtyas Putranto, mengungkapkan hal itu dalam wawancara pada 2 Juli 2025 yang dikutip oleh media lokal. Menurutnya, pengunjung enggan masuk ke dalam pasar karena kondisi di dalam dianggap kumuh dan tidak nyaman, sehingga pedagang lebih memilih berjualan di luar, karena pembeli juga lebih mudah, turun dari kendaraan langsung belanja. Akibatnya, banyak kios di dalam pasar menjadi kosong, bahkan tidak difungsikan, karena tidak ada daya tarik bagi pembeli untuk masuk.

Penjelasan ini penting karena menunjukkan bahwa persoalan pedagang di luar pasar bukanlah semata-mata soal kedisiplinan, melainkan soal daya tarik pasar itu sendiri. Pedagang adalah pelaku ekonomi yang rasional, dan bila berjualan di luar lebih laku daripada berjualan di dalam, mereka akan memilih di luar. Pembeli pun rasional, dan bila masuk ke dalam pasar terasa kumuh, becek, gelap, atau sulit parkir, mereka akan memilih belanja di tepi jalan yang praktis dan cepat. Karena itu, penertiban saja tanpa perbaikan kondisi di dalam pasar tidak akan bertahan lama, karena pedagang dan pembeli akan kembali ke pola lama begitu petugas pergi. Hal ini diakui sendiri oleh pemerintah daerah, yang menyebut bahwa penataan perlu membenahi kebersihan, tata kelola, hingga perilaku pedagang dan pengunjung secara menyeluruh.

Persoalan serupa juga terjadi di Pasar Muntilan, di mana operasi penertiban telah dilakukan beberapa kali bersama Satpol PP, Polresta Magelang, dan Kodim 0705 Magelang, tetapi pedagang masih kembali ke bahu jalan untuk berjualan. Pengalaman Muntilan ini menjadi pelajaran bagi Borobudur, yaitu bahwa penertiban yang tidak diikuti perbaikan pasar dan perubahan kebiasaan hanya akan menghasilkan ketenangan sesaat. Pemerintah Kabupaten Magelang sendiri menyatakan bahwa untuk mengubah kebiasaan pedagang dan pola belanja masyarakat dibutuhkan pendekatan kolektif, dan karena itu koordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah sangat penting agar langkah yang diambil lebih efektif dan diterima masyarakat.

Di Pasar Borobudur, persoalan ini juga berkaitan dengan lalu lintas dan estetika kawasan wisata. Pedagang yang berjualan hingga ke tepi jalan tidak hanya mengurangi fungsi pasar, tetapi juga mengganggu kelancaran lalu lintas serta estetika kota, menurut pemberitaan tentang penataan pasar itu. Bagi kawasan wisata seperti Borobudur, estetika bukan soal remeh, karena kesan pertama wisatawan tentang kawasan sering terbentuk dari jalan dan pasar yang dilaluinya, bukan hanya dari candinya. Jalan yang semrawut dengan lapak di badan jalan dapat memberi kesan bahwa kawasan tidak tertata, meskipun candinya sendiri terawat dengan baik. Karena itu, penataan Pasar Borobudur bukan hanya urusan pedagang, melainkan urusan citra kawasan wisata secara keseluruhan.

Roadmap Penataan dan Rencana Relokasi Pedagang Sayur

Pemerintah Kabupaten Magelang menyatakan telah memiliki roadmap penataan pasar, tetapi untuk tahun berjalan difokuskan pada optimalisasi pemeliharaan akibat efisiensi anggaran. Kepala Bidang Perdagangan yang sama menjelaskan bahwa untuk Muntilan dan Borobudur, kondisinya sudah cukup krusial sehingga menjadi prioritas untuk penataan. Pernyataan ini dikutip dari wawancara pada 1 Juli 2025 di Lapangan drh Soepardi, Mungkid, yang dimuat oleh media lokal. Menurutnya, pembangunan fisik harus dikumpulkan dari beberapa tahun anggaran, dengan istilah menabung dulu, karena keterbatasan anggaran membuat pembangunan fisik belum dapat dilakukan secara besar-besaran. Penjelasan ini memberi gambaran yang jujur tentang kendala fiskal yang dihadapi pemerintah daerah, dan mengapa penataan pasar tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran.

Di tengah keterbatasan itu, pemerintah menyiapkan rencana relokasi khusus untuk pedagang sayur yang kerap menggelar lapak tepat di tengah jalan. Penataan ini diharapkan dapat membuat fungsi pasar berjalan optimal tanpa mengorbankan akses publik dan kenyamanan lingkungan. Rencana relokasi pedagang sayur ini penting, karena pedagang sayur adalah kelompok yang paling terlihat di jalan, dengan dagangan yang memerlukan ruang dan mudah menimbulkan sisa serta genangan. Relokasi yang berhasil memerlukan tempat baru yang tidak kalah strategis dari jalan, karena bila tempat baru sepi pembeli, pedagang akan kembali ke jalan. Karena itu, relokasi harus direncanakan bersama pedagang, bukan diputuskan sepihak, dan pemerintah daerah sendiri menegaskan bahwa penataan dua pasar ini tidak bisa dilakukan secara sepihak.

Pemerintah Kabupaten Magelang menargetkan penataan Pasar Muntilan dan Borobudur dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat, dan diharapkan langkah ini tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga menjadi awal dari transformasi wajah pasar rakyat yang lebih modern, tertib, dan layak. Kata modern, tertib, dan layak di sini perlu dipahami sebagai arah, bukan sebagai hasil yang sudah tercapai. Pasar yang modern bukan berarti pasar yang kehilangan ciri tradisionalnya, melainkan pasar yang bersih, terang, mudah diakses, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli. Pasar yang tertib bukan berarti pasar yang sepi, melainkan pasar yang lapaknya teratur dan jalannya lancar. Pasar yang layak bukan berarti pasar yang mewah, melainkan pasar yang memenuhi kebutuhan dasar, seperti air bersih, toilet, tempat sampah, dan sirkulasi udara.

Bagi pedagang, kepastian tentang roadmap ini penting, karena mereka perlu mengetahui apakah kios mereka akan diperbaiki, apakah mereka akan dipindahkan, dan kapan hal itu terjadi. Ketidakpastian yang berkepanjangan dapat membuat pedagang enggan berinvestasi untuk memperbaiki lapaknya, karena mereka khawatir lapak itu akan dibongkar. Karena itu, komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan pedagang menjadi kunci, agar roadmap tidak hanya menjadi dokumen di kantor dinas, melainkan menjadi rencana yang dipahami dan didukung oleh mereka yang akan menjalaninya. Artikel ini tidak dapat memastikan tanggal realisasi penataan, karena pemerintah sendiri menyatakannya sebagai target, bukan sebagai jadwal yang sudah pasti, dan pembaca sebaiknya mengikuti pengumuman resmi dari Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang untuk perkembangan terbaru.

Kampung Seni Kujon dan Pedagang dari Kawasan Candi

Selain penataan pasar rakyat, kawasan Borobudur juga mengalami penataan besar yang berkaitan dengan pedagang di sekitar Candi Borobudur. Kampung Seni Borobudur di Dusun Kujon, Desa Borobudur, dibangun sebagai tempat relokasi bagi para pedagang dan pengrajin yang sebelumnya menempati lahan parkir di pintu keluar Candi Borobudur. Kawasan baru ini didesain lebih terstruktur dengan fasilitas yang lengkap, memberikan kenyamanan baik bagi pengunjung maupun pedagang, menurut tulisan tentang revitalisasi kampung seni itu. Dengan penataan ini, para pedagang dan pengrajin dapat menampilkan hasil karya mereka dalam suasana yang lebih estetis dan profesional, sehingga meningkatkan daya tarik serta pengalaman wisatawan di kawasan Candi Borobudur.

Relokasi ini berkaitan dengan penataan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Borobudur, di mana lokasi berjualan pedagang yang berada di zona dua rencananya akan dijadikan sebagai cultural park atau area terbuka. Para pedagang akan dipindahkan ke Kampung Seni Borobudur di Lapangan Kujon, dan pada masa pemberitaan itu pembangunan masih dalam tahap pengerjaan. Seorang pedagang yang sudah berjualan selama 12 tahun, menurut pemberitaan itu, berharap pemerintah kembali memikirkan nasib para pedagang dan tidak memindahkannya ke lokasi baru. Harapan ini menunjukkan bahwa relokasi, betapa pun baik niatnya, selalu menimbulkan kecemasan bagi pedagang yang sudah lama membangun pelanggan di lokasi lama. Kecemasan itu wajar, dan perlu dijawab dengan jaminan tentang lokasi baru yang ramai, sewa yang terjangkau, dan masa transisi yang cukup.

Di sisi lain, pengelola kawasan, yaitu InJourney Destination Management, menyediakan lokasi relokasi sementara bagi pedagang dengan bangunan semi permanen yang layak dan tertata dengan apik, di lahan di utara area eks kandang gajah hingga area lapangan sekitar pos enam yang berada di belakang Museum Borobudur. Lokasi relokasi sementara itu dipastikan sesuai dengan alur kunjungan wisatawan, sehingga pedagang masih dapat melayani wisatawan dengan nyaman. Direktur Operasi dan Layanan InJourney Destination Management, Mardijono Nugroho, menambahkan bahwa kios-kios di area relokasi sementara itu diisi oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang menjual pakaian, makanan dan minuman, cinderamata, dan lainnya. Jumlah kios dan lokasinya ditentukan melalui kolaborasi intensif dengan mitra pedagang Borobudur, menurut keterangan itu.

Pembedaan antara Pasar Borobudur sebagai pasar rakyat dan Kampung Seni Kujon sebagai kawasan relokasi pedagang candi menjadi penting di sini. Pasar rakyat melayani kebutuhan harian warga, sedangkan kampung seni melayani wisatawan yang mencari cinderamata dan kerajinan. Keduanya sama-sama penting, tetapi pengelolaannya berbeda, karena pasar rakyat berada di bawah kewenangan pemerintah daerah melalui dinas perdagangan, sedangkan kawasan candi dan relokasinya berkaitan dengan pengelola destinasi dan kebijakan pariwisata super prioritas. Wisatawan yang mencari sayur dan sembako sebaiknya menuju pasar rakyat, sedangkan wisatawan yang mencari cinderamata dan kerajinan dapat menuju kampung seni, dan memahami perbedaan ini akan menghemat waktu serta menghindari salah alamat.

Pasar Borobudur dalam Rangkaian Wisata dan Ekonomi Warga

Pasar Borobudur tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian ekonomi kawasan Borobudur yang mencakup candi, desa wisata, homestay, kuliner, dan kerajinan. KabarTidar sebelumnya telah membahas ekonomi pariwisata Borobudur, dan pasar rakyat adalah simpul harian dari ekonomi itu, karena di pasarlah uang wisatawan dan uang warga bertemu dalam transaksi yang paling sederhana. Wisatawan yang berbelanja di pasar, pedagang yang memasok dari petani, dan petani yang menjual hasil panennya membentuk rantai yang saling bergantung. Bila satu simpul terganggu, misalnya pasar kumuh sehingga pembeli enggan masuk, seluruh rantai akan terpengaruh.

Perayaan Waisak di Borobudur adalah contoh nyata tentang bagaimana pasar dan pariwisata saling memengaruhi. Pada perayaan Waisak, pengunjung dari luar kota dan luar negeri datang ke Borobudur, hotel dan homestay menjadi penuh, dan pasar rakyat digelar di Pasar Medang Borobudur dengan kuliner dari pedagang Kampung Seni Borobudur hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan budaya serta buah tangan hasil karya pedagang di Borobudur. Momen seperti Waisak menunjukkan bahwa pasar, bila dikelola dengan baik, dapat menjadi panggung bagi produk lokal, bukan sekadar tempat belanja. Namun momen itu juga menunjukkan bahwa keramaian sesaat tidak cukup, karena yang dibutuhkan pedagang adalah pembeli yang datang setiap hari, bukan hanya pada hari besar.

Di luar momen besar, pasar rakyat juga berkaitan dengan sentra produksi di sekitar Borobudur, seperti sentra sayur di lereng gunung yang telah dibahas KabarTidar dalam artikel tentang sentra sayur lereng Sumbing. Sayur yang dijual di Pasar Borobudur sebagian berasal dari lahan pertanian di sekitar Magelang, dan pedagang pasar menjadi perantara antara petani dan pembeli. Rantai ini penting bagi ketahanan pangan lokal, karena pasar tradisional adalah tempat di mana hasil pertanian lokal paling mudah ditemui oleh warga. Bila pasar tradisional melemah dan digantikan sepenuhnya oleh toko modern, petani kecil akan kehilangan salah satu saluran penjualannya yang paling mudah diakses.

KabarTidar sebelumnya juga telah membahas regenerasi pasar tradisional sebagai opini, dan pembahasan itu relevan untuk Pasar Borobudur. Regenerasi pasar bukan hanya soal mengganti bangunan lama dengan bangunan baru, melainkan soal mengganti generasi pedagang, menarik pembeli muda, dan menyesuaikan diri dengan cara belanja yang berubah. Pembeli muda yang terbiasa berbelanja daring dan di toko modern perlu alasan untuk datang ke pasar tradisional, dan alasan itu bisa berupa harga yang bersaing, produk segar yang tidak ada di tempat lain, suasana yang menyenangkan, dan kemudahan parkir serta pembayaran. Pasar Borobudur yang berhasil menarik pembeli muda akan memiliki masa depan yang lebih panjang daripada pasar yang hanya mengandalkan pembeli lama.

Cara Berbelanja dan Menikmati Pasar Borobudur

Bagi warga, berbelanja di Pasar Borobudur adalah kegiatan rutin yang tidak memerlukan panduan khusus, tetapi bagi wisatawan, beberapa tips sederhana dapat membuat kunjungan lebih menyenangkan. Pertama, datanglah pada pagi hari, ketika dagangan masih lengkap dan suasana masih segar. Kedua, bawalah uang tunai secukupnya, karena tidak semua pedagang menerima pembayaran nontunai, dan bawalah tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik. Ketiga, jangan ragu untuk bertanya kepada pedagang tentang asal barang, cara memasak, atau cara memilih yang segar, karena pedagang pasar umumnya senang bercerita dan pengetahuannya adalah bagian dari pengalaman belanja. Keempat, hormati antrean dan ruang pedagang lain, karena pasar adalah tempat kerja, bukan sekadar objek foto.

Bagi wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh, pasar rakyat menawarkan pilihan yang berbeda dari toko suvenir, yaitu makanan tradisional, bumbu, dan hasil kerajinan yang dipakai sehari-hari oleh warga. Membeli barang-barang semacam itu berarti membawa pulang sebagian dari kehidupan Borobudur, bukan hanya replika candi. Wisatawan sebaiknya memeriksa kondisi barang, menanyakan daya tahannya, dan mengemasnya dengan baik untuk perjalanan pulang, terutama untuk makanan yang mudah rusak. Bila ragu, bertanya kepada pedagang tentang cara menyimpan adalah langkah yang bijak, karena pedagang lebih memahami produknya daripada label kemasan.

Bagi pedagang dan calon pedagang, Pasar Borobudur juga adalah tempat belajar tentang kewirausahaan yang paling nyata. Di pasar, pedagang belajar tentang harga, kualitas, pelayanan, dan hubungan pelanggan tanpa teori yang rumit. Pedagang yang ramah, jujur tentang kualitas, dan konsisten menjaga kebersihan lapaknya akan memiliki pelanggan tetap, sedangkan pedagang yang hanya mengandalkan lokasi ramai akan kesulitan ketika keramaian berpindah. KabarTidar sebelumnya telah membahas harga kebutuhan pokok di Magelang, dan pedagang pasar adalah pihak yang paling merasakan perubahan harga itu setiap hari, karena mereka harus menyesuaikan harga jual dengan harga pasok dan daya beli pembeli.

Pada akhirnya, Pasar Borobudur adalah cermin dari Borobudur itu sendiri, yaitu kawasan yang berusaha menyeimbangkan warisan dunia dengan kehidupan sehari-hari warganya. Candi Borobudur adalah warisan yang mendunia, tetapi pasar rakyat adalah kehidupan yang menghidupi warga setiap hari. Keduanya perlu dijaga, dan keduanya perlu saling mendukung, karena tanpa warga yang sejahtera, kawasan wisata akan kehilangan jiwanya, dan tanpa wisatawan yang datang, warga akan kehilangan salah satu sumber penghasilannya. Penataan pasar yang sedang direncanakan pemerintah daerah, relokasi pedagang di kawasan candi, dan keramaian pada momen seperti Waisak adalah bagian-bagian dari upaya menyeimbangkan itu. Tugas pembaca, bila berkunjung, adalah sederhana, yaitu datang, berbelanja dengan hormat, dan mengingat bahwa di balik setiap lapak di Pasar Borobudur, ada keluarga yang menggantungkan hidupnya pada pasar itu.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

3 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *