Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Magelang Raya » Tugu Adipura, Ikon Kota Magelang di Jalur Karnaval
Magelang Raya

Tugu Adipura, Ikon Kota Magelang di Jalur Karnaval

Tugu Adipura menjadi penanda simpang utama Kota Magelang sekaligus pengingat atas penghargaan kebersihan yang diraih kota ini secara berulang. Dari kawasan Alun-Alun hingga garis akhir rute karnaval budaya, tugu ini merangkum cerita tentang kota yang bersih, tertata, dan hidup.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 07.16 WIB
Ilustrasi Tugu Adipura di tengah kota dengan latar Alun-Alun Kota Magelang
Ilustrasi monumen tugu di tengah kota dengan latar Alun-Alun. (Ilustrasi: KabarTidar)

Tugu Adipura adalah penanda kota yang mudah dikenali di jalur utama Kota Magelang, sekaligus pengingat bahwa kebersihan kota merupakan hasil kerja bersama yang panjang. Nama tugu tersebut merujuk pada penghargaan Adipura, penghargaan di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah yang dinilai berhasil mengelola sampah dan ruang terbuka hijau. Di Kota Magelang, Tugu Adipura tidak hanya berfungsi sebagai penanda simpang jalan. Tugu tersebut menjadi titik temu, patokan arah, dan latar perjalanan warga maupun pengunjung yang melintasi pusat kota dari kawasan Alun-Alun menuju kawasan perdagangan di selatan. Karena letaknya berada di jalur yang ramai, tugu ini sering menjadi bagian pertama dari cerita tentang Kota Magelang yang disampaikan dari satu orang ke orang lain, dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya.

Artikel ini membahas Tugu Adipura dari tiga sisi yang saling berkaitan, yaitu makna penghargaan Adipura, kawasan Alun-Alun sebagai pusat kota, dan peran tugu sebagai titik akhir rute karnaval budaya. Pembahasan disusun berdasarkan sumber resmi Pemerintah Kota Magelang dan pemberitaan yang dapat diverifikasi, terutama tentang penghargaan Adipura tahun 2022 dan penghargaan Adipura tahun 2023. Sumber yang dibaca untuk artikel ini tidak menyebut tahun pendirian tugu secara spesifik, sehingga artikel ini tidak mengklaim tahun pendirian tersebut. Yang dapat ditegaskan dari sumber yang ada adalah makna nama tugu, jejak penghargaan yang diraih Kota Magelang, serta posisi tugu di jalur karnaval yang berulang kali dipakai dalam gelaran budaya kota. Kehati-hatian semacam itu penting, sebab sebuah monumen kota sering kali dikelilingi cerita lisan yang menarik, tetapi tidak semuanya dapat dipastikan kebenarannya dari dokumen resmi.

Tugu Adipura sebagai Penanda Kota yang Bersih

Tugu Adipura dapat dibaca sebagai pesan yang disampaikan kota kepada warganya sendiri dan kepada setiap pengunjung yang datang. Pesan itu sederhana, yaitu kota ini ingin dikenal sebagai kota yang bersih, tertata, dan nyaman untuk dilalui. Sebuah tugu di simpang jalan bekerja dengan cara yang berbeda dari papan pengumuman atau baliho. Tugu berdiri setiap hari, dilihat dalam perjalanan berangkat kerja, perjalanan pulang sekolah, perjalanan belanja, dan perjalanan wisata. Karena dilihat berulang kali, tugu perlahan menjadi bagian dari ingatan tentang kota. Ketika seseorang menyebut simpang di ujung Jalan Pemuda atau kawasan Shopping, bayangan tentang tugu sering kali muncul lebih dahulu daripada nama jalan atau nama pertokoan di sekitarnya. Di situlah fungsi sebuah monumen bekerja, yaitu mengubah sebuah titik di peta menjadi sebuah tempat yang memiliki makna.

Makna Tugu Adipura juga berkaitan dengan cara kota dinilai dari luar. Penghargaan Adipura bukan sekadar piala yang disimpan di lemari kantor pemerintah. Penilaian Adipura menyentuh hal-hal yang dirasakan langsung di jalan, yaitu kebersihan permukiman, kondisi pasar, kerapian pertokoan, kebersihan kantor dan sekolah, pengelolaan rumah sakit, kondisi hutan kota dan taman kota, ketertiban terminal, kebersihan perairan terbuka, pengelolaan tempat pembuangan akhir, serta keberadaan bank sampah dan tempat pengelolaan sampah berbasis reuse, reduce, dan recycle. Daftar lokasi penilaian tersebut tercatat dalam penjelasan Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang tentang pelaksanaan penilaian Adipura. Dengan kata lain, sebuah kota tidak dapat meraih Adipura hanya dengan membersihkan satu ruas jalan menjelang penilaian. Kota harus menunjukkan sistem yang berjalan di banyak titik sekaligus, dan sistem itu harus dirasakan oleh warga dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi warga Kota Magelang, Tugu Adipura juga dapat menjadi cermin. Ketika kawasan di sekitar tugu bersih, trotoar dapat dilalui dengan nyaman, dan sampah tidak menumpuk di sudut jalan, maka makna tugu terasa nyata. Sebaliknya, ketika sampah berserakan di sekitar kawasan yang sama, tugu justru mengingatkan bahwa pekerjaan menjaga kota belum selesai. Hubungan antara monumen dan perilaku warga inilah yang membuat Tugu Adipura relevan dibahas sebagai evergreen, bukan sekadar sebagai latar foto. Selama kota terus dinilai, terus menghasilkan sampah, dan terus membutuhkan ruang terbuka hijau, maka tugu ini akan terus memiliki cerita baru yang dapat ditambahkan dari tahun ke tahun.

Makna Penghargaan Adipura bagi Kota Sedang

Adipura merupakan program nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertujuan mendorong kepemimpinan pemerintah kabupaten dan kota serta membangun partisipasi aktif masyarakat dan dunia usaha untuk mewujudkan wilayah yang berkelanjutan secara ekologis, sosial, dan ekonomi. Penjelasan tersebut disampaikan Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang dalam laman tentang program Adipura. Dalam kerangka itu, Adipura dipahami sebagai instrumen pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau. Penilaian tidak hanya melihat hasil akhir berupa kota yang tampak bersih, tetapi juga melihat sistem pengelolaan dari hulu hingga hilir, termasuk pengurangan sampah dari sumbernya, pembatasan penggunaan sampah plastik, daur ulang, dan inovasi pengelolaan sampah.

Terdapat empat jenis penghargaan dalam program Adipura, yaitu sertifikat Adipura, plakat Adipura, piala Adipura, dan Adipura Kencana sebagai penghargaan tertinggi. Setiap jenis penghargaan terbagi ke dalam empat kategori berdasarkan ukuran kota, yaitu kota kecil, kota sedang, kota besar, dan kota metropolitan. Kota Magelang selama ini dinilai dalam kategori kota sedang. Kategori tersebut penting untuk dipahami, sebab sebuah kota tidak dibandingkan secara serampangan dengan kota yang jumlah penduduk, luas wilayah, dan volume sampahnya jauh berbeda. Kota sedang dinilai dengan sesama kota sedang, sehingga capaian Kota Magelang dapat dibaca secara adil dalam kelompoknya.

Penghargaan Adipura tahun 2022, misalnya, mengangkat tema Zero Waste, Zero Emission. Tema tersebut menegaskan arah kebijakan pengelolaan sampah nasional, yaitu mengurangi sampah yang dibuang dan menekan emisi dari pengelolaan sampah. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang pada masa itu, Irwan Adi Nugroho, menjelaskan bahwa Adipura merupakan apresiasi atas komitmen kepala daerah dan jajarannya serta masyarakat terkait kebersihan, inovasi, pembatasan penggunaan sampah plastik, pembatasan volume sampah dari sumber, dan daur ulang sampah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Penjelasan itu menunjukkan bahwa Adipura selalu memiliki dua sisi, yaitu sisi apresiasi dan sisi tanggung jawab. Apresiasi diberikan atas capaian yang sudah diraih, sedangkan tanggung jawab berlanjut pada tahun-tahun berikutnya melalui target pengelolaan yang lebih tinggi.

Jejak Penghargaan dari Tahun 2022 hingga Penghargaan ke-12

Kota Magelang kembali meraih penghargaan Adipura kategori kota sedang tahun 2022. Trofi penghargaan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya kepada Wali Kota Magelang dr. Muchamad Nur Aziz pada puncak Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2023 di Jakarta, Selasa, 28 Februari 2023. Peristiwa tersebut diberitakan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Magelang. Wali Kota Magelang pada masa itu menyampaikan bahwa kemampuan mempertahankan penghargaan Adipura merupakan bukti kekompakan pemerintah kota dan warga dalam urusan kebersihan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, M. Yunus, menyatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja sama antara pemerintah kota dan masyarakat, mulai dari menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, hingga menjaga ruang terbuka hijau.

Langkah ke depan yang disampaikan pada masa itu juga masih relevan hingga kini, yaitu meningkatkan penanganan tempat pembuangan akhir menuju sanitary landfill serta memperbanyak tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, dan recycle atau TPS-3R. Dua hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah kota tidak selesai pada piala yang diterima. Tempat pembuangan akhir yang dikelola dengan sistem open dumping, yaitu sampah sekadar ditimbun di lahan terbuka, telah lama dinyatakan tidak lagi sesuai dengan arah kebijakan nasional. Pemerintah mewajibkan daerah mengelola sampah dengan sistem sanitary landfill atau sekurang-kurangnya controlled landfill. Dengan demikian, penghargaan Adipura dapat dibaca sebagai penanda bahwa sebuah kota sudah berada di jalur yang benar, bukan sebagai tanda bahwa seluruh persoalan telah selesai.

Jejak berikutnya tercatat pada penghargaan Adipura tahun 2023. Kota Magelang kembali meraih penghargaan tersebut, dan capaian kali ini merupakan penghargaan ke-12 yang diterima Kota Magelang. Penyerahan penghargaan Adipura 2023 digelar di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, Selasa, 5 Maret 2024. Acara tersebut dihadiri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar, dan pejabat terkait. Wakil Wali Kota Magelang KH. M. Mansyur menyampaikan rasa syukur atas penghargaan tersebut dan berharap prestasi itu menjadi motivasi bersama agar Kota Magelang ke depan menjadi lebih baik. Ia juga menyampaikan harapan agar pada tahun berikutnya Kota Magelang dapat meraih Adipura Kencana untuk kategori kota sedang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, M. Yunus, menyebutkan bahwa Kota Magelang menjadi salah satu dari 106 kota dan kabupaten yang meraih Adipura 2023, dengan kategori kota sedang. Menurut penjelasan tersebut, prestasi itu merupakan hasil kerja sama antara pemerintah kota dan masyarakat, mulai dari menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, menjaga ruang terbuka hijau, dan hal-hal lain yang berkaitan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyampaikan bahwa penilaian Adipura 2023 melibatkan sejumlah pihak, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh lingkungan, pakar persampahan, pakar tata ruang perkotaan, hingga aktivis lembaga swadaya masyarakat. Penilaian dilakukan berbasis sistem dan data, dengan kewajiban daerah menyampaikan data pengelolaan sampah melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. Penjelasan itu penting, sebab menunjukkan bahwa Adipura pada masa kini tidak lagi semata-mata dinilai dari kesan bersih sesaat, melainkan dari data dan sistem yang dapat ditelusuri.

Dari jejak tersebut, Tugu Adipura dapat dipahami sebagai penanda yang berdiri di atas capaian yang berulang, bukan capaian yang hanya terjadi satu kali. Penghargaan ke-12 pada tahun 2023, setelah penghargaan tahun 2022, menunjukkan konsistensi. Konsistensi inilah yang biasanya paling sulit dijaga oleh sebuah kota, sebab pergantian kepemimpinan, perubahan anggaran, pertambahan penduduk, dan perubahan pola konsumsi warga dapat mengubah volume serta jenis sampah dalam waktu singkat. Kota yang mampu mempertahankan penghargaan dari satu periode ke periode berikutnya menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampahnya tidak bergantung pada satu orang atau satu momentum saja, melainkan sudah menjadi kebiasaan bersama.

Kawasan Alun-Alun sebagai Pusat Kota Magelang

Tugu Adipura tidak dapat dipisahkan dari kawasan Alun-Alun Kota Magelang. Alun-Alun merupakan ruang terbuka utama di pusat kota, tempat warga berkumpul, berolahraga ringan, bersantai bersama keluarga, dan menyaksikan berbagai kegiatan kota. Dalam tradisi tata kota Jawa, alun-alun memiliki posisi yang penting sebagai pusat kegiatan dan pusat orientasi. Alun-Alun Kota Magelang menjalankan fungsi serupa hingga kini, yaitu sebagai ruang bersama yang dapat diakses oleh berbagai kalangan. Dari kawasan Alun-Alun, pengunjung dapat merasakan denyut kota secara langsung, mulai dari lalu lintas di jalan utama, aktivitas pertokoan, hingga kegiatan seni dan budaya yang digelar pada momentum tertentu.

Posisi Alun-Alun juga menjelaskan mengapa rute karnaval budaya kota selalu melewati kawasan tersebut. Sebuah karnaval membutuhkan panggung kehormatan, ruang bagi penonton, dan jalur yang cukup lebar untuk rombongan peserta. Kawasan Alun-Alun memenuhi kebutuhan itu karena berada di jantung kota dan terhubung dengan jalan-jalan utama. Panggung kehormatan yang ditempatkan di sisi timur Alun-Alun memungkinkan penonton menyaksikan penampilan peserta dari jarak yang nyaman, sementara rombongan tetap dapat bergerak menuju titik berikutnya. Dengan demikian, Alun-Alun bukan sekadar latar karnaval, melainkan bagian dari panggung kota itu sendiri.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Kota Magelang, kawasan Alun-Alun dapat menjadi titik awal yang baik untuk mengenal kota. Dari kawasan ini, arah menuju kawasan perdagangan, kawasan pertokoan, dan kawasan permukiman dapat dibaca dengan lebih mudah. Pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri trotoar, memperhatikan bangunan di sekitar pusat kota, dan merasakan suasana kota yang dikenal sebagai Kota Sejuta Bunga. Sebutan tersebut merujuk pada identitas kota yang lekat dengan bunga dan ruang hijau, dan kawasan Alun-Alun beserta taman-taman kota menjadi salah satu wujud nyata dari identitas tersebut. Tugu Adipura yang berada di jalur yang terhubung dengan kawasan ini kemudian menjadi penanda lanjutan, yaitu penanda bahwa perjalanan dari pusat kota menuju kawasan perdagangan telah mencapai simpang yang penting.

Tugu Adipura di Jalur Karnaval Budaya Kota

Peran Tugu Adipura yang paling mudah disaksikan publik adalah sebagai titik akhir rute Magelang Ethno Carnival. Karnaval budaya tahunan Kota Magelang tersebut berulang kali memakai rute yang sama, yaitu dimulai dari kawasan simpang CPM di Jalan Ahmad Yani, melewati panggung kehormatan di sisi timur Alun-Alun Kota Magelang, menyusuri Jalan Pemuda atau kawasan Pecinan, dan berakhir di Tugu Adipura di simpang Rejowinangun yang juga dikenal sebagai Simpang Shopping. Rute tersebut tercatat dalam pemberitaan resmi Pemerintah Kota Magelang tentang Magelang Ethno Carnival tahun 2025. Rute yang sama juga dipakai pada gelaran berikutnya, sehingga Tugu Adipura semakin lekat sebagai garis akhir perayaan budaya kota.

Magelang Ethno Carnival tahun 2025 sendiri menjadi contoh yang jelas tentang skala karnaval tersebut. Setelah sempat tertunda pada akhir Agustus karena alasan keamanan, karnaval tersebut akhirnya sukses digelar pada Sabtu, 20 September 2025. Karnaval tersebut mengusung tema Gaungkan Magelang, Wujudkan Pesona Nusantara, dan diikuti 2.218 peserta dari 31 kontingen berbagai daerah, termasuk Kabupaten Magelang, Semarang, Ambarawa, dan Surakarta. Ribuan masyarakat memadati kawasan jantung Kota Magelang untuk menyaksikan parade tersebut. Parade dimulai dari kawasan Polwil atau CPM, menampilkan pertunjukan utama di Alun-Alun Kota Magelang, kemudian bergerak melewati Jalan Pemuda, dan berakhir di Tugu Adipura. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa tugu bukan sekadar titik di ujung rute, melainkan tempat rombongan menyelesaikan perjalanan panjangnya di hadapan penonton yang menanti di simpang.

Pemilihan Tugu Adipura sebagai titik akhir juga memiliki makna simbolik. Sebuah karnaval budaya menampilkan kekayaan etnik, kostum, musik, dan kreativitas dari berbagai daerah. Ketika rombongan berakhir di Tugu Adipura, pesan yang tersampaikan menjadi berlapis, yaitu kota ini merayakan kebudayaan sekaligus merayakan kebersihan dan keteraturan kotanya. Penonton yang menyaksikan akhir parade di kawasan tugu akan membawa pulang dua kesan sekaligus, yaitu kesan tentang keindahan kostum dan kesan tentang kota yang tertata. Bagi pemerintah kota, hal itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan wajah kota secara utuh, bukan hanya wajah panggungnya saja, melainkan juga wajah jalan, trotoar, taman, dan simpang yang dilalui rombongan.

Informasi tentang pengaturan lalu lintas pada saat karnaval juga penting untuk dipahami oleh warga dan pengunjung. Pada gelaran karnaval, sejumlah ruas jalan di pusat kota ditutup sementara, mulai dari kawasan CPM di Jalan Ahmad Yani hingga kawasan Alun-Alun dan Jalan Pemuda. Penutupan tersebut dilakukan untuk memberi ruang gerak yang aman bagi peserta dan penonton. Warga yang hendak melintasi pusat kota pada hari karnaval perlu merencanakan perjalanan lebih awal dan memanfaatkan kantong parkir yang disiapkan di sekitar kawasan Alun-Alun, Jalan Kartini, dan titik strategis lainnya. KabarTidar sebelumnya memberitakan penutupan jalan pada Magelang Ethno Carnival 2026 sebagai panduan bagi pengguna jalan, dan informasi semacam itu tetap relevan sebagai gambaran pola pengaturan lalu lintas pada setiap gelaran karnaval. Setelah karnaval selesai, kebersihan rute menjadi ujian berikutnya, sebab sampah penonton dan peserta harus segera dibersihkan agar kawasan kembali nyaman dan makna Tugu Adipura tetap terjaga.

Fungsi Monumen di Simpang Jalan yang Ramai

Sebuah tugu di simpang jalan memiliki fungsi praktis yang sering kali tidak disadari. Tugu menjadi patokan arah yang mudah disebutkan dalam percakapan sehari-hari. Ketika seseorang memberi petunjuk jalan, menyebut tugu sering kali lebih cepat dipahami daripada menyebut nomor rumah atau nama gang. Tugu juga menjadi titik temu yang mudah disepakati, sebab bentuknya mencolok dan posisinya berada di ruang terbuka yang dapat dilihat dari berbagai arah. Dalam kota yang terus berkembang, patokan semacam itu membantu warga baru, pengunjung, dan pengemudi dari luar kota untuk menemukan arah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada peta digital.

Fungsi berikutnya adalah fungsi penanda identitas kawasan. Simpang di ujung Jalan Pemuda memiliki karakter perdagangan yang kuat, dengan pasar dan pertokoan di sekitarnya. Kehadiran Tugu Adipura di simpang tersebut memberi penanda bahwa kawasan perdagangan ini berada di kota yang menaruh perhatian pada kebersihan. Penanda tersebut bekerja secara halus, tetapi terus menerus. Pedagang, pembeli, dan pengguna jalan yang melintasi simpang setiap hari akan melihat tugu sebagai bagian dari suasana kawasan, bukan sebagai benda asing yang berdiri sendiri. Dengan cara itu, pesan kebersihan menyatu dengan aktivitas ekonomi, bukan berdiri terpisah dari kehidupan warga.

Tugu juga berfungsi sebagai ruang jeda visual di tengah lalu lintas yang padat. Di simpang yang ramai, mata membutuhkan titik henti, dan sebuah monumen yang berdiri tegak memberi titik henti tersebut. Pengendara yang berhenti di lampu lalu lintas dapat melihat tugu sejenak, pejalan kaki dapat menjadikannya latar foto, dan penonton karnaval dapat menjadikannya penanda bahwa rombongan sudah mendekati garis akhir. Fungsi visual semacam itu tampak sederhana, tetapi penting dalam tata kota, sebab kota yang hanya terdiri atas jalan dan bangunan tanpa penanda akan terasa monoton dan sulit diingat. Tugu Adipura memberi kota sebuah wajah yang dapat dikenali dari kejauhan.

Cara Menikmati Kawasan Sekitar Tugu Adipura

Kawasan sekitar Tugu Adipura paling nyaman dinikmati dengan berjalan kaki pada pagi atau sore hari, ketika lalu lintas relatif lebih bersahabat dan udara kota terasa lebih sejuk. Pengunjung dapat memulai perjalanan dari kawasan Alun-Alun, menyusuri trotoar Jalan Pemuda, memperhatikan pertokoan dan aktivitas warga, lalu mencapai simpang tempat tugu berdiri. Perjalanan semacam itu memberi gambaran yang lebih utuh tentang pusat Kota Magelang daripada sekadar melintas dengan kendaraan. Pengunjung dapat berhenti sejenak di tempat yang aman, mengambil foto dari trotoar, dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan pasar atau kembali ke Alun-Alun.

Keselamatan tetap menjadi perhatian utama ketika menikmati kawasan tugu. Tugu berada di simpang jalan yang ramai, sehingga pengunjung tidak disarankan berhenti di tengah jalan atau di badan jalan untuk berfoto. Gunakan trotoar dan tempat penyeberangan yang tersedia, perhatikan arus kendaraan, dan utamakan keselamatan daripada hasil foto. Pada hari karnaval atau kegiatan besar lainnya, ikuti arahan petugas dan perhatikan pengumuman penutupan jalan yang berlaku pada hari tersebut. Pengalaman menikmati kawasan tugu akan jauh lebih menyenangkan ketika keselamatan dan ketertiban dijaga bersama.

Kawasan sekitar tugu juga dapat dinikmati sebagai bagian dari perjalanan kuliner dan belanja di pusat kota. Setelah menyaksikan kawasan Alun-Alun dan tugu, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan pertokoan dan pasar di sekitar simpang. Perjalanan semacam itu menunjukkan keterkaitan antara ruang publik, kegiatan ekonomi, dan identitas kota. Sebuah kota yang bersih dan tertata akan terasa nyaman untuk berjalan, berbelanja, dan bersantap, dan kenyamanan itu pada akhirnya kembali memperkuat alasan mengapa penghargaan Adipura layak diperjuangkan. Tugu Adipura, dalam hal ini, menjadi pengingat visual di tengah aktivitas tersebut.

Menjaga Makna Tugu Adipura dalam Kehidupan Sehari-hari

Makna Tugu Adipura paling nyata dijaga melalui kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Memilah sampah dari rumah, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memanfaatkan bank sampah di lingkungan merupakan langkah yang langsung berkaitan dengan kriteria penilaian Adipura. Langkah-langkah tersebut tampak sederhana, tetapi dampaknya besar ketika dilakukan oleh banyak warga secara bersamaan. Volume sampah yang berkurang dari sumbernya akan meringankan beban tempat pembuangan akhir, memperpanjang usia pakainya, dan mengurangi risiko pencemaran lingkungan di sekitarnya.

Peran dunia usaha dan pengelola kawasan perdagangan juga tidak kalah penting. Pertokoan, pasar, rumah makan, dan perkantoran di sekitar pusat kota menghasilkan sampah setiap hari. Pengelolaan sampah yang tertib di kawasan tersebut, mulai dari penyediaan tempat sampah yang memadai hingga kerja sama dengan bank sampah dan pengelola TPS-3R, akan menentukan apakah kawasan pusat kota tetap bersih pada jam sibuk maupun pada jam sepi. Ketika kawasan perdagangan bersih, pengunjung akan merasa nyaman, pedagang akan diuntungkan, dan citra kota sebagai kota yang bersih akan semakin kuat. Tugu Adipura yang berdiri di tengah kawasan tersebut menjadi saksi dari kerja bersama itu.

Pendidikan lingkungan sejak dini juga menjadi bagian dari upaya menjaga makna tugu. Sekolah, keluarga, dan komunitas dapat mengenalkan pengelolaan sampah melalui kegiatan yang menyenangkan, seperti lomba kebersihan lingkungan, kegiatan menanam di ruang terbuka hijau, dan kunjungan edukasi ke bank sampah atau TPS-3R. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah dan merawat taman sejak kecil akan tumbuh menjadi warga yang menjaga kotanya tanpa perlu diingatkan terus menerus. Dalam jangka panjang, kebiasaan semacam itulah yang membuat sebuah kota mampu mempertahankan penghargaan Adipura dari satu periode ke periode berikutnya, bukan sekadar meraihnya satu kali.

Upaya menuju Adipura Kencana, penghargaan tertinggi dalam program Adipura, juga dapat dibaca sebagai target berikutnya bagi Kota Magelang. Harapan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Magelang pada penyerahan penghargaan Adipura 2023, dan disampaikan pula sebagai arah kerja Dinas Lingkungan Hidup, yaitu meningkatkan penanganan tempat pengelolaan sampah dan menciptakan inovasi baru untuk mengurangi produksi sampah. Target tersebut menuntut kerja yang lebih berat, sebab standar penilaiannya lebih tinggi dan persaingannya lebih ketat. Namun, target yang tinggi justru memberi arah yang jelas, yaitu kota tidak berhenti pada capaian yang sudah diraih, melainkan terus memperbaiki sistemnya.

Tugu Adipura sebagai Cerita Kota yang Terus Berlanjut

Tugu Adipura pada akhirnya adalah cerita tentang kota yang ingin terus belajar menjaga dirinya sendiri. Cerita itu dimulai dari penghargaan yang diraih, berlanjut pada sistem pengelolaan sampah yang dibangun, dan diuji setiap hari di jalan, pasar, taman, dan permukiman. Tugu berdiri di simpang yang ramai sebagai pengingat bahwa cerita tersebut belum selesai. Setiap karnaval yang berakhir di tugu, setiap pagi ketika trotoar dibersihkan, dan setiap warga yang memilah sampah dari rumahnya, semuanya menambah satu baris baru pada cerita tersebut.

Bagi pengunjung, Tugu Adipura dapat menjadi awal untuk mengenal Kota Magelang lebih dalam. Setelah melihat tugu, pengunjung dapat menelusuri kawasan Alun-Alun, menyusuri Jalan Pemuda, mengunjungi pasar dan pertokoan, serta mencicipi kuliner khas kota. Bagi warga, tugu dapat menjadi pengingat bahwa kebanggaan kota tidak lahir dari monumennya semata, melainkan dari perilaku warganya setiap hari. Monumen hanya memberi nama dan bentuk bagi kebanggaan itu, sedangkan isinya ditentukan oleh kerja bersama yang terus dilakukan.

Ke depan, Tugu Adipura akan tetap relevan selama Kota Magelang terus menaruh perhatian pada kebersihan, ruang terbuka hijau, dan kualitas ruang publik. Selama karnaval budaya kota terus memakai rute dari Alun-Alun menuju simpang ini, tugu akan terus menjadi garis akhir yang dinanti penonton. Selama penghargaan Adipura terus diperjuangkan, tugu akan terus menjadi penanda capaian dan target berikutnya. Dengan demikian, Tugu Adipura bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian hidup dari Kota Magelang masa kini dan masa depan. Sumber utama artikel ini adalah pemberitaan BorobudurNews tentang Kota Magelang yang meraih Anugerah Adipura ke-12 kali serta pemberitaan resmi Pemerintah Kota Magelang tentang Magelang Ethno Carnival 2025 yang berakhir di Tugu Adipura.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *