Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Kampung Kwarasan Magelang: Permukiman Sehat Karya Thomas Karsten…
Wisata

Kampung Kwarasan Magelang: Permukiman Sehat Karya Thomas Karsten yang Mengikuti Kontur Tanah

Di Kelurahan Cacaban, sebuah kampung hunian menyimpan pelajaran perencanaan kota yang masih terbaca dari tanahnya: rumah besar di kontur tinggi, rumah kecil di gang, dan sebuah lapangan teduh sebagai pusat bersama. Inilah kisah Kampung Kwarasan, tempat kesehatan warga pernah dirancang lewat udara, cahaya, dan halaman.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 22.45 WIB
Ilustrasi permukiman bertingkat mengikuti kontur dengan pohon beringin besar di lapangan tengah
Ilustrasi Kampung Kwarasan dengan rumah mengikuti kontur dan pohon beringin di lapangan tengah. (Ilustrasi: KabarTidar)

Di sebuah kawasan permukiman di Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, berdiri pelajaran perencanaan kota yang masih bisa dibaca dari jalan, gang, dan lapangannya. Kampung Kwarasan bukan objek wisata dengan gerbang dan loket, melainkan kampung hunian yang ditata pada era 1930-an sebagai jawaban atas persoalan kesehatan kota. Namanya sendiri menyimpan maksud itu: menurut penelitian M. Maria Sudarwani dan Iwan Priyoga yang dipresentasikan pada Seminar Heritage IPLBI 2017, kata Kwarasan berasal dari kata “waras” dalam bahasa Jawa yang berarti “sehat”. Kata “sehat” itu, menurut penelitian tersebut, dapat diartikan sebagai upaya menuju rumah yang sehat, atau dengan kata lain kawasan yang sehat. Karena itu, berjalan di Kampung Kwarasan pada dasarnya adalah berjalan di dalam sebuah gagasan lama tentang kota yang sehat, gagasan yang diwujudkan bukan dengan slogan, melainkan dengan kontur tanah, pembagian zona rumah, sebuah lapangan, dan halaman-halaman yang ditanami.

Kampung ini terletak lebih kurang satu kilometer di sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang sebagai pusat kota, menurut penelitian yang sama. Jarak itu penting untuk dipahami. Kampung Kwarasan tidak dibangun sebagai kawasan terpencil di pinggiran, melainkan sebagai bagian dari kota yang masih terhubung dengan pusatnya, tetapi cukup jauh untuk memiliki pusatnya sendiri. Pusat itu adalah lapangan. Di sekeliling lapangan itulah logika seluruh kawasan disusun: rumah-rumah besar di tanah yang tinggi, rumah-rumah sedang di bawahnya, dan rumah-rumah kecil yang dicapai melalui gang-gang menuju lapangan utama. Bagi pengunjung masa kini, pola itu masih terbaca, sekalipun sebagian rumah tentu telah berubah mengikuti kebutuhan penghuninya dari generasi ke generasi.

Artikel ini mengajak pembaca membaca Kampung Kwarasan sebagaimana seorang perencana kota membacanya: dari latar penyakit dan krisis ekonomi yang melatarbelakanginya, dari cara arsitek Thomas Karsten memperlakukan kontur tanah bukan sebagai hambatan melainkan sebagai bahan perancangan, dari lapangan yang dikonsep seperti alun-alun kota kecil, dari perhatian pada udara dan cahaya, hingga dari kawasan-kawasan terkait di sekitarnya, seperti Gladiool dan Bayeman Barat serta Monumen Tentara Pelajar. Semua itu dirangkai agar kunjungan ke kampung ini tidak berhenti pada sekadar melihat rumah-rumah tua, melainkan memahami mengapa rumah-rumah itu berdiri di tempatnya masing-masing, mengapa ukurannya berbeda-beda, dan mengapa sebuah lapangan kecil bisa menjadi kunci untuk memahami seluruh kawasan.

Kampung Kwarasan: Permukiman Sehat dari Masa Krisis

Menurut penelitian Sudarwani dan Priyoga, Kampung Kwarasan pada awal mulanya direncanakan oleh Thomas Karsten sebagai rumah murah, layak, dan sehat, yang dikenal saat itu sebagai “Perumahan Rakyat”. Penelitian itu, mengutip Sumalyo (1993), menempatkan Kwarasan dalam gagasan perumahan rakyat tersebut. Di sisi lain, penelitian yang sama menjelaskan latar yang lebih mendesak: Kwarasan dibangun sebagai permukiman sehat untuk menghindari wabah penyakit pes yang disebarkan tikus sebagai dampak krisis ekonomi yang melanda Kota Magelang pada awal tahun 1932. Dengan kata lain, permukiman ini lahir bukan dari keinginan mempercantik kota semata, melainkan dari kebutuhan yang sangat praktis, yaitu bagaimana membuat orang bisa tinggal dengan lebih sehat di tengah kota yang sedang dilanda krisis dan penyakit.

Gambaran tentang kondisi kota pada periode itu diperkuat oleh catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang yang ditulis Hamid Anwar. Dalam catatan tentang acara “Djeladjah 130 Tahoen Herman Thomas Karsten” pada 27 April 2014, pemandu perjalanan, Dr. Wahyu Utami, menyampaikan bahwa pada periode tahun 1930-an penataan permukiman di Magelang termasuk buruk, bahkan sempat terjadi banjir. Akibatnya, menurut penjelasan yang dikutip dalam catatan itu, terjadi pula wabah penyakit karena adanya perumahan kumuh. Akhirnya, pemerintah kota dengan dibantu oleh arsitek Thomas Karsten memulai program penataan kampung kumuh untuk disulap menjadi permukiman sehat. Kisah ini menegaskan satu hal: Kampung Kwarasan tidak dapat dipahami tanpa memahami kampung kumuh yang hendak diperbaikinya. Ia adalah koreksi atas permukiman yang padat, becek, dan rawan penyakit.

Nama Kwarasan pun menjadi penanda niat tersebut. Menurut penelitian Sudarwani dan Priyoga yang mengutip Utami (2004), kata “sehat” dalam nama ini sejalan dengan adanya Rumah Sakit Paru-Paru yang didirikan di kawasan tersebut untuk kebutuhan kesehatan masyarakat kota dan sekitarnya. Catatan ini perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian itu tidak mengatakan bahwa rumah sakit adalah bagian dari denah perumahan yang sama, melainkan bahwa gagasan “sehat” di kawasan ini memiliki konteks yang lebih luas, yaitu lingkungan pelayanan kesehatan yang berada di sekitarnya. Bagi pembaca masa kini, yang penting adalah memahami bahwa kesehatan di sini tidak dimaknai secara sempit sebagai sekadar rumah yang bersih, melainkan sebagai kawasan yang dirancang untuk mendukung kehidupan yang sehat secara menyeluruh.

Status kawasan ini sebagai warisan pun telah dicatat dalam penelitian. Menurut Sudarwani dan Priyoga yang mengutip Hadi Putra (2016), secara resmi Kampung Kwarasan sudah termasuk dalam salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda, dan termasuk bangunan cagar budaya yang terdaftar dengan nomor 11-71/MGA/TB/27. Nomor pendaftaran itu penting karena menunjukkan bahwa Kwarasan bukan sekadar kampung tua yang kebetulan masih bertahan, melainkan kawasan yang telah dikenali nilai sejarahnya. Namun, pengakuan formal saja tidak cukup. Penelitian yang sama mencatat bahwa di kawasan ini mulai muncul perubahan-perubahan yang dilakukan oleh masing-masing penghuni rumah untuk mengubah bentuk, meskipun masih dalam persentase yang kecil, seperti menambah ruang maupun mengubah bentuk rumah pada pola tata ruang yang ada. Perubahan itu wajar dalam sebuah kampung yang masih dihuni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa warisan yang hidup selalu berada dalam tegangan antara kebutuhan masa kini dan bentuk asli yang hendak dipertahankan.

Karena itu, cara terbaik mengunjungi Kampung Kwarasan adalah dengan sikap seorang tamu di kampung hunian. Kampung ini bukan museum dengan jam buka dan jalur khusus. Rumah-rumahnya masih dihuni, gang-gangnya masih dipakai warga untuk beraktivitas sehari-hari, dan lapangannya masih berfungsi sebagai ruang bersama. Pengunjung yang datang dengan sikap menghormati privasi penghuni, tidak memasuki halaman tanpa izin, dan memotret dari ruang publik akan mendapatkan pengalaman yang lebih baik, sekaligus membantu menjaga kampung ini tetap hidup sebagai permukiman, bukan sekadar latar foto.

Tiga Tipe Rumah yang Mengikuti Kontur Tanah

Gagasan paling mudah dikenali di Kampung Kwarasan adalah pembagian rumah berdasarkan kontur tanah. Menurut penelitian Sudarwani dan Priyoga, topografi kampung yang berkontur justru dimanfaatkan Karsten untuk memaksimalkan pandangan permukiman Kwarasan ke sekitarnya, yaitu pandangan ke arah Gunung Sindoro-Sumbing dan Sungai Progo. Kontur, yang dalam banyak proyek perumahan modern diratakan terlebih dahulu dengan biaya besar, di sini justru dipertahankan dan diberi penguatan. Penelitian itu menegaskan bahwa pola tata ruang Kampung Kwarasan tidak mengubah kontur kawasan tersebut. Dalam perencanaannya, Thomas Karsten justru memberikan penguatan pada kondisi eksisting tapak untuk kepentingan penghuninya. Inilah salah satu ciri khas Karsten yang dicatat penelitian itu: ia sangat memperhatikan kondisi eksisting tapak dalam setiap perencanaan kawasan.

Pembagian itu menghasilkan tiga zona yang berbeda, yaitu zona permukiman bangunan besar, sedang, dan kecil, dengan sebuah lapangan yang berfungsi sebagai pusat kawasan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pembagian tiga zona berdasarkan perbedaan ketinggian kontur tanah merupakan pertimbangan Karsten yang tepat, baik terkait dengan perletakan maupun orientasi bangunan, dengan mengacu pada pandangan ke arah pemandangan Gunung Sindoro-Sumbing dan Sungai Progo di arah barat kawasan permukiman ini. Kontur tanah yang tinggi dimaksimalkan dengan penonjolan fasad bangunan di zonasi tersebut. Dengan kata lain, rumah-rumah di tanah tinggi tidak hanya mendapatkan udara dan pandangan yang lebih baik, tetapi juga tampil sebagai wajah kawasan yang terlihat dari bawah.

Dalam uraian penelitian itu, tapak tertinggi di sebelah timur diperuntukkan bagi bangunan tipe besar yang dapat mengakses ke segala arah, baik dari segi pandangan, kedekatan dengan pusat kawasan berupa lapangan, maupun pencapaian melalui jalan besar. Semakin ke arah barat, tapak menjadi semakin menurun dan mendatar, dan tapak yang datar diperuntukkan bagi bangunan tipe kecil. Bangunan tipe kecil itu tetap memiliki pemandangan ke barat, ke arah gunung dan sungai, akan tetapi akses pencapaiannya melalui jalan kecil atau gang dan jaraknya lebih jauh dari pusat kawasan. Pola ini menunjukkan hierarki yang halus: perbedaan ukuran dan ketinggian tidak memutus hubungan antarwarga, karena semua kelompok bangunan menyatu dalam satu kawasan tanpa adanya pembatas, sebagaimana ditegaskan penelitian tersebut. Tidak ada tembok pemisah antara zona besar, sedang, dan kecil. Yang memisahkan hanyalah ketinggian tanah dan lebar jalan, bukan pagar sosial yang kaku.

Catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang menyampaikan pembagian yang sama dengan bahasa yang lebih hidup. Menurut catatan itu, hingga kini dapat dilihat ada tiga tipe rumah di kampung ini. Tipe besar adalah yang berada di kontur paling tinggi. Rumah tipe besar itu bisa menghadap ke kawasan bawahnya, dan juga bisa menghadap ke panorama Gunung Sumbing. Di bawahnya adalah tipe sedang yang lokasinya lebih rendah. Sedangkan rumah-rumah kecil yang ada di dalam gang adalah tipe kecil dengan akses gang-gang menuju ke lapangan utama. Uraian ini sejalan dengan penelitian akademiknya, meskipun penelitian tersebut menambahkan nuansa penting: dalam kesimpulan penelitiannya, pola berdasarkan kontur tanah dibagi menjadi dua kelompok tapak, yaitu tapak dengan kontur tanah yang tinggi di sebelah timur dan utara yang diperuntukkan bagi bangunan tipe besar dan sedang, dan tapak dengan kontur dataran yang diperuntukkan bagi bangunan tipe kecil. Perbedaan redaksi antara uraian analisis dan kesimpulan itu tidak mengubah intinya, yaitu ketinggian tanah menentukan tipe rumah, dan tipe rumah menentukan cara penghuni mencapai lapangan sebagai pusat kawasan.

Bagi pengunjung, cara paling mudah membaca pola ini adalah dengan berjalan perlahan dan memperhatikan ketinggian tanah di bawah kaki. Mulailah dari lapangan sebagai titik acuan, lalu perhatikan ke arah mana tanah menanjak dan ke arah mana tanah menurun. Rumah-rumah yang berdiri di tanah yang lebih tinggi umumnya berukuran lebih besar dan lebih mudah dicapai melalui jalan yang lebih lebar. Rumah-rumah yang dicapai melalui gang umumnya berukuran lebih kecil, tetapi tetap memiliki halaman, sebagaimana akan dibahas berikutnya. Dengan cara itu, pengunjung tidak perlu menghafal denah untuk memahami Kwarasan. Cukup dengan memperhatikan tanah, jalan, dan arah pandang, logika kawasan ini akan terbaca dengan sendirinya.

Perlu juga dipahami bahwa pembagian tiga tipe ini bukan sekadar soal ukuran bangunan. Ia adalah cara Karsten mengatur hubungan antara rumah, jalan, lapangan, dan pemandangan dalam satu kesatuan. Rumah besar di tanah tinggi mendapatkan keuntungan pandangan dan akses, tetapi juga memikul peran sebagai penanda kawasan, karena fasadnya menonjol dan terlihat. Rumah kecil di gang mendapatkan keuntungan berupa suasana yang lebih tenang dan terlindung, tetapi harus mengandalkan gang sebagai penghubung ke lapangan. Rumah sedang berada di antaranya, menjembatani keduanya. Dengan demikian, perbedaan tipe bukanlah pemisahan, melainkan pembagian peran dalam satu permukiman yang utuh.

Lapangan Kampung Kwarasan: Alun-Alun Kota Kecil

Jika tiga tipe rumah adalah tubuh Kampung Kwarasan, maka lapangan adalah jantungnya. Menurut penelitian Sudarwani dan Priyoga, Kampung Kwarasan memiliki lapangan terbuka sebagai pusat kawasan, yang berfungsi sebagai pusat aktivitas bagi penghuninya. Penelitian itu mengutip Utami yang menyebut lapangan ini sebagai “Alun-alun Kecil” yang terletak di tengah agak ke utara di kawasan permukiman Kampung Kwarasan. Penyebutan itu bukan kebetulan. Kota Magelang sendiri memiliki sebuah alun-alun besar yang terletak di pusat kota sebagai sentral dan titik tengahnya kota. Lapangan Kwarasan adalah gema dari alun-alun besar itu dalam skala kampung, lengkap dengan vegetasi pohon-pohon besar yang juga memaknai simbol sebagai alun-alun Jawa.

Catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang menyampaikan gagasan yang sama melalui penjelasan pemandu di lapangan. Menurut catatan itu, Dr. Wahyu Utami menjelaskan bahwa lapangan ini dikonsep seperti alun-alun pada sebuah kota kecil. Di sisi sebelah utara, dipastikan merupakan sebuah rumah utama yang seolah-olah ditata sebagai rumah bupati. Penjelasan itu penting karena menunjukkan bahwa Karsten tidak sekadar menempatkan lapangan kosong di tengah permukiman. Ia menata lapangan itu dengan tata hubungan yang menyerupai kota Jawa: sebuah pusat terbuka, sebuah bangunan utama yang menjadi penanda di salah satu sisinya, dan rumah-rumah yang berorientasi ke pusat tersebut. Penelitian Sudarwani dan Priyoga memperkuat gambaran ini dengan mencatat bahwa di kawasan Kampung Kwarasan juga terdapat rumah besar yang diidentikkan sebagai sebuah pusat pemerintahan kecil, yang saat ini sudah digunakan sebagai Kantor Kelurahan Magelang Tengah, serta keberadaan vegetasi pohon-pohon besar berupa pohon beringin pada alun-alun yang juga diterapkan pada lapangan di Kampung Kwarasan.

Dalam tradisi penataan kota Jawa, alun-alun bukan sekadar tanah lapang. Ia adalah pusat orientasi, tempat berkumpul, dan penanda bahwa sebuah kawasan memiliki pusat yang diakui bersama. Penelitian itu, mengutip Soekiman (2000), menegaskan bahwa salah satu ciri pola permukiman adalah adanya lapangan atau alun-alun sebagai pusat kawasan yang menjadi pusat kegiatan dan orientasi perkembangan. Pola ini dapat dilihat pada keberadaan lapangan yang menjadi pusat orientasi rumah-rumah di Kampung Kwarasan. Penelitian itu juga mengutip Prijotomo (2009) yang menyatakan bahwa meskipun rumah demi rumah di kampung bukan lagi dihuni oleh kerabat, ke-kami-an di kampung mengkerabatkan para penghuni. Dengan kata lain, lapangan bukan hanya ruang fisik, melainkan ruang sosial yang membuat orang-orang yang tidak sedarah merasa sebagai satu kampung.

Penelitian Sudarwani dan Priyoga juga mencatat bahwa perencanaan Kampung Kwarasan oleh Thomas Karsten cenderung berbentuk memusat atau radial, yang memusat di lapangannya. Bentuk memusat ini mudah dirasakan saat berjalan di kampung ini. Gang-gang dari rumah tipe kecil bermuara ke lapangan utama, jalan-jalan dari zona yang lebih tinggi mengarah ke lapangan, dan pandangan dari rumah-rumah di tanah tinggi pun mengarah ke kawasan di bawahnya dan ke lapangan sebagai titik temu. Lapangan, dengan demikian, bukan sisa tanah yang tidak terpakai, melainkan pusat yang direncanakan sejak awal. Ia adalah alasan mengapa kampung ini terasa sebagai satu kesatuan, bukan sekadar kumpulan rumah yang kebetulan berdekatan.

Fungsi lapangan sebagai ruang terbuka juga berkaitan langsung dengan gagasan permukiman sehat. Ruang terbuka memberi udara, cahaya, dan tempat bergerak bagi warga. Ia memberi jarak antar bangunan sehingga udara dapat bersirkulasi, memberi tempat bagi anak-anak untuk bermain dan bagi warga untuk berolahraga serta berkumpul, dan memberi jeda hijau di tengah kepadatan hunian. Dalam konteks awal tahun 1930-an, ketika permukiman kumuh dikaitkan dengan wabah penyakit, kehadiran lapangan seperti ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan kesehatan. Lapangan adalah paru-paru kampung, sekaligus ruang sosialnya.

Bagi pengunjung masa kini, lapangan adalah tempat terbaik untuk memulai dan mengakhiri kunjungan. Dari lapangan, pengunjung dapat membaca arah kontur, membedakan zona rumah besar, sedang, dan kecil, serta memahami mengapa Karsten menempatkan pusat kawasan di tengah agak ke utara, bukan di tengah geometris yang kaku. Dari lapangan pula pengunjung dapat merasakan apa yang dimaksud penelitian itu ketika menyebut lapangan Kwarasan sebagai bentuk dari konsep kota Jawa: sebuah pusat yang tidak megah, tetapi jelas, teduh oleh pohon-pohon besar, dan dikelilingi oleh rumah-rumah yang menghadap ke arahnya. Bila pengunjung hanya melihat rumah-rumah tanpa singgah di lapangan, maka separuh cerita Kwarasan akan terlewatkan.

Udara, Cahaya, dan Halaman sebagai Taman

Di balik denah kawasan yang memusat, terdapat perhatian yang lebih halus, yaitu perhatian pada udara, cahaya, dan halaman. Menurut catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang, satu hal yang sangat diperhatikan oleh Karsten adalah lahan depan ataupun samping rumah yang dimanfaatkan sebagai taman. Catatan itu, dalam bagian tentang Kampung Kwarasan, menegaskan bahwa halaman depan dan samping bukan sisa tanah yang dibiarkan kosong, melainkan bagian dari rancangan rumah yang sehat. Rumah tipe kecil yang bentuknya masih asli, sebagaimana dicatat dalam perjalanan itu, dilengkapi dengan halaman depan dan samping. Bahkan rumah yang kecil pun, dengan demikian, tetap memiliki ruang luar yang bisa ditanami dan memberi jarak dari jalan serta dari rumah tetangga.

Perhatian pada udara dan cahaya disampaikan secara lebih eksplisit dalam bagian catatan perjalanan itu tentang kawasan Gladiool, yang juga merupakan karya penataan Karsten pada era yang sama. Menurut catatan itu, koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, menjelaskan bahwa salah satu gaya Karsten adalah sirkulasi udara dan pencahayaan yang diunggulkan dalam karya-karyanya. Rumah dengan model kecil itu, menurut catatan tersebut, selain menjamin tersedianya ventilasi juga dilengkapi dengan unsur kaca di bagian timur. Paduan Karsten yang berhasil mengkonsep perumahan yang ramah lingkungan itu juga dilengkapi dengan halaman depan atau samping yang bisa ditanami pepohonan ataupun bunga. Uraian ini, meskipun disampaikan dalam konteks Gladiool, menjelaskan bahasa perancangan yang sama yang juga tampak di Kwarasan: ventilasi yang dijamin, cahaya yang dipikirkan arahnya, dan halaman yang ditanami.

Mengapa udara dan cahaya begitu penting dalam sebuah permukiman sehat pada era 1930-an? Jawabannya kembali pada latar penyakit dan permukiman kumuh. Rumah yang pengap, gelap, dan lembap adalah rumah yang rawan menjadi tempat berkembangnya penyakit. Sebaliknya, rumah yang memiliki ventilasi, bukaan kaca yang memberi cahaya, dan halaman yang ditanami memiliki udara yang bergerak, cahaya yang masuk, dan jarak yang memberi kelegaan. Halaman yang ditanami pepohonan atau bunga bukan sekadar hiasan. Ia memberi keteduhan, menyaring debu, memberi ruang bagi udara untuk bergerak, dan memberi penghuni kontak harian dengan tanaman. Dalam bahasa masa kini, gagasan ini dapat disebut sebagai perumahan yang ramah lingkungan, sebagaimana istilah yang dipakai dalam catatan perjalanan itu. Namun, pada masa Karsten, gagasan itu lahir dari kebutuhan kesehatan yang sangat konkret.

Perhatian pada halaman juga menjelaskan mengapa rumah-rumah Kwarasan terasa lega meskipun sebagian berukuran kecil. Halaman depan dan samping memperluas ruang hidup penghuni ke luar bangunan. Anak-anak dapat bermain di halaman, tanaman dapat tumbuh di samping rumah, dan udara dapat masuk dari lebih dari satu sisi. Ketika sebuah rumah kemudian diubah oleh penghuninya, misalnya dengan menutup taman terbuka menjadi ruang tamu, sebagaimana diceritakan dalam catatan perjalanan itu tentang sebuah rumah di Kwarasan yang dahulunya memiliki taman terbuka di bagian yang kini menjadi ruang tamu, maka perubahan itu bukan sekadar perubahan bentuk. Ia adalah perubahan pada cara udara, cahaya, dan ruang luar bekerja dalam rumah tersebut. Karena itu, penelitian tentang perubahan tata ruang rumah tinggal Indis di Kwarasan menekankan pentingnya kesadaran penghuni agar perubahan yang dilakukan tidak merusak atau mengubah secara total ciri khas arsitektur rumah tinggal Indis karya Thomas Karsten. Pesan itu relevan hingga kini, bukan sebagai larangan untuk mengubah rumah, melainkan sebagai ajakan untuk mengubah dengan memahami logika aslinya.

Bagi pengunjung, halaman-halaman inilah yang memberi Kampung Kwarasan suasananya yang teduh dan hijau. Pepohonan dan bunga di depan dan samping rumah membuat gang-gang terasa lebih sejuk dan lebih manusiawi dibandingkan dengan gang permukiman padat yang seluruh tanahnya tertutup bangunan. Pengunjung yang memperhatikan halaman akan memahami bahwa keindahan Kwarasan bukan terletak pada kemegahan satu bangunan, melainkan pada pengulangan yang konsisten dari satu prinsip sederhana di puluhan rumah: setiap rumah, sekecil apa pun, diberi udara, cahaya, dan taman. Prinsip yang sederhana itu, bila diterapkan secara konsisten di seluruh kawasan, menghasilkan kampung yang terasa sehat, bukan hanya bagi penghuninya, tetapi juga bagi siapa pun yang berjalan di dalamnya.

Thomas Karsten: Arsitek yang Memadukan Eropa dan Jawa

Memahami Kampung Kwarasan tidak lengkap tanpa memahami arsiteknya. Herman Thomas Karsten lahir di Amsterdam pada 22 April 1884. Menurut catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang, ia menjadi penasehat perencanaan kota sejak 1914, dimulai dari Kota Semarang, dan ide-idenya menggabungkan nuansa Eropa dan Jawa, bukan menaruh Eropa di Jawa. Gambaran itu sejalan dengan penelitian Sudarwani dan Priyoga yang menyebut Thomas Karsten dan Henri Maclaine Pont sebagai pelopor gaya arsitektur Indo-Eropa, gaya yang menampilkan kekuatan dan kemampuan seni bangunan Indonesia untuk menjadi modern. Salah satu ciri khas Thomas Karsten, menurut penelitian itu, adalah selalu mengintegrasikan elemen-elemen lokal dan kolonial ke dalam lingkungan kawasan, serta mentransformasikan kehidupan masyarakat Jawa tradisional ke dalam lingkungan sosial kolonial yang modern.

Karsten bukan arsitek yang hanya merancang bangunan indah. Ia adalah perencana kota yang memikirkan permukiman sebagai sistem sosial. Menurut ensiklopedia daring yang merangkum riwayatnya, Karsten menjadi konsultan perencanaan perkotaan untuk Magelang pada 1937 hingga 1938, setelah sebelumnya menangani Semarang, Buitenzorg yang kini bernama Bogor, Madiun, dan Malang, serta kemudian Batavia yang kini bernama Jakarta dan Bandung. Daftar itu menunjukkan bahwa Kwarasan dirancang pada masa ketika Karsten telah memiliki pengalaman panjang menangani kota-kota di Jawa. Ia juga, menurut sumber yang sama, menolak perencanaan perkotaan kolonial yang memisahkan penduduk berdasarkan etnis dan ras secara kaku, dan mulai memasukkan lebih banyak elemen lokal yang dikombinasikan dengan elemen tipikal Eropa. Dalam konteks Kwarasan, penolakan itu tampak pada lapangan yang mengadopsi konsep alun-alun Jawa, pada rumah besar yang diidentikkan sebagai pusat pemerintahan kecil, dan pada pohon-pohon besar yang mengingatkan pada alun-alun kota.

Jejak Karsten di Magelang tidak berhenti di Kwarasan. Menurut catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang, menara air atau water toren di Alun-Alun Kota Magelang juga merupakan salah satu bangunan fenomenal di Magelang yang perancangannya diotaki oleh Karsten. Pembangunannya dimulai pada 1916, dan menara itu mulai beroperasi sejak Mei 1920, dengan fungsi utama sebagai penampung air yang hingga kini tidak berubah. KabarTidar telah mengulas menara air tersebut secara tersendiri dalam artikel tentang water toren di Alun-Alun Magelang. Membaca kedua kawasan itu secara berdampingan memberi gambaran yang lebih utuh tentang Karsten di Magelang: di satu sisi, infrastruktur air bersih yang menopang kesehatan kota, dan di sisi lain, permukiman sehat yang memanfaatkan udara, cahaya, dan ruang terbuka. Keduanya adalah dua sisi dari gagasan yang sama tentang kota yang sehat.

Karsten juga dikenang karena kedekatannya dengan Indonesia. Menurut catatan perjalanan itu, ia menikahi Soembinah pada tahun 1921 dan dikaruniai empat orang anak, dan pernikahan dengan wanita pribumi itu semakin menambah kecintaannya pada Indonesia. Hingga tahun 1942 ia tertangkap oleh tentara Jepang dan ditahan di Kamp Interniran Cimahi hingga meninggal di tempat tersebut pada tahun 1945. Kisah akhir hidupnya itu sering dikutip sebagai penanda bahwa Karsten bukan sekadar arsitek kolonial yang datang dan pergi, melainkan sosok yang memilih untuk tinggal, bekerja, dan akhirnya meninggal di tanah yang dirancangnya. Bagi pengunjung Kwarasan, kisah itu memberi dimensi manusiawi pada denah dan kontur: di balik garis-garis perencanaan, ada seorang perencana yang memandang Jawa sebagai rumahnya.

Kawasan Terkait: Gladiool, Bayeman Barat, dan Monumen Tentara Pelajar

Kampung Kwarasan tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari rangkaian penataan permukiman Magelang pada era 1930-an yang juga mencakup kawasan Gladiool dan Bayeman Barat. Menurut catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang, Perumahan Gladiool kini menjadi perumahan elit dengan deretan rumah-rumah mewah di sepanjang Jalan MT Haryono. Namun, dahulunya tempat ini merupakan salah satu target penataan permukiman pada era 1930-an oleh pemerintah Hindia Belanda. Program saat itu bernama penataan permukiman Bayeman Barat. Pekerjaan tersebut dimulai dengan pengeringan rawa dan pemindahan makam Cina. Oleh Karsten, permukiman tersebut dikonsep dengan pembagian klaster-klaster.

Meskipun kawasan Gladiool jelas telah berubah dari kawasan aslinya, menurut catatan itu, dengan memasuki beberapa gang seperti Gang Tresno dan Gang Rahayu, pengunjung masih bisa menemukan sisa-sisa perumahan “ala” Karsten. Salah satunya di pertigaan Gang Penganti-anti, di mana dua buah rumah yang berhadapan tampak simetris. Catatan itu juga menggambarkan bahwa model pucuk atap rumah-rumah di Gladiool berbeda-beda seiring dengan model rumahnya, ada yang berbentuk ujung tombak, persegi panjang, berbentuk seperti yoni, dan lain-lain, dan perbedaan itu berkaitan dengan pembagian blok-blok perumahan. Setiap blok memiliki ukuran dan fasilitas yang berbeda-beda, begitu juga dengan puncaknya sebagai penanda blok yang berbeda. Selain itu, Gladiool merupakan kawasan dengan kontur miring sehingga dalam gang-gang antar blok dibangun juga tangga penghubung antar beda ketinggian. Gambaran ini menegaskan bahwa kontur bukan hanya persoalan Kwarasan, melainkan bahasa perancangan Karsten di Magelang secara umum: tanah yang miring dijembatani dengan tangga, blok dibedakan dengan penanda atap, dan rumah-rumah kecil tetap diberi ventilasi, kaca, dan halaman.

Pintu masuk menuju kawasan Gladiool itu sendiri memiliki lapisan sejarah yang berbeda, yaitu sejarah perjuangan kemerdekaan. Menurut catatan perjalanan itu, berjarak sekitar 500 meter dari Alun-Alun ke arah selatan, dengan jalan kaki para peserta sampai di Monumen Tentara Pelajar, pintu masuk kawasan Gladiool. Menurut penjelasan pemandu yang dikutip dalam catatan itu, di tempat ini dan di sekitar Gereja Kristen Jawa Bayeman serta sepanjang Jalan Bayeman, pasukan patroli Belanda dihadang oleh para Tentara Pelajar. Mereka menggunakan strategi hit and run dengan tujuan hanya mengganggu pasukan Belanda, dan ketika tentara Belanda mencari, mereka telah bersembunyi. Para pejuang yang dipimpin oleh Soetopo BI, menurut penjelasan yang sama, juga sempat mengadakan operasi di tahun 1949 dengan tujuan melucuti senjata Algemene Politie di kawasan Kerkopan. Namun, aksi mereka terpergok oleh tentara Belanda sehingga terjadi duel, dan Soetopo yang tidak siap menghadapi serangan menjadi sasaran tembak dan gugur di tempat. Jenazahnya, menurut catatan itu, sehari kemudian baru dikebumikan oleh masyarakat setempat.

Kisah tentang Monumen Tentara Pelajar itu perlu dibaca dengan sikap yang sama seperti kisah-kisah lain dalam artikel ini, yaitu sebagai catatan perjalanan komunitas yang mengutip penjelasan pemandu, bukan sebagai dokumen arsip militer yang telah diverifikasi secara independen. Namun, kisah itu tetap penting karena menunjukkan bagaimana satu kawasan di Magelang dapat memuat dua lapisan sejarah sekaligus: lapisan perencanaan kota era 1930-an yang diwakili oleh Karsten, Gladiool, dan Kwarasan, serta lapisan perjuangan kemerdekaan yang diwakili oleh Monumen Tentara Pelajar, Gereja Kristen Jawa Bayeman, Jalan Bayeman, dan Kerkopan. Pengunjung yang berjalan dari Alun-Alun ke arah selatan menuju Monumen Tentara Pelajar, lalu memasuki gang-gang Gladiool, dan kemudian menuju Kwarasan, pada dasarnya sedang berjalan melintasi dua babak sejarah kota dalam satu rute yang singkat.

Rute seperti itu juga memberi pelajaran tentang cara membaca kota lama. Kota lama tidak tersusun dalam bab-bab yang rapi dan terpisah. Sebuah monumen perjuangan bisa berdiri di pintu masuk sebuah perumahan yang ditata oleh arsitek kolonial. Sebuah gang yang kini dipenuhi rumah mewah bisa menyimpan dua rumah simetris dari era klaster Karsten di pertigaan gangnya. Sebuah lapangan kampung bisa sekaligus menjadi alun-alun kecil, paru-paru kawasan, dan pusat orientasi rumah-rumah di sekelilingnya. Karena itu, kunjungan ke Kampung Kwarasan akan lebih kaya bila tidak dipisahkan dari kawasan-kawasan di sekitarnya. Kwarasan adalah pusat cerita, tetapi Gladiool, Bayeman Barat, dan Monumen Tentara Pelajar adalah konteks yang membuat cerita itu terasa utuh sebagai cerita kota, bukan sekadar cerita satu kampung.

Perubahan, Pelestarian, dan Cara Berkunjung yang Bertanggung Jawab

Seperti semua kawasan hunian bersejarah yang masih hidup, Kampung Kwarasan menghadapi tantangan perubahan. Penelitian Sudarwani dan Priyoga mencatat bahwa perubahan yang dilakukan penghuni masih dalam persentase yang kecil, tetapi sudah mulai tampak, seperti menambah ruang maupun mengubah bentuk rumah pada pola tata ruang yang ada. Penelitian tentang perubahan tata ruang rumah tinggal Indis di Kwarasan, sebagaimana disimpulkan dalam dokumen yang beredar, menegaskan bahwa sejalan dengan perkembangan faktor makro dan mikro, keberadaan rumah tinggal Indis di Kampung Kwarasan lambat laun dapat semakin mengalami kepunahan akibat perubahan bentuk bangunan yang mulai menghilangkan ciri khas arsitektur Indis tersebut. Karena itu, penelitian itu menyarankan perlunya langkah dan kesadaran untuk mempertahankan dan mengembangkan warisan nilai-nilai budaya arsitektur, dengan menumbuhkan lagi kesadaran masyarakat untuk bersama-sama melestarikan arsitektur dan budaya, serta perlunya sosialisasi kepada penghuni dalam melakukan perubahan agar tidak merusak atau mengubah secara total ciri khas arsitektur rumah tinggal Indis karya Thomas Karsten.

Pesan itu tidak berarti kampung harus dibekukan dalam bentuk masa lalu. Kampung yang dihuni harus berubah agar tetap layak huni. Yang perlu dijaga adalah logika yang membuat kampung ini istimewa: kontur yang tidak diratakan secara membabi buta, lapangan yang tetap menjadi pusat dan ruang terbuka, halaman depan dan samping yang tetap memberi udara dan cahaya, serta pembagian zona yang tetap terbaca. Bila sebuah rumah diperluas hingga menutup seluruh halaman, maka yang hilang bukan hanya taman, melainkan juga ventilasi dan cahaya yang menjadi alasan rumah itu dirancang demikian. Bila lapangan dipadati bangunan, maka yang hilang bukan hanya tanah kosong, melainkan pusat orientasi seluruh kawasan. Pelestarian Kwarasan, dengan demikian, bukan soal mempertahankan setiap genteng dan jendela dalam bentuk aslinya, melainkan soal mempertahankan hubungan antara tanah, jalan, lapangan, halaman, dan rumah.

Bagi wisatawan, pelestarian itu dimulai dari hal-hal sederhana. Datanglah pada siang hari ketika gang-gang terang dan aktivitas warga mudah diamati dari ruang publik. Berjalanlah kaki agar kontur tanah terasa dan agar pengunjung tidak mengganggu lalu lintas gang yang sempit. Berhentilah di lapangan untuk membaca kawasan secara keseluruhan sebelum memasuki gang-gang yang lebih kecil. Perhatikan perbedaan ketinggian tanah, lebar jalan, dan ukuran rumah, dan cobalah menebak zona mana yang sedang dilalui tanpa harus bertanya kepada penghuni. Hormati halaman sebagai ruang privat, meskipun halaman itu tampak indah dan fotogenik. Jangan memasuki pekarangan, jangan mengetuk pintu rumah hanya untuk berfoto, dan jangan menghalangi jalan warga. Bila ingin memahami lebih dalam, ikutilah kegiatan komunitas heritage seperti Komunitas Kota Toea Magelang yang pernah memandu perjalanan Karsten, karena pemandu lokal dapat menunjukkan detail-detail yang tidak terlihat oleh mata yang tidak terlatih, seperti perbedaan pucuk atap antar blok di Gladiool atau sisa rumah tipe kecil yang masih asli di Kwarasan.

Untuk merencanakan kunjungan, ingatlah posisi Kampung Kwarasan yang lebih kurang satu kilometer di sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang, di Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah. Posisi itu membuat Kwarasan mudah dipadukan dengan kunjungan ke Alun-Alun dan water toren karya Karsten yang sama. Pengunjung dapat memulai dari Alun-Alun, melihat water toren di sudut lapangan, berjalan ke arah selatan menuju Monumen Tentara Pelajar di pintu masuk kawasan Gladiool, menyusuri gang-gang Gladiool dan Bayeman Barat untuk melihat sisa klaster Karsten, lalu menuju Kwarasan untuk melihat lapangan sebagai alun-alun kota kecil dan tiga tipe rumah yang mengikuti kontur. Rute seperti itu tidak membutuhkan kendaraan khusus dan tidak membutuhkan tiket, karena yang dikunjungi adalah kampung hunian dan ruang publik, bukan objek wisata berbayar. Yang dibutuhkan hanyalah waktu berjalan kaki, kesabaran untuk memperhatikan detail, dan kesediaan untuk membaca kota dengan pelan.

Pada akhirnya, Kampung Kwarasan mengajarkan satu pelajaran yang masih relevan bagi perumahan masa kini. Permukiman yang sehat tidak harus mahal dan tidak harus megah. Ia membutuhkan tanah yang dihormati, bukan diratakan tanpa pikir panjang. Ia membutuhkan pusat bersama yang teduh dan terbuka, bukan sekadar sisa lahan. Ia membutuhkan rumah yang diberi udara, cahaya, dan halaman, sekecil apa pun ukurannya. Ia membutuhkan pembagian zona yang jelas tetapi tanpa pembatas yang kaku, sehingga rumah besar, sedang, dan kecil tetap menjadi satu kampung. Thomas Karsten merancang semua itu di Magelang pada era 1930-an, di tengah krisis ekonomi dan wabah penyakit, dengan bahan yang sederhana: kontur, lapangan, jalan, gang, halaman, ventilasi, dan kaca. Bahwa gagasan itu masih bisa dibaca di Kampung Kwarasan hingga kini, di Kelurahan Cacaban yang masih dihuni warga setiap hari, adalah bukti bahwa perancangan yang baik tidak lekang oleh waktu. Ia tidak hanya bertahan sebagai bangunan, tetapi juga sebagai cara hidup yang sehat, teduh, dan saling terhubung.

Penelitian lebih lanjut tentang pola tata ruang kampung ini dapat dibaca dalam makalah Sudarwani dan Priyoga yang diterbitkan dalam Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017, yang tersedia di repositori Universitas Kristen Indonesia. Catatan perjalanan Komunitas Kota Toea Magelang tentang jejak Thomas Karsten di Magelang juga memberi gambaran lapangan yang hidup tentang water toren, Monumen Tentara Pelajar, Gladiool, dan Kwarasan dalam satu perjalanan. Kedua sumber itu menjadi rujukan utama artikel ini, dan keduanya sepakat pada satu hal: Kampung Kwarasan adalah permukiman yang dirancang dengan memperhatikan alam, kesehatan, dan kehidupan sosial warganya, bukan sekadar deretan rumah tua yang kebetulan masih berdiri. Untuk memahami Magelang, mengunjungi kampung ini bukan pilihan tambahan, melainkan salah satu cara paling langsung untuk memahami bagaimana kota ini pernah dirancang untuk menjadi tempat tinggal yang sehat.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *