Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Petik Buah di Magelang di Luar Salak
Wisata

Petik Buah di Magelang di Luar Salak

Salak memang ikon Magelang, tetapi kebun-kebunnya juga menumbuhkan durian, kelengkeng, buah naga, dan buah pekarangan yang musimnya bergantian sepanjang tahun.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 23.23 WIB
petik buah Magelang
Ilustrasi keluarga memetik kelengkeng dari tandan di kebun lereng dengan keranjang, di antara pohon buah (Ilustrasi: KabarTidar)

Magelang sering diidentikkan dengan salak, dan identifikasi itu beralasan: salak Pondoh dari kawasan Borobudur dan sekitarnya sudah lama dikenal, dan artikel KabarTidar tentang wisata edukasi pertanian maupun tentang desa wisata di kawasan itu sudah membahas salak sebagai bagian dari kehidupan kebun di Magelang. Namun, kebun buah Magelang jauh lebih luas daripada salak. Di pekarangan, kebun campuran, dan lahan-lahan di lereng dan lembah, tumbuh durian, kelengkeng, buah naga, mangga, rambutan, manggis, pisang, dan berbagai buah tropis lain yang musimnya bergantian sepanjang tahun. Artikel ini membahas petik buah di Magelang di luar salak, dengan penekanan pada pengalaman memetik, musim, dan cara berkunjung yang menghormati petani, tanpa mengulang artikel salak dan tanpa mengklaim satu kebun tertentu sebagai tempat petik yang selalu buka.

Penting untuk menegaskan batas artikel ini sejak awal. Tidak semua kebun buah di Magelang dibuka sebagai tempat wisata petik buah. Banyak kebun adalah kebun kerja milik petani atau keluarga, yang buahnya dipanen untuk dijual, bukan untuk dipetik pengunjung. Karena itu, artikel ini tidak menyusun daftar kebun petik dengan alamat dan harga yang belum terverifikasi, dan tidak menjanjikan bahwa buah tertentu selalu tersedia pada tanggal tertentu. Yang dibahas di sini adalah jenis-jenis buah di luar salak yang tumbuh di Magelang, karakter masing-masing buah, musimnya secara umum, serta cara mencari dan mengikuti kegiatan petik buah melalui jalur yang sah, seperti desa wisata, kelompok tani, atau kebun yang memang membuka kunjungan. Pembaca yang berencana datang sebaiknya mengonfirmasi ketersediaan buah dan jadwal kunjungan kepada pengelola sebelum berangkat.

Alasan untuk membedakan artikel ini dari artikel salak dan artikel kebun edukasi adalah sudut pandangnya. Artikel salak membahas satu komoditas unggulan dan ekosistemnya. Artikel kebun edukasi membahas kegiatan belajar pertanian untuk anak-anak dan keluarga. Artikel ini membahas pengalaman petik buah sebagai kegiatan wisata: memilih buah di pohonnya, memahami tanda buah yang sudah matang, memetik dengan cara yang tidak merusak pohon, lalu menikmati buah itu di tempat atau membawanya pulang. Sudut itu berlaku untuk durian, kelengkeng, buah naga, dan buah-buah lain, yang masing-masing memiliki cara petik, tanda matang, dan kehati-hatian yang berbeda.

Secara geografis, Magelang memberi keuntungan bagi keragaman buah. Kabupaten ini dikelilingi gunung-gunung dan perbukitan, dengan ketinggian dan iklim mikro yang bervariasi dari lembah yang hangat hingga lereng yang sejuk. Menurut laman pariwisata Provinsi Jawa Tengah, kondisi geografis Magelang yang dikelilingi Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Andong, dan Menoreh membuat daerah ini berudara sejuk dan kaya sumber daya alam. Variasi ketinggian itu memengaruhi jenis tanaman yang cocok tumbuh di suatu tempat. Buah yang menyukai udara hangat dan lembah yang lebih rendah tidak selalu cocok di lereng yang dingin, dan sebaliknya. Karena itu, peta buah Magelang tidak seragam: satu kecamatan bisa dikenal karena satu jenis buah, sementara kecamatan lain dikenal karena jenis yang berbeda.

Petik buah di Magelang di luar salak: gambaran umum

Pengalaman petik buah yang baik dimulai jauh sebelum pengunjung memegang buahnya. Ia dimulai dari pemahaman bahwa buah memiliki musim. Durian, misalnya, dikenal sebagai buah musiman yang panen rayanya tidak terjadi sepanjang tahun, dan ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh musim berbunga dan cuaca pada bulan-bulan sebelumnya. Kelengkeng juga memiliki musim panen, meskipun teknologi pembuahan di luar musim sudah dikenal di beberapa daerah di Indonesia. Buah naga, yang berasal dari tanaman kaktus merambat, dapat berbuah beberapa kali dalam setahun bila dirawat dengan baik, tetapi jumlah dan ukurannya tetap bervariasi. Mangga, rambutan, dan manggis pun memiliki musimnya masing-masing. Pengunjung yang datang tanpa memperhatikan musim berisiko kecewa, bukan karena kebunnya tidak ada, tetapi karena datang pada waktu yang salah.

Karena itu, langkah pertama dalam merencanakan wisata petik buah adalah menanyakan musim, bukan menanyakan alamat. Tanyakan kepada kelompok tani, desa wisata, atau pengelola kebun: buah apa yang sedang musim pada bulan kunjungan, apakah kegiatan petik dibuka untuk umum pada masa itu, dan berapa kira-kira jumlah pengunjung yang dapat diterima dalam satu hari. Pertanyaan-pertanyaan itu lebih berguna daripada sekadar mencari nama kebun di internet, karena jawaban atas pertanyaan musim menentukan apakah perjalanan itu layak dilakukan atau sebaiknya ditunda ke bulan berikutnya.

Langkah kedua adalah memahami bahwa petik buah adalah kegiatan pertanian, bukan wahana hiburan. Pohon buah memiliki cabang yang bisa patah bila dipanjat sembarangan, buah yang belum matang bisa rusak bila dipetik terlalu dini, dan tanaman buah naga yang merambat pada tiang penyangga bisa rusak bila ditarik. Pengelola kebun yang baik akan memberi pengarahan singkat sebelum kegiatan dimulai: buah mana yang boleh dipetik, bagaimana cara memetiknya, dan bagian kebun mana yang tidak boleh dimasuki. Pengunjung yang mengikuti pengarahan itu tidak hanya menjaga kebun, tetapi juga mendapatkan buah dengan kualitas terbaik, karena buah yang dipetik dengan cara yang benar dan pada tingkat kematangan yang tepat rasanya lebih baik.

Langkah ketiga adalah soal harga dan timbangan. Artikel ini sengaja tidak mencantumkan harga petik buah, karena harga buah sangat dipengaruhi oleh musim, kualitas, dan kebijakan masing-masing kebun, dan dapat berubah dalam waktu singkat. Yang dapat dipegang sebagai prinsip adalah kejelasan: sebelum memetik, tanyakan bagaimana sistemnya, apakah buah ditimbang dan dibayar per kilogram, apakah ada biaya masuk kebun, dan apakah buah yang sudah dipetik wajib dibeli. Kejelasan di awal mencegah kesalahpahaman di akhir, yang sering terjadi bila pengunjung mengira buah yang dipetik boleh dicicipi sepuasnya tanpa bayaran, sementara pengelola menganggap setiap buah yang dipetik adalah buah yang dibeli.

Durian: raja buah yang paling musiman

Durian adalah buah yang paling banyak dicari sekaligus paling sulit diprediksi ketersediaannya. Aromanya yang kuat, dagingnya yang tebal, dan variasi rasanya membuat durian memiliki penggemar yang rela datang dari jauh pada musim panen. Di Magelang, durian tumbuh di pekarangan dan kebun campuran, terutama di daerah yang lebih hangat dan tidak terlalu tinggi. Pohon durian adalah pohon besar yang berumur panjang, dan buahnya jatuh sendiri bila sudah matang, atau dipetik dengan cara dipanjat dan dipotong tangkainya pada waktu yang tepat. Kedua cara itu memiliki risiko masing-masing, dan pengunjung sebaiknya tidak memanjat pohon durian sendiri tanpa pendampingan dari pemilik kebun.

Menikmati durian di kebun memiliki keunikan tersendiri. Buah yang baru jatuh atau baru dipetik memiliki aroma dan tekstur yang berbeda dari buah yang sudah lama disimpan atau dikirim jauh. Namun, tidak semua durian yang jatuh layak dimakan pada hari yang sama, dan tidak semua durian yang tampak besar memiliki daging yang tebal. Petani dan pedagang durian yang berpengalaman biasanya dapat memperkirakan kualitas dari bentuk, bunyi ketukan, dan aroma buahnya, tetapi perkiraan itu pun tidak selalu tepat. Pengunjung yang baru pertama kali membeli durian sebaiknya meminta penjual atau pemilik kebun untuk membuka dan mencicipi buahnya di tempat, bila sistem kebun itu memungkinkan, agar tidak pulang dengan buah yang belum matang atau sudah terlalu matang.

Dari sisi kesehatan dan kenyamanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menikmati durian dalam jumlah banyak. Durian mengandung kalori dan gula yang cukup tinggi, sehingga makan dalam porsi besar dalam waktu singkat dapat membuat perut tidak nyaman, terutama bagi pengunjung yang tidak terbiasa. Minum air yang cukup, tidak mencampur durian dengan minuman beralkohol, dan memberi jeda sebelum melanjutkan perjalanan jauh adalah anjuran umum yang sering disampaikan oleh tenaga kesehatan. Pengunjung yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi durian dalam jumlah besar, dan tidak menjadikan artikel wisata sebagai rujukan medis.

Durian juga memberi pelajaran tentang ekonomi kebun. Harga durian pada musim panen raya umumnya lebih rendah daripada pada masa paceklik, karena pasokan melimpah. Sebaliknya, pada masa di luar musim, durian yang tersedia biasanya berasal dari daerah lain atau dari pohon yang berbuah di luar musim, dan harganya lebih tinggi. Pengunjung yang datang pada musim panen raya akan mendapatkan pilihan yang lebih banyak dan harga yang lebih bersahabat, tetapi juga akan bertemu dengan lebih banyak pengunjung lain. Pengunjung yang datang di luar musim panen raya perlu bersiap bahwa pilihan terbatas, dan sebaiknya tidak memaksakan diri mencari durian lokal bila memang sedang tidak musim.

Kelengkeng: buah kecil yang menuntut kesabaran

Kelengkeng adalah buah yang berbanding terbalik dengan durian dalam banyak hal: ukurannya kecil, aromanya lembut, dan cara menikmatinya adalah dengan memetik satu per satu dari tandannya. Pohon kelengkeng dapat tumbuh cukup besar, dan buahnya menggantung dalam tandan-tandan yang rapat. Tanda kelengkeng yang sudah matang dapat dilihat dari warna kulitnya yang berubah menjadi cokelat kekuningan dan dari rasa dagingnya yang manis dan tidak sepat. Kelengkeng yang dipetik terlalu dini rasanya sepat dan dagingnya tipis, sedangkan kelengkeng yang dibiarkan terlalu lama di pohon berisiko dimakan kelelawar atau burung, atau jatuh dan rusak.

Kegiatan petik kelengkeng umumnya lebih ramah untuk anak-anak dan keluarga daripada petik durian, karena buahnya ringan, tidak berduri, dan tidak beraroma menyengat. Anak-anak dapat belajar membedakan buah yang sudah matang dari yang belum, belajar memetik tanpa merusak tandan, dan belajar bahwa buah yang baik adalah buah yang dipetik pada waktunya. Namun, keramahan itu tetap memerlukan pengawasan: anak-anak tidak boleh memanjat pohon tanpa pendampingan, tidak boleh menarik cabang dengan kuat, dan tidak boleh memetik buah dari pohon yang tidak termasuk dalam area petik yang ditentukan oleh pengelola.

Kelengkeng di Indonesia dikenal memiliki beberapa varietas, dan menurut berbagai sumber pertanian, kelengkeng dataran rendah dan dataran tinggi memiliki karakter yang berbeda dalam hal ukuran buah, ketebalan daging, dan kebutuhan iklimnya. Artikel ini tidak menyebut varietas tertentu sebagai varietas yang pasti tumbuh di satu kebun Magelang tanpa verifikasi dari pemilik kebun, karena penamaan varietas di lapangan sering kali tidak seragam dan mudah tertukar. Yang lebih aman bagi pembaca adalah menanyakan langsung kepada pengelola kebun: varietas apa yang ditanam di sini, bagaimana rasanya, dan kapan musim panennya. Jawaban dari pengelola yang merawat pohonnya setiap hari jauh lebih dapat dipercaya daripada klaim umum di internet.

Dari sisi penyimpanan, kelengkeng yang baru dipetik sebaiknya tidak disimpan terlalu lama pada suhu ruang yang panas, karena kualitasnya menurun dengan cepat. Bila pengunjung membawa kelengkeng pulang dalam perjalanan jauh, simpanlah dalam wadah yang tidak tertutup rapat sepenuhnya agar udara dapat bersirkulasi, dan hindarkan dari paparan matahari langsung di dalam kendaraan. Bila perjalanan memakan waktu berjam-jam, pendinginan sederhana, seperti menyimpan buah di tempat yang teduh dan sejuk, membantu mempertahankan kesegarannya. Detail-detail praktis seperti ini sering kali luput dari panduan wisata, padahal menentukan apakah buah yang dibawa pulang masih enak saat tiba di rumah.

Buah naga: tanaman kaktus yang fotogenik

Buah naga adalah buah yang paling mudah dikenali dari penampilannya: kulitnya berwarna merah cerah dengan sisik-sisik hijau, dagingnya bisa berwarna putih atau merah, dan bijinya kecil-kecil berwarna hitam yang tersebar di seluruh daging buah. Tanamannya adalah jenis kaktus yang merambat dan biasanya ditanam dengan penyangga tiang, sehingga kebun buah naga tampak teratur, dengan barisan tiang dan tanaman yang menjuntai. Keteraturan itu membuat kebun buah naga menarik untuk difoto, dan banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk memetik, tetapi juga untuk melihat bentuk kebunnya.

Cara memetik buah naga relatif sederhana: buah yang sudah matang dipotong tangkainya dengan pisau atau gunting, bukan ditarik dengan kuat, agar tanaman tidak rusak dan buah tidak memar. Tanda buah naga yang sudah matang dapat dilihat dari warna kulitnya yang merah merata dan dari ujung sisiknya yang mulai mengering. Buah naga yang dipetik terlalu dini warnanya masih hijau di sebagian sisi dan rasanya kurang manis, sedangkan buah yang dibiarkan terlalu lama di tanaman berisiko pecah atau dimakan hama. Pengelola kebun biasanya akan menunjukkan contoh buah yang sudah siap petik sebelum pengunjung mulai memetik sendiri.

Buah naga juga menarik dari sisi pengolahan. Selain dimakan langsung, buah naga dapat diolah menjadi jus, es buah, selai, atau campuran makanan penutup. Pengunjung yang membeli buah naga dalam jumlah banyak dapat mengolah sebagian menjadi jus atau menyimpannya di lemari pendingin untuk beberapa hari. Namun, seperti buah lainnya, buah naga yang sudah dikupas sebaiknya segera dikonsumsi atau disimpan dalam wadah tertutup di lemari pendingin, karena daging buah yang terbuka mudah terkontaminasi dan cepat berubah rasa.

Yang perlu diperhatikan dalam mengunjungi kebun buah naga adalah soal duri dan permukaan tanah. Tanaman buah naga memiliki duri-duri kecil pada batangnya, dan tanah di sekitar tiang penyangga bisa tidak rata. Pengunjung sebaiknya memakai alas kaki tertutup, tidak menyentuh batang tanaman secara sembarangan, dan berhati-hati saat berjalan di antara barisan tiang, terutama bila tanah basah setelah hujan. Kehati-hatian sederhana ini membuat kunjungan tetap menyenangkan tanpa luka kecil yang sebenarnya mudah dihindari.

Mangga, rambutan, manggis, dan buah pekarangan lainnya

Di luar durian, kelengkeng, dan buah naga, Magelang juga memiliki buah-buah pekarangan yang sering kali luput dari panduan wisata karena tidak dianggap sebagai komoditas unggulan. Mangga tumbuh di banyak pekarangan di daerah yang lebih hangat, dan musim mangga di Jawa umumnya datang bergantian dengan musim buah lainnya, sehingga pada satu masa, mangga bisa melimpah di pasar lokal. Rambutan tumbuh di pekarangan dan kebun campuran, dengan buahnya yang berambut dan dagingnya yang manis, dan musimnya sering kali berdekatan dengan musim buah tropis lain. Manggis, yang dikenal sebagai buah dengan kulit tebal berwarna ungu gelap dan daging putih yang manis asam, tumbuh di daerah yang lebih lembap dan memerlukan waktu lebih lama untuk berbuah sejak ditanam.

Buah-buah pekarangan ini memiliki nilai wisata yang berbeda dari buah kebun komersial. Karena tumbuh di pekarangan warga, kegiatan petiknya sering kali bersifat informal dan sangat bergantung pada izin pemilik pekarangan. Pengunjung tidak dapat mengasumsikan bahwa setiap pohon mangga atau rambutan di pekarangan warga boleh dipetik. Sebaliknya, pengalaman yang paling tepat adalah membeli buah dari pemilik pekarangan atau dari pasar lokal, lalu menikmati buah itu di tempat yang disediakan, atau mengikuti kegiatan desa wisata yang memang memasukkan kunjungan ke pekarangan sebagai bagian dari paketnya. Dengan cara itu, pemilik pekarangan mendapatkan manfaat ekonomi, dan pengunjung mendapatkan buah yang segar tanpa melanggar etika bertamu.

Pisang juga layak disebut, meskipun jarang dianggap sebagai buah petik wisata. Pisang tumbuh hampir di seluruh Magelang, dari lembah hingga lereng, dan memiliki banyak varietas dengan rasa dan kegunaan yang berbeda, dari pisang yang dimakan langsung hingga pisang yang diolah menjadi gorengan atau kolak. Kebun pisang yang rimbun memberi keteduhan dan suasana yang berbeda dari kebun buah lainnya, dan daun pisang yang lebar membuat kebun terasa teduh bahkan pada tengah hari. Namun, pisang dipanen dalam bentuk tandan, bukan dipetik satu per satu oleh pengunjung, sehingga kegiatan petik pisang tidak sama dengan petik kelengkeng atau buah naga. Pengunjung yang tertarik pada pisang lebih tepat diarahkan pada kegiatan melihat panen, pengolahan, atau kuliner berbahan pisang, daripada pada kegiatan petik per buah.

Keragaman buah pekarangan ini menunjukkan bahwa peta buah Magelang tidak dapat diringkas menjadi satu atau dua komoditas. Setiap dusun memiliki kombinasi buah yang berbeda, tergantung pada ketinggian, jenis tanah, air, dan kebiasaan warganya. Pengunjung yang menjelajahi pasar-pasar lokal di Magelang, seperti yang dibahas dalam artikel KabarTidar tentang pasar tradisional, akan melihat keragaman itu dengan jelas: pada satu musim, pasar dipenuhi satu jenis buah, pada musim lain, jenis buah yang dominan berganti. Pasar adalah cermin musim yang paling jujur, dan mengunjungi pasar sebelum atau sesudah kegiatan petik buah dapat membantu pengunjung memahami buah apa yang sedang musim pada waktu itu.

Musim, cuaca, dan perencanaan kunjungan

Perencanaan wisata petik buah pada dasarnya adalah perencanaan musim. Pengunjung yang memiliki fleksibilitas waktu sebaiknya memilih bulan kunjungan berdasarkan buah yang ingin dipetik, bukan berdasarkan tanggal libur semata. Bila buah yang diinginkan sedang tidak musim, ada dua pilihan yang sama-sama masuk akal: menunda kunjungan hingga musimnya tiba, atau mengubah target buah menjadi buah yang sedang musim pada waktu itu. Pilihan kedua sering kali justru memberi pengalaman yang lebih baik, karena pengunjung datang pada saat buah melimpah, pilihan banyak, dan petani sedang sibuk panen sehingga suasana kebun terasa hidup.

Cuaca juga memengaruhi kenyamanan kegiatan petik buah. Pada musim hujan, tanah kebun bisa becek, jalan setapak bisa licin, dan buah yang jatuh bisa cepat kotor. Pada musim kemarau yang terik, kegiatan petik pada tengah hari bisa melelahkan, terutama bagi anak-anak dan pengunjung lanjut usia. Waktu yang paling nyaman umumnya adalah pagi hari, ketika udara masih sejuk dan cahaya masih lembut, atau sore hari menjelang matahari terbenam. Pengunjung yang datang pada pagi hari juga memiliki keuntungan lain: buah yang dipetik pada pagi hari umumnya masih segar dan belum terkena panas sepanjang hari.

Untuk rombongan besar, perencanaan menjadi lebih penting. Kebun buah memiliki daya tampung yang terbatas, baik dari sisi luas lahan maupun dari sisi kemampuan pengelola untuk mendampingi. Rombongan sekolah, komunitas, atau perusahaan yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya dapat mengganggu kegiatan petani dan membuat pengalaman menjadi kurang nyaman bagi semua pihak. Sebaiknya, rombongan besar menghubungi pengelola jauh-jauh hari, menyampaikan jumlah peserta, usia peserta, dan tujuan kunjungan, agar pengelola dapat menyiapkan pendamping, area petik, dan fasilitas yang memadai. Bila pengelola menyatakan tidak dapat menerima rombongan pada tanggal tertentu, menghormati jawaban itu adalah bagian dari etika wisata.

Bagi pengunjung perorangan atau keluarga kecil, fleksibilitasnya lebih besar, tetapi pemberitahuan tetap dianjurkan, terutama bila tujuannya adalah kebun yang dikelola keluarga atau kelompok kecil. Pesan singkat atau telepon sehari sebelumnya sudah cukup untuk memastikan bahwa kebun buka, buah tersedia, dan ada orang yang dapat mendampingi. Kebiasaan kecil ini juga membantu pengelola, karena mereka dapat menyiapkan buah, alat petik, dan tempat istirahat sesuai dengan jumlah pengunjung yang akan datang.

Etika memetik dan manfaat bagi petani

Etika memetik buah dapat diringkas dalam beberapa prinsip sederhana, tetapi dampaknya besar. Pertama, petik hanya buah yang sudah matang dan hanya di area yang ditentukan. Memetik buah yang belum matang merugikan petani karena buah itu tidak dapat dijual, dan merugikan pengunjung berikutnya karena buah itu terbuang sia-sia. Kedua, gunakan alat petik yang disediakan atau yang dianjurkan oleh pengelola, dan jangan memanjat pohon atau menarik cabang dengan kuat. Ketiga, bayar buah yang sudah dipetik sesuai dengan sistem yang disepakati di awal, dan jangan meninggalkan buah yang sudah dipetik di tanah karena berubah pikiran.

Keempat, jaga kebersihan kebun. Kulit buah, biji, dan kemasan makanan sebaiknya dibuang di tempat yang disediakan, atau dibawa kembali bila tidak ada tempat sampah. Kelima, hormati privasi dan waktu petani. Petani yang sedang bekerja di kebun tidak selalu dapat melayani pertanyaan panjang, dan pengunjung yang datang pada waktu istirahat atau waktu ibadah sebaiknya menyesuaikan diri. Keenam, bila membawa anak-anak, dampingi mereka selama kegiatan petik, dan ajarkan bahwa memetik buah adalah kegiatan yang memerlukan izin dan tanggung jawab, bukan kegiatan mengambil apa pun yang terlihat.

Dari sisi manfaat ekonomi, wisata petik buah yang dikelola dengan baik dapat memberi penghasilan tambahan bagi petani, di luar penjualan buah ke pasar atau pengepul. Penghasilan itu bisa berasal dari biaya kunjungan, penjualan buah langsung kepada pengunjung dengan harga yang lebih baik daripada harga pengepul, atau penjualan produk olahan. Namun, manfaat itu hanya terwujud bila kunjungan berjalan tertib dan petani tidak dirugikan oleh kerusakan kebun atau buah yang terbuang. Pengunjung yang tertib karena itu bukan hanya pengunjung yang sopan, tetapi juga pengunjung yang berkontribusi pada keberlanjutan wisata petik buah itu sendiri.

Pada akhirnya, petik buah di Magelang di luar salak adalah undangan untuk melihat Magelang sebagai daerah pertanian yang hidup, bukan sekadar daerah tujuan wisata candi. Durian, kelengkeng, buah naga, mangga, rambutan, manggis, dan buah pekarangan lainnya masing-masing memiliki musim, cara petik, dan cerita yang berbeda. Pengunjung yang datang dengan memperhatikan musim, menghormati petani, dan bersedia menyesuaikan rencana dengan kondisi kebun akan pulang dengan buah yang segar dan pengalaman yang lebih kaya daripada sekadar foto di kebun. Itulah inti dari wisata petik buah yang baik, dan itulah yang membuat kebun-kebun Magelang layak dikunjungi berulang kali, pada musim yang berbeda, untuk buah yang berbeda pula.

Pembaca yang ingin memahami konteks kebun dan desa di Magelang dapat membaca artikel KabarTidar tentang desa wisata Candirejo, sedangkan gambaran umum wilayah Kabupaten Magelang tersedia pada laman pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *