Jumat, 23 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Guguran Lava Merapi Kembali Meluncur ke Kali Bebeng…
Peristiwa

Guguran Lava Merapi Kembali Meluncur ke Kali Bebeng dan Krasak, Status Tetap Siaga

BPPTKG mencatat guguran lava Gunung Merapi kembali meluncur ke hulu Kali Bebeng dan Kali Krasak sejauh 1,9 kilometer. Status Merapi tetap Level III Siaga dengan suplai magma yang masih berlangsung.

Oleh Intan Larasati Jumat, 23 Oktober 2026 · 18.36 WIB
Guguran lava Gunung Merapi tampak membara meluncur di lereng gunung pada malam hari
Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava yang tampak membara di lerengnya dalam sebuah dokumentasi. (Foto: Pras tg/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

MAGELANG — Aktivitas Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat guguran lava Merapi kembali meluncur ke arah barat daya, menuju hulu Kali Bebeng dan Kali Krasak, dalam pengamatan Kamis (22/10/2026), dengan jarak luncur terjauh mencapai 1,9 kilometer dari puncak.

Guguran tersebut menambah rangkaian aktivitas guguran lava yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir. BPPTKG mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga, karena aktivitas vulkanik masih tergolong tinggi dan erupsi efusif masih berlangsung.

40 Kali Guguran Lava Merapi dalam Sepekan

Dalam laporan aktivitas periode 2–8 Oktober 2026, BPPTKG mencatat total 40 kali guguran lava mengarah ke sejumlah hulu sungai yang berhulu di puncak Merapi. Rinciannya, empat kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter, tujuh kali ke hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.900 meter, dan satu kali ke hulu Kali Bebeng sejauh 1.700 meter.

Guguran paling banyak mengarah ke hulu Kali Sat atau Putih, yakni 28 kali dengan jarak luncur maksimum 2.500 meter. Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi sehingga statusnya tetap berada pada tingkat Siaga.

Selama periode pengamatan tersebut, Gunung Merapi mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tekanan lemah, dengan ketinggian berkisar 10 hingga 150 meter dari puncak. BPPTKG juga mengamati adanya sedikit perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava, sedangkan Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Volume Kubah Barat Daya tercatat mencapai 4.182.700 meter kubik, sementara Kubah Tengah sebesar 2.369.600 meter kubik.

Suplai Magma Masih Berlangsung

Dari sisi kegempaan, jaringan seismik BPPTKG mencatat 533 gempa fase banyak, 483 gempa guguran, 52 gempa vulkanik dangkal, dan tiga kali tremor selama periode sepekan tersebut. Pada periode itu tidak teramati awan panas guguran, namun sejak 1 Januari hingga 8 Oktober 2026 BPPTKG telah mencatat 122 kejadian awan panas guguran.

Agus Budi Santoso menegaskan, suplai magma dari dalam tubuh Merapi masih berlangsung. Kondisi ini membuat potensi terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya tetap harus diwaspadai, meskipun aktivitas permukaan saat ini didominasi guguran lava dari kubah yang terus tumbuh dan meluruh.

Imbauan untuk Warga Lereng di Magelang

BPPTKG menetapkan daerah potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan hingga barat daya meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Sebagian sungai yang masuk daerah potensi bahaya tersebut mengalir ke wilayah Kabupaten Magelang. Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat atau Putih berhulu di Merapi dan melintasi kawasan lereng di Kecamatan Srumbung dan sekitarnya, sehingga warga Magelang yang tinggal dan beraktivitas di sepanjang alur sungai tersebut diminta tidak memasuki daerah potensi bahaya.

Masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lahar apabila hujan turun di kawasan puncak, serta mengantisipasi gangguan akibat hujan abu. Bagi warga yang ingin menyaksikan Merapi dari jarak aman, gardu pandang seperti Ketep Pass di Kecamatan Sawangan menjadi pilihan yang berada di luar daerah potensi bahaya. Kondisi ini berbeda dengan situasi gunung lain di Magelang yang tengah ditangani petugas, seperti kebakaran Gunung Sumbing yang meluas hingga 779,4 hektare.

Rincian laporan mingguan BPPTKG mengenai aktivitas Merapi juga diberitakan Tugu Jogja. Warga di lereng Merapi wilayah Magelang diimbau memantau informasi resmi BPPTKG dan BPBD setempat sebelum beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di puncak. KabarTidar akan terus memantau laporan berkala BPPTKG dan menyampaikannya kepada pembaca di lereng Merapi wilayah Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *