Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Cara Membaca Laporan Aktivitas Merapi dari BPPTKG
Peristiwa

Cara Membaca Laporan Aktivitas Merapi dari BPPTKG

Jangan mulai dari jumlah gempa. Mulailah dari status dan rekomendasi, lalu bandingkan data minggu ini dengan minggu lalu. Itulah cara membaca laporan BPPTKG tanpa panik dan tanpa salah tafsir.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 04.19 WIB
"laporan BPPTKG Merapi" (paragraf pembuka + satu H2: "Membaca laporan BPPTKG Merapi: mulai dari status dan rekomendasi")
Ilustrasi tIDAK diterbitkan, TIDAK menyentuh server/VPS, TIDAK ada gambar dibuat. (Ilustrasi: KabarTidar)

Laporan aktivitas Gunung Merapi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sering dikutip oleh media, tetapi tidak selalu mudah dibaca oleh masyarakat umum. Laporan itu memuat istilah-istilah seperti guguran, awan panas guguran, kegempaan, deformasi, dan status level, yang masing-masing memiliki arti teknis dan cara baca yang berbeda. Artikel ini menjelaskan istilah-istilah itu satu per satu, dengan contoh-contoh yang bertanggal dan bersumber, sehingga pembaca dapat membaca laporan BPPTKG sendiri dan membedakan antara data, tafsir, dan rekomendasi.

Prinsip pertama dalam membaca laporan BPPTKG adalah membaca dari atas ke bawah dengan urutan yang benar: status dan rekomendasi terlebih dahulu, kemudian data yang mendukungnya. Status adalah kesimpulan resmi BPPTKG atas seluruh data, dan rekomendasi adalah apa yang harus dilakukan masyarakat berdasarkan kesimpulan itu. Data seperti jumlah guguran atau jumlah gempa adalah bahan mentah yang mendukung kesimpulan, bukan kesimpulan itu sendiri. Pembaca yang hanya membaca satu angka, misalnya jumlah gempa dalam sehari, tanpa membaca status dan rekomendasi, berisiko menarik kesimpulan yang keliru.

Prinsip kedua adalah memperhatikan periode pengamatan. Laporan BPPTKG terbit dalam dua bentuk utama: laporan harian, yang merangkum aktivitas dalam 24 jam, dan laporan mingguan, yang merangkum aktivitas selama sepekan dan biasanya memuat data morfologi kubah lava dari survei foto udara atau drone. Angka dalam laporan harian tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan angka dalam laporan mingguan, karena periode pengamatannya berbeda. Demikian pula, angka dari satu periode tidak dapat dipakai untuk menggambarkan kondisi pada periode lain, karena aktivitas Merapi berubah dari minggu ke minggu.

Prinsip ketiga adalah membedakan antara pengamatan visual dan pengamatan instrumen. Pengamatan visual adalah apa yang dilihat petugas dari pos pengamatan: tinggi asap, warna asap, arah angin, dan kejadian yang terlihat. Pengamatan instrumen adalah apa yang direkam oleh alat: seismometer yang merekam getaran, alat ukur jarak yang mencatat perubahan bentuk gunung, dan kamera yang merekam luncuran. Laporan BPPTKG menggabungkan keduanya, dan pembaca yang memahami perbedaan itu akan lebih mudah menilai seberapa kuat dasar setiap pernyataan dalam laporan.

Artikel ini bukan laporan aktivitas terbaru dan tidak mengklaim status Merapi pada hari ini. Semua contoh angka di bawah ini ditulis dengan tanggal dan sumbernya, dan sebagian besar diambil dari laporan BPPTKG yang dirangkum oleh Program Vulkanologi Global Smithsonian Institution, yang mengutip BPPTKG secara langsung. Contoh-contoh itu dipakai untuk mengajar cara membaca, bukan untuk menggambarkan kondisi terkini.

Membaca laporan BPPTKG Merapi: mulai dari status dan rekomendasi

Bagian terpenting dalam setiap laporan adalah tingkat aktivitas gunung api, yang di Indonesia dibagi menjadi empat level. Level I disebut Normal, yang berarti tidak ada perubahan visual maupun instrumen yang berarti. Level II disebut Waspada, yang berarti aktivitas mulai meningkat dan bahaya terutama mengancam kawasan di sekitar kawah. Level III disebut Siaga, yang berarti aktivitas semakin meningkat dan letusan yang lebih besar dapat menyusul. Level IV disebut Awas, yang berarti letusan sedang berlangsung atau diperkirakan terjadi dalam waktu dekat, dan masyarakat di zona bahaya harus mengungsi.

Level itu bukan sekadar label, melainkan pernyataan resmi yang disertai rekomendasi. Pada Level III, misalnya, rekomendasi yang lazim adalah agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di zona bahaya yang telah ditetapkan, mengantisipasi guguran lava dan awan panas, dan mengikuti arahan BPPTKG serta pemerintah daerah. Zona bahaya itu sendiri tidak sama untuk semua arah: ia dapat berbeda untuk setiap lembah sungai, karena setiap lembah memiliki jarak ancaman yang berbeda. Pembaca sebaiknya selalu membaca rekomendasi yang menyertai status pada laporan yang sama, bukan menghafal satu angka radius dari laporan lama.

Sebagai gambaran sejarah status, Merapi dinyatakan berada pada Level III (Siaga) sejak 5 November 2020, menurut pemberitaan yang mengutip BPPTKG pada Oktober 2026, dan status itu ditegaskan kembali oleh BPPTKG pada 12 dan 17 Oktober 2026 menurut pemberitaan yang sama. Informasi yang bertanggal itu menunjukkan satu hal penting: status dapat bertahan bertahun-tahun tanpa berubah, selama aktivitas gunung tetap berada pada kisaran yang sama. Status yang tidak berubah bukan berarti gunung diam, melainkan berarti penilaian atas seluruh data belum memenuhi syarat untuk naik atau turun level.

Perubahan status sendiri adalah keputusan resmi yang diumumkan oleh BPPTKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan hanya pengumuman resmi itulah yang berlaku. Bila sebuah aplikasi, pesan berantai, atau unggahan media sosial menampilkan status yang berbeda dengan pengumuman resmi terbaru, pembaca sebaiknya memeriksa kanal resmi BPPTKG terlebih dahulu sebelum menyebarkannya. Kesalahan tampilan pada aplikasi pernah terjadi pada gunung-gunung lain dan selalu diklarifikasi melalui kanal resmi, sehingga kebiasaan memeriksa silang adalah kebiasaan yang penting.

Pengamatan visual: asap, tinggi kolom, dan arah angin

Bagian visual laporan biasanya menyebutkan asap yang keluar dari kawah: warnanya, ketebalannya, dan tingginya di atas puncak. Asap putih yang tipis dan rendah umumnya berasal dari uap air dan gas yang keluar secara biasa dari kawah. Asap yang tebal, berwarna kelabu atau cokelat, dan tinggi dapat menunjukkan bahwa material abu ikut terangkat, misalnya karena runtuhan kubah atau letusan kecil. Tinggi asap diukur dari puncak, bukan dari permukaan laut, sehingga pembaca perlu memperhatikan keterangan itu agar tidak salah membayangkan skalanya.

Dalam laporan BPPTKG untuk periode 13 hingga 23 November 2020, misalnya, disebutkan bahwa hembusan putih yang kadang tebal dari Merapi naik hingga 200 meter di atas puncak. Pada periode 6 hingga 12 November 2020, hembusan serupa naik hingga 250 meter di atas puncak. Dua angka yang bertanggal itu menunjukkan bagaimana data visual dilaporkan: sebagai kisaran tinggi selama periode pengamatan, bukan sebagai satu angka yang tetap. Asap yang tinggi pada satu hari dan rendah pada hari berikutnya adalah hal yang biasa, dan yang lebih penting adalah polanya selama sepekan.

Arah angin juga selalu disebutkan, karena arah angin menentukan ke mana abu terbawa bila terjadi letusan atau runtuhan yang menghasilkan abu. Laporan yang menyebutkan angin bertiup ke barat, misalnya, memberi peringatan kepada permukiman di barat gunung untuk mengantisipasi hujan abu, sementara permukiman di arah berlawanan tidak perlu mengantisipasi hal yang sama pada hari itu. Pembaca yang tinggal di lereng sebaiknya memperhatikan arah angin dalam laporan harian, karena arah angin dapat berubah dari hari ke hari.

Pengamatan visual memiliki batas yang perlu dipahami. Pada saat puncak tertutup kabut atau hujan, petugas tidak dapat melihat kawah, dan laporan akan mencatat bahwa puncak tertutup kabut. Dalam keadaan seperti itu, data instrumen menjadi lebih penting, karena seismometer dan alat ukur deformasi tetap bekerja meskipun mata manusia tidak dapat melihat puncak. Pembaca yang menemukan keterangan puncak tertutup kabut sebaiknya tidak menyimpulkan bahwa gunung sedang tenang, melainkan beralih ke bagian kegempaan dan deformasi dalam laporan yang sama.

Guguran lava pijar: apa itu dan bagaimana membacanya

Guguran lava pijar adalah bongkahan lava pijar dan batu panas yang jatuh dari kubah lava atau dari bibir kawah dan meluncur menuruni lereng. Di Merapi, guguran lava pijar adalah kejadian yang paling sering dilaporkan, karena kubah lava barat daya terus tumbuh dan tepinya terus runtuh. Pada malam hari, guguran lava pijar tampak sebagai garis-garis cahaya yang bergerak menuruni lereng, dan karena itu sering menjadi pemandangan yang difoto oleh warga lereng. Akan tetapi, keindahan pemandangan itu tidak boleh mengaburkan maknanya: setiap guguran adalah tanda bahwa kubah sedang kehilangan material.

Dalam laporan, guguran lava pijar dilaporkan dengan tiga keterangan: jumlah kejadian, arah atau lembah yang dilalui, dan jarak luncur terjauh. Jumlah kejadian menunjukkan seberapa sering tepi kubah runtuh selama periode pengamatan. Arah menunjukkan lembah sungai mana yang dilalui, misalnya Kali Boyong, Kali Bebeng, Kali Krasak, atau Kali Sat, dan keterangan ini penting karena setiap lembah mengarah ke permukiman yang berbeda. Jarak luncur menunjukkan seberapa jauh material meluncur dari puncak, dan jarak ini diukur dalam meter atau kilometer.

Contoh yang bertanggal membantu memahami cara membacanya. Dalam laporan BPPTKG untuk periode 28 Juli hingga 3 Agustus 2023, kubah barat daya menghasilkan total 194 guguran lava, dengan 12 guguran meluncur hingga 1,6 kilometer menuruni bagian atas Kali Boyong dan 182 guguran meluncur hingga 2 kilometer menuruni bagian atas Kali Bebeng. Pembaca yang membaca contoh itu dengan benar akan memperhatikan tiga hal: jumlahnya besar, tetapi sebagian besar guguran hanya meluncur hingga 2 kilometer, dan lembah yang paling sering dilalui adalah Kali Bebeng. Ketiga hal itu bersama-sama memberi gambaran yang jauh lebih lengkap daripada hanya jumlahnya saja.

Contoh lain berasal dari laporan untuk periode 30 April hingga 6 Mei 2021, yang mencatat guguran pijar sebanyak 74 kali hingga 2 kilometer ke arah barat daya dan dua kali hingga 600 meter ke arah tenggara. Perbandingan antara kedua contoh itu menunjukkan bahwa jumlah guguran dapat berubah drastis dari satu periode ke periode lain, dan bahwa arah guguran pun dapat berubah, tergantung kubah mana yang sedang aktif dan tepi mana yang sedang runtuh. Karena itu, pembaca sebaiknya membandingkan laporan minggu ini dengan laporan minggu sebelumnya, bukan dengan laporan dari tahun yang berbeda.

Awan panas guguran: bahaya yang paling diwaspadai dari Merapi

Awan panas guguran, yang dalam istilah ilmiah disebut aliran piroklastik, adalah campuran gas panas, abu, dan bongkahan batu yang bergerak cepat menuruni lereng. Di Merapi, awan panas yang paling sering terjadi berasal dari runtuhan kubah lava, dan karena itu disebut awan panas tipe Merapi. Berbeda dengan guguran lava pijar yang berupa bongkahan-bongkahan yang jatuh dan menggelinding, awan panas adalah awan yang bergerak sebagai satu massa, mengikuti lembah sungai, dan dapat meluncur lebih jauh daripada guguran biasa. Suhu dan kecepatannya membuat awan panas menjadi bahaya yang paling mematikan dari Merapi.

Dalam laporan, awan panas guguran dilaporkan dengan cara yang mirip dengan guguran, tetapi dengan penekanan yang berbeda. Laporan menyebutkan jumlah kejadian, arah atau lembah yang dilalui, dan jarak luncur terjauh, dan kadang-kadang menyebutkan pula amplitudo maksimum dan durasi sinyal seismiknya. Amplitudo adalah besarnya getaran yang direkam oleh seismometer, dan durasi adalah lamanya sinyal itu berlangsung. Kedua keterangan itu membantu petugas membedakan sinyal awan panas dari sinyal guguran biasa, karena awan panas umumnya menghasilkan sinyal yang lebih besar dan lebih lama.

Contoh yang bertanggal menunjukkan cara membacanya. Dalam laporan untuk periode 25 Juni hingga 1 Juli 2021, sebanyak 10 aliran piroklastik meluncur paling jauh 2 kilometer ke arah barat daya dan 29 aliran piroklastik meluncur hingga 3 kilometer ke arah tenggara. Dalam laporan untuk periode 28 Juli hingga 3 Agustus 2023, hanya satu sinyal gempa yang menunjukkan aliran piroklastik yang tercatat oleh jaringan seismik, meskipun guguran lava mencapai 194 kali. Perbandingan itu penting: jumlah guguran yang besar tidak otomatis berarti jumlah awan panas yang besar pula, karena sebagian besar guguran berhenti sebagai guguran dan tidak berkembang menjadi awan panas.

Pembaca juga perlu memahami perbedaan antara awan panas guguran dan letusan eksplosif. Awan panas guguran terjadi karena kubah runtuh, dan materialnya berasal dari kubah yang sudah ada di puncak. Letusan eksplosif terjadi karena tekanan gas dari dalam gunung meledak dan melontarkan material baru dari dalam kawah. Keduanya dapat menghasilkan awan panas, tetapi penyebabnya berbeda, dan laporan biasanya membedakan keduanya dengan menyebutkan apakah awan panas itu berasal dari guguran kubah atau dari letusan. Pembedaan itu penting karena awan panas dari letusan eksplosif dapat disertai kolom abu yang tinggi dan hujan abu yang luas, sementara awan panas guguran umumnya lebih terikat pada lembah sungai.

Kegempaan: membaca gempa guguran, gempa vulkanik, dan tremor

Bagian kegempaan adalah bagian yang paling sering disalahpahami dalam laporan BPPTKG, karena ia memuat banyak jenis gempa yang namanya mirip tetapi artinya berbeda. Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap jenis gempa menceritakan proses yang berbeda di dalam atau di permukaan gunung, dan petugas menggolongkannya berdasarkan bentuk sinyal yang direkam oleh seismometer, bukan berdasarkan besarnya saja. Karena itu, pembaca sebaiknya memperhatikan jenis gempa, bukan hanya jumlah totalnya.

Gempa guguran adalah getaran yang dihasilkan oleh material yang jatuh dan menggelinding menuruni lereng. Sinyalnya berkaitan dengan guguran lava pijar dan awan panas yang terlihat secara visual, sehingga jumlah gempa guguran biasanya sejalan dengan jumlah guguran yang teramati. Bila laporan menyebutkan gempa guguran yang meningkat tajam, hal itu umumnya berarti bahwa tepi kubah semakin sering runtuh, dan pembaca sebaiknya memeriksa pula bagian guguran dan awan panas dalam laporan yang sama untuk melihat apakah peningkatan itu disertai jarak luncur yang memanjang.

Gempa vulkanik adalah getaran yang dihasilkan oleh pergerakan magma atau fluida di dalam gunung, atau oleh retakan batuan di sekitar dapur magma akibat tekanan magma. Gempa vulkanik dangkal berasal dari kedalaman yang relatif dekat dengan permukaan, sementara gempa vulkanik dalam berasal dari kedalaman yang lebih besar. Peningkatan gempa vulkanik dangkal sering dibaca sebagai tanda bahwa magma sedang bergerak mendekati permukaan, sementara gempa vulkanik dalam dapat menunjukkan pasokan magma dari kedalaman. Akan tetapi, tafsir itu tidak boleh dibuat oleh pembaca awam dari satu angka saja, karena petugas menggabungkan pola kedalaman, jumlah, dan perubahan dari waktu ke waktu sebelum menarik kesimpulan.

Gempa tektonik adalah getaran yang dihasilkan oleh pergerakan sesar di kerak bumi dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas magma. Dalam laporan gunung api, gempa tektonik biasanya dicatat secara terpisah, karena ia dapat tercatat oleh seismometer gunung meskipun sumbernya jauh dari gunung. Pembaca yang melihat jumlah gempa tektonik dalam laporan gunung api sebaiknya tidak menganggapnya sebagai tanda gunung akan meletus, karena gempa tektonik adalah bagian dari aktivitas seismik regional yang biasa terjadi di Jawa.

Tremor adalah getaran yang berlangsung menerus, bukan berupa satu kejutan yang jelas awal dan akhirnya. Tremor dapat menunjukkan bahwa fluida atau gas sedang bergerak terus-menerus di dalam gunung, dan karena itu tremor yang muncul atau menguat sering diperhatikan dengan saksama. Namun tremor juga dapat disebabkan oleh proses permukaan, seperti aliran lahar atau angin kencang yang mengguncang alat, sehingga petugas selalu memeriksa sumber tremor sebelum menafsirkannya. Dalam laporan, tremor biasanya disebutkan keberadaannya dan lamanya, bukan hanya jumlahnya, karena sifatnya yang menerus.

Satu hal yang perlu diingat tentang kegempaan adalah bahwa peningkatan jumlah gempa tidak selalu berarti letusan semakin dekat. Jumlah gempa dapat meningkat karena kubah runtuh lebih sering, karena hujan memicu getaran permukaan, atau karena alat yang lebih peka mencatat gempa-gempa kecil yang sebelumnya tidak tercatat. Sebaliknya, penurunan jumlah gempa juga tidak selalu berarti gunung semakin tenang, karena magma dapat bergerak tanpa menghasilkan banyak gempa yang tercatat. Karena itu, laporan selalu menyajikan kegempaan bersama dengan data visual, deformasi, dan morfologi kubah, dan kesimpulan hanya ditarik dari gabungan seluruh data itu.

Deformasi: membaca perubahan bentuk tubuh gunung

Deformasi adalah perubahan bentuk tubuh gunung akibat tekanan magma dari dalam atau keluarnya magma ke permukaan. Bila magma menumpuk di dalam gunung, tubuh gunung mengembang, dan titik-titik ukur di lereng bergeser menjauhi satu sama lain atau mendekati satu sama lain tergantung posisinya. Bila magma keluar, tubuh gunung dapat mengempis. Perubahan itu sangat kecil, sering hanya beberapa sentimeter per hari, dan hanya dapat diukur dengan alat yang peka, sehingga laporan deformasi selalu ditulis sebagai laju perubahan, misalnya sekian sentimeter per hari, bukan sebagai satu angka yang berdiri sendiri.

Alat yang dipakai untuk mengukur deformasi antara lain pengukuran jarak elektronik, yang mengukur jarak antara dua titik ukur dengan sinar laser atau gelombang, dan GPS, yang mencatat posisi titik ukur secara terus-menerus. Selain itu, ada pula tiltmeter, yang mencatat kemiringan tanah, dan citra satelit radar, yang dapat mengukur perubahan permukaan dari angkasa. Masing-masing alat memiliki kelebihan dan keterbatasannya, dan karena itu laporan biasanya menyebutkan alat mana yang dipakai, agar pembaca memahami dari mana angka itu berasal.

Contoh yang bertanggal menunjukkan cara membaca data deformasi. Dalam laporan BPPTKG untuk periode 13 hingga 23 November 2020, pengukuran jarak elektronik menunjukkan pemendekan jarak antar titik di barat laut dengan laju deformasi 9 sentimeter per hari pada 13 hingga 19 November, dan 11 sentimeter per hari pada 23 November. Pembaca yang membaca contoh itu dengan benar akan memperhatikan bahwa laju itu meningkat dari 9 menjadi 11 sentimeter per hari, dan peningkatan laju itulah yang lebih penting daripada angka tunggalnya. Dalam laporan untuk periode 30 April hingga 6 Mei 2021, pengukuran jarak elektronik menunjukkan pemendekan jarak antar titik di barat laut dengan laju 0,6 sentimeter per hari, yang ditafsirkan sebagai inflasi yang kecil. Perbandingan antara kedua contoh itu menunjukkan betapa berbedanya laju deformasi dari satu masa ke masa lain, dan mengapa angka deformasi harus selalu dibaca dengan tanggalnya.

Deformasi juga berkaitan dengan morfologi kubah. Bila kubah tumbuh, puncaknya berubah bentuk, dan perubahan itu dapat terlihat dari foto udara atau drone. Dalam laporan untuk periode 6 hingga 12 November 2020, misalnya, perbandingan foto pada 11 dan 19 November menunjukkan perubahan morfologi di kawasan puncak akibat runtuhnya sebagian kubah tahun 2018 dan runtuhan batu dari bagian bibir kawah. Catatan semacam itu menunjukkan bahwa deformasi bukan hanya soal tubuh gunung secara keseluruhan, melainkan juga soal kubah di puncaknya, dan keduanya saling melengkapi.

Morfologi kubah dan volume: angka yang paling sering dikutip media

Bagian morfologi dan volume kubah adalah bagian yang paling sering dikutip oleh media, karena angkanya mudah dipahami: kubah bertambah sekian meter kubik menjadi sekian juta meter kubik. Akan tetapi, angka itu juga paling mudah disalahpahami, karena pembaca sering menganggapnya sebagai kondisi terkini, padahal angka itu hanya berlaku untuk tanggal survei yang menyertainya. Survei kubah dilakukan secara berkala, bukan setiap hari, sehingga angka volume dalam laporan mingguan adalah hasil survei terakhir, bukan hasil pengukuran pada hari laporan itu terbit.

Contoh yang bertanggal menunjukkan cara membacanya. Dalam laporan untuk periode 6 hingga 12 November 2020, volume kubah lava diperkirakan sebesar 200.000 meter kubik berdasarkan analisis citra drone yang diambil pada 3 November. Dalam laporan untuk periode 30 April hingga 6 Mei 2021, kubah barat daya diperkirakan bervolume 1,1 juta meter kubik pada 2 Mei 2021, dengan laju pertumbuhan sekitar 17.000 meter kubik per hari, sementara kubah tengah bervolume 1,7 juta meter kubik pada tanggal yang sama, dengan laju pertumbuhan sekitar 14.000 meter kubik per hari. Dalam laporan untuk periode 25 Juni hingga 1 Juli 2021, kubah barat daya diperkirakan bervolume 1,68 juta meter kubik pada 1 Juli 2021, dengan laju pertumbuhan 11.800 meter kubik per hari. Rangkaian contoh itu menunjukkan pertumbuhan kubah dari ratusan ribu menjadi jutaan meter kubik dalam waktu setengah tahun, dan menunjukkan pula bahwa laju pertumbuhan berubah dari waktu ke waktu.

Pembaca yang membandingkan angka volume dari dua laporan yang berbeda sebaiknya memperhatikan tiga hal: tanggal survei, kubah yang mana, dan metode surveinya. Angka dari survei foto udara dan angka dari survei drone dapat berbeda sedikit karena metode dan sudut pengambilannya berbeda, dan angka kubah barat daya tidak dapat dibandingkan dengan angka kubah tengah. Bila sebuah pemberitaan hanya menulis kubah bertambah sekian meter kubik tanpa menyebutkan kubah yang mana dan periode pengamatannya, pembaca sebaiknya mencari laporan BPPTKG yang asli untuk melengkapi keterangan yang hilang itu.

Hujan, lahar, dan bahaya susulan dalam laporan

Bagian yang sering terlewat dalam laporan adalah bagian curah hujan dan potensi lahar. Merapi dikelilingi oleh sungai-sungai yang berhulu di puncaknya, dan material vulkanik yang menumpuk di lembah sungai dapat terbawa hujan menjadi lahar hujan. Karena itu, laporan sering menyebutkan curah hujan di kawasan puncak dan mengingatkan potensi lahar hujan di sungai-sungai tertentu, terutama bila hujan lebat terjadi di puncak. Peringatan lahar hujan tidak sama dengan peringatan awan panas: lahar hujan terjadi karena hujan, bukan karena kubah runtuh, dan dapat terjadi lama setelah letusan berakhir, selama material lepas masih tersedia.

Pembaca yang tinggal di sepanjang sungai yang berhulu di Merapi sebaiknya memperhatikan bagian ini dengan saksama, terutama pada musim hujan. Tanda-tanda lahar hujan di lapangan antara lain suara gemuruh dari arah hulu sungai, kenaikan permukaan air sungai yang keruh secara tiba-tiba, dan bau belerang yang menyengat dari air sungai. Bila tanda-tanda itu muncul, warga sebaiknya segera menjauhi bantaran sungai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu pengumuman resmi, karena lahar hujan dapat tiba dengan cepat setelah hujan lebat di puncak.

Contoh membaca satu laporan mingguan dari awal hingga akhir

Untuk merangkum seluruh penjelasan di atas, berikut adalah contoh cara membaca satu laporan mingguan dengan menggunakan laporan BPPTKG untuk periode 28 Juli hingga 3 Agustus 2023, sebagaimana dirangkum oleh Program Vulkanologi Global Smithsonian. Pembaca sebaiknya mengikuti urutan ini setiap kali membaca laporan yang baru: status dan rekomendasi terlebih dahulu, kemudian visual, guguran, awan panas, kegempaan, deformasi, dan morfologi kubah.

Langkah pertama adalah membaca status dan rekomendasi. Dalam laporan contoh itu, tingkat siaga tetap pada Level 3 dalam skala 1 hingga 4, dan masyarakat diperingatkan untuk menjauhi puncak sejauh 3 hingga 7 kilometer tergantung lokasinya. Informasi itu adalah kesimpulan laporan, dan segala data di bawahnya adalah bahan yang mendukung kesimpulan itu. Pembaca yang hanya membaca status dan rekomendasi sebenarnya sudah mendapatkan hal yang paling penting untuk keselamatan, meskipun belum membaca seluruh data.

Langkah kedua adalah membaca data guguran dan awan panas. Dalam laporan contoh itu, kubah barat daya menghasilkan total 194 guguran lava, dengan 12 guguran hingga 1,6 kilometer di Kali Boyong dan 182 guguran hingga 2 kilometer di Kali Bebeng, serta satu sinyal gempa yang menunjukkan aliran piroklastik. Pembaca yang membaca data itu dengan benar akan menyimpulkan bahwa aktivitas guguran pada minggu itu tinggi, tetapi sebagian besar guguran berhenti pada jarak 2 kilometer, dan hanya satu kejadian yang berkembang menjadi aliran piroklastik. Kesimpulan itu sejalan dengan status yang tetap pada Level 3, bukan naik ke Level 4.

Langkah ketiga adalah membaca kegempaan dan deformasi, serta morfologi kubah. Dalam laporan contoh itu, kegempaan disebutkan tetap pada tingkat yang tinggi, dan perubahan morfologi kubah barat daya dijelaskan sebagai akibat dari runtuhan material yang terus berlangsung. Pembaca yang membaca bagian itu akan memahami bahwa kegempaan yang tinggi pada minggu itu berkaitan dengan runtuhan kubah yang terus-menerus, bukan dengan tanda-tanda letusan eksplosif yang baru. Dengan demikian, seluruh bagian laporan saling menguatkan, dan tidak ada satu bagian pun yang berdiri sendiri.

Kesalahan umum dalam membaca laporan aktivitas Merapi

Kesalahan pertama adalah menganggap satu angka sebagai ramalan. Jumlah gempa yang tinggi dalam satu hari, atau satu awan panas yang meluncur jauh, tidak dengan sendirinya berarti letusan besar akan terjadi esok hari. Petugas menilai tren selama sepekan atau lebih, bukan satu kejadian tunggal, dan status hanya diubah bila tren itu memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Pembaca yang panik karena satu angka harian berisiko mengambil keputusan yang keliru, seperti mengungsi tanpa arahan atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Kesalahan kedua adalah membandingkan angka dari periode yang berbeda tanpa memperhatikan tanggalnya. Volume kubah dari survei bulan lalu tidak dapat dibandingkan dengan volume kubah dari survei hari ini tanpa memperhatikan metode dan tanggal surveinya, dan jumlah guguran dalam laporan harian tidak dapat dibandingkan dengan jumlah guguran dalam laporan mingguan. Perbandingan yang benar adalah perbandingan antara laporan-laporan yang sejenis dan berurutan, misalnya laporan mingguan minggu ini dengan laporan mingguan minggu lalu.

Kesalahan ketiga adalah mengabaikan rekomendasi dan hanya membaca data. Data tanpa rekomendasi adalah informasi yang belum lengkap, karena rekomendasi adalah terjemahan resmi dari data menjadi tindakan. Pembaca yang membaca bahwa awan panas meluncur 3 kilometer, tetapi tidak membaca bahwa zona bahaya ditetapkan 7 kilometer untuk lembah itu, dapat salah menilai apakah dirinya berada di kawasan yang aman atau berbahaya. Karena itu, rekomendasi sebaiknya dibaca terlebih dahulu, sebelum data.

Kesalahan keempat adalah mempercayai sumber yang tidak resmi. Pesan berantai, unggahan media sosial yang tidak mencantumkan sumber, dan video yang mengklaim letusan tanpa tanggal adalah sumber yang tidak dapat dipegang. Kanal resmi yang sebaiknya dipakai adalah situs dan media sosial BPPTKG, layanan MAGMA Indonesia dari PVMBG dan Badan Geologi, serta pengumuman pemerintah daerah setempat. Bila sebuah kabar tidak ditemukan di kanal resmi itu, pembaca sebaiknya menahan diri untuk tidak menyebarkannya.

Kesalahan kelima adalah menganggap status yang tidak berubah sebagai tanda bahwa gunung diam. Sebagaimana ditunjukkan oleh status Siaga Merapi yang bertahan sejak 5 November 2020, status dapat tetap sama selama bertahun-tahun sementara kubah terus tumbuh, guguran terus terjadi, dan zona bahaya tetap berlaku. Status yang tetap adalah pernyataan bahwa penilaian atas seluruh data belum berubah, bukan pernyataan bahwa gunung berhenti bekerja. Karena itu, warga lereng perlu tetap waspada selama status Siaga masih berlaku, meskipun tidak ada kabar letusan besar.

Daftar periksa praktis untuk pembaca laporan BPPTKG

Sebagai penutup, berikut adalah daftar periksa yang dapat dipakai setiap kali membaca laporan BPPTKG yang baru. Pertama, periksa tanggal dan periode pengamatan laporan itu, dan pastikan laporan itu adalah laporan terbaru, bukan laporan lama yang dibagikan ulang. Kedua, baca status dan rekomendasi, dan catat zona bahaya yang berlaku untuk lembah sungai di dekat tempat tinggal atau tempat aktivitas pembaca. Ketiga, baca jumlah guguran, jumlah dan jarak luncur awan panas, dan bandingkan dengan laporan minggu sebelumnya untuk melihat trennya.

Keempat, baca bagian kegempaan dengan memperhatikan jenis gempa, bukan hanya jumlah totalnya, dan periksa apakah peningkatan itu berkaitan dengan guguran atau dengan pergerakan magma. Kelima, baca bagian deformasi dan morfologi kubah, dan perhatikan tanggal survei serta kubah mana yang diukur. Keenam, periksa bagian curah hujan dan potensi lahar, terutama pada musim hujan dan bagi pembaca yang tinggal di sepanjang sungai yang berhulu di Merapi. Ketujuh, bila ada kabar yang meragukan, periksa silang ke kanal resmi BPPTKG dan MAGMA Indonesia sebelum menyebarkannya.

Dengan daftar periksa itu, laporan BPPTKG yang semula tampak penuh istilah teknis akan berubah menjadi bacaan yang dapat dipahami: status memberi tahu seberapa bahaya gunung itu, rekomendasi memberi tahu apa yang harus dilakukan, guguran dan awan panas memberi tahu apa yang sedang terjadi di puncak, kegempaan memberi tahu apa yang sedang terjadi di dalam gunung, deformasi memberi tahu apakah tubuh gunung sedang mengembang atau mengempis, dan morfologi kubah memberi tahu seberapa besar kubah yang menjadi sumber bahaya itu. Membaca laporan dengan cara itu adalah bentuk kesiapsiagaan yang paling sederhana dan paling dapat diandalkan bagi warga lereng Merapi. Untuk penjelasan tentang kubah lava yang menjadi sumber guguran dan awan panas itu, baca pula laporan sebelumnya mengenai guguran lava Gunung Merapi, dan untuk arsip laporan aktivitas Merapi yang dirangkum oleh lembaga vulkanologi internasional, lihat laporan aktivitas Merapi dari Program Vulkanologi Global Smithsonian.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *