Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Erupsi Merapi 2010 dari Sisi Magelang: Kronologi, Hujan…
Peristiwa

Erupsi Merapi 2010 dari Sisi Magelang: Kronologi, Hujan Abu, dan Lahar Kali Putih

Dari lereng barat, erupsi 2010 terasa sebagai abu yang menutupi Borobudur, barak pengungsian yang terus berpindah, dan sungai-sungai yang membawa lahar lama setelah puncak mereda.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 20.37 WIB
Erupsi Merapi 2010 dari Sisi Magelang: Kronologi, Hujan Abu, dan Lahar Kali Putih
Ilustrasi yang tenang: siluet Merapi berasap tipis di kejauhan dengan hamparan sawah hijau, jalan desa, dan Candi Borobudur kecil di latar depan dalam warna-warna lembut pagi hari, tanpa api, tanpa kepanikan, tanpa figur manusia yang dramatis. (Ilustrasi: KabarTidar)

Enam belas tahun sudah berlalu, tetapi bagi warga lereng barat Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, erupsi tahun 2010 tetap menjadi penanda waktu. Ada masa sebelum abu turun, ada masa ketika langit berubah kelabu dan jalan-jalan tertutup debu vulkanik, dan ada masa sesudahnya, ketika sungai-sungai membawa lumpur dan warga belajar hidup berdampingan dengan gunung yang lebih mereka waspadai. Artikel ini mengenang kembali rangkaian peristiwa itu dari sisi Magelang: bukan dari pusat letusan di lereng selatan yang paling parah terdampak, melainkan dari wilayah barat yang menerima hujan abu, menampung pengungsi, merawat Candi Borobudur yang tertutup debu, dan bertahun-tahun kemudian masih menghadapi lahar di Kali Putih.

Gunung Merapi berdiri di perbatasan empat wilayah, yakni Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten di Jawa Tengah. Posisi itu membuat setiap erupsi besar Merapi selalu menjadi urusan bersama. Namun arah angin, arah aliran awan panas, dan arah sungai-sungai yang berhulu di gunung itu membuat dampaknya tidak pernah merata. Pada 2010, awan panas yang paling mematikan meluncur ke selatan, ke arah Kali Gendol di Sleman. Sementara itu, sisi Magelang di barat dan barat laut merasakan erupsi itu dengan cara yang berbeda: abu yang jatuh berhari-hari, pengungsian yang meluas seiring pelebaran zona bahaya, dan lahar yang datang belakangan, ketika hujan mulai mengguyur endapan material vulkanik di lereng gunung.

Memahami erupsi 2010 dari sisi Magelang penting karena dua alasan. Pertama, sebagian besar warga Magelang yang hidup hari ini di lereng Merapi adalah saksi, pengungsi, relawan, atau anak dari keluarga yang pernah mengungsi pada masa itu. Kedua, pelajaran dari 2010 masih dipakai sampai sekarang: kapan harus mengungsi, ke mana harus pergi, mengapa radius bahaya bisa berubah dalam hitungan hari, dan mengapa bahaya tidak berhenti ketika letusan di puncak mereda. Sebab di Magelang, bahaya justru berlanjut dalam bentuk lahar, berbulan-bulan setelah kolom asap terakhir menghilang dari langit.

Merapi dan Magelang: Satu Gunung di Lereng Barat

Dari Kota Magelang, Merapi tampak sebagai kerucut yang tenang di ufuk timur. Dari kecamatan-kecamatan di lerengnya, gunung itu jauh lebih dekat dan jauh lebih nyata: ladang-ladang sayur dan tembakau, kebun salak, permukiman yang rapat, serta sungai-sungai yang mengalir ke barat menuju dataran Muntilan dan seterusnya ke arah Yogyakarta. Sungai-sungai inilah yang kelak menjadi jalur lahar. Dalam kajian kerentanan lahar di Kabupaten Magelang, tiga sungai disebut sebagai jalur utama yang mengalir melalui kawasan padat penduduk, yakni Sungai Pabelan yang mengalir melalui Muntilan dan jalan Yogyakarta-Semarang, Sungai Putih yang mengalir melalui Muntilan, serta Sungai Krasak yang mengalir melalui akses utama antara Magelang dan Yogyakarta.

Kawasan wisata Ketep Pass di Kecamatan Sawangan, yang terletak di antara Merapi dan Merbabu, pada masa kini dikenal sebagai titik pandang sekaligus sarana edukasi tentang aktivitas vulkanik Merapi. Keberadaan tempat seperti Ketep Pass menunjukkan satu hal yang sering luput dari ingatan tentang 2010: lereng barat Merapi bukan hanya wilayah terdampak, melainkan juga wilayah belajar. Warga dan pengunjung dapat melihat langsung dari mana ancaman itu datang, seberapa dekat permukiman dengan kawah, dan mengapa jarak saja tidak cukup untuk merasa aman tanpa memahami arah aliran dan arah angin.

Secara geologi, Merapi dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Dalam beberapa dekade sebelum 2010, erupsinya umumnya ditandai oleh pertumbuhan kubah lava yang kemudian runtuh dan menghasilkan awan panas yang mengalir menuruni lereng, pola yang dikenal sebagai tipe Merapi. Erupsi 2010 mematahkan pola itu. Letusannya jauh lebih eksplosif, dimulai dengan ledakan yang membentuk kawah puncak baru, dan mencapai puncaknya pada malam 4 hingga 5 November 2010 dengan erupsi magmatik yang diklasifikasikan berkekuatan VEI 4. Para peneliti menggambarkannya sebagai peristiwa yang sebanding dengan erupsi besar tahun 1872, erupsi terbesar Merapi sebelumnya dalam catatan modern.

Perbandingan dengan 1872 itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjelaskan mengapa para ahli pada 2010 begitu khawatir ketika data pemantauan menunjukkan laju pertumbuhan kubah lava yang jauh di atas normal dan pelepasan energi seismik yang meningkat pesat. Peringatan dini yang dikeluarkan atas dasar data tersebut, menurut kajian yang diterbitkan dalam jurnal vulkanologi internasional, menyelamatkan ribuan nyawa. Tanpa peringatan itu, jumlah korban dari erupsi sebesar 2010 bisa jauh lebih besar, mengingat permukiman di lereng Merapi termasuk yang terpadat di antara kawasan gunung api di dunia.

Erupsi Merapi 2010: Kronologi Dua Belas Hari yang Menentukan

Kata kunci fokus artikel ini, erupsi Merapi 2010, merujuk pada rangkaian letusan yang fase utamanya berlangsung selama dua belas hari, dari 26 Oktober hingga 7 November 2010, menurut kronologi yang disusun dari pemantauan radar satelit dan data lapangan. Namun kisahnya dimulai jauh sebelum tanggal itu. Sejak awal September 2010, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat pola peningkatan kegempaan di Merapi. Para pengamat di Pos Babadan, sekitar 7 kilometer di sebelah barat gunung, dan Pos Kaliurang, sekitar 8 kilometer di sebelah selatan, melaporkan mendengar guguran pada 12 September 2010. Dua hari kemudian, kolom asap putih teramati menjulang sekitar 800 meter di atas kawah.

Data deformasi menambah kekhawatiran itu. Laju pengembangan kubah lava, yang sejak Maret terpantau pada kisaran 0,1 hingga 0,3 milimeter per hari, melonjak menjadi 11 milimeter per hari pada 16 September 2010. Gempa-gempa terus terjadi dalam jumlah banyak, sehingga pada 20 September 2010 PVMBG menaikkan status Merapi ke level 2, Siaga, dalam skala satu sampai empat. Kenaikan status itu adalah pesan yang jelas bagi pemerintah daerah di keempat kabupaten terdampak, termasuk Magelang: gunung sedang bersiap, dan persiapan evakuasi tidak boleh ditunda.

Pada 23 hingga 24 Oktober 2010, lava mulai mengalir ke arah Kali Gendol, pertanda bahwa letusan sudah sangat dekat. Pada 25 Oktober 2010, pemerintah menaikkan status Merapi ke level tertinggi, level 4 atau Awas, dan memerintahkan warga dalam radius 10 kilometer dari kawah untuk mengungsi. Perintah itu, menurut laporan pada masa itu, menyangkut sedikitnya 19.000 orang, meskipun jumlah yang benar-benar sudah mengungsi pada saat itu belum sepenuhnya diketahui petugas. Sekitar 500 gempa vulkanik tercatat selama akhir pekan 23 hingga 24 Oktober, dan magma diperkirakan telah naik hingga sekitar satu kilometer di bawah permukaan kawah.

Letusan dimulai pada 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB. Ledakan eksplosif itu membentuk kawah puncak baru dan disertai kolom abu serta awan panas yang meluncur hingga sekitar 8 kilometer menuruni lereng. Menurut kajian jurnal geologi Indonesia, letusan 26 Oktober itu bukanlah awan panas biasa akibat runtuhnya kubah lava, melainkan ledakan terarah yang menyapu wilayah seluas sekitar 8 kilometer persegi dan menjangkau sekitar 5 kilometer dari kawah. Peristiwa inilah yang menewaskan puluhan orang pada hari pertama, sebagian besar di lereng selatan, termasuk penjaga spiritual Merapi yang dikenal luas, Mbah Maridjan, yang ditemukan meninggal di rumahnya di Kinahrejo, sekitar 4 kilometer dari kawah.

Setelah letusan awal itu, Merapi tidak tenang. Letusan-letusan eksplosif yang lebih kecil terjadi pada 29 Oktober hingga 1 November 2010. Laporan mingguan Global Volcanism Program mencatat, pada 30 Oktober terjadi dua awan panas, dan keesokan harinya empat awan panas. Pada 1 November, sekitar tujuh awan panas terjadi dalam beberapa jam dan meluncur ke arah selatan-tenggara hingga sejauh 4 kilometer, sementara kolom gas dan abu menjulang sekitar 1,5 kilometer di atas kawah dan bergerak ke timur dan utara. Pada 2 November, PVMBG mencatat 26 awan panas, dan pada paruh pertama 3 November saja tercatat 38 awan panas. Arah angin yang berubah-ubah membuat abu jatuh di berbagai wilayah, termasuk ke arah barat menuju Magelang.

Di tengah rangkaian itu, kubah lava baru tumbuh dengan sangat cepat. Antara 1 hingga 4 November 2010, kubah lava di puncak tumbuh hingga mencapai volume sekitar 5 juta meter kubik, dengan laju pertumbuhan di atas 25 meter kubik per detik pada puncaknya. Angka itu sekitar sepuluh kali lipat lebih besar daripada laju yang pada erupsi 2006 sudah dianggap mengkhawatirkan. Para ahli di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di Yogyakarta dan PVMBG membaca data itu sebagai peringatan akan letusan yang luar biasa besar, dan peringatan tersebut terbukti pada malam berikutnya.

Pada malam 4 hingga 5 November 2010, Merapi meletus dalam fase paroksismal, fase paling dahsyat dari rangkaian 2010. Kolom abu menjulang hingga sekitar 17 kilometer, kubah lava yang baru tumbuh itu hancur, kawah puncak membesar secara drastis, dan awan panas meluncur hingga sekitar 16 kilometer di lembah Kali Gendol, disertai semburan panas ke lereng selatan. Pada pagi 5 November, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperluas zona aman menjadi radius 20 kilometer dari kawah, dan warga dalam radius 15 kilometer diminta meninggalkan rumah mereka. Bandara di Yogyakarta ditutup kembali selama beberapa jam pada pagi itu. Para vulkanolog menyebut letusan 5 November sebagai yang terbesar sejak tahun 1870-an.

Setelah 5 November, intensitas erupsi berangsur menurun. Pada 6 November masih terjadi pertumbuhan kubah lava singkat selama sekitar 12 jam, yang kemudian terkubur oleh abu dari emisi tingkat rendah. Aktivitas terus melemah hingga kegempaan kembali mendekati tingkat latar sekitar 23 November 2010. Pada 3 Desember 2010, status resmi Merapi diturunkan dari level 4 ke level 3. Fase utama telah berakhir, tetapi bagi Magelang, babak kedua bencana baru saja dimulai, dan babak itu bernama lahar.

Hujan Abu di Magelang: Dari Muntilan hingga Borobudur

Bagi warga Magelang, kenangan paling merata dari erupsi 2010 bukanlah suara ledakan dari puncak, melainkan abu. Abu vulkanik jatuh di atap rumah, menutupi tanaman, mengotori jalan, dan membuat udara terasa perih. Laporan mingguan Smithsonian Institution mencatat bahwa pada awal November 2010, hujan abu lebat terjadi di lereng Merapi dan teramati di wilayah sekitarnya, termasuk Magelang yang terletak sekitar 26 kilometer di sebelah barat-barat laut kawah. Di Muntilan, yang berjarak sekitar 18 kilometer di sebelah barat-barat daya kawah, endapan tefra dan abu mencapai ketebalan sekitar 4 sentimeter.

Angka-angka itu membantu membayangkan skala gangguan yang dirasakan warga. Abu setebal beberapa sentimeter mungkin terdengar sepele, tetapi ketika menutupi lahan pertanian yang luas, menyumbat saluran air, membebani atap, dan terhirup selama berhari-hari, dampaknya menjadi nyata. Tanaman rusak, hasil panen menurun, dan warga yang harus beraktivitas di luar rumah membutuhkan masker. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah di berbagai wilayah terdampak difungsikan sebagai tempat pengungsian, dan laporan kemanusiaan pada 9 November 2010 mencatat bahwa hampir seluruh sekolah ditutup dan penerbangan sempat dihentikan sementara. Kehidupan sehari-hari, dalam arti harfiah, berhenti sejenak dan bergeser ke mode darurat.

Tidak ada tempat di Magelang yang kisah abunya lebih dikenal dunia selain Candi Borobudur. Candi Buddha abad ke-9 itu terletak sekitar 28 kilometer di sebelah barat-barat daya kawah Merapi. Pada erupsi 3 hingga 5 November 2010, lapisan abu setebal hingga 2,5 sentimeter jatuh menutupi patung-patung dan pelataran candi, dan para ahli mengkhawatirkan abu yang bersifat asam itu dapat merusak batu candi. Kompleks candi ditutup dari 5 hingga 9 November 2010 untuk membersihkan abu. Setelah dibuka, candi kembali ditutup sementara bagi wisatawan pada pagi 10 November 2010 karena hujan abu masih berlanjut.

Pembersihan Borobudur menjadi kisah tersendiri tentang gotong royong dan keahlian konservasi. Menurut laporan konservasi ICOMOS, patung-patung Buddha yang duduk di dalam stupa ditutup lembaran plastik untuk perlindungan, benda-benda yang dapat dipindahkan diamankan, dan relawan bersama staf pengelola bahu-membahu membersihkan abu dengan peralatan sederhana seperti sapu, mesin penyedot debu, dan pengki. Pekerjaan yang diperkirakan hampir selesai dalam waktu sekitar seminggu itu ternyata baru menjadi pembuka, sebab letusan 5 November jauh lebih besar daripada letusan-letusan sebelumnya dan kembali menutupi monumen dengan lapisan abu tebal, yang dalam laporan itu disebutkan mencapai 45 milimeter pada gelombang berikutnya.

Kajian akademik tentang upaya UNESCO dalam pelestarian Borobudur pascaerupsi 2010 mencatat dampak yang lebih luas: seluruh kawasan candi tertutup debu vulkanik setebal 2,5 hingga 5 sentimeter, muncul gangguan saluran pernapasan di kalangan warga sekitar, jumlah kunjungan wisatawan menurun, warga di sekitar candi kehilangan mata pencaharian, dan aliran listrik sempat terputus selama sekitar satu minggu. UNESCO kemudian memberikan bantuan teknis dan pelatihan pembersihan, termasuk dengan dukungan dari Jepang dan Italia, serta mengirim ratusan tenaga ahli untuk membantu pembersihan dan konservasi jangka pendek, menengah, dan panjang. Kisah Borobudur ini penting bagi Magelang karena menunjukkan bahwa dampak erupsi tidak hanya diukur dari korban jiwa dan rumah rusak, melainkan juga dari warisan budaya dan penghidupan yang menopang ribuan keluarga di sekitarnya.

Di luar Borobudur, hujan abu 2010 juga menjadi pelajaran tentang arah angin. Abu tidak jatuh merata mengelilingi gunung, melainkan mengikuti angin yang bertiup pada hari itu. Pada hari-hari tertentu abu bergerak ke barat dan barat daya, sehingga Magelang yang secara geografis tidak berada di jalur utama awan panas tetap merasakan dampaknya secara langsung. Itulah sebabnya warga Magelang yang tinggal jauh di luar radius awan panas tetap perlu memahami informasi arah abu, memakai masker, dan melindungi sumber air serta tanaman, bahkan ketika mereka tidak diperintahkan mengungsi.

Pengungsian: Ketika Radius Bahaya Terus Melebar

Salah satu ciri erupsi 2010 yang paling membekas dalam ingatan para pengungsi adalah radius bahaya yang tidak tetap. Pada 25 Oktober, warga dalam radius 10 kilometer diperintahkan mengungsi. Seiring membesarnya erupsi, radius itu diperluas hingga 20 kilometer pada 5 November. Setiap pelebaran berarti gelombang pengungsi baru: keluarga yang semula merasa cukup aman di tempat pengungsian pertama harus berpindah lagi ke tempat yang lebih jauh, dan barak-barak pengungsian yang semula disiapkan untuk satu kecamatan harus menampung warga dari kecamatan lain.

Laporan kemanusiaan pada 9 November 2010 mencatat sekitar 279.000 orang mengungsi pada saat itu, dengan total penduduk terdampak mencapai jutaan orang di wilayah sekitar Merapi. Pada akhir rangkaian, angka pengungsi yang tercatat jauh lebih besar. Menurut data BNPB yang dikutip USAID dan dirangkum dalam laporan Global Volcanism Program, erupsi 2010 menewaskan 386 orang, melukai 131 orang, dan pada awalnya memindahkan lebih dari 300.000 warga dari rumah mereka. Kajian tentang evakuasi Merapi 2010 menyebutkan angka yang mendekati 400.000 orang yang mengungsi dan ditampung di tempat penampungan sementara maupun permanen. Perbedaan angka antar sumber itu wajar dalam bencana sebesar ini, sebab jumlah pengungsi berubah setiap hari seiring pelebaran zona dan kembalinya sebagian warga, dan karena itu artikel ini menuliskannya sebagai atribusi, bukan sebagai angka tunggal yang seolah pasti.

Yang perlu dicatat dengan jujur adalah sebaran korban jiwa. Sebagian besar korban meninggal akibat awan panas di lereng selatan, di wilayah Sleman, bukan di Magelang. Namun hal itu tidak mengurangi bobot pengalaman Magelang. Di sisi barat, beban utamanya adalah pengungsian massal, gangguan kesehatan akibat abu, kerusakan pertanian, dan kemudian lahar. Keluarga-keluarga dari lereng barat yang mengungsi harus meninggalkan ternak, sawah, dan rumah mereka selama berminggu-minggu, tanpa kepastian kapan boleh pulang. Sebagian warga baru bisa kembali setelah status diturunkan dan zona diperkecil pada pertengahan November dan awal Desember, dan menurut BNPB, sekitar 11.000 orang masih belum bisa kembali ke rumah mereka setidaknya hingga Januari 2011, karena rumah mereka rusak atau wilayahnya masih dinilai berbahaya.

Pengalaman itu meninggalkan pelajaran yang masih relevan bagi warga Magelang hari ini. Pertama, perintah evakuasi harus ditaati meskipun letusan belum terlihat dari rumah. Pada 26 Oktober, sebagian korban di lereng selatan adalah warga yang belum sempat atau belum mau mengungsi karena merasa wilayah mereka selama ini aman dari awan panas. Kedua, tempat pengungsian harus direncanakan untuk gelombang kedua dan ketiga, bukan hanya gelombang pertama. Ketiga, kebutuhan di pengungsian melampaui makanan dan selimut: air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan pendampingan psikologis menjadi kebutuhan mendesak ketika pengungsian berlangsung berminggu-minggu, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan lansia, sebagaimana dicatat dalam laporan-laporan kemanusiaan pada masa itu.

Bagi pemerintah daerah, 2010 juga menjadi ujian koordinasi. Empat kabupaten dan satu provinsi tetangga harus bergerak dalam satu komando informasi yang sama, yakni rekomendasi PVMBG dan BPPTKG, sementara kebutuhan di lapangan berbeda-beda: Sleman menghadapi awan panas, Magelang menghadapi abu dan lahar, Klaten dan Boyolali menghadapi kombinasi keduanya. Jaringan relawan dan radio komunitas yang telah terbentuk sejak erupsi 2006, seperti Jalin Merapi, memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi yang akurat ke ratusan tempat pengungsian. Kehadiran jaringan semacam itu menjadi pengingat bahwa dalam bencana, informasi yang benar dan cepat sama pentingnya dengan bantuan logistik.

Lahar Kali Putih: Bahaya yang Datang Setelah Letusan Reda

Jika hujan abu adalah kenangan paling merata dari erupsi 2010 di Magelang, lahar adalah luka yang paling lama. Lahar, atau banjir lumpur vulkanik, terjadi ketika hujan deras mengguyur endapan material vulkanik yang menumpuk di lereng dan lembah, lalu menggerus dan membawanya menuruni sungai. Material itu tidak hilang ketika letusan berhenti. Ia menunggu hujan, dan musim hujan 2010/2011 datang tepat setelah erupsi, sehingga lahar terjadi berulang kali selama berbulan-bulan.

Skala lahar pascaerupsi 2010 luar biasa. Menurut kajian yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards, lebih dari 250 lahar terpicu selama dua musim hujan, dari Oktober 2010 hingga Maret 2012, dan sebagian besar terjadi di daerah aliran sungai Kali Putih. Dari seluruh lahar yang tercatat di 17 sungai di Merapi pada periode itu, Kali Putih sendiri menyumbang 62 lahar, atau sekitar 22 persen. Dampak geomorfologinya meliputi sedimentasi berlebihan di lembah, permukiman, dan lahan pertanian, penggerusan tebing sungai hingga sekitar 50 meter, serta perubahan arah aliran sungai secara tiba-tiba di wilayah hilir, sekitar 15 hingga 20 kilometer dari gunung.

Dampaknya terhadap permukiman dan infrastruktur di Magelang sangat nyata. Kajian yang sama mencatat sekitar 19 bendung penahan lahar atau sabo dam rusak dan 3 hancur total, lebih dari 307 rumah rusak, dan jalan nasional Yogyakarta-Semarang yang terpotong berulang kali, yakni 18 kali selama sekitar 25 hari. Bagi warga yang tinggal di sepanjang Kali Putih, jalan nasional itu bukan sekadar jalur antar kota, melainkan jalur ekonomi harian menuju Muntilan, Magelang, dan Yogyakarta. Setiap kali jalan terputus, distribusi barang, akses ke rumah sakit, dan aktivitas pasar ikut terganggu.

Dua peristiwa lahar pada awal 2011 menggambarkan betapa seriusnya ancaman ini. Lahar pada 8 Januari 2011 menyebabkan kerusakan besar pada rumah-rumah di beberapa permukiman, jembatan, sabo dam, dan tanaman pertanian di daerah aliran Kali Putih. Laporan kemanusiaan pada 11 Januari 2011 mencatat bahwa hujan memicu lahar pada 3 dan 9 Januari 2011 yang merusak rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur di sejumlah desa di Kabupaten Magelang, sekitar 26 kilometer di sebelah barat-barat laut Merapi, menewaskan satu orang dan melukai satu orang lainnya, serta memengaruhi sekitar 3.000 warga, dengan puluhan orang yang terjebak di rumah mereka dievakuasi oleh Palang Merah pada banjir 9 Januari. Peristiwa pada 23 Januari 2011 bahkan lebih besar: jalan utama Magelang-Yogyakarta terputus ketika ruas aspal sepanjang sekitar 60 meter terkoyak oleh lumpur, ratusan rumah di 12 desa di dekat sungai terendam, sekitar 5.000 orang mengungsi, dan tiga orang meninggal dunia menurut laporan pada masa itu.

Kajian Universitas Gadjah Mada tentang bahaya lahar pascaerupsi 2010 menambahkan gambaran yang lebih rinci tentang wilayah Magelang. Dari November 2010 hingga Januari 2011, beberapa banjir lahar melanda wilayah itu, bendung-bendung penahan rusak, dan dampak terparah terjadi di Kabupaten Magelang. Kawasan Jumoyo, yang terletak sekitar 15 kilometer di sebelah barat Merapi, terkubur oleh endapan lahar yang membentuk jalur sungai baru dan membelah kawasan itu. Sekitar 90 rumah rusak dan sekitar 5.000 orang menjadi pengungsi, sementara jalan utama yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang rusak berat. Penyebabnya, menurut kajian itu, adalah kombinasi endapan vulkanik yang sangat tebal di puncak dan lereng, kemiringan lereng yang curam, pembelokan jalur sungai, dan penyempitan alur sungai akibat sedimentasi.

Kajian valuasi ekonomi dari Universitas Udayana tentang banjir lahar di Kali Putih memberikan angka yang lebih luas lagi untuk wilayah Kabupaten Magelang. Luas luapan lahar di lokasi kajian mencapai 1,785 kilometer persegi, dengan luapan terluas di Desa Sirahan, Kecamatan Salam, seluas 0,813 kilometer persegi atau sekitar 45,5 persen dari total luapan, dan luapan tersempit di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar. Jumlah rumah yang terdampak lahar tercatat sebanyak 1.290 rumah, dengan rincian 814 rumah roboh atau hanyut, 200 rumah rusak sedang, 140 rumah rusak ringan, 71 rumah rusak berat, dan 65 rumah relatif tidak rusak. Permukiman yang paling terdampak adalah Desa Sirahan, dengan 860 rumah. Kerugian terbesar berkaitan dengan rumah permanen, yang diperkirakan mencapai sekitar 104 juta rupiah per rumah karena biaya konstruksinya lebih mahal.

Perlu dipahami bahwa angka-angka dari kajian-kajian tersebut tidak selalu dapat dijumlahkan begitu saja, sebab masing-masing kajian memakai wilayah kajian, periode, dan definisi kerusakan yang berbeda. Angka 307 rumah rusak dalam kajian Kali Putih merujuk pada daerah aliran sungai tersebut pada periode tertentu, sementara angka 1.290 rumah terdampak dalam kajian valuasi ekonomi mencakup zonasi luapan lahar yang lebih luas di Kabupaten Magelang. Yang konsisten dari semua kajian itu adalah kesimpulannya: lahar pascaerupsi 2010 di Magelang bukan peristiwa tunggal, melainkan rangkaian peristiwa yang berulang, merusak, dan memerlukan penanganan sungai jangka panjang, termasuk pelebaran dan normalisasi sungai serta pembangunan dan pemeliharaan sabo dam.

Pelajaran lahar ini masih berlaku sampai hari ini. Warga yang tinggal di sepanjang Kali Putih, Kali Pabelan, dan Kali Krasak perlu memahami bahwa hujan deras di puncak Merapi, meskipun gunung tampak tenang, dapat menjadi pemicu lahar apabila masih ada endapan material yang mudah tergerus. Karena itu, peringatan dini lahar, pemantauan curah hujan di hulu, dan kesiapan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari sungai merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesiapsiagaan Merapi, bukan sekadar tambahan setelah erupsi selesai.

Apa yang Berubah Setelah 2010

Erupsi 2010 mengubah cara Indonesia memantau dan mengelola risiko Merapi. Di sisi ilmu pengetahuan, 2010 menjadi bukti bahwa pemantauan radar satelit dapat memainkan peran setara dengan pemantauan seismik, deformasi, dan gas di lapangan dalam membimbing keputusan penyelamatan jiwa. Untuk pertama kalinya, interpretasi citra radar yang dikirimkan secara hampir real-time membantu para pengambil keputusan memahami seberapa cepat kubah lava tumbuh dan seberapa besar letusan yang sedang dipersiapkan gunung. Pengalaman itu memperkuat investasi pada pemantauan multiparameter yang kini menjadi standar di BPPTKG.

Di sisi tata kelola, 2010 menegaskan bahwa kawasan rawan bencana tidak boleh dipahami sebagai garis tetap di peta. Radius 10 kilometer pada 25 Oktober, 15 kilometer pada awal November, dan 20 kilometer pada 5 November menunjukkan bahwa zona bahaya adalah rekomendasi yang hidup, yang berubah mengikuti data. Bagi warga Magelang, maknanya sederhana: patuhi rekomendasi terbaru, bukan rekomendasi yang pertama kali didengar. Informasi resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah selalu lebih dapat diandalkan daripada kabar yang beredar dari mulut ke mulut, terutama pada hari-hari ketika letusan sedang memuncak dan kecemasan sedang tinggi-tingginya.

Di sisi sosial, 2010 meninggalkan jaringan relawan, radio komunitas, dan kelompok siaga bencana yang lebih kuat. Erupsi itu juga mempercepat pembahasan tentang hunian tetap bagi warga yang rumahnya berada di zona paling berbahaya dan tidak dapat kembali, serta tentang penataan kembali kawasan terdampak lahar. Pemulihan tidak berjalan dalam hitungan minggu. Ia berjalan dalam hitungan tahun, melalui rehabilitasi lahan pertanian, pembangunan kembali rumah dan jembatan, normalisasi sungai, dan pendampingan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga maupun mata pencaharian.

Di sisi pariwisata dan budaya, Borobudur yang selamat dari abu 2010 berkat pembersihan yang cepat dan teliti menjadi contoh pentingnya kesiapsiagaan untuk situs warisan dunia. Pengalaman itu memperkuat prosedur perlindungan darurat bagi candi, termasuk penutupan sementara ketika hujan abu mengancam dan pembersihan dengan metode yang tidak merusak batu. Bagi Magelang, Borobudur bukan hanya ikon wisata, melainkan juga pengingat bahwa bencana gunung api dapat mengancam warisan yang usianya sudah lebih dari seribu tahun, dan bahwa melindunginya adalah tanggung jawab bersama warga, pengelola, pemerintah, dan dunia internasional.

Bagi generasi yang tidak mengalami 2010 secara langsung, kisah ini perlu diceritakan tanpa sensasi dan tanpa menakut-nakuti. Merapi adalah gunung yang memberi kesuburan bagi tanah di lerengnya, air bagi sawah dan kebun, serta identitas bagi wilayah di sekelilingnya. Menghormati Merapi bukan berarti menjauhinya sepenuhnya, melainkan memahami karakternya: kapan ia boleh didekati, kapan harus dijauhi, dan ke mana harus pergi ketika ia menunjukkan tanda-tanda bahaya. Sikap itu, yang tumbuh dari pengalaman 2010, adalah warisan terpenting yang dapat diteruskan kepada anak-anak Magelang.

Mengenang 2010, Memantau Merapi Hari Ini

Enam belas tahun setelah 2010, Merapi tetap aktif. Kubah lava tumbuh dan runtuh, guguran terjadi secara berkala, dan BPPTKG terus mengeluarkan rekomendasi jarak aman yang diperbarui mengikuti data pemantauan. Bagi pembaca KabarTidar yang ingin mengikuti perkembangan terkini, laporan berkala tentang aktivitas Merapi, seperti aktivitas Merapi pada siang 25 Oktober 2026, dapat menjadi pengingat bahwa pemantauan adalah pekerjaan harian, bukan pekerjaan musiman. Perbandingan antara laporan harian semacam itu dan kisah 2010 menunjukkan satu hal: sebagian besar hari di Merapi adalah hari yang tenang, tetapi ketenangan itu tidak boleh membuat warga lengah.

Pengetahuan dasar tentang istilah-istilah Merapi juga membantu warga membaca informasi resmi dengan lebih tenang. Awan panas adalah aliran gas panas dan material vulkanik yang meluncur menuruni lereng dengan kecepatan tinggi dan suhu sangat tinggi, dan inilah bahaya utama yang mematikan pada 2010. Guguran adalah runtuhnya material dari kubah lava atau lereng yang dapat memicu awan panas skala kecil. Lahar adalah banjir lumpur vulkanik yang terjadi ketika hujan menggerus endapan material di sungai, dan inilah bahaya lanjutan yang paling dirasakan Magelang setelah 2010. Abu vulkanik adalah partikel halus hasil letusan yang dapat terbawa angin hingga puluhan kilometer dan mengganggu pernapasan, pertanian, dan transportasi. Memahami keempat istilah itu saja sudah cukup untuk membedakan berita yang menakut-nakuti dari informasi yang benar-benar perlu ditindaklanjuti.

Jika suatu hari status Merapi naik lagi, langkah-langkah dasar yang terbukti pada 2010 tetap sama. Pertama, ikuti rekomendasi resmi dan segera mengungsi apabila wilayah tempat tinggal masuk dalam radius yang ditetapkan. Kedua, siapkan dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan dasar dalam tas siaga, serta sepakati titik kumpul keluarga apabila anggota keluarga terpencar. Ketiga, lindungi diri dari abu dengan masker, kacamata, dan pakaian tertutup, dan lindungi sumber air serta tanaman sebisa mungkin. Keempat, jauhi sungai-sungai berhulu di Merapi ketika hujan deras turun, sebab lahar dapat datang tanpa letusan. Kelima, jangan kembali ke rumah sebelum ada pengumuman resmi bahwa wilayah tersebut aman, meskipun dari tempat pengungsian gunung tampak tenang.

Kisah erupsi Merapi 2010 dari sisi Magelang pada akhirnya adalah kisah tentang jarak dan arah. Jarak dari kawah tidak selalu menentukan siapa yang paling terdampak, sebab arah angin membawa abu ke barat, dan arah sungai membawa lahar ke permukiman yang jauh dari puncak. Arah itulah yang membuat Magelang, meskipun bukan pusat awan panas 2010, tetap menjadi wilayah yang menanggung beban panjang: abu di Borobudur, pengungsi di barak-barak, jalan yang terputus, dan sungai yang harus ditata ulang. Mengenang 2010 berarti mengingat peta itu dengan jernih, agar ketika Merapi berbicara lagi, Magelang sudah tahu ke mana harus mendengarkan dan ke mana harus melangkah.

Sebagai penutup, ada baiknya mengingat kembali angka-angka yang menjadi jangkar kisah ini. Erupsi utama berlangsung 26 Oktober hingga 7 November 2010, mencapai VEI 4, dengan kolom abu hingga sekitar 17 kilometer dan awan panas hingga sekitar 16 kilometer di Kali Gendol pada malam 4 hingga 5 November. BNPB mencatat 386 orang meninggal dunia dan 131 orang luka-luka, dengan lebih dari 300.000 orang mengungsi pada awal rangkaian. Di Magelang, abu mencapai sekitar 4 sentimeter di Muntilan dan hingga 2,5 sentimeter di Borobudur, yang ditutup pada 5 hingga 9 November 2010 dan kembali ditutup sementara pada 10 November. Setelah itu, lebih dari 250 lahar terjadi hingga Maret 2012, dengan Kali Putih sebagai daerah aliran sungai yang paling sering dilanda. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada keluarga, sawah, rumah, dan jalan yang harus dibangun kembali, dan ada pula pelajaran yang membuat Magelang lebih siap hari ini daripada sebelum 2010. Kronologi ilmiah lengkap rangkaian ini dapat dibaca dalam kajian kronologi erupsi Merapi 2010 dari USGS, yang menyusun fase-fase letusan berdasarkan pemantauan radar satelit dan data lapangan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *