Opini: Jangan Jadikan Borobudur Sekadar Latar Foto
Opini ini tidak menolak fotografi di Borobudur. Yang ditolak adalah pola kunjungan yang menjadikan foto sebagai satu-satunya tujuan, sehingga sejarah, tata tertib, dan warga di sekitar candi dikorbankan demi satu bingkai gambar.

Opini ini berangkat dari kegelisahan yang sederhana: Candi Borobudur semakin sering diperlakukan sebagai latar foto, bukan sebagai tempat yang dikunjungi. Foto itu sendiri bukan masalah. Mengabadikan kunjungan adalah bagian yang wajar dari perjalanan, dan banyak pengunjung justru pertama kali mengenal Borobudur melalui foto orang lain. Masalahnya muncul ketika foto menjadi satu-satunya tujuan, ketika kehadiran di Borobudur diukur dari seberapa bagus hasil fotonya, dan ketika segala sesuatu yang tidak masuk ke dalam bingkai foto dianggap tidak penting. Opini ini menyatakan dengan tegas: Borobudur tidak boleh direduksi menjadi latar foto, karena reduksi itu merugikan candi sebagai warisan budaya, merugikan warga di sekitarnya, dan pada akhirnya merugikan pengunjung itu sendiri, yang pulang dengan gambar yang indah tetapi dengan pemahaman yang tipis.
Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dan situs Warisan Dunia UNESCO. Candi ini dibangun pada abad kedelapan sampai kesembilan, memiliki ribuan relief yang mengisahkan ajaran dan kehidupan, serta puluhan stupa di tingkat atas yang menjadi ciri visualnya yang paling dikenal. Fakta-fakta itu mudah ditemukan dalam berbagai sumber kredibel tentang Borobudur, dan justru karena itu pula, reduksi Borobudur menjadi latar foto terasa ironis. Bangunan yang menyimpan ribuan kisah dalam reliefnya diperlakukan seolah-olah hanya memiliki satu sisi, yaitu sisi yang fotogenik. Padahal, nilai Borobudur tidak terletak pada satu sudut pengambilan gambar, melainkan pada keseluruhan bangunan sebagai karya arsitektur, karya seni, dan ruang spiritual yang masih hidup.
Pengunjung yang datang hanya untuk foto cenderung melewatkan hal yang paling penting dari Borobudur: waktu untuk melihat dengan perlahan. Relief Borobudur tidak dapat dipahami dengan sekali lewat sambil mencari sudut foto. Relief itu perlu dibaca secara berurutan, dengan pendampingan pemandu atau dengan panduan yang memadai, agar kisah yang terukir di batu dapat dipahami sebagai satu kesatuan. Pengunjung yang terburu-buru berpindah dari satu titik foto ke titik foto lain akan melewatkan pengalaman itu, dan pulang dengan kesan bahwa Borobudur hanyalah tumpukan batu yang indah. Kesan itu keliru, tetapi ia terbentuk bukan karena Borobudur tidak menarik, melainkan karena cara berkunjungnya tidak memberi ruang bagi Borobudur untuk bercerita.
Untuk konteks tentang bagaimana desa-desa di sekitar Borobudur seharusnya menjadi tuan rumah, bukan sekadar latar, pembaca dapat membaca artikel KabarTidar tentang Balkondes sebagai balai ekonomi desa di Borobudur. Artikel itu mengingatkan satu prinsip yang juga berlaku untuk candi itu sendiri: tempat yang dikunjungi adalah rumah bagi orang lain, bukan panggung yang disediakan untuk pengunjung. Prinsip itu berlaku ganda di Borobudur. Candi adalah warisan yang dijaga, dan desa-desa di sekelilingnya adalah permukiman yang hidup. Keduanya tidak boleh diperlakukan sebagai latar yang diam.
Opini: foto boleh, tetapi jangan berhenti di foto
Pendapat ini perlu dinyatakan dengan jernih agar tidak disalahpahami. Opini ini tidak menolak fotografi di Borobudur. Fotografi adalah cara yang sah untuk mengabadikan pengalaman, berbagi keindahan dengan orang lain, dan mengajak orang lain untuk datang dan belajar. Yang ditolak opini ini adalah pola kunjungan yang menjadikan foto sebagai tujuan tunggal, sehingga segala hal lain, mulai dari pemahaman sejarah, penghormatan terhadap situs, hingga interaksi dengan warga sekitar, dikorbankan demi foto. Perbedaannya terletak pada urutan: apakah foto adalah hasil dari pengalaman yang bermakna, atau pengalaman itu sendiri hanyalah bahan baku untuk foto. Borobudur layak mendapat urutan yang pertama.
Pola kunjungan yang berorientasi semata pada foto juga menimbulkan masalah praktis di lapangan. Pengunjung yang terlalu lama menempati satu titik demi mendapatkan foto yang sempurna dapat menghambat aliran pengunjung lain, menimbulkan antrean yang tidak perlu, dan menciptakan ketegangan di ruang yang seharusnya tenang. Pengunjung yang memanjat bagian bangunan yang tidak boleh dipanjat, duduk di atas stupa, atau meletakkan barang di atas batu demi foto yang unik, melanggar tata tertib dan berisiko merusak bangunan yang sudah berusia lebih dari seribu tahun. Aturan tentang hal-hal itu bukan dibuat untuk mempersulit pengunjung, melainkan untuk melindungi bangunan yang tidak dapat digantikan bila rusak. Setiap goresan, setiap tekanan yang tidak semestinya, dan setiap perlakuan yang kasar terhadap batu candi adalah kerugian yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, meskipun kerugiannya tampak kecil pada satu kunjungan.
Masalah yang lebih dalam adalah cara foto mengubah cara kita memandang warisan. Ketika Borobudur hanya dilihat melalui lensa, pengunjung cenderung mencari apa yang sudah dikenal dari foto orang lain, bukan menemukan apa yang sebenarnya ada di Borobudur. Pengunjung datang dengan daftar titik foto yang sudah viral, lalu mencocokkan kunjungannya dengan daftar itu, dan merasa kunjungannya belum lengkap bila satu titik belum terfoto. Cara pandang semacam itu membuat Borobudur menjadi tempat yang seragam, padahal Borobudur adalah tempat yang berlapis. Ada lapisan arsitektur, lapisan relief, lapisan spiritual, lapisan sejarah pemugaran, dan lapisan kehidupan warga di sekitarnya. Foto hanya menangkap satu lapisan, yaitu lapisan visual, dan itu pun hanya sebagian kecil darinya.
Opini ini juga menolak anggapan bahwa menghormati Borobudur berarti tidak boleh bersenang-senang di sana. Menghormati Borobudur bukan berarti kunjungan harus kaku dan tanpa tawa. Pengunjung boleh bergembira, boleh berfoto bersama keluarga, dan boleh menikmati keindahan matahari pagi di antara stupa. Yang diminta hanyalah proporsi: beri waktu untuk melihat, mendengar, dan memahami, sebelum atau sesudah berfoto. Ikuti arahan pemandu, patuhi tata tertib, berpakaian sopan, dan mintalah izin sebelum memotret warga dari dekat. Hal-hal sederhana itu tidak mengurangi kesenangan, melainkan menambah maknanya, karena foto yang diambil setelah memahami tempatnya akan memiliki cerita yang dapat diceritakan kembali, bukan hanya gambar yang dapat diunggah.
Borobudur bukan milik pengunjung semata
Borobudur adalah warisan dunia, tetapi ia juga adalah warisan yang hidup di tengah masyarakat. Di sekitar candi, ada desa-desa yang warganya bekerja sebagai pemandu, pedagang, pengrajin, petani, dan pelaku usaha kecil. Ada pula umat Buddha yang memandang Borobudur sebagai tempat yang sakral. Ketika pengunjung memperlakukan Borobudur dan lingkungannya semata sebagai latar foto, warga sekitar dan nilai spiritual itu ikut tereduksi. Warga menjadi figuran dalam foto orang lain, dan tempat ibadah menjadi panggung. Perlakuan semacam itu, meskipun tidak dimaksudkan sebagai penghinaan, tetap merugikan, karena ia menempatkan pengunjung sebagai pusat dan menempatkan semua yang lain sebagai pelengkap.
Pariwisata yang sehat seharusnya membalik urutan itu. Pengunjung adalah tamu, dan tuan rumah adalah warga serta pengelola situs. Tamu yang baik tidak mengatur rumah tuan rumah menurut keinginannya, melainkan mengikuti tata cara yang berlaku di rumah itu. Dalam konteks Borobudur, menjadi tamu yang baik berarti mengikuti jalur yang ditentukan, tidak memasuki area yang ditutup, tidak memaksakan kehendak kepada pemandu, dan menghargai waktu serta ruang warga. Tamu yang baik juga berarti bersedia membayar dengan wajar untuk jasa pemandu dan produk warga, bukan hanya mengambil gambar secara gratis dan pergi tanpa meninggalkan manfaat apa pun bagi masyarakat sekitar.
Di sinilah peran pengelola dan pemandu menjadi penting. Pengelola Borobudur telah menetapkan berbagai aturan, termasuk pembatasan dan pendampingan untuk naik ke struktur candi, penggunaan alas kaki khusus, dan kewajiban mengikuti pemandu pada zona tertentu, sebagaimana dilaporkan dalam berbagai panduan kunjungan. Aturan-aturan itu sering kali dipandang sebagai pembatas kebebasan pengunjung, padahal aturan itu adalah bentuk perlindungan yang paling nyata. Tanpa aturan, Borobudur akan lebih cepat rusak, dan kerusakan itu akan merugikan generasi berikutnya yang belum sempat mengunjunginya. Opini ini mendukung penegakan aturan tersebut secara konsisten dan dengan penjelasan yang baik, agar pengunjung memahami alasan di balik aturan, bukan hanya merasakan larangannya.
Pemandu lokal juga memegang peran yang sering diremehkan oleh pengunjung yang hanya mengejar foto. Pemandu bukan sekadar penunjuk jalan menuju titik foto, melainkan penerjemah relief, sejarah, dan nilai Borobudur. Pengunjung yang meluangkan waktu untuk mendengarkan pemandu akan pulang dengan pemahaman yang jauh lebih kaya daripada pengunjung yang hanya mengumpulkan foto. Karena itu, opini ini menganjurkan agar setiap kunjungan ke Borobudur menyertakan waktu bersama pemandu, baik pemandu manusia maupun panduan yang disediakan pengelola, dan agar waktu itu tidak dipotong demi mengejar foto di titik berikutnya.
Apa yang seharusnya diubah dari cara kita berkunjung
Perubahan pertama adalah perubahan cara mengukur keberhasilan kunjungan. Kunjungan yang berhasil bukan kunjungan dengan foto terbanyak atau foto yang paling viral, melainkan kunjungan yang meninggalkan pemahaman dan penghormatan. Pengunjung dapat mengukur kunjungannya dengan pertanyaan sederhana: apa satu hal yang saya pelajari tentang Borobudur hari ini, dan apa satu hal yang saya lakukan untuk menghormatinya. Bila kedua pertanyaan itu dapat dijawab, kunjungan itu sudah berhasil, berapa pun jumlah fotonya. Bila kedua pertanyaan itu tidak dapat dijawab, foto yang indah sekalipun belum cukup untuk menyebut kunjungan itu berhasil.
Perubahan kedua adalah perubahan cara membagikan Borobudur di media sosial. Unggahan tentang Borobudur sebaiknya tidak hanya menampilkan gambar yang indah, tetapi juga menceritakan apa yang dipelajari, siapa pemandu yang membantu, dan bagaimana pengunjung menghormati aturan di sana. Cerita semacam itu tidak kalah menarik daripada foto, dan justru lebih bermanfaat, karena ia mengajak orang lain untuk berkunjung dengan cara yang sama, bukan hanya untuk meniru foto yang sama. Pengaruh media sosial terhadap pariwisata sangat besar, sehingga cara pengunjung membagikan kunjungannya ikut menentukan cara pengunjung berikutnya memperlakukan Borobudur.
Perubahan ketiga adalah perubahan cara pengelola dan pelaku pariwisata mempromosikan Borobudur. Promosi yang hanya menonjolkan sisi fotogenik Borobudur, tanpa menyertakan cerita, aturan, dan peran warga sekitar, ikut membentuk pola kunjungan yang berorientasi semata pada foto. Promosi yang lebih bertanggung jawab akan menonjolkan pengalaman belajar, pendampingan pemandu, dan manfaat bagi desa-desa sekitar, di samping keindahannya. Dengan demikian, pengunjung yang datang sudah memiliki ekspektasi yang lebih utuh sebelum tiba, dan tidak merasa kecewa ketika diminta mengikuti aturan atau mendengarkan penjelasan.
Perubahan keempat adalah perubahan sikap terhadap waktu. Borobudur tidak dapat dipahami dengan terburu-buru. Pengunjung yang memiliki waktu terbatas sebaiknya memilih untuk melihat sebagian Borobudur dengan perlahan, daripada memaksakan diri melihat semuanya dengan tergesa-gesa. Melihat satu lorong relief dengan saksama lebih bermakna daripada berlari mengelilingi seluruh tingkat candi tanpa memahami satu pun reliefnya. Prinsip ini berlaku pula bagi rombongan wisata yang jadwalnya padat: jadwal yang memberi ruang untuk belajar akan menghasilkan kunjungan yang lebih berkesan daripada jadwal yang hanya memberi ruang untuk berfoto.
Penutup opini: biarkan Borobudur bercerita, bukan hanya berpose
Opini ini ditutup dengan ajakan yang sederhana. Datanglah ke Borobudur, berfotolah secukupnya, tetapi jangan berhenti di foto. Dengarkan pemandu, baca relief dengan perlahan, hormati aturan, dan hargai warga di sekitarnya. Biarkan Borobudur bercerita, bukan hanya berpose untuk kamera. Bila setiap pengunjung melakukan hal itu, Borobudur akan tetap menjadi warisan yang hidup, bukan sekadar latar yang indah tetapi kosong. Foto-foto kita akan tetap ada, tetapi yang lebih penting, pemahaman dan penghormatan kita terhadap Borobudur juga akan tetap ada, dan itulah yang akan kita wariskan kepada pengunjung berikutnya. Informasi resmi tentang kunjungan dan aturan yang berlaku dapat diperiksa melalui kanal resmi pengelola Borobudur, antara lain rujukan Google Arts & Culture tentang Kompleks Candi Borobudur sebagai gambaran status Warisan Dunia, serta situs InJourney Destination Management yang mengelola kawasan Borobudur, sebelum merencanakan kunjungan.


