Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Kelenteng Liong Hok Bio Magelang: dari Tanah Hibah…
Wisata

Kelenteng Liong Hok Bio Magelang: dari Tanah Hibah 1864, Kebakaran 2014, hingga Kirab Cap Go Meh

Di balik dinding kelenteng tertua di Kota Magelang tersimpan jejak pelarian dari Batavia tahun 1740, perjalanan menembus Pegunungan Menoreh, dan sebuah kirab yang mengubah jalanan Pecinan menjadi panggung toleransi.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 22.45 WIB
Ilustrasi kelenteng merah dengan barongsai dan lampion di jalan Pecinan
Ilustrasi Kelenteng Liong Hok Bio dengan barongsai dan lampion saat kirab. (Ilustrasi: KabarTidar)

Kelenteng Liong Hok Bio di Kota Magelang adalah rumah ibadah Tri Dharma yang berdiri di sisi selatan Alun-Alun Kota Magelang, tepatnya di Jalan Alun-alun Selatan Nomor 2. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat sembahyang bagi umat, tetapi juga menjadi penanda sejarah panjang komunitas Tionghoa di Magelang, pusat kegiatan budaya, dan tujuan wisata religi yang mudah dijangkau dari pusat kota. Dinas Pariwisata Jawa Tengah dalam laman Visit Jawa Tengah menyebut kelenteng ini sebagai kelenteng tertua di Magelang, yang didirikan pada tahun 1864, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2014, dan sudah dipugar kembali.

Usia bangunan yang sudah melampaui satu setengah abad membuat kelenteng ini layak dibaca sebagai arsip yang masih hidup. Setiap bagian dari kisahnya, mulai dari tanah hibah, patung Dewa Bumi yang dibawa dalam pengungsian, hingga kirab yang menutup rangkaian Imlek, menyimpan lapisan sejarah yang saling berkaitan. Artikel ini merangkai lapisan-lapisan itu berdasarkan sumber-sumber yang dapat dilacak, dengan membedakan mana fakta yang disepakati banyak sumber dan mana keterangan yang masih perlu dibaca secara hati-hati karena sumber-sumbernya berbeda.

Bagi wisatawan, posisi kelenteng ini juga menguntungkan. Kelenteng ini berada di kawasan pusat kota, berdekatan dengan Alun-Alun Kota Magelang dan kawasan Pecinan di Jalan Pemuda. Karena itu, kunjungan ke kelenteng ini dapat dirangkai dengan penjelajahan kawasan bersejarah di sekitarnya dalam satu perjalanan kaki yang santai, termasuk menengok penanda kota lama lainnya seperti Water Toren Alun-Alun Magelang yang sama-sama menjadi bagian dari wajah pusat kota.

Kelenteng Liong Hok Bio: Rumah Ibadah di Selatan Alun-Alun Kota Magelang

Kelenteng Liong Hok Bio dikenal sebagai tempat ibadah Tri Dharma, yaitu wadah pemeluk ajaran yang berakar pada tradisi Tionghoa, termasuk Khonghucu dan Taoisme. Mojok dalam laporannya tentang kelenteng ini menyebut kelenteng ini sebagai tempat peribadatan Khonghucu atau Taoisme, sementara Berita7 menyebutnya sebagai tempat ibadah bagi umat Tri Dharma. Perbedaan penyebutan ini tidak perlu dipertentangkan, sebab dalam praktiknya kelenteng-kelenteng Tri Dharma di Indonesia memang menjadi ruang bersama bagi tradisi-tradisi tersebut, dengan altar, patung dewa-dewi, dan upacara yang saling melengkapi.

Secara fisik, kelenteng ini digambarkan sebagai bangunan yang berdiri megah di kawasan Pecinan. Mojok menulis bahwa kelenteng ini berdiri megah di kawasan Pecinan yang indah, tepat di Jalan Alun-alun Selatan Nomor 2 Magelang. Keterangan alamat ini penting bagi pengunjung, karena ada pula sumber yang menyebut kelenteng ini berlokasi di Jalan Pemuda, kawasan Pecinan, tidak jauh dari alun-alun. Kedua keterangan itu tidak bertentangan apabila dibaca sebagai penunjuk kawasan yang sama, yaitu pusat kota di sekitar alun-alun dan Pecinan, dengan alamat spesifik di Jalan Alun-alun Selatan Nomor 2 menurut Mojok.

Sebagai pusat kegiatan, kelenteng ini tidak pernah berhenti pada fungsi ritual semata. Berita7 mencatat bahwa setiap perayaan Tahun Baru Imlek, kelenteng ini dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi barongsai dan merasakan kemeriahan budaya Tionghoa. Visit Jawa Tengah pun menegaskan hal yang sama, yaitu bahwa selain sebagai tempat ibadah, kelenteng ini menjadi tempat perayaan tradisi keturunan Tionghoa seperti Imlek dengan kesenian barongsai. Dengan demikian, kelenteng ini sekaligus berfungsi sebagai panggung budaya yang terbuka bagi masyarakat luas, bukan hanya bagi umatnya sendiri.

Peran itu pula yang membuat kelenteng ini disebut sebagai ikon. Indonesiana menyebut Kelenteng Liong Hok Bio sebagai salah satu ikon Kota Magelang, sementara Berita7 menyebutnya sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di kota ini. Sebutan ikon di sini dapat dipahami dalam dua arah, yaitu sebagai bangunan bersejarah yang mudah dikenali dan sebagai ruang pertemuan yang mempertemukan warga dari latar belakang berbeda dalam perayaan yang sama.

Geger Pecinan 1740: Awal Perjalanan Panjang Menuju Magelang

Sejarah Kelenteng Liong Hok Bio tidak dapat dipahami tanpa menengok peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1740 di Batavia. Menurut Mojok, pada tahun itu pemerintah Belanda pernah melarang kedatangan para imigran dari Tiongkok, dan mereka yang tidak memiliki izin kerja dideportasi ke Ceylon dan Semenanjung Harapan. Peraturan itu, tulis Mojok, semakin membuat resah orang-orang Tionghoa, antara lain karena mereka juga sering terkena pungutan liar dari pejabat Belanda.

Ketegangan itu kemudian meledak menjadi pemberontakan. Mojok menulis bahwa orang-orang Tionghoa yang tinggal di Batavia bersatu dan memberontak, tetapi banyak yang terbunuh karena Belanda melawan dengan persenjataan yang lebih lengkap. Peristiwa ini lalu dikenal dengan sebutan Geger Pecinan. Pengurus Kelenteng Liong Hok Bio, Gunawan, yang dikutip Mojok dengan merujuk pada Liputan6, menyampaikan keterangan yang sering dikutip dalam berbagai tulisan, yaitu bahwa sebagai akibat peristiwa itu, sekitar 10.000 orang Tionghoa di Batavia dibunuh dan dianiaya.

Angka korban dalam peristiwa sebesar itu memang tidak tunggal dalam sumber-sumber yang beredar. Espos dan Indonesiana sama-sama menyebut angka sekitar 10.000 orang, sedangkan pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, yang dikutip Mojok dalam artikel tentang Pecinan Magelang dengan merujuk pada TribunJogja, menyebut puluhan ribu orang Tionghoa terbunuh. Artikel ini memakai angka sekitar 10.000 dengan atribusi kepada Gunawan dan sumber-sumber yang menyebut angka tersebut, sambil mencatat bahwa ada sumber lain yang menyebut puluhan ribu. Perbedaan ini wajar dalam penulisan sejarah peristiwa lama, dan pembaca perlu membacanya sebagai rentang perkiraan, bukan sebagai angka pasti yang sudah final.

Yang disepakati berbagai sumber adalah arah pelarian para penyintas. Mereka yang tidak terbunuh menyelamatkan diri ke sejumlah kota, antara lain Semarang, Jepara, Lasem, Rembang, hingga Surakarta untuk meminta perlindungan ke Kasunanan. Mojok dalam artikel tentang Pecinan menambahkan bahwa di Surakarta mereka meminta pertolongan kepada Paku Buwana II, yang memerintah Kasunanan Surakarta pada tahun 1726 sampai 1749, dan bahwa Paku Buwana II sempat memerintahkan penggempuran benteng Belanda di Kartasura pada 20 Juli 1741, dengan pengepungan selama tiga minggu sebelum pasukan kompeni menyerah. Namun, dalam pertempuran berikutnya, pasukan kompeni Belanda menang, Paku Buwana II mengaku bersalah karena membela etnis Tionghoa dan memohon ampun, dan kekisruhan pun terjadi. Rangkaian ini menjelaskan mengapa rombongan pengungsi tidak berhenti di satu tempat, melainkan terus bergerak mencari permukiman yang lebih aman.

Dalam pelarian itulah, menurut Mojok dan Indonesiana, sekelompok kecil pengungsi sampai ke daerah Kedu Selatan dan bermukim di Desa Klangkang Jono, sebuah desa di selatan Kutoarjo yang sekarang disebut Desa Jono. Espos menyebut desa itu sebagai Klangkang Jono yang sekarang disebut sebagai Kutoarjo dan Purworejo, sedangkan Mojok menyebutnya sebagai desa di selatan Kutoarjo. Perbedaan penyebutan wilayah ini dicatat dalam catatan riset, tetapi inti kisahnya sama, yaitu sekelompok kecil pengungsi menetap di sebuah desa di wilayah selatan Kutoarjo.

Yang dibawa rombongan itu bukan hanya barang dan bekal hidup, melainkan juga keyakinan. Mojok menulis bahwa orang-orang Tionghoa yang masih taat kepada keyakinannya turut membawa Twa Pek Kong, patung Dewa Bumi atau Hok Tek Tjen Sin, yang dalam penulisan lain disebut Hok Tek Cing Sien atau Tho Tee Kung. Espos menyebut patung sesembahan itu sebagai Hok Tek Cing Sien atau Dewa Bumi. Perbedaan ejaan nama dewa ini adalah hal yang biasa dalam alih aksara dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Indonesia, dan artikel ini menyebutnya sebagai Twa Pek Kong, Dewa Bumi, dengan varian namanya dicatat agar pembaca tidak bingung ketika menemukan ejaan berbeda di sumber lain.

Kehidupan di desa pengungsian itu digambarkan berlangsung tenteram dan damai. Mojok menulis bahwa masyarakat bekerja dengan berbagai mata pencaharian, seperti membuat terasi, menenun kain, dan berdagang. Gambaran ini penting, karena menunjukkan bahwa komunitas pengungsi tidak hanya bertahan, tetapi juga membangun kehidupan ekonomi dan sosial di tempat baru, sebelum gelombang sejarah berikutnya kembali mengguncang mereka.

Dari Klangkang Jono Menuju Magelang: Perang Diponegoro dan Jalan Menembus Menoreh

Ketenangan di Desa Jono tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 1825, Perang Diponegoro pecah, dan huru-hara menjalar sampai ke wilayah Kedu Selatan. Mojok menulis bahwa keonaran itu berdampak buruk terhadap keberadaan masyarakat Tionghoa di Desa Jono, dengan warga desa menjadi korban perampokan di mana-mana. Espos merangkai kronologi yang sama, yaitu bahwa pecahnya Perang Diponegoro pada tahun 1825 sampai 1830 membuat rombongan itu harus meninggalkan desanya ke arah timur laut, menembus Pegunungan Menoreh menuju Magelang.

Dalam situasi itu, Mojok dan Indonesiana menyebut nama pemimpin masyarakat Tionghoa di desa tersebut, yaitu The Ing Sing, yang bergelar Bu Han Lim dari Tiongkok. Ia sempat melakukan perlawanan, tetapi perlawanan itu lambat laun membuat keberadaan mereka semakin terdesak, hingga akhirnya mereka meninggalkan desa menuju arah timur laut. Kisah perlawanan ini tidak perlu dibaca sebagai kisah kepahlawanan tunggal, melainkan sebagai gambaran tentang pilihan sulit komunitas kecil di tengah perang besar, yaitu antara bertahan dengan risiko semakin terdesak atau pergi dengan risiko kehilangan tempat tinggal.

Perjalanan berikutnya digambarkan sebagai perjalanan yang berat. Rombongan itu menembus benteng pegunungan Menoreh, Salaman, Magelang, yang pada saat itu masih berwujud hutan belantara. Setelah berhasil melewati perbukitan yang terjal, mereka sampai di Magelang. Sebagian rombongan tinggal dan menetap di Magelang, sementara sebagian yang lain melanjutkan perjalanan sampai Parakan, Temanggung. Rombongan yang menetap di Magelang kemudian memilih tinggal di Ngarakan, sebelah barat Pecinan, yang sekarang berada di sekitar Jalan Daha.

Espos memberikan keterangan tambahan yang sejalan, yaitu bahwa rombongan kecil itu memilih tinggal di jalan kecil sisi barat Pecinan yang dikenal dengan Gang Ngarakan atau Tengkonstraat dan kini dikenal sebagai Jalan Daha. Gang Ngarakan ini kemudian memiliki arti penting dalam sejarah kelenteng, karena gang inilah yang sering dipakai untuk arak-arakan budaya Tionghoa, seperti tari singa atau barongsai dan tari naga atau liong, menurut Espos. Dengan kata lain, ruang jalan di sekitar permukiman awal itu sejak awal sudah menjadi ruang perayaan, jauh sebelum kelenteng yang sekarang berdiri.

Setelah Perang Diponegoro usai pada tahun 1830, pemerintah Belanda mengeluarkan Peraturan Wijkenstelsel yang mengatur agar orang-orang keturunan Tionghoa bermukim di suatu kawasan, yang kemudian populer dengan sebutan Pecinan. Mojok menulis bahwa orang Tionghoa tidak boleh lagi membuka usaha di luar Pecinan agar tidak bersatu dengan orang Jawa, sebab hal itu bisa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Peraturan ini menjelaskan mengapa Pecinan Magelang terbentuk sebagai kawasan tersendiri, dan mengapa kelenteng yang kemudian berdiri di kawasan itu menjadi pusat komunitas yang begitu penting. Kelenteng bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga simpul sosial di dalam kawasan yang dibatasi oleh peraturan kolonial.

Kepemimpinan Komunitas: Dari Tan Jing Sing Sampai Be Tjok Lok

Sebelum kelenteng berdiri, komunitas Tionghoa di Magelang sudah memiliki susunan kepemimpinan yang tercatat dalam sumber-sumber lokal. Espos menulis bahwa untuk memimpin komunitas Tionghoa, Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono III mengutus Tan Jing Sing, yang diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat I, untuk menjadi Kapitan Tionghoa pada tahun 1793. Tan Jing Sing kala itu juga menjabat sebagai Bupati Nayoko yang diangkat pada masa Pemerintahan Inggris di Indonesia oleh Gubernur Thomas Stamford Bingley Raffles.

Sepeninggal Tan Jing Sing pada tahun 1831, kepemimpinan komunitas Tionghoa dilanjutkan oleh anaknya yang juga menjabat sebagai Bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat II. Sejak tahun 1857, setelah sepeninggal Secodiningrat II, terjadi kekosongan pimpinan pada komunitas Tionghoa di Magelang. Kasunanan Surakarta mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk memilih pemimpin dari Surakarta. Menurut budayawan Tionghoa di Magelang, Kho Dji Tjay, yang dikutip Espos melalui sebuah wawancara video, usulan Kasunanan Surakarta ini dikabulkan oleh Belanda, dan akhirnya dipilih Be Tjok Lok untuk menjabat sebagai Kapitan kelompok Tionghoa di Magelang yang baru.

Rangkaian kepemimpinan ini penting untuk memahami posisi Be Tjok Lok. Ia bukan tokoh yang muncul tiba-tiba, melainkan pemimpin yang dipilih dalam kekosongan kepemimpinan setelah tahun 1857, dengan latar dukungan Kasunanan Surakarta dan persetujuan pemerintah Belanda. Posisi itu pula yang kemudian memungkinkannya menggerakkan pembangunan kelenteng, karena pembangunan rumah ibadah komunitas pada masa itu memerlukan pemimpin yang diakui, dana dari para dermawan, dan tanah yang tersedia.

Mojok memberikan latar tambahan tentang Be Tjok Lok. Menurut Mojok, pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang Tionghoa bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok dari Solo menjadi pemimpin kawasan tersebut lantaran berjasa pada saat perang. Ia pun mendapat kuasa untuk berbisnis, mulai dari candu hingga rumah gadai. Indonesiana merangkai keterangan yang sejalan, yaitu bahwa Be Tjok Lok dijadikan pachter candu dan rumah gadai sehingga menjadi hartawan besar dan kaya raya, lalu diangkat menjadi Kapten. Istilah pachter di sini merujuk pada pemegang hak usaha monopoli yang dilelang pemerintah kolonial, dan keterangan ini menjelaskan dari mana kekayaan yang kemudian memungkinkan hibah tanah itu berasal.

Pembaca masa kini mungkin merasa janggal membaca bahwa dana dan tanah untuk rumah ibadah berasal dari usaha candu dan rumah gadai. Namun, dalam konteks sejarah kolonial, kedua usaha itu adalah usaha legal yang dikuasai melalui lelang pemerintah, dan tokoh Tionghoa yang memegangnya memang sering menjadi hartawan sekaligus pemimpin komunitas. Artikel ini menyampaikan keterangan itu apa adanya, sesuai sumber, tanpa membenarkan atau menghakimi usaha tersebut dengan ukuran masa kini, karena yang menjadi fokus adalah bagaimana kekayaan itu kemudian dialihkan menjadi tanah untuk kepentingan bersama.

Tanah Hibah 1864: Berdirinya Kelenteng Liong Hok Bio

Titik balik kisah ini terjadi pada tahun 1864. Be Tjok Lok menghibahkan tanahnya untuk menjadi Kelenteng Liong Hok Bio. Mojok menulis kalimat itu secara langsung, yaitu bahwa Be Tjok Lok kemudian menghibahkan tanahnya pada tahun 1864 untuk menjadi Kelenteng Liong Hok Bio. Espos menambahkan bahwa Kapiten Be Tjok Lok memiliki inisiatif untuk membangun Kelenteng Liong Hok Bio bersama para dermawan lain di Magelang pada tahun 1864, dan bahwa kelenteng itu dibangun tepat di Gang Ngarakan yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang.

Dengan demikian, pendirian kelenteng ini bukanlah proyek satu orang semata, melainkan gotong royong komunitas yang dipimpin oleh kapitan dan didukung para dermawan. Keterangan ini penting, karena menunjukkan bahwa kelenteng sejak awal adalah milik bersama, bukan bangunan pribadi. Tanah hibah menjadi modal awal, sedangkan dana dari umat dan dermawan memungkinkan bangunan itu berdiri dan kemudian diperluas.

Setelah kelenteng berdiri, patung Twa Pek Kong yang selama ini berada di Ngarakan dipindahkan ke kelenteng ini. Mojok menulis bahwa patung Twa Pek Kong ikut berpindah ke kelenteng ini dari Ngarakan, dan Indonesiana menulis hal yang sama, yaitu bahwa setelah kelenteng jadi, Twa Pek Kong yang ada di Ngarakan dipindah ke kelenteng ini. Perpindahan patung ini memiliki makna simbolis yang dalam, karena patung yang sama yang dibawa dalam pengungsian dari Batavia, dijaga di Desa Jono, dan dipelihara di Ngarakan, akhirnya mendapatkan rumah yang tetap di kelenteng yang baru. Kelenteng pun menjadi tempat ibadah warga Tionghoa di Magelang, sebagaimana ditulis Mojok.

Indonesiana menambahkan keterangan bahwa Be Tjok Lok berkaul menyerahkan tanahnya untuk dijadikan kelenteng, dan setelah kelenteng tersebut berdiri, kelenteng itu diberi nama Liong Hok Bio. Istilah kaul di sini merujuk pada nazar atau janji yang diucapkan kepada yang disembah, sehingga hibah tanah itu tidak hanya dibaca sebagai keputusan administratif, melainkan juga sebagai pemenuhan janji keagamaan. Nama Liong Hok Bio sendiri kemudian melekat sebagai identitas kelenteng ini hingga sekarang, dan dalam penulisan resmi, kelenteng ini juga disebut sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma atau TITD Liong Hok Bio.

Seiring waktu, jumlah masyarakat Tionghoa yang beribadah di kelenteng semakin bertambah. Indonesiana menulis bahwa para umat kemudian melakukan pengumpulan dana untuk membeli petak tanah yang ada di sekitar kelenteng. Keterangan ini menunjukkan pola perkembangan yang umum pada rumah ibadah komunitas, yaitu perluasan bertahap mengikuti pertumbuhan jemaat, bukan pembangunan sekali jadi dalam bentuk akhirnya. Kelenteng yang dilihat pengunjung sekarang adalah hasil dari lapisan-lapisan pembangunan dan perluasan itu.

Pengelolaan: Kong Kwan, THHK, dan Biokong Pertama

Pengelolaan kelenteng juga mengalami pergantian. Menurut Indonesiana dan Mojok, kelenteng semula dikelola oleh yayasan Kong Kwan hingga tahun 1906. Setelah itu, didirikan Yayasan Tiong Hwa Hwee Kwan atau THHK sebagai pengelola selanjutnya. Mojok dalam artikel tentang kelenteng menulis bahwa saat ini pengelolaan kelenteng berada di bawah Yayasan Tiong Hwa Hwee Kwan atau THHK, sehingga keterangan ini konsisten antara sumber lama dan sumber yang lebih baru.

Indonesiana menambahkan satu keterangan personal yang menarik, yaitu bahwa pemimpin kelenteng atau Biokong pertama bernama Soe Tiauw Hok, yang menjabat selama 30 tahun. Keterangan tentang masa jabatan yang panjang ini memberikan gambaran tentang kesinambungan pengelolaan pada masa awal, ketika kelenteng masih dipimpin oleh satu tokoh dalam waktu yang lama. Artikel ini menyampaikan nama dan masa jabatan itu sesuai sumber, tanpa menambahkan keterangan lain tentang Biokong pertama yang tidak ditemukan dalam sumber yang dibaca.

Pergantian dari Kong Kwan ke THHK pada tahun 1906 juga dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan zaman. Pada awal abad ke-20, organisasi-organisasi Tionghoa di Hindia Belanda mengalami penataan dan pembaruan, dan pengelolaan rumah ibadah pun ikut menyesuaikan. Namun, artikel ini tidak menguraikan lebih jauh tentang dinamika internal kedua yayasan tersebut, karena sumber-sumber yang dibaca tidak memberikan keterangan yang cukup untuk itu, dan mengarang penjelasannya akan melanggar prinsip kehati-hatian dalam penulisan sejarah.

Kebakaran 2014 dan Pemugaran: Bangunan yang Bangkit Kembali

Pada tahun 2014, Kelenteng Liong Hok Bio mengalami musibah kebakaran. Visit Jawa Tengah menulis kalimat yang singkat dan jelas, yaitu bahwa pada tahun 2014 kelenteng pernah mengalami musibah kebakaran, namun sudah dipugar kembali. Mojok menambahkan bahwa kebakaran tersebut membuat bentuk bangunan sedikit berubah, tepatnya berdiri bangunan baru yang letaknya di atas kelenteng, kendati sebagian besar arsitekturnya masih terlihat otentik.

Keterangan tentang bangunan baru di atas kelenteng ini penting bagi pengunjung yang memperhatikan detail bangunan. Bangunan yang dilihat sekarang bukanlah replika yang sepenuhnya sama dengan bangunan sebelum kebakaran, melainkan hasil pemugaran yang mempertahankan sebagian besar arsitektur otentik sambil menambahkan bagian baru. Perpaduan antara yang lama dan yang baru ini justru menjadi bagian dari cerita bangunan, yaitu bahwa kelenteng ini pernah runtuh oleh api dan dibangun kembali oleh komunitasnya.

Espos memberikan keterangan tambahan tentang proses pemugaran, yaitu bahwa pada tahun 2016 Pemerintah Kota Magelang memberikan dana anggaran bantuan untuk perbaikan kelenteng, dan bahwa pembangunan ulang ini tidak mengubah bentuk bangunan yang sudah berusia 150 tahun itu. Espos juga menulis bahwa kelenteng yang sudah dipercantik ini diresmikan pada 25 Maret 2018. Artikel ini memakai tanggal peresmian tersebut sesuai Espos, tetapi tidak menuliskan nama pejabat peresmian di bagian ini, karena sumber-sumber yang beredar menuliskan ejaan nama pejabat itu secara berbeda, dan penulisan nama yang keliru justru akan merugikan ketepatan artikel. Keterangan selengkapnya tentang perbedaan ejaan itu dicatat dalam catatan riset yang menyertai draf ini.

Adapun penyebab kebakaran, artikel ini dengan sengaja tidak menuliskannya sebagai fakta tunggal. Sumber-sumber yang beredar menyebut penyebab yang berbeda, dan tidak ada sumber yang dibaca penuh dalam riset ini yang memberikan keterangan penyebab yang dapat dipastikan. Karena itu, draf ini hanya menyatakan fakta yang disepakati, yaitu bahwa kebakaran terjadi pada tahun 2014 dan kelenteng sudah dipugar kembali, sementara perbedaan keterangan tentang penyebabnya dicatat sebagai klaim yang dibuang dari naskah utama.

Bagi pembaca, pelajaran dari bagian ini bukan hanya tentang api dan bangunan, melainkan tentang ketahanan komunitas. Kelenteng yang sudah berusia 150 tahun pada masa pemugaran itu tidak ditinggalkan setelah terbakar, melainkan diperbaiki dengan bantuan pemerintah kota dan diresmikan kembali untuk digunakan. Bangunan yang berdiri sekarang adalah bukti bahwa komunitas memilih untuk membangun kembali, bukan untuk melupakan.

Imlek di Kelenteng: Dari Pembersihan Kimsin Sampai Sembahyang Cap Go Meh

Kalender ritual di Kelenteng Liong Hok Bio mencapai puncaknya pada rangkaian Tahun Baru Imlek. Berita7 mencatat bahwa setiap perayaan Tahun Baru Imlek, kelenteng ini dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi barongsai dan merasakan kemeriahan budaya Tionghoa. Visit Jawa Tengah menegaskan hal yang sama, yaitu bahwa kelenteng ini menjadi tempat perayaan tradisi keturunan Tionghoa seperti Imlek dengan kesenian barongsai. Bagi pengunjung yang datang dari luar kota, suasana Imlek di kelenteng ini adalah pintu masuk yang paling hidup untuk memahami budaya Tionghoa Magelang.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2574 pada tahun 2023, umat Tri Dharma di Kota Magelang membersihkan bagian kelenteng dan altar sekaligus patung dewa-dewi di TITD Liong Hok Bio pada Minggu, 15 Januari 2023. Menurut laporan BorobudurNews, puluhan peralatan, altar, serta 11 Kimsin atau patung dewa-dewi dibersihkan menggunakan kuas dan kain, dengan 13 altar di kelenteng tersebut. Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio, Gunawan, menjelaskan bahwa pada hari itu kelenteng melaksanakan upacara Sang An, yaitu mengantarkan Dewa Dapur naik ke atas untuk melaporkan segala tindak tanduk manusia. Rangkaian Imlek berlanjut dengan sembahyang malam Imlek pada 21 Januari 2023, Ci An pada hari keempat, sembahyang King Thi Kong pada tanggal 8, dan Cap Go Meh pada tanggal 15 penanggalan Imlek, dengan pesta kembang api dan kirab barongsai yang menggandeng kesenian lokal.

Rangkaian yang sama, menurut laporan itu, dilanjutkan dengan sembahyang pada malam Imlek yang jatuh pada tanggal 21 Januari 2023, kemudian Ci An atau Dewa Dapur turun pada hari keempat penanggalan Imlek, sembahyang King Thi Kong atau sembahyang besar pada tanggal 8 penanggalan Imlek, dan sembahyang Cap Go Meh pada tanggal 15 penanggalan Imlek. Laporan itu juga menyebut rencana pesta kembang api pada malam Imlek dan Cap Go Meh, dengan kembang api pada malam tahun baru yang tidak sebesar pada Cap Go Meh, serta kirab barongsai pada Cap Go Meh yang menggandeng kesenian lokal. Rangkaian ini menunjukkan bahwa Imlek di kelenteng ini bukanlah satu malam perayaan, melainkan rangkaian ibadah dan perayaan yang berlangsung selama dua minggu penuh.

Pemahaman tentang Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian Imlek juga ditegaskan oleh penelitian Universitas Diponegoro. Penelitian itu menulis bahwa perayaan Cap Go Meh dirayakan lima belas hari setelah Tahun Baru Imlek, dan menyebut penanggalan Cap Go Gwee. Dengan kata lain, Cap Go Meh adalah hari kelima belas bulan pertama penanggalan Tionghoa, yang menutup rangkaian Imlek. Penjelasan ini membantu pengunjung memahami mengapa kirab Cap Go Meh terasa sebagai puncak, bukan sebagai acara yang berdiri sendiri.

Di luar rangkaian Imlek, kelenteng ini juga menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan spiritual yang lebih luas. Mojok mencatat bahwa Kelenteng Liong Hok Bio sempat viral pada akhir Mei 2023, karena bangunan ini menjadi tempat singgah 32 biksu dari Thailand yang melakukan tradisi Thudong atau berjalan kaki dari negerinya menuju Candi Borobudur. Berita7 menambahkan bahwa menjelang perayaan Waisak 2025, kelenteng ini juga menjadi tempat persinggahan Bhiksu Tudong, yang dijadwalkan berada di Kelenteng Liong Hok Bio pada 9 sampai 10 Mei 2025 untuk menjalankan serangkaian kegiatan keagamaan dan disambut hangat oleh para pengurus serta Wali Kota Magelang. Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa kelenteng ini tidak hanya menjadi simpul lokal, melainkan juga simpul dalam jaringan perjalanan keagamaan yang melintasi kota dan negara.

Kirab Budaya Cap Go Meh: Panggung Toleransi di Jalanan Magelang

Kirab Budaya Cap Go Meh adalah acara tahunan yang paling dikenal dari Kelenteng Liong Hok Bio. Penelitian Universitas Diponegoro tentang kirab ini menyimpulkan bahwa Kelenteng TITD Liong Hok Bio Magelang merupakan tempat ibadah dan pusat kegiatan budaya yang berperan penting dalam memperkuat toleransi dan hubungan antarbudaya. Melalui Kirab Budaya Cap Go Meh, kirab ini menjadi simbol toleransi, mengurangi sentimen anti-Tionghoa, dan meningkatkan toleransi antarbudaya di Kota Magelang.

Penelitian yang sama menjelaskan bahwa kirab ini diselenggarakan untuk menutup rangkaian Imlek, dan menjadi simbol toleransi beragama yang tercermin dari antusiasme ribuan masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan etnis, bahkan masyarakat dari daerah luar Kota Magelang datang untuk menyaksikan kirab ini. Tujuan kirab ini, menurut penelitian itu, adalah untuk meningkatkan kondisi Kota Magelang agar lebih aman dan sejahtera bagi penduduknya. Tujuan yang dirumuskan dengan sederhana ini penting, karena menunjukkan bahwa kirab tidak hanya dipahami sebagai tontonan, melainkan juga sebagai doa bersama untuk kota.

Kirab tahunan ini bahkan menjadi objek penelitian Universitas Diponegoro, yang meneliti panitia Kirab Budaya Cap Go Meh 2024 dari kelenteng ini. Menurut penelitian itu, kirab ini menjadi simbol toleransi yang mengurangi sentimen anti-Tionghoa dan meningkatkan toleransi antarbudaya di Kota Magelang. Strategi komunikasi yang dipakai kelenteng memadukan konvergensi, yaitu mengintegrasikan budaya tradisional dengan elemen budaya Tionghoa untuk mengurangi potensi konflik, dan divergensi, yaitu menonjolkan warisan budaya Tionghoa dan memperkuat ikatan spiritual jemaat, dengan penerapan yang didominasi strategi konvergensi. Kirab ini dinilai memberi efek komunikasi yang positif terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat Kota Magelang terhadap budaya Tionghoa. Cap Go Meh sendiri dirayakan lima belas hari setelah Tahun Baru Imlek, atau yang disebut penanggalan Cap Go Gwee, sebagai penutup rangkaian Imlek.

Yang dapat disampaikan dengan lebih kuat, karena berasal dari abstrak penelitian Universitas Diponegoro yang dibaca penuh, adalah strategi yang dipakai kelenteng dalam kirab ini. Penelitian itu menemukan bahwa kelenteng menerapkan strategi konvergensi, yaitu mengintegrasikan budaya tradisional dengan elemen budaya Tionghoa untuk mengurangi potensi konflik dan meningkatkan toleransi, serta strategi divergensi, yaitu menonjolkan warisan budaya Tionghoa dan memperkuat ikatan spiritual jemaat Kelenteng Liong Hok Bio. Meskipun kedua strategi dipakai, penerapan yang dominan adalah strategi konvergensi. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa kirab budaya ini memiliki efek komunikasi yang positif terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat Kota Magelang terhadap budaya Tionghoa, serta potensi perubahan perilaku dalam menghargai keberagaman budaya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, kirab ini berhasil karena tidak menampilkan budaya Tionghoa sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan sebagai sesuatu yang dirayakan bersama. Kesenian lokal digandeng, jalanan Pecinan menjadi panggung bersama, dan penonton dari berbagai latar belakang menjadi bagian dari perayaan. Di sinilah letak nilai wisata dari kirab ini, yaitu bahwa pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga merasakan bagaimana sebuah kota merayakan keberagaman di ruang publik.

Mojok dalam artikel tentang bangunan ikonik Magelang juga mencatat pola yang sama, yaitu bahwa menjelang Imlek, Kelenteng Liong Hok Bio biasanya menyiapkan serangkaian acara sembahyang, bakti sosial, hingga kirab Cap Go Meh yang biasanya meriah. Rangkaian ini menunjukkan bahwa kirab bukanlah acara tunggal yang tiba-tiba muncul, melainkan puncak dari rangkaian ibadah dan kegiatan sosial yang sudah berjalan selama berminggu-minggu.

Kirab Budaya Meruwat Bumi dan Bakti Sosial: Kelenteng yang Melayani Warga

Selain Kirab Budaya Cap Go Meh, Kelenteng Liong Hok Bio juga dikenal melalui acara budaya besar lainnya, yaitu Kirab Budaya Meruwat Bumi atau Jutbio. Berita7 menulis bahwa acara ini diikuti oleh sekitar 5.000 umat Tri Dharma dari lebih dari 100 kelenteng di seluruh Jawa, dan bahwa tradisi ini memperkuat ikatan budaya dan spiritual antar komunitas Tri Dharma. Angka-angka ini disampaikan sesuai laporan Berita7, dan menunjukkan skala jaringan yang dimiliki kelenteng ini, yaitu bukan hanya sebagai pusat kota, melainkan juga sebagai simpul pertemuan bagi ratusan kelenteng dari berbagai daerah.

Di sisi sosial, Berita7 mengutip Dimas, salah satu staf kelenteng, yang mengungkapkan bahwa selain kegiatan keagamaan, Kelenteng Liong Hok Bio juga rutin menggelar kegiatan sosial seperti pembagian 1.000 paket sembako untuk masyarakat kurang mampu. Kegiatan ini penting untuk dicatat, karena menunjukkan bahwa kelenteng tidak hanya merayakan kebudayaan, tetapi juga menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan, tanpa membatasi penerima berdasarkan latar belakang. Bagi pembaca yang ingin memahami kelenteng sebagai lembaga sosial, keterangan tentang sembako ini adalah bukti yang konkret, meskipun jumlah paket pada setiap kegiatan dapat berbeda dari tahun ke tahun.

Perpaduan antara kirab besar, jaringan kelenteng se-Jawa, dan bakti sosial ini menjelaskan mengapa kelenteng ini disebut sebagai simbol perdamaian, warisan budaya, dan solidaritas sosial yang terus hidup di tengah masyarakat Magelang, sebagaimana ditulis Berita7. Tiga sebutan itu bukanlah slogan kosong, melainkan merangkum tiga fungsi yang dapat diverifikasi dari sumber, yaitu fungsi ibadah dan budaya, fungsi jaringan komunitas, dan fungsi pelayanan sosial.

Mengapa Kelenteng Ini Layak Dikunjungi

Bagi wisatawan yang menyusun rencana perjalanan di Kota Magelang, Kelenteng Liong Hok Bio menawarkan tiga nilai sekaligus. Nilai pertama adalah nilai sejarah, yaitu kisah perjalanan komunitas Tionghoa dari Batavia pada tahun 1740, melalui Desa Jono dan Pegunungan Menoreh, hingga menetap di Ngarakan dan membangun kelenteng pada tahun 1864. Nilai kedua adalah nilai budaya, yaitu rangkaian Imlek dan Cap Go Meh, barongsai dan liong, serta kirab yang membuka ruang pertemuan antarbudaya. Nilai ketiga adalah nilai kota, yaitu posisi kelenteng di pusat kota yang memudahkan wisatawan untuk melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun dan kawasan Pecinan.

Nilai-nilai ini membuat kelenteng ini cocok dikunjungi oleh berbagai jenis wisatawan. Wisatawan sejarah dapat membaca kelenteng ini sebagai penanda migrasi dan kebijakan kolonial, wisatawan budaya dapat datang pada musim Imlek dan Cap Go Meh untuk menyaksikan kirab, dan wisatawan keluarga dapat menjadikan kelenteng ini sebagai pemberhentian singkat yang padat cerita di tengah penjelajahan pusat kota. Kelenteng ini juga cocok bagi wisatawan yang ingin memahami Magelang tidak hanya melalui candi dan gunung, tetapi juga melalui kehidupan komunitas kota yang sudah berakar selama ratusan tahun.

Sebagai penanda kawasan, penelitian tentang morfologi kawasan Pecinan Kota Magelang menyebut Kelenteng Liong Hok Bio sebagai bangunan utama sebagai penanda dan identitas kawasan Pecinan Kota Magelang. Keterangan ini menegaskan bahwa kelenteng ini bukan sekadar salah satu bangunan di kawasan Pecinan, melainkan bangunan yang menjadi penanda kawasan itu sendiri. Ketika seseorang menyebut Pecinan Magelang, kelenteng ini adalah salah satu bangunan yang pertama kali terbayang.

Panduan Berkunjung dengan Hormat

Karena kelenteng ini adalah tempat ibadah yang masih aktif, kunjungan wisata perlu dilakukan dengan sikap yang menghormati. Pengunjung sebaiknya menjaga ketenangan di dalam ruang ibadah, tidak mengganggu umat yang sedang sembahyang, dan mengikuti arahan pengurus kelenteng tentang area yang boleh dimasuki dan area yang sebaiknya tidak dimasuki. Sikap ini berlaku umum untuk semua tempat ibadah, dan di kelenteng ini sikap tersebut juga menjadi bentuk penghargaan terhadap sejarah panjang komunitas yang merawatnya.

Pengunjung juga sebaiknya berpakaian sopan dan menjaga kebersihan selama berada di lingkungan kelenteng. Pada saat perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh, pengunjung perlu datang lebih awal dan bersiap menghadapi keramaian, karena kelenteng dan jalan di sekitarnya dipadati pengunjung dan peserta kirab. Karena jadwal kirab dan rangkaian Imlek mengikuti penanggalan Tionghoa dan dapat berubah dari tahun ke tahun, pengunjung sebaiknya memeriksa jadwal terbaru dari pengurus kelenteng atau dari pemberitahuan resmi sebelum berangkat, dan tidak mengandalkan tanggal tahun sebelumnya sebagai patokan.

Untuk menikmati kunjungan secara utuh, pengunjung dapat memulai dari Alun-Alun Kota Magelang, kemudian berjalan ke kelenteng di sisi selatan alun-alun, lalu melanjutkan penjelajahan ke kawasan Pecinan di Jalan Pemuda. Rute ini memungkinkan pengunjung untuk melihat secara berurutan pusat kota, rumah ibadah bersejarah, dan kawasan perdagangan lama yang menjadi latar sejarah kelenteng ini. Rute ini juga memudahkan pengunjung untuk memahami mengapa kelenteng ini berada di tempatnya sekarang, yaitu di jantung kawasan tempat komunitasnya bermukim dan berdagang.

Artikel ini tidak mencantumkan jam buka dan harga tiket masuk, karena keterangan tersebut tidak ditemukan dalam sumber-sumber yang dibaca penuh dalam riset ini. Pengunjung yang memerlukan keterangan praktis tersebut sebaiknya menanyakannya langsung kepada pengurus kelenteng sebelum berkunjung. Ketidakhadiran keterangan praktis ini bukanlah kekurangan yang ditutupi, melainkan kejujuran riset, yaitu bahwa yang ditulis hanyalah yang dapat diverifikasi.

Penutup: Bangunan Tua yang Terus Menghidupkan Kota

Kelenteng Liong Hok Bio adalah bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 1864, terbakar pada tahun 2014, dipugar, dan diresmikan kembali pada tahun 2018. Di balik rentang tahun itu, tersimpan kisah pengungsian dari Batavia pada tahun 1740, permukiman di Desa Jono, perjalanan menembus Pegunungan Menoreh, hibah tanah dari Be Tjok Lok, pengelolaan oleh Kong Kwan dan THHK, serta kirab Cap Go Meh yang setiap tahun menutup rangkaian Imlek di jalanan Pecinan.

Kisah itu tidak berhenti di masa lalu. Kelenteng ini masih menjadi tempat ibadah, masih menjadi pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, masih menjadi simpul pertemuan bagi ratusan kelenteng dalam Kirab Budaya Meruwat Bumi, masih menyalurkan bantuan sosial kepada warga, dan masih menjadi tempat persinggahan bagi para biksu yang berjalan menuju Borobudur. Bangunan ini, dengan demikian, bukan museum yang diam, melainkan ruang hidup yang terus dipakai dan terus dirawat.

Bagi Kota Magelang, keberadaan kelenteng ini adalah pengingat bahwa kota ini dibentuk oleh banyak lapisan migrasi, perdagangan, kebijakan kolonial, dan perayaan bersama. Bagi pengunjung, kelenteng ini adalah ajakan untuk melihat Magelang dengan lebih lengkap, yaitu tidak hanya dari ketinggian gunung dan kemegahan candi, tetapi juga dari jalanan Pecinan, dari altar yang dibersihkan menjelang Imlek, dan dari kirab yang menutup rangkaian perayaan dengan doa agar kota menjadi lebih aman dan sejahtera. Di situlah letak nilai abadi Kelenteng Liong Hok Bio, yaitu sebagai rumah ibadah, penanda sejarah, dan panggung toleransi yang terus menyala di jantung Kota Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *