Talkshow ‘Banyu Milir’ Ulas Pentingnya Kelestarian Air Lereng Merapi
Air dari lereng Merapi menopang kehidupan warga di dua provinsi. Talkshow 'Banyu Milir' mengajak pendengar menengok kembali pentingnya menjaga mata air, sungai, dan daerah resapan di kawasan gunung tersebut.

MAGELANG — Kelestarian air lereng Merapi menjadi sorotan dalam talkshow bertajuk ‘Banyu Milir’ yang diberitakan RRI pada Jumat (23/10/2026). Talkshow tersebut mengulas pentingnya menjaga sumber-sumber air di kawasan Gunung Merapi agar tetap memberi manfaat bagi masyarakat di lereng maupun daerah hilir.
Nama ‘Banyu Milir’ diambil dari bahasa Jawa. Kata banyu berarti air, sedangkan milir berarti mengalir. Judul itu merangkum pesan utama talkshow, yakni air dari lereng Merapi harus dijaga keberlangsungannya, dari mata air dan daerah resapan di kawasan hulu sampai aliran sungai yang dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan kegiatan ekonomi.
Perhatian terhadap air Merapi bukan hal baru. Pesan serupa disampaikan pengelola Museum Gunungapi Merapi di Sleman dalam sepekan terakhir, sedangkan di Kabupaten Magelang, pentingnya jaringan air bersih lereng gunung itu terbukti ketika banjir lahar hujan merusaknya pada Maret 2026 lalu.
Mengapa Kelestarian Air Lereng Merapi Menentukan Daerah Hilir
Kawasan lereng Merapi berfungsi sebagai daerah tangkapan dan resapan air. Pemerintah Kabupaten Sleman mencatat wilayahnya merupakan hulu dari sungai-sungai yang mengalir di Daerah Istimewa Yogyakarta. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, dalam sebuah kegiatan di Pakem menyampaikan apresiasinya atas kepedulian berbagai pihak terhadap kelestarian alam, khususnya di wilayah lereng Merapi sebagai hulu sungai di DIY.
Hingga 2022, Pemkab Sleman mengidentifikasi sumber daya air alami sejumlah 70 sungai dan 373 mata air, serta sumber daya air buatan berupa 29 embung. Upaya menjaga ketersediaan air bersih dilakukan antara lain melalui program Kali Bersih di 17 kapanewon, penggerakan komunitas sungai, pembangunan sumur peresapan air hujan, pengelolaan mata air, dan penanaman pohon. YB. Sukita Giri dari Komisi Pelestarian Keutuhan Ciptaan (KPKC) Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Pakem menyebut tidak kurang dari 1.000 bibit pohon, seperti beringin, gayam, dan kelapa, ditanam di daerah hulu lereng Merapi sebagai daerah penyangga air.
Di sisi barat daya, sungai-sungai yang berhulu di Merapi mengalir ke wilayah Kabupaten Magelang. Kali Bebeng dan Kali Krasak termasuk alur yang menjadi perhatian pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sebagaimana terlihat dalam laporan guguran lava Merapi menuju hulu Kali Bebeng dan Krasak. Kondisi hulu yang terjaga berpengaruh langsung pada kualitas dan keberlanjutan air yang diterima warga Magelang di sepanjang alur sungai tersebut.
Pesan yang Sama dari Museum Gunungapi Merapi
Pesan menjaga air juga mengemuka dalam pembukaan pameran temporer tahunan Museum Gunungapi Merapi di Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Selasa (20/10/2026). Kepala UPTD Museum Gunungapi Merapi, Imam Muslikh Mahmudi, mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian dalam menjaga kelestarian sumber daya air di kawasan lereng Gunung Merapi.
“Kelestarian alam dan ketersediaan air bersih di sekitar kawasan lereng Merapi merupakan tanggung jawab bersama yang harus kita jaga secara berkelanjutan,” ujar Imam Muslikh Mahmudi.
Sementara itu, Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Esti Listyowati, menekankan fungsi museum sebagai media pembelajaran yang hidup di tengah masyarakat. “Pameran temporer ini bukan sekadar tempat pajangan benda-benda koleksi, melainkan juga berfungsi sebagai sarana edukasi publik, media interpretasi budaya, serta wadah pelestarian nilai-nilai sejarah bagi generasi muda,” tegas Esti Listyowati. Pembukaan pameran yang dipandu kurator dari Universitas Gadjah Mada, Hanafi Husni, itu juga diisi aksi penanaman pohon di area museum.
Air Bersih Lereng Merapi di Magelang Pernah Lumpuh oleh Lahar
Bagi warga Kabupaten Magelang, arti penting air lereng Merapi terasa nyata saat bencana datang. Pada Selasa (3/3/2026) pukul 16.30 WIB, hujan berintensitas tinggi di kawasan hulu lereng Merapi memicu banjir lahar hujan yang membawa material vulkanik berupa pasir, batu, dan lumpur melalui alur sungai. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peristiwa itu berdampak pada 11 desa di tiga kecamatan, yakni Dukun, Sawangan, dan Mungkid, serta merusak permukiman, lahan pertanian, dan infrastruktur vital, termasuk jaringan air bersih yang menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat lereng Merapi. Bencana tersebut juga mengakibatkan lima orang meninggal dunia.
Pemulihan jaringan itu kemudian dilakukan BNPB bersama Komisi VIII DPR RI dan Pemerintah Kabupaten Magelang. Kepala BNPB, Suharyanto, meresmikan jaringan pipanisasi air bersih sepanjang lebih dari 30 kilometer di Desa Paten, Kecamatan Dukun, pada Jumat (3/7/2026). BNPB mengalokasikan Dana Siap Pakai sebesar Rp3 miliar untuk memperbaiki jaringan sepanjang kurang lebih 33,3 kilometer yang melayani 4.010 kepala keluarga di tujuh desa terdampak di Kecamatan Dukun, yakni Sumber, Krinjing, Paten, Sengi, Keningar, Sewukan, dan Wates. Pemasangan pipa dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara swadaya.
“Air bersih adalah sumber kehidupan. Alhamdullilah, melalui kolaborasi yang kuat, mulai hari ini kendala krisis air bersih bagi 4.000 KK di tujuh desa sudah dapat diatasi,” ujar Suharyanto. Dalam kesempatan itu, BNPB juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau, mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berlangsung sekitar 11 bulan, mulai Juli 2026 hingga Mei 2027.
Pengalaman tersebut mempertegas pesan talkshow ‘Banyu Milir’: menjaga kelestarian air lereng Merapi jauh lebih ringan daripada memulihkannya setelah rusak. Pemberitaan mengenai talkshow tersebut dapat disimak melalui RRI. Bagi warga Magelang, menjaga mata air, daerah resapan, dan alur sungai berhulu Merapi berarti menjaga sumber kehidupan yang mengalir ke rumah-rumah mereka setiap hari.


