Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Aksara Jawa Magelang: Belajar di Sekolah dan Membacanya…
Pendidikan

Aksara Jawa Magelang: Belajar di Sekolah dan Membacanya di Ruang Publik

Aksara Jawa dipelajari bertahap di sekolah Jawa Tengah, dari 20 aksara legena sampai murda dan angka Jawa, lalu diuji di papan nama dan penanda jalan. Artikel ini menjelaskan sistemnya, kurikulumnya, model ruang publik Yogyakarta dan Solo, serta pelajaran dari papan yang salah tulis.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 20.30 WIB
Ilustrasi aksara Jawa Magelang, buku terbuka, papan penanda hijau, dan pelajar yang menulis di meja
Ilustrasi buku terbuka, papan penanda hijau, dan pelajar yang sedang menulis di meja. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Aksara Jawa Magelang bukan sekadar hiasan pada papan nama, melainkan sistem tulis yang dipelajari anak-anak di sekolah, dipakai pada papan penanda di ruang publik, dan diuji kebenarannya setiap kali ada satu huruf yang salah tempat. Bagi warga Magelang, aksara Jawa hadir dalam dua dunia sekaligus, yaitu dunia kelas, tempat huruf demi huruf diajarkan dengan sabar, dan dunia jalan, tempat huruf-huruf itu dibaca oleh siapa saja yang lewat. Artikel ini menjelaskan apa itu aksara Jawa, bagaimana ia diajarkan di Jawa Tengah yang berlaku juga di Magelang, bagaimana kota-kota tetangga memakainya di ruang publik, apa pelajaran dari kesalahan penulisan yang pernah viral, dan apa yang sebaiknya dilakukan sekolah, pengelola gedung, atau pemilik usaha di Magelang sebelum memasang papan beraksara Jawa.

Aksara Jawa, yang juga disebut Hanacaraka atau Carakan, adalah turunan aksara Brahmi yang berkembang dari aksara Kawi dan dipakai untuk menulis bahasa Jawa. Aksara ini termasuk abugida, yaitu sistem tulis yang tiap huruf dasarnya sudah mengandung bunyi vokal. Pada bentuk dasarnya, tiap aksara Jawa dibaca dengan vokal a, sehingga huruf pertama dibaca ha, huruf kedua dibaca na, dan seterusnya. Sifat inilah yang membuat aksara Jawa terasa berbeda dari alfabet Latin, karena dalam alfabet Latin huruf konsonan tidak membawa vokal bawaan, sedangkan dalam aksara Jawa tiap huruf dasar sudah membawa satu suku kata. Pemahaman ini adalah kunci pertama bagi siapa saja yang ingin belajar, karena tanpa memahami vokal bawaan itu, pembaca akan salah membaca hampir semua kata.

Aksara dasar yang disebut aksara nglegena atau aksara legena berjumlah 20, yang tersusun dalam urutan ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, dan nga. Urutan ini dikenal dengan nama Hanacaraka, yang diambil dari lima huruf pertamanya, yaitu ha, na, ca, ra, ka. Dalam tafsir populer yang beredar di masyarakat, urutan 20 huruf itu dibaca sebagai empat kalimat, yaitu hana caraka yang diartikan ada utusan, data sawala yang diartikan tidak menyanggah atau siap sedia, padha jayanya yang diartikan sama kejayaannya, dan maga bathanga yang diartikan kurang lebih sebagai inilah jasadku. Tafsir ini perlu disampaikan dengan jujur sebagai tafsir, bukan sebagai fakta sejarah yang tunggal, karena sumber yang membahasnya sendiri menegaskan bahwa pemaknaan aksara Jawa bersifat multitafsir dan siapa pun dapat memaknainya sesuai penghayatan masing-masing. Yang tidak multitafsir adalah urutan hurufnya dan fungsi tiap kelompok tandanya, yang diajarkan secara baku di sekolah.

Selain 20 aksara nglegena, aksara Jawa memiliki 20 aksara pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal pada aksara sebelumnya. Pasangan dipakai ketika satu suku kata harus ditulis tanpa vokal a, supaya suku kata berikutnya dapat menyambung dengan benar. Contoh yang sering dipakai dalam bahan ajar adalah menulis mangan sega, yang berarti makan nasi. Tanpa pasangan untuk se, tulisan itu akan terbaca manganasega, yang artinya berubah. Contoh sederhana ini menunjukkan mengapa pasangan tidak boleh dianggap hiasan, karena satu pasangan yang hilang dapat mengubah arti kalimat. Bagi pemula, pasangan adalah materi yang paling sering menimbulkan kesalahan, karena bentuknya lebih kecil dan posisinya berada di bawah atau di dekat aksara yang didahului.

Kelompok tanda berikutnya adalah sandhangan, yaitu tanda yang mengubah bunyi vokal atau menutup suku kata. Sandhangan swara mengatur vokal, yaitu wulu untuk bunyi i, suku untuk bunyi u, taling untuk bunyi e, pepet untuk bunyi e pepet, dan taling tarung untuk bunyi o. Sandhangan panyigeg wanda mengatur konsonan penutup, yaitu cecak untuk bunyi ng, wignyan untuk bunyi h, dan layar untuk bunyi r. Pangkon adalah tanda yang mematikan vokal pada akhir kata, dan penempatannya harus di akhir, bukan di tengah kata, sebagaimana akan dibahas pada bagian kesalahan penulisan. Ada pula sandhangan wyanjana atau panjingan, yaitu tanda sisipan seperti cakra untuk bunyi ra dan pengkal untuk bunyi ya, yang dibaca menyatu dengan aksara yang disisipinya. Dengan menguasai nglegena, pasangan, dan sandhangan, seorang pelajar sudah dapat membaca dan menulis sebagian besar kata dalam bahasa Jawa sehari-hari.

Kelompok lain melengkapi sistem ini untuk keperluan yang lebih khusus. Aksara murda adalah huruf utama yang dipakai untuk menulis nama orang, gelar, nama geografi, dan nama lembaga, kurang lebih seperti huruf kapital dalam alfabet Latin. Aksara swara adalah huruf vokal mandiri, yaitu a, i, u, e, dan o, yang dipakai pada awal kata atau pada nama yang berawalan vokal. Aksara rekan adalah huruf tambahan untuk bunyi serapan dari bahasa asing, seperti kh, f, dz, gh, dan z. Angka Jawa juga merupakan bagian dari sistem ini, sehingga penulisan tahun atau nomor dalam aksara Jawa memiliki bentuknya sendiri. Pada jenjang sekolah dasar, materi yang ditekankan adalah nglegena, pasangan, dan sandhangan dasar, sedangkan murda, rekan, swara, dan angka Jawa diperdalam pada jenjang yang lebih tinggi, sebagaimana dijelaskan pada bagian kurikulum di bawah ini.

Aksara Jawa di Sekolah: dari Pengenalan sampai Penguasaan

Pembelajaran aksara Jawa di Magelang tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti kebijakan Provinsi Jawa Tengah, karena Magelang berada di provinsi tersebut. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjadikan pembelajaran bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib di semua jenjang sekolah, yang diperkuat oleh Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. Landasan yang lebih lama adalah Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 57 Tahun 2013 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah atau Madrasah. Artinya, bahasa Jawa dan aksara Jawa bukan kegiatan ekstrakurikuler yang boleh ada atau tidak, melainkan bagian dari kurikulum yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Tengah, termasuk di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang.

Pedoman yang lebih rinci diterbitkan melalui Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 423.5/04678 Tahun 2022 tentang Pedoman Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa untuk Jenjang Pendidikan Dasar hingga Menengah. Dokumen ini menjadi pijakan bagi satuan pendidikan di Jawa Tengah yang menerapkan Kurikulum Merdeka, dengan tujuan menjadikan bahasa Jawa bukan hanya mata pelajaran, tetapi juga wahana untuk membentuk watak dan menguatkan jati diri peserta didik. Fokusnya mencakup pocapan, patrap, dan polatan, yaitu ucapan, sikap, dan pandangan, serta pembiasaan penggunaan bahasa Jawa yang laras dan leres, yaitu serasi dan benar, dalam komunikasi sehari-hari sesuai kaidah dan etika. Dalam kerangka ini, aksara Jawa diajarkan bukan sebagai hafalan bentuk semata, melainkan sebagai bagian dari kemampuan berbahasa yang utuh, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.

Pada jenjang sekolah dasar, penguasaan aksara Jawa dimulai secara bertahap, dari pengenalan 20 aksara legena pada Fase B sampai penulisan kalimat sederhana pada Fase C. Tahapan ini masuk akal secara pedagogis, karena anak tidak dapat langsung menulis kalimat sebelum mengenal bentuk tiap huruf dan bunyinya. Bahan ajar lama yang masih relevan menunjukkan tahapan yang sama, yaitu mengenal aksara Jawa legena sebanyak 10 huruf pada satu tahap, lalu menambahkannya, lalu membaca dan menulis aksara Jawa legena, sampai akhirnya membaca dan menulis teks berhuruf Jawa satu paragraf pada kelas VI. Tahapan bertahap ini menjelaskan mengapa orang tua tidak perlu panik bila anak kelas awal belum dapat membaca papan beraksara Jawa di jalan, karena kemampuan itu memang dibangun selama bertahun-tahun, bukan dalam satu semester.

Pada jenjang sekolah menengah pertama, yang disebut Fase D untuk kelas VII, VIII, dan IX, pembelajaran bahasa Jawa menuntut lompatan kompetensi yang lebih besar. Tujuannya adalah pendalaman nilai budaya Jawa, penguasaan unggah-ungguh basa sampai tingkat krama inggil, dan kemampuan memproduksi serta menganalisis teks yang lebih kompleks secara logis, kritis, dan kreatif. Pada fase ini, literasi aksara Jawa mencapai puncaknya pada tingkat dasar, yaitu menguasai kaidah penulisan aksara Jawa secara menyeluruh, termasuk aksara murda, aksara rekan, aksara swara, dan angka Jawa, yang sebelumnya hanya dikenalkan dasarnya di sekolah dasar. Modul bahasa Jawa kelas VII yang beredar sebagai bahan ajar mencantumkan materi aksara legena, pasangan, dan sandhangan pada semester ganjil, dan angka Jawa pada semester genap, dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dan kontekstual. Modul itu juga mencatat contoh kegiatan kontekstual, yaitu siswa mengikuti lomba Festival Tunas Bahasa Ibu pada cabang membaca aksara Jawa tingkat kabupaten, dan siswa menggunakan aplikasi Sari Kawruh Aksara Jawi pada telepon genggam. Contoh-contoh itu dicatat sebagai contoh kegiatan dalam modul, bukan sebagai klaim bahwa setiap sekolah di Magelang menyelenggarakannya dengan cara yang sama.

Bukti pembelajaran aksara Jawa di Magelang yang terverifikasi dari sumber akademik datang dari Universitas Muhammadiyah Magelang. Sebuah skripsi yang tersimpan di repositori universitas tersebut meneliti peningkatan hasil belajar bahasa Jawa dengan memakai alat peraga papan aksara di kelas V MI Muhammadiyah Paremono. Penelitian itu diajukan kepada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang untuk memenuhi syarat gelar Sarjana Pendidikan, dengan nomor induk mahasiswa 18.0405.0016. Dokumen repositori Universitas Muhammadiyah Magelang ini penting karena menunjukkan dua hal, yaitu bahwa guru di Magelang memakai alat peraga papan aksara untuk membantu siswa kelas V, dan bahwa pembelajaran aksara Jawa di Magelang diteliti secara akademik, bukan hanya dijalankan. Alat peraga papan aksara bekerja dengan cara yang sederhana, yaitu membuat huruf-huruf yang abstrak menjadi benda yang dapat dilihat, dipegang, dan disusun, sehingga siswa yang kesulitan menghafal dari buku dapat belajar lewat pengamatan dan latihan langsung.

Metode kreatif lain yang terbukti dipakai di Jawa Tengah adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan tanya jawab, diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan presentasi. Sebuah laporan dari SMA Negeri 1 Rembang di Kabupaten Purbalingga mencatat bahwa siswa di sana awalnya memandang bahasa Jawa dan aksara Jawa sebagai momok, lalu pembelajaran kreatif dengan pendekatan Problem Based Learning membuat pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa, sehingga siswa menjadi lebih aktif. Laporan itu juga mencatat penggunaan media inovatif seperti media audiovisual, digitalisasi aksara Jawa, dan kartu aksara, serta pemakaian aksara Jawa di luar kelas, seperti motif pakaian, kerudung, bros, papan nama, jam dinding, hiasan dinding, tempat pensil, nama jalan, dan nama kantor. Laporan dari Rembang ini dicatat sebagai pembanding dari kabupaten lain di Jawa Tengah, bukan sebagai gambaran SMA di Magelang, tetapi metodenya dapat ditiru oleh guru di Magelang, karena masalah yang dihadapinya sama, yaitu anggapan siswa bahwa aksara Jawa itu sulit dan menakutkan.

Bagi orang tua dan guru di Magelang, pelajaran dari bagian ini dapat diringkas secara praktis. Pertama, jangan menuntut anak menguasai seluruh sistem aksara dalam waktu singkat, karena kurikulum sendiri membaginya bertahap dari pengenalan sampai penguasaan. Kedua, latihlah membaca dari kata-kata yang dikenal anak, seperti nama benda di rumah atau nama jalan yang dilaluinya, sebelum melatih kata-kata yang abstrak. Ketiga, pakailah alat peraga, kartu aksara, atau papan tulis kecil, karena huruf yang dapat dilihat dan disusun lebih mudah diingat daripada huruf yang hanya dibaca dari buku. Keempat, beri anak kesempatan untuk mempresentasikan hasil belajarnya di depan teman, karena keberanian membaca aksara di depan umum adalah bagian dari literasi itu sendiri. Kelima, jangan menghukum kesalahan dengan ejekan, karena kesalahan dalam menempatkan pasangan atau sandhangan adalah bagian normal dari proses belajar, dan justru dari kesalahan itulah guru dapat menjelaskan kaidah yang benar.

Aksara Jawa di Ruang Publik: Yogyakarta dan Solo sebagai Pembanding

Di ruang publik, aksara Jawa paling mudah dilihat pada papan nama jalan, papan nama gedung, dan penanda lokasi. Dua kota tetangga Magelang, yaitu Yogyakarta dan Solo, memiliki model yang berbeda dan keduanya diatur oleh peraturan daerah masing-masing. Di Solo, huruf Latin diletakkan di bagian atas, sedangkan aksara Jawanya berada di bagian bawah, dengan format Latin di atas dan aksara Jawa di bawah. Dasar hukum tata cara penulisan ini adalah Peraturan Wali Kota Solo Nomor 3 Tahun 2008. Di Yogyakarta, modelnya terbalik, yaitu aksara Jawa diletakkan di bagian atas, sedangkan huruf Latin diletakkan di bagian bawah. Dasar hukumnya adalah Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan filosofinya adalah bahwa aksara Jawa dijunjung tinggi sebagai tuan rumah di negerinya sendiri, baru kemudian diikuti tulisan Latin sebagai penjelas. Perbedaan ini penting bagi warga Magelang yang bepergian ke kedua kota, karena mereka akan melihat dua tata letak yang berbeda untuk aksara yang sama, dan keduanya benar menurut aturan kotanya masing-masing.

Yogyakarta juga memberi contoh tentang bagaimana pemerintah kota mengelola aksara Jawa secara sistematis. Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta menjaga kota itu bernuansa budaya yang kuat, salah satunya dengan mengembangkan tulisan aksara Jawa melalui papan penanda jalan dan papan penanda bangunan di berbagai lokasi strategis. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyampaikan bahwa dinasnya memiliki kegiatan lokakarya penulisan aksara Jawa melalui inovasi konsep planologi etnomatematika di kawasan Kota Yogyakarta, yang diberikan kepada pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Portal berita Pemerintah Kota Yogyakarta menulis bahwa penggunaan aksara Jawa bukan sekadar dekoratif, tetapi juga memiliki fungsi komunikasi yang memberi informasi penting dan membantu navigasi serta identifikasi lokasi, dan bahwa di banyak titik lokasi Kota Yogyakarta telah mencantumkan aksara Jawa sebagai pendamping aksara Latin. Untuk penulisan aksara Jawa, portal itu menyebut font Nyk Ngayogyan yang dapat diunduh dari situs aksaradinusantara, yang dapat dipakai pada perangkat Windows 10 dengan Microsoft Office atau Word minimal versi 2019.

Penelitian akademik tentang penerapan aksara Jawa di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta memberi gambaran yang lebih rinci. Penelitian yang terbit pada jurnal Sabdasastra Universitas Sebelas Maret tahun 2026 itu bertujuan mengkaji penerapan aksara Jawa pada bangunan cagar budaya dan objek wisata di sepanjang Sumbu Filosofi Yogyakarta, serta relevansinya dengan nilai ke-Yogyakarta-an. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan aksara Jawa telah diaplikasikan pada papan nama, penanda lokasi, sampai elemen dekoratif di bangunan bersejarah seperti Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih, Stasiun Yogyakarta, dan beberapa titik di Malioboro. Penelitian itu juga mencatat bahwa penggunaan aksara Jawa banyak dijumpai pada papan penanda jalan dan penunjuk arah jalan, dan bahwa penerapannya terpusat di antara Tugu Pal Putih menuju kawasan selatan, sedangkan di kawasan selatan itu sendiri bentuknya kebanyakan hanya papan nama jalan dan gang. Penelitian itu juga mengutip Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2021, khususnya Bab III Pasal 13 ayat 2, yang menyatakan bahwa pelestarian aksara Jawa tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan pelaku budaya.

Di Magelang, kejujuran riset kembali perlu disampaikan. Sampai artikel ini ditulis, riset yang dilakukan tidak menemukan peraturan khusus Kota Magelang atau Kabupaten Magelang yang mewajibkan aksara Jawa pada papan nama jalan dengan format tertentu seperti di Yogyakarta atau Solo, dan tidak menemukan daftar resmi papan beraksara Jawa di Magelang yang dapat dikutip sebagai data. Karena itu, artikel ini tidak mengklaim bahwa Magelang memiliki aturan papan aksara sendiri, dan tidak menyebut daftar lokasi papan aksara Magelang yang tidak terverifikasi. Yang berlaku di Magelang adalah kebijakan Provinsi Jawa Tengah tentang bahasa, sastra, dan aksara Jawa, serta pemakaian aksara Jawa pada papan nama sekolah, gedung, dan tempat usaha yang dilakukan secara sukarela atau mengikuti pedoman dari dinas terkait. Bagi pengelola gedung atau pemilik usaha di Magelang yang ingin memasang papan beraksara Jawa, ketiadaan aturan khusus ini bukan berarti bebas menulis sembarangan, melainkan justru berarti tanggung jawab memeriksa kebenaran tulisan menjadi lebih besar, karena tidak ada format baku lokal yang dapat dijadikan alasan bila tulisannya salah.

Usulan yang sering diajukan dalam literatur pelestarian aksara dapat menjadi panduan bagi Magelang, tanpa perlu diklaim sebagai aturan yang sudah berlaku. Sebuah tulisan di Majalah 1000 Guru mengusulkan tujuh hal yang dapat dilakukan pemerintah daerah, yaitu mewajibkan penyisipan aksara Jawa dalam penulisan nama bangunan, gedung, jalan, apartemen atau pemukiman, kantor, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi, mewajibkan penyisipan aksara Jawa dalam iklan atau reklame di tempat umum, menyisipkan aksara Jawa bersama aksara Latin dalam penulisan rambu umum, penulisan jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum, serta mewajibkan media massa lokal menyisipkan aksara Jawa dalam rubrik tertentu dan mewajibkan sekolah menyisipkan materi aksara Jawa dalam kegiatan literasi rutin. Usulan itu juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, yang pada Pasal 42 ayat 1 menyatakan bahwa pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Usulan ini dicatat sebagai usulan, bukan sebagai kewajiban yang sudah berlaku di Magelang, supaya pembaca tidak tertukar antara gagasan dan aturan.

Pelajaran dari Papan yang Salah Tulis

Kesalahan penulisan aksara Jawa di ruang publik bukan sekadar soal estetika, karena satu tanda yang salah tempat dapat mengubah bunyi dan arti kata. Pelajaran paling jelas datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah pada Maret 2025. Sebuah video viral di media sosial menampilkan plang penulisan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang memakai aksara Jawa yang salah. Akun Instagram yang membagikan ulasan itu menunjukkan kesalahan fatal, yaitu pangkon yang seharusnya tidak ditempatkan di tengah kata, tetapi di akhir kalimat untuk mematikan aksara, kesalahan pembacaan Pro menjadi Pra dalam kata Provinsi, dan penulisan taling dan tarung yang berjejer sehingga aksara sulit dibaca. Espos menulis bahwa Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, telah memerintahkan jajarannya untuk mengecek setiap plang di sekolah negeri, museum, dan taman budaya yang berada di bawah naungan dinas tersebut, dan bahwa papan nama yang salah tulis itu telah terpasang sejak tiga tahun lalu, tepatnya sejak 2022. Uswatun mengaku khilaf dan meminta tulisan aksara Jawa pada papan nama kantornya dilepas dan diganti dengan tulisan yang benar.

Kasus ini relevan bagi Magelang karena sekolah negeri, museum, dan taman budaya di Magelang berada dalam ekosistem yang sama dengan dinas provinsi tersebut, dan karena kesalahan yang sama dapat terjadi di mana saja bila papan dibuat tanpa pemeriksa yang memahami kaidah. Tiga kesalahan dalam kasus itu layak dihafal oleh siapa saja yang hendak memasang papan. Pertama, pangkon hanya dipakai untuk mematikan vokal di akhir, sehingga pangkon di tengah kata adalah kesalahan yang langsung terlihat oleh pembaca yang paham. Kedua, pasangan dan sandhangan yang tertukar dapat mengubah suku kata, seperti Pro yang terbaca Pra, sehingga nama lembaga pun berubah bunyinya. Ketiga, taling dan tarung yang berjejer tanpa aturan membuat aksara sulit dibaca, karena pembaca tidak dapat menentukan vokal mana yang berlaku. Ketiga kesalahan ini tidak membutuhkan alat canggih untuk dideteksi, melainkan hanya membutuhkan satu orang pemeriksa yang benar-benar menguasai kaidah dan bersedia membaca papan itu kata per kata sebelum dipasang.

Panduan praktis untuk memasang papan beraksara Jawa di Magelang dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, tulislah nama dalam huruf Latin terlebih dahulu, lalu transliterasikan ke aksara Jawa dengan memakai Pedoman Penulisan Aksara Jawa Tahun 2002 sebagai acuan kaidah, sebagaimana dipakai dalam penelitian transliterasi papan nama jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua, mintalah guru bahasa Jawa atau pemeriksa yang memahami aksara untuk membaca hasil transliterasi itu dengan suara keras, karena kesalahan bunyi lebih mudah terdengar daripada terlihat. Ketiga, pasanglah aksara Jawa bersama aksara Latin, bukan menggantikan Latin, supaya pengunjung yang belum dapat membaca aksara Jawa tetap dapat menemukan lokasi. Keempat, periksalah papan setelah dipasang, dari jarak baca yang wajar, karena huruf yang terlihat benar di layar komputer kadang terlihat berbeda setelah dicetak besar. Kelima, rawatlah papan itu, karena papan yang pudar atau rusak sebagian akan dibaca salah, dan papan yang dibiarkan salah selama tiga tahun, seperti dalam kasus di atas, akan menjadi bahan ejekan sekaligus bukti bahwa tidak ada yang memeriksa.

Peran teknologi dalam hal ini bersifat membantu, bukan menggantikan pemeriksa manusia. Font aksara Jawa, aplikasi transliterasi, dan aplikasi belajar seperti yang disebut dalam modul bahasa Jawa kelas VII dapat mempercepat penulisan, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa oleh manusia yang memahami kaidah. Penelitian transliterasi di Yogyakarta menemukan bahwa bentuk transliterasi dilakukan secara langsung dan tidak langsung, dan ditinjau dari kesesuaian kaidah, sejumlah data masih terjadi ketidaksesuaian dengan kaidah dan norma tata tulis aksara Jawa. Temuan ini menegaskan bahwa alat digital dapat menghasilkan huruf yang terlihat seperti aksara Jawa, tetapi belum tentu menghasilkan tulisan yang benar menurut kaidah. Karena itu, sekolah atau usaha di Magelang yang memakai jasa pembuatan papan sebaiknya meminta penyedia jasa menunjukkan hasil pemeriksaan oleh pemeriksa yang kompeten, bukan hanya menunjukkan contoh desain yang bagus.

Aksara Jawa Magelang dalam Kehidupan Sehari-hari

Di luar sekolah dan papan nama, aksara Jawa dapat hidup dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil dan lebih dekat dengan warga. Laporan dari SMA Negeri 1 Rembang mencatat pemakaian aksara Jawa sebagai motif pakaian, kerudung, bros, papan nama, jam dinding, hiasan dinding, dan tempat pensil, serta pada penulisan nama jalan dan nama kantor. Bentuk-bentuk ini dapat ditiru di Magelang dengan cara yang tidak memaksakan, misalnya dengan memakai aksara Jawa pada kemasan produk lokal, pada undangan hajatan, pada kaus komunitas, atau pada sudut baca di perpustakaan. Pemakaian seperti ini membuat aksara Jawa terlihat oleh anak-anak dalam konteks yang menyenangkan, bukan hanya dalam buku pelajaran yang terasa berat. Syaratnya tetap sama, yaitu tulisannya harus benar, karena produk yang memakai aksara yang salah justru mengajarkan kesalahan kepada pembelinya.

Dialek Jawa Magelang dan perbedaannya dengan Jogja dan Solo yang telah diberitakan KabarTidar juga relevan di sini, karena aksara Jawa menuliskan bahasa Jawa, dan bahasa Jawa di Magelang memiliki kekhasan dialeknya sendiri. Warga Magelang yang belajar aksara Jawa sebaiknya belajar pula unggah-ungguh basa, yaitu tingkat tutur yang membedakan ngoko, krama madya, dan krama inggil, karena tulisan yang benar secara huruf tetapi salah secara tingkat tutur dapat terdengar tidak sopan dalam situasi tertentu. Sebaliknya, warga yang sudah menguasai unggah-ungguh akan lebih mudah memahami mengapa satu kata ditulis dengan aksara murda atau mengapa satu nama ditulis dengan bentuk tertentu. Aksara dan bahasa adalah dua sisi dari satu kemampuan yang sama, yaitu kemampuan berbahasa Jawa dengan benar dan santun.

Perpustakaan, sanggar, dan sekolah tua di Magelang dapat menjadi tempat yang tepat untuk mengenalkan aksara Jawa kepada publik. Pengunjung yang datang ke perpustakaan dapat dikenalkan lewat pameran kecil tentang aksara, dengan kartu aksara yang dapat dipegang dan contoh kata yang dapat dibaca. Sanggar seni dapat mengenalkan aksara lewat sampul naskah, lewat papan nama sanggar, atau lewat tembang yang ditulis dalam aksara Jawa dan Latin secara berdampingan. Sekolah tua di Kota Magelang yang telah diberitakan KabarTidar dapat menjadi contoh tempat yang sejarahnya panjang dan identitasnya kuat, sehingga pemasangan papan beraksara Jawa di sana akan terasa wajar, asalkan tulisannya diperiksa dengan benar. Tempat-tempat seperti ini tidak membutuhkan anggaran besar untuk mengenalkan aksara, melainkan hanya membutuhkan satu sudut, satu papan, dan satu orang yang bersedia menjelaskan.

Bagi wisatawan yang datang ke Magelang, aksara Jawa juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya Jawa, asalkan disajikan dengan cara yang ramah. Papan penanda di kawasan wisata yang memakai aksara Jawa bersama Latin akan memberi kesan bahwa Magelang adalah kota yang menjaga budayanya, tanpa membuat wisatawan tersesat karena tidak dapat membaca. Pemandu wisata dapat menjelaskan satu atau dua kata beraksara Jawa kepada rombongannya, misalnya nama tempat atau nama makanan, sehingga wisatawan pulang dengan satu pengetahuan baru, bukan hanya foto. Cara ini lebih efektif daripada memasang aksara Jawa di semua tempat tanpa penjelasan, karena aksara yang tidak dijelaskan hanya akan menjadi hiasan yang dilewati begitu saja.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah aksara Jawa masih dipakai dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya adalah dipakai, tetapi tidak lagi sebagai tulisan utama. Dalam kehidupan sehari-hari, aksara Latin mendominasi surat, pesan, dan dokumen, sedangkan aksara Jawa hidup di sekolah, pada papan nama, pada karya seni, dan pada kegiatan budaya. Sebuah tulisan di Majalah 1000 Guru mencatat bahwa aksara Jawa telah kehilangan fungsinya dalam keseharian dan tergusur aksara Latin, dan satu-satunya tempat untuk melihatnya adalah sekolah, itu pun terbatas pada buku pelajaran dan hanya ada bila guru mengajarkannya. Gambaran itu mungkin terdengar pesimistis, tetapi justru menunjukkan di mana pekerjaan pelestarian harus difokuskan, yaitu di sekolah sebagai tempat belajar, dan di ruang publik sebagai tempat melihat, supaya aksara Jawa tidak hanya hidup di buku, tetapi juga terlihat di jalan.

Apakah belajar aksara Jawa itu sulit? Jawabannya adalah sulit pada awalnya, tetapi tidak mustahil. Kesulitan utama terletak pada jumlah huruf dan tanda yang harus dihafal, yaitu 20 aksara nglegena, 20 pasangan, dan berbagai sandhangan, murda, swara, rekan, dan angka. Namun kesulitan ini berkurang bila belajar dilakukan bertahap, dari pengenalan huruf, ke pasangan, ke sandhangan, ke kata, lalu ke kalimat, sebagaimana diatur dalam kurikulum. Siswa yang memandang aksara Jawa sebagai momok, seperti yang dicatat di SMA Negeri 1 Rembang, dapat berubah pandangannya bila pembelajarannya dibuat interaktif, berpusat pada siswa, dan memakai media yang menarik. Kuncinya adalah tidak menjadikan aksara Jawa sebagai hafalan yang menakutkan, melainkan sebagai keterampilan yang dilatih sedikit demi sedikit.

Apakah papan beraksara Jawa harus memakai format Yogyakarta atau Solo? Jawabannya adalah tidak harus, karena kedua format itu berlaku menurut aturan kotanya masing-masing, sedangkan Magelang tidak memiliki aturan format khusus yang terverifikasi dalam riset ini. Bagi pemasang papan di Magelang, yang lebih penting daripada memilih format atas atau bawah adalah memastikan tulisannya benar, Latinnya tetap ada sebagai pendamping, dan penempatannya konsisten di seluruh papan dalam satu gedung atau satu kawasan. Konsistensi lebih penting daripada meniru satu kota, karena pengunjung akan bingung bila satu papan memakai aksara di atas dan papan berikutnya memakai aksara di bawah tanpa alasan yang jelas.

Siapa yang dapat memeriksa kebenaran tulisan aksara Jawa sebelum dipasang? Jawabannya adalah guru bahasa Jawa, dosen atau mahasiswa program studi pendidikan bahasa Jawa, pegiat komunitas aksara, atau pegawai dinas kebudayaan yang memahami kaidah. Di Magelang, guru bahasa Jawa di sekolah dan dosen di Universitas Muhammadiyah Magelang adalah titik awal yang masuk akal untuk bertanya, karena kedua pihak itu terlibat langsung dalam pembelajaran dan penelitian aksara Jawa. Pemeriksa yang baik tidak hanya mengatakan benar atau salah, tetapi juga menunjukkan huruf mana yang salah dan kaidah mana yang dilanggar, supaya pembuat papan dapat memperbaikinya dan tidak mengulang kesalahan yang sama pada papan berikutnya.

Pada akhirnya, aksara Jawa di Magelang akan tetap hidup bila dua jalurnya berjalan bersama, yaitu jalur kelas yang mengajarkan huruf demi huruf dengan sabar, dan jalur jalan yang menampilkan huruf-huruf itu dengan benar. Kurikulum Jawa Tengah sudah memberi jalur kelasnya, dari pengenalan 20 aksara legena di sekolah dasar sampai penguasaan murda, rekan, swara, dan angka Jawa di sekolah menengah pertama. Yang masih perlu diperkuat adalah jalur jalannya, yaitu papan-papan di sekolah, gedung, dan tempat usaha yang tulisannya benar, konsisten, dan didampingi Latin. Bila kedua jalur itu berjalan, anak Magelang yang belajar aksara di kelas pada pagi hari akan melihat aksara yang sama di papan nama pada siang hari, dan aksara Jawa tidak lagi hanya menjadi pelajaran, melainkan menjadi bagian dari kota yang ia tinggali.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *