Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Pondok Pesantren API Tegalrejo, Pesantren Tua Kebanggaan Magelang
Pendidikan

Pondok Pesantren API Tegalrejo, Pesantren Tua Kebanggaan Magelang

Didirikan 15 September 1944 oleh KH Chudlori, pesantren di Tegalrejo ini pernah dibakar pada masa revolusi dan dibangun kembali. Profil ini menelusuri sejarah, sistem pendidikan salaf, dan kekhasan yang menjadikannya kebanggaan Magelang.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 07.14 WIB
Ilustrasi bangunan API Tegalrejo dengan santri di halaman pesantren
Ilustrasi santri berjalan di halaman bangunan pesantren berkubah dengan latar pegunungan. (Ilustrasi: KabarTidar)

API Tegalrejo adalah nama yang lekat dengan sejarah pendidikan Islam di Kabupaten Magelang. Nama lengkapnya adalah Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berkedudukan di Desa Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan pada 15 September 1944 oleh KH Chudlori, seorang ulama yang berasal dari desa yang sama. Dari awal yang sangat sederhana, dengan santri yang pada mulanya hanya berjumlah delapan orang, pesantren ini tumbuh menjadi salah satu pesantren yang paling dikenal di Jawa Tengah, dan namanya terus disebut ketika orang membicarakan tradisi pesantren salaf di Magelang.

Artikel ini menyusun profil API Tegalrejo dari sumber-sumber yang dapat ditelusuri, terutama profil yang diterbitkan Langit7 pada Januari 2025 dan catatan sejarah yang dirangkum dalam ensiklopedia daring Wikipedia. Kedua sumber itu sepakat pada kerangka dasarnya: tanggal pendirian, nama pendiri, penetapan nama Asrama Perguruan Islam pada 1947, masa perjuangan pada akhir 1940-an, dan perkembangan jumlah santri hingga dekade 1970-an. Perbedaan kecil dalam penekanan antarsumber dicatat apa adanya, dan angka yang dikutip di sini selalu disertai konteks waktunya, agar tidak dibaca sebagai kondisi terkini yang belum terverifikasi.

Untuk memahami API Tegalrejo, pembaca perlu memahami satu hal terlebih dahulu: pesantren ini bukan sekadar sekolah berasrama. Pesantren ini adalah warisan keluarga ulama, pusat pengajian kitab, sekaligus saksi perjuangan kemerdekaan. Bangunannya pernah dibakar, santrinya pernah mengungsi, dan pengasuhnya pernah memimpin dari pengungsian. Kisah itu menjelaskan mengapa nama Tegalrejo memiliki bobot tersendiri di kalangan pesantren, dan mengapa banyak orang tua dari berbagai daerah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada lembaga ini.

KH Chudlori, Santri Kelana yang Pulang dan Mendirikan API Tegalrejo

KH Chudlori lahir di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ayahnya adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda, dan kakeknya, Abdul Halim, juga dikenal sebagai penghulu yang dihormati dan menangani urusan agama di sejumlah kecamatan di Magelang, meliputi Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo. Latar keluarga seperti itu membuat Chudlori muda tumbuh di lingkungan yang dekat dengan urusan agama dan pelayanan masyarakat, jauh sebelum ia dikenal sebagai pendiri pesantren.

Pada tahun 1923, setelah menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School, lembaga pendidikan setingkat sekolah dasar pada zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Dari sana, kehausan akan ilmu agama membawanya nyantri ke Tebuireng, pesantren yang pada waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Di Tebuireng, ia mempelajari beragam kitab dan menyerap tradisi keilmuan pesantren besar di Jawa Timur. Perjalanan itu berlanjut pada tahun 1933, ketika ia pindah ke Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir.

Rangkaian perjalanan nyantri yang panjang itu penting untuk dipahami, karena ia membentuk cara KH Chudlori memimpin pesantrennya kelak. Ia bukan ulama yang hanya belajar dari satu guru, melainkan santri kelana yang menimba ilmu dari beberapa pesantren dan beberapa tradisi pengajaran. Pengalaman itu pula yang membuatnya memahami bahwa pesantren harus menjadi tempat belajar yang sungguh-sungguh, sekaligus tempat pembentukan karakter yang sabar dan tekun.

KH Chudlori juga adalah menantu dari Mbah Dalhar, yakni KH Nahrowi, pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Watucongol, Muntilan, Magelang. Keterkaitan keluarga antarpesantren seperti ini adalah hal yang lazim dalam dunia pesantren Jawa, dan keterkaitan itu memperluas jaringan keilmuan serta silaturahmi antarlembaga. Ketika KH Chudlori kemudian mendirikan pesantren sendiri, ia tidak berangkat dari ruang kosong, melainkan dari jaringan guru, keluarga, dan tradisi yang sudah mengakar.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakannya dengan mertuanya, pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Pada awalnya, ia sama sekali tidak memberikan nama khusus pada pesantrennya, sebagaimana lazimnya pesantren lain yang tumbuh dari pengajian di rumah kiai. Santri datang karena mengenal sosok pengasuhnya, bukan karena merek atau nama lembaga. Kesederhanaan awal itu justru menjadi ciri yang dikenang: delapan orang santri pertama belajar dalam suasana yang sangat bersahaja, jauh dari gambaran pesantren besar seperti sekarang.

Nama Asrama Perguruan Islam dan Cita-cita Melahirkan Guru

Baru pada tahun 1947, setelah berkali-kali mendapat saran dan usulan dari rekan-rekan seperjuangannya, ditetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam, disingkat API. Nama itu ditentukan sendiri oleh KH Chudlori dan, menurut riwayat yang dikutip berbagai profil, merupakan hasil dari shalat istikharah. Dengan nama itu, KH Chudlori berharap para santrinya kelak di tengah masyarakat mampu dan mau menjadi guru yang mengajarkan dan mengembangkan syariat Islam.

Cita-cita tersebut menjelaskan banyak hal tentang arah pendidikan di API Tegalrejo. Pesantren ini tidak dirancang semata-mata untuk menghasilkan lulusan yang menguasai teks, tetapi untuk melahirkan pengajar, pendakwah, dan pelayan masyarakat yang kembali ke kampung halamannya masing-masing. Seorang santri yang lulus diharapkan menjadi api penerang umat dalam kegelapan, sebagaimana makna simbolis yang melekat pada nama API. Harapan itu pula yang membuat alumni pesantren tersebar ke berbagai daerah, mengajar di masjid, madrasah, dan pesantren lain.

Menurut profil yang diterbitkan Langit7 dengan mengutip situs Pemerintah Kabupaten Magelang, yang melatarbelakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah semangat jihad menegakkan agama Allah yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri. Pada waktu itu, kondisi masyarakat Tegalrejo masih banyak yang melakukan perbuatan syirik dan antipati terhadap tata nilai sosial yang Islami. Gambaran tersebut tidak perlu dibaca sebagai penilaian terhadap masyarakat masa kini, melainkan sebagai konteks zaman pendirian: pesantren lahir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menerima kehadiran lembaga pendidikan Islam yang baru.

Respons awal masyarakat terhadap pesantren itu pun, menurut sumber yang sama, cukup memprihatinkan. Masyarakat masih kental dengan aliran kejawen, dan tidak jarang terjadi hal-hal negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan belajar mengajar. Namun KH Chudlori teguh dengan prinsip dan pendiriannya. Keteguhan itulah yang kemudian membuahkan hasil: santri yang pada awal berdiri hanya berjumlah delapan orang, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar seratus orang. Angka itu adalah gambaran masa awal, bukan angka terkini, dan dikutip di sini untuk menunjukkan betapa cepatnya kepercayaan masyarakat tumbuh setelah masa-masa sulit pertama.

Seiring berjalannya waktu, warga yang awalnya menentang dan antipati malah menjadi simpati dan ikhlas, bahkan menjadi pendukung setia dengan mengorbankan dana dan daya yang ada demi suksesnya perjuangan KH Chudlori. Perubahan sikap masyarakat ini adalah bagian penting dari sejarah API Tegalrejo, karena pesantren yang bertahan bukan hanya pesantren yang memiliki gedung, tetapi pesantren yang diterima oleh lingkungannya. Penerimaan itu tidak datang seketika, melainkan dibangun melalui keteladanan, kesabaran, dan kehadiran yang konsisten di tengah warga.

Perjuangan Kemerdekaan: Dibakar, Mengungsi, lalu Dibangun Kembali

Perjuangan pesantren tidak berhenti pada penolakan awal dari sebagian masyarakat. Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. KH Chudlori mengizinkan santrinya untuk turut berjuang, dan aktivitas belajar mengajar dihentikan untuk sementara waktu. Keputusan itu menunjukkan posisi pesantren yang jelas: pendidikan tidak dipisahkan dari tanggung jawab kebangsaan, dan santri dipandang sebagai bagian dari rakyat yang mempertahankan kemerdekaan.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantren kemudian dibakar habis. Pada awal tahun 1948, secara mendadak API diserbu Belanda, dan gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu porak poranda. Sejumlah 36 kitab, termasuk kitab milik KH Chudlori sendiri, dibakar hangus. Kehilangan itu bukan sekadar kehilangan benda, melainkan kehilangan pustaka ilmu yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Dalam tradisi pesantren, kitab adalah harta yang paling berharga, dan pembakaran kitab adalah luka yang dalam bagi sebuah lembaga pendidikan.

Santri, keluarga, dan KH Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain, dan menurut catatan sejarah pesantren, pengungsian itu mengarah ke Desa Tejo, Kecamatan Candimulyo. Di pengungsian, kegiatan pengajian tidak sepenuhnya berhenti, tetapi suasana belajar tentu jauh dari normal. Sebuah catatan akademik yang membahas dakwah kultural di Pesantren Tegalrejo menyebutkan bahwa nyaris tidak ada dokumen sejarah pesantren yang tersisa dari peristiwa pembakaran itu, dan rekam jejak sejarah pesantren hanya dapat dipulihkan melalui tradisi lisan, situs sejarah, dan jejak spiritual yang masih tersisa di kawasan tersebut. Keterangan itu penting, karena menjelaskan mengapa sejarah awal API Tegalrejo banyak bersandar pada penuturan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada tahun 1949, ketika situasi tampak aman, KH Chudlori kembali mengadakan kegiatan pengajaran agama kepada masyarakat sekitar. Santri pun mulai berdatangan, terutama mereka yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali. KH Chudlori mulai mendirikan kembali pesantren di tempat semula. Dari titik inilah API berkembang pesat, dan pesantren yang pernah rata dengan tanah itu bangkit menjadi lembaga yang lebih besar dan lebih dikenal.

Kisah dibakar dan dibangun kembali ini sering menjadi bagian yang paling diingat dari sejarah API Tegalrejo, dan memang layak diingat. Kisah itu mengajarkan bahwa lembaga pendidikan yang kuat bukan lembaga yang tidak pernah jatuh, melainkan lembaga yang mampu bangkit setelah jatuh. Bagi santri masa kini, kisah tersebut adalah pelajaran tentang ketabahan: ilmu tidak selalu dipelajari dalam gedung yang megah, dan perjuangan tidak selalu berjalan dalam suasana yang tenang.

Perkembangan Santri dan Estafet Kepengasuhan Keluarga

Setelah dibangun kembali, API Tegalrejo memasuki masa perkembangan yang pesat. Pada tahun 1977, jumlah santri mencapai sekitar 1.500 orang. Angka itu menggambarkan skala pesantren pada masa kepemimpinan KH Chudlori menjelang akhir hayatnya. Namun pada tahun yang sama pula KH Chudlori wafat, sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa diambil alih oleh putra sulungnya, KH Abdurrohman Chudlori, dibantu adiknya, H Achmad Muhammad.

Masa peralihan kepemimpinan tidak berjalan tanpa ujian. Pada awal periode KH Abdurrohman Chudlori, pesantren sempat mengalami penurunan jumlah santri, hingga pada tahun 1980 tinggal sekitar 760 orang. Penurunan itu adalah hal yang wajar dalam estafet kepemimpinan lembaga besar, terutama setelah wafatnya seorang pendiri yang sangat dihormati. Namun dari keuletan dan kegigihan KH Abdurrohman Chudlori, jumlah santri dapat kembali meningkat, dan pada tahun 1992 mencapai 2.698 orang. Rangkaian angka historis ini dikutip dari catatan ensiklopedia daring, dan sengaja disajikan lengkap dengan tahunnya, agar pembaca tidak keliru membacanya sebagai jumlah santri pada masa kini.

Untuk kondisi terkini, artikel ini tidak mencantumkan satu angka pasti jumlah santri, karena sumber-sumber terbuka yang dirujuk tidak menyajikan angka terkini yang seragam dan terverifikasi. Yang dapat dikatakan secara aman adalah bahwa API Tegalrejo sampai saat ini tetap menjadi salah satu rujukan orang tua untuk mengirim anak-anak mereka belajar agama, sebagaimana ditulis Langit7 pada 2025. Sikap menahan diri dari angka yang belum terverifikasi adalah bagian dari tanggung jawab penulisan profil: lebih baik mengakui batas data daripada menyajikan perkiraan sebagai fakta.

Estafet kepengasuhan API Tegalrejo berada di tangan keluarga pendiri. Catatan ensiklopedia daring menyebutkan kepengasuhan yang dipimpin oleh KH Mudrik Chudlori dan KH Chanif Chudlori bersama seluruh anak cucu KH Chudlori, serta menyebut KH Abdurrohman Chudlori yang memimpin hingga wafatnya pada 2011. Sementara itu, profil Langit7 pada 2025 menyebutkan bahwa pondok diasuh oleh salah satu putra pendiri, KH Muhammad Yusuf Chudlori, yang akrab disapa Gus Yusuf. Kedua keterangan itu tidak perlu dipertentangkan: keduanya menggambarkan pola yang sama, yakni kepengasuhan kolektif keluarga pendiri, dengan peran-peran yang berjalan bersamaan dalam mengasuh ribuan santri dan mengelola lembaga yang semakin kompleks.

Pola kepengasuhan keluarga seperti ini memiliki kekuatan sekaligus tantangan. Kekuatannya terletak pada kesinambungan nilai: para pengasuh tumbuh di lingkungan pesantren yang sama, mengenal tradisi yang sama, dan memikul amanah yang sama. Tantangannya terletak pada tuntutan zaman: pesantren keluarga harus tetap mampu mengelola pendidikan formal, administrasi modern, dan hubungan dengan pemerintah serta masyarakat luas, tanpa kehilangan watak salaf yang menjadi identitasnya. API Tegalrejo, dengan usianya yang sudah berjalan lebih dari delapan dekade, adalah contoh bagaimana tantangan itu dihadapi dari generasi ke generasi.

Alumni yang Paling Dikenal: Abdurrahman Wahid

Di antara alumni API Tegalrejo, nama yang paling sering disebut adalah Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia. Keterangan bahwa Gus Dur merupakan salah satu alumnus pesantren tersebut tercantum dalam catatan ensiklopedia daring tentang API Tegalrejo, dan juga disebut dalam berbagai profil pesantren. Kehadiran nama Gus Dur dalam daftar alumni sering menjadi pintu pertama bagi pembaca awam untuk mengenal Tegalrejo, karena nama itu menghubungkan pesantren di sebuah desa di Magelang dengan panggung nasional.

Namun penting untuk menempatkan alumni besar itu secara proporsional. API Tegalrejo tidak menjadi besar hanya karena satu alumnus, dan nilai pesantren tidak boleh diukur semata-mata dari jabatan yang pernah diraih alumninya. Ribuan alumni lain yang menjadi guru, ustaz, kepala madrasah, pengasuh pesantren kecil, dan pelayan masyarakat di kampung halamannya masing-masing adalah wujud nyata dari cita-cita pendiri: melahirkan guru yang mengajarkan dan mengembangkan syariat Islam di tengah masyarakat. Alumni yang tidak terkenal itu justru adalah bukti paling luas dari keberhasilan sebuah pesantren.

Keterkaitan dengan Gus Dur juga mengingatkan pada jaringan pesantren Nahdlatul Ulama yang luas. API Tegalrejo tercatat berafiliasi dengan Islam dan Nahdlatul Ulama, dan pendirinya sendiri pernah nyantri di Tebuireng di bawah asuhan KH Hasyim Asyari. Jaringan itu bukan sekadar label organisasi, melainkan jalur keilmuan, jalur guru dan murid, serta jalur perjuangan yang menghubungkan Tegalrejo dengan pesantren-pesantren besar lainnya di Jawa. Memahami jaringan itu membantu pembaca memahami mengapa pesantren di Tegalrejo memiliki pengaruh yang melampaui batas desanya.

Sistem Pendidikan Salaf: Kitab Kuning, Kelas Klasikal, dan Tujuh Tahun Pengajian

API Tegalrejo dikenal sebagai Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo. Sebutan salaf di sini merujuk pada tradisi pendidikan yang berpusat pada pengajian kitab kuning, yakni kitab-kitab klasik keislaman yang dibaca, dijelaskan, dan dihafal secara bertahap di bawah bimbingan kiai dan ustaz. Tradisi ini menekankan sanad keilmuan, yakni mata rantai guru dan murid yang bersambung, serta adab belajar yang ketat: santri tidak hanya dituntut memahami isi kitab, tetapi juga menghormati guru, menjaga akhlak, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut profil yang diterbitkan Santri Pos, kurikulum kajian keagamaan yang diajarkan di Pesantren Tegalrejo membutuhkan waktu tujuh tahun. Keterangan itu sejalan dengan informasi lain yang menyebutkan bahwa pendidikan salaf di API menggunakan sistem klasikal dan terdiri dari tujuh kelas yang mempelajari ilmu agama. Sistem klasikal berarti santri dikelompokkan berdasarkan jenjang, bukan sekadar mengikuti pengajian bebas tanpa tingkatan. Setiap jenjang memiliki kitab dan materi yang sesuai dengan kemampuan santri, sehingga proses belajar berjalan bertahap dan terukur.

Tujuh tahun adalah waktu yang panjang, dan panjangnya waktu itu sendiri adalah pesan pendidikan. Pesantren salaf tidak menjanjikan jalan pintas. Santri diajak untuk tekun, mengulang, dan mendalami, hingga pemahaman terhadap kitab benar-benar mengendap. Dalam budaya pesantren, kecepatan lulus bukan ukuran utama. Ukuran utama adalah kedalaman pemahaman dan kematangan akhlak. Karena itu, santri yang menempuh pendidikan salaf di Tegalrejo tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga belajar kesabaran, kedisiplinan, dan kehidupan bersama dalam asrama.

Kehidupan asrama adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan salaf. Santri tinggal bersama, makan bersama, beribadah bersama, dan belajar bersama dalam jadwal yang padat sejak dini hari hingga malam. Kalender akademis pesantren menggunakan kalender Hijriah, sebagaimana tercatat dalam data ensiklopedia daring. Ritme kehidupan yang teratur itu membentuk karakter: santri belajar mengatur waktu, menghormati aturan bersama, dan hidup sederhana. Banyak alumni yang mengenang masa asrama bukan karena fasilitasnya, melainkan karena kebersamaan dan kedisiplinan yang ditempa di sana.

Di tengah arus modernisasi, tradisi salaf di API Tegalrejo menghadapi pertanyaan yang juga dihadapi pesantren salaf lainnya: bagaimana menjaga keaslian pengajian kitab di tengah tuntutan ijazah formal, keterampilan kerja, dan teknologi digital. Catatan akademik tentang dakwah kultural Gus Yusuf di Pesantren Tegalrejo, yang diterbitkan melalui repositori Universitas Paramadina, menggambarkan pesantren ini sebagai institusi yang memadukan tradisi turats dengan kesadaran sosial dan kebangsaan yang kuat. Turats adalah warisan kitab klasik, sedangkan kesadaran sosial dan kebangsaan adalah kemampuan untuk membaca zaman dan hadir di tengah masyarakat yang berubah. Perpaduan itulah yang membuat tradisi salaf tetap relevan: kitab lama dibaca dengan cara yang menjawab persoalan baru.

Pendidikan Formal di Bawah Naungan Yayasan Syubbanul Wathon

Di samping pendidikan salaf, API Tegalrejo juga mengembangkan pendidikan formal. Menurut direktori pesantren yang merangkum profil lembaga ini, unit pendidikan formal di pesantren ini meliputi SMP, SMA, dan SMK, dan menurut sumber lain, SMP dan SMK Syubbanul Wathon didirikan di bawah naungan Yayasan Syubbanul Wathon. Kehadiran pendidikan formal ini penting, karena santri masa kini membutuhkan ijazah yang diakui untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja, tanpa harus meninggalkan pengajian kitab.

Perpaduan antara pendidikan salaf dan pendidikan formal adalah ciri banyak pesantren besar di Jawa Tengah pada masa kini, dan API Tegalrejo termasuk di antaranya. Pada pagi hingga siang hari, santri mengikuti pelajaran formal di kelas. Pada waktu lain, santri mengikuti pengajian kitab, setoran hafalan, dan kegiatan keasramaan. Jadwal ganda seperti itu menuntut stamina dan kedisiplinan yang tinggi, tetapi juga memberi santri dua bekal sekaligus: penguasaan ilmu agama dan bekal pendidikan umum yang dapat dipertanggungjawabkan secara administratif.

Bagi orang tua, perpaduan ini sering menjadi pertimbangan utama. Orang tua yang menginginkan anaknya mendalami agama tidak harus mengorbankan pendidikan formal anaknya, dan orang tua yang menginginkan ijazah formal tidak harus merelakan anaknya jauh dari lingkungan pesantren. API Tegalrejo menjawab kedua harapan itu dalam satu kawasan. Tentu saja, kualitas perpaduan itu sangat bergantung pada pengelolaan: guru formal yang kompeten, ustaz salaf yang mumpuni, serta jadwal yang tidak saling mengorbankan. Di sinilah peran pengasuh dan yayasan menjadi sangat menentukan.

Perlu dicatat bahwa artikel ini tidak merinci daftar lengkap jurusan, program unggulan, atau fasilitas terkini di unit formal tersebut, karena sumber-sumber terbuka yang dirujuk tidak menyajikan rincian yang seragam dan terverifikasi. Pembaca yang membutuhkan informasi pendaftaran dan program terkini sebaiknya merujuk langsung kepada pihak pesantren atau yayasan. Sikap itu lebih jujur daripada menyusun daftar yang tampak lengkap tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

Lokasi: Di Jalur Magelang Salatiga, Desa Tegalrejo

Secara administratif, API Tegalrejo berkedudukan di Desa Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Alamat yang tercantum dalam data ensiklopedia daring adalah Jalan Magelang Salatiga KM 9, Dusun Krajan, Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Posisi di jalur utama Magelang Salatiga membuat pesantren ini relatif mudah dijangkau dari pusat Kabupaten Magelang maupun dari arah Salatiga, dan posisi itu pula yang menjelaskan mengapa santri dari berbagai daerah dapat datang dan menetap di sana.

Lokasi di jalur utama juga memberi pesantren peran sosial yang lebih luas. Pesantren tidak berdiri di tempat yang terasing, melainkan di tengah lalu lintas masyarakat. Masjid pesantren, kegiatan pengajian umum, dan peringatan hari besar Islam di kawasan itu dapat diakses warga sekitar, bukan hanya santri. Dengan cara itu, pesantren menjadi bagian dari kehidupan desa, bukan enklave yang tertutup. Hubungan timbal balik antara pesantren dan warga sekitar adalah salah satu alasan pesantren ini dapat bertahan selama lebih dari delapan dekade.

Kecamatan Tegalrejo sendiri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang yang dikenal sebagai kawasan pesantren. Dalam peta pesantren Magelang yang lebih luas, Tegalrejo sering disebut berdampingan dengan pesantren-pesantren lain di Muntilan, Mungkid, dan sekitarnya, masing-masing dengan sejarah dan kekhasannya sendiri. Gambaran umum pondok pesantren di Magelang dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca yang ingin memahami posisi API Tegalrejo di antara pesantren-pesantren lain di daerah ini, sementara artikel ini secara khusus memusatkan perhatian pada sejarah dan kekhasan Tegalrejo.

Kekhasan API Tegalrejo: Guru, Dakwah, dan Kebangsaan

Jika diminta merangkum kekhasan API Tegalrejo dalam tiga kata, ketiganya adalah guru, dakwah, dan kebangsaan. Guru, karena cita-cita pendirinya adalah melahirkan pengajar yang kembali mengajar di tengah masyarakat. Dakwah, karena pesantren ini lahir dari semangat menegakkan ajaran Islam di tengah masyarakat yang pada awalnya belum menerima kehadirannya. Kebangsaan, karena pesantren ini pernah menjadi benteng perjuangan gerilyawan dan membayar perjuangan itu dengan gedung yang dibakar dan kitab yang hangus.

Ketiga kekhasan itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Guru yang baik adalah pendakwah yang baik, dan pendakwah yang baik adalah warga negara yang baik. Santri API Tegalrejo dididik untuk memahami bahwa ilmu agama bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagikan. Seorang santri yang pulang ke kampungnya diharapkan mampu memimpin pengajian, membimbing warga, dan menjadi penengah ketika masyarakat menghadapi perbedaan. Harapan semacam itu mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya membutuhkan ilmu yang dalam, akhlak yang terjaga, dan keberanian untuk hadir di tengah masyarakat.

Kekhasan lain yang patut dicatat adalah dakwah kultural yang diasosiasikan dengan generasi penerus pesantren, terutama Gus Yusuf. Catatan akademik dari Universitas Paramadina membahas kontribusi Gus Yusuf dan Pesantren Tegalrejo dalam merumuskan bentuk dakwah kultural yang relevan dengan tantangan keberagamaan kontemporer di Indonesia. Dakwah kultural di sini dapat dipahami sebagai dakwah yang menghormati budaya setempat, menggunakan bahasa dan medium yang dipahami masyarakat, dan tidak mempertentangkan agama dengan tradisi yang baik. Pendekatan seperti itu sejalan dengan sejarah awal pesantren: KH Chudlori tidak memenangkan hati masyarakat dengan paksaan, melainkan dengan keteguhan, keteladanan, dan kesabaran.

Dalam konteks Magelang yang beragam, pendekatan dakwah yang santun memiliki nilai yang besar. Magelang adalah daerah dengan pesantren, gereja, vihara, dan tempat ibadah lain yang hidup berdampingan, serta dengan tradisi Jawa yang kuat. Pesantren yang mengajarkan santrinya untuk menghormati perbedaan dan menjaga kerukunan turut menyumbang pada ketenteraman daerah. API Tegalrejo, dengan jaringan alumni dan pengaruhnya, memiliki tanggung jawab sekaligus kesempatan untuk terus memainkan peran itu.

Peran kebangsaan pesantren juga layak ditegaskan kembali pada masa kini, ketika pesantren sering hanya dibicarakan sebagai lembaga pendidikan agama. Sejarah API Tegalrejo mengingatkan bahwa pesantren pernah menjadi bagian dari perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan, bukan hanya perjuangan moral. Pengorbanan gedung dan kitab pada 1948 adalah bukti bahwa pendidikan dan perjuangan kemerdekaan pernah menyatu dalam satu tarikan napas. Mengenang hal itu bukan untuk menghidupkan permusuhan lama, melainkan untuk menghargai harga yang pernah dibayar agar generasi berikutnya dapat belajar dengan tenang.

API Tegalrejo di Antara Pesantren Magelang Lainnya

Magelang dikenal sebagai daerah dengan banyak pesantren, dan setiap pesantren memiliki cerita pendirian yang berbeda. Ada pesantren yang lahir dari pengajian kecil di rumah kiai, ada yang lahir dari wakaf tanah, dan ada yang lahir dari gerakan dakwah tertentu. API Tegalrejo menempati posisi khusus karena usianya yang sudah berjalan sejak 1944, karena pendirinya yang merupakan santri kelana dari beberapa pesantren besar, dan karena kisah perjuangannya pada masa revolusi. Posisi itu membuat Tegalrejo sering disebut sebagai salah satu pesantren terbesar dan tertua di Jawa Tengah, sebagaimana ditulis dalam profil tentang KH Chudlori yang diterbitkan PCNU Cilacap.

Sebutan terbesar dan tertua itu perlu dibaca dengan hati-hati. Di Jawa Tengah terdapat banyak pesantren yang juga berusia sangat tua, dan perbandingan antarlembaga tidak selalu dapat dibuat secara mutlak. Yang dapat dikatakan secara aman adalah bahwa API Tegalrejo termasuk dalam jajaran pesantren tua yang masih aktif, masih diasuh oleh keluarga pendiri, dan masih menjadi rujukan pendidikan agama. Pengakuan seperti itu sudah cukup untuk menunjukkan bobot sejarahnya, tanpa perlu mengklaim peringkat yang tidak dapat diverifikasi.

Bagi pembaca yang sedang membandingkan pesantren untuk putra putrinya, perbedaan antarpesantren justru lebih penting daripada peringkat. Ada pesantren yang menekankan tahfiz, ada yang menekankan kitab kuning, ada yang menekankan pendidikan formal, dan ada yang memadukan semuanya dengan porsi yang berbeda. API Tegalrejo menawarkan perpaduan salaf yang kuat dengan pendidikan formal, dalam lingkungan asrama yang diasuh keluarga pendiri. Calon santri dan orang tua perlu mempertimbangkan kecocokan antara karakter anak, kemampuan akademik, dan kesiapan hidup berasrama, sebelum memutuskan.

Artikel ini sengaja tidak menyajikan perbandingan rinci antarpesantren, karena perbandingan semacam itu membutuhkan data terkini dari masing-masing lembaga yang tidak tersedia secara seragam dalam sumber terbuka. Yang disajikan di sini adalah profil satu lembaga secara mendalam, agar pembaca dapat memahami API Tegalrejo dengan utuh, tanpa terjebak pada kesan bahwa semua pesantren adalah sama. Setiap pesantren memiliki wajahnya sendiri, dan wajah Tegalrejo dibentuk oleh sejarah pendirinya, oleh perjuangan 1948, dan oleh cita-cita melahirkan guru.

Menziarahi dan Mengenal Pesantren dengan Adab

Bagi masyarakat umum yang ingin mengenal API Tegalrejo, cara yang paling baik adalah datang sebagai tamu yang menghormati aturan pesantren. Pesantren adalah tempat belajar dan tempat tinggal santri, bukan tempat wisata yang dapat dimasuki seenaknya. Tamu sebaiknya menghubungi pihak pesantren terlebih dahulu, mengikuti jadwal kunjungan yang berlaku, berpakaian sopan, dan menjaga ketenangan di kawasan pengajian dan asrama. Adab seperti itu bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap santri yang sedang belajar dan beribadah.

Pengunjung juga dapat memanfaatkan kunjungan untuk belajar, bukan hanya melihat bangunan. Mengikuti pengajian umum bila dibuka untuk masyarakat, berbincang dengan pengurus tentang sejarah pesantren, dan memahami jadwal harian santri akan memberi gambaran yang lebih kaya daripada sekadar berfoto di gerbang. Pesantren yang besar sering kali memiliki masjid, aula pengajian, dan kawasan asrama yang masing-masing memiliki fungsi. Memahami fungsi itu membantu tamu menghargai mengapa aturan tertentu diberlakukan.

Bagi alumni dan keluarga santri, kunjungan ke Tegalrejo sering kali memiliki makna emosional. Banyak alumni yang kembali untuk bersilaturahmi dengan pengasuh, menghadiri peringatan haul atau hari besar pesantren, dan memperkenalkan anak-anak mereka kepada tempat mereka pernah belajar. Tradisi silaturahmi seperti itu adalah perekat yang menjaga pesantren tetap hidup melampaui pergantian generasi pengasuh. Pesantren yang alumninya terus pulang adalah pesantren yang ikatan batinnya masih kuat.

Perlu diingat pula bahwa informasi praktis seperti jadwal pendaftaran, biaya pendidikan, dan program tahun berjalan dapat berubah dari tahun ke tahun. Artikel profil seperti ini tidak dimaksudkan sebagai brosur penerimaan santri baru, melainkan sebagai pengantar sejarah dan kekhasan. Pembaca yang membutuhkan informasi praktis terkini sebaiknya menghubungi pihak pesantren atau yayasan secara langsung, agar memperoleh keterangan yang paling mutakhir dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penutup: Warisan yang Dijaga dengan Mengajar

API Tegalrejo telah berjalan lebih dari delapan dekade sejak 15 September 1944. Dalam rentang waktu itu, Indonesia merdeka, berganti pemerintahan, dan berubah secara sosial, ekonomi, dan teknologi. Pesantren yang lahir sebelum kemerdekaan itu tetap berdiri, bukan karena tidak pernah goyah, melainkan karena pernah goyah dan memilih untuk bangkit. Gedung yang dibakar pada 1948 dibangun kembali, kitab yang hangus digantikan dengan pengajian yang terus berjalan, dan santri yang mengungsi kembali berdatangan ketika situasi membaik.

Warisan KH Chudlori yang paling abadi bukanlah gedung, melainkan gagasan bahwa santri harus menjadi guru. Gagasan itu sederhana, tetapi konsekuensinya luas: setiap lulusan diharapkan tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan meneruskan ilmu kepada orang lain. Jika gagasan itu terus dipegang, maka API Tegalrejo tidak akan kehabisan penerus, karena setiap generasi santri melahirkan generasi pengajar berikutnya. Rantai guru dan murid itulah yang sesungguhnya menjadi bangunan pesantren yang paling kokoh.

Bagi Kabupaten Magelang, keberadaan API Tegalrejo adalah kebanggaan yang patut dirawat bersama. Kebanggaan itu tidak cukup diungkapkan dengan menyebut nama pesantren dalam daftar pesantren terkenal, tetapi perlu diwujudkan dengan dukungan nyata: menjaga lingkungan sekitar pesantren, menghormati kegiatan pendidikan di dalamnya, dan membuka ruang kerja sama antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat. Pesantren yang didukung lingkungannya akan lebih mudah menjaga kualitas pendidikannya, dan daerah yang menghargai pesantrennya akan memiliki sumber daya manusia yang berakhlak dan berilmu.

Pada akhirnya, profil ini mengajak pembaca untuk mengenal API Tegalrejo bukan sebagai nama besar yang jauh, melainkan sebagai lembaga nyata dengan sejarah yang dapat ditelusuri, pendiri yang dapat dikenal, dan cita-cita yang dapat dipahami. Dari delapan santri pertama hingga ribuan santri pada dekade-dekade berikutnya, dari pengajian tanpa nama hingga Asrama Perguruan Islam, dari pengungsian ke Desa Tejo hingga kembali membangun di Tegalrejo, kisah pesantren ini adalah kisah tentang keteguhan. Kisah itu layak diceritakan kembali, agar generasi yang belajar di gedung yang sudah mapan hari ini memahami harga yang pernah dibayar oleh generasi yang belajar di tengah keterbatasan dan perjuangan. Profil lengkap Ponpes Tegalrejo yang diterbitkan Langit7 dapat dibaca melalui profil Ponpes Tegalrejo di Langit7, dan catatan sejarah pesantren ini juga dirangkum dalam entri ensiklopedia tentang Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *