Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Makam Kyai Raden Santri Gunungpring: Situs Ziarah Ulama…
Wisata

Makam Kyai Raden Santri Gunungpring: Situs Ziarah Ulama Berdarah Biru di Muntilan

Di atas bukit bambu di barat Muntilan, seorang pangeran Mataram yang menyembunyikan gelarnya dimakamkan di kompleks melingkar milik Keraton Yogyakarta, dan peziarah dari berbagai daerah masih datang untuk tabarruk hingga kini.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 22.45 WIB
Ilustrasi kompleks makam melingkar di atas bukit bambu dengan tangga panjang
Ilustrasi kompleks Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring. (Ilustrasi: KabarTidar)

Di atas sebuah bukit di sisi barat Kota Muntilan, di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, terdapat kompleks pemakaman yang selalu ramai diziarahi dari berbagai daerah. Kompleks itu adalah Makam Kyai Raden Santri, tempat peristirahatan terakhir seorang ulama berdarah biru yang meninggalkan istana, menyembunyikan identitas kepangeranannya, dan memilih hidup membaur dengan rakyat untuk menyebarkan Islam di lereng barat Gunung Merapi. Makam utamanya, yang paling tinggi dan paling besar di antara makam-makam di kompleks itu, menjadi tujuan utama peziarah yang datang dengan niat tabarruk, mencari berkah, sekaligus mengenang peran Kyai Raden Santri dalam Islamisasi Muntilan pada kurun 1660 hingga 1810.

Makam Kyai Raden Santri bukan sekadar situs ziarah. Ia adalah pusat dari sebuah kawasan yang sejarah kepemilikannya berada di bawah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang pembangunannya dilakukan secara bertahap sejak 1990 melalui gotong royong masyarakat dan bantuan keraton, dan yang hingga kini masih terus direnovasi dari masa ke masa. Di kompleks yang disebut Astana Puroloyo ini dimakamkan pula anak cucu Kyai Raden Santri beserta sejumlah auliya dan ulama, dengan susunan makam yang melingkar, sesuatu yang jarang ditemukan di kompleks makam kuno, serta dua makam perempuan yang menjadi penanda tersendiri.

Makam Kyai Raden Santri: Pangeran yang Memilih Menjadi Santri

Kyai Raden Santri adalah keturunan Prabu Brawijaya V dari Majapahit dan saudara dari Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam. Menurut jurnal PANANGKARAN Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kyai Raden Santri merupakan kakak tiri dari Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan dengan garwo anpil atau istri selir. Meskipun lahir dari istri selir, Kyai Raden Santri mempunyai peranan yang cukup besar di kerajaan maupun di masyarakat. Ia akrab dengan Sutawijaya atau Panembahan Senopati, dan pada awal perkembangan Mataram, ketika kerajaan melakukan perluasan wilayah, Kyai Raden Santri menjadi panglima perang Kerajaan Mataram.

Perlahan Kyai Raden Santri merasa bosan di kerajaan dan pamit kepada Sutawijaya untuk mengembara. Pada tahun 1660, Kyai Raden Santri sampai di Dusun Santren, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Nama aslinya adalah Pangeran Singosari, dan nama Raden Santri adalah nama samaran yang dipakainya agar tidak diketahui pihak keraton, karena bagaimanapun ia masih dibutuhkan oleh keraton. Ia berkelana dan akhirnya menetap di Dusun Santren, Gunungpring, Muntilan. Di sana ia lebih akrab dengan panggilan Kyai daripada Pangeran Singosari, karena kedatangannya bertujuan berdakwah, dan banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa ia adalah pangeran dari Kerajaan Mataram Islam. Sisa umur hidupnya ia gunakan untuk berdakwah dan mendekatkan diri kepada Allah, dan setelah ia meninggal pada 1810, makamnya yang berada di Gunungpring masih kerap diziarahi.

Sejak awal Kyai Raden Santri memang lebih menekuni ilmu agama sebagaimana diajarkan Wali Sanga ataupun para ulama setelahnya. Selama di kerajaan, Kyai Raden Santri telah berguru kepada Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria, sehingga ia sudah mempunyai bekal untuk berdakwah di Magelang. Ia kemudian pergi mengembara dalam rangka menyebarkan agama di pedalaman, dan di tanah perbukitan sisi barat Gunung Merapi, kakak Senopati tersebut menetap. Bukit yang tidak seberapa tinggi itu memiliki gerumbul rumpun bambu, dan itulah sebabnya daerah tempat tinggal Pangeran Singosari ini kemudian lebih dikenal dengan nama Gunungpring.

Pangeran Singosari ingin benar-benar nyawiji, membaur dengan rakyat, maka ia justru sengaja menutupi identitas kepangeranannya. Ia dikenal alim dan pernah nyantri di pesantren, maka masyarakat sekitar menjulukinya dengan sebutan Raden Santri. Kyai Raden Santri tergolong ulama awal yang menyebarkan agama di wilayah sekawan keblat gangsal pancernya Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan deretan pegunungan Menoreh di sepanjang Kali Progo. Keturunan Kyai Raden Santri adalah Kyai Krapyak I, Kyai Krapyak II, Kyai Krapyak III, Kyai Harun, Kyai Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogorekso, Raden Moch Anwar AS, Raden Qowaid Abdul Sajak, hingga Kyai Dalhar. Anak keturunan Kyai Raden Santri inilah yang kemudian menjadi ulama penyebar dan menjadi tokoh agama Islam di wilayah Gunungpring, dan mereka dimakamkan di kompleks makam Gunungpring bersama Kyai Raden Santri.

Gunungpring: Bukit Bambu di Barat Muntilan

Makam Kyai Raden Santri terletak di sisi barat Kota Muntilan, tepat di atas sebuah bukit. Makam Gunungpring secara administratif berada di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Namun demikian, berdasarkan asal-usul sejarah kepemilikan, kompleks makam ini merupakan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Reh Kawedanan Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo, dan makam ini disebut Astana Puroloyo. Kompleks makam Kyai Raden Santri beserta para anak cucunya di Gunungpring berada di wilayah Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, di sisi barat Kota Muntilan, tepat di atas sebuah bukit yang sangat asri.

Nama Gunungpring sendiri berasal dari keadaan alam di sekitarnya. Berdasarkan laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta yang dikutip Kabar Jawa, wilayah ini dulunya merupakan daerah perbukitan yang ditumbuhi pohon pring atau bambu dalam jumlah sangat banyak, sehingga dari kejauhan tampak bukit yang seolah tertutup rapat oleh rimbunnya rumpun bambu. Gambaran alam itulah yang melahirkan nama Gunungpring, gabungan dari kata gunung yang berarti pegunungan dan pring yang berarti bambu. Dusun Gunungpring, Muntilan, Magelang merupakan suatu pegunungan yang ditumbuhi oleh rumpun-rumpun bambu dan kemudian dibuka oleh Kyai Raden Santri untuk mengajarkan agama Islam, sampai kemudian menjadi sebuah pesanggrahan dan lama-lama menjadi sebuah dusun yang kemudian terkenal dengan nama Dusun Gunungpring.

Lokasi untuk tradisi ziarah Kyai Raden Santri berada di Dusun Gunungpring yang berjarak sekitar 0,5 kilometer dari kantor Kepala Desa Gunungpring dan jalan raya jurusan Borobudur-Muntilan melalui jalur Gunungpring. Saat memasuki kaki bukit sebagai akses masuk ke kompleks makam Kyai Raden Santri di Gunungpring, peziarah akan dapat melihat terminal parkir dengan deretan ruko yang menjajakan berbagai peralatan ibadah maupun suvenir hasil kerajinan masyarakat setempat. Kehadiran terminal parkir dan ruko itu menunjukkan bahwa ziarah di Gunungpring telah menjadi kegiatan yang terorganisasi dan berdampak pada ekonomi warga sekitar, bukan sekadar kunjungan perorangan yang datang dan pergi tanpa jejak.

Kompleks makam ini juga dekat dengan peninggalan lain di Muntilan. Candi Ngawen, kompleks lima candi Buddha di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, berjarak sekitar dua kilometer sebelah selatan Makam Kyai Raden Santri Gunungpring, sehingga peziarah yang datang ke Gunungpring dapat melanjutkan perjalanan ke situs Buddha abad ke-8 hingga ke-9 itu dalam satu rute yang sama. Keterkaitan ini menunjukkan betapa padatnya lapisan sejarah di Muntilan: dalam radius beberapa kilometer, terdapat makam ulama penyebar Islam, candi Buddha Mataram Kuno, dan sentra kerajinan yang memasok kawasan Borobudur. Untuk kisah Candi Ngawen, pembaca dapat melihat artikel Candi Ngawen di KabarTidar.

Dakwah Tanpa Paksaan di Tengah Masyarakat Hindu-Buddha

Kondisi Kabupaten Magelang pada tahun 1660, ketika Kyai Raden Santri tiba, masyarakatnya mayoritas masih menganut agama Hindu, Buddha, dan bahkan pagan. Kyai Raden Santri adalah ulama yang mula-mula datang ke Magelang, dan kedatangannya bermaksud untuk berdakwah, mengajak masyarakat masuk Islam. Kondisi keagamaan zaman dahulu sebelum Kyai Raden Santri menetap di Santren, Muntilan, Magelang masih menganut agama Hindu, Buddha, dan paganis yang jauh dari peradaban Islam. Saat itu orang-orang yang masih menganut agama Hindu, Buddha, dan paganis sadar diri karena melihat perilaku sehari-hari Kyai Raden Santri, tertarik dengan cara dakwahnya, dan sedikit demi sedikit mulai masuk Islam. Saat itu orang-orang belum mengenal Islam dan keadaan masih sangat sederhana, belum mengenal ilmu agama seperti salat, lalu Kyai Raden Santri mengajari salat kepada masyarakat.

Dakwah yang dilakukan Kyai Raden Santri sangat halus, menyentuh, lapang dada, tanpa kekerasan, dan tidak memaksa. Dalam melakukan dakwah Islam, Kyai Raden Santri memilih pendekatan sebagaimana gurunya berdakwah di tanah Jawa, yaitu menjalankan dakwah Islam melalui pendekatan budaya, seperti pertunjukan wayang dan nyanyian-nyanyian. Berdakwah dengan akhlak, tidak memaksa, dan tanpa kekerasan menjadikan masyarakat Kabupaten Magelang mudah menerima ajaran Islam. Selain itu, karena Kyai Raden Santri adalah ulama yang berdarah biru, masyarakat menjadi lebih patuh dan banyak yang masuk Islam. Pernah diceritakan tentang perilaku Kyai Raden Santri, misalnya tentang nyamuk yang menempel di tubuhnya yang tidak langsung dibunuh atau dipukul, tetapi ditiup. Kyai Raden Santri sebagai waliyullah mengemban misi yang sangat besar, yaitu membebaskan rakyat dari segala kebodohan dan bencana, sekaligus mengangkat derajat ke jenjang kehidupan yang lebih baik.

Dalam memperjuangkan kehidupan masyarakat sekitar Desa Gunungpring, Kyai Raden Santri mendapat dukungan dari para santrinya yang cukup banyak, sehingga muncul adanya Desa Santren. Sikap toleransi dan gotong royong antarwarga masyarakat Gunungpring sangat erat, hal tersebut terbukti ketika warga Desa Gunungpring sedang mempunyai hajatan, tahlilan, dan kegiatan keagamaan lainnya, tanpa disuruh mereka datang sendiri untuk membantu tetangganya dengan tenaga yang mereka punya, dan itu terbukti bahwa dakwah Kyai Raden Santri berhasil diterapkan oleh masyarakat. Situasi dan kondisi masyarakat Gunungpring sangat aman, tenteram, dan sejahtera, karena Kyai Raden Santri selalu mengayomi semua lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Beliau juga sabar dalam mengembangkan misi, bahkan rela mengorbankan harta bendanya demi kepentingan umat manusia.

Kyai Raden Santri juga berperan dalam bidang sosial budaya. Ia memberi nama-nama daerah yang ada di Magelang, khususnya daerah-daerah yang berada di Gunungpring, dan nama-nama daerah tersebut masih dipakai sampai sekarang, yaitu Dusun Santren, Dusun Ngawen, Dusun Nepen, Dusun Karaharjan, Dusun Padukuhan, dan Dusun Ngasem. Pemberian nama-nama daerah itu berdasarkan kondisi sosial budaya pada saat itu: Dusun Santren karena di daerah tersebut paling banyak santri dibandingkan dengan dusun lainnya, Dusun Ngawen karena dusun tersebut menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan budaya, Dusun Karaharjan karena melimpahnya sumber daya alam sehingga masyarakat dusun tersebut makmur, Dusun Padukuhan karena dijadikan tempat untuk berkumpul, dan Dusun Ngasem karena banyaknya pohon asem di daerah tersebut. Selain itu Kyai Raden Santri juga mengajarkan gugur gunung atau gotong royong pada masyarakat, yang pada waktu itu belum tertanam di masyarakat Magelang.

Dilihat dari sektor budaya, Desa Gunungpring pada masa Kyai Raden Santri telah menerapkan sistem budaya seperti tembang Jawa, alat kesenian Jawa, wayang kulit, kethoprak, dan sandiwara Islam yang dikembangkan oleh Walisongo, dan mendapat sambutan hangat oleh masyarakat. Sebagian masyarakat Gunungpring masih mempertahankan berbagai kepercayaan seperti persembahan sesaji yang dilakukan oleh warga masyarakat yang akan mengadakan upacara-upacara seperti perkawinan atau pesta dengan tujuan agar diberi perlindungan. Tradisi tersebut masih terpengaruh oleh kebudayaan agama Hindu yang merupakan pencerminan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Setelah masyarakat mulai mengenal kebudayaan yang diajarkan oleh Kyai Raden Santri, muncul kesenian lainnya seperti kesenian tradisional rebana yang banyak diminati masyarakat, perayaan hari besar Islam, sadranan, mitoni, miwiti, dan bahasa Jawa yang digunakan sebagai media komunikasi.

Keberadaan Kyai Raden Santri di Magelang bersamaan dengan kolonial Belanda, dan pendeta-pendeta banyak di wilayah Magelang untuk melakukan Kristenisasi. Menurut penuturan juru kunci kompleks makam, Pak Fauzan, yang diwawancarai pada 20 Oktober 2018, Kyai Raden Santri membuat strategi untuk membendung penjajahan Belanda dengan dakwahnya, yaitu menganggap bahwa orang-orang Belanda kafir, maka tidak boleh mengikuti gaya hidup mereka. Penuturan ini perlu dibaca sebagai bahasa tutur dan strategi dakwah pada masanya, bukan sebagai pernyataan politik masa kini, dan jurnal yang memuatnya menempatkan strategi itu dalam konteks dakwah yang hendak menjaga identitas keislaman masyarakat di tengah penjajahan dan misi Kristenisasi.

Astana Puroloyo: Kompleks Makam yang Disusun Melingkar

Sejarah kompleks Makam Gunungpring sendiri berawal dari Makam Kyai Raden Santri yang masih sederhana, ditempatkan di ketinggian 400 meter di atas Gunungpring. Makam Kyai Raden Santri paling tinggi dan besar dibandingkan dengan makam para auliya dan ulama yang dimakamkan di sana, karena penghormatan masyarakat terhadap kontribusi Kyai Raden Santri dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam cukup tinggi. Di dalam kompleks makam keluarga Kyai Raden Santri terdapat nisan-nisan dengan motif dan bahan pembuatan yang sama. Kraton Yogyakarta sebagai pelindung dan penasihat, berkaitan dengan Kyai Raden Santri, sehingga logo keraton ditempatkan di sisi dinding di sekitar makam. Bentuk bangunan sebagian besar kayu, perpaduan antara rumah joglo dengan desain rumah modern, dan terdapat kaligrafi yang mengelilingi makam. Korden warna hijau dan kuning yang terdapat di makam memiliki makna, yaitu kecintaan umat terhadap para ulama dan auliya yang tidak runtuh dan kokoh seperti tiang yang menjulang ke atas.

Tata ruang kompleks makam Kyai Raden Santri dapat dilihat stratifikasi sosial yang ada. Di dalam kompleks makam ini juga terdapat beberapa penerus dari Raden Santri beserta tokoh masyarakat sekitar yang terdahulu berada di luar kompleks makam utama. Makam-makam dalam kompleks ini memiliki susunan yang melingkar, dan susunan melingkar seperti ini jarang ditemukan di kompleks makam kuno. Di kompleks makam Kyai Raden Santri terdapat beberapa makam yang sering dikunjungi oleh para peziarah, antara lain makam Mbah Dalhar yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Darussalam Watu Congol. Menurut pengakuan tokoh masyarakat setempat, Mbah Dalhar bukan merupakan keturunan Kyai Raden Santri serta tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan pihak Keraton Yogyakarta Hadiningrat, namun karena untuk menghargai jasa-jasa dari Mbah Dalhar, maka jenazah Mbah Dalhar dimakamkan di kompleks makam Kyai Raden Santri. Meskipun makam Mbah Dalhar berada di kompleks makam Kyai Raden Santri, pengelola makam Mbah Dalhar dikelola oleh pihak Watu Congol, sehingga kompleks makam Kyai Raden Santri merupakan koalisi dari misi Puroloyo dan misi Watu Congol.

Adapun bagian-bagian penting yang terdapat dalam kompleks Makam Kyai Raden Santri, yaitu ruang bangsal, ruangan yang biasanya digunakan untuk beristirahat dan kadang juga digunakan untuk melakukan ibadah salat. Kemudian guci atau genthong, yaitu tempat penampungan air yang terbuat dari tanah liat dengan jumlah dua buah. Guci atau genthong tersebut berisi air yang biasanya diminum oleh peziarah atau pengunjung, karena air tersebut dianggap dapat membawa berkah dalam kehidupan. Kemudian ruangan utama makam, yang terdiri dari kijing makam Kyai Raden Santri yang telah diberi cungkup, kijing-kijing dari keturunan Kyai Raden Santri antara lain Kyai Krapyak III, Kyai Harun, dan Kyai Gus Djoko Rekso yang dibatasi dengan pagar besi dan berada pada sebelah barat kijing makam Kyai Raden Santri, kijing makam Ki Kertonjani dan Nyai Kertonjani yang berada di sebelah timur kijing makam Kyai Raden Santri, serta kijing makam Mbah Dalhar dan Mbah Abdurrahman yang berada dalam ruangan tersendiri dan terletak di sebelah selatan kijing makam Kyai Raden Santri. Selain bagian-bagian tersebut, terdapat pula pemakaman umum, musala, dan sebagainya.

Dari pencermatan tentang kompleks makam tersebut, ditemukan dua hal menarik. Pertama, susunan makam yang melingkar, yang jarang ditemukan di kompleks makam kuno. Kedua, dalam kompleks makam ini hanya terdapat dua makam wanita atau nyai, yaitu Nyai Harun yang merupakan istri dari Kyai Harun dan Nyai Gus Jogo Rekso yang merupakan istri dari Kyai Gus Jogo Rekso. Dua temuan ini menunjukkan bahwa kompleks makam Gunungpring bukan sekadar deretan kijing, melainkan tata ruang yang memiliki logika sosialnya sendiri: siapa yang dekat dengan makam utama, siapa yang berada di sisi barat dan timur, dan siapa yang ditempatkan di ruangan tersendiri di selatan, semuanya mencerminkan kedudukan dan hubungan masing-masing tokoh dengan Kyai Raden Santri.

Dibangun Gotong Royong, Direnovasi dari Masa ke Masa

Pada tahun 1988 keadaan kompleks makam dahulu sangat memprihatinkan, karena jalan licin mulai dari bawah hingga atas masih tanah, pasir, dan kerikil, belum ada pagar-pagar keliling, pembatas jalan, belum ada kamar mandi, tempat wudu, musala, pohon rimbun lebat, dan penjual, karena dahulu kompleks makam belum menjadi destinasi wisata religi. Keadaan makam masih tradisional, ada nisan dan batu-batu kecil. Saat itu pengurus juga berkunjung ke makam-makam lain sehingga mempunyai inisiatif dan inspirasi untuk memperbaharui wilayah kompleks makam, dengan cara mengumpulkan dana atau menabung sedikit demi sedikit melalui infak para peziarah, tidak menerima sumbangan dalam hal apapun, dan tidak meminta-minta oleh masyarakat sekitar.

Setelah dana tersebut terkumpul selama dua tahun, masyarakat mulai sedikit demi sedikit membeli material seperti semen, pasir, dan pagar, lalu membeli material tersebut sedikit demi sedikit di salah satu toko bangunan. Pihak toko percaya kepada masyarakat dan memberikan material tersebut, yang sudah disiapkan guna pembangunan kompleks makam untuk menghormati jasa para ulama dan auliya, lalu masyarakat dapat membayar kapan saja saat mempunyai dana yang cukup untuk melunasi biaya material yang dikeluarkan. Rencana awal pembangunan tersebut selama tiga tahun, ternyata satu tahun selesai, karena partisipasi dan solidaritas masyarakat sangat tinggi: secara gotong royong membangun secara bertahap, tenaga dari masyarakat sekitar gratis tanpa dipungut biaya, dan yang lainnya membantu dalam hal lain seperti konsumsi.

Jalan mulai diberi batu terlebih dahulu mulai dari bawah hingga atas, lalu membangun dinding. Batu bata diganti menjadi kayu, atap bambu diganti genting, dan dana yang sudah terkumpul banyak telah melunasi material. Tahun 1992 sampai tahun 1994 dilakukan pembangunan, tahun 1996 membangun musala, dan anggota DPR RI dari Golkar yang merupakan salah satu anak dari Sri Sultan Hamengku Buwono X datang meresmikan musala tersebut. Bangunan musala sangat istimewa karena dibangun dengan bahan yang tahan gempa, dan Ir. Fuad Hasan merupakan arsitek musala itu. Tahun 2000 pembangunan hampir selesai dan berhenti sejenak menerima bantuan, tahun 2000 sampai 2004 menabung lagi, dan setiap empat tahun menabung dan merenovasi terus-menerus. Tahun 2004 sampai 2008 berkembang lagi, dan setiap empat tahun pengurus yayasan dan masyarakat sekitar membangun lagi sedikit demi sedikit, sehingga memberikan tampilan baru di lingkungan kompleks dan memberi kenyamanan bagi peziarah.

Tahun 2015 kompleks makam mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp1,8 miliar setelah ada proyek dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gerbang bawah merupakan hasil dari revitalisasi itu, dan jalan dari bawah sampai atas merupakan rehabilitasi dari dana Rp1,8 miliar tersebut. Tahun 2016 pengurus mengumpulkan dana lagi tanpa meminta-minta oleh masyarakat, dan setiap tahun kompleks makam selalu berubah. Selain itu pihak yayasan menyumbangkan dana kepada sekolah-sekolah Islam, pondok pesantren yang berada di wilayah Muntilan, masjid dan musala, pembuatan jalan, memperbaiki irigasi, bendungan, sarana dan prasarana, gedung serba guna, fakir miskin, dan lain sebagainya. Pembangunan kompleks Makam Kyai Raden Santri secara bertahap dari tahun 1990 hingga sekarang masih tahap renovasi, perbaikan, dan penambahan bangunan di sekitar kompleks, dan sampai sekarang dijadikan sebagai wisata religi atau ziarah, dengan peran masyarakat terhadap pembangunan makam yang sangat tinggi.

Semula makam Kyai Raden Santri dikelola oleh suatu Yayasan Kyai Raden Santri yang beralamat di Jalan Kyai Raden Santri KM 1 Muntilan, dan yayasan tersebut didirikan sekitar tahun 1992 oleh RM Anwar As dan R Cowaid AS. Meskipun sudah berbentuk yayasan, pihak negara khususnya yang menangani pariwisata masih berusaha untuk mencampuri urusan dalam Yayasan Kyai Raden Santri, hal tersebut wajar karena banyaknya pengunjung yang berdatangan ke makam Kyai Raden Santri, baik yang berasal dari daerah sekitar Gunungpring maupun dari luar daerah. Para peziarah yang datang ke makam tersebut antara lain berasal dari Wonosobo, Kebumen, Malang, bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa seperti Lampung dan lain-lain. Melihat keadaan seperti itu, para ahli waris Kyai Raden Santri menghadap ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk dapat mengukuhkan status makam tersebut, dan akhirnya terhitung mulai sekitar tanggal 1 Mei 2000, makam Kyai Raden Santri Gunungpring dikelola oleh pihak Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Ziarah, Tabarruk, dan Kehidupan di Sekitar Makam

Hingga kini, peninggalan sejarah Kyai Raden Santri masih bisa dijumpai, dan makam dia bersama anak cucunya berada di kawasan atas bukit Gunungpring, tepatnya di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan. Lokasinya asri dan kerap menjadi tujuan utama peziarah yang datang dengan niat tabarruk atau mencari berkah. Kompleks makam tersebut bukan hanya sekadar situs ziarah, tetapi juga menyimpan nilai historis, dan berdasarkan catatan sejarah, makam Gunungpring merupakan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dengan status kepemilikan itu, jelas bahwa Gunungpring memiliki hubungan erat dengan sejarah kerajaan dan perkembangan Islam di tanah Jawa, dan tidak heran jika kemudian kawasan ini selalu ramai didatangi peziarah, baik dari Magelang maupun dari luar daerah.

Kisah tentang Kyai Raden Santri dan kompleks makamnya tidak hanya berpengaruh pada tradisi keagamaan, tetapi juga membentuk nilai budaya masyarakat sekitar. Cerita rakyat, keyakinan, dan praktik ziarah yang berlangsung hingga kini menunjukkan bagaimana sosok Kyai Raden Santri telah menjadi bagian dari identitas Gunungpring. Bagi masyarakat lokal, Gunungpring bukan hanya sebuah desa, melainkan simbol dari perpaduan antara sejarah, budaya, dan spiritualitas. Para peziarah yang datang bukan hanya ingin berdoa di makam Kyai Raden Santri, tetapi juga ingin merasakan ketenangan dari suasana perbukitan yang dipenuhi pohon bambu. Keindahan alam yang berpadu dengan kekayaan sejarah membuat Gunungpring memiliki daya tarik tersendiri, dan ziarah di tempat ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perjalanan budaya dan spiritual yang mengingatkan pada jejak para ulama penyebar Islam.

Di sekitar kisah Kyai Raden Santri, terdapat pula cerita tentang Watu Congol dan sendang yang memperkaya lanskap spiritual Gunungpring. Disebutkan bahwa saat Kyai Raden Santri menetap di Desa Santren, ia suka berkhalwat atau menyepi di puncak bukit Gunungpring. Suatu hari, ketika Kyai Raden Santri hendak pulang dari bukit Gunungpring menuju Desa Santren, ia mendapati sungai yang harus ia seberangi sedang meluap dan dilanda banjir. Kyai Raden Santri berkata kepada air, “Air, berhentilah, aku mau menyeberang”, maka luapan air itu pun berhenti, batu-batu sungai bermunculan kembali karena banjir telah reda, dan itulah sebabnya tempat tersebut diberi nama Watucongol yang berarti batu bermunculan. Sendang yang berkaitan dengan kisah itu terletak di Dusun Kolosendang, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Cerita-cerita seperti ini, yang diwariskan secara turun-temurun, adalah bagian dari bahasa tutur yang diteliti jurnal PANANGKARAN: bukan dokumen tertulis, melainkan ingatan kolektif yang menjaga nama tempat dan makna tempat tetap hidup.

Pada akhirnya, Makam Kyai Raden Santri Gunungpring adalah pengingat bahwa Islamisasi di Magelang tidak terjadi melalui penaklukan, melainkan melalui pembauran. Seorang pangeran yang menyembunyikan gelarnya, yang mengajar salat kepada masyarakat yang belum mengenalnya, yang memberi nama dusun-dusun sesuai watak dan alamnya, dan yang dimakamkan di puncak bukit bambu, meninggalkan warisan yang lebih tahan lama daripada istana: sebuah desa yang bernama dari bambu, sebuah kompleks makam yang dibangun gotong royong selama puluhan tahun, dan sebuah tradisi ziarah yang masih ramai dari Wonosobo hingga Lampung. Di atas bukit yang asri itu, sejarah, budaya, dan spiritualitas masih bertemu setiap hari, dan peziarah yang menapaki jalan dari bawah hingga atas sedang menapaki pula jejak seorang ulama yang memilih menjadi santri.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *