Jajanan Pasar Tradisional Magelang: Lupis, Klepon, Cenil, hingga Putu Mayang
Di lapak pasar pagi Magelang, ketan, singkong, jagung, dan pisang diolah menjadi puluhan penganan kecil yang manis, gurih, dan mudah dibagi — warisan kuliner yang masih hidup karena terus dibeli, bukan sekadar dikenang.

Jajanan pasar tradisional Magelang adalah aneka kue dan penganan kecil khas Jawa yang dijual di pasar-pasar tradisional Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, terutama pada pagi hari. Ciri umumnya mudah dikenali: porsi kecil, bahan dasar dari hasil bumi seperti beras ketan, singkong, jagung, pisang, dan tepung beras, pemanis dari gula merah, serta pelengkap berupa kelapa parut dan santan. Jajanan ini dijual dalam tampah, baki, atau pincuk daun pisang, dan dibeli untuk sarapan ringan, bekal, suguhan tamu, atau sekadar camilan sebelum berbelanja kebutuhan harian.
Di Kota Magelang, Pasar Rejowinangun menjadi rujukan paling jelas untuk melihat ragam jajanan ini dalam satu tempat. Sebuah artikel kuliner yang terbit pada Maret 2026 menggambarkan pasar tersebut sebagai tempat jajanan pasar legendaris yang masih mudah dijumpai, dengan aroma santan hangat dan gula jawa yang tercium sejak pagi hari. Artikel itu mencatat lima jajanan yang menonjol di sana, yakni lupis, cenil dan klepon, jadah tempe, gethuk cotot, serta grontol jagung. Daftar itu saling menguatkan dengan liputan kuliner di kawasan Rindam, Kota Magelang, yang menyebut cenil, lupis, klepon, dan getuk sebagai jajanan pasar yang dijual berdampingan dalam satu kawasan. Profil Pariwisata Kota Magelang pun mencantumkan jajan pasar sebagai salah satu daya tarik kuliner kota, dengan menyebut getuk gondok, sate pisang, dan putu mayang sebagai contohnya.
Artikel ini membahas jajanan pasar tradisional Magelang sebagai satu kelompok kuliner, bukan sebagai ulasan tentang satu jajanan saja. Getuk, yang sudah memiliki artikel sendiri, hanya disebut di sini sebagai salah satu anggota dari kelompok besar itu. Fokus pembahasan adalah jenis-jenis jajanan yang keberadaannya terverifikasi di Magelang, bahan dan cara pembuatan secara umum, serta konteks budaya yang membuat jajanan ini bertahan di tengah maraknya jajanan modern.
Jajanan pasar tradisional Magelang di Pasar Rejowinangun
Pasar Rejowinangun di Jalan Mataram, Kota Magelang, adalah pasar tradisional terbesar di kota itu dan telah lama menjadi pusat perdagangan rakyat. KabarTidar sebelumnya telah membahas pasar ini secara khusus dalam artikel tentang Pasar Rejowinangun Magelang, termasuk sejarahnya yang tumbuh dari keramaian di sekitar Stasiun Magelang Pasar pada awal abad ke-20. Dalam pasar sebesar itu, jajanan pasar menempati lapak-lapak tersendiri, biasanya di deretan pedagang makanan, dan menjadi bagian dari rutinitas belanja pagi warga.
Menurut artikel kuliner tentang Pasar Rejowinangun yang dikutip di atas, suasana berburu jajanan di pasar ini paling terasa pada pagi hari, ketika lapak-lapak jajanan baru digelar dan pilihan masih lengkap. Artikel itu juga mencatat bahwa sebagian jajanan favorit dapat habis sebelum tengah pagi, sehingga pembeli yang datang lebih pagi memiliki pilihan yang lebih beragam. Catatan semacam ini penting dibaca sebagai gambaran umum, bukan sebagai jaminan: ketersediaan setiap jajanan pada hari tertentu tetap bergantung pada pedagang yang datang dan bahan yang tersedia.
Di luar Pasar Rejowinangun, jajanan yang sama juga dijumpai di kawasan kuliner lain di Kota Magelang. Liputan Tribun Travel tentang kawasan Rindam, misalnya, menggambarkan cenil, lupis, klepon, dan getuk dijual berdampingan sebagai jajanan ringan tradisional. Perbedaan tempatnya perlu dicatat dengan jujur: Rindam adalah lapangan dan kawasan kuliner sore hingga malam, bukan pasar tradisional. Namun kehadiran jajanan yang sama di dua tempat yang berbeda karakter itu menunjukkan satu hal, yakni jajanan pasar di Magelang tidak hanya hidup di dalam pasar, melainkan juga mengikuti kebiasaan warga berkumpul dan bersantap ringan.
Profil Pariwisata Kota Magelang menambahkan satu petunjuk tempat lagi. Dalam profil itu disebutkan bahwa makanan tradisional tersedia di Malanggaten atau Pasar Rejowinangun, dan aneka jajan pasar khas Kota Magelang seperti getuk gondok, sate pisang, dan putu mayang disebut sebagai sajian yang patut dicoba. Informasi ini menempatkan jajanan pasar bukan sekadar dagangan harian, melainkan bagian dari identitas kuliner kota yang diperkenalkan kepada pengunjung dari luar daerah.
Keluarga ketan dan singkong: lupis, cenil, klepon, dan getuk
Sebagian besar jajanan pasar tradisional Magelang dapat dikelompokkan menurut bahan dasarnya. Kelompok pertama adalah keluarga ketan dan singkong, yang paling sering dijumpai dalam satu pincuk campuran. Lupis adalah contoh paling jelas dari kelompok ini. Menurut artikel tentang Pasar Rejowinangun, lupis di sana dibuat dari ketan yang dimasak dalam bungkus daun pisang berbentuk segitiga, sehingga menghasilkan aroma khas daun pisang. Setelah dibuka dari bungkusnya, lupis disajikan dengan siraman kinca, yakni saus gula jawa yang kental, serta taburan kelapa parut segar. Perpaduan ketan yang pulen dan lembut, kinca yang manis legit, dan kelapa parut yang gurih adalah ciri rasa lupis yang paling mudah dikenali.
Cenil dan klepon sering dijual berdampingan dengan lupis, dan ketiganya kerap dibeli dalam satu pincuk campuran. Menurut liputan tentang kawasan Rindam, cenil terbuat dari pati ketela pohon, berukuran kecil, bertekstur kenyal, dan berwarna-warni. Cenil biasanya disajikan dengan kelapa parut segar dan juruh, yakni saus gula merah cair. Artikel tentang Pasar Rejowinangun menambahkan gambaran yang sejalan: deretan cenil dan klepon warna-warni hampir selalu ada di lapak jajanan pasar itu, dan keduanya disajikan dengan parutan kelapa segar.
Klepon memiliki ciri yang membedakannya dari cenil. Klepon berbentuk bola kecil dari adonan tepung ketan, berisi gula merah di bagian dalam, lalu direbus hingga matang dan digulingkan di atas kelapa parut. Ketika digigit, isian gula merah yang telah meleleh akan keluar sebagai cairan manis. Menurut artikel tentang Pasar Rejowinangun, sensasi inilah yang membuat klepon digemari: kenyal di luar, manis legit di dalam, dan gurih dari kelapa parut di luarnya. Warna hijau pada klepon umumnya berasal dari daun pandan atau suji, yang sekaligus memberi aroma khas.
Getuk disebut di sini secara singkat, karena jajanan ini sudah dibahas dalam artikel tersendiri. Dalam kelompok jajanan pasar Magelang, getuk menempati posisi yang istimewa karena paling lekat dengan identitas kota. Menurut artikel Espos yang mengutip buku Yuk, Mengenal Makanan Nusantara (2021) karya Ernawati Lilys, masyarakat Magelang sudah memproduksi dan mengonsumsi getuk sejak zaman penjajahan Jepang, ketika beras sulit diperoleh dan harganya mahal, sehingga singkong dimanfaatkan sebagai bahan pangan pengganti. Artikel yang sama menyebut Mbah Ali Mohtar sebagai orang pertama yang berinovasi menciptakan getuk, dan nama getuk dikaitkan dengan bunyi tuk-tuk saat singkong ditumbuk. Kisah ini ditulis di sini sebagai cerita asal-usul yang berkembang di masyarakat dan dikutip dari sumber tersebut, bukan sebagai hasil penelusuran arsip yang dilakukan untuk artikel ini.
Gethuk cotot adalah varian getuk yang dicatat artikel tentang Pasar Rejowinangun sebagai salah satu jajanan khas di sana. Menurut artikel itu, gethuk cotot terbuat dari singkong kukus yang lembut dan berisi gula pasir atau gula jawa, sehingga saat digigit gula di dalamnya meleleh keluar. Kata cotot sendiri, menurut artikel tersebut, berasal dari bahasa Jawa yang berarti keluar secara tiba-tiba, menggambarkan sensasi gula yang meleleh itu. Varian ini menunjukkan bahwa satu bahan dasar yang sama, yakni singkong, dapat diolah menjadi jajanan dengan bentuk dan pengalaman makan yang berbeda-beda.
Persamaan kelompok ketan dan singkong ini terletak pada cara penyajiannya. Kelapa parut hampir selalu hadir sebagai pelengkap, baik ditaburkan di atas maupun dijadikan alas gulingan. Gula merah hadir dalam dua bentuk, yakni sebagai isian yang meleleh di dalam klepon dan gethuk cotot, serta sebagai saus cair atau kental yang disiramkan di atas lupis dan cenil. Daun pisang hadir sebagai pembungkus, alas, dan pincuk. Tiga pelengkap inilah yang membuat jajanan yang berbeda-beda tetap terasa berasal dari satu dapur tradisi yang sama.
Jadah tempe dan grontol jagung: jajanan yang mengenyangkan
Kelompok kedua adalah jajanan yang lebih mengenyangkan, yang sering dibeli sebagai sarapan ringan dan bukan sekadar camilan manis. Jadah tempe adalah contohnya. Menurut artikel tentang Pasar Rejowinangun, jadah tempe menjadi menu sarapan favorit warga lokal di pasar itu. Jadah dibuat dari ketan putih yang ditumbuk hingga lembut, lalu disajikan dengan tempe bacem yang manis dan meresap bumbunya. Perpaduan ketan yang gurih lembut dan tempe bacem yang manis legit membuat jadah tempe terasa lebih berat dibandingkan jajanan manis lainnya, dan cocok dimakan sebagai pengganjal perut di pagi hari.
Grontol jagung menempati posisi yang berbeda. Menurut artikel yang sama, grontol jagung adalah jajanan tradisional yang kini semakin jarang ditemui di kota besar, tetapi masih cukup mudah ditemukan di Pasar Rejowinangun. Grontol dibuat dari pipilan jagung yang direbus hingga mekar dan empuk, kemudian disajikan dengan kelapa parut dan sedikit gula. Rasanya memadukan manis alami jagung dan gurih kelapa parut, dengan tekstur jagung yang masih terasa. Artikel itu juga mencatat bahwa grontol cukup mengenyangkan, sehingga sering dibeli sebagai camilan pagi yang sederhana.
Kehadiran jadah tempe dan grontol jagung dalam satu pasar yang sama menunjukkan bahwa jajanan pasar tradisional Magelang tidak hanya soal rasa manis. Ada jajanan yang manis, ada yang gurih, ada yang ringan, dan ada yang mengenyangkan. Pembeli dapat menyusun sendiri kombinasinya: sepotong lupis yang manis, sepotong jadah tempe yang gurih, dan sebungkus grontol jagung sebagai penutup yang ringan. Cara membeli seperti inilah yang membuat jajanan pasar berbeda dari kue kemasan modern, yang umumnya dibeli dalam satu rasa dan satu kemasan tertutup.
Dari sisi bahan, jadah tempe dan grontol jagung juga menunjukkan kedekatan jajanan pasar dengan hasil pertanian di sekitar Magelang. Ketan, jagung, dan kedelai untuk tempe adalah bahan yang sejak lama ditanam dan diolah di Jawa Tengah. Proses pengolahannya pun tidak memerlukan peralatan rumit: ketan ditumbuk, jagung direbus, tempe dibacem. Kesederhanaan inilah yang membuat jajanan ini dapat dibuat dalam skala rumahan dan dijual dalam jumlah terbatas setiap pagi, lalu dibuat lagi keesokan harinya.
Sate pisang dan putu mayang dari profil wisata Kota Magelang
Profil Pariwisata Kota Magelang menyebut dua jajanan lain yang melengkapi daftar di atas, yakni sate pisang dan putu mayang. Keduanya disebut sebagai bagian dari aneka jajan pasar khas Kota Magelang, bersama getuk gondok. Penyebutan ini penting karena berasal dari dokumen profil pariwisata kota, bukan sekadar daftar dari satu penjual. Artinya, kedua jajanan ini dipandang sebagai bagian dari warisan kuliner yang layak diperkenalkan kepada pengunjung.
Sate pisang, sesuai namanya, adalah pisang yang dipotong dan ditusuk seperti sate. Menurut sebuah resep yang menyebutnya sebagai sate pisang khas Magelang, bahan dasarnya adalah pisang kepok kuning yang dikukus hingga matang, kemudian dipotong-potong dan ditusuk dengan tusuk sate. Dalam resep tersebut, sate pisang dilapisi atau disiram adonan tepung hunkwe, lalu dibiarkan dingin sebelum dihidangkan, dan biasanya dinikmati bersama wedang ronde atau wedang kacang. Varian lain yang beredar secara umum memakai pisang yang dipanggang dan disiram saus gula merah santan. Perbedaan varian ini perlu disampaikan secara jujur: sate pisang bukan satu resep tunggal yang baku, melainkan satu nama untuk beberapa cara mengolah pisang tusuk yang berkembang dari dapur ke dapur.
Putu mayang memiliki bentuk yang paling mudah dikenali di antara jajanan pasar. Adonan tepung beras yang dicampur santan dicetak menyerupai untaian mi yang digulung melingkar seperti sarang, lalu dikukus di atas daun pisang. Setelah matang, putu mayang disajikan dengan kuah kinca dari gula merah dan santan. Warna putu mayang biasanya beragam, yakni putih, hijau dari pandan, dan merah muda, sehingga tampilannya menarik terutama bagi anak-anak. Teksturnya kenyal dan lembut, dengan rasa yang manis gurih dari perpaduan gula merah dan santan.
Sate pisang dan putu mayang melengkapi gambaran jajanan pasar Magelang dari sisi bahan. Jika kelompok pertama bertumpu pada ketan dan singkong, dan kelompok kedua pada ketan, tempe, dan jagung, maka kelompok ini bertumpu pada pisang dan tepung beras. Ketiganya bersama-sama menunjukkan satu pola: jajanan pasar Magelang mengolah bahan pangan sehari-hari menjadi penganan kecil yang mudah dibawa, mudah dibagi, dan mudah dinikmati tanpa peralatan makan khusus.
Bahan dan cara pembuatan secara umum
Meski jenisnya beragam, jajanan pasar tradisional Magelang dibuat dari sekelompok bahan yang relatif sama dan saling bertukar peran. Beras ketan menjadi bahan utama lupis dan jadah. Singkong menjadi bahan utama getuk dan pati untuk cenil. Tepung ketan menjadi bahan utama klepon. Tepung beras menjadi bahan utama putu mayang. Jagung menjadi bahan utama grontol. Pisang menjadi bahan utama sate pisang. Kedelai yang diolah menjadi tempe bacem menjadi pasangan jadah. Di atas semua itu, gula merah atau gula jawa menjadi pemanis utama, kelapa parut menjadi pelengkap gurih, santan menjadi penguat rasa, dan daun pisang serta daun pandan menjadi pembungkus dan pemberi aroma.
Cara pembuatan secara umum dapat diringkas dalam beberapa teknik dasar. Pertama, mengukus: singkong dikukus hingga empuk sebelum dihaluskan menjadi getuk, ketan dikukus sebelum ditumbuk menjadi jadah, dan putu mayang dikukus setelah dicetak. Kedua, merebus: klepon direbus hingga mengapung sebagai tanda matang, dan jagung direbus hingga mekar dan empuk menjadi grontol. Ketiga, menumbuk dan menghaluskan: singkong dan ketan ditumbuk atau digiling hingga lembut, lalu dicampur gula dan sedikit garam. Keempat, mencetak dan membungkus: ketan dibungkus daun pisang berbentuk segitiga menjadi lupis, adonan tepung beras dicetak menyerupai mi menjadi putu mayang, dan pisang dipotong lalu ditusuk menjadi sate pisang.
Tahap akhir yang hampir selalu ada adalah penyajian dengan kelapa parut dan saus gula. Kelapa parut yang digunakan umumnya kelapa setengah tua yang diparut segar pada hari yang sama, kemudian diberi sedikit garam agar rasa gurihnya keluar. Saus gula dibuat dengan merebus gula merah bersama air dan daun pandan hingga larut, lalu disaring dan dimasak hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Untuk lupis dan cenil, saus ini disiramkan di atas jajanan. Untuk klepon dan gethuk cotot, gula justru disembunyikan di dalam adonan sebagai isian. Perbedaan penempatan gula inilah yang menciptakan pengalaman makan yang berbeda, meski bahan dasarnya serupa.
Perlu dicatat bahwa uraian cara pembuatan di atas adalah gambaran umum berdasarkan sumber-sumber yang dibaca untuk artikel ini, bukan resep dengan takaran baku. Setiap pedagang dan setiap dapur keluarga memiliki takaran, tingkat kemanisan, dan kekentalan saus yang sedikit berbeda. Perbedaan itulah yang membuat pembeli memiliki lapak langganan masing-masing, dan yang membuat jajanan pasar sulit diseragamkan seperti produk pabrik. Artikel ini tidak mencantumkan takaran resep, karena tujuannya adalah mengenalkan jenis dan karakter jajanan, bukan menggantikan resep dapur para pedagang.
Satu ciri lain yang patut dicatat adalah sifat jajanan pasar yang dibuat segar setiap hari dan tidak tahan lama. Karena memakai santan dan kelapa parut segar tanpa pengawet, sebagian besar jajanan pasar paling nikmat dimakan pada hari yang sama saat dibuat. Sifat inilah yang menjelaskan mengapa lapak jajanan pasar paling ramai pada pagi hari dan mengapa sebagian jajanan cepat habis. Pembeli yang datang siang hari mungkin masih menemukan jajanan, tetapi pilihannya sudah tidak selengkap pagi hari. Sifat segar dan harian ini juga yang membuat jajanan pasar sulit dijual dalam kemasan jarak jauh tanpa mengubah karakternya.
Mengapa jajanan pasar bertahan di tengah jajanan modern
Di tengah maraknya jajanan modern seperti roti kemasan, donat, dan camilan impor, jajanan pasar tradisional Magelang tetap memiliki pembeli. Salah satu alasannya adalah harga dan porsi. Jajanan pasar dijual dalam porsi kecil dan dapat dibeli satu per satu atau dicampur dalam satu pincuk, sehingga pembeli dapat mencicipi beberapa jenis sekaligus tanpa harus membeli dalam jumlah besar. Cara membeli seperti ini sesuai dengan kebiasaan belanja pasar, di mana pembeli menyusuri lapak demi lapak dan membeli sedikit dari banyak tempat.
Alasan kedua adalah kedekatan rasa dengan kebiasaan makan sehari-hari. Rasa manis gula merah, gurih kelapa parut, dan aroma daun pandan serta daun pisang adalah rasa yang akrab bagi lidah masyarakat Jawa. Jajanan pasar tidak menawarkan rasa yang asing, melainkan rasa yang sudah dikenal sejak kecil melalui sarapan di rumah, suguhan hajatan, atau bekal sekolah. Keakraban inilah yang membuat jajanan pasar sering dibeli bukan hanya karena lapar, tetapi juga karena kenangan.
Alasan ketiga adalah peran pasar tradisional itu sendiri. Pasar bukan hanya tempat berbelanja, melainkan juga tempat bertemu, bertukar kabar, dan makan bersama. Jajanan pasar menjadi bagian dari ritme itu: dibeli sambil menunggu pesanan, dimakan sambil mengobrol, atau dibawa pulang sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah. Selama pasar tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan warga, jajanan pasar memiliki tempat untuk bertahan, karena keduanya saling menopang.
Namun bertahan bukan berarti tanpa tantangan. Artikel tentang Pasar Rejowinangun mencatat grontol jagung sebagai jajanan yang mulai langka di kota besar, meski masih mudah ditemukan di pasar itu. Catatan semacam ini menunjukkan bahwa kelangkaan jajanan tradisional bukan cerita yang seragam: satu jajanan dapat langka di satu kota tetapi masih hidup di kota lain, atau langka di pusat perbelanjaan modern tetapi masih bertahan di pasar tradisional. Oleh karena itu, menjaga jajanan pasar tidak cukup dengan mengenangnya, melainkan juga dengan terus membelinya dari pedagang pasar.
Tantangan lain datang dari perubahan selera dan waktu. Jajanan pasar umumnya dibuat pada dini hari atau pagi hari, memerlukan ketan yang direndam, singkong yang dikukus, dan kelapa yang diparut segar. Proses yang panjang ini menuntut ketekunan pembuatnya. Di sisi lain, pembeli masa kini memiliki banyak pilihan camilan yang tersedia sepanjang hari tanpa harus datang pagi-pagi. Keseimbangan antara ketekunan pembuat dan kebiasaan pembeli inilah yang menentukan apakah sebuah jajanan akan terus dibuat atau perlahan ditinggalkan.
Konteks budaya: dari sarapan hingga hajatan
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, jajanan pasar tidak hanya berfungsi sebagai camilan. Jajanan pasar hadir dalam berbagai momen, mulai dari sarapan pagi, suguhan tamu, hingga hidangan dalam hajatan dan selamatan. Lupis, cenil, klepon, dan jajanan sejenisnya sering disajikan berdampingan dalam tampah atau piring besar, sehingga tamu dapat mengambil sesuai selera. Penyajian bersama inilah yang membuat jajanan pasar terasa sebagai hidangan kebersamaan, bukan hidangan perorangan.
Pada acara keluarga, jajanan pasar juga menjadi penanda keramahan tuan rumah. Menyuguhkan aneka jajanan pasar berarti menyediakan pilihan bagi tamu dengan selera yang berbeda: ada yang menyukai manis legit, ada yang menyukai gurih, ada yang menyukai kenyal, dan ada yang menyukai lembut. Keragaman jenis dalam satu tampah mencerminkan perhatian tuan rumah kepada tamunya. Dalam konteks ini, jajanan pasar bukan sekadar makanan, melainkan bahasa keramahan yang disampaikan melalui rasa.
Konteks budaya lain adalah peran jajanan pasar sebagai penghubung antargenerasi. Banyak jajanan pasar yang dikenal anak-anak masa kini pertama kali diperkenalkan oleh orang tua atau kakek nenek mereka, baik melalui pasar pagi maupun melalui suguhan di rumah. Ketika anak-anak itu dewasa dan kembali ke pasar, mereka membawa kenangan tersebut. Rantai pengenalan seperti inilah yang membuat jajanan pasar tetap dikenal, meski bentuk kemasan dan tempat penjualannya berubah dari waktu ke waktu.
Getuk, yang hanya disebut singkat dalam artikel ini, memiliki konteks budaya yang paling terdokumentasi di Magelang. Menurut artikel Espos yang dikutip sebelumnya, singkong sebagai bahan utama getuk dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, sedangkan kelapa parut sebagai pelengkap dimaknai sebagai simbol kebermanfaatan, karena seluruh bagian pohon kelapa memiliki kegunaan bagi manusia. Pemaknaan seperti ini menunjukkan bahwa dalam budaya Jawa, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari nilai yang dilekatkan pada bahan dan proses pembuatannya. Artikel ini menyampaikan pemaknaan tersebut sebagai kutipan dari sumber itu, dan pembaca dapat menilai sendiri sejauh mana pemaknaan itu hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu juga dicatat bahwa konteks budaya jajanan pasar tidak berhenti pada masa lalu. Di Magelang masa kini, jajanan pasar yang sama dijumpai berdampingan dengan jajanan modern di kawasan kuliner seperti Rindam, sebagaimana digambarkan liputan Tribun Travel. Di sana, cenil, lupis, klepon, dan getuk dijual di kawasan yang sama dengan takoyaki, dimsum, dan crepes. Kehadiran berdampingan ini menunjukkan bahwa jajanan pasar tidak harus bersaing secara berhadapan dengan jajanan modern; keduanya dapat melayani selera yang berbeda dalam satu kunjungan yang sama.
Cara menikmati jajanan pasar di Magelang
Bagi pembaca yang ingin mengenal jajanan pasar tradisional Magelang, langkah paling sederhana adalah datang ke pasar tradisional pada pagi hari dan menyusuri lapak jajanan. Pasar Rejowinangun di Kota Magelang adalah titik awal yang paling mudah, karena ragam jajanannya telah terdokumentasi dalam beberapa sumber yang dikutip artikel ini. Pembaca dapat memulai dari satu pincuk campuran berisi lupis, cenil, dan klepon, lalu menambahkan jadah tempe atau grontol jagung sesuai selera. Cara ini memungkinkan pembaca membandingkan rasa manis, gurih, kenyal, dan lembut dalam satu kali pembelian.
Beberapa hal praktis perlu diperhatikan. Pertama, ketersediaan jajanan dapat berbeda setiap hari, sehingga jajanan tertentu yang dicari belum tentu ada pada hari kunjungan. Kedua, artikel ini tidak mencantumkan nama pedagang tertentu, alamat lapak tertentu, harga, atau jam buka tertentu, karena informasi semacam itu cepat berubah dan tidak terverifikasi secara seragam dalam sumber-sumber yang dibaca. Pembaca disarankan mengonfirmasi langsung di lokasi mengenai ketersediaan dan harga pada hari kunjungan. Ketiga, karena sebagian besar jajanan pasar paling nikmat dimakan pada hari yang sama, sebaiknya jajanan dibeli dalam jumlah yang habis dimakan pada hari itu, terutama yang memakai santan dan kelapa parut segar.
Pembaca yang membawa wadah sendiri juga dapat membantu mengurangi sampah plastik, sebagaimana disarankan artikel tentang Pasar Rejowinangun. Sebagian pedagang masih memakai plastik atau daun sebagai pembungkus, dan wadah sendiri memudahkan pembeli membawa pulang jajanan campuran tanpa harus memakai banyak kantong. Saran ini bersifat praktis dan tidak mengikat, tetapi sejalan dengan kebiasaan belanja pasar yang semakin peduli pada pengurangan sampah.
Untuk pembaca dari luar Magelang, jajanan pasar dapat menjadi pintu masuk yang murah dan mudah untuk mengenal kuliner kota ini, sebelum mencicipi hidangan berat seperti kupat tahu, sop senerek, atau sego godog. Jajanan pasar tidak memerlukan pengetahuan khusus untuk dinikmati: pembeli cukup memilih, mencicipi, dan membandingkan. Dari sanalah pembaca dapat memahami mengapa bahan-bahan sederhana seperti ketan, singkong, jagung, pisang, gula merah, dan kelapa parut dapat menghasilkan ragam rasa yang begitu banyak.
Sebagai penutup, jajanan pasar tradisional Magelang patut dipahami sebagai satu ekosistem kuliner, bukan sekadar daftar nama kue. Lupis, cenil, klepon, getuk dan gethuk cotot, jadah tempe, grontol jagung, sate pisang, dan putu mayang adalah anggota-anggota dari ekosistem itu, yang masing-masing memiliki bahan, teknik, dan karakter rasa sendiri, tetapi berbagi bahan dasar, pelengkap, dan cara penyajian yang sama. Selama pasar tradisional masih ramai, dapur-dapur pembuat jajanan masih bekerja pada pagi hari, dan pembeli masih datang untuk mencicipi satu pincuk campuran, ekosistem itu akan terus hidup. Tugas pembaca, dan juga media lokal, adalah mencatatnya dengan jujur, membelinya dari pedagang pasar, dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya tanpa mengubah ceritanya. Informasi lebih lanjut tentang jajanan di pasar ini dapat dibaca dalam laporan kuliner Pasar Rejowinangun di situs Vertical Rafting Magelang, yang menjadi salah satu sumber utama artikel ini.



5 Komentar