Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Desa Wisata Candirejo: Hidup di Bayang-Bayang Borobudur
Wisata

Desa Wisata Candirejo: Hidup di Bayang-Bayang Borobudur

Sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, Desa Wisata Candirejo mengajak pengunjung berkeliling dengan dokar, belajar gamelan dan jajanan dari tangan warga, dan menginap di rumah penduduk.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 18.26 WIB
Ilustrasi dokar melintas di jalan desa
Ilustrasi dokar di Desa Wisata Candirejo. (Ilustrasi: KabarTidar)

Desa Wisata Candirejo adalah sebuah desa di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, yang menawarkan pengalaman sebaliknya dari kunjungan biasa ke Borobudur: bukan menatap candi dari kejauhan, melainkan tinggal sejenak di tengah kehidupan warga yang hidup di bayang-bayang candi itu. Desa ini terletak sekitar tiga kilometer di sebelah tenggara Candi Borobudur, di tengah sawah hijau dan di kaki Perbukitan Menoreh.

Jawaban singkatnya begini: Candirejo layak dikunjungi karena di sinilah wisatawan bisa merasakan Jawa pedesaan yang masih berjalan dengan ritmenya sendiri. Wisatawan berkeliling dengan dokar atau sepeda menyusuri gang-gang kecil di antara rumah-rumah tradisional, berhenti untuk melihat warga membuat kerupuk singkong, mencoba memainkan gamelan, belajar membuat tempe mendoan, menyaksikan pahat batu, lalu makan masakan rumah seperti mangut beong. Sebagian pengunjung memilih menginap di rumah warga, sehingga kunjungan tidak berhenti pada foto, melainkan berlanjut pada percakapan dan sarapan bersama.

Yang membuat Candirejo berbeda dari sekadar desa penyangga adalah cara pariwisatanya bekerja. Kegiatan wisata di sini dijalankan dari dalam desa: pemandu adalah warga setempat, rumah yang disinggahi adalah rumah warga, dan makanan yang disajikan berasal dari dapur rumah tangga. Dengan begitu, uang kunjungan berputar di desa, bukan hanya lewat di depannya.

Arti Nama dan Letak Desa Wisata Candirejo

Nama Candirejo berasal dari dua kata Jawa, candi dan rejo. Kata candi dapat berarti candi atau batu, sementara rejo berarti subur. Beberapa panduan wisata merangkum artinya sebagai tanah yang penuh batu tetapi tetap subur. Penjelasan itu cocok dengan lanskapnya: desa ini berada di kawasan yang tanahnya berbatu, namun sawah dan kebunnya hijau dan produktif.

Secara administratif, Candirejo adalah sebuah desa di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jaraknya yang hanya sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur membuat desa ini mudah dicapai setelah kunjungan ke candi. Namun suasananya jauh berbeda: dari pelataran candi yang ramai, pengunjung masuk ke gang-gang desa yang tenang, diapit rumah-rumah tradisional dan petak-petak sawah.

Desa ini dikelilingi panorama Perbukitan Menoreh. Di sebelah selatan desa, perbukitan hijau itu menjadi latar sehari-hari warga: tempat kebun, tempat berjalan pagi, dan tempat melihat matahari terbit dari titik yang disebut Watu Kendil. Hamparan sawah, hutan tropis, dan udara yang lebih sejuk daripada kawasan candi membuat Candirejo terasa seperti jeda yang menenangkan setelah keramaian Borobudur.

Dalam berbagai panduan wisata, Candirejo disebut sebagai lambang budaya Jawa: tempat pengunjung dapat mengalami dan ikut serta dalam beragam atraksi dan aktivitas budaya, bukan hanya menontonnya. Gambaran itu tepat, karena hampir semua kegiatan di desa ini bersifat partisipatif. Pengunjung tidak diarahkan ke panggung pertunjukan, melainkan ke dapur, bengkel, sawah, dan balai warga.

Dari Tempat Singgah Menjadi Tujuan

Candirejo tidak selalu menjadi tujuan wisata. Menurut portal resmi pariwisata Indonesia, desa ini dulu merupakan tempat singgah dan penginapan bagi para pelancong yang menuju Borobudur. Seiring waktu, desa itu berubah menjadi destinasi baru yang layak dijelajahi dengan haknya sendiri. Perubahan ini penting: Candirejo tidak lagi sekadar tempat lewat, melainkan tempat tinggal dan tempat belajar.

Salah satu panduan wisata menyebut Candirejo mulai dikembangkan sebagai desa wisata pada tahun 1996. Angka itu perlu dibaca dengan hati-hati karena hanya didukung satu sumber yang dibaca untuk artikel ini, tetapi gambaran umumnya konsisten: Candirejo termasuk desa wisata generasi awal di kawasan Borobudur, yang tumbuh jauh sebelum desa wisata menjadi tren di mana-mana. Panduan yang sama juga menyebut Candirejo meraih status mandiri menurut Jadesta, jaringan desa wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada tahun 2023. Status mandiri dalam sistem Jadesta menandakan desa wisata yang pengelolaannya sudah berjalan baik dan berkelanjutan.

Perkembangan ini tidak terjadi di ruang hampa. Kawasan Borobudur sendiri punya sejarah panjang tentang siapa yang menikmati manfaat pariwisata. Sebuah artikel lama Jakarta Post yang diarsipkan secara daring mengisahkan bagaimana warga di sekitar Borobudur pernah menaruh harapan besar pada restorasi candi dan pembangunan taman wisata di sekitarnya, tetapi manfaat ekonominya tidak selalu sampai ke warga. Desa wisata seperti Candirejo adalah jawaban dari bawah atas persoalan itu: warga tidak menunggu menjadi penonton di tanahnya sendiri, melainkan mengelola kunjungan itu sendiri.

Karena itu, cara terbaik memahami Candirejo adalah dengan melihat siapa yang bekerja di dalamnya. Kusir dokar adalah warga desa. Pemandu yang mendampingi pengunjung berkeliling adalah warga desa. Keluarga yang membuka rumahnya untuk menginap adalah warga desa. Bahkan makanan dan kerajinan yang dibeli pengunjung dibuat oleh rumah tangga di desa itu. Pariwisata di sini bukan industri yang datang dari luar, melainkan pekerjaan tambahan yang menempel pada kehidupan yang sudah ada.

Menjelajah Desa Wisata Candirejo dengan Dokar dan Sepeda

Cara paling khas menjelajahi Candirejo adalah dengan dokar, kereta kuda tradisional yang di sebagian tempat juga disebut andong. Dokar berjalan pelan menyusuri gang-gang kecil di antara rumah-rumah tradisional, sehingga pengunjung punya waktu untuk melihat detail yang hilang bila melintas dengan kendaraan bermotor: jemuran di halaman, anak-anak yang bermain, petani yang berangkat ke sawah, dan aroma masakan dari dapur yang pintunya terbuka.

Pilihan lainnya adalah sepeda. Bersepeda memberi kebebasan lebih untuk berhenti kapan saja: di pematang sawah untuk berfoto, di warung kecil untuk minum, atau di rumah warga yang sedang membuat kerajinan. Beberapa paket wisata menggabungkan keduanya, dokar untuk rute utama dan sepeda untuk menjelajah lebih jauh ke arah sawah dan perbukitan.

Baik dokar maupun sepeda, rute keliling desa pada dasarnya sama: menyusuri jalan-jalan kecil, berhenti di titik-titik kegiatan warga, dan kembali ke titik awal. Perjalanan biasanya berlangsung sekitar dua jam untuk putaran desa, menurut sejumlah paket wisata yang menawarkan kunjungan ke Candirejo. Waktu itu cukup untuk merasakan ritme desa tanpa tergesa-gesa, tetapi tidak terlalu lama hingga melelahkan.

Yang perlu diingat pengunjung adalah etika berkunjung ke desa yang masih hidup. Rumah-rumah yang dilewati bukan dekorasi, melainkan tempat tinggal. Karena itu, meminta izin sebelum memotret warga dari dekat, terutama anak-anak, adalah sikap yang dihargai. Pakaian yang sopan dan alas kaki yang nyaman untuk berjalan dan bersepeda juga membuat kunjungan lebih menyenangkan, baik bagi pengunjung maupun warga.

Belajar dari Tangan Warga: Gamelan, Kerajinan, dan Jajanan

Bagian paling berkesan dari kunjungan ke Candirejo biasanya bukan pemandangan, melainkan kegiatan yang melibatkan tangan. Salah satunya adalah gamelan. Pengunjung diajak duduk bersama perangkat gamelan Jawa dan mencoba memainkannya, dipandu warga yang biasa memainkannya dalam kegiatan desa. Bagi yang belum pernah menyentuh gamelan, pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana musik tradisional Jawa dimainkan secara bersama-sama, bukan sekadar didengar dari kejauhan.

Kegiatan lain yang sering ditawarkan adalah membuat kerupuk singkong. Pengunjung melihat prosesnya dari bahan mentah hingga menjadi kerupuk yang siap digoreng, dan memahami bahwa jajanan yang tampak sederhana itu membutuhkan ketelatenan. Di rumah-rumah lain, pengunjung dapat menyaksikan pembuatan jajanan seperti keripik pisang, combro, dan keripik tempe. Semuanya adalah usaha rumahan: dapur warga sekaligus tempat produksi, dan hasil penjualannya menjadi penghasilan keluarga.

Ada pula lokakarya membuat tempe mendoan, makanan khas Jawa yang dibuat dari tempe yang dibalut adonan tepung dan digoreng setengah matang. Dalam lokakarya ini, pengunjung belajar dari awal, mulai dari mengenal bahan hingga menggorengnya sendiri. Makanan yang dibuat dengan tangan sendiri, lalu dimakan bersama, biasanya terasa lebih berkesan daripada sekadar membelinya.

Selain makanan, Candirejo juga dikenal dengan pahat batu. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memahat batu, keterampilan yang hidup di kawasan Borobudur karena kebutuhan akan batu ukir dan ornamen. Melihat pahat bertemu batu dari dekat memberi penghargaan baru pada detail-detail candi yang sebelumnya hanya dilihat sebagai latar foto.

Semua kegiatan ini punya kesamaan: warga adalah gurunya. Tidak ada pemisahan kaku antara tuan rumah dan tamu. Pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu akan pulang dengan keterampilan kecil yang baru, entah itu menabuh satu pola gamelan, menggoreng tempe mendoan, atau memahami cara kerja dapur rumah tangga Jawa.

Dapur Candirejo: Mangut Beong dan Masakan Rumah

Tidak ada kunjungan ke Candirejo yang lengkap tanpa mencicipi masakannya. Hidangan yang paling sering disebut adalah mangut beong. Beong adalah ikan endemik Sungai Progo yang dimasak dengan santan dan bumbu kuning yang gurih. Hidangan ini biasanya disajikan dengan nasi hangat dan oseng-oseng godong gandul, tumis daun pepaya. Kombinasi ikan sungai, santan, dan sayur daun ini mencerminkan dapur Jawa pedesaan: bahan dari sungai dan kebun di sekitar, dimasak dengan bumbu yang tidak rumit tetapi kaya rasa.

Selain mangut beong, dapur-dapur Candirejo menawarkan jajanan yang dibuat di rumah: keripik pisang, combro, keripik tempe, dan kerupuk singkong. Sebagian pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya, lalu membeli sebagai oleh-oleh. Membeli langsung dari pembuatnya membuat oleh-oleh itu punya cerita: pembeli tahu siapa yang membuatnya dan dari dapur mana jajanan itu berasal.

Makan di Candirejo umumnya disajikan dalam suasana rumah, bukan restoran. Makanan diantar oleh keluarga yang memasaknya, dimakan di ruang yang juga dipakai keluarga sehari-hari. Bagi pengunjung dari kota, suasana ini sering kali menjadi bagian yang paling diingat: makan siang yang sederhana, tetapi dengan percakapan yang tidak dibuat-buat.

Perlu dicatat bahwa dapur desa tidak bekerja seperti restoran dengan menu tetap dan jam buka yang kaku. Menu yang tersedia mengikuti bahan yang ada dan kegiatan rumah tangga pada hari itu. Karena itu, pengunjung yang datang melalui paket wisata atau homestay biasanya sudah diaturkan makannya oleh tuan rumah. Cara ini justru menjaga keaslian: makanan yang disajikan adalah makanan yang memang dimakan keluarga itu.

Sawah, Sungai, dan Bukit: Tumpang Sari hingga Watu Kendil

Di luar gang-gang desa, Candirejo menawarkan lanskap pertanian yang masih aktif. Sistem pertanian tradisional yang dikenal sebagai tumpang sari dapat dilihat langsung di lapangan: berbagai tanaman tumbuh bersama dalam satu bidang, misalnya kacang, jagung, singkong, dan cabai yang ditanam serentak. Cara bertani ini bukan sekadar teknik, melainkan pengetahuan turun-temurun tentang bagaimana tanah yang terbatas dapat memberi hasil yang beragam.

Pengunjung yang ikut kegiatan pertanian dapat melihat dan mencoba bagian dari pekerjaan itu: menanam, memanen, atau memetik buah musiman. Bagi warga kota yang makanannya datang dari pasar swalayan, pengalaman memegang tanah dan tanaman memberi pemahaman yang sulit didapat dari buku. Anak-anak dari kota pun biasanya antusias, karena sawah dan kebun adalah ruang bermain yang sama sekali berbeda dari layar.

Sungai juga menjadi bagian dari pengalaman Candirejo. Salah satu kegiatan yang ditawarkan adalah menangkap ikan secara tradisional dengan bronjong, perangkap ikan dari anyaman, dan dengan jala di sungai. Kegiatan ini jarang dan mengasyikkan karena membutuhkan kesabaran dan kerja sama. Setelah itu, pengunjung yang ingin menyegarkan diri dapat mandi di sungai, pengalaman sederhana yang justru sulit ditemukan di kota.

Bagi yang mencari tantangan, tersedia pula pengalaman off-road menyusuri jalan berbukit di kawasan Menoreh, menyeberangi Sungai Progo, dan berakhir di titik Watu Kendil. Rute ini memadukan jalan tanah, tanjakan, dan penyeberangan sungai, dengan pemandangan perbukitan sebagai imbalannya. Watu Kendil sendiri adalah titik untuk melihat matahari terbit di Perbukitan Menoreh, di selatan desa. Pagi yang cerah di titik ini memberi pemandangan hamparan hijau yang berlapis-lapis, dengan kabut tipis di lembah-lembahnya.

Perlu dicatat bahwa harga untuk kegiatan seperti off-road dapat berubah tergantung pengelola desa, dan karena itu artikel ini tidak mencantumkan tarif. Pengunjung yang berminat sebaiknya menanyakan tarif terbaru kepada pengelola desa wisata sebelum datang, agar tidak mengandalkan angka lama dari artikel-artikel wisata yang sudah bertahun-tahun umurnya.

Menginap di Rumah Warga dan Balkondes

Candirejo menawarkan dua bentuk penginapan yang berbeda karakter. Yang pertama adalah homestay di rumah warga: pengunjung tinggal bersama keluarga setempat, tidur di kamar yang disediakan keluarga itu, makan masakan keluarga itu, dan mengikuti ritme hari keluarga itu. Bentuk ini paling cocok bagi pengunjung yang ingin merasakan kehidupan desa secara utuh, bukan hanya mengunjunginya.

Bentuk kedua adalah Balkondes, balai ekonomi desa yang tersedia di kawasan Borobudur, termasuk di Candirejo menurut portal resmi pariwisata Indonesia. Balkondes menawarkan penginapan dengan fasilitas yang lebih tertata, tetapi tetap berada di lingkungan desa dan dikelola dengan melibatkan warga. Pilihan ini cocok bagi pengunjung yang menginginkan kenyamanan lebih tanpa meninggalkan suasana desa.

Apa pun pilihannya, menginap mengubah kualitas kunjungan. Pengunjung yang hanya datang dua jam melihat desa sebagai objek. Pengunjung yang menginap melihat desa sebagai tempat hidup: suara azan dan kokok ayam di pagi hari, anak-anak berangkat sekolah, petani berangkat ke sawah, dan dapur yang mulai berasap sebelum matahari tinggi. Pengalaman semacam ini tidak bisa dibeli dengan tiket masuk.

Menginap juga memberi manfaat ekonomi yang lebih merata. Uang penginapan dibayar langsung kepada keluarga tuan rumah atau kepada pengelola desa, dan belanja harian pengunjung mengalir ke warung-warung kecil di sekitar. Inilah perbedaan mendasar antara desa wisata dan kawasan wisata biasa: manfaatnya tidak berhenti di gerbang, melainkan menyebar ke rumah-rumah.

Mengapa Desa Wisata Penting bagi Warga Candirejo

Kisah Candirejo juga merupakan kisah tentang keadilan dalam pariwisata. Borobudur adalah salah satu destinasi paling terkenal di Indonesia, tetapi ketenaran itu tidak otomatis menyejahterakan desa-desa di sekelilingnya. Pada masa pembangunan taman wisata di sekitar candi, warga desa-desa terdekat pernah berharap mendapat pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik, tetapi manfaatnya tidak selalu sampai kepada mereka. Desa wisata adalah cara warga membalik keadaan itu: bukan menunggu giliran mendapat manfaat, melainkan menciptakan manfaat itu sendiri.

Model Candirejo bekerja karena asetnya sudah dimiliki warga: rumah, sawah, keterampilan, dan keramahan. Tidak diperlukan investasi besar dari luar untuk memulainya. Yang diperlukan adalah organisasi: membagi tugas, menjaga kualitas pelayanan, dan memastikan pembagian hasil yang adil di antara warga yang terlibat. Pemandu lokal yang mendampingi pengunjung adalah bagian dari organisasi ini, dan kehadiran mereka memastikan cerita desa disampaikan oleh pemiliknya sendiri.

Penting juga untuk membedakan Candirejo dari artikel lain di portal ini tentang VW Safari Borobudur. VW Safari adalah kendaraan wisata: mobil klasik atap terbuka yang mengantar wisatawan menyusuri desa-desa penyangga Borobudur. Candirejo adalah desanya sendiri: tempat mobil-mobil itu berhenti, tempat warganya tinggal, dan tempat kegiatannya berlangsung. Keduanya saling melengkapi, tetapi artikel ini tentang desa dan warganya, bukan tentang kendaraannya.

Keberlanjutan desa wisata seperti Candirejo bergantung pada keseimbangan yang rapuh. Terlalu sedikit pengunjung membuat usaha warga lesu. Terlalu banyak pengunjung tanpa aturan membuat desa kehilangan ketenangannya. Karena itu, pengelolaan oleh warga sendiri menjadi kunci: merekalah yang paling tahu batas desanya, kapan sawah perlu dijaga dari keramaian, dan kapan rumah perlu dibuka untuk tamu.

Menutup Kunjungan: Waktu Terbaik dan Hal yang Perlu Diingat

Waktu terbaik mengunjungi Candirejo adalah pagi hari, ketika udara masih sejuk, sawah masih berkabut tipis, dan warga baru memulai aktivitasnya. Pagi juga waktu terbaik untuk mengejar matahari terbit di Watu Kendil atau sekadar bersepeda keliling desa sebelum terik. Sore hari menawarkan cahaya yang lembut untuk berfoto di antara sawah dan rumah-rumah tradisional. Siang hari yang terik lebih cocok dihabiskan di dalam rumah warga, belajar membuat jajanan atau memainkan gamelan sambil berteduh.

Karena Candirejo hanya sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, kunjungan ke desa ini paling mudah dirangkai dengan kunjungan ke candi. Banyak pengunjung mengawali hari di Borobudur, lalu melanjutkan ke Candirejo untuk makan siang, berkeliling desa, dan menginap. Rangkaian ini memberi gambaran lengkap tentang kawasan Borobudur: bukan hanya candinya, tetapi juga kehidupan yang tumbuh di sekelilingnya.

Beberapa hal praktis perlu diingat. Pertama, datanglah melalui pengelola desa wisata atau paket yang jelas, agar kegiatan dan tuan rumah sudah terkoordinasi. Kedua, bawalah air minum dan alas kaki yang nyaman, terutama bila berencana bersepeda atau berjalan jauh. Ketiga, hargai rumah dan privasi warga: mintalah izin sebelum memotret dari dekat, dan ikuti arahan pemandu lokal mengenai tempat yang boleh dan tidak boleh dimasuki.

Pengunjung yang punya waktu lebih juga dapat merangkai kunjungan Candirejo dengan destinasi di sekitarnya yang disebut portal resmi pariwisata Indonesia, antara lain mengejar matahari terbit dari Punthuk Setumbu dan berfoto di Gerbang Samudraraksa. Keduanya berada di kawasan Borobudur yang sama, sehingga satu perjalanan dapat memadukan candi, desa, dan titik-titik pandang alamnya. Namun justru Candirejo yang memberi perjalanan itu jeda manusianya: setelah menatap candi dan matahari terbit, pengunjung kembali ke desa untuk makan, berbincang, dan beristirahat di antara warga.

Pada akhirnya, Desa Wisata Candirejo menawarkan sesuatu yang semakin langka: kesempatan untuk melambat. Di sini, perjalanan tidak diukur dari banyaknya tempat yang dikunjungi, melainkan dari percakapan yang terjadi, keterampilan kecil yang dipelajari, dan pagi yang dihabiskan di beranda rumah warga sambil menyeruput teh. Borobudur akan selalu menjadi alasan orang datang ke kawasan ini. Candirejo adalah alasan mereka ingin kembali.

Sumber: indonesia.travel, “5 Fun Activities in Candirejo Tourism Village, Magelang” (tautan).

Baca juga: VW Safari Borobudur: Keliling Desa Penyangga dengan Mobil Klasik Atap Terbuka

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya