Jathilan Magelang: Tari Kuda Kepang, Gamelan, dan Trance di Panggung Desa
Kuda anyaman, gamelan yang menghentak, dan gerak pasukan berkuda menjadi ciri jathilan. Di Magelang, kesenian ini hidup di panggung desa, dari bersih desa sampai hajatan warga, dengan lapisan ritual dan hiburan yang berjalan bersamaan.

MAGELANG, Jathilan Magelang adalah tari rakyat Jawa yang paling mudah dikenali dari satu properti: kuda anyaman yang ditunggangi penari seolah-olah mereka benar-benar sedang berkuda. Kuda itu dibuat dari bambu yang dianyam dan dibentuk menyerupai kuda, lalu dihias dengan cat warna-warni dan kain. Penari bergerak mengikuti iringan gamelan, kadang dengan gerak yang lembut dan lambat, kadang dengan gerak yang cepat dan penuh tenaga. Dalam sebagian pertunjukan, ada pula babak yang oleh masyarakat setempat dipahami sebagai kondisi trance, ketika penari menampilkan gerak dan atraksi yang di luar kebiasaan. Artikel ini membahas jathilan dari bentuknya, dari musik yang mengiringinya, dari unsur trance yang melekat padanya, dan dari tempatnya di tengah kehidupan desa di Magelang, termasuk di panggung bersih desa dan hajatan warga.
Penamaan kesenian ini perlu dijelaskan sejak awal, karena satu keluarga kesenian yang sama dikenal dengan nama yang berbeda di daerah yang berbeda. Dalam bahasa Jawa, kesenian ini disebut jaran kepang. Di Jawa Tengah, nama jathilan dan jaran kepang sama-sama dipakai. Di Jawa Barat, nama yang paling umum adalah kuda lumping, dan dalam bahasa Indonesia nama kuda kepang juga dipakai. Di Bali, ada nama sang hyang jaran untuk bentuk yang terkait. Perbedaan nama ini bukan berarti keseniannya berbeda sama sekali. Yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain biasanya adalah gaya gerak, lagu pengiring, kostum, susunan babak, dan tradisi setempat yang melingkupinya, bukan sekadar nama di spanduk pementasan. Karena itu, artikel ini memakai nama jathilan untuk konteks Magelang dan Jawa Tengah, sambil menyebut nama lain hanya untuk menjelaskan bahwa kesenian ini adalah satu keluarga besar tari kuda kepang di Pulau Jawa.
Asal usul jathilan tidak bisa ditulis sebagai satu cerita yang sudah pasti. Ada hipotesis yang mengaitkannya dengan gambaran pasukan berkuda pada masa perang, termasuk Perang Diponegoro melawan pasukan kolonial Belanda, sebagai semacam pementasan ulang pertempuran. Ada pula hipotesis yang mengaitkannya dengan pasukan Mataram yang berkuda melawan Belanda. Keduanya adalah hipotesis, bukan catatan kelahiran yang terdokumentasi dengan tanggal dan nama pencipta yang tunggal. Yang lebih bisa dipegang adalah gambaran umumnya: jathilan menggambarkan sekelompok penunggang kuda, dan gambaran itu masih mudah dibaca penonton sampai sekarang. Penari tidak sedang menari dengan properti yang diam. Mereka menggerakkan kuda anyaman itu, mengarahkannya, menghentakkannya, dan menjadikannya bagian dari tubuh gerak mereka. Dari situlah kesan pasukan berkuda itu muncul, bukan dari dialog atau narasi yang diucapkan di atas panggung.
Bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikan jathilan, hal pertama yang sebaiknya diperhatikan adalah kudanya. Kuda anyaman adalah pusat visual pertunjukan. Menurut kajian tentang aspek visual kesenian kuda lumping, kuda dibuat dari bambu atau bahan lain yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, lalu dihias dengan rambut buatan dari tali plastik atau bahan sejenis yang dikeriting atau dikepang. Cat dan kain warna-warni menambah kesan meriah, dan setiap kelompok bisa memiliki ciri visualnya sendiri. Ada kelompok yang kudanya tampak gagah dan tegas, ada yang lebih cerah dan dekoratif. Perbedaan itu wajar, karena kuda anyaman dibuat oleh tangan-tangan di dalam kelompok itu sendiri, bukan diproduksi massal dengan satu cetakan. Pembuatan kuda yang baik membutuhkan ketelitian, karena anyaman harus cukup kuat untuk digerakkan berulang-ulang, cukup ringan untuk ditunggangi penari selama pertunjukan, dan cukup rapi untuk dilihat dari jarak penonton.
Iringan musik adalah unsur kedua yang tidak bisa dipisahkan dari jathilan. Pertunjukan ini diiringi gamelan dan perangkat musik tradisional lain. Sumber-sumber yang membahas kuda kepang menyebut gong, kendang, angklung, saron, dan demung di antara perangkat yang dipakai, dengan susunan yang bisa berbeda dari satu kelompok ke kelompok lain. Kendang memegang peran penting sebagai pengatur tempo dan penanda perubahan gerak. Gong memberi penanda gong yang menutup satu siklus irama dan memberi rasa selesai pada satu bagian lagu. Saron dan demung mengisi melodi, sementara instrumen lain menambah warna bunyi. Dalam praktiknya, penari mendengarkan musik bukan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai perintah gerak. Ketika kendang memberi pola tertentu, penari tahu kapan harus mempercepat langkah, kapan harus berputar, dan kapan harus berhenti dalam satu formasi.
Struktur pertunjukan jathilan tidak selalu sama, tetapi pola umumnya bisa dikenali. Pertunjukan biasanya dibuka dengan gerak tari berkuda yang teratur, ketika penari memperkenalkan barisan, formasi, dan karakter geraknya. Setelah itu, tempo dan intensitas bisa meningkat, dan babak-babak berikutnya menampilkan gerak yang lebih bebas dan lebih kuat. Pada sebagian pertunjukan, babak trance muncul setelah musik dimainkan cukup lama dan penari sudah berada dalam kondisi gerak yang intens. Pada pertunjukan lain, unsur trance bisa lebih ringan atau bahkan tidak ditonjolkan sama sekali, dan pertunjukan lebih menekankan tari, musik, dan hiburan. Perbedaan ini penting, karena tidak semua jathilan harus dipahami sebagai pertunjukan trance. Ada jathilan yang penontonnya pulang dengan kesan utama berupa tari yang meriah dan musik yang menghentak, tanpa babak trance yang menonjol.
Kuda Anyaman, Pasukan Berkuda, dan Cerita yang Dibawa Penari
Kuda anyaman dalam jathilan sering membuat penonton bertanya, cerita apa sebenarnya yang sedang ditarikan. Jawaban yang paling aman dan paling sesuai dengan sumber-sumber yang ada adalah bahwa jathilan menggambarkan pasukan berkuda. Portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah menggambarkan tarian jathilan sebagai tari yang menggambarkan perang di antara pasukan berkuda, dan menyebutnya mirip dengan tari kuda lumping dari Jawa Timur. Gambaran itu sejalan dengan bentuknya: sekelompok penari berkuda, bergerak dalam formasi, dan menampilkan kesan pasukan yang sedang berarak atau bertempur. Cerita yang lebih rinci, seperti siapa tokohnya dan apa konfliknya, biasanya bergantung pada tradisi kelompok yang mementaskan, dan tidak bisa diseragamkan untuk semua jathilan.
Di Magelang sendiri, ada gambaran cerita yang menarik dari kelompok di Mungkid. Menurut laporan perjalanan budaya yang diterbitkan Indonesia Travel, kelompok Tresno Budoyo di Desa Senden, Mungkid, membawakan jathilan yang bercerita tentang para kesatria yang mencari raja mereka yang hilang, dengan penekanan pada pentingnya seorang pemimpin dan ahli strategi. Cerita itu memberi warna tersendiri pada pertunjukan mereka, karena gerak yang lambat dan lembut bisa dibaca sebagai perjalanan dan pencarian, sementara gerak yang cepat dan intens bisa dibaca sebagai ketegangan dan pertempuran. Laporan yang sama mencatat bahwa kelompok Tresno Budoyo sudah aktif sejak masa Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan pada masa itu kesenian ini ditampilkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah tersebut. Supardil, tokoh kelompok itu, memimpin selama lebih dari 40 tahun sejak tahun 1977 sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada adiknya, Sudiman, pada tahun-tahun terakhir. Catatan ini menunjukkan bahwa jathilan di Magelang bukan kesenian yang baru datang, melainkan kesenian yang sudah dirawat lintas generasi di satu desa.
Di sisi lain, ada pula jathilan yang lebih kuat unsur ritualnya daripada unsur ceritanya. Kajian yang diterbitkan dalam jurnal Harmonia tentang jathilan di Krajan, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, menggambarkan jathilan sebagai bagian dari prosesi ritual masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Dalam kajian itu, sebelum pertunjukan dimulai, ada ritual yang dilakukan oleh tokoh spiritual desa dengan mengarak peralatan panggung ke sungai yang diyakini suci untuk dimandikan atau disucikan. Peralatan yang diarak itu meliputi delapan sampai sepuluh kuda buatan, topeng raksasa, satu set alat musik, dan sesaji. Sesaji yang disiapkan meliputi tujuh jenis bunga, makanan ringan, ayam yang sudah dimasak, telur ayam rebus, uang logam, dan kemenyan yang dibakar. Proses yang dalam bahasa setempat disebut ngguyang jaran ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat pendukungnya, jathilan bukan hanya tontonan, melainkan juga sarana untuk menyampaikan harapan, terutama harapan akan keselamatan di daerah yang rawan bencana karena letaknya di lereng gunung berapi.
Iringan Gamelan dan Cara Musik Mengatur Panggung
Jika kuda anyaman adalah wajah jathilan, maka gamelan adalah denyutnya. Tanpa musik, penari kehilangan aba-aba, dan pertunjukan kehilangan tenaga yang menggerakkannya. Kajian tentang struktur pertunjukan kuda lumping menegaskan hal yang sama: unsur musik sangat menentukan, karena setiap pukulan musik memengaruhi gerak penari, dan tanpa musik pertunjukan kehilangan nilai estetikanya. Pernyataan itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi penonton yang pernah menyaksikan jathilan akan memahaminya. Ketika kendang berhenti, penari berhenti. Ketika gong dipukul, satu bagian terasa selesai. Ketika tempo dipercepat, seluruh panggung ikut memanas.
Perangkat gamelan yang mengiringi jathilan tidak selalu lengkap seperti gamelan keraton. Kelompok rakyat sering memakai perangkat yang mereka miliki, yang dirawat bersama, dan yang bisa dibawa ke lapangan desa. Yang penting adalah fungsi masing-masing perangkat, bukan kelengkapannya di atas kertas. Kendang mengatur tempo dan memberi isyarat perubahan. Gong dan kempul memberi penanda struktural. Saron, demung, dan perangkat bilah lain mengisi melodi. Angklung dan perangkat lain bisa menambah warna, tergantung tradisi kelompok. Dalam sebagian kelompok, ada pula lagu-lagu tertentu yang menjadi penanda babak, dan penari yang sudah berpengalaman akan mengenali lagu itu sejak pukulan pertama. Penelitian kasus tentang kuda kepang, misalnya, mencatat urutan lagu seperti Warung Doyo, Hijau-Hijau, dan Sampak Songo dalam satu pertunjukan yang diteliti, dengan peran masing-masing lagu dalam mengantar penari menuju babak trance. Urutan itu adalah contoh dari satu kelompok yang diteliti, bukan daftar lagu wajib untuk semua jathilan, dan kelompok di Magelang bisa memakai lagu dan urutan yang berbeda.
Unsur Trance sebagai Praktik dan Keyakinan Budaya
Bagian jathilan yang paling sering dibicarakan, dan paling sering disalahpahami, adalah unsur trance. Dalam sebagian pertunjukan, penari memasuki kondisi yang oleh masyarakat pendukungnya dipahami sebagai kerasukan atau kemasukan, ketika gerak penari berubah, kendali geraknya tampak berkurang, dan penari menampilkan perilaku yang di luar kebiasaan. Sumber-sumber yang membahas tari kuda kepang mencatat berbagai gambaran dalam kondisi itu, antara lain penari yang berpura-pura makan rumput atau minum air, penari yang diarahkan oleh sosok penangan dengan cemeti, dan penari yang menampilkan atraksi seperti makan kaca, berjalan di atas bara, atau menahan cambukan. Artikel ini menuliskan gambaran itu sebagai praktik dan keyakinan budaya yang hidup di dalam tradisi tersebut, bukan sebagai klaim supranatural yang dibuktikan sebagai fakta. Pembaca yang berbeda keyakinan bisa membaca bagian ini sebagai deskripsi tentang apa yang dipercaya dan dilakukan dalam tradisi itu, tanpa harus menyetujui penjelasan supranaturalnya.
Dalam keyakinan yang melingkupi pertunjukan itu, kondisi trance dipahami sebagai masuknya roh atau kekuatan tertentu ke dalam tubuh penari. Roh yang disebut dalam kajian-kajian tentang tari kuda Jawa antara lain roh kuda atau hewan lain, roh leluhur, roh penjaga desa, dan dalam sebagian penjelasan, jin. Kehadiran roh itu, menurut keyakinan tersebut, ditandai oleh perubahan perilaku penari yang jelas: geraknya berubah, ia tampak tidak sepenuhnya mengendalikan dirinya, ia bisa berusaha meninggalkan arena, berguling di tanah, minum dari ember, atau makan seperti hewan. Penari yang sedang dalam kondisi itu juga dikenal, dalam keyakinan tersebut, meminta lagu tertentu kepada para musisi, seolah-olah roh yang hadir memiliki selera musiknya sendiri. Setelah sadar, penari dalam sebagian kesaksian mengaku tidak mengingat apa yang dilakukan selama pertunjukan. Semua gambaran itu adalah gambaran menurut tradisi dan kesaksian pelaku, dan artikel ini menyajikannya sebagai gambaran tersebut, bukan sebagai hasil pengujian ilmiah.
Fungsi trance dalam tradisi ini juga tidak tunggal. Dalam kajian tentang tari kuda Jawa, fungsi ritual yang disebut antara lain pembersihan spiritual suatu wilayah, yang dilakukan secara berkala, misalnya setiap bulan purnama atau setiap tahun, serta interaksi dengan roh penjaga dan roh leluhur desa. Roh-roh itu, menurut keyakinan tersebut, disenangkan oleh undangan untuk hadir dan menikmati kehadiran di dunia yang kasatmata, tempat mereka bisa makan, minum, atau menari mengikuti lagu kesukaannya melalui tubuh penari. Ritual bersih desa yang masih dilakukan sampai sekarang dipandang dalam kajian itu sebagai petunjuk tentang penggunaan paling awal dari pertunjukan trance: ritual tahunan yang diadakan antara masa panen dan masa tanam berikutnya, yang dimaksudkan untuk menjamin kemakmuran dan perlindungan dari bencana alam bagi masyarakat pertanian. Penjelasan ini membantu pembaca memahami mengapa trance tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks desa, karena ia berkaitan dengan cara masyarakat pertanian pada masa lalu mencari rasa pasti di tengah kekuatan alam yang tidak bisa mereka kendalikan sepenuhnya.
Jathilan Magelang di Panggung Bersih Desa dan Hajatan
Di Magelang, jathilan hidup terutama di desa-desa, dan panggungnya sering kali bukan gedung pertunjukan, melainkan lapangan desa, halaman rumah, atau arena yang dipagari sementara di tengah keramaian acara. Dua konteks yang paling sering disebut adalah bersih desa dan hajatan. Bersih desa adalah perayaan dan ritual syukur desa yang biasanya melibatkan seluruh warga, dan kesenian rakyat menjadi bagian dari perayaan itu. Hajatan adalah perayaan keluarga atau warga, seperti pernikahan, khitanan, atau syukuran lain, yang mengundang kerabat dan tetangga. Dalam kedua konteks itu, jathilan berfungsi sekaligus sebagai hiburan, sebagai penanda bahwa acara itu istimewa, dan sebagai ruang berkumpul warga. Penontonnya bukan penonton yang membeli tiket dan duduk diam, melainkan warga yang saling kenal, anak-anak yang berlarian di tepi arena, dan pedagang yang berjualan di sekitar lokasi.
Konteks hajatan memberi jathilan fungsi yang sedikit berbeda. Dalam hajatan, tuan rumah mengundang kesenian untuk memeriahkan acara dan menghormati tamu. Pertunjukan menjadi hadiah bagi tamu, sekaligus menjadi kebanggaan bagi tuan rumah. Durasi dan susunan babak sering disesuaikan dengan rangkaian hajatan, misalnya pertunjukan dimulai setelah acara inti selesai, atau dibagi menjadi beberapa babak di sela-sela acara. Dalam konteks ini, jathilan yang tampil cenderung lebih menekankan hiburan, karena tujuannya adalah membuat tamu senang dan suasana menjadi meriah. Namun, penekanan hiburan itu tidak menghilangkan nilai tradisinya. Penari tetap memakai kostum dan kuda anyaman, pengrawit tetap memainkan gamelan, dan kelompok tetap menampilkan keahlian yang mereka latih.
Bedanya Jathilan dengan Kubro Siswo dan Topeng Ireng
Pusat jathilan adalah kuda anyaman dan gambaran pasukan berkuda. Penonton mengenali jathilan dari kuda yang ditunggangi penari, dari gerak berkuda yang mengikuti gamelan, dan dari babak trance yang dalam sebagian pertunjukan menjadi bagian dari struktur acaranya. Tanpa kuda anyaman, jathilan kehilangan ciri yang paling menentukan. Musiknya adalah gamelan yang mengatur gerak berkuda, ceritanya berkisar pada pasukan atau kesatria berkuda, dan daya tariknya terletak pada gabungan antara tari, musik, dan unsur trance yang melingkupinya.
Pusat Kubro Siswo berbeda. Kubro Siswo adalah kesenian yang memadukan tari, musik, dan syair yang berisi nasihat, dan kesenian ini hidup sebagai tontonan sekaligus tuntunan. Penyanyi melantunkan syair yang mengandung ajakan kepada kebaikan, dan penonton tidak hanya menikmati keindahan gerak, melainkan juga menerima pesan yang disampaikan lewat bait-bait yang dinyanyikan. Dalam Kubro Siswo, syair dan dakwah kultural menjadi pusatnya. Penonton yang menyaksikan Kubro Siswo diharapkan pulang dengan pesan, bukan hanya dengan kesan gerak. Jathilan tidak memiliki pusat yang sama. Jathilan bisa mengandung nilai dan pesan, tetapi pesannya tidak disampaikan terutama lewat syair dakwah yang dilantunkan sebagai pusat pertunjukan. Perbedaan ini adalah perbedaan yang paling tegas antara jathilan dan Kubro Siswo, dan penonton yang memahami perbedaan ini tidak akan lagi menukar keduanya.
Pusat Topeng Ireng juga berbeda. Topeng Ireng adalah tari rakyat yang identitasnya melekat pada wajah penari yang dihitamkan, dengan gerak yang gagah dan penuh tenaga, kostum yang meriah, dan iringan musik yang menghentak. Namanya merujuk pada ciri wajah yang hitam itu, bukan pada kuda anyaman dan bukan pada syair dakwah. Penonton mengenali Topeng Ireng dari wajah yang dihitamkan dan dari semangat kebersamaan yang langsung terasa sejak hentakan pertama. Jathilan tidak memakai ciri itu sebagai pusatnya. Penari jathilan dikenali dari kuda yang ditungganginya, bukan dari wajah yang dihitamkan. Dengan demikian, tiga kesenian ini bisa dibedakan dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang pertama kali dilihat penonton sebagai pusat panggung. Jika yang dilihat adalah kuda anyaman dan pasukan berkuda, itu jathilan. Jika yang didengar sebagai pusat adalah syair yang berisi nasihat dan ajakan kepada kebaikan, itu Kubro Siswo. Jika yang dilihat sebagai pusat adalah wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah, itu Topeng Ireng.
Perbedaan itu juga penting bagi upaya pelestarian. Jika jathilan, Kubro Siswo, dan Topeng Ireng dianggap sama, maka upaya pelestarian bisa menjadi kabur: latihan yang dibutuhkan berbeda, properti yang harus dirawat berbeda, dan keahlian yang harus diwariskan berbeda. Jathilan membutuhkan perajin kuda anyaman dan penari yang kuat menggerakkan kuda. Kubro Siswo membutuhkan penyanyi syair dan penari yang memahami pesan yang dilantunkan. Topeng Ireng membutuhkan penari dengan gerak gagah dan tata rias wajah yang khas. Dengan membedakan ketiganya, desa dan kelompok bisa merencanakan regenerasi secara lebih tepat, dan penonton bisa memahami mengapa satu kelompok tidak bisa begitu saja menggantikan kelompok lain.
Siapa yang Menari, Siapa yang Memainkan Musik, dan Bagaimana Kelompok Bertahan
Kelompok jathilan pada umumnya adalah kelompok warga. Penarinya berasal dari masyarakat setempat, pengrawitnya berasal dari masyarakat setempat, dan pemimpin kelompoknya adalah warga yang sudah lama berkecimpung dalam kesenian itu. Sumber-sumber tentang kuda lumping mencatat bahwa pertunjukan tradisionalnya dimainkan oleh sekelompok laki-laki dari komunitas setempat, dengan jumlah yang bisa berkisar dari dua sampai delapan penari dalam satu kelompok kecil, dan bisa lebih banyak dalam kelompok besar. Jumlah itu bukan aturan yang kaku. Kelompok yang tampil di lapangan desa yang luas bisa menampilkan lebih banyak penari, sementara kelompok yang tampil di hajatan yang sempit bisa menampilkan lebih sedikit. Yang penting adalah kekompakan kelompok, bukan jumlahnya semata.
Regenerasi adalah tantangan terbesar kelompok jathilan, dan contoh dari Mungkid menunjukkan salah satu jawabannya. Laporan Indonesia Travel mencatat bahwa kelompok Tresno Budoyo terus berupaya melestarikan kesenian jathilan dengan merekrut anggota muda. Upaya merekrut anggota muda itu penting, karena tanpa penari muda, kelompok akan menua dan akhirnya berhenti. Rekrutmen anggota muda tidak cukup dengan ajakan saja. Anak muda harus merasa bahwa jathilan adalah kesenian yang membanggakan, bukan kesenian yang ketinggalan zaman. Mereka harus diberi peran, diberi kesempatan tampil, dan diberi ruang untuk belajar dari penari yang lebih senior. Kelompok yang berhasil melakukan itu biasanya adalah kelompok yang tetap tampil secara rutin, sehingga anggota mudanya bisa melihat langsung hasil latihannya di depan penonton.
Menonton Jathilan dengan Cara yang Tepat
Penonton dari luar Magelang yang ingin memahami jathilan lebih dalam bisa memulai dari sumber-sumber yang terbuka. Portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah menyediakan gambaran singkat tentang tari jathilan sebagai tari yang menggambarkan perang pasukan berkuda. Ensiklopedia daring tentang kuda kepang menyediakan gambaran tentang penamaan yang berbeda di tiap daerah, tentang kuda anyaman dari bambu, dan tentang unsur trance yang menyertai sebagian pertunjukan. Kajian akademik tentang tari kuda Jawa menyediakan penjelasan yang lebih dalam tentang fungsi ritual dan fungsi hiburan yang berubah dari waktu ke waktu. Membaca sumber-sumber itu sebelum menonton akan membuat pengalaman menonton menjadi lebih bermakna, karena penonton sudah memiliki peta tentang apa yang akan dilihatnya.
Apa yang Masih Perlu Dijaga di Magelang
Jathilan di Magelang, seperti kesenian rakyat lainnya, berada di persimpangan antara tradisi dan perubahan. Di satu sisi, ia masih hidup di desa-desa, masih ditampilkan di bersih desa dan hajatan, dan masih dirawat oleh kelompok-kelompok seperti Tresno Budoyo di Mungkid. Di sisi lain, ia menghadapi persaingan dengan hiburan modern, keterbatasan regenerasi, dan perubahan selera penonton. Pertanyaan yang dihadapi bukan lagi apakah jathilan masih ada, melainkan apakah ia akan terus dirawat dengan cara yang menjaga ciri khasnya, atau perlahan-lahan kehilangan ciri khasnya karena hanya dipertahankan namanya.
Pada akhirnya, jathilan adalah kesenian yang paling baik dipahami dengan cara menontonnya langsung. Tulisan bisa menjelaskan kuda anyamannya, musiknya, dan unsur trancenya, tetapi tulisan tidak bisa menggantikan hentakan kendang yang terasa di dada, gerak kuda yang melintas di depan mata, dan suasana lapangan desa yang penuh dengan warga yang saling kenal. Karena itu, artikel ini ditutup dengan ajakan yang sederhana: bila ada kesempatan menyaksikan jathilan di bersih desa atau hajatan di Magelang, datanglah, tontonlah sampai selesai, dan pulanglah dengan cerita yang akurat tentang apa yang dilihat. Cerita yang akurat itu, bila diceritakan kembali kepada orang lain, adalah bentuk pelestarian yang paling sederhana dan paling efektif. Jathilan akan tetap hidup selama masih ada penari yang menunggangi kuda anyaman, pengrawit yang memainkan gamelan, dan penonton yang datang dengan rasa hormat dan rasa ingin tahu.



1 Komentar