Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Nyadran Magelang: Ziarah Makam, Bersih Pusara, dan Kenduri…
Umum

Nyadran Magelang: Ziarah Makam, Bersih Pusara, dan Kenduri Menyambut Ramadan

Menjelang Ramadan, keluarga-keluarga di Magelang kembali ke makam leluhur untuk membersihkan pusara, menabur bunga, dan mendoakan arwah, lalu menutupnya dengan kenduri bersama. Ini gambaran lengkapnya, termasuk bedanya dengan merti dusun dan bersih desa.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 21.07 WIB
Ilustrasi keluarga membersihkan makam leluhur dan menabur bunga dalam Nyadran Magelang
Ilustrasi keluarga membersihkan makam leluhur, menyikat nisan, dan membawa keranjang bunga di pemakaman desa menjelang Ramadan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Nyadran Magelang adalah tradisi ziarah ke makam leluhur yang dilakukan masyarakat Jawa di wilayah Magelang menjelang bulan Ramadan, dengan rangkaian yang mudah dikenali, yaitu membersihkan pusara, menabur bunga, mendoakan arwah leluhur, dan menutupnya dengan kenduri atau makan bersama. Bagi keluarga yang menjalankannya, nyadran bukan sekadar kunjungan ke pemakaman, melainkan persiapan batin sebelum memasuki bulan puasa, sekaligus kesempatan untuk berkumpul kembali dengan sanak saudara yang sepanjang tahun tinggal berjauhan. Karena itu, suasana nyadran sering kali terasa ganda, yaitu khidmat ketika doa dibacakan di sisi makam, dan hangat ketika makanan yang dibawa tiap keluarga dibuka dan disantap bersama setelah doa selesai.

Penjelasan tentang nama tradisi ini membantu pembaca memahami dari mana ia berasal. Kata nyadran sering ditelusuri ke kata Sanskerta sraddha yang berarti keyakinan atau penghormatan, dan dalam bahasa Jawa kata sadran dipakai untuk menyebut bulan Ruwah, yaitu bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah yang jatuh tepat sebelum Ramadan. Kaitan nama dengan waktu inilah yang membuat nyadran lekat dengan kalender keagamaan, bukan dengan kalender panen atau hari jadi desa. Masyarakat Jawa menyebut bulan itu sebagai bulan arwah, karena pada bulan tersebut doa untuk para leluhur yang telah wafat terasa mendapat tempat khusus dalam kehidupan keluarga dan kampung.

Asal usul nyadran umumnya dijelaskan sebagai hasil akulturasi antara budaya Jawa yang lebih tua dan ajaran Islam yang datang kemudian. Sebelum Islam berkembang luas di Jawa, penghormatan kepada leluhur sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dan ketika Islam masuk melalui dakwah para wali, tradisi itu tidak dihapus, melainkan diselaraskan dengan ajaran Islam. Dalam bentuknya yang hidup sampai sekarang di Magelang, penghormatan itu diwujudkan dengan bacaan tahlil, bacaan Surah Yasin, zikir, dan doa yang dipanjatkan kepada Allah untuk memohon ampunan dan tempat yang baik bagi arwah leluhur. Penjelasan akulturasi ini penting, karena ia menjawab pertanyaan yang sering muncul, yaitu mengapa sebuah tradisi yang berakar pada penghormatan leluhur dapat hidup berdampingan dengan ibadah Islam tanpa dianggap menggantikannya.

Waktu pelaksanaan nyadran tidak dapat ditulis sebagai satu tanggal yang berlaku sama untuk semua keluarga dan semua desa di Magelang. Sumber-sumber yang membahas tradisi ini umumnya menyebut bulan Ruwah atau Sya’ban sebagai waktunya, dengan rentang yang longgar, mulai dari sekitar sebulan sebelum Ramadan sampai satu atau dua pekan menjelang puasa. Perbedaan waktu itu wajar, karena nyadran pada dasarnya adalah tradisi keluarga dan kampung, bukan acara yang dijadwalkan oleh satu panitia pusat untuk seluruh kabupaten. Keluarga yang makam leluhurnya berada di satu kompleks pemakaman biasanya menyesuaikan dengan kesepakatan keluarga besar, sedangkan nyadran yang digelar bersama warga satu dusun menyesuaikan dengan kesepakatan warga dan pengurus makam setempat.

Rangkaian nyadran yang paling umum dapat diuraikan dalam empat tahap yang saling berkaitan, meskipun urutannya dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Tahap pertama adalah besik, yaitu kerja membersihkan makam dari rumput liar, sampah daun, dan lumut yang menempel pada nisan, serta merapikan tanah di sekitar pusara. Warga biasanya membawa peralatan sederhana seperti sapu lidi, cangkul kecil, ember, dan sikat, dan ada pula keluarga yang mengecat ulang nisan atau memperbaiki batu penanda yang sudah miring. Pekerjaan yang tampak teknis ini sesungguhnya sarat makna, karena dalam pemahaman masyarakat, membersihkan makam adalah cermin dari membersihkan hati menjelang Ramadan, yaitu menyingkirkan hal-hal yang mengotori batin sebelum memasuki bulan ibadah.

Besik, Nyekar, dan Doa Bersama di Sisi Makam

Tahap kedua adalah nyekar, yaitu menabur bunga di atas pusara setelah makam dibersihkan. Bunga yang dibawa biasanya adalah bunga segar yang mudah didapat di pasar atau pekarangan, dan dalam banyak penjelasan tentang nyadran, bunga telasih disebut sebagai bunga yang lazim dibawa karena dimaknai sebagai lambang hubungan yang akrab antara peziarah dan arwah yang diziarahi. Setelah bunga ditaburkan, peziarah biasanya menyiramkan air di atas pusara dan berdiam sejenak untuk berdoa secara pribadi bagi orang tua atau leluhur yang dimakamkan di situ. Momen pribadi ini sering kali menjadi bagian yang paling sunyi dari nyadran, karena di situlah kenangan tentang orang yang telah tiada muncul kembali, tanpa perlu diucapkan dengan suara keras.

Tahap ketiga adalah doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat, sesepuh kampung, atau orang yang dituakan dalam keluarga. Bacaan yang lazim dibacakan adalah tahlil dan Surah Yasin, disertai doa untuk arwah leluhur dan kaum muslimin pada umumnya, dengan permohonan agar dosa para leluhur diampuni dan amal ibadah mereka diterima. Doa bersama ini adalah inti nyadran dalam bentuknya yang Islami, karena ia menegaskan bahwa kunjungan ke makam bukanlah penyembahan kepada leluhur, melainkan pengiriman doa kepada Allah untuk mereka. Dalam pemahaman yang dipegang masyarakat, leluhur yang didoakan adalah manusia yang telah wafat dan tidak lagi dapat berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri, sehingga doa dari anak cucu menjadi salah satu bentuk bakti yang masih mungkin dilakukan.

Tahap keempat adalah kenduri atau selamatan, yaitu makan bersama yang digelar setelah doa selesai, baik di pelataran makam, di masjid atau musala terdekat, maupun di balai dusun. Tiap keluarga biasanya membawa makanan sendiri yang disusun dalam tampah atau tenong, yaitu wadah anyaman bambu, lalu makanan itu didoakan bersama sebelum disantap dan sebagian ditukar antar keluarga. Hidangan yang sering disebut dalam penjelasan tentang nyadran adalah ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, perkedel, tempe dan tahu bacem, serta jajanan pasar, dan dalam banyak keluarga, nasi tumpeng menjadi hidangan yang paling mudah dikenali karena bentuknya yang kerucut dan lauknya yang mengelilingi. Kenduri bukan sekadar penutup acara, melainkan bagian dari maknanya, karena makan dari makanan yang dibawa bersama menegaskan bahwa rezeki yang disyukuri adalah rezeki yang dibagi, dan bahwa doa yang dipanjatkan bersama sebaiknya ditutup dengan kebersamaan yang nyata.

Di Magelang, nyadran hidup dalam bentuk yang dekat dengan gambaran umum itu, dengan beberapa catatan setempat yang patut disebutkan secara jujur. Sebuah tulisan tentang tradisi nyadran di Magelang mencatat bahwa di Dusun Sorobayan, Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, tradisi diawali dengan kerja bakti membersihkan makam, yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan makan bersama. Catatan itu penting bukan karena ia mewakili seluruh Magelang, melainkan karena ia menunjukkan pola yang berulang, yaitu kerja bakti sebagai pembuka, doa sebagai inti, dan makan bersama sebagai penutup. Pola yang sama, dengan variasi kecil, dapat ditemui di banyak dusun lain, meskipun susunan acaranya tidak pernah persis sama.

Variasi antar tempat di Magelang juga tercatat dalam liputan yang lebih luas tentang nyadran di Jawa. Dalam liputan itu disebutkan bahwa masyarakat di Kecamatan Muntilan tidak membawa sadranan ketika membersihkan makam, dan satu hari setelah membersihkan makam, masyarakat mengadakan doa bersama untuk mendoakan para leluhur. Contoh Muntilan ini berguna untuk menunjukkan bahwa nyadran tidak boleh diseragamkan menjadi satu pakem yang kaku. Ada tempat yang menggabungkan bersih makam, doa, dan kenduri dalam satu hari, ada tempat yang memisahkan bersih makam dan doa ke hari yang berbeda, dan ada tempat yang menekankan satu tahap lebih daripada tahap lainnya, sesuai dengan kebiasaan setempat yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Nyadran di Magelang dan Penyadranan Agung di Srumbung

Salah satu pelaksanaan nyadran di Magelang yang mendapat perhatian publik adalah Penyadranan Agung di Pasarean KRT Joyoningrat II, Kradenan, Srumbung, Magelang, yang diberitakan sebagai ajang kebersamaan antara masyarakat dan trah keluarga KRT Joyoningrat II, meskipun berasal dari beragam latar belakang agama dan keyakinan. Kompleks pasarean itu sendiri disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh dari berbagai keyakinan, dan penetapannya sebagai Struktur Cagar Budaya disebut memperkuat rasa memiliki bersama antara masyarakat, trah keluarga, serta pemerintah desa hingga kabupaten. Dalam pemberitaan itu, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan pentingnya tradisi tersebut dalam menjaga ingatan sejarah sekaligus mempererat persatuan. Contoh ini menunjukkan sisi nyadran yang sering luput dari gambaran yang sempit, yaitu bahwa sebuah makam leluhur dapat menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang yang berbeda keyakinan, selama yang dihormati bersama adalah ingatan dan jasa orang yang dimakamkan di situ.

Sisi kerukunan itu juga menjadi tema dalam pemberitaan yang sama, yang menempatkan tradisi nyadran di Magelang sebagai cerminan kerukunan antarumat beragama sekaligus harmoni sosial berbasis budaya lokal, dalam rangkaian peringatan Pekan Harmoni Antaragama Sedunia. Dalam pemberitaan itu, nyadran digambarkan sebagai tradisi yang dijalankan masyarakat Jawa menjelang Ramadan dengan berziarah ke makam leluhur, membersihkan pusara, menabur bunga, serta memanjatkan doa bersama, dan maknanya diperluas menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas warga, gotong royong, dan kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial maupun perbedaan keyakinan. Perluasan makna semacam itu tidak boleh dibaca sebagai klaim bahwa semua nyadran di Magelang selalu dihadiri lintas agama, karena pada umumnya nyadran adalah acara keluarga dan kampung yang pesertanya adalah keluarga dan warga setempat. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa di tempat-tempat tertentu, seperti pasarean yang tokohnya dihormati lintas kelompok, nyadran memang dapat menjadi ruang pertemuan yang lebih luas.

Hubungan nyadran dengan masjid dan musala di sekitar pemakaman juga patut diperhatikan, karena banyak rangkaian nyadran yang doa dan kendurinya digelar di masjid atau musala terdekat setelah ziarah selesai. Di Kota Magelang, Masjid Agung Magelang dapat menjadi contoh bagaimana sebuah masjid besar di pusat kota menjadi pusat kehidupan keagamaan warga, meskipun nyadran sendiri pada umumnya berpusat pada makam keluarga dan masjid kampung, bukan pada masjid besar kota. Kaitan ini penting untuk menjaga proporsi, yaitu nyadran adalah tradisi yang berakar di kampung dan keluarga, dan masjid besar kota adalah latar yang lebih luas bagi kehidupan keagamaan yang sama, bukan panggung utama nyadran. Pembaca yang ingin memahami latar keagamaan Magelang secara lebih luas dapat membaca profil masjid tersebut, lalu kembali ke gambaran nyadran yang jauh lebih sederhana dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bedanya Nyadran dengan Merti Dusun dan Bersih Desa

Perbedaan nyadran dengan merti dusun dan bersih desa perlu ditegaskan dengan hati-hati, karena nama-nama itu kadang dipakai secara tumpang tindih dalam percakapan sehari-hari, dan sebuah artikel KabarTidar tentang bersih desa di dataran rendah Magelang sendiri mencatat bahwa di beberapa tempat kata nyadran dipakai pula untuk tradisi sejenis. Tumpang tindih nama itu tidak boleh dihapus, tetapi fokus dan waktunya dapat dibedakan dengan jelas. Nyadran dalam pengertian yang dibahas artikel ini adalah tradisi menjelang Ramadan yang objeknya adalah makam leluhur dan tujuannya adalah mendoakan arwah serta mempersiapkan batin sebelum puasa. Merti dusun dan bersih desa, sebaliknya, adalah ritual syukur dan pembersihan desa yang objeknya adalah desa itu sendiri, yaitu tanah, air, hasil bumi, dan keselamatan warga, dan waktunya terkait dengan musim panen, hari jadi desa, atau kalender desa, bukan dengan datangnya Ramadan.

Perbedaan itu tampak pula pada pusat acaranya. Dalam nyadran, pusat acaranya adalah pusara, yaitu gundukan dan nisan tempat leluhur dimakamkan, dan semua tahap mengarah ke sana, mulai dari besik, nyekar, doa di sisi makam, sampai kenduri yang makanannya didoakan untuk arwah. Dalam merti dusun dan bersih desa, pusat acaranya adalah desa sebagai kesatuan, dengan kirab, gunungan hasil bumi, arak-arakan, dan pertunjukan yang mengelilingi jalan desa dan tempat-tempat yang dianggap penting bagi desa. Seorang warga dapat mengikuti keduanya dalam satu tahun tanpa merasa mengulang acara yang sama, karena yang satu mengajaknya menengok ke belakang, ke arah leluhur yang telah tiada, sedangkan yang lain mengajaknya menengok ke sekeliling, ke arah desa yang sedang dihidupinya sekarang.

Perbedaan ketiga terletak pada siapa yang menjadi pihak utama yang didoakan dan disyukuri. Dalam nyadran, doa ditujukan untuk arwah leluhur, terutama orang tua, kakek nenek, dan sesepuh keluarga, dan rasa syukur yang diungkapkan adalah syukur karena masih diberi kesempatan bertemu Ramadan dan karena leluhur pernah memberi kehidupan dan teladan. Dalam merti dusun dan bersih desa, syukur ditujukan atas hasil bumi, kecukupan air, dan keselamatan desa dalam satu musim, dan doa dipanjatkan untuk musim berikutnya agar desa tetap selamat dan hasil tetap cukup. Memahami perbedaan ini membantu pembaca tidak mencampuradukkan dua tradisi yang sama-sama memakai kerja bakti dan makan bersama, tetapi berangkat dari pertanyaan yang berbeda, yaitu nyadran bertanya siapa yang telah mendahului kita, sedangkan bersih desa bertanya bagaimana desa kita dapat terus hidup dengan baik.

Makna Nyadran: Mengingat Mati, Berbakti, dan Berkumpul

Sebuah tulisan tentang nyadran di Magelang menguraikan nilai spiritualitasnya dalam empat dimensi, dan uraian itu berguna sebagai kerangka untuk memahami mengapa tradisi ini bertahan. Dimensi pertama adalah kesadaran akan kematian, karena ziarah kubur dan pembersihan makam adalah pengingat kolektif yang paling kuat akan kefanaan hidup, yaitu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan perlu dipersiapkan bekalnya untuk alam akhirat. Kunjungan massal ke kompleks pemakaman membuat setiap individu dihadapkan secara visual dan emosional pada kenyataan kematian, bukan sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai deretan nisan yang sebagian namanya masih dikenal, dan sebagian lagi sudah hanya dikenal dari cerita keluarga.

Dimensi yang terkait erat dengan itu adalah bakti kepada orang tua dan leluhur, yang dalam istilah keislaman sering disebut birrul walidain. Membersihkan makam orang tua dengan tangan sendiri, menabur bunga, dan mendoakan mereka adalah bentuk bakti yang masih dapat dilakukan setelah orang tua wafat, ketika bakti dalam bentuk merawat dan menafkahi sudah tidak mungkin lagi. Bagi anak cucu, tindakan itu juga menjadi pelajaran yang hidup, karena anak-anak yang diajak membersihkan makam kakek neneknya belajar bahwa hubungan keluarga tidak putus oleh kematian, melainkan berubah bentuk menjadi doa dan ingatan. Karena itu, banyak keluarga yang sengaja mengajak anak-anaknya dalam nyadran, bukan sekadar menyuruh mereka menunggu di rumah.

Makna sosial nyadran tidak kalah penting dari makna spiritualnya. Nyadran adalah salah satu momen dalam setahun ketika sanak saudara yang tinggal jauh menyempatkan diri pulang kampung, dan dalam beberapa penjelasan, nyadran bahkan disebut dapat lebih ramai daripada hari raya, karena ia mempertemukan keluarga besar yang makam leluhurnya berada di satu tempat. Di pemakaman, keluarga yang sehari-hari hanya berhubungan lewat telepon atau pesan singkat dapat bertemu muka, bertukar kabar, memperkenalkan anak-anak mereka satu sama lain, dan menyelesaikan urusan keluarga yang tertunda. Di sinilah nyadran menjalankan fungsi yang mirip dengan mudik, tetapi dengan pusat yang berbeda, yaitu bukan rumah orang tua yang masih hidup, melainkan makam leluhur yang menjadi titik temu keluarga besar.

Gotong royong adalah makna sosial kedua yang tampak jelas dalam nyadran. Membersihkan kompleks pemakaman tidak dapat dilakukan oleh satu keluarga saja, karena area pemakaman adalah ruang bersama yang jalannya, selokannya, dan pagarnya dipakai bersama. Kerja bakti membersihkan makam karena itu melibatkan warga satu dusun, termasuk warga yang makam keluarganya tidak berada di kompleks itu, dan kerja bersama itu sendiri sudah menjadi bagian dari tradisi, bukan sekadar persiapan. Ketika warga bekerja bersama tanpa dibayar, mereka sedang mempraktikkan kebersamaan dalam bentuknya yang paling nyata, dan kebersamaan itu kemudian dilanjutkan dalam doa bersama dan makan bersama, sehingga satu rangkaian nyadran dapat dibaca sebagai satu kesatuan kerja, doa, dan makan yang saling menguatkan.

Sedekah adalah makna ketiga yang melekat pada kenduri nyadran. Makanan yang dibawa tiap keluarga, ditukar, dan dimakan bersama adalah bentuk sedekah dan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan, dan dalam banyak penjelasan, makanan itu juga dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim yang hadir atau tinggal di sekitar pemakaman. Pembagian semacam itu menegaskan bahwa nyadran bukan acara tertutup untuk keluarga yang mampu saja, melainkan acara yang membuka ruang bagi warga yang kurang mampu untuk ikut makan dan ikut didoakan. Dalam konteks menjelang Ramadan, makna sedekah ini terasa sebagai latihan awal, karena Ramadan sendiri adalah bulan ketika sedekah dan berbagi mendapat penekanan khusus dalam ajaran Islam.

Siapa yang Terlibat dan Bagaimana Nyadran Diatur

Nyadran keluarga biasanya diatur secara sederhana, tanpa panitia besar dan tanpa panggung. Keluarga besar menentukan hari, biasanya melalui kesepakatan anak-anak tertua atau sesepuh keluarga, lalu tiap keluarga menyiapkan makanan, bunga, dan peralatan bersih makam. Pada hari pelaksanaan, keluarga berkumpul di pemakaman pada pagi hari, membersihkan makam bersama, berdoa, dan menutupnya dengan makan bersama. Kesederhanaan pengaturan ini adalah kekuatan nyadran, karena ia membuat tradisi ini dapat dijalankan oleh keluarga mana pun, tanpa perlu dana besar dan tanpa perlu izin keramaian, selama mereka menjaga ketertiban di area pemakaman dan menghormati keluarga lain yang sedang berziarah di kompleks yang sama.

Nyadran dusun atau kampung diatur dengan cara yang sedikit lebih formal, karena melibatkan lebih banyak keluarga dan area pemakaman yang lebih luas. Pengurus makam, perangkat dusun, atau takmir masjid setempat biasanya menjadi koordinator, yang menentukan hari kerja bakti, membagi tugas membersihkan jalan pemakaman dan selokan, serta mengundang pemuka agama untuk memimpin doa bersama. Dana untuk kenduri dusun, apabila ada, biasanya berasal dari iuran warga atau dari kas dusun, dan pengelolaannya yang terbuka menjadi kunci kepercayaan, karena warga akan lebih ikhlas berpartisipasi pada tahun berikutnya apabila mereka tahu ke mana iuran mereka digunakan. Sekali lagi, skala pengaturan ini jauh lebih kecil daripada kirab bersih desa, karena pusatnya tetap makam, bukan jalan desa yang diarak.

Peran perempuan dalam nyadran patut disebut secara khusus, meskipun sering kali kurang terlihat dalam gambaran umum. Kelompok ibu-ibu biasanya mengurus dapur bersama, menyiapkan ingkung dan lauk kenduri, menata makanan dalam tampah atau tenong, dan mengatur pembagian makanan setelah doa selesai. Pekerjaan dapur bersama itu sendiri adalah ruang sosial yang penting, karena di dapur, cerita keluarga dipertukarkan, kabar sanak saudara dibagikan, dan anak-anak belajar memasak hidangan untuk acara besar. Mengakui peran itu berarti mengakui bahwa nyadran tidak hanya terjadi di pemakaman, melainkan juga di dapur-dapur yang sudah sibuk sejak dini hari, dan bahwa tanpa kerja dapur itu, kenduri yang menjadi penutup nyadran tidak akan pernah tersaji.

Peran pemuda dan anak-anak juga menentukan apakah nyadran akan berlanjut ke generasi berikutnya. Anak muda yang dilibatkan sejak awal, misalnya dengan diberi tugas membawa peralatan, menata bunga, atau mendokumentasikan silsilah keluarga yang tertulis di nisan, akan mengingat nyadran sebagai pengalaman mereka sendiri, bukan sebagai kewajiban orang tua yang membosankan. Sebaliknya, apabila pemuda hanya disuruh datang tanpa diberi penjelasan tentang siapa leluhur yang diziarahi dan mengapa makamnya dibersihkan, mereka akan mengingat nyadran hanya sebagai pekerjaan membersihkan kuburan selama sehari. Karena itu, penjelasan makna perlu menjadi bagian dari acara itu sendiri, misalnya melalui cerita singkat dari sesepuh keluarga di sisi makam tentang siapa leluhur itu, apa pekerjaannya semasa hidup, dan apa teladan yang ditinggalkannya.

Perubahan Zaman dan Hal yang Tetap Dipertahankan

Seperti banyak tradisi Jawa lainnya, nyadran mengalami perubahan seiring perubahan zaman, tetapi intinya sejauh ini tetap dikenali. Pemakaman yang dulu berupa tanah dan nisan sederhana kini di banyak tempat sudah ditata dengan jalan yang lebih rapi, dan keluarga yang tinggal jauh kini dapat berkoordinasi lewat telepon dan pesan singkat, bukan lagi hanya lewat surat atau kabar dari mulut ke mulut. Perubahan semacam itu memudahkan pengaturan, tetapi tidak mengubah susunan intinya, yaitu bersih makam, nyekar, doa, dan kenduri. Selama keempat unsur itu masih dijalankan dengan niat mendoakan leluhur dan mempersiapkan Ramadan, warga setempat umumnya masih menyebutnya nyadran, meskipun wadah makanannya sudah berubah dari tenong anyaman menjadi wadah yang lebih praktis.

Tantangan yang dihadapi nyadran di masa kini lebih banyak bersifat sosial daripada teknis. Keluarga yang anggotanya tersebar di berbagai kota, bahkan di luar negeri, sulit berkumpul pada hari yang sama, sehingga nyadran keluarga kadang digelar dalam dua gelombang, yaitu gelombang utama pada hari yang disepakati, dan gelombang susulan oleh keluarga yang baru sempat pulang. Tantangan kedua adalah regenerasi pengetahuan, karena nama dan kisah leluhur yang tertulis di nisan yang sudah tua dapat hilang apabila tidak dicatat dan diceritakan kembali. Keluarga yang mulai mencatat silsilah sederhana, misalnya dengan menulis nama, tahun wafat, dan hubungan keluarga dari tiap makam yang diziarahi, sedang melakukan pekerjaan pelestarian yang sangat berharga, karena tanpa catatan itu, nyadran generasi berikutnya berisiko menjadi kunjungan ke makam yang namanya sudah tidak dikenal lagi.

Tantangan ketiga adalah menjaga agar nyadran tidak berubah menjadi sekadar acara foto atau tontonan. Pemakaman adalah tempat yang menuntut adab, dan keluarga yang sedang berdoa untuk leluhurnya berhak atas ketenangan. Pengunjung dari luar yang ingin menyaksikan nyadran sebaiknya datang dengan sikap sebagai tamu, yaitu meminta izin kepada keluarga atau pengurus makam, tidak mengganggu doa yang sedang berlangsung, tidak memotret wajah orang yang sedang berdoa tanpa izin, dan tidak menjadikan pusara sebagai latar foto yang tidak sopan. Sikap semacam itu berlaku untuk semua tradisi yang berpusat pada makam, dan ia adalah bagian dari penghormatan kepada leluhur itu sendiri, karena menghormati leluhur berarti juga menghormati keluarga yang sedang mendoakannya.

Di sisi lain, ada pula perkembangan yang dapat dibaca sebagai penguatan, yaitu ketika nyadran digelar bersama oleh warga satu dusun dengan koordinasi yang lebih rapi, termasuk pembersihan area pemakaman secara gotong royong dan pembagian tugas yang jelas. Perkembangan semacam itu menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya bertahan karena diwariskan, melainkan juga karena ia masih menjawab kebutuhan warga, yaitu kebutuhan untuk berkumpul, untuk mengingat, dan untuk mempersiapkan diri sebelum Ramadan. Selama kebutuhan itu masih ada, nyadran kemungkinan besar akan terus dijalankan, meskipun bentuk luarnya terus berubah mengikuti zaman.

Menjalani Nyadran dengan Adab dan Pengertian yang Utuh

Bagi pembaca yang baru pertama kali mendengar nyadran dan ingin memahaminya tanpa ikut campur secara berlebihan, ada beberapa hal praktis yang dapat diperhatikan. Pertama, kenali bahwa nyadran adalah tradisi keluarga dan kampung, bukan pertunjukan yang dijadwalkan untuk wisatawan, sehingga tidak ada loket, tidak ada jam buka yang tetap, dan tidak ada jaminan bahwa pada tanggal tertentu sebuah pemakaman pasti sedang menggelar nyadran. Kedua, apabila pembaca mempunyai leluhur yang dimakamkan di Magelang dan ingin memulai nyadran keluarga, langkah paling wajar adalah bertanya kepada keluarga tertua tentang kebiasaan yang selama ini dijalankan, karena tiap keluarga mempunyai kebiasaan sendiri tentang makanan yang dibawa, bacaan yang dibacakan, dan hari yang dipilih.

Ketiga, jagalah adab di pemakaman, yaitu berpakaian sopan, berbicara dengan suara pelan, tidak menginjak pusara, tidak membuang sampah di area pemakaman, dan mengikuti arahan pengurus makam apabila ada aturan khusus di kompleks itu. Keempat, pahami bahwa doa dalam nyadran adalah doa kepada Allah untuk arwah leluhur, bukan permohonan kepada leluhur itu sendiri, dan pemahaman ini penting agar pembaca dari latar yang berbeda tidak salah memahami tradisi ini sebagai penyembahan. Kelima, apabila pembaca bukan bagian dari keluarga atau warga dusun yang menggelar nyadran, hormatilah batas itu, yaitu saksikan dari jarak yang sopan apabila diundang, dan jangan memaksakan diri untuk ikut dalam doa keluarga yang bersifat pribadi.

Penutup yang paling jujur untuk artikel ini adalah kembali ke pertanyaan awal, yaitu mengapa orang masih mau bangun pagi, membawa sapu dan bunga, dan berjalan ke pemakaman menjelang Ramadan, padahal pekerjaan itu melelahkan dan tidak menghasilkan apa-apa secara materi. Jawabannya, sebagaimana tampak dari seluruh rangkaian yang diuraikan di atas, adalah karena nyadran menggabungkan tiga hal yang sulit digantikan oleh kegiatan lain, yaitu mengingat mati, berbakti kepada orang tua, dan berkumpul dengan keluarga besar dalam satu pagi yang sama. Orang yang membersihkan makam orang tuanya sedang belajar bahwa hidupnya adalah lanjutan dari hidup orang lain, orang yang mendoakan leluhurnya sedang mempraktikkan bakti yang tidak putus oleh kematian, dan orang yang makan bersama setelah doa sedang menegaskan bahwa keluarga besarnya masih ada dan masih saling peduli.

Selama tiga hal itu masih dirasakan sebagai kebutuhan, penjelasan umum tentang nyadran sebagai rangkaian pembersihan makam, tabur bunga, dan kenduri selamatan akan terus menemukan wujudnya yang hidup di Magelang, dari pemakaman keluarga di dusun-dusun kecil sampai pasarean yang tokohnya dihormati lintas kelompok. Sebuah tulisan tentang nyadran sebagai akulturasi Jawa dan Islam menutup gagasannya dengan nada yang sejalan, yaitu bahwa nyadran di Magelang adalah tradisi dengan makna mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya, dan bukan hanya sekadar membersihkan makam. Bagi keluarga yang akan menjalaninya pada Ruwah berikutnya, makna itu sudah cukup menjadi alasan untuk kembali ke pemakaman, membawa sapu, bunga, dan makanan, lalu pulang dengan hati yang terasa lebih bersih menyambut Ramadan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *