Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Kambing Peranakan Etawa, Primadona Ternak Perah
Ekonomi

Kambing Peranakan Etawa, Primadona Ternak Perah

Telinga panjang yang terkulai dan muka cembung adalah penanda kambing Peranakan Etawa, ras dwiguna yang menghasilkan susu sekaligus daging. Artikel ini mengulas asal, ciri, produksi susu, dan cara memeliharanya, termasuk alasan peternak Magelang memilihnya.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 13.28 WIB
Kambing Peranakan Etawa bertelinga panjang di kandang peternak Magelang
Ilustrasi kambing Peranakan Etawa bertelinga panjang yang sedang diperah di kandang panggung. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Kambing Peranakan Etawa adalah salah satu ternak yang paling mudah dikenali di Jawa, dan di Kabupaten Magelang hewan ini sudah lama menjadi primadona ternak perah. Telinganya panjang dan terkulai, profil mukanya cembung, dan tubuhnya besar untuk ukuran kambing lokal. Di balik penampilannya yang khas, kambing Peranakan Etawa menyimpan kombinasi yang dicari banyak peternak, yaitu bisa menghasilkan susu, bisa menghasilkan daging, bisa dipelihara di lahan yang tidak luas, dan bisa beradaptasi dengan iklim Indonesia. Artikel ini mengulas ras tersebut dari asal usulnya, ciri fisiknya, produksi susunya, cara memeliharanya, hingga alasan mengapa peternak di Magelang memilihnya.

Kabupaten Magelang sendiri punya cerita yang kuat tentang kambing perah. Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo, yang diberitakan KabarTidar dalam artikel PPKP Rojo Koyo Utomo, menghimpun peternak kambing perah di wilayah ini dan menjadi bukti bahwa ternak perah bukan sekadar usaha sampingan, melainkan kegiatan yang diorganisasikan secara bersama. Artikel tentang kambing Peranakan Etawa ini melengkapi cerita itu, karena ras inilah yang menjadi tulang punggung usaha kambing perah di banyak kandang, termasuk di Magelang.

Asal Usul kambing Peranakan Etawa dari India hingga Jawa Tengah

Kambing Peranakan Etawa, yang biasa disingkat PE, adalah hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing lokal Indonesia. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, unit di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa kambing Etawa berasal dari India dan biasa disebut kambing Jamnapari. Nama Etawa sendiri berasal dari nama daerah Etawah di Uttar Pradesh, India. Kambing Etawa ini kemudian dibawa ke Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, dan pertama kali berkembang biak di Jawa Tengah sebelum dikawinkan dengan kambing lokal. Hasil persilangan itulah yang dikenal sebagai kambing Peranakan Etawa.

Persilangan yang menghasilkan PE dilakukan dengan cara grading up, yaitu mengawinkan kambing Etawa jantan dengan kambing Kacang betina secara berulang hingga diperoleh keturunan yang penampilannya mirip Etawa tetapi lebih kecil dan lebih adaptif terhadap lingkungan lokal. Penjelasan ini muncul konsisten di berbagai tinjauan pustaka perguruan tinggi, termasuk skripsi Universitas Lampung yang mengutip literatur peternakan. Artinya, PE bukan ras yang datang begitu saja dari luar, melainkan ras hasil adaptasi, yaitu warisan genetik Etawa yang sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia selama bergenerasi-generasi.

Perbedaan antara Etawa murni dan PE penting dipahami oleh calon peternak. Menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, kambing Etawa beratnya bisa mencapai 90 kilogram dengan produksi susu bisa mencapai 4 sampai 5 liter per hari, sedangkan kambing PE beratnya bisa mencapai 90 kilogram dengan produksi susu sekitar 1 sampai 2 liter per hari. Angka untuk Etawa murni itu menunjukkan potensi genetik induknya, sementara angka PE menunjukkan hasil nyata setelah adaptasi di lapangan. Perbandingan ini juga menjadi pengingat bahwa klaim produksi susu yang terlalu tinggi untuk PE perlu diperiksa sumbernya, karena angka di lapangan sangat dipengaruhi pakan, manajemen, dan kondisi pemeliharaan.

Dari Jawa Tengah, kambing PE kemudian tersebar ke seluruh Indonesia. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari mencatat bahwa saat ini PE sudah mulai tersebar di seluruh Indonesia, dan di pedesaan peternak kambing PE skala usahanya masih kecil, dengan pemeliharaan rata-rata 2 sampai 4 ekor, dan baru sebagian kecil peternak yang memelihara PE dengan pola agribisnis. Gambaran ini cocok dengan wajah peternakan rakyat di Magelang, yaitu usaha keluarga yang dimulai dari beberapa ekor, di kandang belakang rumah atau di lahan pekarangan, lalu berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan pasar.

Sejarah PE yang berakar di Jawa Tengah juga menjelaskan mengapa ras ini terasa dekat dengan budaya ternak Jawa. Dalam tradisi Jawa, ternak disebut rojo koyo, yang berarti raja kekayaan, karena ternak berfungsi sebagai tabungan keluarga yang bisa dijual saat dibutuhkan. Sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang PPKP Rojo Koyo Utomo, makna itu masih hidup hingga kini, dan kambing PE adalah salah satu wujud paling nyata dari tabungan berjalan tersebut, karena nilainya tidak hanya pada harga jual ternaknya, tetapi juga pada susu yang dihasilkannya setiap hari selama masa laktasi.

Ciri Fisik kambing Peranakan Etawa yang Mudah Dikenali

Ciri paling mencolok dari kambing PE adalah telinganya yang panjang, lembek, menggantung, dan ujungnya agak berlipat. Ciri ini disebutkan secara konsisten dalam berbagai literatur, dari Subandriyo pada tahun 1995 yang dikutip banyak skripsi, hingga panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari yang menggambarkannya sebagai telinga panjang yang berlipat ke depan, lembut, dan menjuntai ke bawah. Telinga inilah yang membuat PE hampir tidak mungkin tertukar dengan kambing Kacang yang bertelinga pendek dan tegak.

Ciri kedua adalah profil muka yang cembung dan melengkung, dengan dahi dan hidung yang menonjol ke depan, serta dagu yang berjanggut. Di bawah leher terdapat gelambir yang tumbuh berawal dari sudut janggut. Pada calon pejantan yang baik, gelambir ini diharapkan panjang dan lebar. Kombinasi muka cembung, janggut, dan gelambir memberi PE wajah yang sangat khas, dan peternak berpengalaman biasanya bisa menilai kualitas seekor PE hanya dari keserasian ciri-ciri wajah ini.

Tubuh PE digambarkan tinggi, pipih, dan panjang, dengan garis punggung yang seolah mengombak ke belakang. Bulu tubuhnya tampak panjang di bagian leher, pundak, punggung, dan paha, dengan bulu paha yang panjang dan tebal. Pada calon induk yang baik, bulu diharapkan bersih dan mengkilat, dengan bulu bagian paha belakang yang panjang. Ekornya melengkung ke atas, dan tanduknya berdiri tegak mengarah ke belakang dengan ujung yang sedikit melingkar, meskipun pada sebagian literatur tanduk PE juga digambarkan pendek. Perbedaan penggambaran tanduk ini wajar, karena PE adalah hasil persilangan dan variasinya cukup lebar.

Warna bulu PE bervariasi, dan variasinya justru menjadi salah satu penanda ras ini. Menurut tinjauan pustaka Universitas Lampung, warna bulu PE ada yang tunggal putih, hitam, dan coklat, tetapi jarang ditemukan, dan kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat, dan putih bertotol hitam. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menambahkan pandangan peternak di Jawa Tengah, yang berpendapat bahwa kambing PE asli adalah kambing dengan warna kepala hitam dan tubuh berwarna putih. Pandangan ini bersifat pendapat peternak setempat, bukan standar resmi yang tunggal, tetapi berguna sebagai patokan awal bagi pembeli bibit.

Satu ciri yang sangat penting bagi usaha perah adalah bentuk ambing. Pada kambing PE betina, ambing digambarkan seperti botol terbalik, dan pada calon induk yang baik ambing diharapkan simetris, besar, dan berbentuk botol terbalik. Ambing yang simetris dan besar berkaitan dengan kapasitas produksi susu, meskipun produksi nyata tetap ditentukan oleh pakan, kesehatan, dan manajemen pemerahan. Calon induk yang baik juga diharapkan memiliki tubuh yang kompak, panjang badan 80 sampai 85 sentimeter, tinggi minimal 75 sentimeter pada usia satu tahun, gigi lengkap sesuai tahap pertumbuhan, status reproduksi normal, dan tidak cacat.

Calon pejantan yang baik memiliki standar yang sedikit berbeda, yaitu tubuh besar dengan panjang badan 85 sampai 95 sentimeter, tinggi minimal 85 sentimeter pada usia 1,5 tahun, telinga panjang berlipat ke depan dan menjuntai ke bawah, gelambir panjang dan lebar, ekor melengkung ke atas, bulu paha panjang, bulu bersih dan mengkilat, keturunan kembar, gigi lengkap sesuai masa pertumbuhan, status reproduksi normal dan libido tinggi, hidung dan dahi cembung, serta skrotum besar, simetris, dan turun ke bawah atau berbentuk huruf W. Daftar ini mungkin terdengar rinci, tetapi bagi peternak daftar semacam inilah yang membedakan pembelian bibit yang terencana dengan pembelian yang sekadar berdasarkan harga murah.

Produksi Susu kambing Peranakan Etawa dan Kandungan Gizinya

Kambing PE digolongkan sebagai kambing tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil susu dan penghasil daging. Untuk betina, hasil utamanya adalah susu, sedangkan untuk pejantan, nilai utamanya adalah sebagai pedaging dan pemacek. Penggolongan dwiguna ini menjelaskan mengapa PE begitu disukai peternak rakyat, karena satu jenis ternak bisa memberi dua sumber penghasilan yang saling melengkapi. Induk yang sudah tidak produktif susunya masih memiliki nilai daging, dan anak jantan yang lahir dari induk perah bisa dibesarkan sebagai calon pedaging atau pejantan.

Angka produksi susu PE bervariasi menurut sumbernya, dan variasi itu sendiri adalah informasi yang penting. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut produksi susu PE sekitar 1 sampai 2 liter per hari. Skripsi Universitas Lampung yang mengutip Sutama dan kawan-kawan pada tahun 2011 menyebut produksi susu PE masih rendah, yaitu 1,2 sampai 2,5 liter per hari, tetapi dengan pengelolaan pakan yang baik dapat meningkat menjadi berkisar 2 sampai 3 liter per hari. Sumber lain yang dikutip dalam tinjauan pustaka yang sama menyebut angka yang lebih rendah, yaitu 0,5 sampai 0,7 liter per ekor per hari menurut Mileski dan Myers pada tahun 2004, dan 0,99 kilogram per ekor per hari dengan lama laktasi 170,07 hari menurut Attabany dan kawan-kawan pada tahun 2001. Sementara itu, tabel kinerja produksi pada kondisi stasiun percobaan yang bersumber dari Balai Penelitian Ternak pada tahun 1997 menyebut produksi susu harian 1,5 sampai 3,7 kilogram dengan masa laktasi 7 sampai 10 bulan.

Perbedaan angka-angka itu bukan pertanda ada sumber yang berbohong, melainkan cerminan dari kondisi yang berbeda. Produksi di stasiun percobaan dengan pakan terkontrol dan manajemen ketat tentu berbeda dengan produksi di kandang rakyat dengan pakan seadanya. Masa laktasi pun bervariasi, dari sekitar 5 sampai 6 bulan menurut literatur yang dikutip Universitas Lampung, hingga 7 sampai 10 bulan pada kondisi stasiun percobaan. Bagi calon peternak, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan membeli bibit hanya karena dijanjikan angka produksi tertinggi, melainkan periksa pakan, kesehatan, dan catatan produksi induknya, karena angka tertinggi hanya tercapai bila seluruh faktor pendukungnya terpenuhi.

Dari sisi gizi, susu kambing PE memiliki komposisi yang membuat banyak orang mengonsumsinya untuk tujuan kesehatan. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut susu kambing PE dipercaya banyak khasiatnya untuk kesehatan karena memiliki nilai gizi yang tinggi, sehingga banyak orang mengonsumsi susu kambing PE untuk tujuan kesehatan. Skripsi Universitas Lampung yang mengutip Badan Standardisasi Nasional menyebut komposisi susu kambing PE terdiri atas kadar protein 3,6 persen, lemak 6,17 persen, bahan kering 15,49 persen, dan bahan kering tanpa lemak 9,32 persen. Perbandingan komposisi susu kambing dengan susu sapi yang dikutip dari Balai Penelitian Veteriner pada tahun 2008 dalam skripsi yang sama menunjukkan protein susu kambing 3,6 gram berbanding 3,3 gram pada susu sapi per 100 gram, lemak 4,2 gram berbanding 3,3 gram, kalsium 134 berbanding 119, dan vitamin A 185 IU berbanding 126 IU.

Sifat fisik susu kambing juga sering disebut sebagai keunggulan. Ukuran butiran lemak susu kambing yang lebih kecil membuat lemaknya lebih tersebar dan homogen, sehingga lebih mudah dicerna oleh organ pencernaan manusia. Protein susu kambing disebut lebih mudah larut, lebih mudah diserap, dan lebih rendah dalam memicu alergi dibandingkan susu sapi. Literatur yang dikutip Universitas Lampung juga menyebut susu kambing aman bagi orang yang alergi susu sapi karena tidak mengandung alfa laktoglobulin yang bersifat alergen, menurut Susanto dan Budiana pada tahun 2005. Klaim-klaim kesehatan semacam ini perlu dibaca dengan bijak, yaitu sebagai sifat umum susu kambing yang dilaporkan literatur, bukan sebagai janji penyembuhan penyakit tertentu. Susu adalah pangan bergizi, bukan obat, dan konsumen dengan kondisi kesehatan khusus tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Harga susu kambing PE juga menjadi daya tarik tersendiri. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut harga susu kambing PE jauh lebih mahal dari harga susu sapi, dan bisa mencapai 4 sampai 8 kali lipat. Selisih harga yang besar ini menjelaskan mengapa usaha kambing perah bisa bertahan meski produksinya per ekor jauh di bawah sapi perah, karena nilai per liternya jauh lebih tinggi. Di sisi lain, harga yang tinggi juga menuntut kualitas yang sepadan, yaitu susu yang bersih, ditangani secara higienis, dan dipasteurisasi atau direbus sebelum dikonsumsi, sesuai anjuran keamanan pangan yang berlaku umum.

Mengapa kambing Peranakan Etawa Dipilih Peternak Magelang

Alasan pertama peternak memilih PE adalah kemampuan adaptasinya. Literatur peternakan secara konsisten menyebut PE memiliki daya tahan tubuh dan kemampuan beradaptasi yang baik terhadap lingkungan Indonesia, sehingga tersebar luas di seluruh Indonesia dan mampu bertahan pada lingkungan yang kurang baik. Bagi Magelang yang wilayahnya membentang dari dataran hingga lereng gunung, dengan suhu dan ketersediaan hijauan yang berbeda-beda antar kecamatan, kemampuan adaptasi ini adalah modal yang sangat berharga. Ternak yang mudah stres karena perubahan lingkungan akan sulit berproduksi, sedangkan ternak yang adaptif memberi peternak ruang untuk belajar sambil berjalan.

Alasan kedua adalah kebutuhan lahan yang tidak luas. PE bisa dipelihara dalam skala kecil, dan pola yang paling umum di pedesaan adalah 2 sampai 4 ekor per peternak. Skala ini cocok dengan pekarangan dan lahan sempit di perkampungan, dan cocok pula dengan tenaga kerja keluarga. Peternak tidak harus memiliki padang penggembalaan yang luas, karena pakan bisa dicari, ditanam, atau dibeli dari sekitar. Pola ini juga membuat risiko usaha lebih terkendali, karena kerugian dari satu ekor yang sakit tidak langsung menghancurkan seluruh usaha.

Alasan ketiga adalah fungsi tabungan yang sudah mengakar dalam budaya Jawa. Sebagaimana diuraikan dalam artikel PPKP Rojo Koyo Utomo, ternak dalam tradisi Jawa disebut rojo koyo, raja kekayaan, karena berfungsi sebagai tabungan keluarga. Kambing PE menjalankan fungsi ini dengan sangat baik, karena selain bisa dijual sewaktu-waktu, ia juga menghasilkan susu setiap hari selama masa laktasi dan melahirkan anak yang bisa menjadi tambahan modal. Kombinasi penghasilan harian dari susu dan tabungan jangka panjang dari ternaknya membuat PE terasa seperti rekening yang hidup di kandang.

Alasan keempat adalah keberadaan perkumpulan peternak yang mengorganisasikan usaha ini di Magelang. Sebagaimana diberitakan KabarTidar, PPKP Rojo Koyo Utomo berbasis di Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung. Kehadiran perkumpulan semacam ini menjawab kelemahan klasik peternak kecil, yaitu sulit membeli pakan dengan harga baik sendirian, sulit mendapat pengetahuan terbaru, dan sulit menjangkau pasar yang lebih luas.

Alasan kelima adalah pasar yang masih terbuka luas. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut peluang pasar untuk kambing PE masih terbuka luas, baik susunya maupun kambingnya. Permintaan susu kambing yang didorong oleh kesadaran gizi dan pencarian alternatif susu sapi memberi ruang bagi peternak baru, sementara pasar daging kambing yang memuncak menjelang hari raya kurban memberi jendela panen tahunan yang bisa direncanakan. Dua pasar yang berbeda musim ini membuat usaha PE tidak bergantung pada satu pembeli saja.

Pakan kambing Peranakan Etawa, Kunci Produksi Susu

Tiga prinsip keberhasilan usaha kambing PE menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari adalah ketersediaan pakan, kualitas bibit yang baik, dan manajemen yang baik, dan ketiganya harus saling mendukung. Pakan menempati urutan pertama, karena banyak kegagalan usaha peternakan disebabkan oleh kekurangan pakan. Sebelum mendatangkan kambing, peternak sebaiknya menanam rumput dan leguminosa terlebih dahulu, menghitung produksinya agar seimbang dengan jumlah kambing yang akan dipelihara, dan baru mendatangkan kambing setelah hijauan pakan ternak yang ditanam sudah bisa dipanen.

Pemberian pakan pada kambing PE dalam bentuk segar adalah 10 persen dari bobot badan. Rumput yang baik diberikan kepada PE antara lain rumput setaria, rumput benggala, rumput odot, dan rumput lapang, sedangkan leguminosa yang bisa diberikan antara lain daun gamal, daun lamtoro, daun kelor, daun turi, kaliandra, dan sentrosema. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menambahkan contoh hijauan pokok lain seperti daun nangka, mahoni, dan rumput odot, dengan berat hijauan 10 persen dari bobot kambing, dan air minum 1,5 sampai 2,5 liter tiap ternak per hari dengan campuran garam beryodium. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, dengan porsi sore yang lebih banyak agar pada malam hari kambing PE masih bisa makan.

Pemberian pakan harus bervariasi, karena semakin banyak jenis pakan yang diberikan, semakin lengkap pemenuhan gizi yang dibutuhkan kambing, sehingga pertumbuhan kambing lebih baik. Setiap jenis tanaman memiliki kelebihan dan kekurangan kandungan nutrisi, dan variasi adalah cara termurah untuk melengkapi kekurangan tersebut tanpa harus bergantung pada satu jenis pakan saja. Pemberian leguminosa harus dilayukan terlebih dahulu, yaitu bila diarit hari ini maka baru diberikan keesokan harinya, dengan tujuan menurunkan zat antinutrisi yang terkandung dalam leguminosa sehingga tidak menimbulkan efek terhadap kesehatan kambing.

Ada dua larangan penting dalam pemberian hijauan yang sering dilanggar pemula. Pertama, hijauan pakan ternak tidak boleh diberikan dalam keadaan basah oleh embun pagi, karena bisa mengakibatkan kembung dan cacingan, sebab embun yang menempel pada daun masih terdapat telur cacing. Kedua, pakan tidak boleh diberikan terus menerus tanpa jeda, karena kambing PE adalah hewan pemamah biak yang membutuhkan waktu untuk mengunyah kembali makanan yang sudah masuk ke lambung. Pengambilan nutrisi yang dibutuhkan ternak justru terjadi saat proses memamah biak itu berlangsung, sehingga kambing yang terus makan tanpa jeda bisa terlihat buncit tetapi tidak gemuk.

Untuk meningkatkan produksi, pakan segar bisa ditambahkan konsentrat, dan bila harga konsentrat mahal dapat digantikan dengan dedak atau ampas tahu. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut campuran pakan tambahan bernutrisi berupa konsentrat dan bekatul dengan perbandingan 3 banding 1, atau dengan rincian mudah berupa bekatul 50 persen, bungkil kelapa 25 persen, dan bungkil kacang-kacangan 25 persen. Kambing yang bunting, pejantan pemacek, dan kambing yang menyusui harus diberikan pakan tambahan, karena induk bunting membutuhkan pakan untuk pertumbuhan induk dan janinnya, pejantan membutuhkan kondisi fit agar tetap bisa menjadi pemacek yang baik, dan induk menyusui membutuhkan pakan tambahan agar dapat memproduksi susu dengan maksimal. Namun untuk betina bunting, pakan yang mengandung lemak terlalu banyak tidak boleh diberikan, agar tidak terjadi distokia akibat pertumbuhan janin yang terlalu besar.

Air minum harus selalu tersedia di kandang, dan tempat minum bisa berupa ember, baskom, maupun bambu berukuran besar yang dilubangi bagian atasnya. Sesekali air minum dicampur garam, dan air serta wadah tempat minum harus selalu bersih. Hal yang tampak sepele ini sering menentukan, karena kambing yang kekurangan air akan menurunkan konsumsi pakan dan produksi susunya, sementara wadah minum yang kotor bisa menjadi sumber penyakit.

Kandang kambing Peranakan Etawa dan Perawatan Harian

Kandang kambing PE bisa terbuat dari kayu maupun bambu, dengan atap genteng, asbes, atau daun rumbia, dan harus dibuat kokoh serta nyaman bagi ternak. Kandang harus dapat melindungi kambing dari cuaca ekstrem, baik panas maupun hujan, dan sebaiknya menghadap ke timur sehingga sinar matahari pagi masuk ke dalam kandang. Sinar matahari pagi bermanfaat untuk menambah vitamin D pada kambing dan membuat kandang mudah kering. Kandang harus berbentuk panggung dengan lantai yang tidak rapat, dibuat ada jarak atau celah sehingga kotoran dan urine jatuh ke bawah kandang dengan mudah, tetapi lantai jangan terlalu renggang karena kaki kambing bisa terperosok ke sela-sela lantai dan mengakibatkan kaki pincang atau patah.

Tinggi kandang dari tanah minimal satu meter, dan kandang dibagi atas kandang induk, kandang jantan, kandang dara, dan kandang beranak. Ukuran kandang yang dianjurkan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari adalah 110 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor untuk pejantan, 100 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor untuk induk dan dara, serta 120 sentimeter kali 120 sentimeter per ekor untuk kandang beranak. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menambahkan syarat lokasi, yaitu jarak kandang minimal 10 meter dari rumah, kandang tipe panggung sekitar 0,5 meter agar tidak terkena kotoran, wadah pakan setinggi bahu kambing, pemisahan antara kambing jantan dan betina kecuali bila hendak dikawinkan, serta kandang yang mendapat cukup sinar matahari dan terlindung dari angin malam.

Perawatan ternak mencakup pemberian makan dan minum, pencukuran bulu, pemotongan kuku, membersihkan kandang, dan perawatan lainnya. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut kambing dimandikan sebanyak dua kali dalam sebulan, karena ternak yang tidak pernah dimandikan akan lebih mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Tujuan perawatan adalah mencegah penyakit yang bersarang pada kuku atau bulunya, dan ternak yang bersih akan terlihat lebih sehat dan menarik, sehingga memiliki harga jual yang lebih tinggi. Sanitasi kandang yang rutin adalah fondasi dari semua perawatan ini, karena kandang yang kotor adalah tempat berkembangnya penyakit yang kemudian mengontaminasi susu.

Penjelasan tentang budidaya PE dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari dapat dibaca melalui panduan budidaya kambing PE dari BPTU HPT Pelaihari, sedangkan panduan dari dinas peternakan daerah dapat dibaca melalui panduan mengenal kambing PE dari Disnakkan Grobogan. Kedua panduan ini menjadi rujukan utama bagian pemeliharaan dalam artikel ini, dan keduanya sama-sama menekankan hal yang sama, yaitu keberhasilan beternak PE ditentukan oleh pakan, bibit, kandang, dan kebersihan yang dijalankan setiap hari, bukan oleh satu trik sesaat.

Reproduksi kambing Peranakan Etawa dan Siklus Usaha

Kambing PE bisa beranak tiga kali dalam dua tahun, dan capaian ini memerlukan ketepatan dalam perkawinan sehingga jarak beranak bisa lebih pendek. Kambing PE betina sebaiknya dikawinkan pada usia minimal 10 sampai 12 bulan, sedangkan pejantan pada usia minimal 15 bulan, dengan rasio jantan dan betina 1 banding 10. Siklus birahi pada kambing PE adalah 18 sampai 21 hari, dengan masa bunting sekitar 5 bulan, dan waktu yang tepat untuk mengawinkan adalah pada saat birahi kedua setelah melahirkan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menambahkan gambaran yang sejalan, yaitu kambing etawa mampu melahirkan dua sampai tiga kali dalam waktu dua tahun, dengan sekali masa kehamilan rata-rata melahirkan 1 sampai 3 anak kambing, dan betina bisa dikategorikan cukup dewasa setelah berumur 6 bulan serta siap dikawinkan ketika telah berumur 10 sampai 12 bulan.

Tanda birahi pada betina bisa dikenali dari tingkah lakunya, yaitu terlihat gelisah, nafsu makan dan minum turun, selalu mengibaskan ekornya, sering kencing, serta organ kemaluannya membengkak dan basah. Bila tanda-tanda itu terlihat, peternak harus segera mengawinkan betina, baik dengan cara langsung maupun dengan inseminasi buatan. Lama waktu birahi umumnya sekitar 1 sampai 2 hari, dengan siklus birahi yang berselang selama 2 sampai 3 minggu menurut panduan Grobogan. Pengenalan tanda birahi adalah keterampilan yang membedakan peternak yang siklus usahanya teratur dengan peternak yang jarak beranaknya memanjang tanpa sebab yang jelas.

Untuk menentukan umur kambing PE, peternak bisa melihat pertumbuhan gigi. Gigi yang belum berganti menandakan umur kurang dari satu tahun, satu pasang gigi berganti menandakan umur 1 sampai 1,5 tahun, dua pasang berganti menandakan umur 1,5 sampai 2 tahun, tiga pasang berganti menandakan umur 2 sampai 2,5 tahun, empat pasang berganti menandakan umur 3 sampai 4 tahun, dan gigi tetap yang sudah bergesek menandakan umur 4 tahun. Pengetahuan ini penting saat membeli bibit, karena umur yang diklaim penjual bisa diperiksa secara kasar dari giginya, dan umur menentukan harga serta masa produktif yang tersisa.

Panen kambing PE juga memiliki waktunya sendiri. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut kambing yang siap panen adalah kambing yang sudah menginjak usia dewasa, yakni usia sekitar 8 sampai 12 bulan, dan panen dilakukan setiap tahun. Bila peternak ingin menjual dengan bobot maksimal atau untuk diikutkan kontes, maka umur 1,5 tahun adalah yang paling ideal. Panduan yang sama menyebut harga kambing etawa dewasa adalah 4 sampai 6 juta rupiah tiap ekor, dan mengusahakan masa panen berpapasan dengan Hari Raya Idul Adha agar harga jual menjadi lebih tinggi. Angka harga ini berasal dari panduan Grobogan dan menggambarkan pasar pada konteks panduan tersebut, bukan patokan harga di Magelang saat ini, sehingga peternak Magelang tetap perlu memeriksa harga pasar setempat sebelum menjual.

Penyakit kambing Peranakan Etawa yang Wajib Diwaspadai

Faktor utama untuk mencegah penyakit pada kambing PE adalah kebersihan, baik kebersihan kandang, tempat minum, maupun ternaknya. Penyakit yang sering terjadi pada kambing PE menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari antara lain kembung perut, cacingan, orf, sakit mata, dan scabies. Kembung perut disebabkan oleh terlalu banyak memakan rumput muda atau rumput berembun sehingga menimbulkan penumpukan gas dalam rumen, dengan ciri perut sebelah kiri kelihatan menggembung dan kambing kelihatan kesakitan serta sulit buang kotoran. Cacingan disebabkan oleh penggembalaan pada lahan yang masih berembun pagi serta kandang yang kotor dan becek, dengan ciri bulu kusam dan rontok, kurus, dan perut buncit.

Orf disebabkan oleh virus parapox, dengan ciri terbentuk koreng seperti kutil di sekitar mulut kambing, dan pencegahannya adalah pemisahan kambing yang terkena orf dari kambing yang sehat. Sakit mata disebabkan oleh mata kambing yang terkena amoniak atau tiupan angin saat transportasi, dengan ciri mata bagian putih memerah dan mata bagian hitam memutih. Scabies disebabkan oleh Sarcoptes scabiei, dengan ciri kulit mengeras, gundul, dan berkerak, dan pencegahannya juga pemisahan kambing yang terkena dari kambing yang sehat. Daftar penyakit ini bukan untuk menakut-nakuti calon peternak, melainkan untuk menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit kambing PE berakar pada kebersihan dan manajemen, sehingga sebagian besar pula bisa dicegah dengan kandang yang bersih, pakan yang benar, dan pemisahan ternak yang sakit.

Satu penyakit yang sangat merugikan usaha perah secara khusus adalah mastitis, yaitu peradangan pada ambing. Literatur yang dikutip Universitas Lampung menyebut mastitis sangat merugikan peternak karena kambing perah yang terkena mastitis akan mengalami penurunan produksi susu dan kualitas susu yang dihasilkan juga rendah, selain menambah biaya perawatan dan pengobatan. Kesehatan ambing selama laktasi menjadi sangat penting dalam menunjang produksi dan kualitas susu, sehingga kebersihan saat pemerahan, kebersihan kandang, dan pemantauan ambing setiap hari adalah bagian dari pekerjaan perah, bukan tambahan yang bisa ditunda. Susu dari ternak yang sakit tidak boleh dicampur dengan susu dari ternak yang sehat, dan ternak yang sakit perlu ditangani dengan bantuan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan setempat.

Vaksinasi secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter hewan, pemotongan kuku secara teratur, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala adalah tiga kebiasaan yang melengkapi kebersihan kandang. Program vaksinasi yang dijalankan perkumpulan peternak, seperti yang diberitakan tentang PPKP Rojo Koyo Utomo, menunjukkan bahwa kesehatan ternak bisa dikelola secara bersama-sama dengan biaya yang lebih ringan daripada ditanggung sendiri-sendiri. Bagi peternak pemula di Magelang, bergabung dengan kelompok atau perkumpulan peternak adalah jalan pintas yang sah untuk mendapat akses ke vaksinasi, pengetahuan, dan pasar, tanpa harus mempelajari semuanya dari nol sendirian.

Penutup, kambing Peranakan Etawa sebagai Pilihan yang Masuk Akal

Pada akhirnya, kambing Peranakan Etawa menjadi primadona ternak perah bukan karena satu keunggulan saja, melainkan karena paketnya yang lengkap. Ia mewarisi tubuh besar dan potensi susu dari Etawa, tetapi sudah menyesuaikan diri dengan iklim dan pakan lokal Indonesia. Ia menghasilkan susu bernilai gizi tinggi dengan harga yang jauh di atas susu sapi, sekaligus menghasilkan daging dan anak yang bernilai jual. Ia bisa dipelihara dalam skala kecil dengan lahan yang tidak luas, dan ia memiliki fungsi tabungan yang sudah dipahami budaya Jawa selama bergenerasi-generasi.

Namun paket lengkap itu hanya bekerja bila tiga prinsipnya dijalankan, yaitu pakan yang cukup dan bervariasi, bibit yang baik, dan manajemen yang baik. Peternak yang membeli bibit bagus tetapi memberi pakan seadanya akan kecewa dengan produksi susunya. Peternak yang memberi pakan bagus tetapi mengabaikan kebersihan kandang akan kehilangan produksi karena penyakit. Peternak yang mengurus keduanya tetapi tidak mencatat siklus birahi dan laktasi akan kehilangan keteraturan usaha. Keberhasilan beternak PE adalah keberhasilan mengelola hal-hal dasar secara konsisten, bukan keberhasilan menemukan rahasia yang tersembunyi.

Bagi warga Magelang yang tertarik memulai, langkah paling masuk akal adalah memulai dari skala kecil, memilih bibit dari peternak atau kelompok yang terpercaya, menanam hijauan sebelum mendatangkan ternak, dan menjalin hubungan dengan perkumpulan peternak seperti PPKP Rojo Koyo Utomo yang sudah diberitakan KabarTidar. Dari sanalah pengetahuan praktis tentang pakan, kandang, kesehatan, dan pasar bisa diperoleh sambil berjalan, dan dari sanalah kambing Peranakan Etawa bisa berubah dari sekadar hewan di kandang menjadi usaha keluarga yang bertahan lama.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya