Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Kuliner » Blendrang Muntilan: Bubur Tepung Terigu dengan Ayam dan…
Kuliner

Blendrang Muntilan: Bubur Tepung Terigu dengan Ayam dan Balungan Kambing

Semangkuk bubur dari tepung terigu, bukan beras, ditemani tulang ayam atau kambing, dan hanya mudah ditemukan di Muntilan. Ini gambaran jujurnya, termasuk hal-hal yang belum bisa dipastikan.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 00.51 WIB
Ilustrasi semangkuk bubur blendrang Muntilan dengan potongan ayam
Ilustrasi semangkuk bubur blendrang dengan potongan ayam dan balungan, disajikan hangat di warung sederhana. (Ilustrasi: KabarTidar)

Blendrang Muntilan adalah bubur tepung terigu yang disajikan hangat bersama ayam atau balungan kambing, dan warungnya yang paling dikenal berada di Dusun Bintaro, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Bagi pembaca yang baru pertama kali mendengar namanya, gambaran paling sederhananya begini: semangkuk bubur kental dari tepung terigu, bukan dari beras, lalu di atasnya atau di sampingnya ada potongan ayam atau tulang kambing yang masih menyisakan daging untuk dikunyah perlahan. Perpaduan itu membuat blendrang terasa berbeda dari bubur-bubur lain yang biasa ditemui di Magelang, karena bahan dasarnya saja sudah tidak umum.

Muntilan sendiri adalah kota kecamatan di jalur utama antara Magelang dan Yogyakarta, sekitar 16 kilometer di selatan pusat Kota Magelang. Setiap hari, kendaraan dari dua arah melintas di sini, termasuk rombongan wisatawan yang menuju Candi Borobudur. Di tengah lalu lintas itu, blendrang bertahan sebagai kuliner lokal yang dicari orang, bukan sebagai hidangan yang dijajakan di mana-mana. Ia tidak semudah itu ditemukan di luar Muntilan, dan justru di situlah daya tariknya: orang datang ke Muntilan untuk makan blendrang, bukan sebaliknya.

Artikel ini membahas blendrang dari sisi yang bisa diverifikasi: apa isi semangkuknya, di mana warung yang tercatat, jam bukanya menurut sumber yang tersedia, dan satu hal penting yang sering membuat orang salah paham, yaitu bahwa kata blendrang ternyata punya arti kedua di daerah lain. Hal-hal yang tidak ditemukan sumbernya, seperti harga seporsi saat ini atau resep bumbu yang dipakai warung tertentu, tidak ditulis sebagai fakta. Tujuannya sederhana, yaitu supaya pembaca yang ingin mencoba blendrang datang dengan gambaran yang jujur, bukan dengan janji yang tidak bisa dipastikan.

Blendrang Muntilan: Bubur Tepung Terigu yang Disantap dengan Tulang

Ciri pertama blendrang Muntilan terletak pada bahan dasarnya. Menurut tulisan perjalanan TRAC Astra tentang Muntilan, blendrang adalah bubur tepung terigu yang sering disajikan bersama tulang ayam atau kambing. Deskripsi itu penting karena membedakan blendrang dari bubur ayam yang biasa dijual di mana-mana. Bubur ayam memakai bubur beras, sedangkan blendrang memakai bubur dari tepung terigu yang dimasak sampai kental. Teksturnya lebih pekat dan rasanya lebih netral, sehingga lauk pendampingnya memegang peran besar dalam menentukan rasa akhir semangkuk itu.

Ciri kedua adalah lauknya. TRAC menyebut ayam atau tulang kambing, dan panduan Wikivoyage untuk Magelang menyebut hidangan ini sebagai bubur blendrang berupa bubur ayam lokal. Dua sumber itu saling melengkapi: ayam adalah lauk yang paling sering disebut, sementara balungan kambing menjadi pilihan bagi pembeli yang menginginkan rasa yang lebih kuat dari tulang. Cara menyantapnya pun mengikuti logika hidangan bertulang, yaitu daging yang menempel di tulang dimakan bersama buburnya, sedikit demi sedikit, bukan dipotong rapi seperti lauk ayam goreng. Pengalaman makan seperti inilah yang membuat blendrang terasa seperti hidangan rumahan yang sabar, bukan makanan cepat saji.

Ciri ketiga adalah waktunya. Blendrang adalah hidangan untuk pagi hingga awal siang. Panduan Wikivoyage mencatat salah satu warung blendrang di Gunungpring buka pukul 10.00 sampai 14.30, sementara direktori tempat usaha mencatat warung yang sama buka pukul 09.30 sampai 14.30. Perbedaan satu jam itu menunjukkan bahwa jam buka warung seperti ini bisa berubah dan tidak selalu sama di semua sumber, sehingga pembaca yang berencana datang sebaiknya tiba sebelum awal siang daripada mengandalkan satu angka jam secara mutlak. Pola jam buka ini juga memberi gambaran tentang siapa pembelinya: orang yang sarapan agak siang, pekerja yang makan siang awal, dan pelintas jalur Magelang-Yogyakarta yang berhenti sebentar.

Di luar tiga ciri itu, masih ada hal-hal yang belum bisa dipastikan dari sumber terbuka. Bumbu kuah yang dipakai, takaran tepungnya, dan sejak kapan tepatnya warung-warung blendrang di Gunungpring mulai berjualan tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip di sini. Artikel ini sengaja tidak mengarang ketiganya. Bagi pembaca, itu berarti satu hal: rasa blendrang yang sebenarnya hanya bisa diketahui dengan mencobanya langsung di warungnya, bukan dari membaca deskripsi.

Dua Warung yang Tercatat di Gunungpring

Nama yang paling sering muncul ketika orang membicarakan blendrang Muntilan adalah Dusun Bintaro di Desa Gunungpring. TRAC Astra menyebut warung di Bintaro sebagai yang paling terkenal di antara beberapa warung blendrang di Muntilan. Gunungpring sendiri adalah desa di Kecamatan Muntilan yang juga dikenal karena Makam Kyai Raden Santri di Gunung Pring, sehingga kawasan ini memang sudah biasa didatangi peziarah dan pelancong. Warung blendrang tumbuh di tengah keramaian itu, melayani orang yang lewat maupun yang memang datang untuk makan.

Selain penyebutan Bintaro, direktori tempat usaha mencatat dua nama warung yang bisa dilacak. Pertama, Blendrang Ayam Munthilan yang tercatat beralamat di Wonosari, Gunungpring, dengan jam buka sekitar pukul 09.30 sampai 14.30 pada sebagian besar hari. Kedua, warung yang tercatat dengan nama Budhe Kun di Jalan Kyai Raden Santri, Gunungpring, dengan jam buka yang tercatat lebih panjang, pukul 09.00 sampai 20.00. Dua catatan ini berasal dari direktori yang datanya bisa berubah, sehingga nama dan jamnya perlu dikonfirmasi ulang sebelum dijadikan patokan perjalanan. Yang pasti dari keduanya adalah lokasinya: blendrang Muntilan berpusat di Gunungpring, bukan tersebar merata di seluruh Kabupaten Magelang.

Keterpusatan itu juga menjelaskan kenapa blendrang tidak mudah ditemukan di Kota Magelang. Hidangan ini adalah kuliner kecamatan, dijual di warung-warung yang melayani langganan dan pelintas, bukan di restoran besar atau di pusat perbelanjaan. Pembeli yang datang biasanya sudah tahu apa yang dicari: semangkuk bubur tepung terigu hangat dengan ayam atau balungan. Tidak ada etalase besar, tidak ada antrean yang dipamerkan, dan justru kesederhanaan itulah yang membuat warung-warung seperti ini bertahan. Mereka menjual satu hidangan yang dikerjakan berulang-ulang sampai rasanya stabil, bukan puluhan menu yang berganti-ganti.

Kenapa Bubur Terigu di Tanah Beras

Pertanyaan yang wajar muncul ketika mendengar blendrang adalah kenapa bubur dari tepung terigu bisa menjadi kuliner khas di daerah yang makanannya berbasis beras. Magelang adalah daerah persawahan, dan hidangan-hidangannya yang paling dikenal memakai beras atau ketela: kupat tahu memakai ketupat, getuk memakai singkong, dan sego godog memakai nasi. Di tengah semua itu, bubur tepung terigu terasa seperti pengecualian. Artikel ini tidak menemukan sumber yang menjelaskan asal-usul tepung terigu dalam blendrang secara pasti, sehingga pertanyaan itu dibiarkan terbuka di sini, bukan dijawab dengan karangan.

Yang bisa dikatakan dengan aman adalah bahwa kehadiran blendrang menunjukkan satu hal tentang dapur Jawa: bahan pokok bisa datang dari luar kebiasaan setempat, lalu diterima karena cara memasaknya sesuai dengan selera setempat. Tepung terigu yang dimasak menjadi bubur kental, disajikan hangat, dan ditemani lauk bertulang adalah kombinasi yang masuk akal bagi lidah Jawa yang menyukai hidangan berkuah dan hangat. Blendrang tidak berusaha menjadi bubur beras, dan justru karena itulah ia punya tempat sendiri. Ia bukan pengganti bubur ayam, melainkan hidangan yang berdiri sejajar dengannya.

Perbandingan dengan bubur ayam juga membantu pembaca yang baru pertama kali mencoba. Bubur ayam punya rasa gurih dari kaldu ayam dan tekstur bubur beras yang lembut. Blendrang punya tekstur yang lebih pekat karena tepung terigu, dan rasa yang lebih banyak ditentukan oleh lauknya, entah itu ayam atau balungan kambing. Pembaca yang menyukai bubur yang kental dan suka mengunyah daging dari tulang kemungkinan akan lebih cocok dengan blendrang, sementara pembaca yang mencari bubur yang ringan mungkin tetap memilih bubur ayam. Perbedaan itu bukan soal mana yang lebih enak, melainkan soal selera dan kebiasaan makan.

Satu Kata, Dua Arti

Ada satu hal yang perlu diluruskan sebelum pembaca mencari blendrang di tempat lain, yaitu bahwa kata blendrang tidak selalu berarti bubur tepung terigu. Di beberapa daerah, blendrang dipakai untuk menyebut sayur yang dipanaskan berulang-ulang. Sebuah tulisan akademik tentang kuliner Blitar menyebut blendrang tewel, yaitu sayur nangka muda yang dipanaskan berkali-kali, dan menilai hidangan itu kurang sehat justru karena proses pemanasan berulang yang mengurangi zat gizi bahan utamanya. Di tempat lain, seorang perawat desa menyebut kebiasaan warga memanaskan sayur sisa kemarin dengan nama sayur blendrang, karena sayang kalau dibuang.

Dua arti ini penting untuk dibedakan. Blendrang Muntilan adalah nama hidangan yang dimasak segar sebagai bubur tepung terigu, sedangkan blendrang dalam arti kedua adalah cara memperlakukan sayur sisa, apa pun sayurnya. Keduanya memakai kata yang sama, tetapi merujuk pada hal yang berbeda. Pembaca yang mencari blendrang Muntilan di Blitar atau Ponorogo kemungkinan akan menemukan pengertian kedua, bukan bubur tepung terigu. Sebaliknya, pembaca yang mendengar kata blendrang di Muntilan hampir pasti akan diarahkan ke bubur tepung terigu dengan ayam atau balungan kambing.

Perbedaan ini juga menjadi pengingat bahwa nama makanan tradisional tidak selalu punya satu arti di seluruh Jawa. Kata yang sama bisa lahir dari kebiasaan dapur yang berbeda di tempat yang berbeda. Dalam kasus blendrang, satu daerah menggunakannya untuk bubur tepung terigu yang dijual di warung, sementara daerah lain menggunakannya untuk sayur yang dipanaskan ulang di rumah. Keduanya sama-sama bagian dari budaya makan Jawa, tetapi hanya satu yang menjadi kuliner khas Muntilan.

Blendrang di Tengah Kuliner Muntilan

Blendrang tidak berdiri sendiri di Muntilan. Kecamatan ini punya deretan kuliner yang masing-masing sudah dikenal luas, dan blendrang adalah salah satu dari deretan itu. Kupat tahu Magelang, dengan ketupat dan tahu yang disiram bumbu kacang, adalah hidangan yang paling sering disebut ketika orang membicarakan makanan Magelang, dan warung kupat tahu tersebar di banyak tempat. Mangut beong, ikan beong yang dimasak berkuah santan dengan rasa pedas, adalah hidangan lain yang menjadi kebanggaan daerah ini, terutama di kawasan Borobudur. Sego godog, nasi yang dimasak dengan kuah dan sayuran, melengkapi daftar hidangan berkuah yang menjadi ciri dapur Magelang.

Di antara hidangan-hidangan itu, blendrang menempati posisi yang unik karena bahan dasarnya. Kupat tahu, mangut beong, dan sego godog semuanya berangkat dari bahan yang akrab di dapur Jawa: ketupat, ikan, dan nasi. Blendrang berangkat dari tepung terigu, bahan yang lebih jarang menjadi bahan pokok hidangan utama. Keunikan itu membuat blendrang mudah diingat, tetapi juga membuatnya lebih sulit dicari, karena warung yang menjualnya tidak sebanyak warung kupat tahu atau warung soto. Bagi wisatawan kuliner, justru di situlah tantangannya: menemukan blendrang terasa seperti menemukan sesuatu yang tidak dijual di mana-mana.

Muntilan sendiri membantu blendrang bertahan karena posisinya. Kecamatan ini berada di jalur utama Yogyakarta-Magelang dan dekat dengan kawasan Borobudur, sehingga arus orang yang lewat tidak pernah benar-benar berhenti. Warung-warung di sini tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga pelintas, peziarah Gunungpring, dan wisatawan yang singgah dalam perjalanan. Pasar Muntilan yang ramai di pagi hari menambah gambaran itu: Muntilan adalah tempat orang berbelanja, makan, dan berganti kendaraan, bukan sekadar tempat lewat. Dalam keramaian seperti itu, hidangan seperti blendrang punya peluang untuk terus dicari, selama warungnya tetap buka dan rasanya tetap dijaga.

Ada juga hubungan yang menarik antara Muntilan dan dunia sastra. Penulis Ratih Kumala mengungkapkan bahwa Kota M dalam novel Gadis Kretek sebenarnya adalah Muntilan, tempat ia menghabiskan masa kecilnya. Novel itu kemudian diadaptasi menjadi serial yang ditonton banyak orang, dan Muntilan pun ikut dikenal sebagai Kota M. Hubungan ini tidak berhubungan langsung dengan blendrang, tetapi membantu menjelaskan kenapa Muntilan belakangan semakin sering dikunjungi: orang datang karena penasaran dengan Kota M, lalu menemukan kulinernya, termasuk blendrang. Kuliner dan cerita, dalam hal ini, saling menguatkan.

Menikmati Blendrang untuk Pertama Kalinya

Pembaca yang belum pernah makan blendrang mungkin bertanya-tanya bagaimana cara menikmatinya. Jawabannya mengikuti bentuk hidangannya sendiri. Blendrang disajikan hangat dalam mangkuk, dengan bubur tepung terigu sebagai dasar dan ayam atau balungan kambing sebagai teman. Cara yang paling wajar adalah memakan bubur bersama daging yang menempel di tulang, sedikit demi sedikit, sambil menikmati kuahnya yang hangat. Tidak ada aturan khusus yang perlu dihafalkan, dan tidak ada cara makan yang dianggap salah, selama pembaca datang dengan waktu yang cukup untuk makan perlahan.

Waktu makan juga memengaruhi pengalaman. Blendrang dijual pada pagi hingga awal siang, sehingga suasananya adalah suasana pagi: warung baru buka atau sudah ramai pembeli awal, udara masih segar, dan hidangan disajikan hangat dari tempat masaknya. Pembaca yang datang pada jam-jam ini akan merasakan blendrang sebagaimana mestinya dinikmati, yaitu sebagai hidangan pagi yang mengenyangkan tanpa tergesa-gesa. Datang terlalu siang berisiko mendapati warung sudah tutup, karena jam buka yang tercatat di berbagai sumber semuanya berakhir pada awal siang.

Untuk pembaca yang datang dari luar Muntilan, blendrang juga bisa menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Kawasan Gunungpring sendiri dikenal sebagai tempat peziarahan, dan Candi Ngawen yang terletak tidak jauh dari Muntilan adalah salah satu situs bersejarah yang bisa dikunjungi dalam perjalanan yang sama. Borobudur, yang berjarak kurang dari 15 kilometer atau sekitar 30 menit berkendara dari pusat Muntilan menurut TRAC Astra, juga berada dalam jangkauan yang wajar. Dengan begitu, semangkuk blendrang di pagi hari bisa menjadi pembuka perjalanan, bukan sekadar tujuan tunggal yang berdiri sendiri.

Satu hal terakhir yang perlu diingat oleh pembaca yang baru pertama kali mencoba adalah soal ekspektasi. Blendrang bukan hidangan yang dibuat untuk mengesankan lewat tampilan atau lewat nama yang mewah. Ia adalah hidangan warung yang sederhana, dengan bahan yang sederhana pula, dan kekuatannya terletak pada kesesuaian antara bubur yang kental, lauk yang bertulang, dan suasana pagi di Muntilan. Pembaca yang datang dengan ekspektasi seperti itu kemungkinan besar akan pulang dengan kesan yang baik, sementara pembaca yang mencari hidangan yang rumit mungkin perlu menyesuaikan harapannya.

Panduan Singkat Sebelum Datang

Bagi pembaca yang ingin mencoba blendrang Muntilan, ada beberapa hal praktis yang bisa dipegang. Pertama, tujuannya adalah Gunungpring, Kecamatan Muntilan, dan patokan yang paling sering disebut adalah Dusun Bintaro. Kedua, waktunya adalah pagi hingga awal siang. Panduan Wikivoyage mencatat jam buka pukul 10.00 sampai 14.30 untuk salah satu warung, sementara direktori mencatat jam buka pukul 09.30 sampai 14.30 untuk warung yang sama, sehingga angka yang aman adalah datang sebelum awal siang dan tidak mengandalkan satu sumber jam secara mutlak. Ketiga, pesanlah blendrang dengan lauk yang diinginkan, ayam atau balungan kambing, dan siapkan diri untuk makan dengan cara yang santai, karena hidangan bertulang memang dinikmati perlahan.

Hal-hal yang tidak bisa dipastikan di sini juga perlu disampaikan secara terbuka. Harga seporsi blendrang saat ini tidak ditemukan dalam sumber terbuka yang bisa dikutip, sehingga artikel ini tidak mencantumkan angka harga. Rasa dan bumbu setiap warung juga tidak bisa digambarkan secara pasti tanpa mencobanya langsung, karena warung yang berbeda bisa memakai racikan yang berbeda. Pembaca yang datang dengan ekspektasi seperti itu, yaitu ekspektasi yang terbuka, kemungkinan akan lebih menikmati blendrang daripada pembaca yang datang dengan gambaran rasa yang sudah dikarang-karang sebelumnya.

Terakhir, ada satu saran yang berlaku untuk semua kuliner warung seperti blendrang: hormati jam dan kebiasaan warungnya. Warung-warung seperti ini biasanya dikelola keluarga, buka pada jam-jam tertentu, dan tutup ketika dagangan habis atau ketika hari sudah siang. Datang lebih awal bukan hanya soal mendapatkan porsi, tetapi juga soal menghargai cara kerja warung itu. Blendrang bukan hidangan yang dibuat untuk antrean panjang atau untuk foto semata, melainkan hidangan yang dibuat untuk dimakan hangat, di tempat, bersama orang-orang yang memang datang untuk itu.

Karena informasi tentang blendrang di internet masih terbatas, pembaca yang sudah mencoba juga bisa membantu pembaca berikutnya dengan cara yang sederhana, yaitu dengan memastikan kembali informasi praktis di lokasi, seperti jam buka dan menu yang tersedia pada hari itu, sebelum membagikannya kepada orang lain. Informasi dari direktori dan panduan perjalanan memang berguna sebagai titik awal, tetapi warung keluarga bisa mengubah jam buka atau menunya tanpa mengumumkan di internet. Kebiasaan memeriksa ulang di tempat adalah bagian dari cara menikmati kuliner warung yang paling jujur, dan itu berlaku untuk blendrang maupun untuk kuliner tradisional lainnya di Magelang.

Blendrang Muntilan, pada akhirnya, adalah bukti bahwa kuliner khas tidak harus rumit untuk diingat. Tepung terigu yang dimasak menjadi bubur, ayam atau balungan kambing sebagai teman, dan warung sederhana di Gunungpring sebagai tempatnya, itu saja sudah cukup untuk membuat satu hidangan bertahan di tengah arus kuliner yang terus berubah. Selama warungnya tetap buka dan orang masih datang untuk semangkuk bubur hangat di pagi hari, blendrang akan tetap menjadi bagian dari Muntilan, dan Muntilan akan tetap punya alasan untuk disinggahi.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *