Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan: Mata yang Tak…
Peristiwa

Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan: Mata yang Tak Pernah Tidur

Dari lereng barat laut, Babadan mengukur gunung yang mengembang, merekam gempa, dan mengonfirmasi guguran dengan mata manusia. Inilah cara kerja pos pengamatan yang datanya menjadi laporan dan peringatan bagi warga Magelang.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 05.18 WIB
Pos Pengamatan Merapi Babadan
Ilustrasi pos pengamatan kecil dengan antena dan kamera di lereng berumput menghadap puncak Merapi yang berasap tipis, desa kecil di lembah di bawahnya. (Ilustrasi: KabarTidar)

Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan adalah salah satu pos pengamatan yang dipakai Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk memantau Gunung Merapi dari lereng barat laut. Pos ini termasuk dalam jaringan pos pengamatan yang dipakai untuk pengukuran deformasi gunung, bersama Pos Jrakah, Pos Selo, Pos Kaliurang, dan Pos Ngepos, yang masing-masing berada pada jarak sekitar lima hingga sepuluh kilometer dari puncak Merapi, menurut kajian ilmiah tentang jaringan pemantauan Merapi. Dari pos-pos inilah data tentang gunung dikumpulkan, diolah, dan diubah menjadi laporan serta rekomendasi yang dibaca masyarakat.

Artikel ini menyajikan profil Pos Pengamatan Merapi Babadan: kedudukannya dalam jaringan pemantauan BPPTKG, apa yang diamati dari sebuah pos pengamatan, bagaimana data dari pos berubah menjadi laporan dan peringatan, contoh laporan bertanggal yang menunjukkan cara kerja itu, serta apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan warga ketika membaca informasi dari pos. Artikel ini hanya memakai sumber resmi BPPTKG dan sumber yang mengutip BPPTKG secara langsung, seperti laporan Program Vulkanologi Global Smithsonian yang bersumber pada BPPTKG. Artikel ini tidak menyatakan status Merapi pada saat penulisan, karena status hanya boleh ditulis bila bertanggal dan bersumber, dan pembaca diarahkan untuk memeriksa kanal resmi BPPTKG untuk status terbaru.

Judul artikel ini, mata yang tak pernah tidur, adalah gambaran tentang fungsi pos pengamatan, bukan klaim bahwa ada petugas yang terjaga setiap detik di satu bangunan. Pemantauan gunung api modern memang tidak bergantung pada satu pasang mata manusia. Ia bergantung pada jaringan alat yang merekam tanpa henti, yaitu seismometer, alat ukur deformasi, kamera, dan alat pengukur gas, yang datanya dikirim dan diolah secara terus-menerus. Pos pengamatan adalah simpul dari jaringan itu: tempat alat dipasang, tempat pengamatan visual dilakukan, dan tempat petugas berada ketika kondisi gunung memerlukan pengamatan langsung yang lebih intensif.

Profil ini adalah turunan dari dua artikel KabarTidar sebelumnya: artikel tentang cara membaca laporan BPPTKG, yang menjelaskan cara membaca laporan tanpa panik, dan artikel tentang sistem peringatan dini Merapi, yang menjelaskan rantai dari alat pemantau hingga sirene desa. Jika kedua artikel itu menjelaskan sistem secara umum, artikel ini menjelaskan salah satu simpulnya secara khusus: Babadan, pos di lereng barat laut yang menghadap ke wilayah Kabupaten Magelang.

Pos Pengamatan Merapi Babadan dalam jaringan pemantauan BPPTKG

Gunung Merapi dipantau oleh BPPTKG, balai di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. BPPTKG berkedudukan di Yogyakarta dan khusus menangani Merapi, salah satu gunung api paling aktif dan paling berbahaya di Indonesia, yang lerengnya dihuni padat. Karena Merapi tidak bisa dipantau dari satu tempat saja, BPPTKG memakai jaringan pos pengamatan yang tersebar di sekeliling gunung, masing-masing menghadap ke arah lereng yang berbeda.

Babadan adalah salah satu dari lima pos yang dipakai untuk pengukuran deformasi dengan metode Electronic Distance Measurement (EDM), menurut kajian tentang jaringan pemantauan Merapi. Kelima pos itu adalah Jrakah, Babadan, Selo, Kaliurang, dan Ngepos, yang berada pada jarak sekitar lima hingga sepuluh kilometer dari puncak. Pembagian lima pos itu penting: gunung yang mengembang atau mengempis tidak berubah bentuknya secara merata ke semua arah, sehingga pengukuran dari satu arah saja tidak cukup. Dengan mengukur dari lima arah, petugas bisa mengetahui bagian mana dari tubuh gunung yang berubah dan seberapa cepat perubahannya.

Secara geografis, Babadan berada di sisi barat laut Merapi, di wilayah Kabupaten Magelang. Direktori tempat mencatat alamat Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan di Krinjing, Jawa Tengah, dan mencatat koordinatnya di sekitar 7,5259 derajat Lintang Selatan dan 110,4105 derajat Bujur Timur. Angka koordinat itu, bila dibandingkan dengan posisi puncak Merapi di sekitar 7,54 derajat Lintang Selatan dan 110,446 derajat Bujur Timur, menempatkan Babadan di sebelah barat laut puncak, sesuai dengan perannya sebagai pos pengamatan lereng barat laut. Artikel ini menyebut alamat Krinjing dengan atribusi direktori, karena sumber resmi BPPTKG yang dirujuk dalam artikel ini menyebut nama Babadan sebagai pos pengamatan, tetapi tidak menguraikan alamat desanya secara rinci.

Pos-pos lain melengkapi Babadan dari arah yang berbeda. Ngepos, misalnya, menurut direktori tempat, berada di Srumbung, Kabupaten Magelang, di sisi barat daya gunung. Kaliurang berada di sisi selatan, di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan dikenal luas sebagai kawasan wisata lereng Merapi. Selo berada di sisi utara, di wilayah Boyolali, dan Jrakah berada di sisi barat. Dengan demikian, jaringan pos mengelilingi gunung, dan setiap pos menjadi mata untuk satu sisi lereng. Ketika guguran terjadi di satu sisi, pos yang menghadap sisi itu biasanya yang pertama mencatatnya secara visual dan instrumental.

Perlu dipahami bahwa pos pengamatan bukan satu-satunya alat pemantau. Di sekeliling Merapi juga terpasang stasiun seismik, stasiun GPS, tiltmeter, kamera pengawas, dan alat pengukur gas. Pos pengamatan adalah tempat petugas dan sebagian alat itu berada, sekaligus tempat pengamatan visual dilakukan. Data dari semua alat itu dikirim ke pusat pengolahan BPPTKG, tempat petugas menganalisisnya dan menyusun laporan. Karena itu, ketika laporan BPPTKG menyebut angka kegempaan atau deformasi, angka itu adalah hasil gabungan dari jaringan, bukan hasil dari satu pos saja. Babadan berkontribusi pada hasil itu, terutama untuk pengukuran dari arah barat laut, tetapi laporan itu sendiri adalah produk jaringan.

Sejarah pemantauan Merapi juga menjelaskan mengapa pos-pos seperti Babadan ada. Merapi telah lama dipantau secara ilmiah, dan pemantauan itu berkembang dari pengamatan visual sederhana menjadi jaringan instrumen modern. Pada masa-masa krisis, seperti erupsi besar 2010, jaringan itu diuji secara nyata: aktivitas seismik meningkat sejak pertengahan September 2010, letusan berulang membentuk kolom erupsi dan awan panas yang menuruni lereng yang padat penduduknya, dan ratusan ribu orang dievakuasi. Menurut laporan yang mengutip BPPTKG dan BNPB, lebih dari 350.000 orang dievakuasi selama erupsi 2010, dan erupsi itu disebut sebagai yang terbesar sejak 1872. Pengalaman itulah yang membuat jaringan pemantauan, termasuk pos-pos seperti Babadan, terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Apa yang diamati dari sebuah pos pengamatan

Pengamatan gunung api dapat dibagi menjadi beberapa jenis, dan pos pengamatan seperti Babadan terlibat dalam sebagian besar jenis itu, baik secara langsung maupun sebagai simpul jaringan. Jenis pertama adalah pengamatan visual. Petugas mengamati puncak dan lereng dengan mata dan kamera: apakah ada asap atau hembusan dari kawah, seberapa tinggi hembusan itu, ke arah mana angin membawanya, apakah ada guguran material yang terlihat, dan apakah bentuk kubah lava di puncak berubah. Pengamatan visual terdengar sederhana, tetapi justru menjadi dasar dari banyak laporan: laporan BPPTKG hampir selalu membuka dengan gambaran visual sebelum masuk ke angka-angka instrumen.

Jenis kedua adalah kegempaan, yaitu rekaman getaran dari dalam gunung. Seismometer merekam berbagai jenis gempa vulkanik: gempa guguran yang berkaitan dengan runtuhnya material, gempa vulkanik yang berkaitan dengan pergerakan magma, gempa tektonik, dan tremor yang berkaitan dengan pergerakan fluida. Jumlah dan jenis gempa dari hari ke hari memberi gambaran tentang apa yang terjadi di dalam gunung. Ketika jumlah gempa meningkat tajam, petugas membaca itu sebagai tanda bahwa tekanan di dalam gunung sedang berubah. Ketika jumlah gempa menurun setelah periode tinggi, petugas membaca itu sebagai tanda bahwa tekanan mungkin sedang mereda, tetapi tetap membandingkannya dengan data lain sebelum menarik kesimpulan.

Jenis ketiga adalah deformasi, yaitu perubahan bentuk tubuh gunung. Gunung yang mendapat tambahan magma dari bawah akan mengembang, meskipun pengembangannya hanya beberapa sentimeter. Alat EDM mengukur jarak antara pos pengamatan dan reflektor di lereng tinggi secara berkala, dan perubahan jarak itu menunjukkan apakah lereng sedang mengembang atau mengempis. GPS dan tiltmeter melengkapi EDM dengan mengukur pergeseran dan kemiringan tanah. Di Babadan, peran dalam pengukuran deformasi inilah yang paling jelas terdokumentasi: Babadan adalah salah satu dari lima pos EDM yang mengukur perubahan jarak dari arahnya masing-masing.

Jenis keempat adalah gas vulkanik. Gas yang keluar dari kawah, terutama sulfur dioksida, diukur kandungannya untuk mengetahui apakah magma sedang naik mendekati permukaan. Pengukuran gas biasanya dilakukan dengan alat khusus dan pengambilan sampel, bukan semata-mata dari pos pengamatan, tetapi hasilnya digabungkan dengan data dari pos dalam laporan. Jenis kelima adalah pengamatan curah hujan dan potensi lahar, yang penting di Merapi karena hujan deras di puncak dapat memicu lahar hujan yang mengalir melalui sungai-sungai di lereng. Pos pengamatan dan stasiun hujan di lereng membantu petugas memperingatkan bahaya lahar ketika hujan deras terjadi di hulu.

Kelima jenis pengamatan itu tidak berdiri sendiri. Prinsip dasar pemantauan gunung api adalah membandingkan banyak data sekaligus: visual, seismik, deformasi, dan gas harus dibaca bersama. Jika hanya satu jenis data yang meningkat sementara yang lain stabil, petugas akan berhati-hati sebelum mengubah status. Jika semua jenis data meningkat bersamaan, petugas akan lebih yakin bahwa gunung sedang menuju fase yang lebih berbahaya. Prinsip ini penting bagi pembaca: satu angka yang naik, misalnya jumlah gempa dalam satu hari, tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa erupsi besar akan terjadi besok. Yang penting adalah pola dan kesesuaian antar data.

Di Babadan, pengamatan visual memiliki nilai khusus karena pos ini menghadap ke lereng barat laut. Lereng barat laut Merapi memiliki alur-alur sungai yang menjadi jalur guguran dan awan panas, antara lain Kali Lamat di sisi barat dan Kali Putih atau Kali Sat di sisi barat daya, yang disebut dalam laporan-laporan BPPTKG pada November 2020. Ketika guguran terjadi di alur-alur itu, pos yang menghadap ke arah tersebut memiliki peluang terbaik untuk mencatatnya secara visual dan mengonfirmasi data seismik. Konfirmasi visual seperti ini penting, karena data seismik saja tidak selalu bisa membedakan guguran kecil dan guguran besar dengan pasti.

Dari pos ke laporan: bagaimana data Babadan menjadi peringatan

Data dari pos pengamatan dan stasiun-stasiun di sekeliling Merapi dikirim ke pusat pengolahan BPPTKG, tempat petugas menganalisisnya setiap hari. Hasil analisis itu diterbitkan sebagai laporan aktivitas, yang biasanya memuat status atau level aktivitas gunung, rekomendasi jarak aman, gambaran visual, jumlah dan jenis gempa, data deformasi, dan volume kubah lava bila ada. Laporan harian memberi gambaran kondisi hari itu, sementara laporan mingguan memberi gambaran tren: apakah aktivitas meningkat, stabil, atau menurun dibandingkan minggu sebelumnya.

Cara membaca laporan yang benar, sebagaimana diuraikan dalam artikel KabarTidar tentang cara membaca laporan BPPTKG, adalah memulai dari status dan rekomendasi, bukan dari jumlah gempa. Status gunung api di Indonesia memiliki empat level: Level I Normal, Level II Waspada, Level III Siaga, dan Level IV Awas. Setiap level memiliki rekomendasi jarak aman yang berbeda, dan rekomendasi itu bisa berbeda antara satu sisi lereng dan sisi lainnya, tergantung pada arah ancaman. Karena itu, warga di lereng barat laut Merapi, wilayah yang dipantau Babadan, harus membaca rekomendasi yang berlaku untuk wilayahnya, bukan hanya membaca level secara umum.

Contoh laporan bertanggal menunjukkan cara kerja ini dengan jelas. Dalam laporan BPPTKG untuk periode 6 hingga 12 November 2020, yang dikutip Program Vulkanologi Global Smithsonian, hembusan putih yang kadang tebal dari Merapi naik hingga 250 meter di atas puncak. Volume kubah lava diperkirakan 200.000 meter kubik berdasarkan analisis citra drone yang diambil pada 3 November 2020. Guguran material meluncur hingga 3 kilometer menuruni lereng barat daya di alur Kali Putih atau Kali Sat pada 8 November 2020 pukul 14.50. Data EDM terus mendeteksi pemendekan jarak di sisi barat laut dengan laju deformasi 10 sentimeter per hari. Kegempaan lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya. Level aktivitas tetap pada 3, dan otoritas merekomendasikan tidak ada aktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak pada masa itu.

Pada periode berikutnya, 13 hingga 23 November 2020, laporan BPPTKG yang dikutip sumber yang sama mencatat hembusan putih yang kadang tebal hingga 200 meter di atas puncak. Guguran meluncur hingga 2 kilometer di alur Kali Lamat di sisi barat pada 14 November 2020 pukul 06.15. Perbandingan foto yang diambil pada 11 dan 19 November 2020 menunjukkan perubahan morfologi di kawasan puncak akibat runtuhnya sebagian kubah tahun 2018 dan runtuhan dari bibir kawah. Data EDM terus mengukur pemendekan jarak di sisi barat laut dengan laju 9 sentimeter per hari pada 13 hingga 19 November, dan 11 sentimeter per hari pada 23 November. Kegempaan lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya. Level aktivitas tetap pada 3 pada skala 1 hingga 4. Pada 13 November, BPPTKG mencatat guguran yang meluncur 1 hingga 3 kilometer menuruni lereng utara dan barat laut, yang menunjukkan ketidakstabilan puncak.

Dua contoh bertanggal itu penting karena beberapa alasan. Pertama, keduanya menunjukkan bahwa data deformasi dari sisi barat laut, arah yang dipantau Babadan, menjadi bagian dari laporan. Pemendekan jarak EDM di sisi barat laut yang diukur pada November 2020 adalah data yang hanya bisa diperoleh dari pos-pos yang menghadap sisi itu. Kedua, keduanya menunjukkan bahwa laporan selalu menyebut arah dan jarak guguran, bukan hanya jumlahnya. Arah dan jarak itulah yang menentukan rekomendasi: guguran ke arah barat laut akan memengaruhi rekomendasi untuk wilayah barat laut, sementara guguran ke arah tenggara akan memengaruhi wilayah tenggara. Ketiga, keduanya menunjukkan bahwa level tidak berubah setiap minggu meskipun angka-angkanya berubah. Level adalah keputusan yang mempertimbangkan tren, bukan reaksi terhadap satu angka.

Contoh dari periode lain menguatkan gambaran yang sama. Pada periode 30 April hingga 6 Mei 2021, laporan yang dikutip Program Vulkanologi Global mencatat kubah lava barat daya sebesar 1,1 juta meter kubik pada 2 Mei 2021 dengan laju pertumbuhan sekitar 17.000 meter kubik per hari, dan kubah tengah sebesar 1,7 juta meter kubik dengan laju sekitar 14.000 meter kubik per hari. Tercatat 12 aliran piroklastik dengan jarak luncur maksimal 2 kilometer ke arah barat daya, dan 74 guguran hingga 2 kilometer ke arah barat daya. Data EDM menunjukkan inflasi kecil dengan laju 0,6 sentimeter per hari. Level tetap pada 3. Pada periode 25 Juni hingga 1 Juli 2021, kubah barat daya tercatat 1,68 juta meter kubik pada 1 Juli 2021 dengan laju 11.800 meter kubik per hari, dengan 10 aliran piroklastik hingga 2 kilometer ke arah barat daya dan 29 aliran hingga 3 kilometer ke arah tenggara. Level tetap pada 3.

Perbandingan antar periode itu menunjukkan satu hal yang sering disalahpahami pembaca: volume kubah yang besar tidak otomatis berarti level naik, dan volume kubah yang mengecil tidak otomatis berarti gunung aman. Yang menentukan adalah kombinasi antara laju pertumbuhan kubah, kestabilan kubah, kegempaan, deformasi, dan gas. Kubah yang tumbuh cepat tetapi stabil bisa berbeda artinya dengan kubah yang tumbuh lambat tetapi sering runtuh. Karena itu, laporan BPPTKG selalu menyajikan banyak data sekaligus, dan pembaca diajak untuk membaca keseluruhannya, bukan hanya satu angka yang paling mencolok.

Dari laporan, rantai berlanjut ke peringatan dan tindakan. Ketika level atau rekomendasi berubah, BPPTKG menyampaikannya kepada pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat melalui kanal resmi, termasuk situs dan media sosial BPPTKG. Pemerintah daerah kemudian menyampaikan rekomendasi itu kepada warga di kawasan rawan bencana (KRB), dan pada kondisi tertentu, sirene dan sistem peringatan dini di desa dibunyikan untuk evakuasi. Rantai ini diuraikan lebih lengkap dalam artikel KabarTidar tentang sistem peringatan dini Merapi. Pos pengamatan seperti Babadan berada di ujung hulu rantai itu: tanpa data dari pos dan stasiun, tidak ada laporan, dan tanpa laporan, tidak ada peringatan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Apa yang tidak dilakukan pos pengamatan

Sebagaimana penting untuk menjelaskan apa yang dilakukan pos pengamatan, sama pentingnya untuk menjelaskan apa yang tidak dilakukannya, karena kesalahpahaman tentang pos sering menimbulkan harapan yang keliru.

Pertama, pos pengamatan bukan tempat wisata. Bangunan pos adalah fasilitas kerja petugas dan alat pemantau, bukan gardu pandang umum. Direktori tempat memang mencatat jam-jam tertentu untuk Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, tetapi jam-jam itu berasal dari direktori, bukan dari pengumuman resmi BPPTKG tentang jam kunjungan, dan artikel ini tidak menganjurkan pembaca untuk datang ke pos pada jam tersebut. Warga yang ingin melihat Merapi sebaiknya memilih lokasi wisata resmi yang memang diperuntukkan bagi pengunjung, seperti kawasan wisata lereng yang dikelola pemerintah daerah, dan tetap memperhatikan rekomendasi jarak aman yang berlaku.

Kedua, pos pengamatan bukan tempat untuk bertanya tentang status gunung secara lisan dan seketika. Status resmi hanya berlaku bila diumumkan melalui kanal resmi BPPTKG dan PVMBG. Petugas pos memang mengamati gunung, tetapi keputusan tentang level dan rekomendasi diambil berdasarkan analisis jaringan secara keseluruhan di pusat pengolahan, bukan berdasarkan kesan satu petugas di satu pos pada satu saat. Karena itu, kabar dari mulut ke mulut yang mengatasnamakan pos pengamatan tidak boleh dipercaya begitu saja, apalagi bila kabar itu tidak mencantumkan tanggal dan sumber.

Ketiga, pos pengamatan tidak bisa memprediksi erupsi dengan jam dan tanggal yang pasti. Pemantauan gunung api bisa menunjukkan peningkatan aktivitas dan menaikkan level sebagai bentuk kewaspadaan, tetapi tidak bisa memastikan bahwa erupsi akan terjadi pada hari tertentu. Ilmu vulkanologi bekerja dengan probabilitas dan tren, bukan dengan ramalan pasti. Ketika BPPTKG menaikkan level, artinya risiko meningkat dan warga di zona yang direkomendasikan harus bersiap atau mengungsi, bukan artinya erupsi pasti terjadi besok pagi. Sebaliknya, ketika level tidak berubah, artinya belum ada dasar untuk mengubah rekomendasi, bukan artinya gunung sudah pasti aman untuk semua kegiatan di semua tempat.

Keempat, pos pengamatan tidak menggantikan kewaspadaan warga sendiri. Warga lereng yang melihat guguran, mendengar gemuruh yang tidak biasa, atau melihat hujan abu di desanya sebaiknya segera melapor kepada aparat desa dan BPBD setempat, serta mengikuti arahan evakuasi bila ada, tanpa menunggu konfirmasi dari pos. Data instrumen memang cepat, tetapi laporan warga tentang apa yang terlihat dan terdengar di desanya adalah bagian penting dari sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Sistem yang baik menggabungkan keduanya: instrumen di pos dan mata warga di desa.

Babadan dan wilayah Kabupaten Magelang: mengapa sisi barat laut penting

Bagi pembaca KabarTidar, pertanyaan yang paling relevan adalah: mengapa pos di sisi barat laut ini penting bagi Kabupaten Magelang? Jawabannya terletak pada geografi. Lereng barat dan barat laut Merapi mengarah ke wilayah Kabupaten Magelang, termasuk Kecamatan Srumbung, Dukun, dan Sawangan. Sungai-sungai yang berhulu di lereng itu mengalir ke wilayah Magelang, dan jalur evakuasi serta kawasan rawan bencana di Magelang disusun dengan mempertimbangkan arah ancaman dari sisi tersebut. Karena itu, data dari Babadan memiliki kaitan langsung dengan keselamatan warga Magelang, meskipun pos itu sendiri hanyalah satu simpul dalam jaringan yang lebih besar.

Kaitan ini juga terlihat dalam artikel-artikel KabarTidar lainnya tentang Merapi. Artikel tentang kawasan rawan bencana Merapi di Magelang menjelaskan pembagian zona bahaya di wilayah kabupaten, dan artikel tentang jalur evakuasi Merapi di Magelang menjelaskan rute yang harus ditempuh warga ketika evakuasi diperintahkan. Kedua artikel itu berbicara tentang apa yang harus dilakukan warga di darat. Artikel tentang Babadan ini berbicara tentang dari mana informasi yang mendasari perintah itu berasal. Ketiganya saling melengkapi: tanpa pemantauan, tidak ada perintah yang bisa dipertanggungjawabkan, dan tanpa jalur evakuasi, perintah itu tidak bisa dilaksanakan.

Penting juga untuk menempatkan Babadan dalam konteks sejarah erupsi yang memengaruhi Magelang. Erupsi 2010, yang disebut sebagai yang terbesar sejak 1872, memengaruhi wilayah di sekeliling Merapi, termasuk Magelang, dan menjadi alasan mengapa sistem pemantauan dan evakuasi diperkuat setelahnya. Artikel KabarTidar tentang erupsi 2010 dari sisi Magelang menguraikan dampaknya bagi wilayah ini. Profil Babadan tidak mengulang uraian dampak itu, tetapi mengingatkan bahwa pos-pos pengamatan yang ada hari ini adalah bagian dari pelajaran yang dipetik dari erupsi tersebut: gunung yang dipantau dengan baik memberi waktu lebih banyak bagi warga untuk menyelamatkan diri.

Di sisi lain, keberadaan pos pengamatan tidak boleh membuat warga merasa bahwa teknologi sudah menyelesaikan semua masalah. Ada keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, cuaca buruk, seperti kabut tebal dan hujan deras, dapat menghalangi pengamatan visual dari pos, sehingga petugas harus lebih mengandalkan data instrumen. Kedua, alat bisa mengalami gangguan, dan data dari satu pos bisa terputus untuk sementara waktu. Ketiga, jaringan yang baik di satu sisi gunung tidak menjamin gambaran yang sama baiknya di sisi lain, karena setiap sisi memiliki kondisi medan yang berbeda. Karena itu, BPPTKG memakai banyak alat dan banyak pos, agar gangguan di satu titik tidak melumpuhkan seluruh sistem.

Keterbatasan lain adalah soal komunikasi. Laporan yang akurat tidak ada gunanya bila tidak sampai kepada warga yang membutuhkannya, atau bila sampai tetapi tidak dipahami. Karena itu, BPPTKG dan pemerintah daerah tidak hanya menerbitkan laporan, tetapi juga melakukan sosialisasi, gladi evakuasi, dan pemasangan rambu serta sirene di desa-desa rawan bencana. Warga yang pernah mengikuti gladi evakuasi akan lebih cepat bereaksi ketika sirene berbunyi, dibandingkan warga yang baru pertama kali mendengarnya. Dalam pengertian ini, pos pengamatan hanyalah awal dari rantai yang panjang, dan ujungnya adalah warga yang tahu apa yang harus dilakukan.

Bagaimana warga sebaiknya bersikap terhadap informasi dari pos dan laporan

Bagi warga lereng Merapi dan pembaca pada umumnya, ada beberapa sikap praktis yang bisa dipegang ketika membaca informasi yang berasal dari pos pengamatan dan laporan BPPTKG.

Pertama, selalu periksa tanggal dan sumber. Informasi gunung api yang tidak bertanggal tidak bisa dinilai: kondisi gunung berubah dari minggu ke minggu, sehingga laporan bulan lalu tidak bisa dipakai untuk menilai kondisi hari ini. Informasi yang tidak bersumber juga tidak bisa dinilai: kabar yang hanya menyebut pos pengamatan tanpa menyebut laporan resmi BPPTKG sebaiknya diperlakukan sebagai kabar yang belum terverifikasi. Artikel ini sendiri mengikuti aturan itu: semua angka dalam artikel ini bertanggal dan bersumber pada laporan BPPTKG yang dikutip Program Vulkanologi Global Smithsonian, dan artikel ini tidak menyatakan status pada saat penulisan.

Kedua, mulailah dari status dan rekomendasi, lalu baca data pendukungnya. Jika status tidak berubah, tidak perlu panik karena satu angka meningkat, tetapi tetap perlu memperhatikan trennya. Jika status berubah, ikuti rekomendasi jarak aman yang menyertainya, dan periksa apakah rekomendasi itu berbeda untuk wilayah tempat tinggal pembaca. Rekomendasi untuk lereng barat laut bisa berbeda dengan rekomendasi untuk lereng tenggara, karena arah ancaman dan jalur guguran berbeda.

Ketiga, bedakan antara guguran, awan panas, dan lahar. Guguran adalah runtuhnya material dari kubah atau lereng, yang bisa terjadi tanpa erupsi besar dan bisa terlihat sebagai kepulan debu di lereng. Awan panas adalah aliran material panas yang meluncur cepat dan sangat berbahaya, yang biasanya berasal dari runtuhnya kubah atau kolom erupsi. Lahar adalah aliran material vulkanik yang bercampur air, yang biasanya terjadi ketika hujan deras mengguyur lereng yang tertutup material vulkanik. Ketiganya berbahaya, tetapi bahayanya berbeda dan penanganannya berbeda. Laporan BPPTKG membedakan ketiganya dengan jelas, dan pembaca sebaiknya tidak mencampuradukkan ketiganya dalam percakapan sehari-hari.

Keempat, jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Di masa krisis, kabar bohong tentang erupsi menyebar lebih cepat daripada laporan resmi, dan kabar bohong itu bisa menimbulkan kepanikan atau, sebaliknya, rasa aman yang palsu. Jika menerima kabar tentang Merapi melalui media sosial, periksa apakah kabar itu merujuk pada laporan resmi BPPTKG yang bertanggal, dan bila tidak, jangan diteruskan. Jika ragu, hubungi aparat desa atau BPBD setempat untuk memastikan.

Kelima, kenali jalur evakuasi dan titik kumpul di desa masing-masing sebelum krisis terjadi. Pengetahuan ini tidak bisa diperoleh dalam keadaan panik. Warga yang sudah tahu ke mana harus pergi, lewat jalan mana, dan apa yang harus dibawa akan lebih cepat dan lebih tenang ketika perintah evakuasi datang. Gladi evakuasi yang diadakan pemerintah desa dan BPBD adalah kesempatan untuk melatih pengetahuan itu, dan sebaiknya diikuti dengan sungguh-sungguh.

Penutup: mata yang tak pernah tidur, dan warga yang tidak boleh lengah

Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan adalah satu dari lima pos pengukuran deformasi BPPTKG di sekeliling Merapi, bersama Jrakah, Selo, Kaliurang, dan Ngepos, yang masing-masing berada sekitar lima hingga sepuluh kilometer dari puncak. Dari sisi barat laut, Babadan membantu BPPTKG mengukur perubahan bentuk gunung, mengamati guguran di alur-alur sisi barat dan barat laut, dan mengonfirmasi data instrumen dengan pengamatan visual. Data itu mengalir ke pusat pengolahan, menjadi laporan bertanggal, dan laporan itu menjadi dasar rekomendasi serta peringatan bagi warga, termasuk warga Kabupaten Magelang di lereng barat dan barat laut.

Profil ini tidak mengklaim bahwa Babadan bekerja sendirian, dan tidak mengklaim status Merapi pada saat penulisan. Kedua penegasan itu penting: yang pertama mencegah pembaca membesar-besarkan peran satu pos, dan yang kedua mencegah pembaca mengira kondisi gunung pada bulan tertentu berlaku selamanya. Gunung api berubah, laporan diperbarui, dan status bisa berubah. Yang tetap adalah sistemnya: jaringan pos, jaringan alat, laporan yang bertanggal, dan rekomendasi yang harus diikuti.

Bagi warga Magelang, pesan terakhir dari profil ini sederhana. Percayalah pada laporan resmi yang bertanggal dan bersumber, bukan pada kabar yang tidak jelas asal-usulnya. Mulailah membaca laporan dari status dan rekomendasi, bukan dari angka yang paling mencolok. Kenali jalur evakuasi desa masing-masing sebelum krisis datang. Dan ingatlah bahwa mata yang tak pernah tidur di pos pengamatan hanya berguna bila warga yang dijaganya juga tidak lengah: mendengarkan, memahami, dan bertindak ketika peringatan datang.

Untuk memahami lebih lanjut, pembaca dapat kembali ke artikel KabarTidar tentang cara membaca laporan BPPTKG dan sistem peringatan dini Merapi, serta memeriksa kanal resmi BPPTKG dan MAGMA Indonesia dari Badan Geologi untuk laporan terbaru. Kanal resmi itulah tempat status terbaru diumumkan, dan artikel ini dengan sengaja tidak menggantikannya.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *