Hadroh Magelang: Tabuh Rebana, Lantun Shalawat, dan Panggung Hajatan
Di hajatan, maulid, dan festival rebana, tabuhan rebana dan lantunan shalawat menjadi suara yang paling dikenali dari kesenian Islam ini. Ini gambaran grup, gaya, alat, dan panggungnya di Magelang.

Hadroh Magelang adalah kesenian Islam berupa lantunan shalawat yang diiringi tabuhan rebana, yang hidup di pesantren, masjid, musala, sekolah, dan kampung-kampung di wilayah Magelang, dan yang paling sering terdengar pada acara maulid, hajatan, peringatan hari besar Islam, dan festival rebana. Bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikannya, kesan pertamanya biasanya adalah bunyi rebana yang menghentak dan teratur, disusul suara vokal yang bersahut-sahutan membacakan shalawat, dan barisan pemain yang duduk atau berdiri dalam formasi yang kompak. Kesan itu tepat, karena hadroh memang dibangun di atas dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu tabuhan sebagai pengatur irama dan shalawat sebagai isi dan tujuan pertunjukannya.
Nama hadroh sendiri sering ditulis pula sebagai hadrah, dan perbedaan ejaan itu tidak perlu dipertentangkan, karena keduanya merujuk pada kesenian yang sama dalam percakapan masyarakat. Dari segi bahasa, kata hadroh ditelusuri ke kata Arab hadhoro yang berarti kehadiran, dan dalam pemakaian umum, kata itu kemudian dimaknai sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Dalam pengertian tasawuf yang dikutip dalam sejumlah tulisan tentang kesenian ini, hadrah dimaknai sebagai jalan untuk membuka hati terhadap kehadiran Allah, karena orang yang melakukannya dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran itu. Penjelasan bahasa ini berguna, karena ia menunjukkan bahwa hadroh sejak awal tidak dipahami semata-mata sebagai musik hiburan, melainkan sebagai kesenian yang membawa muatan spiritual di dalam bunyinya.
Sejarah hadroh di Nusantara umumnya ditelusuri ke tradisi kesenian Islam dari Timur Tengah yang masuk bersamaan dengan dakwah Islam, dan sejumlah sumber menyebut abad ke-13 sebagai masa awal masuknya ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan penyebaran Islam. Kisah yang paling sering diulang tentang asal muasal tabuhan rebana adalah kisah penyambutan Nabi Muhammad ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, ketika warga Madinah menyambut beliau dengan tabuhan rebana sambil bersyair. Kisah itu hidup sebagai cerita asal yang menjelaskan mengapa rebana mendapat tempat khusus dalam kesenian Islam, yaitu karena ia sejak awal dikaitkan dengan kegembiraan menyambut kedatangan Nabi, bukan dengan hiburan yang lepas dari nilai keagamaan.
Di Indonesia, hadroh berkembang menjadi media dakwah dan hiburan bernuansa religius yang sering ditampilkan pada acara keagamaan seperti maulid nabi, peringatan hari besar Islam, hingga hajatan masyarakat, dan ia identik sebagai kesenian milik pesantren, khususnya di Pulau Jawa. Perkembangan itu tidak terjadi dalam satu jalur yang tunggal, melainkan melalui banyak jalur, yaitu pesantren, majelis shalawat, remaja masjid, sekolah, dan kelompok masyarakat yang membentuk grupnya sendiri. Karena jalur pembentukannya beragam, hadroh di satu tempat dapat terdengar sedikit berbeda dari hadroh di tempat lain, meskipun alat dan repertoarnya mempunyai kemiripan yang jelas, yaitu rebana sebagai alat utama dan shalawat sebagai nyanyian utama.
Alat Hadroh: Rebana, Bass, Tam, dan Darbuka
Alat utama hadroh adalah rebana, yang dalam bahasa setempat sering disebut terbang. Rebana adalah alat musik perkusi berbentuk bundar dengan membran kulit yang direntangkan di salah satu sisinya, dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan, sehingga menghasilkan bunyi ritmis yang khas. Dalam satu grup hadroh, rebana tidak dimainkan sendirian, melainkan dalam susunan yang saling mengisi, dan sebuah gambaran yang sering dikutip menyebut komposisi hadrah terdiri atas empat terbang, satu bass, satu tam, darbuka, dan keprak. Gambaran lain menyebut rebana besar atau bass untuk suara rendah, rebana kecil untuk irama cepat, dan tamborin untuk variasi nada. Perbedaan jumlah dan sebutan itu wajar, karena tiap grup menyesuaikan susunannya dengan jumlah pemain, dengan gaya yang dianutnya, dan dengan peralatan yang dimilikinya.
Peran tiap alat dalam grup hadroh dapat dijelaskan secara sederhana agar penonton baru dapat mengikuti pertunjukan dengan lebih mudah. Rebana terbang adalah alat yang membawa pola irama utama, yaitu pukulan yang berulang dan menjadi kerangka lagu. Bass adalah rebana yang lebih besar dan bersuara lebih rendah, yang memberi dentuman dasar dan membuat irama terasa mantap dan dalam. Tam atau tum adalah alat yang memberi aksen dan variasi, sedangkan darbuka, yang dalam sebagian penjelasan disebut pula tifa, adalah alat berbentuk seperti kendi yang memberi pukulan yang lebih tajam dan cepat, sehingga irama terasa lebih hidup. Keprak, apabila dipakai, memberi bunyi tambahan yang memperkaya tekstur tabuhan. Ketika semua alat itu dipukul bersama dalam pola yang sudah dilatih, hasilnya adalah irama yang menghentak, rancak, dan variatif, yang menjadi ciri hadroh yang paling mudah dikenali.
Cara memainkan rebana juga menentukan kualitas sebuah grup, dan di sinilah latihan rutin menjadi penentu. Pemain rebana harus menguasai pukulan dasar, yaitu pukulan yang menghasilkan bunyi yang bulat dan jelas, serta pukulan variasi yang memberi warna pada irama, dan semua pemain harus dapat menjaga tempo yang sama agar tabuhan tidak saling mendahului. Vokalis, di sisi lain, harus menguasai teknik vokal, harmoni suara, dan adab dalam menyampaikan shalawat, karena shalawat bukan sekadar lirik yang dinyanyikan, melainkan doa yang dilantunkan dengan penghayatan. Grup yang baik karena itu bukan hanya grup yang tabuhannya keras, melainkan grup yang tabuhan dan vokalnya saling mendukung, sehingga penonton dapat mendengar shalawatnya dengan jelas di atas irama rebana, bukan tenggelam oleh bunyi tabuhan.
Perawatan alat adalah bagian dari kehidupan grup yang sering luput dari perhatian penonton. Membran kulit rebana dapat mengendur atau mengencang mengikuti cuaca, dan pemain yang berpengalaman tahu cara mengatur kekencangannya agar bunyinya tetap jernih. Rangka kayu rebana perlu dijaga dari benturan dan kelembapan, dan grup yang tampil di banyak acara biasanya mempunyai wadah khusus untuk membawa rebana agar tidak rusak dalam perjalanan. Perhatian semacam itu tampak sepele, tetapi ia adalah bagian dari disiplin kesenian, karena alat yang terawat menghasilkan bunyi yang terawat pula, dan bunyi yang terawat membuat shalawat yang diiringinya terdengar lebih khidmat.
Dua Gaya yang Hidup di Magelang: Banjari dan Habsyi
Di Magelang, dua gaya rebana yang paling sering disebut adalah Banjari dan Habsyi, dan keduanya termasuk gaya kesenian rebana yang pertama-tama muncul dan populer di Nusantara, sebagaimana dicatat dalam liputan tentang Festival Rebana Klasik di Sawangan. Gaya Banjari, menurut sejumlah sumber yang dikutip dalam liputan itu, berasal dari majelis pembacaan kitab dan shalawat yang dipimpin oleh Muhammad Zaini Abdul Ghani, yang dikenal sebagai Tuan Guru Sekumpul, di Martapura, Banjarmasin, dan pembacaan shalawat yang dipimpinnya diiringi hadrah yang kemudian dikenal sebagai rebana gaya Banjari. Sumber lain menyebut bahwa rebana gaya Banjari dikenal dari Tapaan, Pasuruan, Jawa Timur, melalui tokoh KH Chumaidi Abdul Majid, yang para santrinya ditugaskan mengajar dan menyebarkan hadrah tersebut, khususnya di wilayah Jawa. Adanya dua jalur cerita tentang Banjari ini perlu dicatat dengan jujur, karena ia menunjukkan bahwa sejarah lisan kesenian rakyat sering kali mempunyai lebih dari satu versi, dan yang dapat dipegang dengan aman adalah bahwa Banjari adalah gaya yang lahir dari majelis shalawat dan menyebar melalui santri dan majelis.
Gaya Habsyi, dalam liputan yang sama, diperkenalkan oleh Habib Ali Muhammad bin Husein Al-Habsyi, yang menggunakan rebana dalam misi dakwahnya menyebarkan agama Islam, dan yang menulis kitab maulid Simthu Al-Durar yang berisi kisah perjalanan hidup Rasulullah. Kitab itu, menurut liputan tersebut, sering dibaca dan diiringi hadrah saat memperingati maulid Nabi, dan melalui putranya, Habib Alwi bin Ali Muhammad Al Habsyi, tradisi rebana gaya Habsyi dan pembacaan maulid Simthu Al-Durar dibawa ke Nusantara. Kaitan Habsyi dengan kitab maulid ini penting, karena ia menjelaskan mengapa hadroh gaya Habsyi terasa sangat lekat dengan acara maulid, yaitu karena repertoarnya memang tumbuh bersama pembacaan riwayat Nabi, bukan sekadar iringan musik yang ditempelkan pada acara apa pun.
Perbedaan Banjari dan Habsyi bagi penonton awam paling mudah dirasakan dari irama dan repertoarnya, meskipun perbedaan teknis yang rinci hanya dapat dijelaskan oleh pelatih dan pemain yang menguasai kedua gaya itu. Banjari dikenal dengan nada yang menghentak dan pukulan yang energik dengan irama yang khas, dan ia tumbuh dalam lingkungan majelis shalawat yang pesertanya banyak dan suasananya semarak. Habsyi, dengan kaitan kitab maulidnya, sering terasa lebih khidmat dan tertib, karena pembacaan riwayat Nabi menuntut perhatian pada teks dan urutan bacaan. Penonton yang menyaksikan festival rebana yang menampilkan kedua gaya itu dalam satu panggung, sebagaimana yang terjadi di Sawangan, dapat merasakan perbedaan itu secara langsung, tanpa perlu menghafal istilah teknisnya, yaitu dari cara tabuhan membuka lagu, dari cara vokal bersahut-sahutan, dan dari suasana yang dibangun di atas panggung.
Di samping Banjari dan Habsyi, hadroh di Magelang juga hidup dalam bentuk modern, yaitu grup yang memakai susunan alat dan aransemen yang lebih berkembang, dan dalam bentuk klasik, yaitu grup yang mempertahankan susunan alat yang lebih sederhana. Pembagian klasik dan modern ini tampak jelas dalam kategori Festival Rebana Kabupaten Magelang, yang membagi peserta ke dalam kategori klasik dan modern, dan pembagian itu menunjukkan bahwa hadroh di Magelang tidak dipaksa memilih satu bentuk saja. Grup klasik menjaga kesederhanaan dan kekhidmatan, grup modern mengeksplorasi variasi irama dan vokal, dan keduanya sama-sama diakui sebagai hadroh selama tabuhan rebana dan lantunan shalawat tetap menjadi pusatnya.
Latihan Grup Hadroh: dari Musala sampai Panggung Festival
Kehidupan sebuah grup hadroh di Magelang pada umumnya dimulai dari latihan rutin, bukan dari panggung besar. Grup yang berbasis di pesantren biasanya berlatih di sela kegiatan pesantren, grup remaja masjid berlatih di masjid atau musala setelah kegiatan pengajian, dan grup sekolah berlatih sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang dibina oleh guru atau pembina. Latihan itu sendiri mempunyai tujuan yang berlapis, yaitu meningkatkan religiusitas anggota melalui lantunan shalawat, mengembangkan keterampilan seni musik Islami khususnya memainkan rebana, dan melatih kebersamaan, karena hadroh tidak dapat dimainkan sendirian dan menuntut kekompakan. Anggota baru biasanya mulai dengan mempelajari pukulan dasar rebana dan menghafal shalawat yang paling sering dibawakan, sebelum dipercaya memegang pola irama yang lebih rumit atau menjadi vokalis utama.
Jadwal latihan grup hadroh umumnya menyesuaikan dengan kesibukan anggotanya, dan karena itu tidak dapat ditulis sebagai jadwal tetap yang berlaku untuk semua grup. Grup pesantren dapat berlatih beberapa kali dalam sepekan, grup remaja masjid dapat berlatih satu atau dua kali dalam sepekan menjelang acara tertentu, dan grup yang sedang mempersiapkan festival dapat menambah frekuensi latihannya secara drastis pada pekan-pekan terakhir sebelum lomba. Yang penting dalam semua pola itu adalah keteraturan, karena irama rebana yang kompak hanya lahir dari latihan yang berulang, dan vokal shalawat yang harmonis hanya lahir dari anggota yang sudah saling mengenal suara satu sama lain. Pelatih grup, yang sering kali adalah senior yang lebih dahulu menguasai hadroh, memegang peran kunci dalam menjaga keteraturan itu, yaitu dengan menentukan repertoar, mengoreksi pukulan yang belum tepat, dan mengatur formasi pemain di atas panggung.
Repertoar hadroh adalah bagian yang paling menentukan identitas sebuah grup, dan ia terdiri atas shalawat dan syair yang memberi nasihat, bukan hanya lagu hiburan. Dalam banyak penjelasan tentang hadroh, disebutkan bahwa lagu-lagu hadroh tidak hanya berupa shalawat, tetapi juga syair yang memberi nasihat, dan repertoar yang sering disebut dalam kaitannya dengan hadroh meliputi shalawat Badar, shalawat Al-Barzanji, dan shalawat Burdah, yang masing-masing mempunyai syair pembuka yang khas dan dikenali oleh jamaah. Di samping itu, pembacaan kitab maulid seperti Al-Barzanji, Ad-Diba’i, dan Simtud Durar adalah bagian dari tradisi yang mengiringi hadroh pada acara maulid, dan grup yang menguasai pembacaan kitab itu mempunyai keunggulan tersendiri, karena ia dapat tampil dalam acara maulid yang lengkap, bukan hanya dalam pentas yang singkat.
Formasi panggung hadroh juga patut diperhatikan, karena ia memengaruhi cara penonton mendengar tabuhan dan vokal. Pemain rebana biasanya duduk atau berdiri dalam barisan yang rapi, dengan vokalis di posisi yang suaranya dapat terdengar jelas, dan pemimpin grup memberi aba-aba untuk memulai, mengubah tempo, dan menutup lagu. Dalam sebagian gambaran tentang hadrah, disebutkan bahwa dalam satu penampilan biasanya hadrah diiringi oleh sepuluh rebana, dengan lima pemain di kanan dan lima di kiri, atau dapat pula memakai delapan atau enam rebana yang dibagi sama rata di kanan dan kiri. Gambaran itu berasal dari kesenian hadro di Garut dan tidak dapat dipindahkan begitu saja sebagai patokan untuk semua grup di Magelang, tetapi ia memberi gambaran umum yang berguna, yaitu bahwa hadroh adalah kesenian kelompok yang kekuatannya terletak pada jumlah dan kekompakan, bukan pada satu pemain bintang.
Hadroh di Hajatan dan Maulid: Panggung yang Paling Akrab
Panggung yang paling akrab bagi hadroh di Magelang adalah hajatan dan maulid, yaitu dua acara masyarakat yang mempunyai suasana yang berbeda tetapi sama-sama memberi tempat bagi shalawat. Hajatan dalam pengertian masyarakat Jawa adalah perayaan keluarga atau warga, seperti pernikahan, khitanan, atau syukuran lain, yang mengundang kerabat dan tetangga, dan hadroh di hajatan berfungsi sebagai hiburan yang religius sekaligus sebagai doa bersama untuk keluarga yang sedang berbahagia. Dalam hajatan pernikahan, misalnya, hadroh dapat tampil mengiringi kedatangan tamu, mengisi jeda acara, atau menutup rangkaian dengan shalawat bersama, dan kehadirannya memberi warna yang berbeda dari hiburan lain, karena yang dilantunkan adalah shalawat, bukan lagu pop atau lagu campursari.
Maulid adalah panggung kedua yang bahkan lebih lekat dengan hadroh, karena maulid adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang isinya adalah pembacaan riwayat Nabi, lantunan shalawat, pengajian, dan doa bersama. Dalam acara maulid, hadroh bukan sekadar pengiring, melainkan bagian dari ibadah dan syiar itu sendiri, karena tabuhan rebana mengiringi pembacaan kitab maulid dan shalawat yang menjadi inti acara. Karena itu, grup hadroh yang tampil di maulid dituntut untuk lebih khidmat daripada grup yang tampil di hajatan yang suasananya lebih meriah, dan perbedaan tuntutan itu adalah bagian dari keahlian grup, yaitu kemampuan membaca suasana acara dan menyesuaikan repertoar serta tempo dengan suasana itu.
Di samping hajatan dan maulid, hadroh juga tampil pada peringatan hari besar Islam lainnya, seperti Isra Mikraj, Tahun Baru Islam, dan Hari Santri, serta pada acara pesantren seperti khataman santri dan haul pendiri. Sebuah contoh yang tercatat dengan jelas adalah Festival Rebana Klasik yang digelar Pondok Pesantren At Tauhid Al Islamy, Kapuhan, Sawangan, pada Senin, 23 Juni 2025, sebagai rangkaian acara Khataman Santri dan Haul Pendiri, dengan tema pelestarian tradisi Islam. Dalam festival itu, menurut liputan setempat, kesenian rebana disebut masih banyak digelar di desa-desa Kabupaten Magelang, dan puluhan kelompok rebana tercatat eksis memeriahkan berbagai acara hari besar Islam di Kecamatan Sawangan. Catatan itu penting, karena ia menunjukkan bahwa hadroh di Magelang bukan kesenian yang hanya hidup di atas panggung festival, melainkan kesenian yang hidup di desa-desa dan tampil secara rutin dalam kalender keagamaan masyarakat.
Ciri yang ditekankan dalam Festival Rebana Klasik di Sawangan itu juga patut dicatat, karena ia membedakan hadroh klasik dari bentuk musik yang memakai alat modern. Ketua panitia festival itu, Hilman, menyebut bahwa festival tersebut menampilkan gaya Habsyi maupun Banjari, dan hanya memakai tifa atau darbuka, tam, dan terbang atau rebana, tanpa memakai organ maupun gitar. Penegasan itu menunjukkan adanya kesadaran di kalangan pelaku hadroh klasik untuk menjaga kesederhanaan alatnya, yaitu hanya perkusi dan vokal, tanpa alat melodi modern. Kesadaran semacam itu tidak berarti hadroh modern dilarang memakai alat tambahan, karena kategori modern dalam festival kabupaten memang memberi ruang bagi pengembangan, tetapi ia menunjukkan bahwa dalam tradisi klasik, kesederhanaan alat adalah bagian dari identitas, bukan keterbatasan.
Bedanya Hadroh dengan Orkes Campursari dan Dangdut Hajatan
Perbedaan hadroh dengan orkes campursari dan dangdut hajatan perlu ditegaskan, karena ketiganya sama-sama tampil di hajatan dan sama-sama menghibur tamu, sehingga penonton yang tidak terbiasa dapat menganggapnya sama. Perbedaan pertama terletak pada alat dan bunyinya. Hadroh memakai rebana dan perkusi sebagai alat utama, tanpa gitar, organ, dan alat melodi modern dalam bentuk klasiknya, dan bunyinya didominasi oleh tabuhan tangan di atas membran kulit. Orkes campursari memakai gamelan yang dipadukan dengan alat modern, dan dangdut memakai gendang, gitar, dan organ dengan irama dangdut yang khas. Penonton yang menutup mata pun dapat membedakan ketiganya dari bunyinya, yaitu tabuhan rebana yang menghentak untuk hadroh, bunyi gamelan yang mengalun untuk campursari, dan dentuman dangdut yang bergoyang untuk dangdut.
Perbedaan kedua terletak pada isi nyanyiannya. Hadroh melantunkan shalawat dan syair nasihat yang isinya adalah pujian kepada Nabi dan ajakan kepada kebaikan, dan nyanyian itu sendiri dipahami sebagai doa dan syiar. Campursari melantunkan lagu Jawa, baik lagu tradisional maupun lagu pop Jawa, yang isinya berkisar pada cinta, kehidupan desa, dan humor, sedangkan dangdut melantunkan lagu dangdut yang isinya berkisar pada cinta, kehidupan, dan hiburan, dengan penyanyi yang menjadi pusat panggung. Karena isi nyanyiannya berbeda, suasana yang dibangun pun berbeda, yaitu hadroh membangun suasana khidmat dan syukur, campursari membangun suasana akrab dan nostalgia Jawa, dan dangdut membangun suasana meriah dan bergoyang.
Perbedaan ketiga terletak pada siapa yang menjadi pusat panggung dan bagaimana penonton ikut serta. Dalam hadroh, pusat panggung adalah kelompok yang kompak, dengan vokalis dan pemain rebana yang saling mengisi, dan penonton ikut serta dengan melantunkan shalawat bersama atau mengangguk mengikuti irama, bukan dengan berjoget di depan panggung. Dalam campursari, pusat panggung adalah penyanyi dan pemain gamelan, dan penonton ikut serta dengan menyanyi bersama lagu yang dikenalnya. Dalam dangdut, pusat panggung adalah penyanyi dan penari, dan penonton ikut serta dengan berjoget. Memahami perbedaan ini membantu penyelenggara hajatan memilih hiburan yang sesuai dengan suasana yang diinginkannya, dan membantu penonton menghargai tiap kesenian pada tempatnya, tanpa menuntut hadroh untuk bergoyang seperti dangdut, atau menuntut dangdut untuk khidmat seperti hadroh.
Perbedaan itu juga tercermin dalam artikel KabarTidar tentang tarian tradisional Magelang, yang menggambarkan kesenian rakyat yang diiringi gamelan dan tampil dalam hajatan dan bersih desa, dengan pusat panggung yang berbeda-beda, mulai dari kuda anyaman sampai syair nasihat. Hadroh dapat dibaca sebagai pendamping dari peta kesenian itu, yaitu kesenian yang pusatnya bukan tari dan bukan gamelan, melainkan tabuhan rebana dan lantunan shalawat. Dengan peta itu, pembaca dapat menempatkan hadroh dalam lanskap kesenian Magelang secara utuh, yaitu sebagai satu warna di antara banyak warna, yang masing-masing mempunyai alat, isi, dan suasana yang khas.
Festival Rebana Kabupaten Magelang dan Grup Tombo Ati
Festival rebana tingkat kabupaten adalah panggung yang paling terukur untuk melihat seberapa hidup hadroh di Magelang, karena ia mempertemukan grup-grup dari berbagai kecamatan dalam satu ajang yang sama. Pada Festival Rebana, Musabaqah Tilawatil Quran, dan Musabaqah Qira’atul Kutub Tahun 2026 dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, yang dibuka oleh Wakil Bupati Magelang, Sahid, di halaman parkir Masjid Agung Jawa Tengah An-Nuur, Sawitan, Kota Mungkid, pada Senin, 12 Oktober 2026 malam, cabang Festival Rebana tercatat diikuti oleh 32 grup yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu Modern Pemula, Klasik Dewasa, dan Modern Dewasa, dengan kategori Modern Pemula diikuti oleh 10 grup. Angka itu, yang dilaporkan oleh panitia melalui Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Magelang, Daryoko Umar Singgih, menunjukkan bahwa hadroh di Magelang bukan hanya hidup di tingkat desa, melainkan juga terorganisasi sampai tingkat kabupaten, dengan peserta yang merupakan perwakilan dari kecamatan se-Kabupaten Magelang.
Festival serupa pada tahun 2024 memberi gambaran yang sebanding dan menunjukkan kesinambungan. Pada Musabaqah Tilawatil Quran dan Festival Rebana Tingkat Kabupaten Magelang Tahun 2024, yang dilaksanakan sebagai rangkaian Hari Santri Tahun 2024, Festival Rebana diikuti oleh 47 grup, dengan rincian kategori pemula 16 grup, klasik 20 grup, dan modern 11 grup. Perbandingan angka 2024 dan 2026 tidak boleh dibaca sebagai penurunan atau kenaikan yang pasti, karena kategori dan sistem pendaftaran dapat berbeda dari tahun ke tahun, tetapi yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa dalam dua penyelenggaraan itu, puluhan grup dari berbagai kecamatan ikut serta, dan hadroh terbukti mempunyai basis peserta yang luas di kabupaten ini. Festival itu sendiri, menurut penjelasan panitia pada tahun 2024, bertujuan membudayakan bacaan ayat suci Al Quran dan bacaan shalawat kepada masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Magelang, sehingga festival bukan hanya lomba, melainkan juga sarana pembinaan.
Di tingkat yang lebih besar dan lebih meriah, hadroh pernah tampil secara kolosal di Magelang, yaitu pentas 107 hadrah kolosal persembahan desa-desa di wilayah Kabupaten Magelang pada Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriah, yang dipusatkan dari depan Rumah Dinas Bupati Magelang hingga Masjid An Nur, Sawitan, Kota Mungkid, dan dibuka dengan tabuh rebana bersama-sama oleh Bupati Magelang dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang saat itu, Mad Sabitul Wafa, menjelaskan bahwa tabuh bersama itu bertujuan mempererat tali silaturahmi semua elemen muslim di Kabupaten Magelang, juga membudayakan gemar kesenian Islam melalui pentas rebana kolosal, serta sebagai syiar dan ajakan untuk memperbanyak sedekah pada bulan Muharam dan lebih memperhatikan fakir miskin dan yatim. Pentas kolosal semacam itu menunjukkan sisi hadroh yang jarang terlihat dalam pentas grup kecil, yaitu kemampuannya untuk menyatukan ratusan pemain dalam satu irama yang sama, sehingga bunyinya terasa sebagai suara bersama satu kabupaten, bukan suara satu grup saja.
Di Kota Magelang, hadroh juga hidup melalui kelompok yang dibentuk oleh penyuluh agama, yaitu Grup Rebana Tombo Ati yang dibentuk oleh Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Kota Magelang pada Rabu, 16 Maret 2022, di Pondok Pesantren Al Ihsan, Wates. Peresmian grup itu diawali dengan mujahadah dan doa bersama yang dipimpin oleh Gus Dhofir, dan ketua kelompok kerja itu, Shanti, menjelaskan dua tujuan pembentukan grup, yaitu pertama, ingin melestarikan kesenian Islami ini sebagai bagian dari syiar Islam, dan kedua, menggali potensi seni para penyuluh agama Islam. Penjelasan itu penting, karena ia menunjukkan bahwa hadroh tidak hanya diwariskan oleh santri dan remaja masjid, melainkan juga dipelihara oleh penyuluh agama yang tugas sehari-harinya adalah membimbing dan menyuluh masyarakat, sehingga kesenian ini menjadi bagian dari kerja dakwah mereka, bukan sekadar hobi di luar tugas.
Siapa yang Terlibat dan Bagaimana Grup Bertahan
Sebuah grup hadroh di Magelang biasanya terdiri atas pemain rebana, vokalis, dan pelatih atau pembina, dengan jumlah yang menyesuaikan dengan kebutuhan acara dan ketersediaan anggota. Grup kecil dapat tampil dengan belasan anggota, sedangkan grup yang tampil dalam festival atau acara besar dapat melibatkan lebih banyak pemain, dan dalam pentas kolosal, jumlahnya dapat mencapai ratusan seperti yang tercatat pada Tahun Baru Islam 1440 Hijriah. Yang menentukan kualitas grup bukan semata-mata jumlahnya, melainkan kekompakan dan penguasaan repertoarnya, karena grup kecil yang tabuhannya rapi dan vokalnya harmonis sering kali terdengar lebih baik daripada grup besar yang tabuhannya tidak seragam.
Keberlangsungan grup hadroh bergantung pada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu regenerasi, tempat latihan, dan undangan tampil. Regenerasi berarti grup harus terus menerima anggota baru, terutama dari kalangan remaja dan santri muda, dan melatih mereka dari pukulan dasar sampai mereka dapat tampil, karena anggota lama pada waktunya akan sibuk dengan pekerjaan, pindah domisili, atau berkeluarga. Tempat latihan berarti grup memerlukan ruang yang tetap, biasanya masjid, musala, pesantren, atau sekolah, tempat mereka dapat berlatih tanpa mengganggu dan tanpa diganggu. Undangan tampil berarti grup memerlukan panggung yang rutin, mulai dari hajatan warga, maulid kampung, sampai festival kabupaten, karena tanpa panggung, latihan akan terasa hampa dan anggota akan kehilangan motivasi.
Peran perempuan dalam hadroh juga patut diperhatikan, meskipun gambaran umum tentang hadroh sering kali menampilkan barisan pemain laki-laki. Di banyak tempat, grup hadroh perempuan, grup ibu-ibu majelis taklim, dan grup santriwati juga hidup dan tampil pada acara-acara perempuan dan acara keluarga, dengan repertoar shalawat yang sama dan dengan kekompakan yang sama. Keberadaan grup perempuan ini menunjukkan bahwa hadroh bukan kesenian yang tertutup untuk satu jenis kelamin saja, melainkan kesenian yang dapat dihidupi oleh siapa pun yang ingin melantunkan shalawat dengan iringan rebana, selama ia menjaga adab dan kesesuaian dengan acara yang diikutinya. Artikel ini tidak menyebut nama grup perempuan tertentu di Magelang, karena sumber yang dibaca tidak memberi nama yang dapat diverifikasi untuk itu, dan menyebut nama tanpa verifikasi justru akan merusak kejujuran artikel ini.
Biaya adalah tantangan praktis yang dihadapi hampir semua grup hadroh, meskipun skalanya jauh lebih kecil daripada orkes modern. Grup perlu membeli dan merawat rebana, menyediakan seragam atau busana tampil yang seragam, dan menanggung biaya transportasi ke tempat tampil, dan dana itu biasanya berasal dari iuran anggota, sumbangan jamaah, atau honor tampil yang diterima dari penyelenggara acara. Pengelolaan dana yang terbuka, misalnya dengan mencatat iuran dan pengeluaran secara sederhana dan melaporkannya kepada anggota, adalah kunci kepercayaan di dalam grup, karena grup hadroh pada dasarnya adalah kelompok kebersamaan, dan kebersamaan itu mudah retak apabila soal uang tidak dikelola dengan jujur. Di sisi lain, grup yang hanya mengandalkan honor tampil berisiko kehilangan kekhidmatan, apabila ia mulai memilih acara berdasarkan honor semata, bukan berdasarkan kesesuaian acara dengan syiar shalawat.
Menonton Hadroh dengan Pengertian yang Tepat
Bagi pembaca yang baru pertama kali menonton hadroh, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan agar pengalaman menontonnya lebih bermakna. Pertama, dengarkan shalawatnya, bukan hanya tabuhannya, karena shalawat adalah isi pertunjukan, sedangkan tabuhan adalah pengiringnya. Apabila penonton hanya mendengar tabuhan yang menghentak, ia akan pulang dengan kesan bahwa hadroh adalah musik perkusi semata, padahal yang dilantunkan di atas tabuhan itu adalah doa dan pujian kepada Nabi. Kedua, perhatikan kekompakan grup, yaitu apakah semua pemain rebana memukul dalam tempo yang sama, apakah vokal bersahut-sahutan dengan rapi, dan apakah perpindahan dari satu lagu ke lagu lain berjalan mulus, karena kekompakan itulah yang membedakan grup yang terlatih dari grup yang baru berkumpul.
Ketiga, perhatikan kesesuaian grup dengan acaranya, yaitu apakah repertoar yang dibawakan sesuai dengan suasana hajatan yang meriah atau maulid yang khidmat, dan apakah grup menjaga adab tampil, misalnya dengan berpakaian sopan dan menjaga sikap selama tampil. Keempat, apabila pembaca ingin mengundang grup hadroh untuk hajatan atau maulid, langkah paling wajar adalah menghubungi takmir masjid, pengurus pesantren, atau kelompok remaja masjid setempat, karena mereka biasanya mengetahui grup mana yang aktif di wilayah itu dan dapat memberi rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan acara. Artikel ini sengaja tidak mencantumkan tarif atau kontak grup tertentu, karena tarif dan kontak itu berubah dari waktu ke waktu dan bergantung pada kesepakatan dengan penyelenggara, dan mencantumkan angka yang tidak diverifikasi justru akan menyesatkan pembaca.
Kelima, hormatilah hadroh sebagai kesenian yang membawa muatan keagamaan, yaitu dengan tidak memintanya tampil dalam suasana yang tidak sesuai, misalnya dengan meminta grup melantunkan shalawat di tengah suasana yang gaduh dan tidak menghormati bacaan, atau dengan memperlakukan pemainnya sebagai pengiring yang tidak penting. Sikap menghormati itu berlaku pula bagi penyelenggara yang mengundang hadroh bersama hiburan lain dalam satu hajatan, yaitu dengan memberi waktu tampil yang layak, memberi tempat yang sopan, dan tidak menumpuk hadroh dengan hiburan yang suasananya bertentangan dalam satu waktu yang sama. Dengan sikap itu, hadroh dapat menjalankan fungsinya yang ganda, yaitu sebagai hiburan yang meriah dan sebagai syiar yang khidmat, tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Penutup yang paling tepat untuk artikel ini adalah kembali ke bunyi yang pertama kali didengar penonton, yaitu tabuhan rebana yang menghentak dan teratur, dan mengingat bahwa di balik tabuhan itu ada shalawat yang dilantunkan dengan sungguh-sungguh. Hadroh bertahan di Magelang bukan karena ia paling keras atau paling modern, melainkan karena ia menjawab kebutuhan yang sederhana dan dalam, yaitu kebutuhan umat Islam untuk melantunkan kecintaannya kepada Nabi dengan cara yang dapat dilakukan bersama-sama, dengan alat yang dapat dibuat dan dirawat sendiri, dan dengan irama yang dapat diikuti oleh siapa pun yang hadir. Selama kebutuhan itu masih ada, dari musala kampung sampai panggung festival kabupaten, tabuhan rebana akan terus terdengar di Magelang, mengiringi hajatan yang berbahagia dan maulid yang khidmat, dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya.
Sebuah liputan tentang Festival Rebana Klasik di Sawangan menutup gagasannya dengan nada yang sejalan, yaitu bahwa kesenian rebana adalah salah satu tradisi Islam yang masih banyak digelar di desa-desa Kabupaten Magelang, dan bahwa festival itu sendiri adalah upaya untuk mempertahankannya. Penjelasan umum tentang hadroh sebagai seni musik Islami dengan rebana juga menegaskan hal yang sama dari sisi yang lebih luas, yaitu bahwa hadroh bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Islam, mengembangkan bakat seni, serta melatih kebersamaan melalui lantunan shalawat dan nasyid. Bagi grup-grup di Magelang yang akan berlatih pada pekan berikutnya, tujuan itu sudah cukup menjadi alasan untuk kembali memegang rebana, mengatur tempo, dan melantunkan shalawat bersama.


