Candi Ngawen: Lima Candi Buddha di Muntilan yang Dijaga Singa Penyalur Air Hujan
Di tengah sawah Muntilan berjajar lima candi kecil dari utara ke selatan. Candi Ngawen menyimpan keunikan yang tak dimiliki candi lain di Indonesia: singa di sudut kakinya yang mengalirkan air hujan lewat mulutnya.

Di tengah lingkungan desa dan persawahan Muntilan, sekitar lima kilometer dari Candi Mendut, berjajar lima bangunan candi kecil dari utara ke selatan. Kompleks itu adalah Candi Ngawen, peninggalan Buddha masa Mataram Kuno yang jauh lebih sepi dari Borobudur, tetapi menyimpan keunikan yang tidak dimiliki candi lain di Indonesia: arca singa di sudut kaki bangunan yang bukan sekadar penjaga, melainkan juga saluran pembuangan air hujan yang keluar lewat mulutnya. Ditambah temuan dua Dhyani Buddha yang berbeda, Ngawen menjadi salah satu situs paling menarik untuk memahami Buddhisme Jawa Kuno secara lebih mendalam, dalam kompleks yang kecil dan dapat dijelajahi dalam waktu singkat.
Berbeda dari Borobudur yang monumental atau Mendut yang memiliki satu bangunan utama dengan tiga arca besar di dalam biliknya, Candi Ngawen tersusun dari lima bangunan yang berjajar sejajar dari utara ke selatan. Susunan itu, ditambah relief, arca singa, dan latar pedesaannya, membuat tempat ini sangat menarik bagi wisatawan yang ingin memahami peninggalan Mataram Kuno secara lebih mendalam, tanpa keramaian kawasan candi besar.
Candi Ngawen: Lima Bangunan Sejajar di Tengah Sawah
Candi Ngawen merupakan kompleks percandian Buddha di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Lokasinya berada di lingkungan pedesaan sekitar Muntilan, tidak jauh dari Pasar Muntilan: dari Jalan Pemuda Muntilan hanya sekitar satu kilometer ke arah selatan, dan sekitar dua kilometer sebelah selatan Makam Kyai Raden Santri Gunung Pring. Situs berada di tengah lingkungan desa dan persawahan Muntilan dengan jumlah pengunjung yang relatif tidak sepadat Borobudur.
Ciri tata ruang paling penting di Candi Ngawen adalah keberadaan lima bangunan yang disusun berjajar dalam satu garis utara-selatan. Kelima bangunan menghadap ke timur dan terpisah satu sama lain dengan jarak sekitar empat meter. Untuk kepentingan dokumentasi arkeologi, bangunan kemudian dikenal sebagai Candi I, Candi II, Candi III, Candi IV, dan Candi V. Pola seperti ini berbeda dari kompleks candi yang memiliki satu bangunan induk besar dengan candi-candi perwara mengelilinginya. Di Ngawen, susunan berjajar membuat setiap bangunan tampak memiliki posisi penting dalam keseluruhan komposisi. Kompleks ini terdiri dari dua candi induk dan tiga pewara, atau candi pendamping yang mengapit candi induk, dengan candi induk pada bangunan kedua dan keempat.
Kondisi lima bangunan Candi Ngawen saat ini tidak sama. Candi II merupakan bangunan yang paling lengkap setelah menjalani pemugaran pada 1927. Bangunan ini masih memperlihatkan bagian kaki, tubuh, sejumlah elemen atap, pintu, relung, relief, serta arca yang memberikan gambaran lebih jelas mengenai bentuk asli Candi Ngawen. Empat bangunan lainnya tidak berhasil dikembalikan dalam kondisi selengkap Candi II: sebagian besar hanya mempertahankan bagian kaki, fondasi, atau susunan batu tertentu. Di sekitar halaman juga dapat ditemukan batu-batu komponen bangunan yang belum dapat dikembalikan ke posisi semula karena konteks atau pasangan konstruksinya belum dapat dipastikan.
Dalam pelestarian cagar budaya, batu seperti ini tidak boleh dipasang berdasarkan perkiraan semata. Posisi sebuah komponen harus memiliki dasar arkeologis yang cukup agar rekonstruksi tidak menciptakan bentuk baru yang sebenarnya tidak pernah ada. Candi II sendiri merupakan bangunan paling lengkap, tetapi bukan berarti bentuknya sekarang merupakan rekonstruksi seratus persen dari bangunan aslinya: bagian atas atap tidak dapat dipasang seluruhnya karena tidak semua komponen batu ditemukan atau dapat dipastikan posisinya. Beberapa sisa elemen menunjukkan adanya tingkatan pada bagian atap serta dekorasi tertentu, tetapi pelestarian cagar budaya tidak memungkinkan ahli membuat bagian yang hilang hanya berdasarkan perkiraan visual. Karena itu, bentuk yang belum lengkap justru menunjukkan prinsip konservasi yang penting: mempertahankan bagian yang dapat dibuktikan lebih baik daripada menciptakan rekonstruksi baru yang terlihat utuh tetapi tidak memiliki dasar arkeologis.
Singa Penyalur Air Hujan
Jika hanya memiliki waktu singkat, bagian yang paling penting diperhatikan adalah arca singa pada kaki candi. Arca seperti ini ditempatkan pada sudut bangunan, terutama diketahui pada Candi II dan Candi IV. Di antara kelima bangunan, Candi II dan Candi IV memiliki ukuran serta konstruksi yang relatif serupa, dan keduanya menjadi bagian yang paling sering dibahas karena berkaitan dengan keberadaan arca singa pada bagian sudut kaki bangunan. Singa digambarkan berdiri dan secara visual seolah menopang atau menjaga struktur candi. Bentuknya memberikan karakter arsitektur yang sangat berbeda dibandingkan kebanyakan candi Buddha lain di Indonesia.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan bahkan mencatat bahwa penggunaan empat arca singa pada sudut kaki bangunan dengan karakter seperti Ngawen merupakan keistimewaan yang tidak ditemukan pada candi lain di Indonesia. Detail ini mudah diamati karena Candi II tidak terlalu besar: pengunjung tidak perlu melihatnya dari kejauhan seperti pada monumen yang jauh lebih tinggi. Gaya ukiran arca singa ini disebut-sebut menyerupai lambang singa Singapura, dan gaya arsitektur serupa juga terlihat pada Candi Kidal di Malang, Jawa Timur.
Arca singa Candi Ngawen bukan hanya elemen estetis. Pada bangunan candi, air hujan yang jatuh pada struktur atas perlu dialirkan keluar agar tidak menggenang atau meresap terlalu lama ke dalam konstruksi batu. Sebagian arca singa Ngawen dirancang berkaitan dengan saluran air atau jaladwara: air dialirkan menuju bagian arca dan dikeluarkan melalui mulutnya. Konsep ini memperlihatkan bagaimana fungsi teknis dan estetika digabungkan dalam satu elemen arsitektur. Sistem drainase tidak dibuat sebagai pipa sederhana, melainkan menjadi bagian dari seni bangunan suci. Detail semacam ini sangat menarik untuk kunjungan edukasi karena memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa Kuno tidak hanya memiliki kemampuan seni pahat, tetapi juga memahami pengelolaan air pada bangunan batu.
Lima Dhyani Buddha
Latar belakang Buddhis Ngawen diperkuat oleh temuan arca Dhyani Buddha. Candi II memiliki arca Ratnasambhava, sedangkan Candi IV berkaitan dengan arca Amitabha. Temuan tersebut mendukung interpretasi bahwa lima bangunan di kompleks Ngawen berkaitan dengan konsep lima Dhyani Buddha dalam Buddhisme Mahayana. Susunan lima bangunan tersebut kemudian dihubungkan dengan konsep lima Dhyani Buddha, dan interpretasi ini semakin menarik karena arca Buddha yang ditemukan pada beberapa bangunan memiliki identitas yang berbeda.
Dalam Buddhisme Mahayana dan Vajrayana dikenal kelompok lima Buddha kosmis atau lima Dhyani Buddha yang memiliki hubungan dengan arah, simbol, warna, mudra, serta aspek kebijaksanaan tertentu. Kelompok tersebut terdiri atas Vairocana, Akshobhya, Ratnasambhava, Amitabha, dan Amoghasiddhi. Secara umum Vairocana berkaitan dengan pusat, Akshobhya dengan timur, Ratnasambhava dengan selatan, Amitabha dengan barat, dan Amoghasiddhi dengan utara. Di Candi Ngawen, keberadaan Ratnasambhava dan Amitabha yang masih dapat dikenali memberikan bukti arkeologis penting untuk membaca latar Buddhis kompleks.
Salah satu tinggalan penting Candi Ngawen adalah arca Dhyani Buddha Ratnasambhava yang berkaitan dengan Candi II. Ratnasambhava umumnya dikenali melalui varada mudra, yaitu sikap tangan yang berkaitan dengan pemberian anugerah atau kemurahan hati. Arca yang ditemukan di Ngawen tidak lagi berada dalam kondisi lengkap: kerusakan pada bagian kepala menjadi pengingat bahwa perjalanan benda cagar budaya selama lebih dari seribu tahun tidak selalu dapat dipertahankan dalam keadaan utuh. Meski demikian, pose, mudra, serta konteks penemuannya masih memungkinkan arkeolog mengidentifikasi figur tersebut. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambhava yang sudah tidak berkepala tampak berada pada salah satu candi lainnya.
Candi IV berkaitan dengan temuan Dhyani Buddha Amitabha. Amitabha secara umum dikenali melalui dhyana mudra, yaitu sikap tangan meditasi dengan kedua tangan diletakkan di depan tubuh. Dalam kosmologi lima Dhyani Buddha, Amitabha berkaitan dengan arah barat. Sama seperti sebagian besar benda dari situs berusia lebih dari seribu tahun, arca Ngawen mengalami kerusakan dan kehilangan beberapa bagian. Keberadaan dua figur berbeda pada dua bangunan memberikan bukti yang jauh lebih kuat mengenai latar Buddha Ngawen daripada sekadar menilai bangunan berdasarkan bentuk arsitekturnya.
Namun pengunjung sebaiknya tidak langsung mengasumsikan bahwa seluruh susunan lima candi yang terlihat sekarang dapat dipetakan secara sederhana seperti diagram mandala modern. Posisi bangunan, temuan arca, serta perubahan situs selama berabad-abad tetap menjadi bagian dari kajian arkeologi. Kombinasi susunan lima candi dan temuan dua Dhyani Buddha inilah yang menjadi salah satu dasar untuk membaca Ngawen sebagai kompleks yang kemungkinan dirancang berhubungan dengan lima Buddha kosmis dalam Buddhisme Mahayana, bukan kepastian yang sudah tertutup.
Buddha yang Tampak Seperti Hindu
Secara visual, beberapa bagian Candi Ngawen dapat membuat pengunjung awam mengira bangunan ini merupakan candi Hindu. Bentuk bangunannya relatif menjulang dan beberapa elemen atap memiliki karakter yang lebih sering diasosiasikan dengan bangunan Hindu Jawa. Sekilas, bentuk bangunannya mirip dengan bangunan candi Hindu karena meruncing. Namun keberadaan arca Dhyani Buddha, stupa dan simbol Buddhis lainnya memberikan dasar yang jelas bahwa fungsi keagamaannya berlatar Buddha. Apabila diamati dengan saksama, candi ini memiliki stupa dan teras berundak yang menjadi simbol dalam candi-candi Buddha, dengan stupa berundak yang di atasnya berbentuk bulat tetapi belum terpasang.
Kemiripan unsur arsitektur tidak selalu berarti bangunan pernah berpindah agama atau merupakan campuran dua agama. Arsitektur Hindu dan Buddha di Jawa Kuno berkembang dalam lingkungan budaya dan teknologi yang sama sehingga sejumlah bentuk dapat digunakan bersama dengan penyesuaian fungsi dan simbol. Karena itu, istilah “akulturasi Hindu-Buddha” sebaiknya digunakan secara hati-hati. Identitas keagamaan sebuah candi lebih kuat ditentukan melalui arca, ikonografi, inskripsi, dan konteks ritual daripada hanya bentuk atapnya. Ada pula detail yang dikaitkan dengan tradisi Hindu, seperti relief yang menggambarkan Dewa Wisnu, yang menunjukkan betapa dekatnya kedua tradisi itu dalam seni Jawa Kuno.
Salah satu ornamen menarik di Candi Ngawen adalah relief Kinara dan Kinari yang ditempatkan bersama pohon Kalpataru. Kinara dan Kinari merupakan makhluk kahyangan dalam tradisi seni Hindu-Buddha yang digambarkan memiliki unsur manusia dan burung, pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari. Kalpataru dikenal sebagai pohon kehidupan atau pohon harapan dalam tradisi India yang kemudian berkembang luas dalam seni klasik Jawa. Pada relief, pohon digambarkan dengan cabang, daun, dan berbagai ornamen yang memberi kesan kemakmuran serta kehidupan. Posisi hiasan Kinara-Kinari mengapit Kalpataru, dan motif seperti ini juga ditemukan pada sejumlah candi Jawa Tengah sehingga dapat digunakan untuk membandingkan perkembangan seni pahat antarsitus pada periode Mataram Kuno.
Pada bagian relung dan pintu candi terdapat hiasan kala, salah satu motif yang sangat umum pada arsitektur Hindu-Buddha Jawa. Kepala kala biasanya ditempatkan di atas pintu atau relung dan secara simbolik sering dikaitkan dengan penjaga ruang suci. Bagian kaki dan tubuh candi juga memiliki ragam hias tumbuhan serta sulur yang menunjukkan keterampilan pemahat batu. Beberapa relief tidak lagi lengkap sehingga pengunjung perlu membayangkan bahwa kondisi bangunan pada masa penggunaannya jauh lebih kaya daripada sisa yang terlihat sekarang. Fungsi Candi Ngawen sendiri tidak jauh berbeda dengan candi-candi pada umumnya, yakni sebagai tempat beribadah umat Buddha.
Penelitian Candi Ngawen tidak hanya menghasilkan temuan struktur dan arca. Pada 1928 dilaporkan ditemukan benda perunggu berupa gantungan lonceng atau gentha pada bagian dalam puncak Candi II. Gentha memiliki hubungan dengan praktik ritual Buddhis dan keberadaannya semakin memperkuat konteks keagamaan situs. Temuan tersebut kemudian ikut dicatat dalam kajian arkeologi masa kolonial, termasuk dokumentasi yang berkaitan dengan W.F. Stutterheim pada dekade 1930-an. Artefak seperti ini penting karena membantu arkeolog membaca fungsi sebuah bangunan tidak hanya melalui arsitektur, tetapi juga melalui benda yang pernah digunakan dalam aktivitas di dalamnya.
Jejak Penemuan dan Pemugaran
Berdasarkan karakter arsitektur dan tinggalan arkeologisnya, kompleks ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-8 hingga ke-9 dan berkaitan dengan perkembangan agama Buddha pada masa Mataram Kuno, di bawah Dinasti Syailendra. Berbagai publikasi menghubungkan Candi Ngawen dengan lingkungan kekuasaan Dinasti Syailendra, dinasti yang juga memiliki peran penting dalam perkembangan sejumlah monumen Buddha besar di Jawa Tengah pada periode yang sama. Namun tanggal pembangunan Candi Ngawen belum dapat disebut secara pasti seperti sebuah bangunan modern yang memiliki tanggal peresmian. Penanggalannya lebih banyak diperoleh melalui perbandingan gaya arsitektur, arca, dan konteks sejarah kawasan Kedu pada masa Mataram Kuno.
Candi yang terletak di Desa Ngawen ini ditemukan pertama kali tahun 1864 oleh seorang Belanda bernama N.W. Hoepermans. Kegiatan penelitian dan pemugaran Candi Ngawen berkembang pada awal abad ke-20 ketika para ahli kepurbakalaan mulai melakukan penggalian dan dokumentasi lebih sistematis. Van Erp adalah salah satu peneliti yang memulai penelitian Candi Ngawen pada 1909, dan tepat pada 1920 ia memulai ekskavasi candi dengan mengeringkan lahan sawah tempat Ngawen ditemukan. Dokumentasi lama mencatat P.J. Perquin memiliki peran dalam kegiatan penelitian dan pemugaran kawasan tersebut. Candi II kemudian dipugar pada 1927 dan menjadi bangunan yang paling lengkap di antara kelima struktur, sehingga susunan arsitektur Candi II, termasuk kaki, tubuh, relung, arca singa, dan sebagian atap, tetap dapat dipelajari sampai sekarang. Adapun pemberian nama Candi Ngawen, karena belum ditemukan prasasti terkait candi itu, sehingga penamaannya mengacu pada lokasi atau dusun setempat.
Menurut penjaga Candi Ngawen, Agus, pembangunan Candi Ngawen dulu diperkirakan satu zaman dengan Candi Borobudur dan Candi Gunung Wukir, dibangun secara bergotong-royong oleh pendirinya antara Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra dan Raja Pikatan Dyah Siladu dari Dinasti Sanjaya, dan Candi Ngawen dulu menjadi korban letusan Gunung Merapi tahun 1006 Masehi. Kisah itu perlu dibaca sebagai penuturan penjaga situs, bukan ketetapan arkeologi, tetapi ia menunjukkan bagaimana masyarakat sekitar merawat ingatan tentang candi ini: sebagai karya bersama dua wangsa, dan sebagai korban bencana yang sama yang mengubur banyak peninggalan Jawa Kuno.
Venuvana dan Prasasti 824: Kaitan yang Masih Diperdebatkan
Keberadaan Candi Ngawen kadang dikaitkan dengan Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah yang berasal dari 746 Saka atau sekitar 824 Masehi. Prasasti tersebut merupakan salah satu sumber penting untuk memahami perkembangan bangunan suci Buddha pada masa Syailendra di kawasan yang sekarang menjadi Magelang dan sekitarnya. Dalam bahasa Sanskerta, Candi Ngawen disebut dengan Venuvana yang bermakna hutan bambu, dan kemungkinan besar candi ini merupakan bangunan suci seperti yang tertulis dalam prasasti Karang Tengah pada 824 Masehi.
Namun hubungan langsung antara nama bangunan dalam prasasti dengan Candi Ngawen tidak sejelas interpretasi Venuvana yang banyak dikaitkan dengan Candi Mendut. Karena itu, tahun 824 Masehi lebih aman digunakan sebagai konteks periode perkembangan Buddhisme di kawasan daripada sebagai tanggal pasti pembangunan Candi Ngawen. Dari sisi gaya, Ngawen ditempatkan dalam lingkungan kebudayaan abad ke-8 hingga ke-9, periode yang juga menyaksikan perkembangan Candi Mendut, Pawon, Borobudur, Kalasan, Sewu, dan berbagai monumen Buddha lainnya di Jawa bagian tengah.
Kejujuran ini penting karena pembaca KabarTidar mungkin sudah membaca artikel Sumbu Aksis Budaya Borobudur, Pawon, dan Mendut, yang mencatat kaitan Venuvana dengan Mendut. Kedua kaitan itu hidup berdampingan dalam kajian yang berbeda, dan artikel ini tidak mengklaim salah satunya sebagai kepastian. Yang pasti adalah Ngawen sezaman dengan Mendut dan Borobudur, berada di lanskap spiritual yang sama, dan dalam kajian rute ziarah yang lebih panjang, Ngawen disebut sebagai gerbang pertama Pancadnyani Buddha, sebelum Mendut, Pawon, dan Borobudur. Rute itu pula yang dilalui para biksu dalam Thudong Dhammayatra dari Ngawen menuju Mendut, Pawon, dan Borobudur, sehingga Ngawen adalah gerbang yang terlupakan dari poros yang sama. Untuk kisah Mendut sendiri, pembaca dapat melihat artikel Candi Mendut di KabarTidar.
Berkunjung ke Ngawen
Salah satu hal yang langsung terasa ketika tiba di Ngawen adalah hubungan situs dengan lingkungan pedesaan. Kawasan candi dikelilingi permukiman, persawahan, saluran air, dan vegetasi yang membuat suasananya sangat berbeda dari kompleks Borobudur yang memiliki area wisata berskala besar. Kehidupan masyarakat masih berlangsung dekat dengan situs, dan aktivitas pertanian menjadi bagian dari lanskap yang dilihat pengunjung selama perjalanan menuju candi. Pagi dan sore memberikan karakter cahaya yang menarik untuk fotografi karena bangunan batu terlihat kontras dengan rumput, pepohonan, dan sawah di sekitarnya.
Kondisi lanskap Ngawen juga menghadirkan tantangan konservasi: dokumentasi arkeologi mencatat sebagian kawasan candi berada pada elevasi yang lebih rendah dibandingkan lahan persawahan di sekitarnya, sehingga pengelolaan air di sekitar situs menjadi perhatian tersendiri, ironis untuk candi yang justru terkenal karena singa penyalur air hujannya. Dibanding Candi Borobudur dan Candi Mendut, kunjungan ke Candi Ngawen tergolong sepi. Untuk mempromosikan candi ini, pernah diadakan Festival Candi Ngawen yang menawarkan atraksi seni budaya. Festival ini sudah diadakan dua kali, dengan festival terakhir pada September 2016 yang diikuti ribuan peserta, mulai dari pelaku wisata, pelaku seni, masyarakat adat, petani, pelaku UMKM, sampai anggota pramuka. Bagi yang ingin berkunjung, menurut laporan 2022, tiket masuknya hanya Rp2.000, dan pengunjung disarankan mengonfirmasi ulang tarif serta jam buka terbaru sebelum datang, karena informasi itu dapat berubah.
Pada akhirnya, Candi Ngawen adalah pengingat bahwa warisan besar tidak selalu berukuran besar. Lima bangunan kecil yang berjajar di tengah sawah Muntilan, dengan singa-singa yang mengalirkan air hujan lewat mulutnya, dua Dhyani Buddha yang berbeda arah dan mudranya, serta satu lonceng perunggu yang pernah berdentang di puncak Candi II, sudah cukup untuk menempatkan Ngawen di antara monumen Buddha terpenting di Kedu. Ia hanya menunggu pengunjung yang mau berhenti sejenak sebelum Mendut, di gerbang pertama poros ziarah yang selama ini terlewatkan.



1 Komentar