Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Tarian Tradisional Magelang
Umum

Tarian Tradisional Magelang

Jathilan dengan kuda anyaman, Topeng Ireng dengan wajah hitam, dan Kubro Siswo dengan syair nasihat: tiga pusat panggung yang mudah dibedakan dalam satu kali menonton.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 18.13 WIB
Penari Tarian Tradisional Magelang di lapangan desa, satu menunggangi kuda anyaman, satu berwajah hitam dengan hiasan bulu, dan sekelompok penari bernyanyi diiringi gamelan
Ilustrasi penari tarian tradisional Magelang di lapangan desa, satu menunggangi kuda anyaman, satu berwajah hitam dengan hiasan kepala bulu, dan sekelompok penari bernyanyi diiringi gamelan. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Tarian Tradisional Magelang hidup bukan di gedung pertunjukan yang jauh dari kehidupan warga, melainkan di lapangan desa, di halaman rumah, dan di arena yang dipagari sementara di tengah keramaian acara. Tiga nama yang paling sering disebut ketika orang membicarakan tarian rakyat di wilayah ini adalah Jathilan, Topeng Ireng, dan Kubro Siswo, dan ketiganya sama-sama lahir dari masyarakat desa, sama-sama diiringi musik tradisional, dan sama-sama ditampilkan dalam hajatan, bersih desa, dan festival, tetapi ketiganya tidak sama. Artikel ini merangkum ketiganya secara ringkas, menunjukkan apa yang menjadi pusat masing-masing, dan membantu pembaca membedakan ketiganya dalam satu kali menonton, tanpa mengulang isi penuh profil-profil yang sudah ada di KabarTidar. Pembaca yang ingin mengenal satu kesenian secara mendalam dapat membuka profil lengkapnya yang ditautkan di dalam artikel ini.

Penjelasan tentang metode penulisan perlu disampaikan sejak awal. Artikel ini bukan profil keempat yang menggantikan tiga profil yang sudah ada, melainkan peta perbandingan. Karena itu, tiap tarian dibahas ringkas saja, yaitu cukup untuk dikenali dari pusat panggungnya, dari musiknya, dan dari konteks pentasnya, tetapi tidak sampai menguraikan seluruh sejarah, kostum, dan struktur pertunjukannya secara penuh. Hal-hal yang sengaja tidak ditulis di sini adalah hal-hal yang juga tidak ditulis dalam profilnya, yaitu nama pencipta perorangan yang tidak didukung sumber, jumlah penari yang pasti yang dapat berbeda antarrombongan dan antaracara, nama sanggar tertentu sebagai wakil kesenian, dan jadwal pentas yang pasti, karena pentas kesenian rakyat umumnya terikat pada acara masyarakat yang waktunya ditentukan oleh penyelenggara setempat, bukan oleh kalender tetap yang berlaku untuk semua rombongan. Dengan metode itu, artikel ini tetap jujur tentang batas pengetahuannya, dan pembaca tidak diberi kepastian palsu.

Pertanyaan yang paling berguna untuk membedakan ketiga tarian ini adalah pertanyaan yang sederhana, yaitu apa yang pertama kali dilihat atau didengar penonton sebagai pusat panggung. Jika yang dilihat sebagai pusat adalah kuda anyaman dan pasukan berkuda, itu Jathilan. Jika yang dilihat sebagai pusat adalah wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah, itu Topeng Ireng. Jika yang didengar sebagai pusat adalah syair yang berisi nasihat dan ajakan kepada kebaikan, itu Kubro Siswo. Pertanyaan itu bekerja karena tiap kesenian memang dibangun di sekitar satu pusat yang berbeda, dan pusat itu menentukan properti yang harus dirawat, keahlian yang harus dilatih, dan cara penonton menikmatinya. Artikel ini akan kembali ke pertanyaan itu di bagian perbandingan, setelah tiap tarian diperkenalkan secara ringkas.

Tarian Tradisional Magelang dalam Tiga Pusat yang Berbeda

Sebelum masuk ke tiap tarian, ada baiknya memahami apa yang menyatukan ketiganya. Ketiganya adalah kesenian rakyat, bukan kesenian keraton. Artinya, ketiganya lahir dari kebutuhan masyarakat desa akan hiburan dan kebersamaan, dimainkan oleh warga setempat, dan ditonton oleh warga yang saling kenal, bukan oleh penonton yang membeli tiket dan duduk diam di kursi teater. Ketiganya juga sama-sama memakai gamelan atau perangkat musik tradisional sebagai pengatur gerak, dan ketiganya sama-sama hidup dalam dua konteks utama, yaitu bersih desa dan hajatan. Bersih desa adalah perayaan dan ritual syukur desa yang biasanya melibatkan seluruh warga, dan kesenian rakyat menjadi bagian dari perayaan itu. Hajatan adalah perayaan keluarga atau warga, seperti pernikahan, khitanan, atau syukuran lain, yang mengundang kerabat dan tetangga. Dalam kedua konteks itu, kesenian berfungsi sekaligus sebagai hiburan, sebagai penanda bahwa acara itu istimewa, dan sebagai ruang berkumpul warga. Penontonnya bukan penonton yang jauh, melainkan warga yang saling kenal, anak-anak yang berlarian di tepi arena, dan pedagang yang berjualan di sekitar lokasi.

Kesamaan konteks itu juga menjelaskan mengapa ketiga tarian sering tampil dalam acara yang sama, dan mengapa penonton yang tidak terbiasa dapat menukar ketiganya. Di lapangan desa yang sama, pada hari yang sama, penonton dapat menyaksikan satu rombongan menari dengan kuda anyaman pada pagi hari, rombongan lain menari dengan wajah hitam pada siang hari, dan rombongan lain menyanyi sambil menari pada sore hari. Ketiganya memakai panggung yang sama, penonton yang sama, dan suasana yang sama, sehingga perbedaan yang paling mudah dikenali bukanlah panggungnya, melainkan pusatnya. Karena itu, latihan untuk mengenali pusat tiap tarian adalah latihan yang paling berguna bagi penonton baru, dan artikel ini disusun untuk melatih hal itu.

Jathilan, Tari Kuda Anyaman dan Pasukan Berkuda

Jathilan Magelang adalah tari rakyat Jawa yang paling mudah dikenali dari satu properti, yaitu kuda anyaman yang ditunggangi penari seolah-olah mereka benar-benar sedang berkuda. Kuda itu dibuat dari bambu yang dianyam dan dibentuk menyerupai kuda, lalu dihias dengan cat warna-warni dan kain. Penari bergerak mengikuti iringan gamelan, kadang dengan gerak yang lembut dan lambat, kadang dengan gerak yang cepat dan penuh tenaga. Dalam sebagian pertunjukan, ada pula babak yang oleh masyarakat setempat dipahami sebagai kondisi trance, ketika penari menampilkan gerak dan atraksi yang di luar kebiasaan. Pusat Jathilan adalah kuda anyaman dan gambaran pasukan berkuda, dan tanpa kuda anyaman, Jathilan kehilangan ciri yang paling menentukan. Musiknya adalah gamelan yang mengatur gerak berkuda, ceritanya berkisar pada pasukan atau kesatria berkuda, dan daya tariknya terletak pada gabungan antara tari, musik, dan unsur trance yang melingkupinya.

Penamaan kesenian ini perlu dijelaskan sejak awal, karena satu keluarga kesenian yang sama dikenal dengan nama yang berbeda di daerah yang berbeda. Dalam bahasa Jawa, kesenian ini disebut jaran kepang. Di Jawa Tengah, nama Jathilan dan jaran kepang sama-sama dipakai. Di Jawa Barat, nama yang paling umum adalah kuda lumping, dan dalam bahasa Indonesia nama kuda kepang juga dipakai. Perbedaan nama ini bukan berarti keseniannya berbeda sama sekali. Yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain biasanya adalah gaya gerak, lagu pengiring, kostum, susunan babak, dan tradisi setempat yang melingkupinya, bukan sekadar nama di spanduk pementasan. Portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah menggambarkan tarian Jathilan sebagai tari yang menggambarkan perang di antara pasukan berkuda, dan menyebutnya mirip dengan tari kuda lumping dari Jawa Timur. Gambaran itu sejalan dengan bentuknya, yaitu sekelompok penari berkuda, bergerak dalam formasi, dan menampilkan kesan pasukan yang sedang berarak atau bertempur. Cerita yang lebih rinci, seperti siapa tokohnya dan apa konfliknya, biasanya bergantung pada tradisi kelompok yang mementaskan, dan tidak bisa diseragamkan untuk semua Jathilan.

Asal usul Jathilan tidak bisa ditulis sebagai satu cerita yang sudah pasti. Ada hipotesis yang mengaitkannya dengan gambaran pasukan berkuda pada masa perang, termasuk Perang Diponegoro melawan pasukan kolonial Belanda, sebagai semacam pementasan ulang pertempuran. Ada pula hipotesis yang mengaitkannya dengan pasukan Mataram yang berkuda melawan Belanda. Keduanya adalah hipotesis, bukan catatan kelahiran yang terdokumentasi dengan tanggal dan nama pencipta yang tunggal. Yang lebih bisa dipegang adalah gambaran umumnya, yaitu Jathilan menggambarkan sekelompok penunggang kuda, dan gambaran itu masih mudah dibaca penonton sampai sekarang. Penari tidak sedang menari dengan properti yang diam. Mereka menggerakkan kuda anyaman itu, mengarahkannya, menghentakkannya, dan menjadikannya bagian dari tubuh gerak mereka. Dari situlah kesan pasukan berkuda itu muncul, bukan dari dialog atau narasi yang diucapkan di atas panggung.

Di Magelang sendiri, ada gambaran cerita yang menarik dari kelompok di Mungkid. Menurut laporan perjalanan budaya yang diterbitkan Indonesia Travel, kelompok Tresno Budoyo di Desa Senden, Mungkid, membawakan Jathilan yang bercerita tentang para kesatria yang mencari raja mereka yang hilang, dengan penekanan pada pentingnya seorang pemimpin dan ahli strategi. Laporan yang sama mencatat bahwa kelompok Tresno Budoyo sudah aktif sejak masa Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan pada masa itu kesenian ini ditampilkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah tersebut. Supardil, tokoh kelompok itu, memimpin selama lebih dari 40 tahun sejak tahun 1977 sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada adiknya, Sudiman, pada tahun-tahun terakhir. Catatan ini menunjukkan bahwa Jathilan di Magelang bukan kesenian yang baru datang, melainkan kesenian yang sudah dirawat lintas generasi di satu desa. Di sisi lain, ada pula Jathilan yang lebih kuat unsur ritualnya daripada unsur ceritanya. Kajian yang diterbitkan dalam jurnal Harmonia tentang Jathilan di Krajan, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, menggambarkan Jathilan sebagai bagian dari prosesi ritual masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi, dengan ritual mengarak peralatan panggung ke sungai yang diyakini suci untuk dimandikan atau disucikan sebelum pertunjukan dimulai. Peralatan yang diarak itu meliputi delapan sampai sepuluh kuda buatan, topeng raksasa, satu set alat musik, dan sesaji. Proses yang dalam bahasa setempat disebut ngguyang jaran ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat pendukungnya, Jathilan bukan hanya tontonan, melainkan juga sarana untuk menyampaikan harapan, terutama harapan akan keselamatan di daerah yang rawan bencana karena letaknya di lereng gunung berapi.

Unsur trance dalam Jathilan perlu ditulis dengan hati-hati, sebagai praktik dan keyakinan budaya yang hidup di dalam tradisi tersebut, bukan sebagai klaim supranatural yang dibuktikan sebagai fakta. Dalam sebagian pertunjukan, penari memasuki kondisi yang oleh masyarakat pendukungnya dipahami sebagai kerasukan atau kemasukan, ketika gerak penari berubah, kendali geraknya tampak berkurang, dan penari menampilkan perilaku yang di luar kebiasaan. Sumber-sumber yang membahas tari kuda kepang mencatat berbagai gambaran dalam kondisi itu, antara lain penari yang berpura-pura makan rumput atau minum air, penari yang diarahkan oleh sosok penangan dengan cemeti, dan penari yang menampilkan atraksi seperti makan kaca, berjalan di atas bara, atau menahan cambukan. Dalam keyakinan yang melingkupi pertunjukan itu, kondisi trance dipahami sebagai masuknya roh atau kekuatan tertentu ke dalam tubuh penari. Semua gambaran itu adalah gambaran menurut tradisi dan kesaksian pelaku, dan artikel ini menyajikannya sebagai gambaran tersebut, bukan sebagai hasil pengujian ilmiah. Penting juga untuk dicatat bahwa tidak semua Jathilan harus dipahami sebagai pertunjukan trance. Ada Jathilan yang penontonnya pulang dengan kesan utama berupa tari yang meriah dan musik yang menghentak, tanpa babak trance yang menonjol. Profil lengkap tentang kesenian ini dapat dibaca dalam artikel KabarTidar tentang Jathilan Magelang, dan gambaran singkatnya dapat dibaca pada portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah tentang tari Jathilan di Visit Jawa Tengah.

Topeng Ireng, Wajah Hitam dan Gerak yang Gagah

Topeng Ireng adalah kesenian tari rakyat yang lahir di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, dan namanya langsung memberi gambaran tentang ciri yang paling mudah dikenali, yaitu wajah penari yang dihitamkan serta gerak yang gagah dan penuh tenaga. Kesenian ini tidak dimainkan dengan topeng kayu seperti tari topeng pada umumnya, melainkan dengan wajah yang dilabur warna hitam, kostum yang meriah, dan iringan musik yang menghentak, sehingga penonton merasakan semangat kebersamaan sejak hentakan pertama. Pusat Topeng Ireng adalah wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah, bukan kuda anyaman dan bukan syair dakwah. Penonton mengenali Topeng Ireng dari wajah yang dihitamkan dan dari semangat kebersamaan yang langsung terasa sejak hentakan pertama, dan penari Topeng Ireng dikenali dari wajahnya, bukan dari kuda yang ditungganginya.

Menurut portal Visit Jawa Tengah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Tari Topeng Ireng lahir di Tuksongo, Borobudur, sekitar tahun 1950, dan para penarinya pada masa awal mengenakan kostum dari daun kelapa serta menutupi wajah mereka dengan warna hitam dari arang. Keterangan itu penting karena ia memberi titik awal yang dapat dirujuk, sekaligus menunjukkan kesederhanaan bahan yang dipakai pada masa kelahirannya. Daun kelapa adalah bahan yang mudah didapat di desa, arang adalah bahan yang akrab dengan dapur, dan dari dua bahan sederhana itulah lahir sebuah kesenian yang kemudian berkembang menjadi tontonan yang meriah. Kesederhanaan bahan berbanding terbalik dengan semangat yang ditampilkan, sebab gerak Topeng Ireng sejak awal dikenal kuat, lincah, dan penuh percaya diri. Portal yang sama juga menjelaskan bahwa Topeng Ireng dikenal pula sebagai Tari Dayakan, yaitu sebuah kreasi tari rakyat baru yang terinspirasi dari Tari Kubro Siswo, dan gerakannya diadaptasi dari seni bela diri Jawa. Keterangan ini perlu dicatat dengan hati-hati, sebab ia membedakan Topeng Ireng dari kesenian lain yang sering disamakan dengannya. Topeng Ireng bukan ketoprak, bukan pula jaran kepang, meskipun ketiganya sama-sama merupakan kesenian rakyat Jawa yang hidup di tengah masyarakat.

Perubahan kostum adalah salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Topeng Ireng, sebab ia menunjukkan bagaimana sebuah kesenian menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Pada masa awal, penari mengenakan kostum dari daun kelapa dan menutupi wajah dengan warna hitam dari arang. Seiring perkembangan, sekitar tahun 1980, kostum Topeng Ireng berubah dan mulai menyerupai kostum suku Indian Amerika, menurut portal yang sama. Perubahan ini sering kali mengejutkan pembaca yang baru pertama kali mendengar tentang Topeng Ireng, sebab suku Indian Amerika tampak jauh dari desa Borobudur. Namun, dalam dunia kesenian rakyat, meminjam unsur visual dari tempat jauh bukanlah hal yang aneh, sebab seniman desa sering kali terinspirasi oleh gambar, film, dan cerita yang mereka lihat, lalu mengolahnya menjadi bagian dari keseniannya sendiri. Bulu-bulu warna warni, hiasan kepala yang tinggi, dan warna kostum yang mencolok memberi kesan meriah dan mudah dikenali dari kejauhan, dan kesan itu sesuai dengan fungsi Topeng Ireng sebagai hiburan lapangan yang harus dapat dinikmati oleh penonton dalam jumlah besar. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa perubahan kostum tidak menghapus ciri utama Topeng Ireng, yaitu wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah. Bulu dan warna boleh berubah, bahan boleh berganti, tetapi wajah hitam tetap menjadi penanda yang membedakan Topeng Ireng dari tari lain.

Gerak adalah jiwa Topeng Ireng, dan menurut portal Visit Jawa Tengah, gerakannya diadaptasi dari seni bela diri Jawa. Adaptasi ini menjelaskan mengapa gerak Topeng Ireng terasa berbeda dari tari halus yang gerakannya lembut dan mengalir, sebab gerak bela diri menekankan ketegasan, keseimbangan, dan kekuatan. Penari Topeng Ireng bergerak dengan langkah yang mantap, ayunan tangan yang tegas, dan perpindahan posisi yang cepat, sehingga penonton merasakan tenaga yang mengalir dari panggung ke arena. Dalam pementasan kelompok, kekompakan gerak menjadi penanda kualitas yang paling mudah dinilai penonton. Ketika sekelompok penari bergerak serentak, dengan hentakan kaki yang bersamaan dan ayunan tangan yang seirama, penonton merasakan getaran kebersamaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Kekompakan itu tidak lahir dari bakat perorangan saja, melainkan dari latihan bersama yang rutin, saling mendengarkan irama, dan saling memperhatikan posisi teman di sampingnya. Selain gerak yang gagah, Topeng Ireng juga dikenal dengan unsur humor dan kelucuan yang muncul dari interaksi antarpenari dan dari ekspresi tubuh yang berlebihan. Penari sering kali menampilkan gerak yang dilebih-lebihkan, saling menggoda, dan mengundang tawa penonton, sehingga suasana pementasan menjadi cair dan akrab. Unsur humor ini penting karena ia membuat kesenian ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, tanpa perlu memahami cerita yang rumit. Profil lengkap tentang kesenian ini dapat dibaca dalam artikel KabarTidar tentang Topeng Ireng Magelang, dan gambaran resminya dapat dibaca pada portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah tentang Tari Topeng Ireng di Visit Jawa Tengah.

Kubro Siswo, Syair Nasihat dan Gerak Bersama

Kubro Siswo Magelang adalah kesenian tradisional yang memadukan tari, musik, dan syair yang berisi nasihat, dan kesenian ini hidup sebagai tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat yang menyaksikannya. Penari bergerak dalam iringan musik, penyanyi melantunkan syair yang mengandung ajakan kepada kebaikan, dan penonton tidak hanya menikmati keindahan gerak, melainkan juga menerima pesan yang disampaikan lewat bait-bait yang dinyanyikan. Pusat Kubro Siswo adalah syair dan dakwah kultural, dan dalam Kubro Siswo, syair dan dakwah kultural menjadi pusatnya. Penonton yang menyaksikan Kubro Siswo diharapkan pulang dengan pesan, bukan hanya dengan kesan gerak. Jathilan tidak memiliki pusat yang sama, sebab Jathilan bisa mengandung nilai dan pesan, tetapi pesannya tidak disampaikan terutama lewat syair dakwah yang dilantunkan sebagai pusat pertunjukan. Topeng Ireng juga tidak memiliki pusat yang sama, sebab pusat Topeng Ireng adalah wajah hitam dan gerak gagah, bukan syair yang dilantunkan.

Gambaran dasar tentang Kubro Siswo tersebut didukung oleh kajian akademik yang menelitinya secara langsung. Jurnal Living Hadis yang diterbitkan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan bahwa Kubro Siswo adalah seni tari yang diiringi musik dan syair-syair yang berisi nasihat, dan kesenian ini tidak hanya terbatas pada tontonan, melainkan juga tuntunan yang disampaikan lewat syair. Kajian lain yang diterbitkan Jurnal Dakwah Risalah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau menambahkan bahwa Kubro Siswo merupakan bentuk seni yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal, dan kesenian ini mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang meliputi akidah, ibadah, akhlak, serta sosial budaya, yang tertuang dalam syair lagu yang dilantunkan dan perilaku masyarakat. Kajian yang diterbitkan jurnal Nusa Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa Kubro Siswo, yang ditulis juga sebagai Kubrosiswo, adalah kesenian yang dikembangkan oleh masyarakat petani di desa Jawa dan masih dilestarikan hingga kini, dan di dalamnya dijelaskan bahwa kesenian ini dipandang sebagai penghubung nilai-nilai ritual dengan konsep kesederhanaan dan gotong royong dalam satu komunitas petani.

Bentuk Kubro Siswo dapat dipahami lewat tiga unsur yang selalu hadir bersama, yaitu gerak tari, iringan musik, dan lantunan syair. Gerak tari memberi wujud visual yang dapat dinikmati penonton, iringan musik memberi irama dan suasana yang mengikat gerak, sedangkan syair memberi isi pesan yang membedakan Kubro Siswo dari tarian yang hanya mengutamakan keindahan gerak. Ketiga unsur itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan, sehingga penonton yang hanya memperhatikan gerak akan kehilangan setengah makna, dan penonton yang hanya mendengarkan syair tanpa melihat gerak akan kehilangan daya tarik pertunjukannya. Syair yang dinyanyikan berisi nasihat, ajakan kepada kebaikan, dan nilai-nilai yang bersumber pada ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Living Hadis yang menyebut bahwa pesan dalam syair secara tidak langsung bersumber dari Alquran dan hadis. Syair yang disampaikan lewat nyanyian lebih mudah diingat dibandingkan nasihat yang disampaikan lewat ceramah semata, karena irama dan pengulangan membantu penonton menghafal bait-bait yang didengarnya, bahkan setelah pertunjukan selesai.

Nilai kesederhanaan dan gotong royong yang disebut dalam kajian Nusa patut direnungkan, karena keduanya menjelaskan mengapa Kubro Siswo terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesenian petani tidak mengandalkan kemewahan panggung atau peralatan yang mahal, melainkan mengandalkan kebersamaan, ketekunan berlatih, dan kesungguhan menyampaikan pesan. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan, karena kesenian dapat digelar di lapangan desa, di halaman rumah, atau di tempat terbuka lainnya tanpa harus menunggu gedung pertunjukan yang megah. Gotong royong tampak dalam cara pertunjukan disiapkan dan digelar, karena latihan bersama, penyediaan tempat, konsumsi untuk rombongan, dan penjagaan ketertiban penonton umumnya melibatkan banyak pihak dari masyarakat setempat, bukan hanya rombongan penari. Dengan cara ini, pertunjukan Kubro Siswo menjadi kerja bersama yang memperkuat ikatan warga, dan ikatan itu bertahan lebih lama daripada pertunjukan itu sendiri, karena warga yang pernah bekerja bersama cenderung lebih mudah bekerja bersama lagi pada kesempatan berikutnya.

Istilah dakwah kultural dipakai para peneliti untuk menjelaskan cara Kubro Siswo menyampaikan ajaran Islam lewat budaya, bukan lewat ceramah formal semata. Kajian Jurnal Dakwah Risalah menjelaskan bahwa Kubro Siswo memiliki peran dalam berdakwah secara kultural, antara lain lewat apresiasi terhadap seni, lewat pesan keselarasan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia, lewat penumbuhan budaya multikulturalisme, serta lewat pendidikan untuk menumbuhkan perilaku dan budi pekerti luhur. Penjelasan ini menunjukkan bahwa dakwah dalam Kubro Siswo bekerja secara halus, lewat keindahan yang dinikmati dan pesan yang direnungkan, bukan lewat paksaan. Kajian Living Hadis menambahkan sudut pandang yang sejalan, yaitu bahwa kesenian ini berfungsi sebagai tontonan yang mengajarkan kecintaan pada tradisi leluhur, sekaligus sebagai sarana dakwah yang selalu mengajak kepada nilai-nilai budaya yang sejalan dengan syariat Islam. Dua fungsi itu, yaitu tontonan dan tuntunan, sering kali ditulis berpasangan dalam kajian tentang Kubro Siswo, dan pasangan itu menjadi kunci untuk memahami kesenian ini. Bila hanya dipandang sebagai tontonan, Kubro Siswo akan tampak seperti hiburan biasa, sedangkan bila hanya dipandang sebagai tuntunan, ia akan tampak seperti pelajaran yang kehilangan daya hiburnya. Kekuatan Kubro Siswo justru terletak pada kemampuannya menjadi keduanya sekaligus.

Penting untuk dicatat bahwa artikel ini tidak mengutip bait syair tertentu secara persis, karena tidak ada sumber yang dapat dikutip untuk bait yang berlaku umum bagi semua rombongan. Syair Kubro Siswo dapat berbeda antarrombongan dan antaracara, dan mengutip satu bait seolah-olah mewakili seluruh kesenian akan menyesatkan. Yang dapat dinyatakan secara bertanggung jawab adalah kerangka nilainya sebagaimana dirumuskan para peneliti, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan sosial budaya, serta fungsi syair sebagai pembawa pesan tersebut. Kajian Living Hadis mencatat bahwa Kubro Siswo biasanya ditampilkan dalam acara besar, seperti bulan kemerdekaan, peringatan Isra Mikraj, dan acara lainnya, dan catatan ini memberi gambaran tentang konteks pentas yang paling umum, yaitu acara yang melibatkan banyak warga dan memiliki makna bersama, bukan pentas yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan kehidupan masyarakat. Profil lengkap tentang kesenian ini dapat dibaca dalam artikel KabarTidar tentang Kubro Siswo Magelang, kajian Living Hadisnya dapat dibaca pada kajian Kubro Siswo sebagai syiar Islam di Jurnal Living Hadis, dan kajian nilai pendidikannya dapat dibaca pada kajian nilai pendidikan Islam dalam Kubro Siswo di Jurnal Dakwah Risalah.

Membandingkan Tiga Tarian Tradisional Magelang dalam Satu Tabel Pandang

Perbandingan yang paling jelas dapat dibuat dengan satu pertanyaan yang sama untuk ketiganya, yaitu apa yang pertama kali dikenali penonton, apa yang menjadi pusatnya, dan apa yang diharapkan dibawa pulang penonton. Untuk Jathilan, yang pertama kali dikenali adalah kuda anyaman, pusatnya adalah pasukan berkuda, dan yang diharapkan dibawa pulang adalah kesan gerak berkuda yang mengikuti gamelan, dengan kemungkinan babak trance yang dalam sebagian pertunjukan menjadi bagian dari struktur acaranya. Untuk Topeng Ireng, yang pertama kali dikenali adalah wajah yang dihitamkan, pusatnya adalah gerak gagah yang diadaptasi dari bela diri Jawa, dan yang diharapkan dibawa pulang adalah semangat kebersamaan dan tawa yang muncul dari gerak yang dilebih-lebihkan dan interaksi antarpenari. Untuk Kubro Siswo, yang pertama kali dikenali adalah syair yang dilantunkan, pusatnya adalah pesan nasihat yang disampaikan lewat nyanyian, dan yang diharapkan dibawa pulang adalah pesan tentang kebaikan, tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia, serta tentang hidup rukun dan gotong royong. Tiga jawaban yang berbeda itu adalah bukti bahwa ketiganya bukan tiga nama untuk satu kesenian, melainkan tiga kesenian dengan pusat yang berbeda.

Perbedaan itu juga penting bagi upaya pelestarian. Jika Jathilan, Kubro Siswo, dan Topeng Ireng dianggap sama, maka upaya pelestarian bisa menjadi kabur, karena latihan yang dibutuhkan berbeda, properti yang harus dirawat berbeda, dan keahlian yang harus diwariskan berbeda. Jathilan membutuhkan perajin kuda anyaman dan penari yang kuat menggerakkan kuda. Kubro Siswo membutuhkan penyanyi syair dan penari yang memahami pesan yang dilantunkan. Topeng Ireng membutuhkan penari dengan gerak gagah dan tata rias wajah yang khas. Dengan membedakan ketiganya, desa dan kelompok bisa merencanakan regenerasi secara lebih tepat, dan penonton bisa memahami mengapa satu kelompok tidak bisa begitu saja menggantikan kelompok lain. Perbedaan itu juga penting bagi penyelenggara acara, karena penyelenggara yang memahami perbedaan ini dapat memilih kesenian yang sesuai dengan tujuan acaranya. Acara yang ingin menonjolkan semangat dan kegembiraan lapangan dapat memilih Topeng Ireng. Acara yang ingin menonjolkan pesan dan pendidikan dapat memilih Kubro Siswo. Acara yang ingin menonjolkan gambaran pasukan berkuda dan tradisi ritual desa dapat memilih Jathilan. Pilihan yang tepat membuat acara lebih bermakna, bukan sekadar ramai.

Selain tiga pusat itu, ada pula perbedaan dalam cara musik bekerja di tiap kesenian, meskipun ketiganya sama-sama memakai gamelan. Dalam Jathilan, musik adalah aba-aba gerak berkuda. Kendang mengatur tempo dan memberi isyarat perubahan, gong memberi penanda struktural, saron dan demung mengisi melodi, dan penari mendengarkan musik bukan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai perintah gerak. Ketika kendang memberi pola tertentu, penari tahu kapan harus mempercepat langkah, kapan harus berputar, dan kapan harus berhenti dalam satu formasi. Dalam Topeng Ireng, musik memberi kerangka irama bagi gerak yang gagah, dengan kendang yang memberi hentakan yang memandu langkah, gong yang memberi penanda pergantian bagian, dan alat musik lain yang memberi warna yang membuat suasana semakin hidup. Hubungan antara penari dan pemusik adalah hubungan yang saling mendengarkan, sebab pemusik harus peka terhadap tempo penari, dan penari harus peka terhadap irama pemusik. Dalam Kubro Siswo, musik berfungsi sebagai pengikat antara gerak dan syair, yaitu memberi tempo bagi penari, memberi jeda bagi penyanyi, dan memberi suasana bagi penonton untuk memasuki dunia pertunjukan. Tanpa musik, gerak tari akan terasa hampa dan syair akan terasa seperti bacaan biasa, sedangkan dengan musik, ketiganya menyatu menjadi pertunjukan yang utuh. Peran musik semacam ini lazim dalam kesenian rakyat Jawa, tetapi pada Kubro Siswo musik memiliki tugas tambahan, yaitu menjaga agar pesan syair tetap terasa sebagai bagian dari hiburan, bukan sebagai pelajaran yang kaku.

Kostum juga membedakan ketiganya dengan cara yang mudah dilihat. Jathilan dikenali dari kuda anyaman yang dibuat oleh tangan-tangan di dalam kelompok itu sendiri, bukan diproduksi massal dengan satu cetakan, dengan cat dan kain warna-warni yang menambah kesan meriah, dan setiap kelompok bisa memiliki ciri visualnya sendiri. Topeng Ireng dikenali dari wajah yang dihitamkan dan kostum yang meriah, dengan hiasan kepala dari bulu sintetis atau bahan lain yang ringan, kostum berwarna cerah, dan rias wajah hitam yang tebal pada pementasan masa kini, serta aksesori tambahan yang memberi bunyi saat bergerak, sehingga gerak dan bunyi menyatu menjadi irama yang hidup. Kubro Siswo tidak dikenali dari satu properti visual yang tunggal, melainkan dari kesatuan gerak bersama yang teratur, karena gerak tari dalam Kubro Siswo sendiri cenderung bersifat komunal, yaitu gerak yang dilakukan bersama oleh sekelompok penari dalam pola yang teratur, dan gerak komunal semacam ini mencerminkan nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani dan masyarakat desa. Penonton yang menyaksikan gerak bersama itu tidak hanya melihat keindahan, melainkan juga melihat gambaran tentang masyarakat yang bergerak dalam keselarasan, dan gambaran itu sendiri sudah merupakan pesan.

Tarian Lain di Magelang dan Batas Artikel Ini

Pembaca yang teliti mungkin bertanya, apakah hanya tiga tarian itu yang ada di Magelang. Jawaban yang jujur adalah tidak, tetapi artikel ini sengaja tidak menambah nama tarian lain yang tidak terverifikasi sebagai tarian khas Magelang dari sumber yang dapat dibaca. Nama-nama tarian yang beredar di internet sering kali adalah nama tarian Jawa pada umumnya, bukan tarian yang secara khusus lahir atau hidup di Magelang, dan ada pula nama kelompok seni yang disangka sebagai nama tarian, padahal nama itu adalah nama kelompok, bukan nama kesenian. Menambahkan nama semacam itu ke dalam daftar tanpa verifikasi akan mengulangi kesalahan yang sama dengan yang dihindari dalam artikel tentang air terjun, yaitu daftar panjang yang indah tetapi menyesatkan. Karena itu, artikel ini membatasi daftarnya pada tiga tarian yang masing-masing sudah memiliki profil tersendiri di KabarTidar dengan sumber yang dapat dirujuk, dan menyebut batas itu secara terbuka, agar pembaca yang mendengar nama tarian lain dari warga dapat menanyakannya langsung kepada kelompok setempat, dengan pertanyaan yang spesifik tentang asal kelompok, tentang pusat panggungnya, dan tentang konteks pentasnya.

Batas itu tidak berarti Magelang miskin kesenian. Di luar tiga tarian ini, Magelang memiliki banyak kesenian panggung dengan fungsi yang berbeda-beda, dan tiap kesenian perlu dikenal lewat cirinya sendiri. Wayang mengutamakan cerita dan filosofi lewat dalang, ketoprak mengutamakan lakon lewat pemain, sedangkan Kubro Siswo mengutamakan syair dan gerak bersama lewat rombongan. Keragaman ini adalah kekayaan, bukan persaingan, karena tiap kesenian mengisi ruang yang berbeda dalam kehidupan budaya masyarakat. Pembaca yang ingin memahami kesenian panggung Magelang secara lebih luas dapat membaca artikel KabarTidar tentang panggung wayang dan ketoprak Magelang, yang menunjukkan bahwa Magelang memiliki banyak kesenian panggung dengan fungsi yang berbeda-beda. Festival seni budaya di Magelang, yang diulas dalam artikel KabarTidar tentang festival seni budaya Magelang, menjadi panggung penting bagi ketiga tarian ini untuk bertemu dengan kesenian lain dan dengan penonton yang lebih luas. Dalam festival, setiap sanggar menampilkan versi terbaiknya, dan penonton dapat membandingkan gaya, kostum, dan kekompakan antarsanggar. Perbandingan itu sebaiknya dipandang sebagai ajang belajar, bukan sebagai persaingan yang menjatuhkan, sebab setiap sanggar memiliki warna dan kekuatannya sendiri.

Kelompok dan sanggar adalah jantung dari kelangsungan ketiga tarian ini, sebab di sanggarlah penari baru dilatih, kostum dan properti dirawat, musik dipelajari, dan nilai kebersamaan ditanamkan. Sanggar seni di Magelang, sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang sanggar seni Kota Magelang, memiliki peran yang melampaui sekadar tempat latihan, sebab ia juga menjadi ruang berkumpul, ruang belajar, dan ruang silaturahmi bagi warga dari berbagai usia. Di sanggar, anak-anak belajar gerak dasar, remaja belajar kekompakan kelompok, dan orang tua memberi dukungan serta menjaga tradisi. Struktur lintas usia ini penting, sebab ia memastikan bahwa pengetahuan tidak hanya disimpan oleh satu generasi, melainkan diteruskan secara hidup dari tangan ke tangan. Kelompok Jathilan pada umumnya adalah kelompok warga, dengan penari dan pengrawit yang berasal dari masyarakat setempat, dan pemimpin kelompoknya adalah warga yang sudah lama berkecimpung dalam kesenian itu. Kelompok Topeng Ireng dan Kubro Siswo memiliki pola yang sama, yaitu kelompok warga yang hidup dari acara masyarakat, bukan dari panggung tetap yang terpisah dari kehidupan desa.

Regenerasi, Tantangan yang Sama dengan Jawaban yang Berbeda

Regenerasi adalah tantangan terbesar bagi hampir semua kesenian rakyat, termasuk ketiga tarian ini, sebab generasi muda kini memiliki banyak pilihan hiburan yang bersaing untuk mendapatkan perhatian mereka. Gawai, permainan daring, dan hiburan dari kota besar sering kali terasa lebih menarik daripada latihan tari yang membutuhkan waktu, tenaga, dan kedisiplinan. Tantangan ini tidak dapat dijawab dengan melarang hiburan modern, melainkan dengan membuat sanggar menjadi tempat yang menyenangkan, terbuka, dan relevan bagi generasi muda. Sanggar yang memberi ruang bagi kreativitas, yang menghargai pendapat anggota muda, dan yang memanfaatkan media sosial untuk membagikan penampilannya, memiliki peluang lebih besar untuk menarik anggota baru daripada sanggar yang hanya mengandalkan kewajiban dan nostalgia. Contoh dari Mungkid menunjukkan salah satu jawabannya untuk Jathilan, yaitu kelompok Tresno Budoyo yang terus berupaya melestarikan kesenian Jathilan dengan merekrut anggota muda. Upaya merekrut anggota muda itu penting, karena tanpa penari muda, kelompok akan menua dan akhirnya berhenti. Rekrutmen anggota muda tidak cukup dengan ajakan saja. Anak muda harus merasa bahwa kesenian itu adalah kesenian yang membanggakan, bukan kesenian yang ketinggalan zaman. Mereka harus diberi peran, diberi kesempatan tampil, dan diberi ruang untuk belajar dari penari yang lebih senior. Kelompok yang berhasil melakukan itu biasanya adalah kelompok yang tetap tampil secara rutin, sehingga anggota mudanya bisa melihat langsung hasil latihannya di depan penonton.

Peran sekolah dan pemerintah desa juga penting dalam regenerasi ketiga tarian ini, sebab keduanya dapat memberi panggung dan dukungan yang tidak dapat diberikan sanggar sendirian. Sekolah dapat memasukkan pengenalan kesenian daerah dalam kegiatan ekstrakurikuler atau pentas seni, sehingga siswa mengenal tarian daerah bukan hanya dari cerita, tetapi dari pengalaman langsung. Pemerintah desa dapat mendukung dengan memberi ruang latihan, membantu pembiayaan kostum, dan memasukkan tarian daerah dalam kalender acara desa, sehingga sanggar memiliki kepastian jadwal tampil. Dukungan semacam ini sebaiknya diberikan tanpa mengintervensi kreativitas sanggar, sebab kesenian rakyat tumbuh paling baik bila senimannya memiliki kebebasan untuk berkreasi dalam bingkai tradisi yang ia pahami. Di sisi lain, dokumentasi dan promosi yang baik dapat membantu ketiga tarian ini dikenal lebih luas tanpa mengubah jati dirinya. Rekaman video penampilan, foto kostum, dan cerita tentang sanggar dapat dibagikan melalui media sosial dan portal berita daerah, agar orang dari luar Magelang dapat mengenal kesenian ini sebelum menyaksikannya langsung. Dokumentasi juga berfungsi sebagai arsip, sehingga generasi mendatang dapat melihat bagaimana tarian ini ditampilkan pada masa kini dan membandingkannya dengan penampilan masa depan. Arsip semacam ini penting, sebab kesenian yang tidak didokumentasikan berisiko kehilangan jejaknya, dan generasi mendatang akan kesulitan memahami perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Untuk Kubro Siswo, ada satu jalan pelestarian tambahan yang sejalan dengan temuan para peneliti, yaitu menjadikan Kubro Siswo sebagai media pendidikan yang diakui, bukan hanya sebagai hiburan acara. Bila nilai akidah, ibadah, akhlak, dan sosial budaya dalam syairnya dikenali secara luas, sekolah, tempat ibadah, dan komunitas dapat memakai Kubro Siswo sebagai bahan pembelajaran budaya yang hidup, bukan sekadar tontonan tahunan. Pendidikan semacam ini tidak harus mengubah bentuk kesenian, melainkan memberi ruang bagi generasi muda untuk memahami makna di balik gerak dan syair yang mereka saksikan. Untuk Topeng Ireng, jalan pelestarian tambahan yang sering disebut adalah kehadiran dalam penyambutan tamu dan paket wisata budaya, terutama bagi wisatawan yang ingin mengenal desa di sekitar Candi Borobudur, bukan hanya candinya. Wisatawan yang menginap di homestay kawasan Borobudur sering kali mendapat kesempatan menyaksikan kesenian desa, termasuk Topeng Ireng, sebagai bagian dari pengalaman menginap. Pengalaman semacam ini memberi nilai tambah bagi wisatawan, sebab mereka tidak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga melihat budaya yang masih hidup di masa kini. Bagi warga, kehadiran wisatawan memberi penghasilan tambahan dan pengakuan, tetapi juga menuntut kesiapan, sebab sanggar harus dapat tampil dengan kualitas yang baik pada waktu yang disepakati. Untuk Jathilan, jalan pelestarian tambahan yang sering disebut adalah menjaga lapisan ritualnya sekaligus lapisan hiburannya, sebab keduanya berjalan bersamaan. Jathilan yang hanya dipertahankan sebagai hiburan tanpa lapisan ritualnya akan kehilangan sebagian maknanya, sedangkan Jathilan yang hanya dipertahankan sebagai ritual tanpa ruang hiburan akan sulit menarik penonton muda. Menjaga keduanya adalah tugas yang tidak mudah, tetapi justru itulah yang membuat Jathilan tetap hidup di desa-desa Magelang.

Menonton Tarian Tradisional Magelang dengan Cara yang Tepat

Bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikan ketiga tarian ini, ada beberapa hal sederhana yang dapat membuat pengalaman menonton menjadi lebih menyenangkan dan menghormati penari. Pertama, datanglah lebih awal agar mendapat tempat yang baik dan dapat mengamati persiapan penari tanpa mengganggu. Kedua, ikuti irama dengan tepuk tangan dan sorakan yang wajar, sebab penari sangat terbantu oleh dukungan penonton, tetapi hindari teriakan yang mengganggu atau masuk ke arena tanpa izin. Ketiga, bila ingin mengambil foto atau video, lakukan dari tempat penonton dan tanpa menggunakan lampu kilat yang menyilaukan penari. Keempat, hargai penari dengan tidak meminta mereka berpose di tengah penampilan, dan bila ingin berfoto bersama, tunggulah hingga pementasan selesai dan mintalah izin dengan sopan. Kelima, hargai seluruh tim, bukan hanya penari di depan panggung, sebab pemusik di belakang, penata kostum dan properti, dan pengurus sanggar yang mengatur jadwal juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Penghargaan kepada seluruh tim dapat diwujudkan dengan cara sederhana, seperti mengucapkan terima kasih, memberi apresiasi yang tulus, dan membagikan cerita tentang penampilan itu kepada orang lain dengan cara yang benar. Apresiasi yang tulus lebih berharga daripada pujian yang berlebihan, sebab ia menunjukkan bahwa penonton benar-benar memperhatikan, bukan sekadar lewat.

Penonton juga sebaiknya memahami bahwa kesenian rakyat adalah kesenian yang melibatkan banyak orang dengan peran berbeda, dan setiap peran layak dihargai. Penonton yang memahami hal itu tidak akan lagi menukar Jathilan dengan Topeng Ireng, atau Topeng Ireng dengan Kubro Siswo, sebab ia sudah memiliki pertanyaan pembeda yang dapat dipakai di lapangan. Jika yang dilihat adalah kuda anyaman dan pasukan berkuda, itu Jathilan. Jika yang didengar sebagai pusat adalah syair yang berisi nasihat dan ajakan kepada kebaikan, itu Kubro Siswo. Jika yang dilihat sebagai pusat adalah wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah, itu Topeng Ireng. Pertanyaan itu dapat dipakai oleh siapa pun, dari anak-anak sampai orang tua, dari warga setempat sampai wisatawan dari luar Magelang, dan pertanyaan itu tidak memerlukan pengetahuan yang rumit, hanya perhatian pada apa yang pertama kali dilihat dan didengar di atas panggung. Latihan itu, bila dilakukan berulang-ulang, akan membuat penonton semakin peka terhadap perbedaan antarkesenian, dan kepekaan itu adalah bentuk pelestarian yang paling sederhana dan paling efektif.

Pada akhirnya, tarian tradisional Magelang adalah kesenian yang paling baik dipahami dengan cara menontonnya langsung. Tulisan bisa menjelaskan kuda anyamannya, wajah hitamnya, dan syairnya, tetapi tulisan tidak bisa menggantikan hentakan kendang yang terasa di dada, gerak kuda yang melintas di depan mata, tawa penonton yang pecah di arena, dan syair yang terngiang setelah pertunjukan selesai. Karena itu, artikel ini ditutup dengan ajakan yang sederhana, yaitu bila ada kesempatan menyaksikan Jathilan, Topeng Ireng, atau Kubro Siswo di bersih desa, hajatan, atau festival di Magelang, datanglah, tontonlah sampai selesai, dan pulanglah dengan cerita yang akurat tentang apa yang dilihat. Cerita yang akurat itu, bila diceritakan kembali kepada orang lain, adalah bentuk pelestarian yang paling sederhana dan paling efektif. Tarian tradisional Magelang akan tetap hidup selama masih ada penari yang menunggangi kuda anyaman, penari yang menghitamkan wajahnya dengan bangga, penyanyi yang melantunkan syair nasihat, pengrawit yang memainkan gamelan, dan penonton yang datang dengan rasa hormat dan rasa ingin tahu. Bila ketiga tarian itu terus dirawat dengan cara yang menjaga ciri khasnya, bukan hanya namanya, maka Magelang tidak hanya dikenal melalui candinya, tetapi juga melalui tubuh penarinya yang bergerak, musiknya yang menghentak, dan syairnya yang mengajak kepada kebaikan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

2 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *