Oleh-Oleh Khas Magelang Selain Getuk: Grubi, Pothil, Slondok, Wajik, hingga Kopi Lereng
Di balik getuk yang terkenal, Magelang menyimpan deretan oleh-oleh lain yang tak kalah khas: camilan renyah berbahan singkong dan ubi, kue legit berbahan ketan dan gula aren, serta kopi dan kerajinan dari tangan-tangan lokal.

Oleh-oleh khas Magelang selain getuk jauh lebih beragam daripada yang sering dibayangkan wisatawan yang hanya mengenal satu nama. Getuk memang identik dengan Magelang, dan artikel ini sengaja tidak membahasnya secara mendalam, karena getuk sudah memiliki pembahasannya sendiri. Yang dibahas di sini adalah deretan panganan dan produk lain yang juga dijual dan dikenal di Magelang, mulai dari camilan berbahan singkong dan ubi yang renyah, kue-kue berbahan ketan dan gula aren, sampai produk non-makanan seperti kopi lereng dan kerajinan yang layak dibawa pulang. Tujuannya sederhana: agar wisatawan yang pulang dari Magelang tidak hanya membawa satu jenis oleh-oleh, melainkan membawa gambaran yang lebih utuh tentang dapur dan tangan-tangan terampil di daerah ini.
Jawaban singkatnya begini: oleh-oleh Magelang selain getuk yang paling mudah ditemukan dan paling layak dibawa pulang antara lain grubi, pothil, geblek, dan slondok yang berbahan dasar singkong atau ubi, wajik, jenang, dan krasikan yang berbahan dasar ketan dan gula, serta kopi dari lereng gunung dan kerajinan lokal sebagai pilihan non-makanan. Menurut TravelingYuk dalam tulisannya tentang camilan Magelang, camilan-camilan berbahan singkong dan ubi itu memiliki daya simpan yang relatif panjang, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh. Namun daya simpan bukan satu-satunya pertimbangan: pembeli sebaiknya memperhatikan kemasan, tanggal kedaluwarsa bila tercantum, dan kondisi penyimpanan selama perjalanan, karena camilan yang renyah dapat menjadi lembek bila terkena udara lembap atau panas yang berlebihan.
Artikel ini tidak mencantumkan nama toko, alamat, atau harga tertentu, karena ketiganya dapat berubah dan tidak dapat diverifikasi secara permanen dari sumber yang tersedia. Pembaca yang membutuhkan rekomendasi toko sebaiknya menanyakan kepada warga setempat, pemandu wisata, atau pengelola penginapan pada hari pembelian, karena rekomendasi yang segar jauh lebih dapat diandalkan daripada daftar toko yang ditulis bertahun-tahun lalu. Yang dapat dipastikan dalam artikel ini adalah jenis produknya, bahan dasarnya, dan karakternya, yang bersumber dari tulisan-tulisan yang membahas kuliner Magelang secara langsung.
Magelang sendiri adalah daerah yang dapurnya dipengaruhi oleh bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya: singkong dan ubi dari kebun, ketan dari sawah, gula aren dari pohon aren, serta kelapa yang melimpah di Jawa. Bahan-bahan sederhana inilah yang diolah menjadi berbagai camilan dengan nama yang kadang terdengar asing bagi pendatang, tetapi justru nama-nama itulah yang menjadi penanda identitas. Menurut TravelingYuk, masakan Magelang secara umum tidak terlalu berbeda dari Yogyakarta atau Solo, tetapi daerah ini memiliki sejumlah camilan menarik dengan nama yang tidak biasa dalam bahasa setempat. Perbedaan yang tampak kecil inilah yang membuat berburu oleh-oleh di Magelang menjadi kegiatan yang menyenangkan: setiap nama menyimpan cara mengolah dan cerita yang berbeda.
Oleh-Oleh Khas Magelang Selain Getuk: Camilan Singkong dan Ubi yang Renyah
Kelompok pertama yang paling khas adalah camilan berbahan singkong dan ubi. Grubi adalah salah satunya. Menurut TravelingYuk, bahan utama grubi adalah ubi jalar yang diserut sangat tipis, lalu dibentuk menjadi bola atau kepingan tebal sebelum digoreng, dengan satu-satunya perasa berupa sirup gula aren. Ketika digoreng, gula aren menjadi karamel dan ubi mengeras, sehingga hasilnya adalah camilan manis yang renyah. Grubi disebut mirip dengan carang mas yang dapat ditemukan di Jawa Timur, tetapi di Magelang ia dikenal dengan namanya sendiri dan dijual sebagai camilan maupun oleh-oleh. Bagi pembeli, grubi cocok untuk mereka yang menyukai manis yang tidak berlebihan dan tekstur yang renyah, tetapi kurang cocok untuk mereka yang harus membatasi gula.
Pothil adalah camilan kedua dalam kelompok ini, dengan karakter yang berlawanan: gurih, bukan manis. Menurut TravelingYuk, pothil berbahan dasar tepung tapioka yang diekstrak secara tradisional dari singkong, berbentuk bulat kecil yang hampir seperti cincin besar, bertekstur renyah, dan terasa gurih. Sebagian orang menikmati pothil sebagai teman makan nasi karena rasanya yang gurih, dan pothil juga enak dinikmati dengan saus tomat atau saus kedelai. Pothil adalah pilihan yang baik untuk pembeli yang tidak menyukai camilan manis, atau yang mencari teman perjalanan yang tidak membuat enek. Karena rasanya gurih dan bentuknya kecil, pothil juga mudah dibagikan kepada banyak orang tanpa harus dipotong-potong.
Geblek adalah camilan ketiga yang juga berbahan pati singkong, tetapi dengan tekstur yang berbeda. Menurut TravelingYuk, geblek juga dibuat dari pati singkong, teksturnya agak keras tetapi kenyal, dan membutuhkan usaha lebih untuk menggigitnya dibandingkan pothil. Geblek biasanya berbentuk seperti cincin atau angka delapan, berwarna putih dan kadang kekuningan bila tanpa pewarna tambahan, dan paling enak dinikmati selagi masih hangat. Karakter geblek yang kenyal dan keras ini membuatnya kurang cocok sebagai oleh-oleh perjalanan jauh bila sudah dingin, tetapi sangat menarik sebagai camilan yang dimakan di tempat atau tidak lama setelah dibeli. Pembeli yang membeli geblek untuk dibawa pulang sebaiknya menanyakan kepada penjual berapa lama geblek itu tetap enak, dan menyimpannya sesuai anjuran penjual.
Slondok adalah camilan keempat yang juga berbahan singkong, tetapi bentuk dan rasanya berbeda dari ketiganya. Menurut TravelingYuk, slondok dapat disebut sebagai kerupuk berbahan singkong, tetapi sangat berbeda dari pothil atau geblek: slondok biasanya tipis dan berbentuk memanjang, renyah, gurih, dan biasanya memiliki perasa khusus. Secara tradisional, slondok hanya memiliki rasa asin dan pedas, tetapi kini pembeli dapat menikmati slondok dengan rasa balado, keju, dan rasa original. Keberagaman rasa ini membuat slondok mudah disesuaikan dengan selera penerima oleh-oleh, mulai dari anak-anak yang menyukai keju sampai orang dewasa yang menyukai pedas. Namun pembeli sebaiknya tetap memperhatikan komposisi rasa, terutama bila penerima memiliki alergi atau pantangan terhadap bahan tertentu.
Keempat camilan ini memiliki benang merah yang penting: semuanya mengolah singkong dan ubi, bahan yang murah dan melimpah, menjadi produk yang memiliki nilai jual dan daya simpan. Di balik kesederhanaannya, terdapat keterampilan mengolah yang tidak sederhana: mengiris ubi setipis mungkin, mengekstrak tapioka secara tradisional, menggoreng dengan suhu yang tepat, dan memberi perasa tanpa merusak tekstur. Wisatawan yang membeli camilan-camilan ini sebenarnya sedang membeli keterampilan itu, bukan sekadar bahan mentahnya. Karena itu, membeli langsung dari pengrajin atau penjual kecil, bila memungkinkan, memberi penghargaan yang lebih langsung kepada pembuatnya daripada membeli produk yang sudah melalui banyak perantara.
Selain keempat camilan itu, pembeli juga akan menemukan berbagai kerupuk dan camilan kering lain di pasar-pasar Magelang. Pasar tradisional adalah tempat terbaik untuk menemukan variasi semacam ini, karena penjual di pasar umumnya menjual produk yang dibuat dalam jumlah kecil dan mengikuti selera setempat. KabarTidar sebelumnya telah membahas pasar-pasar di Magelang, antara lain dalam artikel tentang Pasar Muntilan dan pasar Rejowinangun, yang dapat menjadi titik awal bagi pembaca yang ingin berburu camilan langsung di pasar. Di pasar, pembeli dapat mencicipi sebelum membeli, bertanya tentang bahan dan cara penyimpanan, dan membandingkan beberapa penjual sebelum memutuskan. Kebiasaan mencicipi dan bertanya ini jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti daftar nama, karena kualitas camilan kering sangat bergantung pada kesegaran dan cara penyimpanannya.
Wajik, Jenang, dan Krasikan: Kue Ketan dan Gula Aren untuk Dibawa Pulang
Kelompok kedua adalah kue-kue berbahan ketan dan gula yang manis, legit, dan mengenyangkan. Wajik adalah salah satunya, dan keberadaannya sebagai oleh-oleh Magelang dapat dilihat dari pusat-pusat oleh-oleh di Magelang yang mencantumkan wajik di namanya, misalnya pusat oleh-oleh yang bernama Getuk Trio Wajik Week yang tercatat di kawasan Magelang. Wajik sendiri secara umum dibuat dari ketan yang dimasak dengan gula aren dan santan hingga legit dan padat, lalu dipotong-potong menjadi bentuk yang mudah dibagikan. Karakter wajik yang padat dan manis membuatnya cocok sebagai oleh-oleh untuk acara keluarga, karena satu potong wajik sudah cukup mengenyangkan dan mudah dibagi kepada banyak orang.
Jenang dan krasikan adalah dua produk lain yang juga dijual sebagai oleh-oleh di Magelang, sebagaimana terlihat dari toko oleh-oleh di Magelang yang mencantumkan jenang dan krasikan dalam namanya. Jenang adalah kue legit berbahan ketan dan gula yang dimasak lama hingga mengental, sedangkan krasikan adalah kue yang juga berbahan dasar ketan dengan tambahan kelapa dan gula, yang dikenal di berbagai daerah Jawa. Keduanya memiliki kesamaan: manis, legit, dan memiliki daya simpan yang relatif lebih panjang daripada kue basah, sehingga cocok untuk perjalanan. Namun keduanya juga memiliki kelemahan yang sama: kandungan gulanya tinggi, sehingga pembeli yang membeli untuk penderita diabetes atau orang yang membatasi gula sebaiknya memilih produk lain atau membeli dalam jumlah kecil.
Kelompok kue ketan ini sering dibeli bersamaan dengan getuk, tetapi dalam artikel ini ia dibahas sebagai kelompok yang berdiri sendiri, karena karakter dan cara menikmatinya berbeda. Getuk berbahan singkong dan umumnya lebih lembut dan mudah basi, sedangkan wajik, jenang, dan krasikan berbahan ketan dan umumnya lebih padat dan tahan lebih lama. Perbedaan ini penting bagi pembeli yang melakukan perjalanan jauh: kue ketan lebih aman untuk perjalanan berjam-jam daripada kue berbahan singkong yang lembut, selama kemasannya tertutup rapat dan tidak terkena panas langsung. Pembeli yang ragu sebaiknya menanyakan langsung kepada penjual berapa lama produk itu bertahan dan bagaimana cara menyimpannya.
Cara menikmati kue-kue ini juga patut diperhatikan. Wajik, jenang, dan krasikan paling enak dinikmati dalam potongan kecil bersama teh hangat atau kopi, bukan dimakan dalam jumlah besar sekaligus. Potongan kecil memungkinkan penerima untuk merasakan manis dan aroma gula arennya tanpa cepat merasa enek, dan membuat satu bungkus dapat dibagikan kepada lebih banyak orang. Bagi keluarga yang menerima oleh-oleh, menyajikan kue-kue ini di atas piring kecil bersama minuman hangat adalah cara yang paling menghormati pembuatnya, karena kue-kue ini memang dibuat untuk dinikmati perlahan, bukan untuk dimakan sambil terburu-buru.
Selain wajik, jenang, dan krasikan, pembeli juga akan menemukan berbagai jajanan pasar di Magelang yang dapat dijadikan oleh-oleh, tetapi tidak semuanya cocok untuk perjalanan jauh. Jajanan pasar yang lembut dan basah, seperti klepon yang berisi gula aren dan berbalut kelapa parut, memang enak, tetapi daya simpannya pendek dan mudah rusak bila dibawa berjam-jam tanpa pendingin. Karena itu, jajanan pasar sebaiknya dinikmati di tempat atau dibeli sesaat sebelum pulang, bukan dibeli berhari-hari sebelum perjalanan. Prinsip ini berlaku umum untuk semua oleh-oleh makanan: semakin segar produknya, semakin pendek daya simpannya, dan semakin besar perhatian yang dibutuhkan selama perjalanan.
Pilihan Non-Makanan: Kopi Lereng, Batik, dan Kerajinan Tangan
Tidak semua oleh-oleh harus makanan. Bagi penerima yang tidak menyukai makanan manis, memiliki pantangan makanan, atau tinggal jauh sehingga makanan berisiko rusak di perjalanan, produk non-makanan adalah pilihan yang jauh lebih aman. Kopi dari lereng Sumbing adalah salah satunya. KabarTidar sebelumnya telah membahas kopi lereng Sumbing dalam artikel tersendiri, yang menggambarkan kopi sebagai produk lereng yang ditanam di ketinggian dan diolah oleh petani setempat. Kopi dalam bentuk biji atau bubuk yang dikemas dengan baik memiliki daya simpan yang jauh lebih panjang daripada kue, mudah dibawa, dan dapat dinikmati berulang kali oleh penerimanya. Bagi pecinta kopi, oleh-oleh semacam ini justru lebih berkesan daripada sekadar camilan, karena setiap seduhan mengingatkan pada daerah asalnya.
Batik khas Magelang adalah pilihan non-makanan kedua yang layak dipertimbangkan. KabarTidar sebelumnya telah membahas batik khas Magelang, termasuk batik dari Muntilan, yang menunjukkan bahwa Magelang memiliki tradisi batiknya sendiri dengan motif dan pewarnaan yang khas. Batik sebagai oleh-oleh memiliki kelebihan: ia dapat dipakai, dipajang, dan disimpan lama, serta nilainya tidak berkurang karena perjalanan. Namun pembeli sebaiknya memperhatikan keaslian dan cara perawatan batik yang dibeli, karena batik tulis, batik cap, dan batik printing memiliki harga dan perawatan yang berbeda. Bertanya kepada penjual tentang jenis batik, bahan kain, dan cara mencuci adalah langkah yang wajar dan tidak boleh dianggap merepotkan.
Kerajinan pahat batu dari Muntilan adalah pilihan ketiga yang juga khas Magelang. KabarTidar sebelumnya telah membahas pahat batu Muntilan, yang menggambarkan para perajin yang mengolah batu menjadi patung, relief, dan ornamen. Kerajinan batu tentu tidak cocok untuk semua wisatawan, karena berat dan membutuhkan pengemasan khusus, tetapi untuk pembeli yang mencari oleh-oleh yang benar-benar khas dan tahan lama, kerajinan batu adalah pilihan yang sulit ditandingi. Pembeli yang membeli kerajinan batu sebaiknya memastikan pengemasan yang aman, menanyakan beratnya, dan mempertimbangkan biaya pengiriman bila tidak dapat dibawa sendiri.
Selain ketiga produk itu, pembeli juga dapat menemukan berbagai kerajinan lain di kawasan Borobudur dan desa-desa penyangganya, mulai dari kerajinan bambu, anyaman, hingga suvenir bertema candi. Kerajinan semacam ini sering dijual di sekitar kawasan wisata dan di desa wisata, dan membelinya langsung dari pengrajin memberi dampak ekonomi yang lebih langsung. Namun pembeli sebaiknya tetap kritis: tidak semua suvenir yang dijual di kawasan wisata dibuat di Magelang, dan tidak semua suvenir yang bertema Borobudur dibuat oleh warga setempat. Bertanya tentang pembuat dan bahan adalah cara sederhana untuk memastikan bahwa uang yang dibelanjakan benar-benar sampai kepada pengrajin lokal.
Cara Memilih, Membungkus, dan Membagi Oleh-Oleh dari Magelang
Memilih oleh-oleh sebaiknya dimulai dari penerima, bukan dari penjual. Pembeli sebaiknya memikirkan siapa yang akan menerima, berapa banyak orangnya, apakah ada pantangan makanan, dan berapa lama perjalanan pulang yang akan ditempuh. Untuk keluarga besar, camilan kering dalam kemasan besar yang mudah dibagi, seperti pothil dan slondok, lebih praktis daripada kue yang harus dipotong satu per satu. Untuk rekan kerja, kemasan kecil yang rapi dan mudah dibawa lebih dihargai daripada bungkusan besar yang merepotkan. Untuk orang tua, kue ketan yang legit dan tidak terlalu keras sering lebih disukai daripada camilan yang sangat renyah dan sulit digigit.
Jumlah pembelian juga perlu diperhitungkan dengan jujur. Membeli terlalu banyak sering berakhir dengan oleh-oleh yang kedaluwarsa di rumah, dibuang, atau dibagikan secara terburu-buru kepada orang yang tidak dikenal. Membeli secukupnya, dengan daftar penerima yang sudah dibuat sebelum berbelanja, jauh lebih baik daripada membeli secara impulsif karena tergoda oleh pajangan toko. Daftar penerima juga membantu pembeli mengendalikan anggaran, karena harga oleh-oleh yang tampak kecil satu per satu dapat menjadi besar bila dijumlahkan untuk puluhan orang.
Pengemasan selama perjalanan adalah hal yang sering diremehkan. Camilan renyah sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara atau kemasan aslinya yang tertutup rapat, dan tidak ditumpuk dengan barang berat yang dapat meremukkannya. Kue ketan sebaiknya tidak disimpan di tempat yang panas, seperti bagasi mobil yang terpapar matahari, karena panas dapat membuat gula meleleh dan tekstur berubah. Kopi sebaiknya disimpan dalam kemasan yang tertutup rapat agar aromanya tidak hilang dan tidak menyerap bau barang lain. Perhatian-perhatian kecil ini menentukan apakah oleh-oleh sampai di tangan penerima dalam kondisi yang sama baiknya seperti ketika dibeli.
Ketika membagikan oleh-oleh, pembeli sebaiknya menceritakan sedikit tentang produk itu: dari mana asalnya, terbuat dari apa, dan bagaimana cara menikmatinya. Cerita semacam ini mengubah oleh-oleh dari sekadar barang menjadi kenangan perjalanan, dan membuat penerima lebih menghargai produk yang diterimanya. Misalnya, menceritakan bahwa grubi dibuat dari ubi yang diserut tipis dan digoreng dengan gula aren, atau bahwa pothil dibuat dari tapioka singkong yang diekstrak secara tradisional, akan membuat penerima memahami bahwa camilan itu bukan produk pabrik biasa, melainkan hasil keterampilan tangan. Cerita tidak perlu panjang, cukup satu atau dua kalimat yang jujur.
Belanja Oleh-Oleh dengan Tenang: Waktu, Musim, dan Kejujuran Penjual
Waktu berbelanja juga memengaruhi kualitas oleh-oleh yang didapat. Camilan kering yang dibeli di pagi hari di pasar tradisional umumnya masih segar dan pilihannya masih lengkap, sedangkan camilan yang dibeli pada sore hari menjelang pasar tutup mungkin tinggal sisa yang sudah lama terpajang. Hal yang sama berlaku untuk kue ketan: kue yang baru dibuat terasa lebih legit dan aromanya lebih kuat daripada kue yang sudah berhari-hari disimpan. Pembeli yang memiliki waktu luang sebaiknya berbelanja pada pagi hari dan menyimpan oleh-olehnya dengan baik sampai waktu pulang, daripada menunda belanja sampai menit terakhir dan akhirnya membeli apa saja yang tersisa.
Musim dan cuaca juga perlu diperhitungkan, terutama untuk perjalanan jauh. Pada musim hujan, kelembapan udara lebih tinggi, sehingga camilan renyah lebih cepat menjadi lembek bila kemasannya tidak kedap udara. Pada musim kemarau yang terik, kue berbahan gula lebih cepat meleleh bila disimpan di tempat panas. Pembeli yang bepergian dengan kendaraan umum sebaiknya membawa tas tambahan yang kedap dan ringan untuk melindungi oleh-oleh, dan tidak menaruh oleh-oleh di bagasi yang panas atau di dekat jendela yang terkena matahari langsung. Perhatian terhadap musim dan penyimpanan ini sering menentukan apakah oleh-oleh yang dibeli dengan susah payah sampai di rumah dalam kondisi yang layak dibagikan atau justru mengecewakan penerima.
Kejujuran penjual adalah hal terakhir yang patut dihargai dalam berburu oleh-oleh. Penjual yang jujur akan mengatakan bila produknya hanya bertahan satu atau dua hari, bila produknya mengandung bahan tertentu, atau bila kemasan yang lebih besar sebenarnya berisi produk yang sama dengan kemasan kecil. Pembeli sebaiknya menghargai kejujuran semacam ini dengan tetap membeli, bukan dengan meninggalkannya untuk mencari penjual yang menjanjikan daya simpan yang tidak masuk akal. Hubungan yang jujur antara pembeli dan penjual inilah yang membuat pasar tradisional tetap hidup, dan yang membuat wisatawan ingin kembali berbelanja di tempat yang sama pada kunjungan berikutnya.
Pada akhirnya, oleh-oleh khas Magelang selain getuk menunjukkan bahwa identitas kuliner sebuah daerah tidak pernah bergantung pada satu nama saja. Di balik getuk yang terkenal, terdapat grubi yang renyah, pothil yang gurih, geblek yang kenyal, slondok yang beragam rasa, wajik, jenang, dan krasikan yang legit, serta kopi dan kerajinan yang lahir dari tanah dan tangan yang sama. Wisatawan yang pulang dengan membawa beberapa jenis oleh-oleh ini tidak hanya membawa makanan, melainkan membawa potongan kecil dari Magelang yang dapat dibagikan dan diceritakan kembali. Dan itulah fungsi oleh-oleh yang sesungguhnya: bukan sekadar barang yang dibeli, melainkan jembatan antara perjalanan dan orang-orang yang ditinggalkan di rumah.



1 Komentar