Pasar Muntilan: Denyut Perdagangan Lereng Merapi di Kabupaten Magelang
Di tepi jalur utama Yogyakarta-Magelang-Semarang, Pasar Muntilan mempertemukan hasil kebun lereng Merapi dengan kebutuhan harian warga, dan pedagangnya terus berupaya menjaga pasar ini tetap ramai dan tertata.

Pasar Muntilan adalah pusat perdagangan rakyat di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, dan denyut ekonominya terasa jauh melampaui bangunan pasar itu sendiri. Pasar ini menjadi tempat hasil bumi dari lereng Gunung Merapi dan desa-desa di sekitarnya bertemu dengan kebutuhan sehari-hari warga, tempat pedagang dan pembeli dari berbagai kecamatan bertransaksi, serta tempat roda ekonomi kecil berputar dari pagi hingga malam. Bagi warga Muntilan dan sekitarnya, pasar ini bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan bagian dari ritme hidup sehari-hari.
Letaknya yang berada di jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, dan Semarang membuat Pasar Muntilan sejak lama menjadi titik singgah perdagangan di bagian selatan Kabupaten Magelang. Kendaraan yang melintasi jalur itu, petani yang membawa hasil kebun, pedagang yang memasok warung dan toko, serta pembeli dari desa-desa tetangga bertemu di satu kawasan yang sama. Dari pertemuan itulah pasar ini tumbuh menjadi salah satu pasar tradisional penting di Kabupaten Magelang.
Artikel ini memotret Pasar Muntilan sebagai pasar yang hidup hari ini: letaknya, apa saja yang diperdagangkan di sana, perannya bagi ekonomi lereng Merapi, guncangan yang pernah dialaminya ketika Merapi meletus, serta upaya-upaya yang terus dilakukan agar pasar ini tetap ramai dan tertata. Sejarah pasar hanya menjadi latar, karena yang lebih penting adalah memahami pasar ini sebagai tempat orang Magelang berdagang, berbelanja, dan bertemu dari hari ke hari.
Pasar Muntilan: pusat perdagangan selatan Kabupaten Magelang
Kecamatan Muntilan telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa di bagian selatan Kabupaten Magelang. Gambaran itu tercatat dalam berbagai tulisan tentang wilayah ini, termasuk penelitian akademik dari Universitas Tidar yang menyebut Muntilan telah lama menjadi pusat perdagangan di sekitar lereng barat Gunung Merapi. Pasar Muntilan adalah jantung dari peran itu: tempat aktivitas perdagangan kecamatan ini berpusat dan menyebar ke desa-desa di sekelilingnya.
Sebuah skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang perdagangan pascaerupsi Merapi di Pasar Muntilan menyebut pasar ini sebagai pasar induk di Kabupaten Magelang di antara pasar-pasar tradisional yang ada di kabupaten tersebut. Penyebutan itu penting untuk dipahami secara proporsional: ia menggambarkan posisi Pasar Muntilan dalam jaringan pasar tradisional Kabupaten Magelang pada masa penelitian itu dilakukan, ketika pasar ini menjadi rujukan perdagangan bagi wilayah di sekitarnya. Apa pun sebutannya hari ini, kenyataan yang tidak berubah adalah pasar ini melayani wilayah yang luas, bukan hanya satu desa atau satu kelurahan.
Penelitian Universitas Tidar tentang Pasar Muntilan juga menyebut nama lain pasar ini, yaitu Pasar Pucung Rejo Muntilan. Nama itu mengingatkan bahwa pasar tradisional sering kali memiliki nama yang hidup di tengah masyarakat, di samping nama resmi yang dipakai dalam administrasi pemerintahan. Bagi pembeli dari luar Muntilan, yang penting bukan nama tambahannya, melainkan kenyataan bahwa pasar ini mudah ditemukan: ia berada di kawasan perdagangan Muntilan, di tepi jalur utama yang ramai dilalui kendaraan.
Pedagang Pasar Muntilan, menurut penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut, sebagian besar berasal dari Kecamatan Muntilan sendiri, dengan pembeli yang juga sebagian besar berasal dari kecamatan yang sama. Gambaran ini menunjukkan satu hal yang khas pasar rakyat: pasar ini pertama-tama melayani lingkungannya sendiri. Petani menjual hasil kebunnya tidak jauh dari tempat ia menanam, pedagang melayani tetangga dan langganannya, dan pembeli berbelanja di tempat yang sudah ia kenal. Di atas fondasi lokal itulah kemudian datang pembeli dan pedagang dari wilayah lain, karena letak Muntilan yang strategis membuat pasar ini mudah dijangkau dari berbagai arah.
Pasar rakyat seperti Pasar Muntilan juga memiliki fungsi yang melampaui transaksi. Di pasar, orang bertemu, bertukar kabar, menanyakan harga dan musim panen, serta membangun hubungan dagang yang berlangsung bertahun-tahun. Pedagang hafal langganannya, pembeli hafal pedagang yang biasa ia datangi, dan dari hubungan yang berulang itulah kepercayaan tumbuh. Kepercayaan semacam ini sulit ditiru oleh tempat belanja yang hanya mengandalkan rak dan harga, dan inilah modal sosial yang membuat pasar tradisional tetap bertahan.
Letak strategis di jalur Yogyakarta-Magelang-Semarang
Letak adalah modal pertama Pasar Muntilan. Pasar ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, dan Semarang, salah satu jalur protokol di Jawa Tengah. Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta mencatat letak itu secara tegas, dan penelitian Universitas Tidar menambahkan bahwa Muntilan berada di jalur provinsi yang menghubungkan Semarang, Kota Magelang, dan Yogyakarta. Bagi sebuah pasar, berada di jalur seperti itu berarti berada di aliran orang dan barang: hasil bumi dari pedesaan bisa dibawa keluar, dan barang kebutuhan dari kota bisa masuk ke desa.
Jarak Muntilan dari pusat-pusat di sekitarnya juga menjelaskan jangkauan pasar ini. Menurut penelitian Universitas Tidar, Muntilan terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Mungkid, sekitar 15 kilometer dari Kota Magelang, dan sekitar 25 kilometer dari Kota Yogyakarta. Jarak-jarak itu membuat Muntilan berada di posisi perantara: cukup dekat dengan Kota Magelang dan Yogyakarta untuk dijangkau dalam satu perjalanan, tetapi cukup jauh untuk memiliki pusat perdagangan sendiri yang melayani desa-desa di sekitarnya. Pasar Muntilan mengisi posisi itu: ia adalah pasar yang didatangi warga dari desa-desa sekitar, sekaligus tempat persinggahan bagi mereka yang melintas di jalur utama.
Sejarah pergerakan di Muntilan juga memberi latar bagi peran pasar ini. Wilayah ini pernah dilalui jalur kereta api tua yang menghubungkan Yogyakarta, Mungkid, Magelang, Ambarawa, dan Semarang, yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Seperti halnya pasar-pasar lain yang tumbuh di dekat stasiun dan jalur angkutan, Pasar Muntilan tumbuh karena orang dan barang bergerak melalui Muntilan. Ketika moda angkutan berubah dan kendaraan bermotor mengambil alih jalur utama, pasar ini tetap bertahan karena jalurnya tetap ramai: jalan raya Yogyakarta-Magelang-Semarang tidak pernah kehilangan fungsinya sebagai penghubung.
Letak di jalur utama juga membawa tantangan yang khas. Pasar yang berada di tepi jalan besar mudah dijangkau, tetapi juga mudah meluber ke badan jalan. Persoalan pedagang yang berjualan di bahu jalan dan di badan jalan, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Magelang, tidak bisa dilepaskan dari letak ini: ketika pembeli lebih mudah berhenti di tepi jalan daripada masuk ke dalam pasar, pedagang pun mengikuti pembeli. Penataan pasar, karena itu, selalu berkaitan dengan penataan lalu lintas di sekitarnya, dan keduanya harus diselesaikan bersama-sama.
Bagi pembeli dari luar Muntilan, letak ini adalah kabar baik. Pasar Muntilan tidak tersembunyi di gang atau di pelosok desa, melainkan berada di kawasan perdagangan yang mudah dikenali di sepanjang jalur utama. Pengunjung yang melintas dari Yogyakarta menuju Magelang, atau sebaliknya, dapat mampir tanpa harus menyimpang jauh dari rute perjalanan. Kemudahan inilah yang membuat pasar ini, di samping melayani warga setempat, juga melayani orang yang sedang dalam perjalanan.
Apa saja yang dijual di Pasar Muntilan
Kelengkapan dagangan adalah ciri Pasar Muntilan. Menurut penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta, barang yang dijual di pasar ini sangat bervariasi. Barang dagangan primer meliputi beras, minyak, sayur-sayuran, ikan, daging, makanan ringan, buah-buahan, pakaian, roti, dan berbagai kebutuhan lain. Barang dagangan sekunder meliputi perlengkapan rumah tangga, perlengkapan bangunan, perlengkapan pertanian, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan penunjang lainnya. Pasar ini juga melayani penjualan grosir maupun eceran, baik untuk dijual kembali maupun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kelengkapan itu penting karena ia membuat pasar menjadi tempat belanja satu atap bagi warga desa. Seorang pembeli dapat membeli bahan pangan untuk dapur, pakaian untuk keluarga, dan perlengkapan pertanian untuk sawah dalam satu kunjungan. Bagi pedagang kecil dan pemilik warung di desa-desa sekitar, fungsi grosir pasar ini juga penting: mereka dapat mengambil barang dalam jumlah lebih besar untuk dijual kembali di warungnya. Dengan begitu, Pasar Muntilan bukan hanya melayani pembeli akhir, melainkan juga menjadi simpul dalam rantai distribusi kecil yang menghubungkan pasar dengan warung-warung desa.
Los sayur dan bahan pangan segar adalah bagian pasar yang paling menunjukkan denyut hariannya. Sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, dan daging adalah barang yang tidak bisa disimpan lama, sehingga perputarannya cepat dan pedagangnya harus datang dan berjualan setiap hari. Menurut data Kantor Dinas Pasar Muntilan tahun 2012 yang dikutip dalam skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pasar Muntilan pada masa itu buka setiap hari mulai pukul 06.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Jam buka itu menggambarkan pasar yang bekerja seharian penuh, dengan pagi sebagai waktu paling sibuk ketika barang segar baru datang dan pembeli paling banyak.
Di samping bahan pangan, pasar ini juga menjadi tempat mencari sandang dan papan dalam arti yang sederhana: pakaian untuk sehari-hari, perlengkapan rumah tangga, dan perlengkapan bangunan. Kehadiran pedagang-pedagang ini dalam satu kompleks dengan pedagang bahan pangan membuat pasar menjadi cermin kebutuhan warga: apa yang dibutuhkan rumah tangga, tersedia di pasar. Inilah keunggulan pasar tradisional besar yang sulit digantikan oleh toko yang hanya menjual satu jenis barang.
Pada malam hari, wajah pasar ini bertambah satu lapis lagi dalam beberapa waktu terakhir, yaitu pasar klitikan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dibahas lebih lanjut di bagian akhir artikel ini. Pedagang klitikan menjajakan barang bekas layak pakai, onderdil kendaraan, hingga barang antik, sementara pelaku UMKM menghadirkan kuliner dan kerajinan lokal. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Pasar Muntilan tidak hanya hidup pada jam pasar pagi dan siang, tetapi juga mencoba menghidupkan malamnya sebagai ruang belanja rakyat.
Pasar Muntilan dan hasil bumi lereng Merapi
Peran Pasar Muntilan bagi ekonomi lereng Merapi tidak bisa dipahami tanpa memahami tanah di sekitarnya. Kecamatan Muntilan dan kecamatan-kecamatan di sekitarnya berada di kawasan lereng barat Gunung Merapi, dengan tanah vulkanik yang subur dan sungai-sungai yang berhulu di Merapi, seperti Sungai Pabelan, Lamat, dan Blongkeng. Tanah yang subur itu menghasilkan sayur-sayuran, buah-buahan, padi, dan berbagai tanaman lain yang setiap hari mengalir ke pasar. Pasar Muntilan adalah salah satu tempat hasil itu dikumpulkan, diperdagangkan, dan disalurkan lebih jauh.
Salak adalah salah satu hasil bumi yang paling identik dengan kawasan ini. Di Kabupaten Magelang, salak pondoh nglumut dikenal sebagai produk unggulan yang tumbuh di lereng Merapi, dengan Kecamatan Srumbung, Salam, dan Kajoran termasuk wilayah penghasilnya menurut penelitian tentang salak nglumut. Pasar Muntilan, sebagai pusat perdagangan di selatan kabupaten, berada dalam jaringan perdagangan hasil bumi itu: buah dari kebun-kebun lereng dibawa ke pasar, dibeli pedagang, dan diteruskan ke pembeli di kota maupun di desa. Hubungan antara kebun lereng dan pasar kota inilah yang membuat pasar ini penting bagi petani, bukan hanya bagi pembeli.
Sayur-sayuran adalah aliran hasil bumi yang kedua. Lereng Merapi dan Merbabu menghasilkan sayur-mayur yang menjadi kebutuhan dapur sehari-hari, dan petani di kawasan itu juga menanam sayuran seperti kol, tomat, dan sawi di sela tanaman lain untuk menekan risiko gagal panen. Sayur-sayuran itu membutuhkan pasar yang dekat dan perputarannya cepat, karena sayur tidak bisa menunggu lama. Pasar Muntilan memenuhi kebutuhan itu: ia cukup dekat dengan kebun, cukup besar untuk menampung pedagang sayur, dan cukup ramai untuk memastikan dagangan terserap.
Tembakau juga merupakan bagian dari lanskap pertanian di sekitar Magelang, termasuk di wilayah Muntilan yang termasuk dataran rendah dengan jenis tembakau yang cocok untuk lahan sawah. Tembakau memang bukan barang yang diperdagangkan setiap hari di los sayur, tetapi kehadirannya dalam ekonomi wilayah ini ikut menentukan daya beli warga: ketika musim panen berjalan baik, uang beredar di desa dan sebagian dibelanjakan di pasar. Sebaliknya, ketika cuaca ekstrem menekan hasil panen, pedagang pasar ikut merasakan sepinya pembeli. Pasar, dengan kata lain, adalah cermin musim: ramai dan sepinya pasar sering mengikuti ramai dan sepinya kebun.
Hubungan pasar dan kebun ini juga menjelaskan mengapa Pasar Muntilan melayani dua arah sekaligus. Dari desa ke pasar, mengalir hasil bumi: sayur, buah, beras, dan hasil kebun lain. Dari pasar ke desa, mengalir barang kebutuhan: minyak, pakaian, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan pertanian, dan barang yang tidak dihasilkan desa. Pertukaran dua arah inilah yang disebut penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai interaksi dan interdependensi wilayah: pasar memperlihatkan bahwa desa dan kota saling membutuhkan, dan Muntilan adalah titik tempat kebutuhan itu bertemu.
Pasar seperti ini juga menjadi penopang ketahanan pangan setempat dalam arti yang sederhana. Ketika hasil bumi dapat dijual di pasar yang dekat, petani tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pembeli, dan ketika warga dapat membeli bahan pangan segar di pasar yang dekat, mereka tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan dari jauh. Jarak yang pendek antara kebun dan pasar menjaga kesegaran barang, menekan biaya angkut, dan memberi harga yang lebih masuk akal bagi kedua belah pihak. Inilah fungsi pasar tradisional yang sering tidak terlihat dalam angka, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Merapi meletus: pasar yang ikut berhenti, lalu bangkit lagi
Pasar Muntilan berada dalam radius sekitar 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi, menurut penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta yang mengutip Badan Geologi dan ESDM tahun 2012. Kedekatan itu adalah berkah sekaligus risiko: tanah vulkanik menyuburkan kebun yang memasok pasar, tetapi erupsi dapat melumpuhkan perdagangan dalam waktu singkat. Erupsi Merapi pada Oktober-November 2010 adalah ujian paling berat yang tercatat dalam penelitian tentang pasar ini, dan kisahnya memberi gambaran tentang ketahanan pedagang pasar tradisional.
Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta mencatat rangkaian peningkatan status Merapi pada tahun 2010: pada 20 September 2010 status dinaikkan dari Normal menjadi Waspada, pada 21 Oktober 2010 dinaikkan lagi menjadi Siaga, dan sejak 25 Oktober 2010 pukul 06.00 WIB dinaikkan menjadi Awas. Pada 26 Oktober 2010, Merapi mengalami erupsi pertama, yang berlanjut dengan erupsi-erupsi berikutnya hingga awal November 2010. Bagi pasar, rangkaian itu berarti pembeli tidak datang, pedagang tidak berjualan, dan barang dagangan tidak terjual.
Penelitian itu menemukan bahwa rata-rata pedagang berjualan kembali pascaerupsi setelah libur sekitar 10 hari. Angka itu menggambarkan jeda yang tidak singkat bagi pedagang kecil: sepuluh hari tanpa berjualan berarti sepuluh hari tanpa penghasilan dari lapak, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Pembeli pun, menurut penelitian yang sama, sebagian besar tidak berbelanja di Pasar Muntilan selama pasar tutup karena tidak ada pedagang, dan mereka kembali berbelanja setelah pasar buka kembali. Pasar dan pembelinya, dengan kata lain, pulih bersama-sama: pedagang kembali ketika keadaan memungkinkan, dan pembeli kembali ketika pedagang sudah ada.
Erupsi juga mengubah asal barang dagangan. Penelitian itu mencatat bahwa pascaerupsi, sebagian besar barang dagangan berasal dari Kabupaten Magelang, tetapi kebutuhan sayuran dipasok dari Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Klaten, karena kedua kabupaten itu tidak begitu parah terkena dampak erupsi sehingga masih dapat menghasilkan sayuran dan hasil bumi lainnya. Gambaran ini menunjukkan kelenturan jaringan pasokan pasar tradisional: ketika satu wilayah tidak dapat memasok, pasar mencari pasokan dari wilayah lain yang masih bisa berproduksi, agar lapak tidak kosong dan pembeli tetap dapat berbelanja.
Dampak terhadap penghasilan pedagang juga tercatat dalam penelitian itu. Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta menemukan penurunan pendapatan pedagang pascaerupsi, dari rata-rata sekitar Rp3.570.000 per bulan sebelum erupsi menjadi sekitar Rp2.750.000 per bulan setelah erupsi, berdasarkan data yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut. Angka-angka itu adalah gambaran masa itu, bukan gambaran penghasilan pedagang hari ini, dan nilainya perlu dibaca dalam konteks tahun 2010 dan metode penelitian yang bersangkutan. Yang penting dari temuan itu bukan angka persisnya, melainkan polanya: erupsi menekan pendapatan pedagang, tetapi tidak menghilangkan pasarnya. Pasar tutup sementara, lalu buka kembali, dan perdagangan berjalan lagi.
Kisah pascaerupsi ini memberi pelajaran yang masih relevan bagi pasar-pasar di lereng Merapi. Pasar tradisional di kawasan rawan bencana membutuhkan jaringan pasokan cadangan, kemampuan pedagang untuk bertahan selama jeda, dan pembeli yang kembali ketika pasar buka. Pasar Muntilan melewati ujian itu pada tahun 2010, dan pengalaman itulah yang membuat pasar ini tidak hanya dipahami sebagai bangunan, melainkan sebagai komunitas pedagang yang mampu bangkit setelah guncangan.
Revitalisasi, relokasi, dan penataan yang belum selesai
Seperti banyak pasar tradisional di Indonesia, Pasar Muntilan telah melalui upaya revitalisasi dan penataan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pernah memberitakan proyek revitalisasi Pasar Muntilan yang menelan dana 85,5 miliar rupiah dengan masa pengerjaan 20 bulan, dalam laporan tentang inspeksi lapangan Komisi III DPRD Kabupaten Magelang ke lokasi pembangunan pasar dan gedung perpustakaan di Kecamatan Muntilan. Angka itu menggambarkan besarnya investasi yang pernah ditanamkan untuk pasar ini, sekaligus besarnya harapan yang diletakkan di pundaknya: pasar yang dibangun dengan dana sebesar itu diharapkan menjadi pusat perdagangan rakyat yang layak, tertata, dan mampu menampung pedagang serta pembelinya dengan baik.
Revitalisasi pasar, menurut penelitian Universitas Tidar tentang Pasar Muntilan, adalah upaya memperbaiki dan meningkatkan fungsi pasar tradisional itu sendiri. Ketika revitalisasi dilakukan, pedagang harus direlokasi ke tempat sementara, yaitu pasar penampungan. Proses relokasi itu sendiri sering memunculkan penolakan, karena pedagang harus menyesuaikan diri dengan tempat baru, lapak yang berbeda, dan aliran pembeli yang belum tentu sama. Penelitian Universitas Tidar itu bertujuan menggambarkan proses relokasi di Pasar Muntilan dengan pendekatan perencanaan skenario, dan temuannya menunjukkan bahwa pemerintah daerah mengambil skenario di mana kedua belah pihak saling menerima dan optimistis bahwa relokasi dapat berjalan tanpa konflik. Gambaran ini penting: revitalisasi bukan hanya soal bangunan baru, melainkan soal memindahkan kehidupan ekonomi yang sudah berjalan ke tempat baru tanpa mematahkannya.
Namun, bangunan baru saja tidak cukup. Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan yang muncul di Pasar Muntilan justru adalah soal pemanfaatan bangunan dan ketertiban di sekitarnya. Berita Magelang pada Juli 2025 memberitakan bahwa Pemerintah Kabupaten Magelang menempatkan Pasar Muntilan dan Pasar Borobudur sebagai prioritas penataan, karena maraknya pedagang yang berjualan di luar area resmi pasar dan memanfaatkan badan jalan. Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Pantjaraningtyas Putranto, menyebut pihaknya telah memiliki peta jalan penataan pasar, meskipun pada tahun itu fokus diarahkan pada optimalisasi pemeliharaan akibat efisiensi anggaran.
Persoalan yang dihadapi bersifat melingkar. Menurut pemberitaan tersebut, banyak pedagang memilih berjualan di luar kios resmi mereka, bahkan hingga ke tepi jalan, padahal kios di dalam pasar telah disediakan. Di sisi lain, pengunjung enggan masuk ke dalam pasar karena kondisi di dalam dianggap kumuh dan tidak nyaman. Akibatnya, kios di dalam pasar menjadi kosong dan tidak difungsikan, karena tidak ada daya tarik bagi pembeli untuk masuk. Di Pasar Muntilan, situasi serupa terjadi: meskipun operasi penertiban telah dilakukan beberapa kali bersama Satpol PP, Polresta Magelang, dan Kodim 0705/Magelang, pedagang masih kembali ke bahu jalan untuk berjualan. Penertiban di sepanjang Jalan Klangon pernah berhasil, tetapi kemudian muncul titik-titik baru, bahkan ada pedagang yang nekat berjualan di badan jalan.
Pemerintah daerah, menurut pemberitaan yang sama, tengah menyiapkan rencana relokasi khusus untuk pedagang sayur yang kerap menggelar lapak tepat di tengah jalan, dengan harapan fungsi pasar berjalan optimal tanpa mengorbankan akses publik dan kenyamanan lingkungan. Kepala Bidang Perdagangan itu juga menegaskan bahwa penataan dua pasar tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak, dan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah untuk bergerak bersama dalam menertibkan pedagang dan menciptakan sistem yang tertib dan berkelanjutan. Kutipan yang disampaikannya menggambarkan pendekatan yang disadari tidak bisa instan: karena itu, koordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah sangat penting agar langkah yang diambil lebih efektif dan diterima masyarakat.
Kisah penataan ini juga terdengar dari sisi pedagang. Sebuah tulisan di Medium pada November 2025 memuat keluhan pedagang Pasar Muntilan tentang pembagian luas kios dan los pascarevitalisasi, dengan pedagang tembakau yang menyebut luas tempatnya menyempit dan pedagang pakaian yang beralih berjualan bubur di rumah karena pasar sepi. Tulisan itu bukan sumber resmi dan keluhan di dalamnya perlu diverifikasi lebih lanjut, tetapi ia memberi gambaran tentang sisi lain revitalisasi yang sering luput dari laporan proyek: bagi pedagang, ukuran lapak dan keramaian pembeli adalah soal penghidupan sehari-hari, bukan sekadar gambar denah. Analis perdagangan dari Dinas Perdagangan Kabupaten Magelang yang dikutip tulisan itu menjelaskan bahwa pengecilan ukuran los dan kios bertujuan mengakomodasi banyaknya pedagang yang dulu berada di luar pasar agar bisa masuk ke dalam pasar, dan pemerintah daerah akan mengkaji keluhan pedagang bersama perguruan tinggi. Perbedaan sudut pandang antara pengelola dan pedagang inilah yang membuat penataan pasar membutuhkan dialog, bukan hanya pembangunan fisik.
Dari rangkaian itu, satu kesimpulan dapat ditarik dengan tenang: Pasar Muntilan adalah pasar yang sudah diperbaiki bangunannya, tetapi masih terus ditata fungsinya. Bangunan yang bagus tidak otomatis membuat pembeli masuk, dan penertiban yang tegas tidak otomatis membuat pedagang betah di dalam. Pasar yang tertata adalah pasar yang bersih dan nyaman di dalam, tertib di luar, dan menguntungkan bagi pedagang maupun pembeli. Mencapai keadaan itu membutuhkan waktu, dan Pasar Muntilan masih berada dalam proses tersebut.
Klitikan dan UMKM: upaya menghidupkan kembali pasar pada malam hari
Di tengah tantangan penataan itu, muncul upaya dari pedagang sendiri untuk menghidupkan kembali Pasar Muntilan. Borobudur News pada 13 Desember 2025 memberitakan puluhan pedagang klitikan bersama pelaku UMKM menyatakan kesiapan untuk menghidupkan kembali kejayaan Pasar Muntilan sebagai salah satu pusat ekonomi rakyat di Kabupaten Magelang. Komitmen itu diwujudkan melalui penataan lapak yang lebih rapi, peningkatan kualitas dagangan, dan penguatan solidaritas antarpedagang, dengan tujuan menciptakan suasana pasar yang lebih hidup dan nyaman.
Pedagang klitikan yang dimaksud adalah pedagang yang menjajakan barang bekas layak pakai, onderdil kendaraan, hingga berbagai barang antik. Mereka kini berkolaborasi dengan pelaku UMKM kuliner dan kerajinan lokal. Sinergi itu diharapkan mampu menarik kembali minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional, sekaligus menjadikan Pasar Muntilan sebagai ruang interaksi sosial dan ekonomi yang produktif. Pasar klitikan, dengan karakternya yang khas, memiliki daya tarik tersendiri: pembeli datang bukan hanya untuk membeli barang yang dibutuhkan, tetapi juga untuk mencari, menemukan, dan menawar barang yang tidak ada di toko modern.
Koordinator paguyuban sekaligus anggota tim penggagas kegiatan, Wisnu Prabowo Adi, menyampaikan bahwa Pasar Muntilan memiliki sejarah panjang sebagai denyut nadi perdagangan bagi warga Muntilan dan sekitarnya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir aktivitas pasar tradisional mengalami penurunan seiring perubahan pola belanja masyarakat. Kutipannya dalam pemberitaan itu sederhana dan menggambarkan tekad pedagang: kami ingin mengembalikan Pasar Muntilan seperti dulu, ramai, hidup, dan menjadi tempat yang nyaman bagi pembeli maupun pedagang. Semangat itu dirangkum dalam slogan paguyuban: kabeh sedulur kabeh akur, kabeh makmur, yang artinya semua bersaudara, semua rukun, semua makmur.
Sebagai langkah awal, para pedagang melakukan pembukaan awal pada Jumat malam, 12 Desember, dan Pasar Klitikan dan UMKM selanjutnya dibuka secara rutin setiap malam mulai pukul 17.00 WIB hingga 24.00 WIB, menurut pemberitaan tersebut. Respons masyarakat, menurut pemberitaan yang sama, terbilang sangat positif, terlihat dari ratusan pengunjung yang memadati lapak para pedagang di area depan lantai dua Pasar Muntilan sejak hari pertama pembukaan. Upaya kebangkitan itu tidak hanya difokuskan pada aspek ekonomi, tetapi juga pada penataan dan kenyamanan: para pedagang menyatakan kesiapan untuk mengikuti aturan penataan, menjaga kebersihan lingkungan pasar, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen, sementara pelaku UMKM berkomitmen menghadirkan produk berkualitas dengan harga terjangkau tanpa meninggalkan ciri khas lokal.
Pasar malam klitikan dan UMKM ini penting karena ia menambah jam hidup pasar. Pasar tradisional yang hanya hidup pada pagi dan siang hari akan sepi pada malam hari, dan kesepian itu sering dianggap sebagai tanda kemunduran. Dengan menghidupkan malam, pedagang Pasar Muntilan menunjukkan bahwa pasar ini masih memiliki energi untuk beradaptasi: ia tidak hanya menunggu pembeli datang pada jam yang sama seperti dulu, tetapi juga menciptakan waktu belanja baru yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekarang, ketika banyak orang baru sempat keluar rumah pada sore dan malam hari.
Perlu dicatat pula agar tidak terjadi kekeliruan: di Kecamatan Muntilan juga terdapat Pasar Kramat Jumat Pahing di Dusun Kramat, Desa Congkrang, yang buka setiap selapan atau 35 hari sekali pada weton Jumat Pahing, menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pasar Kramat itu adalah pasar yang berbeda dari Pasar Muntilan, dengan kekhasan sendiri: ia berada di kompleks petilasan yang dipercaya milik Sunan Kalijaga, dan sebagian pengunjung datang untuk melaksanakan nazar, sambil berbelanja kuliner jadul seperti ketan kinco, tiwul, dan wajik. Menyebutnya di sini bukan untuk mencampuradukkan keduanya, melainkan untuk menunjukkan bahwa tradisi pasar di Muntilan memiliki banyak wajah: ada pasar harian yang besar di jalur utama, dan ada pasar selapanan yang hidup dari tradisi dan keyakinan warga.
Pasar sebagai ruang sosial warga
Hal yang paling membedakan pasar rakyat dari pusat belanja modern adalah interaksinya, dan Pasar Muntilan tidak terkecuali. Di pasar tradisional, tawar-menawar bukan sekadar soal harga. Tawar-menawar adalah percakapan: pembeli menanyakan asal barang, pedagang menjelaskan kualitasnya, dan keduanya saling menilai. Hubungan seperti ini sering berlangsung bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Pembeli yang sama kembali ke pedagang yang sama, dan pedagang hafal kebiasaan langganannya. Inilah yang dimaksud dengan karakter pasar rakyat: pasar adalah jejaring sosial, bukan hanya tempat transaksi.
Pasar juga menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai daerah dan latar belakang. Pada masa awalnya, jalur perdagangan membuat orang dari berbagai daerah bertemu di Muntilan, dan pertemuan itu membawa dampak tidak hanya pada perdagangan, tetapi juga pada pertukaran kabar dan informasi. Sifat itu tidak hilang ketika moda angkutan berubah. Pasar tetap menjadi titik temu: petani dari desa-desa di sekitar Muntilan, pedagang dari dalam kecamatan, dan pembeli dari berbagai kalangan bertemu di lorong-lorong yang sama, dan dari pertemuan itu lahir kabar tentang musim panen, harga, cuaca, dan kehidupan desa.
Bagi warga Muntilan, pasar ini juga adalah penanda identitas. Ketika orang menyebut Pasar Muntilan, yang dimaksud bukan hanya satu bangunan, melainkan satu kawasan ekonomi dan sosial yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kecamatan. Pasar yang bertahan melewati perubahan zaman, erupsi gunung api, revitalisasi bangunan, dan datangnya pusat belanja modern adalah pasar yang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga itu sendiri. Pasar seperti ini tidak mudah digantikan, karena yang dijual di sana bukan hanya barang, melainkan juga kebiasaan dan hubungan.
Peran sosial pasar ini juga terlihat dalam upaya kebangkitan klitikan dan UMKM. Ketika pedagang bersatu dalam paguyuban dengan slogan tentang persaudaraan, kerukunan, dan kemakmuran, yang mereka bangun bukan hanya lapak yang lebih rapi, melainkan juga solidaritas. Solidaritas antarpedagang adalah modal yang tidak terlihat dalam laporan proyek, tetapi sangat menentukan apakah sebuah pasar bisa bangkit: pedagang yang saling mendukung lebih mudah menjaga kebersihan bersama, mengatur lapak bersama, dan menarik pembeli bersama, daripada pedagang yang bekerja sendiri-sendiri.
Pasar Muntilan juga dapat dibaca bersama pasar-pasar rakyat lain di Magelang. Pasar Rejowinangun di Kota Magelang adalah pasar tradisional besar yang tumbuh dari keramaian stasiun dan bertahan lama setelah keretanya berhenti beroperasi. Kisah Rejowinangun dan kisah Muntilan memiliki benang merah yang sama: pasar rakyat di Magelang bertahan bukan karena satu moda angkutan atau satu bangunan, melainkan karena ia melayani kebutuhan sehari-hari warga dan menjadi bagian dari kehidupan sosial kota dan kecamatannya. Membaca keduanya berdampingan memberi gambaran yang lebih lengkap tentang ekonomi rakyat Magelang: ada pasar kota di pusat Kota Magelang, dan ada pasar kecamatan di jalur selatan yang melayani lereng Merapi.
Panduan berkunjung ke Pasar Muntilan
Bagi yang baru pertama kali datang, ada beberapa hal praktis yang berguna. Pertama, soal lokasi. Pasar Muntilan berada di kawasan perdagangan Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, di tepi jalur utama Yogyakarta-Magelang-Semarang. Karena letaknya di jalur utama, pasar ini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang melintasi koridor tersebut. Pengunjung yang melintas dari Yogyakarta menuju Magelang, atau sebaliknya, dapat mampir tanpa harus menyimpang jauh dari rute perjalanan.
Kedua, soal waktu. Menurut data Kantor Dinas Pasar Muntilan tahun 2012 yang dikutip dalam skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, pasar ini pada masa itu buka setiap hari mulai pukul 06.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Data itu adalah data lama dan jam buka pada hari ini dapat berbeda, sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai patokan, bukan kepastian mutlak. Sebagai gambaran umum, pasar tradisional paling ramai pada pagi hari, ketika barang dagangan masih lengkap dan pedagang masih penuh. Datang pagi memberi pilihan paling banyak, terutama untuk bahan pangan segar seperti sayur, buah, ikan, dan daging.
Ketiga, soal pasar malam. Menurut pemberitaan Borobudur News pada Desember 2025, Pasar Klitikan dan UMKM di Pasar Muntilan dibuka secara rutin setiap malam mulai pukul 17.00 WIB hingga 24.00 WIB, di area depan lantai dua pasar. Bagi pengunjung yang ingin merasakan wajah pasar yang berbeda, malam hari adalah waktu yang tepat: suasananya lebih santai, dagangannya berbeda dari pasar pagi, dan pengunjung dapat mencari barang bekas layak pakai, onderdil, barang antik, kuliner UMKM, dan kerajinan lokal. Karena jadwal pasar malam dapat berubah mengikuti kesepakatan paguyuban dan pengelola, pengunjung yang datang dari jauh sebaiknya memastikan terlebih dahulu jadwal terbaru sebelum berangkat.
Keempat, soal cara berbelanja. Di pasar tradisional, bertanya adalah bagian dari berbelanja. Pembeli bisa menanyakan asal barang, membandingkan harga di beberapa pedagang, dan menawar dengan sopan. Pedagang pasar umumnya menghargai pembeli yang bertanya dan berbincang, karena dari situlah hubungan langganan dimulai. Bagi pembeli yang mencari barang tertentu, seperti sayur dalam jumlah besar untuk warung atau perlengkapan pertanian, bertanya kepada beberapa pedagang sebelum memutuskan adalah cara yang wajar dan sudah menjadi kebiasaan di pasar.
Kelima, soal apa yang dicari. Jika tujuannya bahan pangan, mulailah dari los sayur dan bahan pokok. Jika tujuannya pakaian atau barang rumah tangga, susuri kios-kios di dalam pasar. Jika tujuannya mencari barang unik, pasar klitikan pada malam hari adalah tempat yang tepat. Jika tujuannya kuliner, pelaku UMKM di pasar malam menghadirkan makanan dan produk lokal yang dapat dicicipi di tempat. Setiap bagian pasar memiliki karakternya sendiri, dan menyusuri semuanya memberi gambaran paling lengkap tentang pasar ini.
Keenam, soal ketertiban dan kenyamanan. Pengunjung perlu memperhatikan kondisi di sekitar pasar, terutama karena kawasan pasar berada di tepi jalan utama yang ramai. Parkirlah di tempat yang disediakan dan tidak mengganggu arus lalu lintas, dan bila berbelanja di dalam pasar, ikuti arahan pengelola dan pedagang tentang area yang sedang ditata. Pasar yang tertata adalah tanggung jawab bersama: pedagang menjaga lapak dan kebersihannya, pengelola menjaga fasilitas dan ketertiban, dan pembeli ikut menjaga dengan berbelanja di tempat yang semestinya. Perkembangan penataan Pasar Muntilan dan Pasar Borobudur sebagai prioritas Pemerintah Kabupaten Magelang dapat diikuti melalui pemberitaan daerah, salah satunya laporan Berita Magelang tentang penataan Pasar Muntilan dan Borobudur, sementara gambaran proyek revitalisasi pasar ini pernah diberitakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Penutup: denyut yang dijaga bersama
Pasar Muntilan adalah cerita tentang pasar yang tumbuh dari letaknya yang strategis, menghidupi petani lereng Merapi dan pedagang kecil, terguncang ketika Merapi meletus, dibangun kembali melalui revitalisasi, dan terus ditata agar tetap layak bagi pedagang maupun pembeli. Dari los sayur dan bahan pokok pada pagi hari, dari kios pakaian dan perlengkapan rumah tangga pada siang hari, hingga lapak klitikan dan UMKM pada malam hari, pasar ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat tidak hidup dalam satu jam saja, melainkan sepanjang hari, dalam berbagai bentuk.
Yang membuat pasar ini layak diperhatikan bukan hanya bangunannya, melainkan kehidupannya. Di sini, ekonomi rakyat Magelang masih bisa dilihat dan dirasakan secara langsung: petani menjual hasil kebun, pedagang melayani langganan, pembeli menawar sambil berbincang, dan paguyuban pedagang menjaga pasarnya bersama-sama. Selama kehidupan itu terus berjalan, Pasar Muntilan akan tetap menjadi denyut perdagangan lereng Merapi, apa pun perubahan pola belanja yang datang di sekelilingnya.
Tantangan ke depan sudah jelas: pasar ini harus tetap bersih dan nyaman di dalam, tertib di luar, dan menguntungkan bagi pedagang maupun pembeli. Itu bukan tugas pemerintah saja, bukan tugas pedagang saja, dan bukan tugas pembeli saja. Pasar yang tertata adalah hasil kerja bersama, dan Pasar Muntilan, dengan sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan selatan Kabupaten Magelang, layak mendapatkan kerja bersama itu. Denyutnya sudah ada sejak lama; tugas generasi sekarang adalah menjaganya tetap berdenyut.



4 Komentar