Candi Ngawen di Muntilan: Lima Candi Buddha Abad ke-8 dengan Singa di Sudutnya
Di Desa Ngawen, Muntilan, lima candi Buddha abad ke-8 berderet menghadap timur, tetapi hanya satu yang berhasil dipugar. Singa-singa di sudut candi utamanya menjadi penanda yang tak dimiliki candi Jawa Tengah lainnya.

Di tengah permukiman Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, berdiri kompleks candi Buddha dari abad ke-8 yang jauh lebih sepi daripada tetangganya yang terkenal. Candi Ngawen Muntilan terdiri dari lima candi kecil yang berderet dari utara ke selatan dan menghadap ke timur, tetapi hingga kini hanya satu candi yang berhasil dipugar utuh. Ciri yang paling mudah dikenali adalah patung singa dalam posisi tegak di setiap sudut candi utama, hiasan yang jarang ditemukan di candi-candi Jawa Tengah lainnya.
Candi ini kerap disebut sebagai candi yang terlupakan. Padahal, dari gaya pahatan dan ukirannya, para ahli memperkirakan Candi Ngawen sedikit lebih tua daripada Candi Borobudur, dan lokasinya berada pada satu garis lurus dengan Borobudur, Pawon, dan Mendut. Artikel ini merangkum sejarah, susunan bangunan, relief, perdebatan nama, perjalanan pemugaran, serta panduan berkunjung ke Candi Ngawen, berdasarkan sumber-sumber yang tersedia.
Satu hal yang perlu ditegaskan di awal: tidak semua hal tentang Candi Ngawen sudah pasti. Tahun penemuan, tarif masuk, dan bahkan nama asli bangunan ini masih diperdebatkan atau dilaporkan berbeda-beda oleh sumber yang berbeda. Bagian-bagian yang belum pasti itu ditulis sebagai atribusi atau sebagai perbedaan laporan, bukan sebagai fakta yang sudah diputuskan.
Di mana letak Candi Ngawen Muntilan
Candi Ngawen terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Menurut Wikipedia, kompleks ini berada sekitar 6 kilometer di sebelah timur Candi Mendut dan sekitar 5 kilometer di selatan pusat kota Muntilan. Alamat yang tercantum pada panduan perjalanan daring adalah Jalan Candi Ngawen, Ngawen, Muntilan, dengan kode pos 56415.
Lokasinya tidak berada di kawasan wisata yang tertata seperti Borobudur. Kompleks candi seluas 3.556 meter persegi ini terhimpit di antara permukiman penduduk dan hamparan sawah. Pengunjung yang datang akan melewati jalan desa dan permukiman, bukan gerbang wisata besar. Suasana itulah yang membuat banyak panduan perjalanan menggambarkannya sebagai tempat yang tenang dan jauh dari keramaian.
Aksesnya relatif mudah dengan kendaraan pribadi. Dari arah Muntilan, candi dapat dicapai dengan mobil atau sepeda motor melalui jalan desa yang kondisinya baik. Angkutan umum menuju lokasi sangat terbatas, sehingga kendaraan pribadi atau sewaan menjadi pilihan yang paling praktis. Beberapa panduan perjalanan menyarankan pengunjung memakai GPS atau bertanya kepada warga setempat setelah tiba di kawasan Muntilan, karena rambu penunjuk jalan tidak selalu konsisten.
Jaraknya dari Borobudur sekitar 6,9 kilometer menurut salah satu panduan perjalanan, sehingga Candi Ngawen sering dikunjungi dalam satu rangkaian dengan Borobudur dan Mendut. Letaknya yang berada di antara permukiman juga membuat kunjungan ke sini terasa berbeda: pengunjung tidak hanya melihat bangunan kuno, tetapi juga kehidupan desa yang berjalan di sekelilingnya.
Lima candi berderet menghadap timur
Kompleks Candi Ngawen terdiri dari lima candi yang tersusun dalam satu baris dari utara ke selatan. Kelimanya menghadap ke timur dan berdiri di atas dasar berbentuk bujur sangkar. Penomoran candi mengikuti urutan dari utara ke selatan: candi nomor 1, 2, 3, 4, dan 5.
Dari lima candi itu, dua di antaranya berukuran lebih besar dan berfungsi sebagai candi utama, yaitu candi nomor 2 dan nomor 4. Tiga candi lainnya, nomor 1, 3, dan 5, berukuran lebih kecil dan berperan sebagai candi perwara atau candi pendamping. Susunannya berselang-seling dari utara ke selatan: candi pendamping, candi utama, candi pendamping, candi utama, candi pendamping, sehingga deretan itu tampak berirama bila dilihat dari depan.
Namun, hingga kini hanya candi utama utara, yaitu candi nomor 2, yang berhasil dipugar. Empat candi lainnya masih berupa reruntuhan. Inilah alasan mengapa pengunjung yang datang ke Candi Ngawen pada dasarnya hanya melihat satu bangunan yang berdiri utuh, dikelilingi oleh fondasi dan tumpukan batu dari empat candi lainnya.
Candi nomor 2 memiliki dasar berukuran 13 meter kali 12 meter dengan tinggi sekitar 7 meter. Ukurannya jauh lebih kecil daripada Candi Mendut maupun Borobudur, dan karena itu kompleks ini sering digambarkan sebagai kompleks candi kecil. Kecilnya ukuran itu pula yang membuat suasana di sini terasa akrab: pengunjung dapat mengelilingi bangunan utama dalam waktu singkat dan mengamati detail pahatannya dari jarak dekat.
Bangunan candi terbuat dari batu andesit dengan gaya arsitektur Jawa Tengah klasik. Tangga naik berada di sisi timur, sesuai dengan arah hadap candi. Di setiap sisi tangga dan di bagian atas gapura terdapat pahatan Kala-Makara, motif yang umum ditemukan pada candi-candi klasik Jawa. Di bagian dalam, terdapat bilik bujur sangkar yang memuat arca Buddha yang sedang bermeditasi.
Singa di sudut dan relief yang tersisa
Ciri paling terkenal dari Candi Ngawen adalah patung singa di sudut-sudut candi utama. Pada setiap sudut candi utama berdiri patung singa dalam posisi tegak atau rampant, yakni singa yang berdiri dengan kedua kaki depan terangkat. Hiasan seperti ini tergolong unik di antara candi-candi Jawa Tengah, dan menjadi penanda visual yang paling mudah diingat dari Candi Ngawen.
Menurut abstrak penelitian yang diterbitkan dalam jurnal MaPan pada 2020, terdapat empat patung singa di setiap sudut candi nomor 2 dan candi nomor 4. Penelitian itu juga mencatat fungsi yang tidak biasa dari patung-patung tersebut: patung singa sekaligus menjadi saluran air hujan, yang keluar melalui mulut patung. Dengan kata lain, singa-singa itu bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari sistem pengaliran air di bangunan candi.
Beberapa panduan perjalanan menggambarkannya sebagai singa bersayap, tetapi sumber ensiklopedia dan jurnal yang dirujuk artikel ini menggambarkannya sebagai singa dalam posisi tegak. Perbedaan penyebutan ini dicatat di sini agar pembaca tidak bingung bila menemukan kedua sebutan tersebut di sumber lain.
Selain singa, dinding-dinding candi dihiasi relief yang memperkaya kisahnya. Di antara relief yang disebut dalam berbagai sumber adalah Kinnara dan Kinnari, makhluk surgawi setengah manusia setengah burung, serta Kalpataru, pohon kehidupan yang dalam kepercayaan menjadi lambang kemakmuran abadi. Dinding dasar candi juga menampilkan pahatan, sementara dinding luar candi utama dipahat relung-relung yang dihiasi kepala kala dan adegan surgawi.
Relung-relung itu kini kosong. Menurut Wikipedia, relung tersebut kemungkinan dahulu memuat arca-arca Bodhisattva, tetapi arca-arca itu sudah tidak ada lagi. Di dalam bilik utama terdapat arca batu seorang Buddha yang sedang bermeditasi dengan sikap tangan Varamudra, yaitu sikap tangan yang melambangkan pemberian anugerah. Sayangnya, arca tersebut kini tanpa kepala.
Bagian atap candi utama dimahkotai pinnakel-pinnakel kecil berbentuk ratna, tetapi bagian atas atap masih hilang sehingga terdapat lubang yang menganga di atas bilik utama. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa bangunan yang berdiri sekarang adalah hasil pemugaran atas reruntuhan, bukan bangunan yang utuh sejak awal.
Candi peralihan: Hindu atau Buddha?
Meskipun digolongkan sebagai candi Buddha, Candi Ngawen menyimpan jejak Hindu yang membuat para ahli berdebat. Petunjuknya ada pada atap: pinnakel ratna lebih umum ditemukan pada candi-candi Hindu di Jawa. Temuan ini memunculkan dugaan bahwa candi ini pada awalnya dibangun sebagai candi Hindu, lalu diubah menjadi candi Buddha pada masa perluasan dan pemugaran berikutnya.
Dugaan itu sejalan dengan sebutan lain bagi Candi Ngawen, yaitu candi peralihan. Menurut salah satu sumber perjalanan yang merangkum catatan sejarah candi ini, Candi Ngawen dibangun pada masa peralihan dua wangsa, yakni masa Wangsa Syailendra yang beragama Buddha dan masa Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Karena dibangun pada masa peralihan itulah, bangunan ini disebut candi peralihan.
Dari segi bentuk, Candi Ngawen sekilas memang tampak seperti candi Hindu karena tubuhnya ramping dan menjulang runcing. Namun, bila diamati lebih dekat, candi ini memiliki stupa dan teras-teras yang menjadi ciri khas candi Buddha. Perpaduan inilah yang membuat Candi Ngawen menarik bagi para peneliti: ia tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kotak saja.
Dugaan lain yang dicatat Wikipedia adalah bahwa kelima candi dipersembahkan bagi lima Dhyani Buddha, para Buddha pelindung arah mata angin. Menurut catatan itu, beberapa arca yang terkait dengan persembahan tersebut sudah hilang dari Candi Ngawen. Dugaan ini disampaikan sebagai pendapat para ahli, bukan sebagai kepastian, karena kondisi candi yang sudah banyak kehilangan arca dan ornamennya.
Perbedaan Candi Ngawen dengan Candi Mendut menjadi jelas di sini. Mendut adalah satu candi utama yang besar dengan arca Buddha raksasa di dalamnya. Ngawen justru terdiri dari lima candi kecil yang berderet, dengan dua candi utama dan tiga candi pendamping, serta hiasan singa di sudut-sudutnya. Sementara itu, Candi Pendem di Sengi adalah candi yang sebagian besar tubuhnya masih terpendam di tengah sawah. Ngawen berbeda dari keduanya: satu candinya berdiri hasil pemugaran, sementara empat lainnya tinggal reruntuhan.
Nama Venuvana dan perdebatan prasasti Karangtengah
Nama asli bangunan suci di Ngawen tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui adalah asal-usul nama desanya: kata “Ngawen” diyakini berasal dari kata Jawa “awi” yang berarti bambu. Kaitan dengan bambu inilah yang menjadi dasar sebuah perdebatan akademik yang sudah berlangsung lama.
Perdebatan itu berpusat pada Prasasti Karangtengah yang bertanggal 824 Masehi. Prasasti tersebut menyebut bahwa seorang raja membangun bangunan suci bernama Venuvana, yang berarti “hutan bambu”. Arkeolog Belanda J. G. de Casparis menghubungkan bangunan yang disebut dalam prasasti itu dengan Candi Mendut. Namun, pendapat lain yang dikemukakan oleh Soekmono menyatakan bahwa prasasti tersebut kemungkinan justru merujuk pada Candi Ngawen, berdasarkan kaitan etimologis antara nama desa Ngawen dan Venuvana, karena keduanya sama-sama mengandung rujukan pada bambu.
Sampai kini, tidak ada kesepakatan final yang dapat dikutip sebagai kepastian. Artikel ini menyajikan kedua pendapat itu sebagai perdebatan para ahli, bukan sebagai kesimpulan. Bagi pengunjung, perdebatan ini justru menambah daya tarik: nama sebuah desa yang tampak biasa saja ternyata menyimpan petunjuk tentang bangunan suci yang disebut dalam prasasti dari abad ke-9.
Petunjuk lain tentang usia dan nasib candi ini datang dari tanahnya sendiri. Menurut Wikipedia, dasar asli candi terkubur sekitar dua meter di bawah permukaan tanah sekarang. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa candi pernah tertutup muntahan vulkanik Gunung Merapi selama lebih dari seribu tahun. Dugaan ini sejalan dengan catatan Van Erp pada 1911 yang menyebut candi-candi di Ngawen hancur akibat letusan Gunung Merapi, meskipun catatan itu sendiri masih perlu dibaca sebagai laporan pada zamannya, bukan sebagai hasil penelitian modern.
Dari pengamatan 1874 sampai penjarahan
Warga setempat sebenarnya sudah lama menyadari keberadaan reruntuhan candi ini sejak abad ke-19. Pengamatan resmi pertama dilakukan oleh arkeolog Belanda Holpermand pada 1874. Pada 1911, Van Erp menyebut Candi Ngawen dalam komentarnya, dengan keterangan bahwa candi-candi itu hancur akibat letusan Gunung Merapi. Pada 1925, arkeolog Belanda lainnya, P. J. Perquin, meneliti Ngawen dan berhasil memugar satu dari lima candi, yaitu candi utama utara atau candi nomor 2.
Kronologi ini perlu dicatat dengan hati-hati karena beberapa sumber populer memberikan tahun yang berbeda. Ada panduan perjalanan yang menyebut candi ini ditemukan pada 1920, dan ada sumber lain yang menyebut pemugaran pada 1911. Artikel ini mengikuti kronologi yang dirinci dalam Wikipedia, yang membedakan antara pengamatan pertama (1874), penyebutan oleh Van Erp (1911), dan pemugaran oleh Perquin (1925). Perbedaan tahun pada sumber-sumber populer itu dicatat dalam catatan riset agar tidak tercampur menjadi satu versi yang keliru.
Pemugaran yang dilakukan Perquin tidak mengembalikan seluruh kompleks. Satu candi utama berhasil didirikan kembali, sementara empat candi lainnya tetap menjadi reruntuhan. Salah satu sumber perjalanan mencatat bahwa pada pemugaran itu digunakan semen untuk merekatkan balok-balok batu, dan balok-balok asli yang sudah rusak diganti dengan batu baru yang polos tanpa relief. Catatan ini penting karena menjelaskan mengapa sebagian permukaan candi tampak polos: tidak semua yang terlihat sekarang adalah batu asli dari abad ke-8.
Nasib candi ini tidak berhenti pada pemugaran. Candi Ngawen mengalami penjarahan dan pencurian artefak. Pada 1970-an, dua kepala arca dicuri. Insiden penjarahan lainnya dilaporkan terjadi pada 1999. Hilangnya kepala arca Buddha yang bermeditasi di dalam bilik utama, yang kini tinggal tubuhnya tanpa kepala, menjadi saksi bisu dari rangkaian pencurian tersebut.
Kondisi ini pula yang menjelaskan mengapa relung-relung dinding kini kosong. Arca-arca yang dahulu mengisi relung itu, yang diduga merupakan arca Bodhisattva, sudah tidak ada lagi. Bagi pengunjung, kekosongan itu justru menjadi pelajaran: candi yang berdiri sekarang adalah gabungan antara batu asli, hasil pemugaran, dan kehilangan yang tidak dapat dikembalikan.
Satu garis lurus dengan Borobudur, Pawon, dan Mendut
Salah satu hal yang paling sering dikutip tentang Candi Ngawen adalah posisinya dalam satu garis lurus dengan tiga candi Buddha lainnya. Menurut pengamatan peta satelit yang dikutip Wikipedia, keempat candi, yaitu Borobudur, Pawon, Mendut, dan Ngawen, membentuk garis lurus dari barat ke timur yang sedikit miring ke arah timur laut, dengan ujung timurnya mengarah ke puncak Gunung Merapi.
Garis lurus ini sering dikaitkan dengan gagasan rute ziarah atau rute pemujaan yang menghubungkan keempat candi tersebut. Gagasan ini disampaikan sebagai penafsiran, bukan sebagai fakta yang terbukti oleh prasasti. Namun, gagasan itu cukup kuat untuk membuat banyak panduan perjalanan menyarankan kunjungan gabungan: Borobudur sebagai pusatnya, Pawon dan Mendut sebagai pemberhentian, dan Ngawen sebagai ujung timur yang paling sepi.
Kaitan keempat candi ini juga diperkuat oleh kesamaan zamannya. Keempatnya dibangun pada masa Wangsa Syailendra pada abad ke-8 hingga ke-9, dan dari gaya pahatannya, Candi Ngawen diperkirakan sedikit lebih tua daripada Borobudur. Dengan kata lain, Ngawen bukan sekadar candi kecil di pinggir, melainkan bagian dari satu lanskap suci yang dibangun pada masa yang sama.
Di masa kini, Candi Ngawen masih digunakan oleh umat Buddha untuk ritual Waisak, menurut salah satu sumber perjalanan. Penggunaan yang masih hidup ini membedakan Ngawen dari reruntuhan yang semata-mata menjadi objek wisata: di hari-hari tertentu, bangunan kuno ini kembali menjalankan fungsi awalnya sebagai tempat pemujaan.
Panduan berkunjung ke Candi Ngawen Muntilan
Bagi pembaca yang ingin datang, hal pertama yang perlu disiapkan adalah ekspektasi yang tepat. Candi Ngawen bukan destinasi wisata besar dengan fasilitas lengkap. Tidak ada gerbang megah, tidak ada deretan kios suvenir, dan tidak ada keramaian seperti di Borobudur. Yang ada adalah satu candi hasil pemugaran, fondasi empat candi lainnya, hamparan sawah, dan kehidupan desa di sekelilingnya.
Rute yang paling mudah adalah dari arah Muntilan dengan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor. Dari pusat kota Muntilan, perjalanan ke arah selatan menuju Desa Ngawen memakan waktu singkat, dan jalan desa yang dilalui kondisinya baik. Pengunjung yang datang dari arah Borobudur atau Mendut dapat melanjutkan perjalanan ke arah timur sejauh beberapa kilometer hingga tiba di kawasan Ngawen.
Soal jam buka dan tarif masuk, laporan dari berbagai sumber tidak seragam, sehingga artikel ini tidak menetapkan satu angka sebagai kepastian. Beberapa panduan perjalanan menyebut candi dibuka sekitar pukul 08.00 hingga 16.00 atau 17.00 WIB. Soal tarif, ada pengunjung yang melaporkan masuk tanpa karcis, sementara salah satu panduan perjalanan menyebut tarif Rp20.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak. Karena laporan yang berbeda-beda ini, pembaca disarankan mengonfirmasi langsung di lokasi atau kepada pengelola setempat sebelum berangkat, terutama bila datang dalam rombongan.
Aturan pemotretan juga dilaporkan berubah-ubah. Beberapa pengunjung menyebut perlunya izin, terutama untuk pemotretan komersial seperti foto pranikah, dan kantor pengurusan izin tidak selalu berada di lokasi candi. Pengunjung biasa yang memotret untuk dokumentasi pribadi umumnya tidak mengalami kendala, tetapi untuk keperluan komersial sebaiknya menanyakan aturan yang berlaku terlebih dahulu.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, ketika cahaya matahari masih lembut dan udara desa masih sejuk. Karena kompleksnya kecil, kunjungan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam, sehingga Candi Ngawen sangat cocok digabungkan dengan kunjungan ke Mendut dan Borobudur dalam satu hari. Urutan yang masuk akal adalah memulai dari Borobudur, singgah di Pawon dan Mendut, lalu menutup perjalanan di Ngawen yang sepi, sebagai penyeimbang dari keramaian di candi-candi besar.
Selama berkunjung, ada beberapa hal yang patut dijaga. Jangan memanjat atau menyentuh pahatan, jangan mengambil batu atau fragmen apa pun, dan hormati bila ada kegiatan keagamaan yang sedang berlangsung. Mengingat sejarah penjarahannya, setiap fragmen yang tersisa di sini adalah bagian dari warisan yang sudah banyak kehilangan.
Bila masih ada waktu, kunjungan ke Candi Ngawen dapat dilanjutkan ke situs lain yang masih berada di Kecamatan Muntilan, misalnya Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring, sehingga satu perjalanan mencakup candi Buddha dari abad ke-8 dan situs ziarah yang masih ramai dikunjungi hingga kini. Perpaduan keduanya memberi gambaran yang lebih lengkap tentang Muntilan: bukan hanya pintu menuju Borobudur, melainkan kecamatan yang menyimpan lapisan sejarahnya sendiri.
Candi Ngawen Muntilan mungkin tidak sebesar Borobudur, tidak semegah Mendut, dan tidak seterkenal keduanya. Namun, justru di situlah nilainya: lima candi kecil yang berderet, singa-singa di sudutnya, relief Kinnara-Kinnari dan Kalpataru, perdebatan tentang nama Venuvana, dan garis lurus yang menghubungkannya dengan tiga candi besar lainnya. Bagi siapa pun yang ingin memahami Magelang lebih dalam daripada sekadar Borobudur, Candi Ngawen adalah pemberhentian yang layak dimasukkan dalam daftar.
Sumber: Wikipedia, “Ngawen” (tautan); Sariningtias dkk. (2020), MaPan 8(2).
Baca juga: Candi Pendem di Sengi: Candi yang Terpendam di Tengah Sawah



1 Komentar