Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring, Jejak Dakwah dan Tradisi Ziarah Muntilan
Di atas bukit bambu di barat Muntilan, makam seorang penyebar Islam dari keluarga Mataram diziarahi hampir setiap hari. Inilah kisah Gunungpring, dari silsilah dan sendang hingga kirab haul yang melibatkan abdi dalem keraton.

Makam Kyai Raden Santri adalah pusat dari kawasan peziarahan Gunungpring yang terletak di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, dan namanya dikenal luas oleh umat Islam dari berbagai penjuru tanah air. Makam ini berada di kawasan atas sebuah bukit yang asri di sisi barat Kota Muntilan, dan di sekitarnya terdapat makam anak cucu serta para ulama yang kemudian dimakamkan di kompleks yang sama. Artikel ini menguraikan siapa Kyai Raden Santri menurut sumber yang dapat ditelusuri, bagaimana kompleks makamnya tumbuh menjadi tujuan ziarah, dan bagaimana praktik ziarah di tempat ini dijalankan, tanpa mengarang karomah atau mukjizat sebagai fakta sejarah.
Nama Gunungpring sendiri berkaitan dengan keadaan bukit yang dahulu banyak ditumbuhi pohon bambu, yang dalam bahasa Jawa disebut pring. Keterangan ini diulang dalam berbagai sumber, mulai dari tulisan tentang asal usul nama Gunungpring hingga penelitian tentang cerita rakyat di desa itu. Bukit yang pendek ini dapat didaki dalam waktu tidak lebih dari 20 menit menurut sejumlah tulisan, dan dari atasnya terlihat dataran Kota Muntilan di sisi timur, Gunung Merapi dan Merbabu di timur dan timur laut, serta hamparan pertanian yang hijau hingga batas Pegunungan Menoreh di selatan. Pemandangan itu menjadi bagian dari pengalaman ziarah, karena peziarah tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga untuk merasakan ketenangan bukit yang rindang.
Secara administratif, kompleks makam ini berada di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Namun secara asal usul kepemilikan, kompleks ini merupakan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di bawah Reh Kawedanan Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo, menurut sejumlah sumber yang merujuk pada status tanah pasarean itu. Status ganda ini penting untuk dipahami, karena menunjukkan bahwa Gunungpring bukan sekadar makam desa biasa, melainkan kampung pasarean yang memiliki hubungan kelembagaan dengan keraton. Abdi dalem keraton ikut menjaga kompleks ini, dan hubungan itu pula yang menjelaskan mengapa tradisi seperti kirab dalam peringatan haul masih melibatkan unsur keraton hingga sekarang.
Makam Kyai Raden Santri dan Sosok Pangeran Singasari
Kyai Raden Santri dikenal juga dengan nama Pangeran Singasari, dan menurut berbagai sumber, ia adalah salah satu putra Ki Ageng Pemanahan, pendiri Kerajaan Mataram Islam, serta keturunan Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Silsilah ini menempatkan Kyai Raden Santri sebagai saudara dari Panembahan Senopati, raja pertama Kesultanan Mataram, tetapi ia memilih jalur dakwah daripada jalur kekuasaan politik kerajaan, menurut uraian yang beredar dalam tulisan tentang tokoh ini. Pilihan jalur dakwah inilah yang menjadi inti dari penghormatan masyarakat terhadapnya, karena ia dikenang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah Magelang dan sekitarnya.
Penelitian tentang cerita rakyat Pangeran Singasari di Desa Gunungpring yang tersimpan di perpustakaan Universitas Sebelas Maret menegaskan bahwa cerita rakyat tentang tokoh ini berbentuk legenda keagamaan, legenda gaib, dan legenda setempat, dengan artefak berupa makam Pangeran Singasari, Sendang Kolokendang, Masjid Krapyak I, dan Blumbang Gede. Penelitian itu juga menemukan bahwa cerita rakyat tersebut memiliki kekuatan budaya yang mampu menumbuhkan tradisi sadranan dan tradisi ziarah, serta nilai-nilai kultural seperti eling, ngabdi, dan welas asih. Temuan ini penting, karena menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Kyai Raden Santri bukan hanya soal makam, melainkan soal sistem nilai yang hidup dalam masyarakat pendukungnya.
Dalam kisah yang beredar, menjelang berdirinya Kerajaan Mataram, Kyai Raden Santri pernah menjabat sebagai senopati perang yang bertugas mengajarkan salat kepada para prajurit. Ketika hendak mengajarkan salat di sebuah dusun, ia tidak menemukan air untuk berwudu, lalu berdoa kepada Allah agar diberikan air, kemudian membuat sendang dengan tongkatnya, dan sendang itu memancarkan air yang hingga kini tidak pernah berhenti, meski pada musim kemarau sekalipun, menurut tulisan ziarah yang mengisahkan kembali riwayat itu. Artikel ini menyampaikan kisah sendang itu sebagai cerita yang diyakini dan diceritakan oleh masyarakat pendukungnya, bukan sebagai peristiwa yang dapat dibuktikan dengan dokumen sejarah. Pembedaan ini penting, karena tugas artikel jurnalistik adalah menghormati keyakinan masyarakat tanpa mengubah keyakinan itu menjadi klaim sejarah yang seolah-olah sudah terverifikasi.
Hal yang sama berlaku untuk keyakinan umum bahwa Kyai Raden Santri diagungkan karena kesaktian dan dianggap mampu mendatangkan berkah atau mengabulkan permohonan siapa saja yang meminta dengan perantara beliau, sebagaimana diuraikan dalam kajian cerita rakyat tentang makam ini. Artikel ini menyampaikan keyakinan itu sebagai keyakinan masyarakat, dengan kalimat yang jelas bahwa masyarakat pada umumnya percaya demikian, bukan sebagai pernyataan redaksi bahwa hal itu terbukti. Dengan cara itu, pembaca yang meyakini dapat merasa dihormati, dan pembaca yang bersikap kritis tetap dapat membedakan antara keyakinan dan fakta. Ziarah, dalam kerangka ini, dipahami sebagai praktik keagamaan dan budaya yang bermakna bagi pelakunya, apa pun sikap pembaca terhadap keyakinan yang melatarinya.
Gunungpring sebagai Kampung Pasarean
Kompleks makam di Gunungpring sering disebut sebagai kampung pasarean, yaitu kampung pemakaman yang dihuni oleh keluarga dan penjaga makam, serta dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah. Di kawasan atas bukit, selain makam Kyai Raden Santri, terdapat makam anak cucunya dan para ulama, antara lain Makam Kyai Krapyak III, Makam Kyai H. Harun, Makam Kyai Abdullah Sajad, Makam Nyai Hj. Harun, Makam Kyai Gus Jogo Rekso, Makam Nyai Gus Jogo Rekso, Makam Kyai Kerto Jani, Makam Kyai Abdurrachman, dan Makam Kyai H. Dalhar, menurut daftar yang dimuat dalam tulisan tentang ziarah di kampung pasarean itu. Daftar ini menunjukkan bahwa Gunungpring bukan makam tunggal, melainkan kompleks keluarga besar dan jaringan ulama yang saling berkaitan.
Di antara nama-nama itu, Kyai H. Dalhar atau Mbah Dalhar dari Watucongol adalah nama yang paling dikenal luas di luar Muntilan, karena ia adalah ulama besar yang garis keturunannya dikaitkan dengan Kyai Raden Santri. Kehadiran makam para ulama dari generasi yang berbeda dalam satu kompleks membuat Gunungpring menjadi semacam silsilah yang dapat diziarahi secara fisik, karena peziarah dapat berpindah dari satu makam ke makam lain sambil mengingat hubungan guru dan murid, orang tua dan anak, serta pendahulu dan penerus. Bagi peziarah yang datang dari pesantren, pengalaman ini sering menjadi bagian dari napak tilas, yaitu menelusuri jejak para guru dan pendahulu dalam satu perjalanan.
Kawasan Gunungpring juga berkaitan erat dengan Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol, yang disebut dalam tulisan tentang Raden Santri sebagai pesantren ternama di kawasan itu. Hubungan antara makam, pesantren, dan masyarakat sekitar menciptakan ekosistem keagamaan yang hidup, di mana ziarah tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan pengajian, pendidikan santri, dan kegiatan sosial. Peziarah yang datang ke Gunungpring sering melanjutkan perjalanan ke pesantren atau ke makam-makam lain di sekitar Muntilan, sehingga kunjungan menjadi rangkaian, bukan sekadar singgah di satu titik. KabarTidar sebelumnya telah membahas blendrang Muntilan, kuliner khas yang konteksnya juga berkaitan dengan Muntilan, dan pembaca yang menelusuri Muntilan dapat memadukan wisata religi dengan kuliner setempat dalam satu perjalanan.
Di kaki bukit, pengunjung akan disambut terminal parkir dengan deretan ruko yang menjajakan berbagai peralatan ibadah maupun suvenir hasil kerajinan masyarakat setempat. Keberadaan ruko ini menunjukkan bahwa ziarah juga menggerakkan ekonomi warga, karena peziarah membutuhkan bunga, air, kitab doa, makanan, dan oleh-oleh, dan warga menyediakan semuanya di sekitar kompleks. Ekonomi semacam ini, bila dikelola dengan baik, dapat menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi warga Gunungpring, tanpa harus mengubah kompleks makam menjadi objek wisata yang kehilangan kesakralannya. Keseimbangan antara kesakralan dan ekonomi adalah tantangan yang dihadapi oleh hampir semua pusat ziarah, dan Gunungpring tidak terkecuali.
Untuk naik ke atas bukit, terdapat dua pilihan akses jalan berundak, yaitu satu melalui sisi timur bukit di sebelah Masjid Kyai Raden Santri, dan satu lagi melalui sisi utara bukit melewati Mushola Raden Santri. Keterangan ini diulang secara konsisten dalam berbagai sumber, sehingga dapat disampaikan sebagai fakta tentang tata ruang kompleks. Di puncak, peziarah akan menjumpai bangunan yang berfungsi sebagai masjid dan makam Kyai Raden Santri, dan di kawasan atas itulah makam utama beserta makam anak cucunya berada. Tata ruang ini menunjukkan bahwa masjid dan makam tidak dipisahkan secara kaku, melainkan menjadi satu kesatuan tempat ibadah dan ziarah.
Tulisan lain menyebut bahwa dari gapura masuk kompleks peziarah harus menaiki anak tangga sejauh satu kilometer, sedangkan sumber lain menyebut jumlah anak tangga sekitar 222 buah. Artikel ini tidak menetapkan salah satu angka sebagai fakta tunggal, karena cara menghitungnya berbeda, yaitu ada yang mengukur jarak tempuh dan ada yang menghitung anak tangga pada jalur tertentu. Yang dapat disampaikan dengan aman adalah bahwa pendakian memerlukan tenaga dan waktu, karena tangganya menanjak dan cukup panjang, dan peziarah sebaiknya beristirahat bila perlu, membawa air minum, dan memakai alas kaki yang nyaman. Bagi peziarah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik, penting untuk merencanakan pendakian dengan pendamping dan tidak memaksakan diri.
Selama menaiki tangga, peziarah disuguhi pemandangan yang berubah secara bertahap. Di awal pendakian, yang terlihat adalah ruko dan terminal parkir di kaki bukit, kemudian pepohonan bambu dan rumah warga, dan semakin ke atas, pemandangan kota dan gunung semakin terbuka. Perubahan pemandangan ini sering dirasakan sebagai bagian dari proses ziarah itu sendiri, karena tubuh yang lelah dan pemandangan yang meluas menjadi pengingat tentang perjalanan spiritual yang sedang dijalani. Banyak peziarah yang berhenti sejenak di tengah tangga, bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk menikmati pemandangan dan menenangkan pikiran sebelum sampai di makam.
Setibanya di atas, suasana menjadi lebih tenang dan teduh, karena pepohonan dan bangunan makam menciptakan keteduhan yang berbeda dari keramaian di kaki bukit. Peziarah umumnya melaksanakan salat terlebih dahulu di masjid, kemudian berziarah dengan membaca tahlil dan doa, sebagaimana digambarkan dalam catatan perjalanan santriwati yang berziarah ke makam ini pada dini hari. Catatan itu menggambarkan rombongan yang tiba sekitar pukul empat pagi, melaksanakan salat subuh, kemudian berjalan menuju makam sekitar pukul lima pagi, membaca tahlil dan doa, lalu turun untuk sarapan bersama. Gambaran ini menunjukkan bahwa ziarah di Gunungpring sering dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap utama, seperti dini hari dan bulan Ramadan, ketika suasana lebih khusyuk.
Praktik Ziarah di Makam Kyai Raden Santri
Praktik ziarah di Gunungpring pada umumnya diawali dengan niat, kemudian salat, lalu membaca tahlil dan doa di makam. Peziarah datang dengan niat tabarruk atau mencari berkah, menurut tulisan tentang asal usul nama Gunungpring, dan mereka memanjatkan doa serta memohon berkah di makam Kyai Raden Santri, menurut pemberitaan tentang wisata religi menjelang Ramadan. Artikel ini menyampaikan niat tabarruk sebagai niat yang dinyatakan oleh peziarah dan penulis sumber, bukan sebagai penilaian tentang benar atau salahnya praktik itu. Dalam tradisi ziarah di Jawa, tabarruk dipahami sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara orang saleh yang telah wafat, dan pemahaman ini hidup berdampingan dengan ajaran tentang tauhid yang ditekankan oleh para ulama.
Tradisi ziarah makam di Desa Gunungpring dilaksanakan hampir setiap hari oleh masyarakat pendukungnya yang berasal dari berbagai penjuru daerah, menurut kajian cerita rakyat tentang makam ini. Dalam tradisi itu, doa yang ditujukan kepada Kyai Raden Santri antara lain berisi kalimat toyibah yang mengagungkan Sang Khaliq sebagai tanda bukti rasa syukur kepada Tuhan. Penjelasan ini menunjukkan bahwa ziarah di Gunungpring tidak hanya berisi permohonan, tetapi juga berisi syukur, karena masyarakat merasa bahwa kehadiran Kyai Raden Santri telah membawa mereka ke arah yang lebih baik dan mendatangkan keselamatan serta keberkahan dalam kehidupan. Syukur dan permohonan, dalam praktik ini, berjalan beriringan.
Ziarah juga menjadi sarana pendidikan dan pengingat kematian, sebagaimana ditekankan dalam pemberitaan tentang wisata religi menjelang Ramadan. Ziarah makam para aulia, menurut pemberitaan itu, dapat sekaligus menjadi napak tilas tokoh agama, karena peziarah tidak hanya berdoa, tetapi juga mengingat perjuangan dakwah tokoh yang diziarahi. Bagi santri dan pelajar, ziarah ke Gunungpring dapat menjadi pelajaran sejarah yang hidup, karena mereka dapat melihat makam, masjid, sendang, dan kampung pasarean secara langsung, sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu atau penjaga makam. Pelajaran seperti ini lebih membekas daripada sekadar membaca nama tokoh dalam buku, karena tempatnya dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan suasananya.
Di bulan Ramadan, Gunungpring menjadi semakin ramai, karena banyak peziarah yang datang untuk berdoa dan memohon berkah, serta mengisi Ramadan dengan kegiatan yang dianggap positif. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah, menurut pemberitaan tersebut. Keramaian pada bulan Ramadan ini menunjukkan bahwa ziarah di Gunungpring memiliki musimnya sendiri, yang berkaitan dengan kalender Islam dan dengan kebiasaan masyarakat untuk memperbanyak ibadah pada bulan suci. Bagi pengelola dan warga, musim ramai ini menuntut pengaturan parkir, kebersihan, dan keamanan yang lebih baik, agar kekhusyukan tidak terganggu oleh keramaian.
Haul dan Kirab Budaya pada 1 Muharram
Selain ziarah harian, Gunungpring juga memiliki peringatan tahunan yang penting, yaitu haul Kyai Raden Santri yang diadakan setiap tanggal 1 Muharram di halaman rumah Gus Jogorekso dan di makam Gunungpring. Haul adalah acara peringatan meninggalnya Kyai Raden Santri yang diisi dengan pembacaan Alquran, tahlil, kirab budaya, dan diakhiri dengan pengajian oleh para ulama dan kiai, menurut tulisan tentang Raden Santri yang merangkum tradisi itu. Peringatan haul seperti ini lazim di kalangan pesantren dan masyarakat Jawa, karena haul dipahami sebagai cara untuk mengingat, mendoakan, dan meneladani orang saleh yang telah wafat.
Hal yang menarik dari haul di Gunungpring adalah kirab budaya oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Deretan barisan pembawa tumpeng dan rangkaian hasil tani sebagai simbol bentuk syukuran berangkat dari halaman rumah Gus Jogorekso, kemudian melewati Jalan Pemuda Muntilan menuju makam, dan dilanjutkan dengan berziarah membaca tahlil, kemudian bancaan atau makan bersama. Kirab ini dimeriahkan oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan delman dan berpakaian ala wali bagi pria, serta berpakaian sopan menggunakan kerudung bagi wanita. Gambaran ini menunjukkan bahwa haul di Gunungpring bukan hanya acara keagamaan di dalam masjid, melainkan juga perayaan budaya yang melibatkan jalan, kendaraan tradisional, pakaian, makanan, dan hasil tani.
Kirab budaya ini penting karena dua alasan. Pertama, kirab menegaskan hubungan Gunungpring dengan keraton, karena abdi dalem yang ikut serta adalah penanda kelembagaan yang tidak dimiliki oleh semua makam. Kedua, kirab menunjukkan bahwa syukur dalam tradisi Jawa sering diungkapkan melalui hasil bumi, karena tumpeng dan hasil tani adalah simbol dari rezeki yang diterima dari tanah. Peziarah dan penonton yang menyaksikan kirab tidak hanya melihat pawai, tetapi juga melihat cara masyarakat mengungkapkan syukur secara kolektif, melalui makanan yang dibagikan dan dimakan bersama. Bancaan di akhir kirab menjadi penutup yang tepat, karena kebersamaan dalam makan adalah bentuk syukur yang paling sederhana dan paling merata.
Bagi pembaca yang ingin menyaksikan haul, penting untuk memahami bahwa tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah berpindah setiap tahun dalam kalender Masehi, sehingga jadwal pastinya perlu dikonfirmasi kepada pengelola atau warga setempat menjelang waktunya. Artikel ini tidak mencantumkan tanggal Masehi untuk haul tahun tertentu, karena tanggal itu berubah setiap tahun dan mudah kedaluwarsa. Yang dapat dipastikan adalah pola tahunannya, yaitu bahwa haul diadakan pada 1 Muharram, diisi dengan bacaan Alquran, tahlil, kirab budaya, dan pengajian, dan terbuka bagi masyarakat yang ingin ikut serta dengan sikap hormat.
Gunungpring dalam Peta Wisata Religi Magelang
Gunungpring kini dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata religi di Jawa Tengah, dan para peziarah yang datang bukan hanya ingin berdoa di makam Kyai Raden Santri, tetapi juga ingin merasakan ketenangan dari suasana perbukitan yang dipenuhi pohon bambu, menurut tulisan tentang asal usul nama Gunungpring. Keindahan alam yang berpadu dengan kekayaan sejarah membuat Gunungpring memiliki daya tarik tersendiri, karena ziarah di tempat ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perjalanan budaya dan spiritual yang mengingatkan pada jejak para ulama penyebar Islam. Perpaduan antara alam, sejarah, dan spiritualitas inilah yang membuat Gunungpring berbeda dari makam-makam lain yang hanya dikenal karena satu tokoh saja.
Dalam peta wisata religi Magelang, Gunungpring sering disebut bersamaan dengan makam-makam lain, seperti Makam Syekh Subakir di Gunung Tidar yang juga ramai diziarahi menjelang Ramadan. Perbandingan ini membantu pembaca memahami bahwa Magelang memiliki jaringan tempat ziarah yang saling berkaitan, bukan hanya satu titik. Gunung Tidar dikenal sebagai paku tanah Jawa dalam keyakinan masyarakat, sedangkan Gunungpring dikenal sebagai kampung pasarean keturunan Mataram Islam. Keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa Magelang adalah wilayah yang kaya akan jejak dakwah Islam dari masa ke masa. KabarTidar sebelumnya telah membahas masjid-masjid tua di Kota Magelang, dan pembaca yang menelusuri jejak Islam di Magelang dapat memadukan kunjungan ke masjid tua, makam Gunungpring, dan kawasan Muntilan dalam satu perjalanan.
Muntilan sendiri adalah kawasan yang kaya, tidak hanya karena Gunungpring, tetapi juga karena industri rumahan dan kulinernya. KabarTidar sebelumnya telah membahas industri rumahan Muntilan dan Pasar Muntilan, dan kedua pembahasan itu relevan bagi peziarah yang ingin memahami kehidupan warga di sekitar kompleks makam. Peziarah yang turun dari bukit dapat mampir ke pasar, membeli oleh-oleh dari industri rumahan, dan mencicipi blendrang yang telah dibahas KabarTidar, sehingga ziarah memberi manfaat ekonomi bagi warga Muntilan secara lebih luas. Rangkaian seperti ini menunjukkan bahwa wisata religi yang baik tidak hanya menguntungkan kompleks makam, tetapi juga menggerakkan ekonomi kawasan.
Bagi pengelola, tantangan terbesar dalam mengembangkan Gunungpring sebagai destinasi wisata religi adalah menjaga kesakralan di tengah keramaian. Kompleks makam yang terlalu dikomersialkan dapat kehilangan ketenangan yang justru menjadi daya tariknya, sedangkan kompleks yang terlalu tertutup dapat kehilangan dukungan ekonomi dari peziarah. Jalan tengahnya adalah pengelolaan yang menghormati fungsi utama tempat ini sebagai tempat ibadah dan ziarah, sambil menyediakan fasilitas dasar yang memadai, seperti parkir yang tertata, toilet yang bersih, tempat istirahat, dan informasi yang akurat. Warga sekitar, abdi dalem, pengelola, dan pemerintah daerah perlu bekerja sama dalam hal ini, karena tidak ada satu pihak pun yang dapat menjaga kompleks sebesar ini sendirian.
Etika Berziarah dan Hal yang Perlu Dihormati
Berziarah ke makam ulama memiliki etika yang sebaiknya dipahami oleh setiap pengunjung, terutama pengunjung yang baru pertama kali datang. Etika yang paling dasar adalah berpakaian sopan, menjaga suara, tidak berdesak-desakan, dan mengikuti arahan penjaga makam. Peziarah sebaiknya tidak mengambil apa pun dari kompleks makam, tidak mencoret-coret bangunan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Etika ini berlaku umum di semua tempat ziarah, tetapi di Gunungpring etika itu menjadi lebih penting karena kompleksnya berada di kampung pasarean yang juga merupakan tempat tinggal keluarga penjaga makam. Menghormati makam berarti juga menghormati warga yang tinggal di sekitarnya.
Peziarah juga sebaiknya memahami bahwa di kompleks makam terdapat perbedaan praktik dan keyakinan di antara sesama peziarah. Ada peziarah yang datang dengan niat tabarruk, ada yang datang untuk mendoakan dan mengingat kematian, dan ada yang datang untuk napak tilas sejarah. Perbedaan niat ini tidak perlu diperdebatkan di lokasi, karena masing-masing peziarah memiliki guru dan pemahaman yang berbeda. Sikap yang paling baik adalah saling memberi ruang, tidak mengomentari praktik orang lain dengan suara keras, dan memusatkan perhatian pada doa masing-masing. Dengan sikap itu, kompleks makam dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi semua orang, apa pun latar belakangnya.
Bagi pengunjung yang datang bukan untuk berziarah, melainkan untuk belajar sejarah atau menikmati pemandangan, sikap hormat tetap diperlukan. Pengunjung semacam itu sebaiknya tidak berfoto dengan gaya yang tidak sopan di dekat makam, tidak menghalangi jalur peziarah, dan tidak menjadikan makam sebagai latar hiburan semata. Mengamati dan belajar adalah tujuan yang sah, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tidak mengganggu kekhusyukan. Bila ragu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bertanya kepada penjaga makam adalah langkah yang paling aman, karena penjaga adalah pihak yang paling memahami tata krama setempat.
Pada akhirnya, Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring mengajarkan bahwa sejarah dakwah Islam di Jawa tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga hidup dalam makam, masjid, sendang, kirab, dan ziarah harian. Tokoh yang memilih dakwah daripada kekuasaan itu dikenang bukan karena istana atau harta, melainkan karena jejaknya yang terus diziarahi, didoakan, dan diceritakan dari generasi ke generasi. Bagi pembaca yang ingin memahami Magelang secara lebih dalam, datang ke Gunungpring, menaiki tangganya dengan sabar, dan berdoa dengan tenang di makamnya adalah cara yang paling langsung untuk merasakan sejarah itu, bukan sebagai cerita yang jauh, melainkan sebagai kehidupan yang masih berlangsung di atas bukit bambu di barat Muntilan.


