Candi Asu Sengi: Candi Hindu di Lereng Merapi yang Tidak Pernah Selesai Dibangun
Di lereng barat Merapi berdiri candi Hindu yang tak pernah selesai dibangun. Candi Asu Sengi: tanpa atap, dinding polos, dan nama yang lahir dari lembu yang mirip anjing.

Di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, di lereng barat Gunung Merapi, berdiri sebuah candi Hindu yang sampai sekarang tidak utuh: tanpa atap, dan dindingnya polos tanpa ukiran relief. Bukan karena rusak, melainkan karena memang belum selesai dibangun. Setelah lebih dari 15 tahun pengerjaan, candi ini ditinggalkan penghuninya karena ancaman erupsi Merapi, lalu material vulkanik menguburnya selama ratusan tahun. Namanya pun menyimpan misteri: Candi Asu, dari kata Jawa untuk anjing, yang konon berasal dari patung lembu yang sudah lapuk sehingga lebih mirip anjing daripada lembu.
Candi Asu Sengi berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya, atau Mataram Hindu, dan diperkirakan dibangun sekitar 860-an Masehi pada masa Rakai Kayuwangi berkuasa. Ia adalah tempat ibadah untuk memuja para dewa dan arwah leluhur, dengan arca Nandi yang menunjukkan pemujaan Siwa sebagai dewa tertinggi. Dan menurut kajian yang dikutip jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, letusan Merapi pada abad ke-9 itu bahkan melumpuhkan sistem kemasyarakatan di kompleks Candi Asu, serta diperkirakan menjadi salah satu penyebab pindahnya ibu kota Mataram ke Jawa Timur. Sebuah candi kecil yang belum selesai, yang kisahnya menyentuh nasib sebuah kerajaan.
Candi Asu: Nama yang Lahir dari Lembu yang Mirip Anjing
Candi Asu Sengi merupakan sebuah candi kuno yang bercorak Hindu dan berdiri di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi, sebelah barat Sungai Tingsing Pabelan, di tepian sungai, di antara Sungai Pabelan dan Sungai Telingsing, sekitar 25 kilometer timur laut Candi Borobudur dan sekitar 10 kilometer timur laut Candi Ngawen. Candi ini berada tidak jauh dari jalur SBB, atau Jalur Solo-Selo-Borobudur, yang menjadi alternatif Magelang ke Solo melalui Taman Nasional Gunung Merapi.
Nama asli dari bangunan candi tersebut tidak diketahui dengan pasti. Nama Asu berasal dari arca Nandi di dalam bilik candi tersebut yang menyerupai anjing, dalam bahasa Jawa disebut asu. Sebenarnya belum ada penjelasan pasti terkait pemberian nama ini: masyarakat sekitar menamai demikian karena saat ditemukan di depan candi ini terdapat patung Lembu Nandi yang sudah lapuk dan lebih mirip asu daripada lembu, sedangkan Sengi adalah nama desa tempat candi ini ditemukan. Informasi lain menyebutkan bahwa nama Asu berasal dari bahasa Jawa ngaso, yang kemudian menamakan situs tersebut dengan nama Candi Asu, karena candi ini digambarkan sebagai tempat peristirahatan seseorang setelah melakukan perjalanan jauh.
Asu dalam budaya Jawa tidak selalu berkonotasi negatif. Dalam kisah epos Mahabharata, ketika Yudhistira berjalan ke Mahameru menuju kayangan, ia ditemani oleh seekor asu yang sangat setia. Saat akan masuk kayangan, dewa menyuruh Yudhistira meninggalkan sang anjing. Yudhistira pun menolak dan akhirnya batal menuju kayangan. Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, pun demikian tidak ada keburukan yang mutlak. Nama yang terdengar kasar itu, dengan kata lain, tidak serta-merta merendahkan candi ini: dalam khazanah Jawa, anjing juga adalah lambang kesetiaan.
Candi yang Tidak Pernah Selesai
Bangunan Candi Asu Sengi saat ini tampak tidak utuh. Bagian atap tidak ada dan beberapa bagian dindingnya masih polos tidak berukir relief. Bukan hilang atau rusak, pembangunan candi ini memang belum selesai. Memakan waktu lebih dari 15 tahun, candi yang tengah dibangun ini kemudian ditinggalkan oleh warganya karena ancaman dari erupsi Gunung Merapi. Setelah erupsi, material vulkanik Gunung Merapi mengubur Candi Asu Sengi selama ratusan tahun. Ditemukan lagi oleh seorang berkebangsaan Belanda yang kemudian dibantu warga untuk melakukan ekskavasi dengan menggali dan membangun reruntuhan candi.
Struktur bangunannya terbuat dari batu andesit, dengan bentuk yang sederhana namun kokoh. Hiasan relief pada tubuh candi tidak terlalu ramai, namun tetap memperlihatkan ketelitian dan kehalusan pahatan khas era Mataram Kuno. Beberapa bagian candi tampak tidak utuh akibat usia dan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, namun hal tersebut justru menambah kesan autentik dan bersejarah. Berbeda dengan candi-candi besar yang telah menjadi ikon pariwisata, Candi Asu Sengi hadir dengan suasana yang lebih sunyi dan alami. Keheningan inilah yang justru menjadi daya tarik utama, membawa pengunjung seakan kembali ke masa ratusan tahun silam.
Lebih dari 15 tahun pengerjaan berarti candi ini dibangun oleh lebih dari satu angkatan tukang dan pemahat. Sebuah candi bukan proyek semusim: batu andesit harus ditambang, dipahat, diangkut, dan disusun, sementara relief diukir setelah dinding berdiri. Ketika ancaman erupsi memaksa warga pergi, yang tertinggal bukan hanya bangunan yang belum beratap, melainkan juga rencana yang belum selesai diukir: dinding-dinding polos itu adalah bagian yang belum sempat mendapat giliran pahat. Inilah yang membuat Candi Asu berbeda dari candi yang rusak karena perang atau penjarahan: kerusakannya bukan akibat manusia, melainkan akibat pekerjaan yang tidak pernah dilanjutkan.
Ketidakselesaian ini justru membuat Candi Asu sangat berharga sebagai bukti sejarah. Kebanyakan candi yang kita lihat adalah bangunan yang selesai, dipugar, atau direkonstruksi. Candi Asu adalah sebaliknya: sebuah proyek yang terhenti di tengah jalan, yang dinding polosnya adalah catatan langsung tentang kapan pekerjaan berhenti. Ia tidak bercerita tentang kejayaan yang rampung, melainkan tentang masyarakat yang harus pergi sebelum sempat menyelesaikan rumah ibadahnya.
Prasasti dan Angka Tahun
Saat pertama kali ditemukan terdapat tiga buah prasasti batu dan satu buah arca lembu. Prasasti tersebut yaitu Sri Manggala I (874 M), Sri Manggala II (876 M), dan Kurambitan. Dari prasasti tersebut diketahui bahwa Candi Asu Sengi dibangun pada 869 M saat Rakai Kayuwangi dari Wangsa Sanjaya berkuasa. Tertulis juga Candi Asu Sengi merupakan tempat ibadah untuk memuja para dewa dan arwah leluhur. Informasi tentang Candi Asu juga diperoleh dari Prasasti Sri Manggala II, Kurambitan I, dan Kurambitan II yang berangka tahun 880, yang menurut kajian jurnal Universitas Negeri Yogyakarta membuat candi ini diperkirakan berdiri pada tahun 860, pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.
Perbedaan angka 860 dan 869 di antara sumber-sumber itu tidak perlu dipertentangkan: keduanya menunjuk ke dasawarsa yang sama, masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, dan keduanya bersandar pada prasasti yang sama. Yang penting adalah prasasti-prasasti itu menempatkan Candi Asu dengan kokoh pada abad ke-9, sezaman dengan masa ketika Mataram Kuno Hindu dan Buddha sama-sama membangun monumen di Kedu dan sekitarnya. Candi Asu merupakan tempat peribadatan agama Hindu sebagai umat mayoritas pada masanya, dan keberadaan arca Nandi atau lembu, wahana atau kendaraan Dewa Siwa, menunjukkan bahwa pemujaan terhadap Siwa sebagai dewa tertinggi telah dilakukan oleh masyarakat di tempat tersebut.
Prasasti-prasasti itu juga memberi gambaran tentang kehidupan keagamaan di sekitar candi: tempat ibadah untuk memuja para dewa dan arwah leluhur, dengan pemujaan Siwa sebagai dewa tertinggi yang ditandai arca Nandi. Kombinasi dewa dan leluhur ini adalah ciri praktik Hindu pada masanya, di mana kuil bukan hanya tempat menyembah dewa, melainkan juga tempat menghormati mereka yang telah pergi. Candi Asu, dengan demikian, adalah pusat spiritual sebuah komunitas, bukan sekadar monumen: di sinilah warga Sengi abad ke-9 berdoa, memberi sesaji, dan mengingat leluhur, sebelum letusan memaksa mereka pergi.
Dalam pengertian yang dikemukakan Soekmono, candi merupakan bangunan pemakaman dan tempat persembahyangan atau kuil. Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi biasanya memiliki fungsi sebagai tempat peribadatan di mana umat Hindu maupun Buddha melaksanakan ritual keagamaan, berbeda dengan Jawa Timur di mana candi identik dengan kuburan atau pendharmaan raja tertentu. Candi Asu, dengan Nandi dan prasasti-prasastinya, adalah contoh yang jelas dari fungsi pertama: rumah ibadah yang hidup, bukan makam raja.
Letusan yang Melumpuhkan Sebuah Masyarakat
Diperkirakan candi ini tidak selesai dalam pembangunan, di mana terjadi bencana letusan Merapi yang menyebabkan candi ini tidak selesai dalam proses pembangunan. Ashari (2013) menyebutkan bahwa bencana Merapi yang terjadi pada masa abad ke-9 bahkan telah melumpuhkan sistem kemasyarakatan di masyarakat kompleks Candi Asu. Bencana alam tersebut juga diperkirakan sebagai salah satu penyebab pindahnya ibu kota kerajaan Mataram ke Jawa Timur.
Pernyataan ini patut direnungkan: sebuah letusan tidak hanya menghentikan pembangunan satu candi, melainkan melumpuhkan sistem kemasyarakatan di sekitarnya, hingga diduga ikut mendorong perpindahan pusat kerajaan. Candi Asu adalah bukti material dari peristiwa itu: dinding yang polos, atap yang tidak pernah terpasang, dan lapisan vulkanik yang menguburnya selama ratusan tahun. Dan Merapi bukan ancaman masa lalu semata. Gunung yang sama masih aktif hingga kini, dengan status Siaga atau Level III menurut BPPTKG, dan guguran lavanya masih dipantau dari dekat, sebagaimana diberitakan KabarTidar dalam artikel guguran lava Merapi. Pengunjung Candi Asu hari ini berdiri di lereng gunung yang sama yang menghentikan pembangunan candi ini lebih dari seribu tahun lalu.
Mitos Dewindani dan Tiga Pertapa
Mitos yang beredar di masyarakat menyebut Candi Asu Sengi adalah bentuk simbolis dari Dewindani yang dikutuk oleh dewa. Dewindani merupakan seorang putri raja berdarah ningrat namun sangat tercela karena tak bisa mengendalikan gairahnya yang meletup-letup. Walaupun sudah bersuami, Dewindani kerap berhubungan dengan pria lain yang dirasa menurutnya menarik. Karena perilakunya yang seperti binatang ini, Dewindani dikutuk oleh para dewa menjadi seekor lembu dengan muka menyerupai asu. Candi Asu Sengi, menurut mitos itu, dibangun untuk memberikan pengajaran kepada manusia agar tidak terjebak oleh jeratan seks bebas.
Mitos ini perlu dibaca sebagai mitos, bukan sejarah: ia tidak tercatat dalam prasasti, dan penjelasan arkeologis tentang nama Asu, yaitu Nandi yang lapuk dan mirip anjing, jauh lebih kuat. Tetapi mitos itu menunjukkan bagaimana masyarakat sekitar memberi makna moral pada nama yang janggal itu, mengubahnya dari sekadar julukan menjadi peringatan. Ada satu lagi cerita yang kemudian menjadi latar penamaan tempat ini, yaitu kata asu dari bahasa Jawa ngaso yang artinya beristirahat, sehingga candi ini digambarkan sebagai tempat peristirahatan seseorang setelah melakukan perjalanan jauh. Hingga saat ini, bangunan candi ini konon masih dijaga oleh tiga pertapa, yaitu Ki Panjalo, Ki Panjaloka, dan Ki Budayana, dan karena itulah hingga kini candi ini juga kerap jadi tempat untuk bertapa bagi pengunjung yang memiliki hajat. Kepercayaan itu, seperti mitos Dewindani, adalah bagian dari kehidupan situs hari ini, bukan catatan sejarahnya, dan artikel ini menuliskannya sebagai kepercayaan setempat.
Satu Gugus di Lereng Merapi
Candi Asu Sengi tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari kelompok candi yang juga mencakup Candi Pendem dan Candi Lumbung Sengi, yang keduanya sama-sama di Sengi dan dibangun dalam satu masa. Magelang sendiri memiliki lebih dari 10 candi, di antaranya Candi Borobudur, Mendut, Pawon, Ngawen, Selogriyo, Umbul, Losari, Gunungsari, Lumbung, Pendem, dan Candi Asu, sehingga tidak berlebihan bila Magelang dijuluki bhumi seribu candi. Candi Asu adalah salah satu mata rantai yang paling sunyi dalam gugus itu, dan justru karena itu ia melengkapi gambaran: dari Borobudur yang monumental, Mendut yang megah, Ngawen yang berjajar lima, hingga Asu yang tidak pernah selesai.
Candi Asu juga menjadi menarik sebagai tempat untuk belajar sekaligus berwisata karena lingkungan alam di sekitarnya mendukung kegiatan eksplorasi fenomena alam maupun sosial. Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta pada Maret hingga September 2019, dengan 7 informan yang terdiri dari penjaga candi dan guru IPS, menemukan bahwa Candi Asu mempunyai potensi besar sebagai sumber belajar IPS bagi peserta didik di sekitar lokasi, untuk kompetensi tentang sumber daya alam, kondisi geografis, serta tema tentang perubahan dan kesinambungan masyarakat Indonesia pada masa Hindu dan Buddha. Model pembelajaran inquiry, discovery, maupun project-based learning dapat dipraktikkan secara kreatif dan menyenangkan dalam setting belajar Candi Asu dan lingkungan sekitarnya. Kajian lain bahkan menemukan potensi pembelajaran matematika di lingkungan Candi Asu, khususnya untuk mempelajari konsep persegi panjang, trapesium, pencerminan, dan geometri ruang, melalui kegiatan mengukur, mengklasifikasikan, menyimpulkan, dan memodelkan. Sebuah candi yang tidak selesai ternyata adalah ruang kelas yang sangat lengkap: geometri bangunannya, geografi lereng Merapinya, dan sejarah masyarakatnya yang lumpuh karena letusan.
Magelang, Bhumi Seribu Candi
Kabupaten Sleman dan Magelang di Jawa Tengah merupakan kawasan yang kaya akan situs sejarah dan purbakala, sehingga tidak berlebihan bila para arkeolog dan sejarawan memperkirakan bahwa kawasan tersebut merupakan pemukiman tradisional serta pusat politik Kerajaan Mataram pada abad ke-9. Mundardjito (2002) mengemukakan bahwa Kabupaten Sleman yang luasnya 574,82 kilometer persegi terdapat 181 situs sejarah dan purbakala, sedangkan di Kabupaten Bantul yang luasnya 443,43 kilometer persegi ditemukan 37 situs. Candi merupakan situs peninggalan sejarah masa lampau yang menggambarkan ketinggian teknologi masyarakat Indonesia, dan sebaran situs candi berkorelasi kuat dengan sebaran potensi sumber daya lingkungannya, karena berkaitan dengan daya untuk mendukung eksistensi candi tersebut. Oleh karena itu, lingkungan sekitar candi merupakan lingkungan yang sangat relevan untuk kegiatan belajar mengajar peserta didik.
Magelang memiliki lebih dari 10 candi, di antaranya Candi Borobudur, Mendut, Pawon, Ngawen, Selogriyo, Umbul, Losari, Gunungsari, Lumbung, Pendem, dan Candi Asu. Candi telah menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara sehingga dapat menjadi simpul pertumbuhan ekonomi, dan Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko di Kabupaten Sleman telah berkembang menjadi objek wisata yang selalu dipadati kunjungan wisatawan dari berbagai negara. Candi Asu adalah kebalikannya: kecil, sepi, dan belum selesai, tetapi justru karena itu ia mengajarkan hal yang tidak diajarkan candi besar, yaitu bahwa peradaban tidak selalu berakhir dengan megah, kadang berakhir dengan dinding polos yang ditinggalkan karena gunung meletus.
Pemilihan lokasi candi pada masa lalu pun memiliki banyak pertimbangan, antara lain potensi lahan dan air. Candi Asu berdiri di tepian sungai, di lereng yang subur, di antara dua aliran air, tepat di jalur yang menghubungkan kawasan Magelang dengan Solo melalui lereng Merapi. Sungai dan lahan subur itu bukan kebetulan: candi membutuhkan air untuk ritual dan masyarakat untuk menopangnya, dan ketika letusan melumpuhkan sistem kemasyarakatan itu, candi pun kehilangan alasan untuk diselesaikan. Geografi Candi Asu, dengan kata lain, adalah bagian dari kisahnya, bukan sekadar latar.
Berkunjung ke Candi Asu
Berbeda dengan candi-candi besar yang telah menjadi ikon pariwisata, Candi Asu Sengi hadir dengan suasana yang lebih sunyi dan alami. Kawasan ini berada di dataran tinggi yang subur karena dekat dengan Gunung Merapi, dengan jalan lokal yang terawat menghubungkan ke jalan utama Magelang dan penanda arah yang jelas menuju situs. Perjalanan menuju candi melewati desa-desa tradisional dan lanskap subur, sehingga pendekatan ke situs ini sama berkesannya dengan tujuannya. Pengunjung yang datang akan mendapati bangunan andesit yang sederhana namun kokoh, dinding polos yang menjadi bukti pekerjaan yang terhenti, dan lingkungan sungai serta lereng yang subur.
Karena situs ini kecil dan sepi, pengunjung disarankan datang pada pagi atau sore hari untuk cahaya terbaik dan suasana yang tenang, serta menghormati fungsi situs sebagai tempat yang masih dikeramatkan sebagian masyarakat, termasuk mereka yang datang untuk bertapa. Bangunan andesit yang sederhana namun kokoh itu paling baik dinikmati dengan berjalan pelan: perhatikan dinding polos yang belum sempat berukir, bayangkan pahat yang terhenti, dan lihat ke arah Merapi yang masih mengepulkan asap di kejauhan. Candi Asu tidak menawarkan kemegahan, melainkan keheningan, dan keheningan itulah yang membuatnya berkesan: sebuah candi yang tidak pernah selesai, di lereng gunung yang tidak pernah diam.
Informasi praktis seperti tarif dan jam buka sebaiknya dikonfirmasi ulang sebelum datang, karena situs kecil seperti ini dapat berubah pengelolaannya tanpa pemberitahuan luas. Yang pasti, Candi Asu layak dimasukkan dalam rute wisata candi Magelang: dari Borobudur dan Mendut yang megah, singgah ke Ngawen yang berjajar lima, lalu ke Sengi untuk melihat candi yang tidak pernah selesai, dan memahami bahwa sejarah Magelang tidak hanya ditulis oleh bangunan yang rampung, melainkan juga oleh bangunan yang ditinggalkan.
Nama Asu sendiri, pada akhirnya, adalah cermin dari cara masyarakat mengingat. Ada yang mengingatnya dari lembu yang lapuk dan mirip anjing, ada yang mengingatnya dari tempat beristirahat setelah perjalanan jauh, dan ada yang mengingatnya dari putri yang dikutuk. Tiga penjelasan untuk satu nama, dan ketiganya hidup berdampingan tanpa saling meniadakan, seperti halnya prasasti, mitos, dan dinding polos yang hidup berdampingan di situs ini. Candi Asu tidak memberikan jawaban tunggal, ia memberikan lapisan-lapisan ingatan, dan setiap lapisan adalah cara berbeda untuk memahami tempat yang sama.
Pada akhirnya, Candi Asu adalah pengingat bahwa Merapi bukan hanya latar, melainkan pelaku sejarah. Gunung itu menghentikan pembangunan sebuah candi, menguburnya selama ratusan tahun, melumpuhkan masyarakat di sekitarnya, dan diduga ikut mendorong pindahnya ibu kota sebuah kerajaan. Dan di tengah semua itu, seekor lembu yang lapuk hingga mirip anjing memberi nama pada candi yang tidak pernah selesai, sebuah nama yang terdengar kasar tetapi menyimpan kesetiaan, peringatan, dan tempat beristirahat, sekaligus.


