Kandang Kambing yang Baik: Ukuran, Ventilasi, Lantai, dan Letak untuk Peternak Magelang
Sebelum menambah ternak, pastikan kandangnya benar: panggung yang kering, ukuran per ekor yang cukup, udara yang mengalir, dan letak yang tidak mengganggu tetangga.

MAGELANG, KabarTidar. Kandang kambing yang baik menentukan kesehatan ternak, pertumbuhan, produksi susu, dan kemudahan perawatan sehari-hari, sehingga peternak di Magelang perlu merencanakan ukuran, ventilasi, lantai, dan letak kandang sebelum menambah jumlah ternak, bukan sesudah kandang terlanjur penuh dan bermasalah.
Artikel ini adalah panduan kandang kambing yang disusun dari dua panduan peternakan resmi, yaitu panduan budidaya kambing Peranakan Etawa dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, serta panduan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan. Seluruh ukuran dan angka dalam artikel ini berasal dari kedua panduan tersebut, dan setiap angka diberi atribusi kepada panduannya. Bila kedua panduan berbeda, artikel ini menampilkan keduanya dan menjelaskan cara menyikapinya, bukan memilih satu angka secara diam-diam.
Panduan ini berlaku umum untuk kambing peliharaan rakyat, termasuk kambing Peranakan Etawa, kambing Boer, kambing Jawarandu, dan kambing Kacang yang banyak dipelihara di Magelang. Peternak yang memelihara ras tertentu tetap dapat memakai panduan ini sebagai kerangka dasar, lalu menyesuaikan luas dan tinggi tempat pakan dengan ukuran tubuh ras yang dipeliharanya. Penjelasan mengenai ras dapat dibaca dalam artikel tentang kambing Peranakan Etawa Magelang dan artikel tentang kambing Boer Magelang, sedangkan pakan dibahas dalam artikel tentang pakan kambing Magelang.
Mengapa Kandang Kambing Menentukan Hasil Ternak
Kambing adalah ternak yang peka terhadap kelembapan, kotoran yang menumpuk, dan udara yang pengap. Kandang yang lembap dan kotor menjadi tempat berkembangnya penyakit, antara lain kembung, cacingan, dan penyakit kulit, yang disebut dalam panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari sebagai penyakit yang perlu diwaspadai dalam budidaya kambing Peranakan Etawa. Kandang yang kering, bersih, dan berventilasi baik membantu kambing tetap sehat, sehingga pakan yang diberikan benar-benar berubah menjadi pertumbuhan dan produksi, bukan habis untuk melawan penyakit.
Kandang juga menentukan tenaga kerja peternak. Kandang yang lantainya mudah dibersihkan, tempat pakannya mudah dijangkau, dan kotorannya mudah ditampung membuat perawatan harian lebih cepat dan lebih teratur. Sebaliknya, kandang yang lantainya rapat sehingga kotoran menumpuk, atau yang tempat pakannya terlalu rendah sehingga mudah terinjak dan tercemar, akan menambah pekerjaan dan menambah risiko penyakit. Karena itu, kandang yang baik bukan kandang yang paling mahal, melainkan kandang yang paling sesuai dengan kebutuhan kambing dan paling mudah dirawat setiap hari.
Bagi peternak skala kecil di Magelang, panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari mencatat bahwa pemeliharaan kambing Peranakan Etawa di pedesaan umumnya berskala 2 sampai 4 ekor. Angka ini penting sebagai pengingat bahwa kandang tidak perlu dibangun besar sejak awal. Kandang yang dirancang untuk 4 ekor dan dapat diperluas bila jumlah ternak bertambah lebih baik daripada kandang besar yang setengah kosong, lembap, dan sulit dibersihkan. Perluasan bertahap juga memberi peternak kesempatan untuk belajar dari satu musim hujan sebelum menambah beban perawatan.
Kandang Kambing Panggung: Pilihan yang Paling Dianjurkan
Kedua panduan yang dipakai artikel ini sama-sama menganjurkan kandang panggung. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyatakan kandang harus berbentuk panggung dan lantainya tidak rapat, dibuat ada jarak atau celah sehingga kotoran dan urine jatuh ke bawah kandang dengan mudah. Panduan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan juga menyatakan bangunlah kandang tipe panggung agar ternak tidak terkena kotorannya. Kesepakatan kedua panduan ini menjadi dasar yang kuat, yaitu kandang kambing yang baik di Indonesia pada umumnya adalah kandang panggung, bukan kandang yang lantainya menempel langsung pada tanah.
Kandang panggung memiliki tiga keuntungan utama. Pertama, kotoran dan urine jatuh ke bawah sehingga lantai tempat kambing berdiri tetap relatif kering. Kedua, udara dapat mengalir dari bawah dan dari samping sehingga kandang tidak pengap. Ketiga, kotoran yang jatuh ke bawah mudah dikumpulkan sebagai pupuk kandang, yang dapat dipakai untuk kebun atau dijual. Keuntungan ketiga ini menghubungkan kandang dengan usaha tani di sekitarnya, dan menjadi alasan tambahan untuk menyediakan tempat penampungan kotoran di bawah kandang, seperti yang disyaratkan panduan Grobogan.
Perbedaan antara kedua panduan terletak pada tinggi panggung. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyatakan tinggi kandang dari tanah minimal 1 meter. Panduan Grobogan menyatakan kandang panggung sekitar 0,5 meter agar ternak tidak terkena kotoran. Artikel ini menampilkan kedua angka tersebut secara terbuka. Peternak di Magelang yang lahannya rawan becek pada musim hujan, misalnya di dataran rendah atau di lereng yang airnya menggenang, lebih aman mengikuti angka 1 meter, karena ruang bawah yang lebih tinggi memberi aliran udara lebih baik dan memberi ruang untuk menampung kotoran tanpa cepat penuh. Peternak di lahan yang kering dan berdrainase baik dapat memakai panggung sekitar 0,5 meter, dengan catatan kebersihan bawah kandang tetap dijaga setiap hari. Perbedaan ini bukan pertentangan, melainkan rentang pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan.
Bahan kandang dapat berupa kayu maupun bambu, menurut panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, dengan atap genteng, asbes, atau daun rumbia. Syarat utamanya bukan kemewahan bahan, melainkan kandang harus dibuat kokoh dan nyaman bagi ternak, serta mampu melindungi kambing dari cuaca ekstrem, baik panas maupun hujan. Di Magelang, kayu dan bambu mudah diperoleh dan mudah diperbaiki, sehingga peternak dapat membangun kandang panggung yang kokoh tanpa harus memakai bahan pabrikan yang mahal. Yang perlu diperhatikan adalah sambungan dan tiang harus kuat menahan beban kambing yang bergerak bersamaan, terutama pada kandang koloni yang berisi beberapa ekor sekaligus.
Ukuran Kandang Kambing per Ekor
Ukuran adalah bagian yang paling sering ditanyakan peternak pemula, dan bagian yang paling rawan diisi dengan angka karangan. Artikel ini hanya memakai ukuran dari panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, yang membedakan ukuran menurut kelompok ternak. Ukuran untuk pejantan adalah 110 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor. Ukuran untuk induk adalah 100 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor. Ukuran untuk dara adalah 100 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor. Ukuran untuk induk beranak adalah 120 sentimeter kali 120 sentimeter per ekor. Keempat ukuran tersebut berlaku untuk kambing Peranakan Etawa dalam panduan itu, dan dapat dipakai sebagai patokan awal untuk kambing seukuran Etawa.
Perbedaan ukuran tersebut memiliki alasan yang mudah dipahami. Pejantan diberi ruang paling luas karena tubuhnya besar dan gerakannya kuat. Induk dan dara diberi ruang yang sama karena keduanya adalah kambing betina dewasa atau menjelang dewasa yang tidak sedang menyusui anak dalam jumlah banyak. Induk beranak diberi ruang berbentuk bujur sangkar yang lebih lapang pada sisi pendeknya, yaitu 120 sentimeter kali 120 sentimeter, karena induk dan anaknya berbagi satu petak dan anak perlu ruang untuk bergerak tanpa terinjak. Peternak yang memelihara kambing yang ukurannya lebih kecil dari Etawa, seperti kambing Kacang, tetap dapat memakai ukuran ini sebagai batas aman, karena ruang yang sedikit lebih lapang lebih baik daripada ruang yang sempit.
Untuk menghitung luas kandang koloni, peternak dapat mengalikan ukuran per ekor dengan jumlah ekor dalam satu kelompok. Sebagai gambaran hitung, empat ekor induk dengan ukuran 100 sentimeter kali 125 sentimeter memerlukan luas 5 meter persegi bila dihitung dari luas per ekor, yaitu 1,25 meter persegi dikali 4 ekor. Gambaran hitung ini bukan ketentuan baru, melainkan perkalian dari ukuran panduan, dan peternak tetap perlu menambah ruang untuk lorong perawatan, tempat pakan, dan tempat minum di luar luas petak tidur. Kandang koloni yang berisi terlalu banyak ekor dalam satu petak akan membuat kambing berebut pakan, saling menanduk, dan sulit beristirahat, sehingga pembagian kelompok menjadi penting meskipun luas total sudah mencukupi.
Peternak juga perlu membedakan antara kandang individu dan kandang koloni. Kandang individu cocok untuk pejantan, untuk induk yang akan beranak, dan untuk kambing yang sakit dan perlu dipisahkan. Kandang koloni cocok untuk dara dan untuk induk yang tidak sedang beranak, selama jumlah ekor dalam satu petak tidak berlebihan dan kambing dalam satu kelompok memiliki ukuran tubuh yang seimbang. Kambing yang jauh lebih kecil tidak sebaiknya dicampur dengan pejantan besar dalam satu petak, karena risiko terinjak dan kalah berebut pakan menjadi besar.
Lantai, Dinding, dan Atap Kandang Kambing
Lantai panggung harus bercelah, tetapi celahnya tidak boleh terlalu renggang. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari memperingatkan bahwa lantai kandang jangan terlalu renggang karena dapat berakibat kaki kambing terperosok ke sela-sela lantai, dan keadaan ini dapat mengakibatkan kaki kambing pincang atau patah. Peringatan ini sering diabaikan oleh peternak yang membuat celah terlalu lebar dengan alasan kotoran lebih mudah jatuh. Padahal, celah yang terlalu lebar justru menimbulkan kerugian yang lebih besar daripada kotoran yang sedikit tertahan, karena kambing pincang atau patah kaki memerlukan perawatan lama dan kehilangan nilai jualnya.
Peternak dapat menguji lantai sebelum kambing dimasukkan, dengan berjalan di atasnya dan memperhatikan apakah bilah lantai bergoyang, apakah ada bilah yang patah, dan apakah celahnya cukup sempit sehingga ujung kaki tidak masuk. Bilah lantai sebaiknya dipasang melintang dengan jarak yang seragam, dan bilah yang sudah lapuk harus diganti sebelum musim hujan, karena kayu lapuk yang terkena air akan semakin rapuh. Lantai yang baik terasa kokoh di kaki, tidak licin, dan tidak menimbulkan bunyi berderak keras setiap kali kambing berpindah.
Dinding kandang panggung sebaiknya tidak tertutup penuh sampai atap, karena dinding penuh akan menahan udara dan membuat kandang pengap. Dinding dapat dibuat dari bilah kayu atau bambu dengan celah, atau dinding setengah tinggi dengan bagian atas terbuka untuk aliran udara. Yang penting adalah dinding cukup tinggi dan cukup kuat untuk menahan kambing agar tidak melompat keluar, tetapi tidak menghalangi udara dan cahaya. Pada malam hari, dinding yang berangin langsung dari arah angin kencang dapat ditutup sebagian dengan tirai atau anyaman yang dapat dibuka pada pagi hari, sesuai dengan syarat panduan Grobogan bahwa kandang harus terlindung dari angin malam.
Atap kandang harus melindungi dari panas dan hujan. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut atap genteng, asbes, dan daun rumbia sebagai pilihan bahan. Genteng memberi perlindungan yang baik dan tidak terlalu panas bila ventilasi cukup. Asbes ringan dan mudah dipasang, tetapi perlu dipasang dengan kemiringan yang cukup agar air hujan tidak menggenang dan menetes ke dalam kandang. Daun rumbia memberi suasana sejuk, tetapi perlu diganti secara berkala karena lapuk. Apa pun bahannya, atap harus menjorok cukup jauh ke luar dinding agar tampias hujan tidak membasahi lantai, dan kemiringannya harus mengarahkan air ke saluran yang tidak menggenangi bawah kandang.
Ventilasi dan Cahaya Matahari di Kandang Kambing
Ventilasi adalah kebutuhan yang disebut kedua panduan, dan panduan Grobogan menuliskannya secara tegas, yaitu kandang harus memiliki ventilasi yang cukup, mendapat sinar matahari, dan memiliki sirkulasi udara yang cukup. Ventilasi yang cukup berarti udara segar dapat masuk dan udara kotor, termasuk amonia dari urine dan kotoran, dapat keluar tanpa membuat kambing kedinginan. Kandang yang ventilasinya buruk akan berbau menyengat, lantainya lembap, dan kambingnya mudah batuk atau terserang penyakit pernapasan.
Ventilasi yang baik tidak sama dengan kandang yang terbuka tanpa pelindung. Ventilasi dapat diperoleh dari celah dinding, dari bukaan di bawah atap, dan dari lantai panggung yang berongga. Pada siang hari, seluruh bukaan dapat dibuka agar udara mengalir. Pada malam hari atau saat hujan angin, bukaan pada sisi arah angin dapat ditutup sebagian, tetapi bukaan pada sisi lain tetap dibuka agar udara tidak berhenti total. Peternak dapat memeriksa ventilasi dengan cara sederhana, yaitu berdiri di dalam kandang pada siang hari dan merasakan apakah udara bergerak dan apakah bau amonia terasa menyengat. Bila bau menyengat terasa kuat, ventilasi atau kebersihan kandang perlu diperbaiki, bukan ditutupi dengan pengharum.
Cahaya matahari pagi memiliki peran yang disebut panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, yaitu kandang sebaiknya menghadap ke timur sehingga sinar matahari pagi masuk ke dalam kandang. Manfaat yang disebut panduan itu adalah sinar matahari pagi menambah vitamin D pada kambing dan membuat kandang mudah kering. Karena itu, arah kandang bukan sekadar soal estetika, melainkan soal kesehatan. Kandang yang menghadap ke timur menerima sinar pagi yang menghangatkan lantai yang basah oleh embun, sedangkan kandang yang membelakangi matahari pagi akan lebih lama lembap dan lebih lama kering setelah hujan.
Panduan Grobogan menambahkan syarat yang sejalan, yaitu kandang harus mendapatkan cukup sinar matahari dan terlindung dari angin malam. Kedua syarat itu dapat dipenuhi sekaligus bila sisi timur kandang cukup terbuka untuk sinar pagi, sedangkan sisi yang menghadap arah angin malam diberi pelindung yang dapat dibuka tutup. Di Magelang, peternak dapat mengamati arah angin pada musim hujan dan musim kemarau, karena arah angin dapat berubah menurut musim, dan pelindung yang dipasang permanen pada satu sisi saja mungkin tidak cukup sepanjang tahun. Pelindung yang dapat dibuka tutup, seperti tirai anyaman atau papan geser, memberi kelenturan yang lebih baik daripada dinding permanen.
Letak Kandang Kambing yang Baik
Letak kandang menentukan hubungan peternak dengan tetangga, dengan sumber air, dan dengan kebun. Panduan Grobogan menyatakan lokasi kandang sebaiknya jauh dari pemukiman warga, dan jangan membangun kandang di daerah padat penduduk, karena dapat menimbulkan polusi udara yang cukup menyengat. Syarat yang lebih tegas dalam daftar syarat panduan itu adalah jarak kandang minimal 10 meter dari rumah. Angka 10 meter ini adalah jarak minimal dari rumah menurut panduan Grobogan, dan peternak sebaiknya tidak membangun kandang menempel pada dinding rumah tinggal, meskipun lahannya sempit.
Di lahan sempit, peternak dapat menyiasati jarak dengan menempatkan kandang di ujung lahan yang paling jauh dari rumah dan dari rumah tetangga, dengan arah angin yang tidak mengarah langsung ke rumah. Kandang juga sebaiknya tidak dibangun di atas saluran air atau di tempat yang airnya menggenang, karena genangan akan membuat bawah kandang becek dan kotoran sulit dikumpulkan. Lahan yang sedikit miring lebih baik daripada lahan yang cekung, karena air hujan dapat mengalir keluar, tetapi kemiringan tidak boleh terlalu curam sehingga kandang sulit dibangun kokoh.
Letak kandang juga perlu mempertimbangkan jarak ke sumber pakan dan sumber air. Kandang yang dekat dengan kebun rumput atau lahan hijauan akan menghemat tenaga membawa pakan setiap hari. Kandang yang dekat dengan sumber air bersih akan memudahkan penyediaan air minum dan pembersihan kandang. Sebaliknya, kandang yang jauh dari air akan membuat peternak malas membersihkan kandang, dan kandang yang kotor adalah awal dari penyakit. Karena itu, letak kandang yang baik adalah letak yang menyeimbangkan tiga hal, yaitu jarak dari rumah, kemudahan membawa pakan dan air, dan drainase lahan.
Konteks Magelang menambah satu pertimbangan, yaitu lereng dan musim hujan. Peternakan di lereng Magelang dibahas dalam artikel tentang peternakan lereng Magelang. Di lereng, kandang perlu dibangun pada lahan yang stabil, tidak pada tebing yang rawan longsor, dan tiang panggung perlu ditanam cukup dalam agar tidak goyah saat tanah basah. Di dataran rendah yang rawan banjir, panggung yang lebih tinggi, mengikuti angka minimal 1 meter dari panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, memberi cadangan ketinggian yang lebih aman daripada panggung yang rendah.
Pembagian Ruang: Induk, Pejantan, Dara, dan Beranak
Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyatakan kandang dibagi atas kandang induk, kandang jantan, dara, dan kandang beranak. Pembagian ini bukan sekadar kerapian, melainkan kebutuhan manajemen. Pejantan yang dicampur terus-menerus dengan betina akan mengawini betina tanpa terkendali, sehingga kelahiran tidak dapat direncanakan dan induk yang baru melahirkan dapat dikawini terlalu cepat. Panduan Grobogan menyatakan hal yang sama dengan kalimat yang tegas, yaitu pisahkan antara kambing jantan dan betina, kecuali jika mau dikawinkan. Aturan pemisahan ini adalah salah satu aturan kandang yang paling penting dan paling sering dilanggar.
Kandang beranak memerlukan perhatian khusus. Induk yang akan melahirkan sebaiknya dipindahkan ke kandang beranak beberapa hari sebelum perkiraan kelahiran, agar induk tenang dan anak yang lahir tidak terinjak oleh kambing lain. Ukuran kandang beranak menurut panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari adalah 120 sentimeter kali 120 sentimeter per ekor, dan ukuran ini memberi ruang bagi induk dan anaknya. Lantai kandang beranak harus bersih dan kering, dan pada malam yang dingin dapat diberi alas jerami kering yang diganti secara teratur, dengan catatan alas tidak dibiarkan lembap dan kotor.
Kandang dara, yaitu kandang untuk kambing betina muda, sebaiknya dipisahkan dari induk dewasa agar dara tidak kalah berebut pakan dan agar pertumbuhannya dapat dipantau. Kandang pejantan sebaiknya dibangun paling kokoh, karena pejantan memiliki tenaga besar dan dapat merusak dinding atau pintu yang lemah, terutama pada musim kawin. Pintu kandang pejantan perlu diberi kunci atau palang yang tidak mudah dibuka oleh kambing, dan peternak perlu memeriksa pintu itu setiap hari.
Kandang isolasi adalah tambahan yang sebaiknya tersedia meskipun hanya satu petak kecil. Kambing yang menunjukkan gejala sakit, seperti tidak mau makan, mencret, atau luka kulit, sebaiknya dipisahkan ke kandang isolasi agar tidak menulari kambing lain dan agar pengobatannya lebih mudah dipantau. Kandang isolasi tidak perlu besar, tetapi harus bersih, kering, dan mudah dibersihkan, dan peternak harus mencuci tangan serta peralatan setelah merawat kambing sakit sebelum merawat kambing sehat.
Tempat Pakan, Minum, dan Penampungan Kotoran
Tempat pakan yang baik membuat pakan tidak terinjak, tidak tercemar kotoran, dan mudah dijangkau kambing. Panduan Grobogan menyatakan tempat wadah pakan setinggi bahu kambing. Ketinggian setinggi bahu ini membuat kambing makan dengan posisi kepala yang wajar, tanpa harus menunduk sampai ke lantai dan tanpa harus menjinjit. Tempat pakan yang terlalu rendah akan mudah tercemar kotoran yang jatuh dari lantai panggung dan mudah terinjak, sedangkan tempat pakan yang terlalu tinggi akan membuat kambing muda dan kambing kecil kesulitan makan.
Tempat pakan dapat dibuat dari kayu atau bambu, dipasang menempel pada dinding kandang atau pada pagar pembatas, dengan bagian atas yang cukup lebar agar hijauan tidak mudah jatuh. Untuk pakan konsentrat atau pakan tambahan, wadah sebaiknya terpisah dari wadah hijauan, agar konsentrat tidak basah oleh hijauan yang masih segar dan agar takarannya dapat dikontrol. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut pakan segar sebanyak 10 persen dari bobot badan, dan panduan Grobogan menyebut campuran konsentrat dan bekatul dengan perbandingan 3 banding 1, atau bekatul 50 persen, bungkil kelapa 25 persen, dan bungkil kacang-kacangan 25 persen. Angka-angka pakan ini dikutip di sini hanya sebagai konteks bahwa tempat pakan harus mampu menampung takaran tersebut, sedangkan pembahasan pakan selengkapnya ada dalam artikel tentang pakan kambing Magelang.
Tempat minum sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau tetapi tidak mudah ditumpahkan. Wadah minum yang diletakkan di lantai kandang panggung mudah ditumpahkan dan membasahi lantai, sehingga lebih baik digantung atau dipasang pada dinding dengan tinggi yang sesuai. Air minum harus bersih dan diganti setiap hari, dan wadahnya dibersihkan dari lumut dan sisa pakan. Kambing yang kekurangan air akan malas makan dan pertumbuhannya melambat, sehingga tempat minum yang selalu terisi adalah bagian dari kandang yang baik, bukan pelengkap yang boleh kosong.
Penampungan kotoran adalah syarat yang disebut panduan Grobogan, yaitu kandang harus memiliki tempat penampungan kotoran. Di bawah kandang panggung, peternak dapat menyediakan bak atau lubang penampungan yang beratap atau tertutup sebagian, agar kotoran tidak hanyut oleh hujan dan tidak menimbulkan bau yang menyebar ke tetangga. Kotoran yang terkumpul dapat diolah menjadi pupuk kandang, dan pupuk kandang yang sudah matang dapat dipakai untuk kebun rumput pakan, sehingga kandang dan kebun saling mendukung. Pengumpulan kotoran secara teratur juga mencegah tumpukan di bawah kandang menjadi sarang lalat dan sumber bau.
Perawatan dan Kebersihan Kandang Kambing
Kandang yang baik tetap akan bermasalah bila tidak dibersihkan. Perawatan harian meliputi membuang sisa pakan yang sudah layu dan tercemar, membersihkan tempat pakan dan tempat minum, menyapu kotoran yang tertahan di lantai, dan memeriksa apakah ada bilah lantai yang patah atau paku yang menonjol. Perawatan mingguan meliputi membersihkan bawah kandang, memeriksa tiang dan sambungan, dan memeriksa atap apakah ada yang bocor. Perawatan musiman, menjelang musim hujan, meliputi mengganti bilah yang lapuk, memperbaiki atap, dan memastikan saluran air di sekitar kandang tidak tersumbat.
Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari menyebut penyakit yang perlu diwaspadai, antara lain kembung, cacingan, orf, sakit mata, dan scabies. Artikel ini tidak membahas pengobatan penyakit tersebut, tetapi kandang yang bersih dan kering adalah langkah pencegahan pertama untuk sebagian besar penyakit itu. Kambing yang baru dibeli sebaiknya ditempatkan di kandang isolasi terlebih dahulu dan diamati selama beberapa hari sebelum dicampur dengan kambing lama, agar penyakit yang terbawa tidak langsung menyebar ke seluruh kandang.
Peternak juga perlu memperhatikan kebersihan diri dan peralatan. Sepatu atau sandal yang dipakai di kandang sebaiknya tidak dipakai ke dalam rumah tanpa dibersihkan, dan peralatan seperti sapu, sekop, dan wadah pakan sebaiknya disimpan di dekat kandang dan tidak dipakai untuk keperluan lain yang dapat mencemari pakan. Kebiasaan kecil ini sering diabaikan, padahal kebiasaan kecil inilah yang membedakan kandang yang sehat dari kandang yang selalu bermasalah meskipun bangunannya bagus.
Kesalahan yang Sering Terjadi pada Kandang Kambing
Kesalahan pertama adalah membangun kandang terlalu sempit karena ingin menghemat bahan, lalu menambah jumlah ternak tanpa memperluas kandang. Akibatnya kambing berebut pakan, saling menanduk, dan pertumbuhannya melambat. Kesalahan kedua adalah membuat celah lantai terlalu lebar dengan alasan kotoran lebih mudah jatuh, padahal risikonya adalah kaki kambing terperosok dan pincang atau patah, seperti yang diperingatkan panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari. Kesalahan ketiga adalah menutup seluruh dinding kandang sehingga ventilasi hilang dan bau amonia menumpuk.
Kesalahan keempat adalah membangun kandang menempel pada rumah atau di tengah pemukiman padat, sehingga bau dan lalat mengganggu tetangga dan menimbulkan konflik sosial. Panduan Grobogan secara tegas melarang hal ini dan menetapkan jarak minimal 10 meter dari rumah. Kesalahan kelima adalah mencampur pejantan dengan betina sepanjang waktu, sehingga kelahiran tidak terkendali dan induk tidak sempat pulih. Kesalahan keenam adalah membiarkan bawah kandang tidak pernah dibersihkan, sehingga kotoran menumpuk, bau menyebar, dan lalat berkembang biak.
Kesalahan ketujuh adalah menghadapkan kandang membelakangi matahari pagi, sehingga lantai lama kering dan kambing kurang mendapat sinar pagi yang disebut panduan sebagai sumber vitamin D dan pengering kandang. Kesalahan kedelapan adalah memakai bahan yang sudah lapuk untuk menghemat biaya, lalu kandang ambruk saat musim hujan. Seluruh kesalahan ini dapat dicegah dengan perencanaan yang mengikuti panduan, bukan dengan menambah biaya besar, melainkan dengan memperhatikan ukuran, ventilasi, lantai, dan letak sejak awal.
Menyesuaikan Kandang Kambing dengan Iklim Magelang
Magelang memiliki musim hujan yang cukup panjang dan wilayah lereng yang udaranya lebih dingin pada malam hari. Karena itu, kandang di Magelang perlu memberi perhatian lebih pada tiga hal, yaitu atap yang tidak bocor, lantai yang cepat kering, dan pelindung dari angin malam. Atap yang bocor pada satu titik dapat membuat satu petak selalu basah, dan petak yang selalu basah akan menjadi sumber penyakit bagi kambing yang menempatinya. Lantai yang cepat kering diperoleh dari panggung yang cukup tinggi, celah yang tepat, dan sinar pagi yang masuk ke dalam kandang.
Pelindung dari angin malam dapat berupa tirai anyaman atau papan geser pada sisi arah angin, yang dibuka pada pagi hari agar udara dan sinar masuk. Peternak di lereng yang angin malamnya dingin perlu lebih teliti pada hal ini, terutama untuk anak kambing yang baru lahir dan untuk kambing yang baru dicukur atau baru sakit, karena kambing muda dan kambing lemah lebih peka terhadap dingin. Sebaliknya, pada siang yang panas, seluruh bukaan perlu dibuka agar udara mengalir dan kambing tidak kepanasan. Kelenturan inilah yang membuat kandang yang baik di Magelang adalah kandang yang dapat dibuka dan ditutup menurut waktu, bukan kandang yang tertutup permanen atau terbuka permanen.
Peternak yang memelihara kambing perah, seperti Peranakan Etawa, perlu menambahkan satu pertimbangan, yaitu kebersihan tempat pemerahan. Artikel tentang susu kambing Etawa membahas produk susu kambing, dan kebersihan kandang secara langsung memengaruhi kebersihan susu, karena susu yang diperah di kandang yang kotor dan berbau akan mudah tercemar. Karena itu, kandang untuk kambing perah sebaiknya memiliki area pemerahan yang bersih, kering, dan terpisah dari area pembuangan kotoran, meskipun hanya berupa petak kecil yang lantainya selalu bersih.
Penutup: Mulai dari Kandang yang Benar, Bukan dari Jumlah Ternak
Kandang kambing yang baik dapat diringkas dalam beberapa patokan dari kedua panduan resmi yang dipakai artikel ini. Kandang berbentuk panggung, dengan tinggi minimal 1 meter menurut panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, atau sekitar 0,5 meter menurut panduan Grobogan, sehingga peternak dapat memilih dalam rentang tersebut sesuai kondisi lahannya. Ukuran per ekor adalah 110 sentimeter kali 125 sentimeter untuk pejantan, 100 sentimeter kali 125 sentimeter untuk induk dan dara, dan 120 sentimeter kali 120 sentimeter untuk induk beranak. Lantai bercelah tetapi tidak terlalu renggang, atap melindungi dari panas dan hujan, ventilasi cukup, sinar matahari pagi masuk karena kandang menghadap ke timur, jarak minimal 10 meter dari rumah, tempat pakan setinggi bahu kambing, pejantan dipisahkan dari betina kecuali saat dikawinkan, dan kotoran ditampung pada tempatnya.
Peternak pemula di Magelang disarankan memulai dengan jumlah kecil, seperti skala 2 sampai 4 ekor yang dicatat panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari untuk pemeliharaan pedesaan, dan membangun kandang yang benar untuk jumlah itu sebelum menambah ternak. Kandang yang benar akan menghemat biaya obat, menghemat tenaga perawatan, dan menjaga hubungan baik dengan tetangga. Sebaliknya, kandang yang salah akan terus menimbulkan biaya, baik biaya obat, biaya perbaikan, maupun biaya sosial akibat keluhan tetangga.
Artikel ini tidak menetapkan biaya pembangunan kandang, karena biaya bergantung pada bahan, ukuran, dan harga setempat di Magelang yang tidak tercantum dalam kedua panduan yang dibaca. Peternak yang memerlukan perkiraan biaya sebaiknya meminta penawaran bahan dari toko bangunan setempat dan menghitung berdasarkan ukuran per ekor dalam artikel ini, bukan berdasarkan perkiraan yang tidak bersumber. Dengan cara itu, kandang yang dibangun benar-benar sesuai dengan jumlah ternak, kondisi lahan, dan kemampuan peternak, dan kambing yang dipelihara dapat tumbuh sehat di dalamnya.


