Pasar Hewan Muntilan Magelang: Hari Pasaran Kliwon, Hewan, dan Panduan Membeli
Setiap hari pasaran Kliwon, Pasar Hewan Muntilan dipadati pedagang dan pembeli ternak dari Magelang dan luar daerah. Artikel ini menjelaskan blok sapi, kambing, dan burung, pembentukan harga, pengawasan kesehatan hewan, dan musim kurban.

MUNTILAN, KabarTidar. Pasar Hewan Muntilan adalah pasar tempat sapi, kambing, kerbau, dan aneka hewan lain diperdagangkan secara terang-terangan di kawasan Muntilan, Kabupaten Magelang, dan pasar ini mencapai puncak keramaiannya setiap hari pasaran Kliwon, ketika pembeli dan pedagang datang tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari luar daerah. Berbeda dengan pasar umum yang menjual sayur, pakaian, dan kebutuhan harian, pasar hewan menjual makhluk hidup, sehingga suasananya berbeda, yaitu riuh suara hewan, tawar-menawar yang keras dan cepat, serta pemeriksaan kesehatan hewan yang dilakukan petugas di pintu masuk sampai ke lapak pedagang. Artikel ini memotret Pasar Hewan Muntilan sebagai pusat perdagangan ternak, mulai dari hari pasaran dan tata letak bloknya, hewan yang diperdagangkan, siapa pembeli dan penjualnya, bagaimana harga terbentuk, bagaimana kesehatan hewan dijaga, apa peran pasar ini menjelang Idul Adha, hingga panduan praktis bagi pembeli pertama dan pengunjung yang sekadar ingin melihat.
Penting untuk menegaskan sejak awal perbedaan pasar ini dengan pasar umum di kecamatan yang sama. Pasar Muntilan yang menjual kebutuhan harian warga, dari sayur dan buah sampai pakaian dan perlengkapan rumah tangga, sudah dibahas tersendiri dalam artikel Pasar Muntilan sebagai denyut perdagangan lereng Merapi, dan pasar itu adalah pasar rakyat harian di tepi jalur utama Yogyakarta-Magelang-Semarang. Pasar Hewan Muntilan adalah pasar yang berbeda, dengan barang dagangan, pelaku, dan ritme yang berbeda, meskipun keduanya berada di kecamatan yang sama dan sama-sama menjadi simpul ekonomi Muntilan. Pembaca yang mencari sayur dan pakaian sebaiknya ke pasar umum, sedangkan pembaca yang mencari sapi, kambing, kerbau, burung, atau kelinci, pasar hewanlah tempatnya.
Pasar Hewan Muntilan dan Hari Pasaran Kliwon
Pasar Hewan Muntilan hidup mengikuti kalender Jawa, bukan kalender tujuh hari semata. Puncak keramaiannya terjadi pada hari pasaran Kliwon, yaitu salah satu dari lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang berputar setiap lima hari dan dipadukan dengan tujuh hari dalam seminggu menjadi weton. Mojok dalam tulisannya tentang pasar-pasar Magelang yang ramainya mengalahkan mal pada hari pasaran menyebut dengan tegas bahwa puncak ramai Pasar Hewan Muntilan hanya pada hari pasaran Kliwon, dengan pengunjung tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari luar daerah, sampai jalanan di sekitar pasar menjadi sangat padat. Bagi siapa pun yang ingin melihat pasar hewan dalam keadaan paling hidup, datang pada hari Kliwon adalah keharusan, dan bagi yang tidak suka keramaian, datang di luar Kliwon justru memberi ruang yang lebih lega, meskipun lapak yang buka lebih sedikit.
Sistem hari pasaran ini bukan sekadar tradisi, melainkan cara mengatur ekonomi yang masuk akal di pedesaan Jawa. Dengan memusatkan perdagangan ternak pada satu hari dalam setiap lima hari, pedagang dari berbagai desa bisa berkumpul pada hari yang sama, pembeli bisa membandingkan banyak hewan sekaligus, dan biaya perjalanan menjadi lebih efisien, karena satu perjalanan bisa dipakai untuk melihat puluhan hewan. Sistem ini juga menjelaskan mengapa pasar hewan tidak seramai pasar harian setiap hari, karena barang dagangannya, yaitu hewan hidup, tidak bisa digelar setiap hari dengan cara yang sama seperti sayur, dan karena pembeli ternak biasanya datang dengan rencana, bukan sekadar lewat dan mampir.
Sebagai gambaran jadwal, hari pasaran Kliwon pada November 2026 jatuh pada tanggal 4, 9, 14, 19, 24, dan 29, sesuai kalender Jawa yang beredar untuk bulan itu. Tanggal-tanggal itu berguna sebagai patokan awal, tetapi pembaca yang merencanakan kunjungan pada bulan lain sebaiknya memeriksa kalender Jawa terbaru atau bertanya kepada pedagang setempat, karena pasaran bergeser setiap bulan mengikuti siklus lima harian. Datanglah pada pagi hari, karena perdagangan ternak pada umumnya paling ramai pada pagi sampai menjelang siang, ketika hewan baru datang, pembeli masih banyak, dan cahaya masih cukup untuk memeriksa kondisi hewan dengan teliti.
Lokasi pasar hewan berada di kawasan Muntilan, di sekitar Jalan Pasar Hewan, dan kawasan ini mudah dikenali karena aktivitasnya yang khas, yaitu kendaraan pengangkut ternak, kerumunan pedagang dan pembeli di sekitar blok hewan, serta suara hewan yang terdengar dari kejauhan. Pengunjung dari arah Yogyakarta atau Kota Magelang bisa mengikuti jalur utama ke Muntilan, lalu mencari kawasan pasar hewan yang berada di kecamatan yang sama dengan pasar umum Muntilan. Pada hari Kliwon, pengunjung sebaiknya menyiapkan waktu lebih untuk urusan parkir dan berjalan kaki, karena jalanan di sekitar pasar menjadi sangat padat.
Tata Letak dan Blok: Sapi, Kambing, Burung, dan Lainnya
Pasar hewan yang baik selalu punya pembagian blok, dan Pasar Hewan Muntilan tidak terkecuali. Hewan besar seperti sapi dan kerbau menempati area yang lebih luas, karena hewan-hewan itu membutuhkan ruang gerak, tali tambat yang kuat, dan akses kendaraan pengangkut. Kambing dan domba menempati blok tersendiri, dengan jumlah yang lebih banyak per satuan luas, karena ukuran tubuhnya lebih kecil dan pembelinya juga lebih beragam, dari petani yang membeli satu ekor sampai pedagang yang membeli dalam jumlah lebih besar untuk dijual kembali. Pembagian blok semacam ini memudahkan pembeli, karena pembeli sapi tidak perlu berdesakan di antara kambing, dan pembeli kambing bisa membandingkan banyak ekor dalam satu tempat.
Selain blok hewan besar dan kambing, Pasar Hewan Muntilan juga punya blok tersendiri bagi para penyuka burung kicau, sebagaimana dicatat Mojok, dan hampir semua jenis hewan tersedia di sini, misalnya ayam hias, ayam petarung, kelinci, dan marmut. Blok burung dan hewan kecil ini memberi warna tersendiri bagi pasar, karena pembelinya bukan hanya peternak, melainkan juga penghobi yang datang untuk mencari burung dengan suara tertentu, ayam dengan ciri tertentu, atau kelinci untuk dipelihara di rumah. Suasana di blok ini lebih mirip pasar hobi daripada pasar ternak besar, dengan percakapan yang lebih santai dan transaksi yang nilainya lebih kecil, tetapi keramaiannya tidak kalah.
Di sekeliling blok hewan, pasar hewan juga diramaikan oleh lapak-lapak penunjang. Mojok mencatat adanya area untuk kebutuhan rumah tangga dan buah musiman, lapak pakaian bekas dan barang preloved bagi yang suka berburu barang bekas, bahkan lapak pinggir jalan yang menjual telepon genggam bekas. Kehadiran lapak-lapak ini menunjukkan satu hal, yaitu pasar hewan bukan hanya tempat jual beli ternak, melainkan juga tempat orang berkumpul dan berbelanja kebutuhan lain dalam satu kunjungan. Bagi keluarga yang datang bersama, lapak penunjang ini membuat kunjungan ke pasar hewan menjadi perjalanan belanja yang lengkap, bukan sekadar urusan ternak.
Pengunjung yang baru pertama kali datang sebaiknya berjalan mengelilingi pasar lebih dulu sebelum memutuskan membeli. Dengan berjalan satu putaran penuh, pengunjung bisa memetakan di mana blok sapi, di mana blok kambing, di mana blok burung, dan di mana lapak penunjang berada, serta merasakan kisaran harga yang berlaku pada hari itu. Cara ini jauh lebih baik daripada langsung membeli pada lapak pertama yang ditemui, karena harga ternak sangat bergantung pada kondisi hewan, dan perbandingan adalah satu-satunya cara untuk menilai kewajaran harga.
Hewan yang Diperdagangkan: Sapi Mendominasi, Disusul Kambing dan Kerbau
Dari segi jenis, sapi masih mendominasi perdagangan di Pasar Hewan Muntilan, disusul kambing dan kerbau, sebagaimana disampaikan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang dalam laporannya pada 2 Juli 2025 tentang pengawasan kesehatan ternak di pasar ini. Dominasi sapi masuk akal, karena sapi adalah hewan dengan nilai ekonomi paling besar per ekor, dipakai untuk penggemukan, pembibitan, pekerjaan pertanian, dan kurban, serta menjadi simpanan kekayaan bagi banyak keluarga petani. Sapi yang diperdagangkan di Muntilan sebagian besar berasal dari peternakan rakyat di lereng gunung, dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang pernah mencatat bahwa sapi banyak dibudidayakan warga di lereng Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing, sementara kambing banyak menjadi andalan peternak di perbukitan Menoreh.
Kambing adalah hewan kedua yang paling ramai diperdagangkan, dan keragaman kambing di Magelang adalah cerita tersendiri. Kabupaten Magelang dikenal sebagai daerah kambing, dengan kambing peranakan etawa yang terkenal sebagai penghasil susu, kambing boer yang dikenal sebagai kambing pedaging, dan kambing jawarandu sebagai kambing lokal yang adaptif, dan ketiganya sudah dibahas tersendiri dalam artikel KabarTidar, antara lain kambing peranakan etawa di Magelang. Bagi pembeli di Pasar Hewan Muntilan, pengetahuan tentang jenis kambing ini sangat membantu, karena harga dan tujuan pemeliharaan berbeda, yaitu kambing perah dibeli untuk susunya, kambing pedaging dibeli untuk bobotnya, dan kambing lokal dibeli karena ketahanan dan harganya yang lebih terjangkau.
Kerbau menempati posisi yang lebih khusus. Jumlahnya tidak sebanyak sapi dan kambing, tetapi kerbau tetap diperdagangkan, terutama untuk kebutuhan pertanian dan kurban, dan pembelinya cenderung lebih spesifik. Selain tiga hewan besar itu, pasar ini juga memperdagangkan unggas dan hewan kecil, dari ayam hias dan ayam petarung sampai kelinci dan marmut, serta burung kicau yang punya pasar penghobi sendiri. Keragaman ini membuat Pasar Hewan Muntilan menjadi semacam etalase peternakan rakyat Magelang, tempat hampir semua hewan yang dipelihara warga bisa ditemui dalam satu kawasan.
Perlu dicatat pula bahwa tidak semua hewan yang diperdagangkan berada dalam kondisi yang sama. Ada hewan gemuk yang siap potong, ada hewan muda yang masih dalam masa pertumbuhan, ada hewan betina bunting yang nilainya dihitung dari anak yang dikandungnya, dan ada hewan untuk dipelihara jangka panjang. Pembeli yang cermat selalu memeriksa kondisi hewan secara langsung, mulai dari mata yang jernih, bulu yang tidak kusam, gerakan yang lincah, sampai kotoran dan nafsu makan, dan tidak ragu bertanya tentang umur, riwayat kesehatan, dan asal hewan. Pemeriksaan semacam ini adalah bagian normal dari transaksi ternak, dan pedagang yang jujur tidak akan keberatan.
Siapa yang Berjual Beli di Pasar Hewan Muntilan
Pelaku utama Pasar Hewan Muntilan adalah peternak rakyat, pedagang ternak, dan pembeli dari berbagai latar. Peternak datang untuk menjual hewan hasil peliharaannya, baik hewan yang memang diternakkan untuk dijual maupun hewan yang dijual karena kebutuhan mendesak, misalnya kebutuhan biaya sekolah, hajatan, atau modal usaha. Pedagang ternak datang sebagai perantara, membeli dari peternak, lalu menjual kembali kepada pembeli akhir atau kepada pedagang lain, dan pedagang yang sudah berpengalaman biasanya punya jaringan yang luas, dari desa-desa di Magelang sampai kota-kota di luar daerah.
Pembeli di pasar hewan juga beragam. Ada petani yang membeli sapi atau kambing untuk dipelihara dan digemukkan, ada jagal dan pedagang daging yang membeli hewan potong, ada panitia kurban dan pekurban perorangan yang membeli hewan menjelang Idul Adha, ada penghobi burung dan ayam yang membeli untuk koleksi dan lomba, dan ada keluarga yang membeli kelinci atau marmut untuk dipelihara anak. Keragaman pembeli ini menjelaskan mengapa harga di pasar hewan tidak bisa dipukul rata, karena satu ekor kambing bisa bernilai berbeda bagi petani, jagal, dan pekurban, tergantung tujuan masing-masing.
Di luar pelaku utama, pasar hewan juga menghidupi banyak pekerjaan penunjang. Ada pengangkut yang membantu memuat dan menurunkan hewan, ada penyedia pakan dan tali, ada pedagang makanan dan minuman yang melayani pedagang dan pembeli yang sudah berjam-jam di pasar, ada tukang parkir dan pengatur lalu lintas dadakan pada hari Kliwon, dan ada petugas pasar serta petugas kesehatan hewan yang memastikan perdagangan berjalan tertib. Ekonomi pasar hewan, dengan kata lain, tidak hanya berputar di antara penjual dan pembeli ternak, melainkan menyebar ke banyak tangan di sekitarnya.
Hubungan antara pedagang dan pembeli di pasar hewan sering kali berlangsung lama. Pedagang hafal pembeli tetapnya, pembeli hafal pedagang yang hewannya bisa dipercaya, dan dari hubungan yang berulang itulah kepercayaan tumbuh. Kepercayaan ini penting, karena hewan hidup tidak bisa dinilai hanya dari foto atau keterangan lisan, dan pembeli yang sudah percaya kepada satu pedagang cenderung kembali, meskipun harga di lapak lain sedikit lebih murah. Bagi pendatang baru, membangun kepercayaan semacam ini membutuhkan waktu, dan cara terbaik memulainya adalah datang beberapa kali, bertanya dengan sopan, dan membeli dalam jumlah kecil lebih dulu.
Bagaimana Harga Terbentuk: Tawar-Menawar dan Musim
Harga di Pasar Hewan Muntilan tidak dipasang pada label seperti di toko, melainkan terbentuk lewat tawar-menawar antara penjual dan pembeli, dan tawar-menawar itu dipengaruhi oleh banyak hal sekaligus. Kondisi hewan adalah faktor pertama, yaitu umur, bobot, jenis kelamin, kesehatan, dan bentuk tubuh. Hewan yang gemuk, sehat, dan bertubuh proporsional dihargai lebih tinggi daripada hewan yang kurus atau tampak lesu. Faktor kedua adalah jenis dan bibitnya, karena kambing peranakan etawa, kambing boer, dan kambing lokal punya pasar dan harga yang berbeda, dan sapi dengan bibit unggul dihargai lebih tinggi daripada sapi biasa. Faktor ketiga adalah musim dan momentum, dan faktor keempat adalah biaya angkut, karena hewan yang harus dikirim jauh membutuhkan biaya kirim yang disesuaikan dengan jarak alamat tujuan, sebagaimana dicatat dalam laporan tentang penjualan hewan kurban di Muntilan pada masa pandemi.
Musim paling menentukan harga adalah musim menjelang Idul Adha. Pada masa itu, permintaan hewan kurban melonjak, dan harga hewan yang memenuhi syarat kurban ikut naik. Laporan BeritaMagelang dari masa pandemi mencatat bahwa harga hewan kurban di Pasar Hewan Muntilan sempat melambung sehari menjelang Idul Adha, dengan kambing dan domba mengalami kenaikan antara 20 sampai 30 persen per ekor, dan hewan kurban siap potong dijual dengan kisaran harga 1,5 juta rupiah per ekor pada masa itu. Angka-angka itu adalah gambaran dari masa pandemi, bukan harga yang berlaku hari ini, dan pembaca tidak boleh memakainya sebagai patokan harga sekarang, tetapi pola yang ditunjukkannya tetap berlaku, yaitu harga naik menjelang Idul Adha dan menyesuaikan diri setelahnya.
Penyesuaian setelah Idul Adha juga dicatat Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang dalam laporan Juli 2025. Pedagang ternak mengaku kondisi pasar pasca Idul Adha mengalami penyesuaian, dengan ternak gemuk yang sebelumnya diburu untuk keperluan kurban mengalami penurunan harga, sementara ternak untuk keperluan pertanian masih mempertahankan harga yang stabil. Seorang pedagang yang dikutip dalam laporan itu menyatakannya dengan sederhana, yaitu setelah Idul Adha, harga ternak gemuk biasanya turun, tetapi untuk hewan yang dipelihara petani harganya masih mahal. Pola ini penting dipahami pembeli, karena membeli hewan gemuk sesudah Idul Adha bisa lebih murah, sementara membeli hewan bibit pada musim apa pun cenderung stabil.
Bagi pembeli pertama, beberapa patokan praktis bisa membantu. Pertama, bandingkan harga di beberapa lapak sebelum memutuskan, karena selisih harga antarlapak pada hari yang sama bisa cukup besar. Kedua, perhatikan bobot dan kondisi, bukan hanya harga nominal, karena hewan murah yang kurus bisa lebih mahal pada akhirnya setelah biaya pakan dan pengobatan. Ketiga, sepakati harga dan biaya kirim secara terpisah dan jelas, karena biaya kirim yang tidak disepakati di awal sering menjadi sumber perselisihan. Keempat, jika membeli untuk kurban, pastikan hewan memenuhi syarat, yaitu sehat, tidak cacat, dan cukup umur, dan mintalah keterangan dari pedagang serta, jika perlu, dari petugas kesehatan hewan yang bertugas di pasar.
Pengawasan Kesehatan Hewan: dari Pintu Masuk sampai Lapak
Perdagangan hewan hidup tidak bisa dilepaskan dari pengawasan kesehatan, dan Pasar Hewan Muntilan punya sistem pengawasan yang dijalankan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah Pasar Hewan. Dalam laporan 2 Juli 2025, Kepala UPTD Pasar Hewan menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem pemeriksaan berlapis mulai dari pintu masuk hingga di lapak pedagang. Pelayanan kesehatan yang disediakan mencakup pengecekan kebuntingan, pemberian vitamin, dan penimbangan ternak. Pada momen tertentu, petugas juga melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh area pasar serta memberikan pengobatan gratis.
Pengawasan berlapis ini penting karena pasar hewan adalah tempat hewan dari banyak daerah berkumpul, dan penyakit bisa menyebar cepat jika tidak diawasi. Laporan yang sama mencatat tantangan yang dihadapi petugas, terutama dari ternak yang berasal dari luar kota, karena masa inkubasi penyakit yang tidak menunjukkan gejala awal menjadi kendala utama dalam deteksi dini. Dengan kata lain, hewan yang tampak sehat belum tentu bebas penyakit, dan karena itu pemeriksaan tidak bisa hanya mengandalkan pandangan mata, melainkan juga riwayat asal hewan dan pemeriksaan berkala.
Pedagang di pasar ini juga menyampaikan harapan yang jelas, yaitu perbaikan fasilitas pasar terus ditingkatkan, terutama aspek kebersihan dan penambahan pohon peneduh. Seorang pedagang yang dikutip dalam laporan itu mengingatkan bahwa kebersihan di pasar hewan perlu ditingkatkan terus, karena kebersihan menjadi salah satu faktor munculnya penyakit, dan pasar bisa menjadi awal munculnya penyakit jika tidak dijaga kebersihannya. Dinas Peternakan dan Perikanan merespons dengan komitmen untuk terus mengusulkan revitalisasi dan peningkatan fasilitas pasar, serta edukasi kepada pedagang agar selalu membawa ternak yang sehat ke pasar.
Bagi pembeli, keberadaan petugas kesehatan hewan di pasar adalah fasilitas yang sebaiknya dimanfaatkan. Pembeli bisa bertanya kepada petugas tentang ciri hewan sehat, meminta pendapat tentang hewan yang hendak dibeli, dan melaporkan hewan yang tampak sakit. Pembeli juga sebaiknya memperhatikan kebersihan kandang dan lapak, karena lapak yang bersih dan hewan yang terawat biasanya menandakan pedagang yang peduli terhadap hewannya. Jika membeli hewan untuk dipelihara di rumah, pisahkan hewan baru dari hewan lama selama beberapa hari dan perhatikan nafsu makan serta kotorannya, sebagai langkah pencegahan yang sederhana tetapi penting.
Pasar Hewan Muntilan sebagai Pemasok Regional
Pasar Hewan Muntilan bukan hanya pasar lokal, melainkan juga pemasok hewan ternak bagi wilayah yang lebih luas. Laporan BeritaMagelang dari masa pandemi mencatat bahwa pasar hewan Muntilan merupakan pemasok besar hewan ternak di sejumlah kota besar di Jawa Tengah dan Jawa Barat, dan pedagang serta pesanan dari luar daerah menjadi bagian dari kehidupan pasar, meskipun pada masa pandemi jumlahnya sempat berkurang. Peran regional ini masuk akal jika melihat letak Muntilan, yaitu di jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, dan Semarang, dengan jangkauan ke berbagai arah, serta didukung oleh basis peternakan rakyat di lereng Merapi, Merbabu, Sumbing, dan perbukitan Menoreh.
Peran pemasok ini juga menjelaskan mengapa pasar hewan Muntilan ramai oleh pembeli dari luar daerah pada hari Kliwon. Pembeli dari luar daerah datang bukan hanya untuk satu atau dua ekor, melainkan juga untuk memilih hewan dalam jumlah lebih besar, baik untuk dijual kembali, untuk kebutuhan kurban kolektif, maupun untuk penggemukan. Bagi peternak Magelang, kehadiran pembeli luar daerah adalah kabar baik, karena pasar yang lebih luas berarti harga yang lebih kompetitif dan hewan yang lebih cepat terserap. Bagi pembeli lokal, kehadiran pembeli luar daerah berarti persaingan yang lebih ketat, terutama pada musim kurban, ketika hewan terbaik diperebutkan banyak pihak.
Peran regional ini juga membuat pasar hewan Muntilan menjadi barometer ekonomi peternakan di Magelang. Ketika harga di Muntilan naik, peternak di desa-desa sekitar ikut merasakan, dan ketika pasar sepi, peternak juga merasakan. Karena itu, kabar dari pasar hewan, misalnya harga yang naik menjelang Idul Adha atau sepi setelahnya, bukan sekadar kabar pasar, melainkan kabar tentang penghasilan banyak keluarga peternak. Pemahaman ini penting, karena pasar hewan sering hanya dilihat sebagai tempat transaksi, padahal ia adalah simpul yang menghubungkan peternak, pedagang, jagal, pekurban, dan konsumen daging dalam satu rantai.
Musim Kurban: Pasar Hewan Muntilan pada Saat Paling Sibuk
Musim kurban adalah musim paling sibuk bagi Pasar Hewan Muntilan. Pada minggu-minggu menjelang Idul Adha, jumlah hewan yang masuk pasar bertambah, jumlah pembeli bertambah, dan harga hewan yang memenuhi syarat kurban naik. Pekurban datang dengan berbagai cara, ada yang datang sendiri untuk memilih hewan, ada yang datang bersama panitia kurban masjid atau lembaga, dan ada yang membeli lewat pedagang langganan yang sudah dipercaya. Pada masa pandemi, pola pembelian sempat bergeser, dengan pembeli yang memilih hewan berdasarkan foto dari pedagang lewat aplikasi pesan, lengkap dengan label harga dan kualifikasi hewan, sebagaimana dicatat BeritaMagelang. Pola daring itu lahir sebagai adaptasi darurat, dan meskipun perdagangan tatap muka kembali dominan setelah pandemi, pengalaman itu menunjukkan bahwa pasar hewan bisa beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan esensinya.
Pada musim kurban, kualitas dan kuantitas hewan kurban di Kabupaten Magelang relatif aman dan tercukupi, menurut catatan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang yang dikutip BeritaMagelang. Potensi hewan ternak tersebar di lereng-lereng gunung, dengan kambing banyak menjadi andalan peternak di perbukitan Menoreh, dan sapi banyak dibudidayakan warga di lereng Merapi, Merbabu, dan Sumbing. Gambaran ini memberi rasa aman bagi pekurban, karena pasokan tidak bergantung pada satu daerah saja, melainkan tersebar di banyak lereng dan perbukitan di sekitar Magelang.
Magelang juga pernah menjadi sorotan nasional dalam urusan kurban, ketika seekor sapi limousin seberat hampir satu ton milik peternak asal Dukun dibeli Presiden Prabowo Subianto sebagai hewan kurban pada Idul Adha 2025 dengan harga Rp95 juta, setelah melewati seleksi ketat Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang. Kisah itu bukan kisah Pasar Hewan Muntilan secara langsung, karena sapinya berasal dari peternak di Dukun dan diseleksi lewat jalur resmi, tetapi kisah itu menunjukkan standar yang berlaku, yaitu hewan kurban yang baik harus sehat, berbobot besar, jinak, dan mudah dikendalikan, serta melewati pemeriksaan petugas. Standar yang sama, dalam skala yang lebih sederhana, berlaku bagi setiap pekurban yang memilih hewan di pasar hewan.
Bagi pekurban yang membeli di Pasar Hewan Muntilan, beberapa langkah praktis bisa diikuti. Pertama, datanglah lebih awal, jangan sehari sebelum Idul Adha, karena pilihan terbaik sudah banyak yang terjual dan harga berada di puncaknya. Kedua, periksa syarat kurban, yaitu hewan sehat, tidak cacat, dan cukup umur, dan mintalah penjelasan pedagang jika ada keraguan. Ketiga, sepakati harga, biaya kirim, dan waktu pengiriman secara tertulis atau setidaknya secara jelas di hadapan saksi, karena hewan kurban sering dikirim ke lokasi penyembelihan yang berbeda. Keempat, simpan bukti transaksi dan keterangan hewan, karena dokumen itu berguna jika terjadi perselisihan atau jika panitia kurban membutuhkannya.
Panduan Membeli dan Berkunjung ke Pasar Hewan Muntilan
Pengunjung yang datang ke Pasar Hewan Muntilan sebaiknya membedakan dua tujuan, yaitu membeli dan sekadar melihat, karena persiapan keduanya berbeda. Pembeli sebaiknya datang dengan rencana yang jelas, yaitu jenis hewan yang dicari, anggaran, tujuan pemeliharaan, dan kendaraan pengangkut. Pembeli yang datang tanpa rencana mudah tergoda hewan yang murah tetapi tidak sesuai kebutuhan, dan penyesalan semacam itu mahal harganya, karena hewan hidup tidak bisa dikembalikan seperti barang toko. Pengunjung yang sekadar melihat sebaiknya datang dengan sikap menghormati, yaitu tidak mengganggu transaksi, tidak memberi makan hewan tanpa izin, dan tidak memotret pedagang atau pembeli dari dekat tanpa izin.
Beberapa perlengkapan sederhana bisa membuat kunjungan lebih nyaman. Pakailah sepatu yang mudah dibersihkan, karena lantai pasar hewan bisa basah dan berlumpur, dan pakailah pakaian yang tidak terlalu bagus, karena debu dan kotoran hewan adalah bagian dari pasar. Bawalah air minum, karena berkeliling pasar pada hari Kliwon bisa memakan waktu berjam-jam, dan bawalah uang tunai dalam pecahan yang sesuai, karena transaksi ternak pada umumnya dilakukan secara tunai. Jika membawa anak, peganglah tangan mereka dan jauhkan dari hewan besar, karena sapi dan kerbau bisa bergerak tiba-tiba dan membahayakan anak yang berdiri terlalu dekat.
Dari sisi etika, pasar hewan adalah tempat kerja, bukan tempat wisata yang ditata untuk hiburan. Hewan-hewan di sana adalah barang dagangan sekaligus makhluk hidup, dan perlakuan yang baik terhadap hewan adalah bagian dari etika pasar. Pengunjung tidak perlu memberi makan hewan, tidak perlu menakut-nakuti hewan, dan tidak perlu memaksa hewan berdiri atau bergerak untuk foto. Pedagang yang merawat hewannya dengan baik layak dihargai, dan pembeli yang memperlakukan hewan dengan tenang cenderung mendapat pelayanan yang lebih baik pula.
Terakhir, pasar hewan juga bisa menjadi awal untuk mengenal peternakan Magelang lebih jauh. Pembeli kambing yang puas dengan hewan dari Muntilan bisa menelusuri lebih lanjut tentang jenis kambing yang dibelinya, pedagang yang sudah dipercaya bisa menjadi pintu untuk mengenal peternak di desa-desa sekitar, dan pengunjung yang tertarik pada dunia ternak bisa melanjutkan dengan mengunjungi peternakan rakyat di lereng Merapi dan Menoreh. Pasar hewan, dengan kata lain, bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk ke ekonomi peternakan yang jauh lebih luas.
Sebagai penutup, Pasar Hewan Muntilan layak dipahami sebagai salah satu simpul ekonomi terpenting di selatan Kabupaten Magelang, tempat peternak rakyat bertemu pembeli dari berbagai daerah, tempat harga ternak terbentuk lewat tawar-menawar yang jujur, dan tempat kesehatan hewan dijaga lewat pemeriksaan berlapis. Datang pada hari Kliwon, berjalan satu putaran penuh sebelum membeli, memeriksa hewan dengan teliti, dan menyepakati harga serta biaya kirim sejak awal adalah empat langkah sederhana yang membuat kunjungan ke pasar ini bermanfaat, baik bagi pembeli yang mencari hewan terbaik maupun bagi pengunjung yang sekadar ingin melihat denyut perdagangan ternak Magelang dari dekat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Pasar Hewan Muntilan paling ramai? Pada hari pasaran Kliwon, yang berputar setiap lima hari dalam kalender Jawa. Pada November 2026, hari Kliwon jatuh pada tanggal 4, 9, 14, 19, 24, dan 29, tetapi untuk bulan lain sebaiknya periksa kalender Jawa terbaru.
Hewan apa saja yang dijual di Pasar Hewan Muntilan? Sapi mendominasi, disusul kambing dan kerbau, ditambah blok burung kicau, ayam hias, ayam petarung, kelinci, dan marmut, serta lapak penunjang seperti pakaian bekas dan buah musiman.
Apakah Pasar Hewan Muntilan sama dengan Pasar Muntilan? Tidak. Pasar Muntilan adalah pasar umum harian yang menjual kebutuhan rumah tangga, sedangkan Pasar Hewan Muntilan adalah pasar khusus ternak yang puncaknya pada hari Kliwon.
Bagaimana cara memastikan hewan yang dibeli sehat? Periksa mata, bulu, gerakan, nafsu makan, dan kotoran hewan, tanyakan umur dan asal hewan kepada pedagang, dan manfaatkan petugas kesehatan hewan yang bertugas di pasar untuk pendapat kedua.
Apakah harga hewan di Pasar Hewan Muntilan bisa ditawar? Bisa, karena harga terbentuk lewat tawar-menawar. Bandingkan harga di beberapa lapak, perhatikan bobot dan kondisi hewan, dan sepakati harga serta biaya kirim secara jelas sebelum transaksi ditutup.


