Sabtu, 24 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Siap Hadapi Dunia Kerja, Siswa SLB Kota Magelang…
Pendidikan

Siap Hadapi Dunia Kerja, Siswa SLB Kota Magelang Ikuti PKL di Perusahaan Lokal

Siswa kelas XI SLB Kota Magelang menjalani Praktik Kerja Lapangan di perusahaan lokal sejak Selasa 20 Oktober 2026: seleksi ketat sebelum diterjunkan, pendampingan koordinator di tiap lokasi, dan kurikulum vokasi yang mengutamakan keterampilan fungsional.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 18.17 WIB
Siswa SLB Magelang: ilustrasi siswa berseragam praktik kerja di usaha lokal dengan pendamping guru di latar
Ilustrasi siswa praktik kerja di usaha lokal dengan pendampingan guru.

MAGELANG — Siswa SLB Magelang kelas XI menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sejumlah perusahaan lokal di Kota Magelang pada Selasa (20/10/2026), sebagai persiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus dari sekolah. Program ini menempatkan siswa langsung di tempat usaha, bukan sekadar belajar teori di kelas.

Peserta PKL adalah siswa kelas XI Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Magelang yang sebelumnya lolos seleksi ketat dari guru pembimbing. Penilaian itu dimaksudkan untuk memastikan kemandirian dasar dan kesiapan mental siswa untuk beradaptasi di luar lingkungan sekolah, sebelum mereka diterjunkan ke tempat kerja yang sesungguhnya.

Wakil Ketua Bidang Kurikulum SLB Kota Magelang, Siti Maisaroh, menjelaskan bahwa target program ini bukan sekadar menuntaskan materi akademis. “Target utama kita bukan sekadar ketuntasan materi akademis. Namun, bagaimana ilmu itu bisa melekat dan fungsional bagi masa depan anak-anak,” kata Maisaroh.

Siswa SLB Magelang Belajar Langsung di Dunia Usaha

Perusahaan mitra yang menjadi tempat PKL bergerak di empat bidang usaha, yakni kerajinan, jasa kecantikan, otomotif, dan kuliner. Keberagaman bidang ini memberi siswa pilihan pengalaman kerja yang dekat dengan minat dan kemampuan masing-masing, sekaligus mengenalkan mereka pada ritme kerja di usaha lokal.

Mitra yang disebutkan dalam laporan Magelang Ekspres, sesuai urutan pemberitaan, adalah CV Embun Cipta Kreasi Indo, Rumah Batik Nanom, Eca Beauty & Spa, Maksiwash yang bergerak di jasa cuci motor, PT Nutri Coco Nusantara, Kaula Sofa, dan Snack Barokah yang memproduksi keripik. Di tempat-tempat inilah siswa kelas XI SLB Kota Magelang menjalani rutinitas PKL mereka.

Selama PKL, sekolah menerapkan skema pendampingan berlapis. Seorang koordinator guru memantau siswa agar rutinitas yang menyerupai bekerja penuh waktu dapat berjalan optimal. Setiap lokasi magang memiliki koordinatornya masing-masing yang bertugas mengantar dan menyerahkan siswa ke tempat usaha. “Tiap tempat magang ada koordinatornya masing-masing yang bertugas mengantar dan menyerahkan siswa. Sehingga, mereka bisa fokus belajar mandiri di tempat usaha,” tutur Maisaroh.

Kurikulum Vokasi: Keterampilan Fungsional di Atas Teori

PKL ini merupakan penerapan kurikulum vokasi yang menekankan keterampilan fungsional di atas teori kelas. Artinya, apa yang dipelajari siswa di sekolah diuji dan dilatih langsung dalam pekerjaan sehari-hari di tempat usaha, sehingga keterampilan itu benar-benar dapat dipakai setelah mereka lulus.

Tujuan akhirnya, sebagaimana disampaikan pihak sekolah, adalah menghasilkan lulusan penyandang disabilitas yang mandiri dan siap menghadapi pekerjaan nyata. Kemandirian menjadi kata kunci: siswa tidak hanya dilatih menguasai satu jenis pekerjaan, tetapi juga dibiasakan menjalani rutinitas kerja, berinteraksi dengan lingkungan baru, dan menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab.

Pada masa pelaporan, waktu belajar siswa sepenuhnya dicurahkan untuk praktik langsung di perusahaan mitra. Dengan pola itu, sekolah berharap pengalaman kerja yang diperoleh siswa selama PKL menjadi bekal yang lebih konkret ketimbang sekadar nilai di atas kertas, terutama bagi siswa yang akan segera memasuki dunia kerja.

Dalam pendidikan vokasi, praktik kerja lapangan memang dirancang sebagai jembatan antara ruang kelas dan tempat kerja. Siswa tidak hanya mempraktikkan keterampilan teknis yang dipelajari di sekolah, tetapi juga belajar mengikuti jam kerja, menerima arahan dari pembimbing di tempat usaha, dan bekerja dalam tim. Bagi siswa sekolah luar biasa, pengalaman semacam ini memiliki nilai tambah: kemandirian yang dilatih di sekolah diuji dalam situasi nyata, dengan pendampingan yang disesuaikan. Pendampingan koordinator di setiap lokasi memastikan proses belajar itu tetap terpantau tanpa menghilangkan ruang bagi siswa untuk mencoba mandiri.

Dunia usaha lokal Magelang Raya sebelumnya juga menjadi ruang belajar bagi rombongan siswa dari luar daerah, seperti kunjungan keluarga besar SD Mugres dan Spemutu ke tiga UMKM di kawasan Borobudur dengan VW klasik. Bedanya, PKL siswa SLB Kota Magelang menempatkan siswa sebagai pekerja magang, bukan pengunjung, sehingga tanggung jawab dan ritme kerjanya mengikuti standar tempat usaha.

Bagi SLB Kota Magelang, PKL ini adalah jembatan antara bangku sekolah dan dunia kerja. Seleksi yang ketat di awal, pendampingan koordinator di setiap lokasi, dan penekanan pada keterampilan yang fungsional dirancang agar siswa kelas XI tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga percaya diri untuk mandiri setelah lulus nanti.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *