Candi Pendem di Sengi: Candi yang Terpendam di Tengah Sawah, Tetangga Candi Asu dan Lumbung
Di tengah sawah Desa Sengi, sebuah candi Hindu hanya menyisakan dasar dan kakinya, lebih rendah dari permukaan tanah di sekelilingnya. Namanya menjelaskan keadaannya, dan tetangganya menjelaskan masanya.

Candi Pendem adalah candi Hindu yang berdiri di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ia tidak berdiri sendirian. Di desa yang sama, dalam jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, terdapat Candi Asu dan Candi Lumbung, sehingga ketiganya sering disebut sebagai Candi-candi Sengi. Di antara ketiganya, Candi Pendem adalah yang paling mudah dikenali dari namanya: pendem, dalam bahasa Jawa, berarti terpendam. Candi ini memang berada lebih rendah daripada sawah di sekelilingnya, seolah-olah tanah telah menelan sebagian tubuhnya dan hanya menyisakan bagian bawahnya untuk dilihat.
Keadaan itu pula yang membuat Candi Pendem terasa berbeda dari candi-candi besar yang sudah dipugar rapi dan dilengkapi pagar, loket, serta papan penjelas yang lengkap. Di Sengi, pengunjung tidak disambut oleh bangunan yang menjulang. Pengunjung disambut oleh sawah, oleh jalan setapak di antara petak pertanian warga, dan oleh sebuah bangunan batu yang sebagian tubuhnya sudah hilang. Justru di situlah nilai kunjungannya: Candi Pendem mengajak orang untuk melihat sebuah candi bukan sebagai monumen yang sudah selesai, melainkan sebagai sisa pekerjaan masa lalu yang masih bisa dibaca dari kaki, badan, relung, dan sumurannya.
Artikel ini menempatkan Candi Pendem sebagai pusat perhatian, tetapi tidak melepaskannya dari tetangganya. Tanpa Candi Asu, sulit memahami skala Candi Pendem. Tanpa Candi Lumbung, sulit memahami betapa rapuhnya posisi candi-candi di lereng barat Gunung Merapi. Dan tanpa prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Sengi, sulit menempatkan ketiganya dalam satu masa, yaitu abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Semuanya dibahas di sini dengan batas yang jelas: mana yang terukur, mana yang diperkirakan, dan mana yang masih menjadi cerita masyarakat.
Candi Pendem: Nama yang Menjelaskan Keadaannya
Nama Candi Pendem bukan nama asli dari masa pembangunannya. Seperti Candi Asu, nama asli bangunan ini tidak diketahui dengan pasti. Nama yang dipakai sekarang adalah nama yang diberikan kemudian, berdasarkan keadaan yang terlihat di lapangan. Dalam bahasa Jawa, pendem berarti terpendam atau dipendam di dalam tanah. Penamaan itu masuk akal begitu orang tiba di lokasi dan melihat posisi candi terhadap sawah di sekitarnya.
Menurut penjelasan berbahasa Jawa tentang Candi Pendem, candi ini terletak di tengah sawah, kira-kira dua sampai tiga meter di bawah permukaan sawah. Penjelasan yang sama menyebut bahwa pada masa lalu candi ini pernah terpendam karena lahar Gunung Merapi, sehingga disebut Candi Pendem. Gambaran itu sejalan dengan laporan wisata yang lebih populer, yang menyebut Candi Pendem berada di dalam tanah sekitar tiga meter dari permukaan lahan pertanian milik warga di sekitarnya. Selisih antara dua sampai tiga meter dan sekitar tiga meter bukanlah pertentangan yang berarti. Keduanya menggambarkan hal yang sama: pengunjung tidak memandang candi dari permukaan tanah yang sejajar, melainkan menuruni cekungan tempat candi itu berada.
Posisi yang lebih rendah itu menimbulkan pertanyaan praktis yang wajar: apakah candi ini tergenang saat hujan? Menurut penjelasan berbahasa Jawa yang sama, di dasar candi telah dibuat saluran air kecil untuk membuang air, sehingga saat hujan candi tidak tergenang. Saluran kecil itu adalah detail yang penting. Ia menunjukkan bahwa persoalan Candi Pendem bukan hanya soal sejarah, tetapi juga soal perawatan sehari-hari di tengah lahan pertanian yang aktif. Air harus dialirkan, lumpur harus dikendalikan, dan batas antara situs dan sawah harus dijaga agar keduanya bisa berjalan berdampingan.
Bagi pengunjung, nama Pendem juga menjadi petunjuk tentang apa yang sebaiknya diharapkan. Jangan membayangkan atap candi yang utuh atau bilik yang masih bisa dimasuki dengan leluasa. Menurut pencatatan yang merangkum kajian Véronique Degroot dalam buku Candi Space and Landscape, yang tersisa dari Candi Pendem hanyalah bagian dasar dan kaki tubuh candi. Atapnya tidak tersusun, dan menurut laporan wisata yang dikutip dalam pencatatan lain, kemungkinan atap itu masih tertimbun atau bahkan sudah menghilang. Kalimat itu perlu dibaca apa adanya: kemungkinan, bukan kepastian. Tidak ada bukti dalam sumber-sumber yang dibaca untuk artikel ini yang memastikan di mana batu-batu atap itu berada sekarang.
Justru karena itu, cara terbaik memandang Candi Pendem adalah dengan membalik kebiasaan melihat candi. Biasanya orang mencari puncak bangunan. Di Pendem, yang harus dicari adalah jejak-jejak di bagian bawah: bentuk denah, tonjolan tangga, relung-relung di sisi tubuh candi, sumuran di tengah, serta pahatan-pahatan kecil yang masih menempel di batu. Bagian-bagian itulah yang masih bisa bercerita, meskipun bangunan utuhnya sudah tidak ada.
Lokasi Candi Pendem di Lereng Barat Merapi
Secara administratif, Candi Pendem terletak di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Secara geografis, pencatatan Degroot menempatkannya di lahan atas bagian tengah, di lereng barat Gunung Merapi, di sepanjang tepi selatan Sungai Pabelan. Ketinggiannya dicatat 675 meter di atas permukaan laut, dengan koordinat 07 derajat 31 menit 32,9 detik Lintang Selatan dan 110 derajat 21 menit 06,9 detik Bujur Timur, dengan ketepatan sekitar delapan meter. Angka-angka itu berguna bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk memahami konteksnya: ini adalah kawasan perbukitan lereng gunung api yang subur, dekat sungai, dan terbuka ke arah pemandangan Merapi dan Merbabu.
Pencatatan yang sama menyebut bahwa dari lokasi Candi Pendem, Candi Asu masih terlihat. Detail kecil itu penting karena ia menegaskan kembali kedekatan ketiga candi Sengi. Pengunjung yang berdiri di Pendem tidak sedang berada di situs yang terisolasi. Ia sedang berada di dalam satu lanskap percandian, di mana satu bangunan bisa dilihat dari bangunan lainnya, dan di mana sungai, sawah, serta lereng gunung menjadi bagian dari pengalaman yang sama.
Untuk mencapai Candi Pendem, menurut penjelasan berbahasa Jawa, pengunjung harus menyusuri sawah warga karena candi ini berada di tengah sawah. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia mengandung etika kunjungan yang jelas. Sawah di sekitar candi bukan latar foto semata. Ia adalah lahan kerja. Melewatinya berarti melewati ruang hidup dan ruang ekonomi warga Desa Sengi. Karena itu, berjalanlah pada jalur yang biasa dipakai, jangan menginjak tanaman, jangan memanjat batu candi, dan jangan meninggalkan sampah. Candi yang terpendam di tengah sawah hanya bisa bertahan bila pengunjungnya bersikap sebagai tamu, bukan sebagai pemilik.
Dari sisi lanskap, posisi Candi Pendem di tepi selatan Sungai Pabelan juga membantu menjelaskan mengapa kawasan Sengi dipilih sebagai tempat bangunan suci. Sungai adalah sumber air, jalur pergerakan, dan penanda wilayah. Dalam banyak kawasan percandian Jawa kuno, kedekatan dengan sungai bukanlah kebetulan. Namun artikel ini tidak mengklaim bahwa Sungai Pabelan memiliki fungsi ritual tertentu bagi Candi Pendem, karena sumber-sumber yang dibaca tidak menyatakannya secara khusus. Yang bisa dikatakan dengan aman adalah bahwa letak di dekat sungai, di lereng yang subur, dan di antara dua gunung besar, menjadikan Sengi sebagai tempat yang secara geografis masuk akal untuk permukiman dan kegiatan keagamaan pada masa lalu.
Denah dan Ukuran: Lebih Besar daripada Candi Asu
Bagian paling kuat dari Candi Pendem adalah ukurannya yang terukur. Menurut pencatatan Degroot, Candi Pendem adalah candi tunggal yang menghadap ke barat, dengan denah bujur sangkar bertingkat yang tonjolannya tidak terlalu dalam. Orientasi pastinya dicatat 249 derajat 37 menit, dengan rujukan pada kajian Siswoyo tahun 1996. Angka orientasi itu menunjukkan bahwa arah hadap barat di sini bukan sekadar arah mata angin secara kasar, melainkan hasil pengukuran.
Dasar candi berbentuk bujur sangkar berukuran 12,80 meter kali 12,80 meter, dengan tonjolan di sisi barat untuk tangga. Tubuh candi juga berbentuk bujur sangkar bertingkat, berukuran 7,15 meter kali 7,15 meter, dengan relung di sisi utara, timur, dan selatan. Bilik di tengahnya diperkirakan berukuran sekitar 3,20 meter persegi. Rangkaian angka ini memberi gambaran yang cukup jelas: ini bukan candi kecil yang asal-asalan. Dasarnya luas, tubuhnya kokoh, dan biliknya cukup besar untuk sebuah bangunan suci tunggal di lereng Merapi.
Perbandingan dengan Candi Asu membuat ukuran itu semakin terasa. Menurut penjelasan berbahasa Jawa tentang Candi Pendem, ukuran Candi Pendem agak besar, lebih besar daripada Candi Asu Sengi, dan memiliki pintu yang menghadap ke barat. Candi Asu sendiri, menurut catatan perjalanan yang merujuk pada buku Candi Indonesia Seri Jawa karya Edi Sedyawati dan kawan-kawan, berbentuk bujur sangkar dengan lebar sekitar 7,9 meter, dan kini hanya menyisakan bagian kaki dan tubuhnya saja karena atapnya telah runtuh. Jika angka-angka itu diletakkan berdampingan, perbedaan skalanya menjadi nyata: dasar Pendem yang 12,80 meter jauh lebih lebar daripada lebar Asu yang sekitar 7,9 meter. Pendem bukan sekadar tetangga Asu. Ia adalah bangunan yang lebih besar dalam satu kelompok yang sama.
Di tengah Candi Pendem terdapat sebuah sumur, atau sumuran, yang menurut penjelasan berbahasa Jawa lebih besar dan lebih dalam daripada sumur yang ada di Candi Asu Sengi. Artikel ini tidak memberikan angka kedalaman sumuran Pendem, karena sumber-sumber yang dibaca tidak memberikan angka itu secara khusus untuk Pendem. Sebagai pembanding, catatan perjalanan tentang Candi Asu menyebut sumuran di tengah Candi Asu memiliki kedalaman mencapai empat meter, bahkan lebih dalam daripada tinggi tubuh candinya sendiri yang hanya 3,35 meter. Pembanding itu bukan angka untuk Pendem, tetapi ia membantu pembaca membayangkan bahwa sumuran dalam kelompok candi Sengi bukanlah lubang dangkal. Ia adalah bagian struktural yang dalam dan sengaja dibuat.
Sumuran pada candi Hindu Jawa kuno umumnya berkaitan dengan bagian bawah bangunan suci, tempat sesaji atau benda-benda pendirian diletakkan. Namun artikel ini tidak mengklaim isi atau fungsi ritual pasti sumuran Pendem, karena sumber yang dibaca tidak merincinya untuk Pendem secara khusus. Untuk kelompok Asu, penjelasan berbahasa Jawa menyebut bahwa menurut arkeolog Soekmono, sumur-sumur di ketiga candi Sengi berkaitan dengan pemujaan kepada leluhur. Penjelasan itu dikutip sebagai atribusi, bukan sebagai kepastian mutlak tentang Pendem. Perbedaan antara mengutip pendapat ahli dan menyatakannya sebagai fakta adalah perbedaan yang dijaga dalam artikel ini.
Selain sumuran, Candi Pendem juga memiliki pahatan yang patut diperhatikan. Menurut penjelasan berbahasa Jawa, di sekeliling candi terdapat relief gana yang bisa menjadi salah satu penanda bahwa candi ini berlatar belakang agama Hindu. Gana adalah pasukan pengiring Dewa Siwa, dan kehadirannya dalam pahatan adalah petunjuk keagamaan yang kuat, meskipun bukan satu-satunya bukti. Pencatatan lain tentang Candi Pendem menyebut bahwa yang tersisa hanyalah sumuran candi, beberapa gana di dinding candi, serta beberapa antefiks berornamen yang indah. Jika diamati, makhluk gana yang ada di badan candi memiliki gaya dan bentuk yang berbeda satu sama lain. Detail itu mengingatkan bahwa pahatan candi bukanlah cetakan massal. Setiap sosok dipahat dengan variasi, dan variasi itu sendiri adalah informasi tentang tangan dan selera pemahatnya.
Dokumentasi visual berbahasa Jawa tentang Candi Pendem juga memberi keterangan gambar tentang tangga candi, makara di Candi Pendem yang belum selesai dibuat, hiasan pada tangga, antefiks, dan relief gana. Keterangan tentang makara yang belum selesai dibuat itu sejalan dengan gambaran umum kelompok candi Sengi sebagai kelompok candi yang tidak sepenuhnya selesai. Pada Candi Asu, dindingnya polos tanpa hiasan dan atapnya tidak ada, dan sejumlah sumber menyebut pembangunannya memang belum selesai. Pada Pendem, makara yang belum rampung menjadi petunjuk serupa: pekerjaan pahat tampaknya berhenti sebelum semua detail diselesaikan. Apakah penghentian itu disebabkan oleh letusan Merapi, oleh perubahan politik, atau oleh sebab lain, tidak bisa dipastikan hanya dari satu makara yang belum selesai. Yang bisa dikatakan adalah bahwa jejak pekerjaan yang belum selesai itu ada, dan ia konsisten dengan cerita tentang kelompok candi yang ditinggalkan sebelum rampung.
Dari sisi gaya hias, penjelasan berbahasa Jawa tentang Candi Pendem menyebut bahwa arsitektur Candi Pendem sama dengan arsitektur Candi Asu dan Candi Lumbung. Ketiganya memiliki motif-motif geometris seperti meander, pilin, dan tumpal. Motif-motif geometris itu disebut sebagai motif hias yang paling tua sejak zaman prasejarah. Kemudian, ketika kesenian klasik pada masa berkembangnya agama Hindu masuk ke Indonesia, hiasan geometris berkembang menjadi hiasan organis dengan ciri sulur-suluran, dedaunan, pepohonan, dan bunga-bunga. Hiasan dengan motif itu ada yang bersifat simbolis dan ada yang hanya menjadi pengisi bidang. Penjelasan panjang itu penting karena ia menempatkan candi-candi Sengi dalam sejarah seni yang lebih panjang daripada satu abad saja. Motif geometris bukan sekadar hiasan sederhana. Ia adalah lapisan tertua dari bahasa visual yang kemudian berkembang menjadi sulur dan bunga pada candi-candi yang lebih muda atau lebih lengkap.
Satu Desa, Tiga Candi: Pendem, Asu, dan Lumbung
Hubungan Candi Pendem dengan Candi Asu dan Candi Lumbung adalah inti dari artikel ini. Ketiganya sering disebut sebagai Candi-candi Sengi, meskipun secara administratif sejarahnya tidak sesederhana itu. Candi Asu dan Candi Pendem berada di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun. Candi Lumbung semula berada di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, di tepi Sungai Apu, anak Sungai Pabelan. Baru setelah pemindahan besar pada tahun 2023, Candi Lumbung berkumpul kembali di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, tidak jauh dari Candi Asu dan Candi Pendem. Karena itu, menyebut ketiganya sebagai satu kompleks adalah benar untuk kondisi sekarang dan untuk kedekatan geografisnya, tetapi perlu ditambahkan catatan tentang riwayat lokasi Lumbung agar tidak menyesatkan.
Jarak antara Candi Pendem dan Candi Asu juga perlu disampaikan dengan jujur, karena sumber-sumber yang dibaca tidak sepenuhnya sepakat. Pencatatan Degroot menyebut Candi Pendem terletak 190 meter di sebelah utara Candi Asu dan 400 meter di sebelah timur laut Candi Lumbung. Penjelasan berbahasa Jawa menyebut jarak Candi Pendem hanya sekitar 100 meter dari Candi Asu Sengi. Perbedaan itu bisa disebabkan oleh titik ukur yang berbeda, oleh jalur jalan kaki yang berbeda, atau oleh perubahan lokasi Candi Lumbung yang membuat jarak lama tidak lagi berlaku. Artikel ini memakai angka Degroot sebagai angka pengukuran yang paling rinci, sambil mencatat bahwa sumber lain menyebut jarak yang lebih pendek. Bagi pengunjung, pesan praktisnya sama: ketiganya berdekatan dan bisa dikunjungi dalam satu perjalanan, tanpa perlu menempuh perjalanan jauh antarsitus.
Kedekatan itu juga terlihat dari kesamaan arah hadap. Menurut penjelasan berbahasa Jawa tentang Candi Asu, ketiga candi Sengi berada di tepi Sungai Pabelan dan Sungai Tlingsing, dan ketiganya menghadap ke barat. Candi Pendem menghadap ke barat, Candi Asu menghadap ke barat, dan Candi Lumbung, menurut laporan pemindahannya, juga menghadap ke barat. Kesamaan arah hadap bukanlah bukti bahwa ketiganya dibangun dalam satu proyek yang sama pada hari yang sama, tetapi ia adalah petunjuk tentang kesamaan tradisi pembangunan dan orientasi ritual di kawasan itu.
Candi Asu Sengi adalah tetangga terdekat Candi Pendem dan juga candi yang namanya paling sering diceritakan. Nama Asu berasal dari arca Nandi di dalam bilik candi yang menyerupai anjing, dalam bahasa Jawa disebut asu. Informasi lain menyebutkan bahwa nama Asu berasal dari kata ngaso, yang berarti beristirahat. Kedua penjelasan itu hidup berdampingan dalam tradisi masyarakat, dan tidak ada satu pun yang bisa ditetapkan sebagai asal-usul tunggal tanpa keraguan. Yang lebih penting bagi pengunjung Pendem adalah memahami bahwa Asu dan Pendem adalah dua cara berbeda untuk memberi nama pada bangunan yang nama aslinya sudah hilang: Asu dinamai berdasarkan sosok arca yang terlihat, Pendem dinamai berdasarkan keadaan bangunan yang terpendam.
Perbandingan fisik keduanya juga menarik. Candi Asu kini hanya menyisakan kaki dan tubuh, tanpa atap, dengan dinding yang polos tanpa hiasan. Candi Pendem hanya menyisakan dasar dan kaki tubuh candi. Keduanya tidak utuh, tetapi ketidakutuhannya berbeda bentuk. Asu lebih dikenal karena dinding polosnya dan karena cerita pembangunannya yang belum selesai. Pendem lebih dikenal karena posisinya yang lebih rendah dari sawah dan karena sumurannya yang lebih besar dan lebih dalam. Jika Asu adalah candi yang belum selesai, Pendem adalah candi yang tertimbun. Dua keadaan yang berbeda itu bisa saja berasal dari sebab yang sama, yaitu gangguan besar di lereng Merapi, tetapi artikel ini tidak menyamakan keduanya tanpa bukti. Yang bisa dikatakan adalah bahwa keduanya menyimpan jejak gangguan itu dengan cara masing-masing.
Prasasti di Sekitar Sengi dan Kerangka Abad ke-9
Pertanyaan yang paling sering diajukan tentang candi-candi kecil seperti Candi Pendem adalah: kapan candi ini dibangun? Jawaban yang jujur untuk Pendem adalah: tidak ada prasasti yang dibaca untuk artikel ini yang secara langsung menyatakan tahun pendirian Candi Pendem. Yang ada adalah prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Sengi, yang memberi kerangka waktu untuk kawasan itu secara umum, bukan tanggal lahir untuk satu bangunan secara khusus. Perbedaan itu harus dijaga, karena mencampuradukkan keduanya adalah cara paling mudah untuk menciptakan kepastian palsu.
Prasasti yang paling dekat dengan Candi Pendem dalam pencatatan Degroot adalah prasasti Sri Manggala. Sekitar 250 meter di sebelah utara Candi Pendem ditemukan sebuah lingga bertulis, yang dikenal sebagai prasasti Sri Manggala dan bertahun 796 Saka, atau 874 Masehi. Rujukan yang dicatat adalah Sarkar tahun 1971 sampai 1972, nomor 32. Temuan itu penting karena ia menempatkan aktivitas keagamaan dan administrasi di sekitar Pendem pada pertengahan kedua abad ke-9. Namun lingga bertulis yang ditemukan di utara candi bukanlah akta pendirian Candi Pendem. Ia adalah bukti tentang wilayah dan kegiatan di sekitarnya, yang bisa dipakai untuk memperkirakan masa, bukan untuk menetapkan tahun pembangunan Pendem secara pasti.
Sumber-sumber lain tentang kelompok Sengi menyebut prasasti-prasasti yang namanya saling berkaitan tetapi tahunnya tidak selalu sama. Catatan perjalanan tentang Candi Asu dan Candi Lumbung menyebut Prasasti Kurambitan tahun 869 Masehi dan Prasasti Sri Manggala II tahun 876 Masehi. Keduanya, menurut catatan itu, mencatat tokoh bernama Mpu Apus yang menerima perintah raja untuk menetapkan wilayah Kurambitan dan Sri Manggala sebagai sima, yaitu tanah bebas pajak yang diperuntukkan bagi pembangunan tempat ibadah atau fasilitas umum. Laporan wisata lain menyebut tiga prasasti saat Candi Asu pertama kali ditemukan, yaitu Sri Manggala I tahun 874 Masehi, Sri Manggala II tahun 876 Masehi, dan Kurambitan.
Rangkaian angka itu terlihat membingungkan bila dibaca sebagai satu daftar yang harus cocok semua. Sebenarnya, kebingungan itu bisa dijelaskan: yang dibicarakan adalah beberapa prasasti yang berbeda, dengan angka tahun yang berbeda, dan dengan perkiraan pembangunan yang juga berbeda-beda menurut penulisnya. Ada yang menyebut 869, ada yang menyebut 874 dan 876, ada pula yang hanya menyebut kerangka abad ke-9 secara umum. Artikel ini tidak memilih satu angka dan membuang yang lain secara diam-diam. Artikel ini menyatakan kesimpulan yang paling aman dan paling didukung oleh keseluruhan sumber: kelompok candi Sengi, termasuk Candi Pendem sebagai tetangganya, diperkirakan berasal dari abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno, dan masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala sering disebut sebagai konteks politiknya. Perkiraan yang lebih spesifik daripada itu, misalnya menyebut Candi Pendem dibangun tepat pada tahun tertentu, tidak didukung oleh sumber yang dibaca dan karena itu tidak ditulis sebagai fakta dalam artikel ini.
Konteks Rakai Kayuwangi itu sendiri perlu disampaikan secara hati-hati. Catatan perjalanan yang merujuk pada buku Rahasia Nusantara karya Asisi Suhariyanto menyebut Rakai Pikatan bertakhta pada tahun 847 sampai 855 Masehi, sementara Rakai Kayuwangi memimpin pada tahun 855 sampai 885 Masehi. Jika kerangka itu dipakai, maka prasasti-prasasti Sengi dari tahun 869, 874, dan 876 memang jatuh di dalam masa Rakai Kayuwangi. Namun artikel ini tidak menjadikan kesesuaian tahun itu sebagai bukti bahwa Rakai Kayuwangi memerintahkan pembangunan Candi Pendem secara langsung. Kesesuaian tahun hanya menunjukkan bahwa kawasan Sengi aktif pada masa itu, dan bahwa penempatan sima serta pembangunan tempat ibadah adalah kegiatan yang masuk akal pada masa itu. Sisanya adalah perkiraan, dan perkiraan harus disebut sebagai perkiraan.
Yang bisa dikatakan dengan lebih kuat adalah latar keagamaannya. Candi Pendem adalah candi Hindu. Penanda-penandanya adalah relief gana sebagai pasukan Siwa, antefiks berornamen, serta kesamaan gaya dengan Candi Asu dan Candi Lumbung yang berlatar Hindu. Untuk Candi Asu, keberadaan arca Nandi sebagai kendaraan Dewa Siwa menunjukkan pemujaan terhadap Siwa sebagai dewa tertinggi pada masa itu. Untuk Candi Lumbung, laporan pemindahannya menyebut latar belakang agama Hindu dan kemungkinan pendharmaan bagi Bathara di Salingsingan. Untuk Pendem, artikel ini tidak mengklaim dewa tertentu sebagai fokus pemujaannya, karena sumber yang dibaca tidak menyatakan hal itu secara khusus untuk Pendem. Latar Hindu secara umum didukung, sedangkan detail pemujaan spesifik untuk Pendem tidak diklaim.
Merapi: Penjelas yang Paling Masuk Akal, Bukan Satu-satunya Cerita
Gunung Merapi adalah tokoh yang tidak terlihat tetapi selalu hadir dalam cerita candi-candi Sengi. Ia adalah gunung api aktif yang lerengnya subur, tetapi juga gunung yang secara berkala mengeluarkan material vulkanik yang bisa menimbun permukiman, sawah, dan bangunan suci. Dalam cerita Candi Pendem, Merapi hadir dalam dua bentuk: sebagai penjelasan atas nama Pendem, dan sebagai penjelasan atas keadaan bangunan yang tidak utuh.
Penjelasan berbahasa Jawa menyebut Candi Pendem pernah terpendam karena lahar Gunung Merapi. Pencatatan lain menyebut bahwa dilihat dari keberadaannya di bawah tanah, kemungkinan candi ini dahulu tertimbun lahar Merapi yang sangat ganas. Kata kemungkinan di sana penting. Ia menunjukkan bahwa penimbunan oleh lahar adalah penjelasan yang masuk akal, tetapi bukan hasil penggalian yang dilaporkan secara rinci dalam sumber-sumber yang dibaca untuk artikel ini. Artikel ini memakai penjelasan itu sebagai penjelasan yang paling masuk akal, bukan sebagai hasil ekskavasi yang terdokumentasi lapis demi lapis.
Untuk Candi Asu, sumber-sumber yang dibaca penuh untuk artikel ini sepakat pada satu gambaran: bangunan itu tidak utuh, atapnya runtuh, dan sebagian dindingnya polos, dengan makara tangga yang tampak belum selesai. Gambaran itu konsisten dengan kelompok candi yang pekerjaannya terhenti, tetapi sumber-sumber tersebut tidak memberikan satu tahun erupsi tertentu yang menghentikan pekerjaan Candi Asu, sehingga artikel ini tidak menetapkan tahun itu. Yang bisa dikatakan adalah bahwa Merapi adalah penjelasan yang paling masuk akal untuk keadaan tidak selesai dan terpendam di kawasan ini, bukan satu tanggal yang sudah pasti.
Apakah cerita yang sama berlaku persis untuk Candi Pendem? Secara geografis, sangat mungkin. Pendem hanya berjarak ratusan meter dari Asu, berada di lereng yang sama, dan berada di dekat sungai yang sama. Material vulkanik yang menimbun satu bangunan di kawasan itu sangat mungkin memengaruhi bangunan tetangganya. Namun artikel ini tidak memindahkan cerita Asu ke Pendem secara utuh. Tidak ada sumber yang dibaca yang menyebut lama pengerjaan Pendem, atau menyebut tahun erupsi tertentu yang menimbun Pendem, atau menyebut bahwa Pendem ditinggalkan pada tahun yang sama dengan Asu. Yang bisa dikatakan adalah bahwa Pendem berada dalam lanskap bencana yang sama, memiliki keadaan terpendam yang konsisten dengan penimbunan material vulkanik, dan nama serta posisinya mendukung penjelasan itu. Selebihnya adalah dugaan yang wajar, dan dugaan yang wajar tetap harus disebut sebagai dugaan.
Merapi juga hadir dalam cerita yang lebih baru, yaitu cerita Candi Lumbung pada tahun 2010 dan 2011. Ancaman di sana bukan lagi erupsi abad ke-9, melainkan banjir lahar dingin dan longsor tebing sungai pada masa modern. Cerita itu menunjukkan bahwa hubungan antara candi-candi Sengi dan Merapi tidak berhenti pada masa kuno. Gunung yang sama terus memengaruhi nasib situs-situs itu hingga abad ke-21, hanya dengan bentuk ancaman yang berbeda: bukan lagi timbunan yang mengubur bangunan, melainkan gerusan tebing yang mengancam fondasinya. Candi Pendem, yang berada di tengah sawah dan lebih rendah dari permukaan sekitarnya, juga hidup dalam lanskap yang sama. Perawatannya tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan air, tanah, dan lereng di sekitarnya.
Candi Lumbung yang Pernah Pindah Dua Kali
Jika Candi Pendem adalah candi yang terpendam, Candi Lumbung adalah candi yang berpindah. Kisah perpindahan itu adalah bagian yang paling dramatis dari kelompok Sengi, dan ia juga adalah bagian yang paling terdokumentasi dengan baik dalam sumber-sumber terbaru. Memahami kisah Lumbung membantu memahami mengapa Pendem dan Asu sekarang bisa dikunjungi sebagai satu kelompok yang utuh, padahal Lumbung semula berada di tempat yang berbeda.
Menurut laporan Espos tentang pemindahan Candi Lumbung, bangunan cagar budaya itu telah mengalami dua kali pemindahan dari lokasi aslinya di tepi Sungai Apu, anak Sungai Pabelan, di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Pada tahun 2010, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, yang kini bernama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, mengamankan candi itu dengan memindahkannya dari tempat aslinya ke tempat sementara di tepi jalan yang menuju ke Ketep Pass, sekitar 500 meter dari lokasi aslinya. Alasannya sangat konkret: tanah tumpuannya hanya tinggal satu meter dari tebing sungai setinggi tujuh meter yang dikhawatirkan longsor. Jika tebing penyangga itu longsor, candi akan runtuh dan batu-batunya akan terhanyut aliran lahar Merapi.
Ukuran Candi Lumbung menurut laporan yang sama adalah tinggi 7,20 meter dengan luas bangunan 64,60 meter persegi. Bagian puncaknya sudah runtuh dan batu-batunya hilang, yang masih tersisa adalah bagian tengah dan dasar candi, itu pun sudah tidak lengkap. Banyak batu bagian candi yang hilang, demikian pula arca dan ornamen hiasannya. Beberapa batu bagian candi kini ditumpuk di pelataran candi. Gambaran itu mirip dengan Pendem dan Asu: bangunan yang tidak utuh, dengan batu-batu yang terserak dan ditumpuk rapi di sekitarnya. Perbedaannya adalah bahwa Lumbung masih memiliki tinggi yang cukup untuk dibayangkan sebagai bangunan, sementara Pendem lebih dikenal dari dasarnya yang luas dan posisinya yang terpendam.
Pendataan yang lebih lama dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, yang dikutip dalam ensiklopedia daring tentang Candi Lumbung, menyebut batu candi Hindu itu kini yang tersisa hanya tinggal 65 persen, dengan ukuran luas 8,70 meter kali 8,70 meter, tinggi tangga 2,5 kali 2 meter, dan setinggi delapan meter dari lantai dasar. Angka-angka itu tidak sepenuhnya sama dengan angka 7,20 meter dan 64,60 meter persegi dalam laporan pemindahan tahun 2023. Perbedaan itu dicatat di sini bukan untuk membingungkan pembaca, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengukuran candi yang tidak utuh sangat bergantung pada apa yang diukur, kapan diukur, dan bagian mana yang masih tersisa saat pengukuran dilakukan. Artikel ini memakai angka laporan pemindahan sebagai angka terbaru untuk Lumbung, sambil mencatat bahwa pendataan lama memberikan angka yang berbeda.
Dalam buku Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie tahun 1914, di Candi Lumbung tercatat ada tiga arca Ganesya dan dua buah lingga. Namun arca dan lingga itu kini sudah tidak ada di kompleks Candi Lumbung. Catatan perjalanan terbaru menyebut hal yang sama: menurut buku tahun 1914 itu, candi ini dulunya memiliki arca Ganesha dan dua buah lingga, tetapi jejak arca dan lingga itu kini telah hilang dari kompleks Candi Lumbung. Kehilangan itu adalah pengingat bahwa candi-candi kecil di lereng gunung tidak hanya terancam oleh bencana alam, tetapi juga oleh hilangnya batu dan arca selama puluhan bahkan ratusan tahun, entah karena pencurian, pemindahan yang tidak tercatat, atau kerusakan yang tidak terdokumentasi.
Pemindahan kedua Candi Lumbung dimulai pada Juli 2023. Menurut laporan Espos yang mengutip juru pelihara Candi Lumbung, Wahyu Setianto, pemindahan itu dikerjakan oleh para juru pugar candi dibantu tenaga kerja dari warga masyarakat setempat, dengan teknik manual: membongkar satu demi satu lapisan batu bangunan candi untuk diangkut ke lokasi yang baru. Pekerjaan itu pada akhir November 2023 dihentikan sementara dan direncanakan dilanjutkan kembali pada Maret 2024. Sampai bulan November 2023, penyusunan kembali bangunan Candi Lumbung di Desa Sengi sudah terpasang untuk susunan batu lapisan keempat, bagian kaki candi. Ada 31 lapisan batu candi yang harus disusun kembali. Arah hadap candi adalah ke barat.
Lokasi baru Candi Lumbung berada di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, tidak jauh dari lokasi aslinya yang hanya di seberang Sungai Apu. Lokasi baru itu menempati tanah milik Pemerintah Desa Sengi, sedangkan ketika berada di Dusun Tlatar, candi itu menempati tanah milik Sudjarwo yang disewa. Perbedaan status tanah itu adalah detail administratif yang sangat penting. Candi yang berada di tanah sewa selalu memiliki ketidakpastian jangka panjang. Candi yang berada di tanah milik pemerintah desa memiliki dasar yang lebih kuat untuk perawatan dan kunjungan jangka panjang. Perpindahan Lumbung ke Sengi, dengan demikian, bukan hanya soal menyelamatkan batu dari tebing yang longsor. Ia juga soal memberi rumah yang lebih pasti bagi sebuah bangunan suci yang sudah berpindah dua kali.
Catatan perjalanan terbaru tentang Lumbung menambahkan detail gaya yang membantu membayangkan bangunan itu. Candi Lumbung memiliki karakteristik gaya Jawa Tengahan yang kental dengan penggunaan material batu andesit. Bagian alas yang bertingkat tiga dihiasi motif bunga, tumbuhan, hingga burung yang tersusun dalam bentuk bulatan atau medallion. Sebagai candi beraliran Hindu Siwa, pengunjung dapat menjumpai pahatan gana serta hiasan makara, makhluk air mitologi, yang menjaga bagian tangga. Kehadiran simbol pohon Kalpataru dan guci harta memperkuat dugaan bahwa relung-relung candi yang kini kosong dulunya merupakan rumah bagi arca-arca penting seperti Durga, Ganesha, dan Agastya. Dugaan itu disampaikan sebagai dugaan, bukan sebagai daftar arca yang terbukti pernah ada di setiap relung Lumbung. Namun ia membantu pembaca memahami bahwa relung yang kosong bukanlah hiasan kosong. Ia adalah tempat yang pernah berpenghuni.
Secara arsitektural, laporan Espos menyebut Candi Lumbung memiliki latar belakang agama Hindu dan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Berdasarkan sumber dari prasasti, Candi Lumbung kemungkinan merupakan pendharmaan bagi Bathara di Salingsingan, yang ditunjukkan dengan jenis persembahan khusus berupa payung emas yang diberikan oleh Rakai Kayuwangi. Kata kemungkinan di sana harus dipertahankan. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara Lumbung dan Bathara di Salingsingan adalah tafsir berdasarkan prasasti, bukan pernyataan yang sudah final dan tidak bisa diperdebatkan. Bagi pembaca Pendem, yang penting bukanlah menghafalkan nama Bathara itu, melainkan memahami bahwa kelompok Sengi bukan sekadar tiga bangunan batu. Ia adalah bagian dari jaringan tempat suci, persembahan, dan penetapan wilayah pada masa Mataram Kuno.
Untuk membaca laporan lengkap tentang pemindahan itu, termasuk keterangan juru pelihara dan tahapan penyusunannya, pembaca bisa merujuk pada laporan Espos tentang pemindahan Candi Lumbung ke Desa Sengi. Laporan itu adalah sumber utama artikel ini untuk kisah Lumbung, karena ia memuat angka, tanggal, nama juru pelihara, dan tahapan pekerjaan yang tidak ada dalam sumber-sumber lain yang dibaca.
Cara Mengunjungi Candi Pendem dengan Hormat
Mengunjungi Candi Pendem tidak sama dengan mengunjungi candi besar yang sudah dikelola sebagai objek wisata utama. Tidak ada gerbang megah yang menandai kedatangan, tidak ada jalur beton yang memisahkan pengunjung dari sawah, dan tidak ada jaminan bahwa setiap detail akan dijelaskan oleh papan informasi. Pengunjung harus datang dengan persiapan yang berbeda: bersedia berjalan kaki di antara sawah, bersedia menuruni cekungan, bersedia membaca batu tanpa atap, dan bersedia bertanya kepada warga bila ragu arah.
Langkah pertama adalah menemukan Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun. Dari sana, Candi Asu adalah patokan terdekat. Karena Candi Pendem terletak di utara Candi Asu menurut pengukuran Degroot, dan sumber lain menyebut jaraknya hanya sekitar seratus meter, pengunjung yang sudah menemukan Candi Asu sebenarnya sudah sangat dekat dengan Pendem. Jangan mengandalkan satu angka jarak sebagai patokan mutlak. Andalkan patokan yang lebih nyata: tanyakan kepada warga, ikuti jalur sawah yang biasa dipakai, dan perhatikan cekungan tempat candi berada. Candi yang terpendam tidak selalu terlihat dari kejauhan, justru karena ia lebih rendah dari sawah di sekelilingnya.
Langkah kedua adalah mengatur harapan tentang waktu dan fasilitas. Laporan wisata lama tentang Candi Pendem menyebut wisata Candi Pendem dibuka sejak pukul 08.00 sampai 17.00 WIB, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, dan hanya dikenakan biaya parkir saja. Laporan itu sudah lama dan tidak bisa dijadikan patokan tarif atau jam buka pada hari ini tanpa pengecekan ulang. Artikel ini menyebutnya sebagai laporan lama, bukan sebagai ketentuan yang berlaku sekarang. Pengunjung yang bijak akan mengonfirmasi kondisi terbaru kepada warga atau juru pelihara sebelum berangkat, dan akan membawa uang tunai secukupnya untuk parkir atau penitipan kendaraan bila diperlukan, tanpa mengasumsikan bahwa semuanya gratis atau semuanya berbayar.
Langkah ketiga adalah bersikap sebagai tamu di lahan pertanian. Sawah bukan panggung foto. Jangan menginjak tanaman padi atau palawija, jangan memetik hasil pertanian, jangan membuang sampah di saluran air, dan jangan memanjat atau duduk di atas batu candi. Batu candi yang sudah rapuh, makara yang belum selesai, dan antefiks berornamen adalah benda cagar budaya, bukan properti foto yang bisa dipanjat. Jika ingin mengambil foto, ambillah dari jalur yang tersedia, tanpa menggeser batu dan tanpa menyentuh pahatan dengan tangan yang kotor atau basah.
Langkah keempat adalah meluangkan waktu untuk ketiga candi sekaligus. Karena Pendem, Asu, dan Lumbung sekarang berada dalam satu kawasan di Desa Sengi, kunjungan yang hanya berhenti di satu candi akan kehilangan konteksnya. Mulailah dari Candi Asu untuk memahami cerita tentang candi yang belum selesai dan arca Nandi yang mirip anjing. Lanjutkan ke Candi Pendem untuk memahami cerita tentang candi yang terpendam dan sumurannya yang besar. Tutup dengan Candi Lumbung untuk memahami cerita tentang candi yang berpindah demi selamat dari tebing sungai. Tiga cerita itu, bila dibaca berurutan, membentuk satu gambaran tentang lereng Merapi: pembangunan yang belum selesai, penimbunan oleh material vulkanik, dan penyelamatan pada masa modern.
Bagi pembaca yang ingin melanjutkan penjelajahan candi di Kabupaten Magelang setelah dari Sengi, Candi Ngawen di Muntilan bisa menjadi perbandingan yang menarik, karena ia berada di kecamatan yang berbeda dan memiliki kisahnya sendiri dalam peta percandian Magelang. Perbandingan itu berguna bukan untuk menentukan candi mana yang lebih baik, melainkan untuk melihat betapa beragamnya peninggalan Mataram Kuno di satu kabupaten: ada yang besar dan terkenal, ada yang kecil dan terpendam, ada yang utuh dan ada yang hanya tersisa kakinya. Semuanya adalah bagian dari peta yang sama.
Terakhir, kunjungan ke Candi Pendem sebaiknya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Candi ini tidak menawarkan pemandangan puncak atau bilik yang megah. Ia menawarkan pengalaman membaca sisa-sisa: dasar yang luas, tubuh yang bertingkat, relung di tiga sisi, sumuran di tengah, dan pahatan gana yang masing-masing berbeda bentuknya. Pengunjung yang datang dengan tergesa-gesa akan melihatnya sebagai tumpukan batu di tengah sawah. Pengunjung yang datang dengan pelan, yang mau menuruni cekungan, mengelilingi kaki candi, dan memperhatikan pahatan satu demi satu, akan melihatnya sebagai bangunan suci abad ke-9 yang masih berusaha bercerita meskipun atapnya sudah hilang.
Mengapa Candi Pendem Layak Disinggahi
Candi Pendem layak disinggahi bukan karena ia megah, melainkan karena ia jujur. Ia tidak berpura-pura utuh. Ia menunjukkan apa yang tersisa, dan dari sisa itu pengunjung bisa belajar banyak hal: tentang denah candi tunggal yang menghadap ke barat, tentang ukuran dasar 12,80 meter kali 12,80 meter yang lebih besar daripada tetangganya, tentang tubuh 7,15 meter kali 7,15 meter dengan relung di tiga sisi, tentang bilik sekitar 3,20 meter, tentang sumuran yang besar dan dalam, tentang relief gana sebagai penanda Hindu, tentang motif geometris meander, pilin, dan tumpal yang kemudian berkembang menjadi sulur dan bunga, serta tentang makara yang belum selesai sebagai jejak pekerjaan yang terhenti.
Candi Pendem juga layak disinggahi karena ia mengajarkan cara membaca sejarah yang tidak mengandalkan satu angka atau satu cerita. Prasasti Sri Manggala tahun 874 Masehi, Prasasti Kurambitan tahun 869 Masehi, dan Prasasti Sri Manggala II tahun 876 Masehi tidak memberikan satu tanggal pendirian untuk Pendem, tetapi bersama-sama mereka memberikan kerangka abad ke-9 yang kuat untuk kawasan Sengi. Perbedaan angka di antara sumber bukanlah kegagalan sejarah, melainkan bukti bahwa sejarah dibangun dari banyak prasasti, banyak pengukuran, dan banyak tafsir yang harus dibandingkan. Pengunjung yang memahami hal itu tidak akan mudah percaya pada klaim tanggal yang terlalu pasti, dan tidak akan mudah kecewa ketika menemukan bahwa satu sumber menyebut jarak seratus meter sementara sumber lain menyebut seratus sembilan puluh meter. Keduanya bisa dicatat, dibandingkan, dan dipahami sebagai hasil pengukuran yang berbeda.
Terakhir, Candi Pendem layak disinggahi karena ia adalah pengingat tentang hubungan manusia dengan gunung api. Merapi memberi kesuburan pada sawah di sekitar Sengi, memberi pemandangan Merapi dan Merbabu dari lokasi candi, dan memberi material yang menimbun candi itu sendiri. Hubungan itu tidak romantis dan tidak pula sekadar menakutkan. Ia adalah hubungan yang nyata: manusia membangun tempat suci di lereng gunung, gunung mengganggu pembangunan itu, manusia kembali, merawat, memindahkan tetangganya yang terancam longsor, dan membuat saluran air kecil agar candi yang terpendam tidak tergenang saat hujan. Dalam hubungan yang panjang itu, Candi Pendem adalah saksi yang paling rendah hati: ia tidak menjulang, ia terpendam, tetapi ia masih ada, masih bisa dikunjungi, dan masih bisa dibaca.
Jika suatu hari pengunjung berdiri di cekungan Candi Pendem, di tengah sawah Desa Sengi, dengan Candi Asu tidak jauh di selatan dan Candi Lumbung yang sudah kembali berkumpul di desa yang sama, pengunjung itu sedang berdiri di tengah satu masa: abad ke-9 di lereng barat Merapi, ketika Mataram Kuno membangun tempat-tempat suci di dekat sungai, ketika prasasti menetapkan wilayah sima untuk tempat ibadah, dan ketika letusan bisa menghentikan pekerjaan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Candi Pendem tidak perlu menjadi candi terbesar untuk menjadi penting. Ia cukup menjadi candi yang terpendam, yang namanya menjelaskan keadaannya, dan yang keadaannya menjelaskan sejarahnya.


