RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang: Seabad Rumah Sakit Jiwa dari Kramat hingga Pusat Rujukan Nasional
Namanya berasal dari makam yang dipindahkan, bangunannya dari gagasan bangsal tersebar yang modern pada masanya, dan usianya melewati letusan Merapi, pendudukan Jepang, hingga perjuangan kemerdekaan.

Di Jalan Ahmad Yani Nomor 169, Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, sekitar empat kilometer dari pusat Kota Magelang, berdiri sebuah kompleks rumah sakit yang usianya telah melewati satu abad. Namanya kini Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang, tetapi nama yang melekat di lidah masyarakat jauh lebih tua: Kramat. RSJ Soerojo adalah rumah sakit jiwa tertua dan salah satu yang terbesar di Indonesia, yang direncanakan sejak 1916, diresmikan pada pertengahan 1923, dan hingga kini masih menjalankan fungsi utamanya sebagai pusat layanan kesehatan jiwa sekaligus pusat rujukan nasional. Artikel ini mengisahkan RSJ Soerojo dari sisi sejarah dan arsitekturnya: dari gagasan seorang dokter pada 1916, dari bangsal-bangsal yang tersebar di atas lahan luas, dari makam keramat yang namanya melekat hingga kini, dan dari masa-masa sulit yang dilalui rumah sakit ini bersama sejarah Indonesia.
Perlu ditegaskan sejak awal: RSJ Soerojo adalah rumah sakit yang masih aktif, bukan objek wisata. Artikel ini tidak mengajak pembaca untuk masuk dan berkeliling di dalam kompleks rumah sakit, melainkan mengajak untuk menghargai warisan sejarahnya dari luar, dengan hormat kepada pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan yang bekerja di dalamnya. Tidak ada kisah pasien perseorangan yang ditulis di sini, tidak ada detail medis individu, dan tidak ada bahasa yang menstigma. Yang ditulis adalah sejarah institusi, arsitektur, dan peran publiknya, sebagaimana tercatat dalam sejarah resmi rumah sakit dan sumber-sumber yang dapat diverifikasi.
RSJ Soerojo: Rumah Sakit dari Rencana 1916
Gagasan mendirikan rumah sakit jiwa di Jawa Tengah muncul pada tahun 1916 dari seorang dokter bernama Scholtens. Gagasan itu adalah membangun sebuah Krankzinnigengesticht, istilah Belanda untuk rumah sakit jiwa, di Jawa Tengah dengan kapasitas 1.400 tempat tidur. Gagasan tersebut tidak mudah diwujudkan: dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk meyakinkan pemerintah Hindia Belanda, dan setelah berbagai pertimbangan, Magelang dipilih sebagai lokasi. Pilihan atas Magelang bukan tanpa alasan: kota ini adalah ibu kota Karesidenan Kedu, memiliki udara yang sejuk, dan terletak di jalur yang menghubungkan Yogyakarta, Semarang, dan Purworejo, sehingga mudah dijangkau dari berbagai daerah.
Pembangunan rumah sakit ini dilakukan dengan cara yang tidak lazim. Setiap bangsal yang selesai dibangun langsung ditempati, tanpa menunggu seluruh kompleks selesai, karena kedatangan pasien dari berbagai daerah tidak henti-hentinya, termasuk rujukan dari rumah sakit jiwa Lawang dan Bogor yang telah berdiri lebih dahulu. Target penyelesaian ditetapkan pada pertengahan 1923, dengan prioritas pada pembangunan jalan dan bangsal, yang kemudian disusul oleh perkebunan kopi dan sawah. Pada pertengahan 1923 itu pula rumah sakit diresmikan oleh direktur pertamanya, dr. Engelhard, meskipun pembangunannya belum sepenuhnya selesai. Menurut sebuah studi yang dikutip dari arsip rumah sakit, peresmian itu terjadi pada 15 September 1923, dan pada saat itu jumlah pasien telah melampaui 1.100 orang dan dengan cepat naik hingga lebih dari 1.400 orang, sesuai dengan kapasitas yang direncanakan.
Sejak awal, rumah sakit ini menarik perhatian dunia psikiatri. Psikiater ternama Emil Kraepelin tercatat pernah mengunjungi rumah sakit ini, sebuah kunjungan yang menunjukkan bahwa rumah sakit jiwa Magelang telah dikenal di kalangan psikiatri internasional pada masa itu. Kunjungan seperti itu tidak terjadi pada rumah sakit biasa: ia menandakan bahwa pendekatan yang diterapkan di Magelang, terutama desain bangsalnya yang tersebar, dianggap menarik dan patut dipelajari.
Lokasi rumah sakit ini, di Kramat Utara, dikelilingi oleh pemandangan pegunungan yang menjadi ciri khas Magelang. Di sebelah timur terdapat Gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo, di sebelah utara Gunung Ungaran, di sebelah barat Gunung Sumbing dan Pegunungan Menoreh, dan di sebelah selatan Bukit Tidar yang dikenal sebagai pakunya Pulau Jawa. Lingkungan yang dikelilingi pegunungan ini bukan sekadar latar yang indah: dalam pandangan psikiatri pada masa itu, lingkungan yang tenang, udara yang sejuk, dan ruang gerak yang luas dianggap mendukung proses pemulihan, dan itulah salah satu alasan mengapa Magelang dipilih.
Mengapa Disebut Kramat: Makam Kyai Ponggol yang Dipindahkan
Nama Kramat yang melekat pada rumah sakit ini berasal dari keadaan lahan sebelum pembangunan. Sebelum dibangun, sebagian lahan itu adalah area pemakaman, dan salah satu makam di sana adalah makam Kyai Ponggol, yang dianggap keramat atau angker oleh masyarakat sekitar. Kata keramat inilah yang kemudian menjadi nama Kramat, dan nama itu melekat di lidah masyarakat hingga kini, bahkan setelah rumah sakit berganti nama resmi berkali-kali.
Makam Kyai Ponggol itu sendiri sebenarnya telah dipindahkan sekitar satu kilometer ke arah selatan dari kompleks rumah sakit. Namun, menurut sejarah resmi rumah sakit, bekas lokasi makam itu masih dianggap keramat hingga sekitar tahun 1970-an, dan pada malam Jumat masih ada masyarakat yang datang untuk memohon berkah di tempat itu. Kisah ini dicatat di sini sebagaimana tercatat dalam sejarah resmi rumah sakit, sebagai bagian dari sejarah sosial kawasan Kramat, bukan sebagai ajakan untuk mempercayai atau mengunjungi bekas lokasi makam itu. Yang penting dari kisah ini adalah penjelasan tentang asal-usul nama: mengapa sebuah rumah sakit modern di Magelang Utara dikenal masyarakat dengan nama Kramat, sebuah nama yang berasal dari makam dan kepercayaan masyarakat sekitar pada masa lalu.
Nama Kramat juga adalah nama awal rumah sakit ini. Nama aslinya adalah Krankzinnigengesticht Kramat, rumah sakit jiwa Kramat, dan nama itu dipakai pada masa kolonial hingga masa-masa awal kemerdekaan. Baru pada 20 November 2000 nama rumah sakit secara resmi berubah menjadi Rumah Sakit Prof. Dr. Soerojo Magelang, melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1684/MENKES-KESSOS/SK/XI/2000. Perubahan nama itu, menurut sejarah resmi rumah sakit, adalah salah satu upaya untuk mengurangi stigma yang melekat pada rumah sakit jiwa, karena pada masa itu pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan jiwa masih rendah, dan stigma menjadi beban bagi rumah sakit beserta pasien dan keluarganya. Nama Prof. Dr. Soerojo sendiri diambil dari salah seorang direktur rumah sakit pada masa perjuangan, dr. Soerojo, yang memimpin rumah sakit pada masa yang sangat sulit.
Bangsal yang Tersebar: Arsitektur yang Modern pada Masanya
Ciri arsitektur RSJ Soerojo yang paling menonjol adalah desain bangsalnya yang tersebar. Alih-alih menumpuk seluruh fungsi dalam satu gedung besar, rumah sakit ini dibangun sebagai kumpulan bangsal yang tersebar di atas lahan yang luas, masing-masing bangsal berdiri sendiri dan dikelilingi oleh halaman dan pepohonan. Desain ini, menurut sejarah resmi rumah sakit, pada masanya dianggap sangat modern, karena mempertimbangkan kebebasan bergerak bagi penghuni dan faktor-faktor lain yang mendukung pemulihan. Gagasan di baliknya adalah bahwa lingkungan yang menyerupai perkampungan, dengan ruang terbuka dan udara segar, lebih baik daripada gedung tertutup yang padat.
Desain bangsal yang tersebar itu masih dipertahankan hingga kini, dan karakteristik bangunan kolonial Belanda masih tampak jelas pada bangunan-bangunan di kompleks ini. Penulis Mojok yang mengunjungi kawasan ini mencatat bahwa karakteristik bangunan Belanda masih terlihat pada rumah sakit ini, sebuah pengamatan yang sejalan dengan usia bangunan yang telah melewati satu abad. Bagi pengamat arsitektur, kompleks RSJ Soerojo adalah salah satu contoh terbaik di Magelang tentang bagaimana rumah sakit kolonial dirancang sebagai sebuah kawasan, bukan sekadar gedung: jalan-jalan di dalam kompleks, halaman-halaman di antara bangsal, dan sisa-sisa perkebunan serta sawah yang dahulu menjadi bagian dari kompleks itu.
Luas lahan rumah sakit ini telah berubah berkali-kali sepanjang sejarahnya, dan perubahan itu mencerminkan perubahan fungsi dan kebijakan dari masa ke masa. Pada masa awal, kompleks ini memiliki perkebunan kopi dan sawah yang luas, yang menjadi bagian dari kegiatan rumah sakit. Pada masa Trikora dan Dwikora, sebagian lahan yang dahulu merupakan kebun kopi diambil alih oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan, sehingga luas lahan berkurang dari 82,975 hektare menjadi 74,138 hektare. Pada tahun 1993, luas lahan kembali berkurang dari 74,138 hektare menjadi sekitar 40 hektare, karena kebijakan pemerintah melalui Departemen Kesehatan yang membangun perumahan bagi pegawai Departemen Kesehatan di atas sebagian lahan rumah sakit. Angka-angka ini, sebagaimana tercatat dalam sejarah resmi rumah sakit, menunjukkan betapa besar kompleks ini pada awalnya, dan betapa kota telah tumbuh di sekelilingnya hingga lahan rumah sakit menyusut menjadi sekitar setengah dari luas semula.
Perkebunan kopi dan sawah yang dahulu menjadi bagian dari kompleks bukan sekadar lahan kosong. Pada masa awal, perkebunan dan sawah itu terkait dengan kegiatan terapi kerja, sebuah pendekatan yang pada masa itu dianggap sebagai bagian dari perawatan. Pendekatan ini kemudian berkembang, dan sejarahnya akan diuraikan pada bagian berikutnya, tetapi yang perlu dicatat di sini adalah bahwa lahan yang luas itu adalah bagian integral dari desain rumah sakit, bukan sisa tanah yang tidak terpakai.
Terapi Kerja dan Pendidikan Perawat: Dua Warisan Awal
Dua warisan awal RSJ Soerojo yang patut dicatat adalah terapi kerja dan pendidikan perawat. Sejarah resmi rumah sakit mencatat bahwa pada masa pembangunan, pasien dimobilisasi untuk pekerjaan fisik dalam rangka memenuhi target penyelesaian pertengahan 1923, termasuk menggali tanah dan mengangkut batu secara estafet dari Kali Progo. Sejarah resmi itu sendiri menyimpulkan bahwa kontribusi para pasien relatif besar, tetapi secara medis mereka dirugikan karena pendekatan itu membatasi mereka pada terapi kerja massal. Penilaian jujur dari sejarah resmi ini penting: ia menunjukkan bahwa praktik masa lalu tidak selalu dapat dibenarkan dengan standar masa kini, dan bahwa rumah sakit sendiri mengakui keterbatasan pendekatan awal itu.
Perkembangan berikutnya adalah penerapan terapi kerja individual, yang menurut sejarah resmi rumah sakit merupakan yang pertama di Indonesia, oleh dr. J.C. Van Andel. Terapi kerja individual berbeda dari terapi kerja massal: setiap pasien mendapat kegiatan kerja yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuannya masing-masing, bukan sekadar menjadi bagian dari kelompok pekerja besar. Perkembangan ini menandai pergeseran penting dalam perawatan kesehatan jiwa di Indonesia, dari pendekatan yang mengutamakan penyelesaian pembangunan fisik menuju pendekatan yang mengutamakan kebutuhan individu. Nama dr. J.C. Van Andel, yang juga tercatat dalam daftar direktur rumah sakit, dengan demikian memiliki tempat tersendiri dalam sejarah psikiatri Indonesia.
Warisan kedua adalah pendidikan perawat. Di rumah sakit ini dimulai suatu program pendidikan perawat khusus untuk pasien kesehatan jiwa, yang menggabungkan keperawatan umum dengan prinsip-prinsip medico-psikologis, psikiatris, dan terapi kerja. Program ini kemudian menjadi embrio dari Sekolah Perawat Kesehatan atau SPK Magelang yang berada di rumah sakit ini. Dengan kata lain, RSJ Soerojo tidak hanya merawat, tetapi juga mendidik: ia melahirkan tenaga perawat kesehatan jiwa yang kemudian bekerja di berbagai daerah, dan pendidikan itu menjadi bagian dari kontribusi rumah sakit bagi sistem kesehatan Indonesia.
Daftar direktur rumah sakit ini sendiri adalah daftar yang panjang dan mencerminkan sejarah Indonesia: dr. Engelhard, dr. Tumbelaka, dr. J.C. Van Andel, dr. Prins, dr. Stigter, dr. Soerojo, dr. Wignjobroto, dr. F.K.E. Kluge, Prof. dr. D.P. Tahitoe, dan nama-nama berikutnya. Setiap nama dalam daftar itu memimpin pada masa yang berbeda, dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan dan masa pembangunan, dan setiap masa membawa tantangannya sendiri.
Melewati Masa-Masa Sulit Bersama Sejarah Indonesia
Sejarah RSJ Soerojo tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia, karena rumah sakit ini mengalami langsung setiap guncangan besar yang dialami negeri ini. Pada tahun 1930, letusan Gunung Merapi yang dahsyat membuat beberapa bangsal dikosongkan untuk menampung korban letusan, yang menyebabkan kerusakan bangunan dan peralatan serta kerugian bagi rumah sakit. Peristiwa ini menunjukkan fungsi ganda rumah sakit pada masa darurat: ia bukan hanya tempat perawatan, tetapi juga tempat penampungan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana.
Pada 22 April 1942, seluruh staf berkebangsaan Belanda termasuk direktur dr. P.J. Stigter ditahan oleh pasukan Jepang, sehingga pengelolaan rumah sakit terganggu dan kepemimpinan dipegang oleh dr. Soerojo. Pada masa pendudukan Jepang, harta benda rumah sakit seperti beras, kopi, gula dari tebu, dan ikan dari kolam disita untuk keperluan militer, dan obat-obatan tidak tersedia sehingga digunakan obat-obatan tradisional. Masa ini adalah masa yang sangat sulit bagi rumah sakit, pasien, dan stafnya, dan kepemimpinan dr. Soerojo pada masa inilah yang kemudian diabadikan dalam nama rumah sakit.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Magelang tegang ketika pasukan Inggris, Gurkha, dan NICA memasuki kota. Staf dan penghuni rumah sakit berjaga dengan bambu runcing, rumah sakit digunakan sebagai pos Palang Merah Indonesia cabang Magelang Utara, rumah direktur digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat pada masa pertempuran Secang dan Ambarawa, dan rumah sakit mengirimkan obat-obatan serta tenaga kesehatan ke medan perjuangan. Rumah sakit, dengan demikian, tidak hanya menjadi saksi perjuangan, tetapi juga peserta di dalamnya, melalui tenaga dan obat-obatan yang dikirimkannya.
Periode 1946 hingga 1950 adalah periode yang tidak menentu, ketika fungsi rumah sakit tidak berjalan dengan baik. Bangsal-bangsal depan pada masa itu kadang digunakan sebagai asrama Tentara Keamanan Rakyat dan Angkatan Laut Republik Indonesia, tempat penampungan keluarga pegawai kereta api, dan tempat penampungan warga sekitar, dan kantor Hygiene juga berlokasi di sana. Kawasan rumah sakit kadang menjadi arena pertempuran dan kekacauan, yang menyebabkan kerusakan bangunan, perkebunan kopi dan tebu, peralatan terapi kerja, instrumen hiburan seperti wayang dan gamelan, serta arsip dan peralatan kantor. Semangat kerja staf menurun dan sebagian mengundurkan diri. Masa ini adalah masa yang paling suram dalam sejarah rumah sakit, dan pemulihannya membutuhkan waktu yang lama.
Pada masa Trikora dan Dwikora, penghematan memaksa rumah sakit menanam halaman-halaman di sekitar bangsal dengan singkong dan kacang tanah untuk memenuhi kebutuhan pangan, dan sebagian lahan yang dahulu kebun kopi diambil alih oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan. Pada masa Repelita, pemulihan berlangsung secara bertahap di hampir semua sektor, meskipun usaha perikanan tidak dapat dilanjutkan karena irigasi yang tidak memadai, dan lahan seluas 0,945 hektare diperoleh untuk penyediaan air bersih, setelah sebelumnya air bersih berasal dari Perusahaan Air Minum Magelang yang terhenti sejak masa Jepang. Kisah-kisah ini, yang tercatat dalam sejarah resmi rumah sakit, menunjukkan sebuah institusi yang terus beradaptasi: dari rumah sakit kolonial menjadi rumah sakit perjuangan, dari masa penghematan menjadi masa pembangunan kembali.
Dari RSJ Magelang Menjadi RS Prof. Dr. Soerojo
Pada tahun 1978, rumah sakit ini ditetapkan sebagai Rumah Sakit Jiwa Pusat Kelas A melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 135/Menkes/SK/IV/1978, sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan yang bertugas menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, pencegahan, pemulihan, dan rehabilitasi. Penetapan ini menegaskan status rumah sakit sebagai pusat layanan kesehatan jiwa tingkat nasional, bukan sekadar rumah sakit daerah.
Pada 20 November 2000, nama rumah sakit secara resmi berubah menjadi Rumah Sakit Prof. Dr. Soerojo Magelang, melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1684/MENKES-KESSOS/SK/XI/2000. Perubahan nama ini, sebagaimana telah disebutkan, adalah upaya untuk mengurangi stigma, dan nama Soerojo dipilih untuk menghormati direktur yang memimpin pada masa pendudukan Jepang. Upaya mengubah citra ini juga menjadi objek kajian akademik: skripsi Universitas Gadjah Mada tahun 2014 meneliti strategi hubungan masyarakat RSJ Prof. Dr. Soerojo dalam mengubah citra dari rumah sakit jiwa menjadi rumah sakit dengan pelayanan jiwa dan umum, dan menemukan bahwa rumah sakit itu memakai strategi proaktif melalui kegiatan sosial, peringatan hari besar, serta seminar dan talkshow. Pada tahun 2007, rumah sakit menjadi instansi pemerintah di bawah Departemen Kesehatan yang menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 278/KMK.05/2007 tanggal 21 Juni 2007 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 756/Men.Kes/SK/VI/2007 tanggal 26 Juni 2007, sebagai bagian dari tata kelola yang baik.
Pada tahun 2009, rumah sakit membuka layanan non-kesehatan jiwa sebagai jawaban atas permintaan masyarakat, melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Nomor HK.03.05/I/441/09. Layanan umum itu mencakup 15 persen dari tempat tidur yang tersedia, dengan dokter spesialis bedah, penyakit dalam, anak, kebidanan dan kandungan, saraf, radiologi, dan anestesi, serta dua ruang rawat inap, ruang operasi, ruang bersalin, dan fasilitas penunjang. Kegiatan utama rumah sakit tetaplah kesehatan jiwa, tetapi pembukaan layanan umum ini menunjukkan bahwa rumah sakit ini juga melayani kebutuhan kesehatan masyarakat sekitar, dan sejak 2009 pula rumah sakit ini menjadi Pusat Rujukan Nasional untuk Kesehatan Jiwa.
Pengakuan atas kinerja rumah sakit terus berdatangan pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2012, rumah sakit terakreditasi untuk 12 layanan. Pada 2013, rumah sakit ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan afiliasi. Pada 2015, rumah sakit lulus akreditasi rumah sakit pada tingkat Paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Pada 2016, rumah sakit dinyatakan sebagai Inisiator Rumah Sakit Ramah Anak oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pada 2017, rumah sakit meraih predikat Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Pada 2018, rumah sakit diakreditasi kembali sebagai rumah sakit pendidikan afiliasi pada 21 Agustus 2018. Pada 2019, rumah sakit lulus akreditasi Paripurna Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi pertama. Pada 2020, rumah sakit menjadi nominasi rumah sakit paling berkomitmen dalam pelayanan terbaik bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat, kategori kelas A, pada tingkat nasional, deputi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan cabang Magelang. Pada 2021 dan 2022, rumah sakit meraih penghargaan sebagai penyedia layanan publik yang sangat baik, masing-masing dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2021 dan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 2022.
Deretan pengakuan ini menunjukkan transformasi RSJ Soerojo dari rumah sakit kolonial menjadi institusi kesehatan modern yang tidak hanya melayani kesehatan jiwa, tetapi juga layanan umum, pendidikan, dan penelitian. Bangunan-bangunan kolonialnya yang masih berdiri, bangsal-bangsalnya yang tersebar, dan namanya yang diambil dari seorang direktur masa perjuangan adalah pengingat bahwa transformasi itu tidak menghapus sejarah, melainkan dibangun di atasnya.
Pada akhirnya, RSJ Soerojo adalah warisan yang paling baik dihargai dari luar, dengan hormat, dan tanpa mengganggu kehidupan di dalamnya. Bangunan-bangunannya yang berusia lebih dari satu abad, namanya yang berasal dari makam yang dipindahkan, dan sejarahnya yang melewati letusan Merapi, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, dan masa pembangunan adalah bagian dari sejarah Magelang yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia. Bagi siapa pun yang melintasi Jalan Ahmad Yani di Kramat Utara, menengok kompleks yang dikelilingi pegunungan itu adalah cara untuk mengingat bahwa di balik tembok-temboknya, selama lebih dari satu abad, ada institusi yang terus berusaha memulihkan, mendidik, dan melayani, dan bahwa sejarah kesehatan jiwa Indonesia, dengan segala pasang surutnya, sebagian besar ditulis di tempat ini. Rumah sakit ini tetap bekerja setiap hari, dan penghormatan terbaik yang bisa diberikan kepadanya adalah membiarkannya bekerja dengan tenang, sambil menjaga ingatan tentang sejarahnya tetap hidup. Untuk penanda kolonial lain di pusat kota, pembaca dapat melihat artikel Water Toren Alun-Alun Magelang di KabarTidar.


