Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Sekolah di Lereng Merapi: Belajar di antara Status…
Pendidikan

Sekolah di Lereng Merapi: Belajar di antara Status Gunung

Bagi anak lereng Merapi, gunung bukan pemandangan jauh — ia adalah tetangga yang statusnya dibaca setiap hari, dan kesiapsiagaan adalah bagian dari pelajaran hidup.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 00.25 WIB
sekolah di lereng Merapi
Ilustrasi anak-anak sekolah berjalan tertib dalam barisan menuju titik kumpul di halaman sekolah dengan latar gunung berasap tipis. (Ilustrasi: KabarTidar)

Sekolah di lereng Merapi di wilayah Kabupaten Magelang adalah sekolah yang belajar di antara status gunung. Bagi anak-anak yang bersekolah di kecamatan-kecamatan di sisi barat dan barat daya Merapi, gunung bukan sekadar pemandangan di kejauhan, melainkan tetangga yang aktivitasnya dipantau setiap hari oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Ketika status Merapi naik, kegiatan belajar mengajar ikut menyesuaikan: guru memberi penjelasan yang menenangkan, orang tua memantau informasi resmi, dan sekolah memastikan jalur evakuasi serta titik kumpul dipahami semua warga sekolah. Belajar di lereng Merapi berarti belajar dengan kesiapsiagaan sebagai bagian dari kurikulum kehidupan sehari-hari.

Artikel ini menjelaskan bagaimana sekolah di lereng Merapi menjalani kesehariannya, apa yang dilakukan saat status gunung meningkat, dan bagaimana latihan evakuasi serta menghadapi abu vulkanik dijalankan. Artikel ini hanya memuat hal-hal yang terverifikasi secara umum dari sumber resmi dan literatur kebencanaan Merapi, dan tidak mengarang nama sekolah tertentu, tanggal latihan, atau kejadian evakuasi tertentu di Magelang. Bila pembaca membutuhkan informasi tentang status Merapi terkini, rujukan yang tepat adalah laporan resmi BPPTKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bukan artikel ini, sebab status gunung dapat berubah sewaktu-waktu.

Gunung Merapi adalah salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dan lerengnya di wilayah Magelang, Sleman, Boyolali, dan Klaten dihuni oleh masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan gunung selama bergenerasi. Literatur tentang evakuasi Merapi tahun 2010 mencatat program-program kesiapsiagaan berbasis masyarakat, antara lain pelatihan wajib penanggulangan bencana dan program desa bersaudara atau sister village, sebagai contoh persiapan berbasis komunitas yang dinilai baik. Program-program itu menunjukkan bahwa kesiapsiagaan di Merapi tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat yang belajar dari pengalaman erupsi sebelumnya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya, termasuk melalui sekolah.

Dalam konteks Magelang, sekolah memiliki peran ganda. Di satu sisi, sekolah adalah tempat belajar anak. Di sisi lain, gedung sekolah sering menjadi bagian dari rencana kedaruratan: pada masa evakuasi, gedung sekolah, balai desa, dan rumah warga pernah dipakai sebagai tempat penampungan sementara, sebagaimana dicatat dalam laporan kemanusiaan tentang Merapi. Peran ganda ini membuat sekolah di lereng Merapi tidak dapat diperlakukan seperti sekolah biasa: kesiapsiagaannya harus dipikirkan sejak hari tenang, bukan baru dipikirkan ketika gunung sudah menunjukkan peningkatan aktivitas.

Sekolah di lereng Merapi: belajar di antara status gunung

Status gunung api di Indonesia ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui BPPTKG untuk Merapi, dengan tingkatan yang pada umumnya dikenal sebagai Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Setiap tingkatan memiliki rekomendasi jarak dan aktivitas yang berbeda, dan rekomendasi itu menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan yang menyangkut sekolah. Pada tingkatan yang lebih rendah, kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa, dengan pemantauan yang terus dilakukan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, pemerintah daerah dapat memutuskan penyesuaian kegiatan, termasuk pembelajaran jarak jauh atau pemindahan kegiatan belajar, sesuai dengan rekomendasi resmi dan kondisi setempat.

Bagi guru di lereng Merapi, status gunung adalah informasi yang harus diterjemahkan menjadi bahasa yang menenangkan bagi anak. Anak-anak mendengar kabar dari orang tua, televisi, dan media sosial, dan tidak semua kabar itu akurat. Guru yang menjelaskan status gunung dengan bahasa sederhana, membedakan antara fakta resmi dan kabar yang belum terverifikasi, serta memberi tahu anak apa yang harus dilakukan bila terjadi keadaan darurat, sedang menjalankan tugas yang sangat penting: mencegah kepanikan. Kepanikan pada anak sering lahir bukan dari bahaya itu sendiri, melainkan dari ketidakjelasan informasi, dan kejelasan adalah obat pertama bagi kecemasan.

Bagi orang tua, status gunung berarti kewaspadaan yang harus dijaga tanpa mengubahnya menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Orang tua yang memantau informasi resmi dari BPPTKG dan BPBD, mengetahui jalur evakuasi desanya, dan menyiapkan tas siaga keluarga, dapat mengambil keputusan dengan lebih tenang ketika situasi berubah. Orang tua yang hanya mengandalkan kabar berantai berisiko mengambil keputusan yang terburu-buru atau justru terlambat. Karena itu, literasi kebencanaan keluarga adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan anak di lereng Merapi: anak yang orang tuanya siap akan lebih siap pula.

Bagi pemerintah desa dan kecamatan di lereng Merapi, sekolah adalah simpul komunikasi. Pengumuman tentang status gunung, jalur evakuasi, dan titik kumpul dapat disampaikan melalui sekolah, dan sebaliknya, kondisi sekolah dapat dilaporkan kepada pemerintah melalui guru dan kepala sekolah. Simpul ini bekerja paling baik bila hubungan antara sekolah, pemerintah desa, dan BPBD sudah terjalin sejak hari tenang, bukan baru dibangun saat darurat. Latihan bersama, pertemuan berkala, dan pembaruan data warga sekolah adalah investasi kesiapsiagaan yang hasilnya baru terasa ketika benar-benar dibutuhkan.

Latihan evakuasi di sekolah: apa yang dilatihkan

Latihan evakuasi di sekolah lereng Merapi umumnya melatih tiga hal: mengenali tanda bahaya, bergerak menuju titik kumpul dengan tertib, dan menghitung kehadiran setelah berkumpul. Tanda bahaya dapat berupa sirene, kentongan, pengumuman pengeras suara, atau pemberitahuan dari guru dan petugas. Anak dilatih untuk berhenti dari aktivitasnya, tidak berlari secara panik, mengikuti arahan guru, dan berjalan menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Setelah tiba di titik kumpul, guru menghitung jumlah siswa dan memastikan tidak ada yang tertinggal atau kembali ke dalam gedung tanpa arahan.

Latihan yang baik tidak hanya melatih gerakan fisik, tetapi juga melatih ketenangan. Anak yang dilatih berulang kali akan bergerak lebih tertib ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, sebab gerakannya sudah menjadi kebiasaan, bukan keputusan yang diambil dalam keadaan panik. Karena itu, latihan evakuasi sebaiknya dilakukan secara berkala, bukan sekali saja, dan dievaluasi setiap kali: apakah semua siswa memahami rute, apakah ada siswa berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendampingan, dan apakah titik kumpul masih memadai. Evaluasi inilah yang membedakan latihan seremonial dengan latihan yang benar-benar menyiapkan.

Peran guru dalam latihan evakuasi sangat menentukan. Guru adalah orang pertama yang dilihat anak ketika tanda bahaya berbunyi, dan sikap guru akan ditiru anak. Guru yang tenang, memberi arahan dengan suara jelas, dan memastikan anak yang lambat tetap didampingi akan menciptakan evakuasi yang tertib. Guru yang panik, meskipun tidak bermaksud demikian, dapat menularkan kepanikan kepada anak. Karena itu, pelatihan bagi guru sama pentingnya dengan latihan bagi siswa: guru perlu memahami rencana evakuasi sekolah, peran masing-masing guru dalam keadaan darurat, dan cara berkomunikasi dengan orang tua setelah evakuasi.

Latihan evakuasi juga perlu melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar, sebab evakuasi sekolah tidak berhenti di gerbang sekolah. Setelah berkumpul di titik kumpul sekolah, siswa perlu dijemput atau dipindahkan sesuai dengan rencana desa, dan orang tua perlu mengetahui ke mana anaknya akan dibawa. Sekolah yang mengomunikasikan rencana evakuasinya kepada orang tua sejak awal akan lebih mudah berkoordinasi saat darurat, sementara sekolah yang menyimpan rencananya sendiri berisiko menimbulkan kebingungan dan antrean penjemputan yang kacau. Kesiapsiagaan sekolah, dengan kata lain, adalah kesiapsiagaan komunitas.

Abu vulkanik: bahaya yang sering diremehkan

Abu vulkanik adalah salah satu bahaya Merapi yang paling sering dialami sekolah, bahkan ketika erupsi tidak sampai memaksa evakuasi. Abu dapat terbawa angin hingga jauh dari puncak dan menutupi halaman sekolah, atap, jalan, dan permukaan air. Bagi kesehatan, abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan, terutama bagi anak yang memiliki asma atau gangguan pernapasan. Pakar kesehatan dan kebencanaan umumnya menyarankan penggunaan masker dan pelindung mata saat abu turun, serta membatasi aktivitas luar ruangan sampai abu mereda dan dibersihkan.

Bagi kegiatan belajar, abu vulkanik berarti penyesuaian. Sekolah dapat memutuskan untuk memindahkan kegiatan ke dalam ruangan, menunda olahraga luar ruangan, atau menutup jendela dan pintu untuk mengurangi masuknya abu. Pembersihan halaman dan atap sekolah perlu dilakukan dengan hati-hati, sebab abu yang menumpuk di atap menambah beban dan dapat bercampur dengan air hujan menjadi lumpur yang licin dan berat. Anak-anak sebaiknya tidak dilibatkan dalam pembersihan abu yang berat, dan pembersihan sebaiknya dilakukan oleh orang dewasa dengan pelindung yang memadai.

Bagi sarana sekolah, abu vulkanik dapat merusak peralatan elektronik, menyumbat saluran air, dan mengotori buku serta bahan ajar. Sekolah yang menyimpan buku dan peralatan elektronik di tempat tertutup akan lebih terlindungi daripada sekolah yang membiarkannya terbuka. Perawatan sederhana, seperti menutup peralatan saat abu turun dan membersihkannya setelah abu mereda, dapat mencegah kerusakan yang lebih besar. Hal-hal sederhana ini sering diabaikan, padahal biaya perbaikannya jauh lebih besar daripada biaya pencegahannya.

Yang paling penting tentang abu vulkanik adalah sikap terhadapnya: abu bukan bahan yang dapat diabaikan karena tampak seperti debu biasa. Abu vulkanik berasal dari batuan yang dihancurkan oleh letusan, dan partikelnya dapat tajam pada skala mikroskopis. Karena itu, anjuran untuk memakai masker, kacamata pelindung, dan membatasi aktivitas luar ruangan saat abu turun perlu dipatuhi, bukan dianggap berlebihan. Orang tua yang menyiapkan masker cadangan untuk anaknya, dan sekolah yang menyediakan masker darurat, sedang melakukan kesiapsiagaan yang sederhana tetapi nyata.

Desa bersaudara dan jejaring keselamatan sekolah

Salah satu pelajaran penting dari evakuasi Merapi 2010 adalah program desa bersaudara, yaitu kemitraan antara desa di kawasan rawan bencana dengan desa di luar kawasan rawan yang menjadi tempat penampungan sementara. Program ini, yang dicatat dalam literatur kebencanaan Merapi sebagai contoh persiapan berbasis komunitas yang baik, menunjukkan bahwa evakuasi bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perpindahan komunitas yang membutuhkan penerimaan, logistik, dan kebersamaan. Bagi sekolah, program desa bersaudara berarti siswa yang dievakuasi dapat melanjutkan kegiatan belajar di desa penampungan, dengan dukungan dari sekolah dan masyarakat setempat.

Jejaring keselamatan sekolah juga mencakup hubungan dengan puskesmas, relawan, dan organisasi masyarakat. Puskesmas dapat membantu pemeriksaan kesehatan anak setelah terpapar abu atau setelah evakuasi, relawan dapat membantu distribusi logistik dan pendampingan psikososial, dan organisasi masyarakat dapat membantu pengumpulan bantuan. Sekolah yang mengenal jejaring ini sejak hari tenang akan lebih cepat memperoleh bantuan saat darurat, sementara sekolah yang baru mencari bantuan saat darurat akan kehilangan waktu yang berharga.

Pendampingan psikososial bagi anak setelah erupsi atau evakuasi sering kurang mendapat perhatian dibandingkan bantuan fisik, padahal dampaknya dapat bertahan lama. Anak yang mengalami evakuasi dapat merasa cemas, sulit tidur, atau enggan kembali ke sekolah. Guru yang peka terhadap perubahan perilaku anak, yang memberi ruang bagi anak untuk bercerita, dan yang merujuk anak kepada pendamping yang tepat sedang menjalankan peran yang tidak kalah penting dari peran pengajar. Pemulihan anak bukan hanya soal kembali ke kelas, melainkan soal kembali merasa aman di kelas.

Pada akhirnya, sekolah di lereng Merapi mengajarkan pelajaran yang tidak tertulis dalam buku pelajaran mana pun: bahwa hidup berdampingan dengan gunung api membutuhkan pengetahuan, ketenangan, dan kebersamaan. Pengetahuan tentang status gunung dan bahayanya, ketenangan dalam menghadapi tanda bahaya, dan kebersamaan antara sekolah, keluarga, dan desa adalah tiga bekal yang dibawa anak lereng Merapi ke mana pun ia pergi kelak. Gunung Merapi akan terus aktif, sebab itulah sifatnya, tetapi anak-anak yang belajar di lerengnya tidak harus hidup dalam ketakutan. Dengan latihan yang berkala, informasi resmi yang dipantau, dan komunitas yang saling menjaga, belajar di antara status gunung dapat dijalani dengan waspada tanpa kehilangan keceriaan masa sekolah.

Tas siaga dan rencana keluarga untuk anak sekolah

Tas siaga keluarga adalah perlengkapan darurat yang disiapkan sebelum keadaan darurat terjadi, dan keberadaannya sangat membantu keluarga dengan anak sekolah di lereng Merapi. Isi tas siaga pada umumnya mencakup dokumen penting dalam wadah kedap air, pakaian ganti, obat-obatan pribadi, air minum dan makanan ringan, senter, serta masker. Bagi keluarga dengan anak sekolah, tas siaga sebaiknya juga memuat catatan tentang sekolah anak, nomor kontak guru atau wali kelas, dan rencana penjemputan: siapa yang menjemput anak bila orang tua sedang bekerja, dan ke titik mana anak akan dibawa. Rencana penjemputan ini sering dilupakan, padahal pada saat evakuasi, kebingungan tentang siapa yang menjemput dapat menimbulkan kepanikan tambahan.

Rencana keluarga sebaiknya dibicarakan bersama anak, bukan hanya dipikirkan oleh orang tua. Anak perlu tahu bahwa bila terjadi keadaan darurat saat ia di sekolah, ia harus mengikuti arahan guru, tidak pulang sendiri tanpa arahan, dan menunggu di titik kumpul sampai dijemput oleh orang yang sudah disepakati. Anak juga perlu tahu nomor kontak orang tua atau kerabat yang dapat dihubungi, serta tempat berkumpul keluarga bila rumah tidak dapat ditempati. Pembicaraan semacam ini sebaiknya dilakukan dengan nada yang tenang, bukan dengan nada yang menakutkan, sebab tujuannya adalah memberi rasa aman, bukan menanamkan ketakutan. Anak yang memahami rencananya akan lebih tenang daripada anak yang hanya disuruh takut.

Sekolah dapat membantu keluarga menyusun rencana ini dengan membagikan lembar informasi sederhana pada awal tahun ajaran: titik kumpul sekolah, alur penjemputan saat darurat, dan nomor kontak yang dapat dihubungi. Lembar semacam ini tidak membutuhkan biaya besar, tetapi sangat membantu orang tua yang baru pertama kali menyekolahkan anak di lereng Merapi. Sekolah juga dapat mengingatkan orang tua untuk memperbarui nomor kontak bila berganti, sebab nomor kontak yang sudah tidak aktif adalah salah satu penyebab gagalnya komunikasi saat darurat. Komunikasi yang gagal pada saat darurat bukan sekadar masalah teknis; ia adalah sumber kecemasan yang dapat dihindari dengan pembaruan data yang rutin.

Selain tas siaga dan rencana penjemputan, keluarga di lereng Merapi juga perlu memahami jalur evakuasi desanya dan titik kumpul desanya, yang dapat berbeda dengan titik kumpul sekolah. Jalur evakuasi umumnya mengarah menjauhi sungai-sungai yang berhulu di Merapi dan menuju tempat yang lebih aman, dan pemerintah desa beserta BPBD biasanya telah menetapkan jalur serta titik kumpul tersebut. Keluarga yang mengetahui jalur desanya tidak akan bergantung sepenuhnya pada rombongan, dan dapat mengambil keputusan sendiri bila situasi mengharuskannya. Pengetahuan tentang jalur evakuasi, seperti halnya pengetahuan tentang titik kumpul sekolah, sebaiknya diperoleh dari sumber resmi desa dan BPBD, bukan dari kabar berantai yang belum tentu akurat.

Belajar dari pengalaman Merapi 2010 untuk sekolah masa kini

Erupsi Merapi 2010 adalah pengalaman yang membentuk kesiapsiagaan Merapi hingga hari ini. Laporan kemanusiaan pada masa itu mencatat bahwa pemerintah daerah menyiapkan gedung sekolah, balai desa, dan rumah warga sebagai tempat penampungan, serta menyiapkan jalur lalu lintas evakuasi dan armada pengangkut. Skala penanganan itu menunjukkan bahwa erupsi besar tidak hanya menguji gunung, tetapi juga menguji sistem: sistem informasi, sistem transportasi, sistem penampungan, dan sistem pendidikan darurat. Sekolah-sekolah yang siswanya dievakuasi harus memikirkan kelanjutan belajar di tempat penampungan, dan guru-guru yang ikut mengungsi harus tetap mendampingi siswanya dalam kondisi yang serba terbatas.

Literatur tentang pelajaran evakuasi 2010 menekankan pentingnya protokol peringatan dini yang efektif, yang mencakup analisis risiko, pemantauan gunung, analisis bahaya dan prakiraan, penyebaran peringatan, serta respons masyarakat sesuai dengan peringatan. Pelajaran ini relevan bagi sekolah masa kini: peringatan dini hanya berguna bila diikuti oleh tindakan yang sudah direncanakan. Sekolah yang menerima informasi peningkatan status Merapi tetapi tidak memiliki rencana tindakan yang jelas sama saja dengan sekolah yang tidak menerima informasi. Karena itu, rencana tindakan sekolah, mulai dari penyesuaian kegiatan belajar hingga evakuasi, harus ditulis, disosialisasikan, dan dilatih, bukan hanya disimpan dalam dokumen.

Pelajaran lain dari 2010 adalah pentingnya komunikasi personal antara ilmuwan, pengambil keputusan, dan masyarakat. Literatur tersebut mencatat bahwa komunikasi personal, yang menumbuhkan kepercayaan, sangat penting dalam membangun tanggung jawab mandiri dan rasa memiliki terhadap kesiapsiagaan. Bagi sekolah, pelajaran ini berarti bahwa sosialisasi yang hanya berupa selebaran atau pengumuman satu arah tidak cukup; dibutuhkan dialog, misalnya pertemuan antara sekolah, orang tua, pemerintah desa, dan petugas kebencanaan, tempat pertanyaan dapat diajukan dan dijawab secara langsung. Dialog semacam ini membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal yang menentukan apakah warga akan mengikuti arahan evakuasi ketika saatnya tiba.

Pengalaman 2010 juga mengingatkan bahwa pemulihan setelah erupsi membutuhkan waktu yang panjang. Anak-anak yang sekolahnya rusak atau yang keluarganya kehilangan mata pencaharian membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya bantuan pada minggu pertama. Sekolah yang kembali beroperasi setelah erupsi perlu memberi waktu bagi siswa dan guru untuk beradaptasi, menyesuaikan target belajar, dan memulihkan rutinitas secara bertahap. Pemulihan yang terburu-buru, yang menuntut siswa langsung kembali pada ritme normal seolah tidak terjadi apa-apa, dapat mengabaikan luka yang masih dirasakan anak. Sekolah yang sabar dalam pemulihan sedang menghormati pengalaman siswanya, dan penghormatan itu adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

Baca juga: Jalur Evakuasi Merapi di Magelang dan penjelasan kesiapsiagaan dari BNPB tentang kesiapsiagaan komunitas.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *