Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Penutupan Sementara Gunung Telomoyo dan Andong Magelang karena…
Peristiwa

Penutupan Sementara Gunung Telomoyo dan Andong Magelang karena Siaga Karhutla

Dua jalur pendakian di Kabupaten Magelang ditutup mulai 29 Oktober 2026 menyusul status siaga darurat kekeringan dan karhutla Jawa Tengah. Ini jalur yang tutup, dasar aturannya, dan syarat pembukaannya kembali.

Oleh Intan Larasati Minggu, 1 November 2026 · 19.53 WIB

MAGELANG, KabarTidar. Dua gunung di Kabupaten Magelang, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong, resmi ditutup sementara mulai Kamis 29 Oktober 2026. Penutupan ini merupakan tindak lanjut Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Tengah terkait penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagai langkah antisipasi agar kebakaran hutan tidak meluas di kawasan pegunungan.

Untuk Gunung Telomoyo, penutupan berlaku pada jalur pendakian via Dalangan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Tidak hanya jalur pendakian, aktivitas wisata dan layanan transportasi jeep menuju puncak Gunung Telomoyo juga dihentikan sementara. Sementara itu, Gunung Andong ditutup pada seluruh jalur pendakiannya, yaitu Sawit, Pendem, Gogik, dan Temu Kidul, mulai Kamis 29 Oktober 2026 pukul 00.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dasar Penutupan Gunung Telomoyo dan Andong

Penutupan kedua gunung ini mengacu pada surat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah bernomor S/500.4/891/2026. Surat tersebut dilandasi Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 tentang status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla di Jawa Tengah tahun 2026. Di dalam surat itu, pengelola jalur pendakian diminta menutup sementara seluruh jalur dan memperketat patroli untuk mencegah pendakian ilegal.

Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, menjelaskan bahwa penutupan tidak hanya berlaku untuk gunung yang sempat terbakar, melainkan seluruh jalur pendakian di Jawa Tengah. Ia menyebut Gunung Slamet, Gunung Muria, Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu sebagai contoh jalur yang ikut ditutup. Khusus Gunung Sumbing dan Gunung Lawu yang sempat mengalami karhutla, jalurnya tetap ditutup penuh hingga pemulihan ekosistem dan kondisi cuaca memenuhi syarat keamanan.

Di tingkat pengelola, Purnomo, pengelola wisata Gunung Telomoyo via Dalangan, membenarkan adanya surat edaran tersebut. Menurutnya, penutupan juga mengacu pada surat edaran PT Palawi tentang tindak lanjut imbauan penutupan sementara jalur pendakian serta pencegahan karhutla di lokasi wisata, demi menjaga keamanan dan keselamatan bersama serta kelestarian lingkungan di kawasan destinasi.

Untuk Gunung Andong, penutupan dibenarkan oleh para pengelola basecamp dari keempat jalur. Ketua Basecamp Taruna Jayagiri via Sawit, Maisaro, menyatakan penutupan dilakukan berdasarkan arahan Gubernur Jawa Tengah untuk mengantisipasi karhutla sekaligus menjaga alam dan lingkungan sekitar. Pengelola via Pendem, Khoirul, dan pengelola via Temu Kidul, Sururi, menyampaikan hal yang sama, dengan penegasan bahwa penutupan berlaku sampai ada pemberitahuan resmi mengenai pembukaan kembali.

Alasan Penutupan: Belajar dari Kebakaran Sumbing dan Lawu

Kebijakan penutupan massal ini tidak lepas dari kebakaran hutan yang melanda Gunung Sumbing dan Gunung Lawu pada Oktober 2026. Menurut Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, kebakaran di Gunung Sumbing yang meliputi tiga kabupaten telah padam sejak Sabtu 24 Oktober 2026, berdasarkan pemantauan aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan yang tidak lagi menemukan titik api maupun asap. Total lahan yang terdampak kebakaran Sumbing mencapai 974,29 hektare, dengan rincian Kabupaten Temanggung 398,89 hektare, Wonosobo 362 hektare, dan Magelang 213 hektare, dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp189,3 juta.

Dugaan sementara penyebab kebakaran Sumbing dan Lawu disinyalir berasal dari kelalaian manusia dalam mengelola api, dan kepastiannya masih menunggu penelusuran lebih lanjut. Latar inilah yang membuat pemerintah provinsi memilih menutup jalur pendakian secara luas, bukan hanya pada gunung yang terbakar. Profil Gunung Telomoyo Magelang yang pernah diterbitkan KabarTidar mencatat gunung ini sebagai salah satu tujuan pendakian ringan yang ramai, sehingga penutupan sementara ini terasa langsung oleh pendaki. Riwayat kebakaran di kawasan ini juga pernah diulas dalam artikel sejarah kebakaran Gunung Sumbing.

Penutupan serupa juga berlaku di sisi lain Gunung Telomoyo. Jalur pendakian dan wisata menuju puncak Telomoyo melalui Pagergedog, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, ditutup sementara berdasarkan SE Gubernur Jawa Tengah yang diterbitkan 29 Oktober 2026. Kepala Desa Sepakung, Ahmad Nuri, membenarkan instruksi penutupan tersebut dan menegaskan bahwa kondisi Gunung Telomoyo sejauh ini terpelihara aman dan bersih dari insiden kebakaran. Penutupan itu, menurutnya, murni langkah antisipasi karena di beberapa gunung lain terjadi kebakaran yang luas, dan cuaca yang masih kering meski sempat diguyur hujan ringan.

Dampak Penutupan bagi Pendaki dan Pengelola

Bagi pengelola, penutupan ini membawa dampak ekonomi yang nyata. Khoirul menyebut jalur pendakian Gunung Andong via Pendem hampir setiap hari dikunjungi pendaki, sehingga penutupan berarti hilangnya kunjungan harian selama kebijakan berlaku. Meski demikian, pengelola memastikan tetap menaati surat edaran Gubernur Jawa Tengah demi menjaga keselamatan pengunjung serta kelestarian kawasan hutan.

Di sisi lain, Khoirul juga menyebut kondisi cuaca di kawasan Gunung Andong belakangan ini sudah sering diguyur hujan, yang berpotensi mengurangi risiko karhutla. Meski demikian, pihaknya tetap mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah, dan pembukaan kembali masih menunggu keputusan dari Perhutani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat.

Bagi pendaki, pesannya jelas: tunda dulu rencana pendakian ke Telomoyo dan Andong sampai ada pengumuman pembukaan resmi. Pengumuman penutupan Andong sendiri sudah disebarkan melalui akun media sosial para pengelola basecamp, sehingga calon pendaki sebaiknya memeriksa kanal resmi basecamp tujuan sebelum berangkat, bukan mengandalkan kabar dari mulut ke mulut. Patroli juga diperketat untuk mencegah pendakian ilegal selama penutupan berlangsung.

Pembukaan kembali jalur pendakian baru dapat dilakukan setelah status siaga darurat dicabut dan curah hujan terpantau stabil. Heru Djatmika menegaskan hal itu pada Jumat 30 Oktober 2026, dengan catatan khusus untuk Sumbing dan Lawu yang tanggap daruratnya harus dicabut terlebih dahulu. Informasi resmi mengenai penutupan ini dapat dibaca pada laman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sedangkan kabar dari sisi pengelola Magelang diberitakan Inviews Media pada 1 November 2026. Artikel ini akan diperbarui begitu pengumuman pembukaan jalur diterbitkan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *