Balkondes Borobudur: 20 Balai Ekonomi Desa di Sekitar Candi dan Cara Menikmatinya
Balkondes adalah Balai Ekonomi Desa: homestay, resto, dan etalase UMKM yang dibangun BUMN di 20 desa sekitar Candi Borobudur, lalu dikelola BUMDes. Ini sejarahnya, daftar desanya, dan Balkondes yang paling dikenal wisatawan.

BOROBUDUR — Balkondes Borobudur adalah jawaban atas pertanyaan yang lama mengganjal di Magelang: mengapa candi yang namanya mendunia belum juga memakmurkan desa-desa di sekelilingnya. Balkondes, singkatan dari Balai Ekonomi Desa, adalah jaringan homestay, resto, dan etalase usaha mikro yang dibangun perusahaan milik negara (BUMN) di 20 desa Kecamatan Borobudur, lalu diserahkan kepada desa untuk dikelola badan usaha milik desa (BUMDes). Wisatawan yang menginap di sana tidak hanya tidur dekat candi, melainkan ikut menggerakkan ekonomi warga: kamarnya milik desa, makanannya dimasak warga, dan paket wisatanya dipandu warga.
Artikel ini merangkum sejarah Balkondes, cara kerjanya, daftar 20 desa dan BUMN pendukungnya, Balkondes yang paling dikenal wisatawan, serta tips berkunjung. Jika Anda baru pertama kali mendengar namanya saat merencanakan perjalanan ke Borobudur, panduan ini bisa menjadi titik awal yang lengkap. Untuk rencana kunjungan ke candinya sendiri, baca juga panduan mengunjungi Candi Borobudur yang sudah kami terbitkan sebelumnya.
Mengapa Balkondes Lahir: Candi Mendunia, Desa Belum Ikut Makmur
Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dan ikon pariwisata Indonesia. Jutaan wisatawan datang setiap tahun, tetapi kemakmuran itu lama tidak merata. Kecamatan Borobudur terdiri atas 20 desa, dan beberapa di antaranya tercatat sebagai desa miskin, bahkan tertinggal, meski berada tepat di jantung pariwisata Magelang. Data yang dikutip media pada 2018 menunjukkan pendapatan per kapita Kecamatan Borobudur periode 2011–2015 hanya sekitar Rp7,7 juta, menempatkannya di urutan keenam dari 21 kecamatan di Kabupaten Magelang. Angka itu jauh di bawah Kecamatan Ngablak di lereng Gunung Merbabu yang lebih dari Rp11 juta, dan bahkan di bawah Kecamatan Srumbung di kaki Gunung Merapi yang mencapai Rp15,4 juta.
Kesenjangan itulah yang menggelitik Menteri BUMN Rini Soemarno ketika mengunjungi kawasan Candi Borobudur sekitar tahun 2015. Dalam pembukaan Sidang Umum Dewan Perempuan Internasional (ICW) ke-35 di Yogyakarta pada 13 September 2018, ia menyampaikan pertanyaan yang kemudian menjadi dasar program ini: “Bagaimana bisa Borobudur yang sudah sangat terkenal di dunia, tetapi belum memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat di sekitarnya? Saya berpikir, ini tidak bisa lagi demikian, desa-desa di sekitarnya juga harus merasakan kemakmuran dari keberadaan Borobudur.”
Dari pemikiran itu, Rini membentuk tim yang melibatkan semua BUMN yang berhubungan dengan pariwisata. Gagasannya sederhana namun ambisius: satukan 20 desa di sekitar candi sebagai penyedia jasa penginapan, dengan nilai tambah berupa paket wisata yang menampilkan potensi keindahan alam dan budaya setempat. Borobudur sering diibaratkan sebagai lampu besar yang cahayanya harus menerangi desa-desa di sekelilingnya, bukan hanya menaranya sendiri. Pembangunan Balkondes dimulai pada 2016, mengambil inspirasi dari penginapan berbasis masyarakat di Portugal, Pousadas de Portugal, dan dari Spanyol, dua negara Eropa yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber devisa. Program ini dirancang sebagai bagian dari percepatan pembangunan pariwisata yang dicanangkan pemerintah pada 2016, ketika Borobudur ditetapkan sebagai salah satu destinasi super prioritas.
Dari Dana CSR ke Tangan BUMDes: Cara Kerja Balkondes
Secara kelembagaan, Balkondes digambarkan sebagai interconnecting tourism system berbasis komunitas. Tujuannya ganda: meningkatkan perekonomian desa sekaligus memberdayakan dan mengembangkan sumber daya manusia yang berbasis wisata. Skema pendanaannya memakai dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN, yang dikelola bersama desa dan masyarakat setempat. Setiap BUMN membangun satu Balkondes di satu desa, dengan fasilitas yang disesuaikan pada potensi desa tersebut. Tidak ada dua Balkondes yang sama persis: ada yang menonjolkan arsitektur bambu, ada yang mengandalkan panorama pegunungan, ada yang kuat di kuliner, dan ada yang kuat di kerajinan.
Pengembangan Balkondes digarap bersinergi dengan BUMN pariwisata, yakni PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC), PT Hotel Indonesia Natour (HIN), dan PT Patra Jasa, anak usaha Pertamina yang menjadi manajemen Balkondes. Pendampingan masyarakat dilakukan antara lain melalui PT Manajemen CBT Nusantara, yang namanya merujuk pada community based tourism atau pariwisata berbasis komunitas. Modelnya berjalan dalam tiga tahap. Pada tahap inkubasi, BUMN sponsor bertindak sebagai investor penuh, membuka akses pasar yang lebih luas, dan mendampingi kegiatan ekonomi, sementara BUMN pendamping membantu urusan manajerial dan BUMDes meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, keuangan, produksi, dan pemasaran, termasuk lewat pelatihan, studi banding, dan pemasaran. Pada tahap startup, peran BUMN sponsor dan pendamping bergeser menjadi pengawasan, dan BUMDes sudah mampu mengelola sendiri pengembangan usaha yang dirintis pada tahap inkubasi. Tahap akhirnya adalah kemandirian: aset Balkondes diserahkan kepada pemerintah desa dan dikelola BUMDes untuk dikembangkan masyarakat setempat.
Yang membuat model ini berbeda dari sekadar pembangunan hotel di desa adalah posisi masyarakatnya. Warga bukan hanya penonton atau pekerja, melainkan pengelola dan pemilik manfaat. Mereka yang memasak, memandu, membatik, mengukir, dan menyambut tamu. Karena itu, keberhasilan Balkondes tidak hanya diukur dari bangunan yang berdiri, melainkan dari apakah warga desa mampu menjalankan jasa pariwisata secara berkelanjutan setelah BUMN mundur ke peran pendamping. Evaluasi yang pernah disampaikan dalam liputan program ini menyebut tiga hal yang wajib diperbaiki agar Balkondes berhasil sebagai tujuan wisata, yakni 3A: Access atau akses menuju lokasi, Amenities atau fasilitas penunjang kenyamanan, dan Attraction atau atraksi.
20 Desa dan BUMN Pendukungnya
Program Balkondes menargetkan 20 desa di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, yang mengitari kawasan Candi Borobudur. Ke-20 desa itu adalah Borobudur, Wanurejo, Candirejo, Bigaran, Kenalan, Majaksingi, Tuksongo, Tanjungsari, Ngadiharjo, Karanganyar, Karangrejo, Kembanglimus, Kebonsari, Wringinputih, Bumiharjo, Giritengah, Tegalarum, Sambeng, Ngargogondo, dan Giripurno. Laporan pada 2018 mencatat 19 BUMN membangun Balkondes di 19 desa, sementara satu desa, Giripurno, belum dapat dibangun karena tidak memiliki lahan desa yang bisa dipakai sebagai lokasi, dengan catatan BUMN siap masuk apabila Giripurno sepakat menggunakan lahan pribadi dengan sistem sewa yang disepakati semua pihak.
Pasangan desa dan BUMN yang tercatat dalam liputan resmi dan pemberitaan adalah sebagai berikut. PT Telkom Indonesia membangun di Tuksongo, Pertamina di Wringinputih, PT Taman Wisata Candi (TWC) di Balkondes Borobudur yang berlokasi di Dusun Ngaran, Bank Mandiri di Kenalan, Patra Jasa di Kembanglimus, Perusahaan Gas Negara (PGN) di Karangrejo, Bank Negara Indonesia (BNI) di Wanurejo, Pegadaian di Ngargogondo, Angkasa Pura II di Tegalarum, Bank Tabungan Negara (BTN) di Karanganyar, Angkasa Pura I di Bigaran, Pembangunan Perumahan (PP) di Bumiharjo, Jasa Marga di Majaksingi, Jasa Raharja di Giritengah, Hutama Karya di Kebonsari, PTPN Holding di Sambeng, Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Tanjungsari, Semen Indonesia di Candirejo, dan PLN di Ngadiharjo. Daftar ini penting bagi wisatawan karena setiap Balkondes membawa karakter sponsornya: Balkondes binaan Telkom menonjolkan teknologi digital, Balkondes binaan Pertamina menonjolkan arsitektur bambu, dan Balkondes binaan PLN menonjolkan panorama pegunungan.
Perlu dicatat bahwa status masing-masing Balkondes dapat berubah dari waktu ke waktu, seiring pergantian pengelola dan dinamika desa. Artikel ini memakai data yang terverifikasi dari sumber-sumber yang disebutkan, dan wisatawan disarankan mengonfirmasi kondisi terbaru Balkondes tujuan sebelum berkunjung, terutama untuk ketersediaan kamar dan paket wisata.
Balkondes Borobudur yang Paling Dikenal Wisatawan
Dari belasan Balkondes yang tersebar di sekitar candi, beberapa namanya paling sering disebut wisatawan. Berikut lima di antaranya, dengan ciri khas masing-masing yang terverifikasi dari sumber resmi dan pemberitaan.
Balkondes Borobudur, di Desa Borobudur. Inilah Balkondes yang paling dekat dengan candi. Portal pariwisata resmi Provinsi Jawa Tengah menempatkannya di Jalan Borobudur–Ngadiharjo, Dusun Ngaran, sekitar 1,4 kilometer atau empat menit berkendara dari Candi Borobudur, bersebelahan dengan kawasan Svargabumi. Konsep bangunannya sederhana dan vintage, dengan kuliner Jawa tradisional sebagai identitas: pecel, mangut ikan wader dan lele, serta masakan Jawa yang kini jarang ditemui seperti daun pepaya, lompong, dan talas, ditambah kopi lokal Magelang. Suasananya digambarkan seperti rumah simbah: tenang, segar, dan perdesaan. Di seberang kafenya terdapat penginapan dengan 20 kamar, mulai dari kamar single satu rumah, kamar couple dua kamar, hingga tipe keluarga dengan tiga kamar, dua kamar mandi, dan ruang tamu. Jam bukanya setiap hari pukul 08.00–20.00 WIB, dengan catatan tamu yang ingin datang lebih pagi dapat mengonfirmasi terlebih dahulu. Kisaran tarif kamar yang dikutip portal tersebut berada di rentang Rp450 ribu hingga Rp1,5 juta, namun angka itu berasal dari artikel yang lebih lama sehingga sebaiknya dikonfirmasi ulang saat memesan.
Balkondes Tuksongo, binaan Telkom. Balkondes ini diresmikan pada 20 Agustus 2017 dan pernah ditinjau Presiden Joko Widodo pada 18 September 2017. Fasilitasnya meliputi Rumah Joglo dan Plaza atau amphitheatre sebagai panggung kesenian dan pentas budaya, ruang meeting, homestay enam unit, musala, toilet umum dan toilet untuk difabel, taman, dua rumah limasan sebagai ruang pajang hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan resto, serta satu limasan kecil sebagai lokasi workshop pelaku UMKM. Konsepnya adalah penginapan bernuansa perdesaan yang berteknologi digital: tamu tidak menerima kunci konvensional, melainkan ponsel pintar dengan aplikasi khusus yang sekaligus berfungsi sebagai remote televisi, lampu, dan penyejuk udara, dengan kecepatan internet yang disebut mencapai 100 mbps di seluruh area. Pengalaman menginapnya dirancang sebagai paket budaya: ramah-tamah diiringi karawitan dan gamelan, tari Gambyong saat sarapan, membatik bersama warga, tari Gedruk khas Borobudur yang penarinya memakai kostum buto cakil dan lonceng kecil di kaki, menanam pohon buah di depan pondok, memetik daun tembakau di sawah, hingga menumpang mobil VW atap terbuka menuju SD Tuksongo 1 untuk melihat siswa bermain gamelan sebagai muatan lokal. Menurut Kepala Desa Tuksongo saat itu, Turkhamun, tari Gedruk menggambarkan bantuan para buto apik atau raksasa baik kepada petani untuk mengusir hama dari sawah dengan menghentak-hentakkan kaki.
Balkondes Wringinputih, binaan Pertamina, dikenal sebagai Omah Guyub. Keistimewaan Balkondes ini terletak pada bangunannya: seluruh rangka memakai bambu dan atapnya bukan genteng, melainkan daun rumput, sehingga tampil unik dan etnik. Fasilitasnya meliputi ruang pendapa, homestay 20 unit, musala, toilet, dapur, gazebo, taman, serta ruang terbuka untuk bersantai. Di bagian belakang bangunan terdapat lahan untuk berlatih jemparingan, seni memanah gaya Mataram yang dahulu sering digelar di seluruh wilayah kerajaan kuno Yogyakarta, dengan jarak sasaran 50 meter. Pada kunjungan 18 September 2017, Menteri BUMN Rini Soemarno menyebut Balkondes Wringinputih sebagai yang paling siap dari sisi homestay di antara belasan Balkondes di kawasan Candi Borobudur, sementara Balkondes Wanurejo disebut tidak kalah menarik karena menawarkan pemandangan matahari tenggelam dari lereng pegunungan. Rini saat itu menargetkan sejumlah Balkondes bisa beroperasi penuh dalam 12 bulan ke depan, dengan catatan kesiapan masyarakat sama pentingnya dengan selesainya bangunan fisik.
Balkondes Ngadiharjo, binaan PLN. Balkondes ini didirikan pada 2017 sebagai bagian dari program CSR PLN, berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare, sekitar lima kilometer dari Candi Borobudur. Daya tarik utamanya adalah panorama: bentang alam Pegunungan Menoreh dan empat gunung sekaligus, yakni Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Suroloyo. Desainnya dibuat oleh Universitas Gadjah Mada dan terinspirasi arsitektur batu khas Raja Ampat, Papua, dengan pilar-pilar berbatu yang menyala saat malam hari sebagai spot foto. Balkondes Ngadiharjo disebut sebagai desa wisata yang menjadi garda depan dengan pemandangan Menoreh, dan dijuluki Galeri Jelajah Menoreh. Fasilitasnya kerap dipakai untuk gathering, outbound, konser, meeting, wisata kuliner, hingga staycation di pondok kayu, dengan tujuh unit homestay yang tercatat pada 2023.
Balkondes Wanurejo, binaan BNI. Balkondes ini berada di Dusun Tingal, Desa Wanurejo, tidak jauh dari Candi Pawon. Keunggulannya adalah panorama matahari tenggelam dari lereng pegunungan, yang membuatnya kerap disebut sebagai Balkondes dengan sunset terbaik di kawasan Borobudur. Fasilitasnya mencakup resto, gazebo, area outbound, dan penginapan cottage, dengan lokasi yang disukai tamu karena dekat dengan sejumlah titik wisata. Bagi wisatawan yang menyusun rute, Wanurejo enak dipadukan dengan kunjungan ke Candi Pawon dan Candi Mendut dalam satu perjalanan sore.
Di luar kelimanya, Balkondes lain juga punya cerita masing-masing. Candirejo yang dibina Semen Indonesia dikenal sebagai desa wisata yang sudah lama hidup dari paket wisata desa. Karangrejo yang dibina PGN, Kembanglimus yang dibina Patra Jasa, dan desa-desa lain masing-masing mengembangkan kerajinan, kuliner, dan paket wisata sesuai potensi desanya. Pola yang sama juga terlihat di desa penyangga yang didampingi Badan Otorita Borobudur, seperti yang kami tulis dalam artikel BPOB dan branding desa penyangga Borobudur: desa-desa di sekitar Borobudur kini bersaing lewat identitas produk dan cerita, bukan hanya lewat jarak ke candi.
Apa yang Bisa Dilakukan di Balkondes
Menginap adalah pengalaman utama. Homestay Balkondes umumnya berupa pondok atau kamar bernuansa perdesaan dengan harga yang lebih terjangkau daripada hotel di kawasan wisata, dikelola warga desa, dan sarapannya sering kali memakai menu lokal. Sebagian Balkondes juga menyediakan ruang meeting, amphitheatre, dan area outbound sehingga cocok untuk rombongan keluarga, komunitas, maupun instansi yang mencari tempat gathering di luar kota.
Kuliner adalah alasan kedua. Setiap Balkondes memiliki resto atau warung yang menyajikan masakan desa: pecel, mangut, sayur daun pepaya, lompong, talas, aneka rebusan umbi-umbian, dan kopi lokal. Makan di Balkondes berarti makan dari dapur warga, dengan bahan yang sebagian besar berasal dari kebun dan pasar desa itu sendiri. Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang sesuatu, ruang pajang UMKM di Balkondes menjual kerajinan warga: batik tulis, gerabah, ukir batu, dan aneka suvenir.
Paket wisata desa adalah alasan ketiga, dan inilah yang membedakan Balkondes dari sekadar penginapan. Wisatawan dapat berkeliling desa dengan mobil VW klasik atap terbuka, andong atau delman, sepeda, hingga Jeep offroad, singgah di sentra industri rumah tangga, galeri kerajinan, dan spot panorama. Rute VW Tour Borobudur yang ditawarkan berbagai operator umumnya melewati desa-desa wisata dan Balkondes seperti Borobudur, Karangrejo, Karanganyar, Tanjungsari, Tuksongo, Majaksingi, Ngargogondo, Wanurejo, Bumiharjo, Wringinputih, Kembanglimus, Tegalarum, Kebonsari, Ngadiharjo, dan Candirejo, dengan singgahan seperti pembuatan gerabah, batik, rengginang, gula jawa, madu, jamur, dan kopi. Tarif paket VW bervariasi menurut operator, durasi, dan jumlah spot: satu platform perjalanan mencantumkan paket short sekitar Rp530 ribu untuk maksimal empat orang dengan dua spot dan paket medium sekitar Rp745 ribu dengan tiga spot, sementara artikel Visit Jawa Tengah menyebut sewa VW mulai Rp350 ribu untuk dua jam hingga Rp700 ribu untuk lima jam. Perbedaan ini wajar karena operatornya berbeda, sehingga tarif terbaru sebaiknya ditanyakan langsung saat memesan.
Aktivitas budaya melengkapi paket itu. Di Tuksongo wisatawan dapat membatik dan menonton tari Gedruk. Di Wringinputih wisatawan dapat mencoba jemparingan. Di banyak Balkondes wisatawan dapat mengikuti kegiatan warga: menanam pohon, memetik hasil kebun, belajar gamelan, atau sekadar duduk di pendapa sambil menyeruput kopi. Pola wisata seperti ini sejalan dengan desa wisata lain di Magelang yang mengandalkan pengalaman, misalnya Nepal van Java di lereng Sumbing, yang juga menjual panorama dan kehidupan desa, bukan sekadar bangunan.
Angka yang Bercerita: Hunian Merangkak, Delegasi Dunia Menginap
Apakah Balkondes berhasil? Data awal menunjukkan arah yang menggembirakan. Menurut data PT Manajemen CBT Nusantara yang dikutip dalam penelitian akademik dan pemberitaan Travel Tempo pada 2019, tingkat hunian kamar homestay Balkondes di Kecamatan Borobudur merangkak naik dari hanya 7 persen pada 2017 menjadi 27 persen pada 2018 dan 63 persen pada 2019, dengan total kunjungan 290.000 pada 2019. Angka-angka ini berasal dari periode sebelum pandemi dan tidak dapat dibaca sebagai kondisi terkini, tetapi ia menunjukkan bahwa konsep menginap di desa memang menemukan pasarnya dalam tiga tahun pertama.
Momentum promosi terbesar datang pada September 2018, ketika sekitar 100 anggota delegasi Sidang Umum Dewan Perempuan Internasional (ICW) ke-35 dari sekitar 20 negara, mulai dari India, Lebanon, Taiwan, Korea Selatan, Malta, Australia, Finlandia, Prancis, Kanada, Afrika Selatan, Guatemala, Turki, Tunisia, Swiss, Singapura, Amerika Serikat, Filipina, Selandia Baru, dan Belanda, ditambah tuan rumah Indonesia, menginap semalam di Balkondes pada 18–19 September 2018. Penyambutan dipusatkan di Balkondes Ngadiharjo binaan PLN, dengan makan malam di halaman terbuka, permainan angklung bersama grup musik Kertodipuro dari Magelang, dan pembagian rombongan ke Balkondes masing-masing. Satu grup yang terdiri atas sepuluh delegasi dari Lebanon, Tunisia, Swiss, Singapura, Australia, dan Kanada menginap di Balkondes Tuksongo dan mengikuti rangkaian acara lengkap keesokan paginya. Seorang delegasi Australia, Maureen Oborn, merekam video tari Gedruk untuk ditunjukkan kepada cucunya yang berumur delapan tahun di Melbourne, dan berkata bahwa tempat itu bagus, banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan ia akan kembali dengan mengajak saudara dan temannya.
Kisah delegasi ICW itu penting karena menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, Balkondes mampu melayani tamu internasional dengan standar yang membuat mereka betah. Kedua, promosi dari mulut ke mulut oleh tamu seperti Maureen Oborn adalah modal yang tidak bisa dibeli dengan iklan. Tantangannya, seperti diakui dalam liputan program itu sendiri, adalah mempertahankan momentum: akses menuju lokasi, fasilitas penunjang kenyamanan, dan atraksi harus terus diperbaiki, dan masyarakat desa melalui BUMDes harus terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku jasa pariwisata.
Tips Berkunjung ke Balkondes
Pertama, tentukan dulu gaya perjalanan Anda. Jika tujuan utama Anda adalah Candi Borobudur, pilih Balkondes Borobudur di Desa Borobudur atau Balkondes yang dekat dengan candi sebagai basis menginap, lalu susun kunjungan candi di pagi hari. Jika Anda mencari panorama dan suasana, Ngadiharjo untuk Menoreh dan Wanurejo untuk sunset adalah pilihan yang masuk akal. Jika Anda bepergian bersama anak-anak atau rombongan, Tuksongo menawarkan paket budaya yang paling lengkap, sementara Wringinputih menawarkan arsitektur bambu dan jemparingan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kedua, gabungkan Balkondes dengan rute desa. Satu hari di Borobudur tidak akan pernah cukup untuk candi, desa, dan Balkondes sekaligus, sehingga alokasikan setidaknya satu malam. Pagi hari untuk candi, siang hingga sore untuk tur VW atau andong keliling desa dan Balkondes, dan malam untuk kuliner serta istirahat di homestay. Jika waktu Anda terbatas, pilih satu Balkondes sebagai tempat makan siang atau ngopi, tanpa harus menginap, karena sebagian besar Balkondes juga berfungsi sebagai rest area.
Ketiga, pesan dan konfirmasi sebelum datang. Tarif kamar, tarif paket VW, dan ketersediaan kamar bervariasi menurut operator dan musim, dan sebagian informasi yang beredar berasal dari artikel beberapa tahun lalu. Tanyakan tarif terbaru, jam buka, dan paket yang tersedia melalui pengelola Balkondes tujuan. Untuk gambaran tarif dan jam buka Balkondes Borobudur yang dikutip portal resmi pariwisata provinsi, Anda dapat merujuk pada artikel Visit Jawa Tengah tentang Balkondes Borobudur, dan untuk sejarah awal program ini, rilis Sekretariat Kabinet tentang kunjungan Presiden ke Tuksongo dan Wringinputih adalah sumber yang paling otoritatif.
Keempat, hormati desa sebagai rumah warga, bukan sekadar latar foto. Balkondes berdiri di tengah permukiman, sawah, dan tempat ibadah. Berpakaianlah sopan, mintalah izin sebelum memotret warga dari dekat, dan ikuti aturan yang disampaikan pemandu desa. Sebagian aktivitas, seperti memetik hasil kebun atau mengikuti ritual desa, hanya dapat dilakukan dengan pendampingan warga.
Pada akhirnya, Balkondes adalah eksperimen sosial yang layak diperhatikan: bisakah pariwisata kelas dunia membagi rezekinya kepada desa-desa di sekitarnya tanpa mengubah desa menjadi sekadar etalase? Jawaban awal dari Borobudur menggembirakan: hunian yang merangkak naik, delegasi dunia yang betah menginap, dan warga yang kini menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Selama desa tetap menjadi pengelola dan bukan sekadar penonton, cahaya dari candi itu akan terus menerangi 20 desa di sekelilingnya.


