Sabtu, 24 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Gunung Tidar: Paku Tanah Jawa, Jalur Ziarah, dan…
Wisata

Gunung Tidar: Paku Tanah Jawa, Jalur Ziarah, dan Kawah Candradimuka di Jantung Kota Magelang

Satu bukit di tengah Kota Magelang merangkap empat peran: poros mitos Pulau Jawa, jalur ziarah, kawah candradimuka perwira, dan kebun raya. Mendakinya berarti menaiki 1.002 anak tangga melewati semua lapisan itu.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 18.47 WIB
Ilustrasi Gunung Tidar, bukit hijau dengan tangga pendakian, tugu di puncak, dan gedung Akademi Militer di lembah
Ilustrasi Gunung Tidar, bukit hijau dengan tangga pendakian dan tugu di puncaknya. (Ilustrasi: KabarTidar)

Gunung Tidar adalah bukit setinggi 503 meter di atas permukaan laut yang berdiri di tengah Kota Magelang. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bukit inilah “Paku Tanah Jawa”: pasak yang ditancapkan ke bumi agar Pulau Jawa tidak terombang-ambing di lautan dan tetap tenang serta aman. Di satu bukit yang sama, peziarah mendaki ribuan anak tangga menuju makam-makam keramat, taruna Akademi Militer ditempa menjadi perwira, dan para kepala daerah menjalani retret.

Dua kali berturut-turut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengadakan retret di Gunung Tidar. Terakhir, Gunung Tidar menjadi lokasi pendakian dalam rangkaian retret para kepala daerah pada 21–28 Februari 2025, setelah sebelumnya para anggota Kabinet Merah Putih mendaki bukit ini pada hari terakhir retret di Akademi Militer Magelang, 27 Oktober 2024. Pemilihan Lembah Tidar bukan tanpa alasan: dalam sambutan sebelum gala dinner di Akmil Magelang pada 25 Oktober 2024, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa Lembah Tidar adalah bagian dari wilayah perjuangan panjang, tempat perlawanan terhadap penjajah berlangsung ratusan tahun, dari Sultan Agung yang melintasi daerah ini untuk menyerang Batavia hingga Diponegoro yang melawan penjajah dengan basis di antara lima gunung, Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Tidar.

Nama Tidar sendiri, menurut Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, berasal dari dua kata: mukti yang berarti berhasil, dan kedadar yang berarti ditempa atau diuji. Makna Tidar dapat diartikan sebagai seseorang yang telah berhasil ditempa atau menghadapi ujian setelah mengunjungi Gunung Tidar. Filosofi itu menjelma nyata di bukit ini: siapa pun yang datang, peziarah, taruna, maupun kepala daerah, seolah harus melewati tempaan anak tangga dan ujian ketekunan sebelum sampai di puncak.

Gunung Tidar: Paku yang Menenangkan Pulau Jawa

Di kalangan masyarakat Jawa, Gunung Tidar diyakini sebagai Pakuning Tanah Jowo, “paku” yang melambangkan inti dari tanah Jawa. Menurut mitos, Gunung Tidar dianggap sebagai pasak yang ditancapkan di tengah Pulau Jawa agar pulau ini tidak terombang-ambing di lautan. Legenda ini memiliki beberapa versi yang hidup berdampingan, dan perbedaan itu justru menunjukkan betapa dalamnya akar cerita ini di masyarakat.

Dalam satu versi, legenda berawal dari sebuah paku yang dipasang oleh dewa. Dahulu kala Pulau Jawa belum berdiri dengan kokoh. Pulau ini terus bergerak seolah-olah terombang-ambing di lautan luas. Para dewa yang melihat keadaan ini merasa khawatir. Salah satu dewa memutuskan untuk turun ke dunia, ke Tanah Jawa, dan menancapkan sebuah paku ke dasar laut. Paku ini menjadi simbol yang mengikat Pulau Jawa agar tidak bergerak lagi. Ketika paku itu dipasang, ia menjelma menjadi Gunung Tidar yang dikenal sekarang ini. Tak heran jika Gunung Tidar sering disebut sebagai “pakuning tanah Jawa” atau “paku tanah Jawa”, nama yang mencerminkan peran gunung ini dalam stabilitas pulau.

Dalam versi lain yang lebih populer di kalangan peziarah, Pulau Jawa “dipaku” oleh ulama Persia, Syekh Subakir, dengan tombak bernama Kyai Sepanjang untuk mencegah pulau ini tenggelam. Syekh Subakir dikisahkan datang atas utusan Wali Songo untuk mengusir kekuatan jahat yang bersarang di Gunung Tidar, yang kala itu dianggap sebagai pusat kekuatan gaib tempat berkumpulnya makhluk halus yang menebarkan ketakutan dan penyakit di Pulau Jawa. Dengan membawa Rajah Kalacakra, doa dan mantra perlindungan, Syekh Subakir disebut berhasil menetralisir energi negatif itu setelah berbagai pertarungan gaib, lalu menancapkan tongkat atau paku besar sebagai tanda penaklukan. Tongkat itu dipercaya menjaga keseimbangan alam Pulau Jawa dan menjadi simbol Gunung Tidar sebagai paku atau poros Jawa.

Di puncak Gunung Tidar dibuat tanah lapang yang di tengahnya terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, pusatnya Tanah Jawa, yang membuat pulau ini tetap tenang dan aman. Kepala UPT Kebun Raya Gunung Tidar, Yhan Noercahyo Wibowo, menjelaskan makna tugu itu: “Tugu Sa itu adalah tugu sopo salah seleh. Tugu ini sebagai tetenger atau pertanda bahwasanya orang yang salah pasti akan diselehkan atau diturunkan atau dilengserkan.” Pesan itu, bahwa siapa yang salah akan diturunkan, menjadi pengingat moral yang melekat pada puncak bukit ini.

Kesucian Gunung Tidar dijaga lewat pantangan yang masih dijunjung masyarakat sekitar, seperti larangan menanam palawija dan membuat sumur di sekitar gunung. Masyarakat percaya bahwa gunung ini adalah sumber air yang terhubung dengan samudera. Dengan begitu, Gunung Tidar tidak hanya menjadi bentang alam, tetapi juga simbol spiritual yang melambangkan perdamaian dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Namun kejujuran menuntut satu catatan: posisi mitologis Gunung Tidar sebagai paku Jawa juga dipertanyakan sebagian pemerhati budaya. Waskito Giri Sasongko, misalnya, mempertanyakan sumber literatur tertua dari mitos ini: apakah ada di Babad Tanah Jawa sebagai produk khasanah Mataram Islam, atau hanya legenda tanpa sumber teks susastra? Ia mengingatkan bahwa jauh sebelum era Mataram Islam, Gunung Semeru pernah menjadi pusat kosmis bagi masyarakat Jawa, konon sebagai Gunung Mahameru yang dipindahkan dari India ke Tanah Jawa, dan mitos pemindahan itu juga lekat dengan tokoh Semar. Dalam buku Denys Lombard, “Nusa Jawa Silang Budaya”, catatan pemindahan Gunung Mahameru justru disebutkan ke Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Artikel ini tidak memutuskan perdebatan itu: legenda Tidar disampaikan sebagai kepercayaan yang hidup, bukan sebagai fakta sejarah yang terdokumentasi.

Tiga Makom dan Satu Tugu di Jalur Ziarah

Sebagai destinasi wisata religi, Gunung Tidar memiliki beberapa makam penting yang menjadi tujuan ziarah: Makom Syekh Subakir, Makom Kiai Sepanjang, dan Makom Mbah Semar, yang juga disebut Mbah Ismoyojati atau Kiai Tunggul Jati. Ketiganya biasa disambangi peziarah untuk wisata religi, dan masing-masing memiliki wujud serta cerita yang berbeda.

Makom Syekh Subakir adalah makom pertama yang ditemui peziarah sebelum sampai di puncak Gunung Tidar. Makom ini berada di dekat tempat istirahat. Di area lingkaran dengan bagian luar berbentuk susunan batu bata, para peziarah duduk mengelilingi makom dan membaca doa di sana. Suasana di tempat ini lebih mirip majelis doa yang hening daripada sekadar objek wisata: orang datang, duduk melingkar, dan memanjatkan doa.

Setelah makom Syekh Subakir, terdapat makom Kiai Sepanjang. Kiai Sepanjang bukanlah nama orang, melainkan nama tombak sepanjang tujuh meter milik Syekh Subakir. Makom Kiai Sepanjang berbentuk rumah joglo dengan atap rendah dan pelataran yang luas. Di sinilah kisah penancapan paku itu menemukan wujudnya: tombak yang konon dipakai menenangkan tanah Jawa itu diperingati dalam bentuk sebuah bangunan yang diziarahi.

Sedangkan Makom Mbah Semar terletak di puncak. Makom ini berbentuk seperti tumpeng berwarna kuning dengan sebilah keris tertancap di bagian puncaknya, dan terdapat sebuah pohon jati di bagian sampingnya. Dalam tradisi Jawa, Semar adalah punakawan yang bijaksana, dan kehadirannya di puncak Tidar menambah lapisan makna: bukit ini bukan hanya soal paku dan kekuasaan gaib, tetapi juga soal kebijaksanaan yang menuntun. Di dekat puncak pula berdiri Tugu Sa setinggi dua meter, yang menurut riwayat dibangun atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menandai keputusan menyerahkan kerajaan kepada rakyat, “tahta untuk rakyat”. Di pucuk tugu itu terdapat lambang Garuda Pancasila dan tulisan “Sing Salah Seleh” dalam aksara Sanskerta, pesan bagi generasi yang akan datang.

Selain tiga makom tersebut, di Gunung Tidar juga terdapat makam Tionghoa. Salah satu yang menarik perhatian wisatawan adalah makam bos cerutu se-Asia bernama Kho Kwat Ie. Ia pemilik pabrik cerutu Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabrieken yang memproduksi cerutu bermerek Panama-Ster, Deli-Havana, Missigit-Deli, dan Carnaval. Pada masa kejayaannya pada tahun 1920-an, cerutu-cerutu itu diekspor hingga ke Eropa. Masyarakat menyebut makam Kho Kwat Ie sebagai Makam Bong Pitu karena ukurannya paling besar, dengan makam-makam sanak familinya yang terletak di sekitarnya. Kehadiran makam saudagar ini mengingatkan bahwa Tidar juga menyimpan jejak perdagangan dan keberagaman penduduk Magelang.

Di puncak juga terdapat Monumen Tanah Air Satu Bangsa, monumen persatuan yang dibangun saat memperingati Hari Olahraga Nasional pada 2017. Di monumen itu terdapat simbol pemersatu bangsa berupa kendi berisi tanah dan air yang diambil dari seluruh nusantara. Air dan tanah itu selanjutnya dicampur untuk disatukan dengan menggelar ritual adat berupa kesenian wayang. Dengan demikian, puncak Tidar merangkum tiga bahasa persatuan sekaligus: paku Jawa, tugu tahta untuk rakyat, dan kendi tanah-air Nusantara.

Lembah Tidar: Kawah Candradimuka dan Retret Para Pemimpin

Gunung Tidar tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer, karena di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka mencetak perwira pejuang Sapta Marga sejak berdirinya pada 11 November 1957. Para taruna yang menjalani latihan di sini dikenal dengan julukan “Macan Lembah Tidar”, menggambarkan semangat keberanian dan ketangguhan yang ditempa di kawasan ini.

Puncak Gunung Tidar kerap menjadi tempat upacara penghadapan taruna militer. Taruna yang baru diterima dan belum penjurusan ke angkatan tertentu akan dihadapkan ke Tugu Sa. Ketika selesai pendidikan, mereka dihadapkan lagi ke Tugu Sa sebelum mendapatkan penempatan atau penugasan di berbagai daerah. Dengan kata lain, Tugu Sa menjadi gerbang masuk dan gerbang keluar kehidupan perwira: di sanalah taruna diperkenalkan pada nilai-nilai yang harus dipegang, dan di sanalah pula mereka dilepas untuk mengabdi. Selain itu, setiap tahun para taruna Akmil harus menaiki tiang bendera di puncak untuk memasang bendera Sang Dwiwarna dalam upacara.

Sejarah perjuangan bukit ini lebih tua dari akademi itu sendiri. Pada masa kemerdekaan, Gunung Tidar menjadi salah satu lokasi yang digunakan masyarakat Magelang untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengibarkan Bendera Merah Putih di puncaknya pada 25 September 1945. Jauh sebelumnya, pada masa penjajahan Belanda, Gunung Tidar merupakan daerah yang gundul dan minim pepohonan, hanya ditumbuhi rerumputan yang digunakan untuk menggembala ternak. Di bagian lembah yang luas dan datar, kawasan ini sering dimanfaatkan pemerintah kolonial Belanda untuk berbagai kegiatan, seperti latihan militer, berkuda, landasan pesawat, arena balap motor, dan lainnya. Lembah yang datar itu, yang dulu dipakai latihan militer kolonial, pada akhirnya menjadi kawah candradimuka perwira Indonesia.

Tradisi penempaan di Lembah Tidar itu pula yang melatari retret-retret pemerintahan terbaru. Sebanyak 481 kepala daerah mengikuti retret kepala daerah di Akademi Militer Magelang pada 21 hingga 28 Februari 2025, setelah para kepala daerah terpilih, termasuk gubernur, bupati, dan wali kota, dilantik pada 20 Februari 2025. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan retret ini bertujuan mempererat hubungan emosional dan kerja sama antar kepala daerah, serta menciptakan keselarasan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. “Bagaimana membuat mereka (kepala daerah) dalam menjalankan programnya pro rakyat, itu yang paling utama,” ujar Menteri Tito. “Biarkan mereka sambil saling bicara, membangun hubungan, karena tidak mungkin satu daerah, bisa bekerja sendiri.” Filosofi Tidar, mukti dan kadadar, ditempa dan diuji lalu berhasil, seolah menemukan panggungnya yang paling harfiah di sini: para pemimpin ditempa bersama di lembah yang sama tempat taruna ditempa.

Dari Bukit Gundul Menjadi Kebun Raya

Pada dekade 1960-an, Gunung Tidar mengalami program penghijauan dengan penanaman pohon Pinus (Pinus merkusii). Sejak itu, Gunung Tidar semakin lebat dengan vegetasi hijau berkat kegiatan penanaman pohon secara bertahap menggunakan berbagai jenis pohon lain, seperti Mahoni (Swietenia spp.), Khaya (Khaya senegalensis), dan Damar (Agathis dammara), yang kini banyak ditemukan di sepanjang jalan menuju puncak Kebun Raya Gunung Tidar. Bukit yang dulu gundul itu berubah menjadi hutan kota yang rindang.

Pada awalnya, Gunung Tidar berstatus sebagai hutan kota. Namun, pada tahun 2019 Pemerintah Kota Magelang melakukan inisiasi pembangunan kebun raya, sehingga pada tanggal 12 Januari 2021 Kawasan Gunung Tidar resmi beralih status menjadi Kebun Raya Gunung Tidar (KRGT). Penataan kebun raya itu sendiri berlangsung secara bertahap, mulai 2014 dan rampung pada 2017: dulu jalur naik ke puncak hanya berupa jalan setapak, sekarang sudah bagus dengan ubin dan anak tangga yang tertata. Kebun raya seluas 70,1 hektare ini terbagi dalam enam zona, yaitu zona penerima, pengelola, wisata budaya, koleksi tematik, taksonomi, dan konservasi.

Sejak ditetapkan sebagai Kebun Raya, Gunung Tidar kini menjadi lokasi konservasi bagi lebih dari 75 spesies tanaman, termasuk jenis-jenis tumbuhan langka. Salah satu tanaman khas yang tumbuh di sini adalah Wresah atau hanggasa (Amomum dealbatum), sejenis tumbuhan aromatis dari keluarga jahe-jahean. Tanaman ini dikenal memiliki buah yang manis agak masam dan biasa dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat setempat. Di sepanjang jalur pendakian, pengunjung juga dapat menyaksikan flora dan fauna khas, termasuk monyet Jawa yang sering terlihat bergelantungan di pepohonan, serta monyet ekor panjang yang banyak dijumpai di lokasi.

Di sisi timur terdapat Gardu Pandang Taman Elang Jawa, salah satu tempat favorit untuk menyaksikan matahari terbit, karena wisatawan dapat melihat matahari muncul di celah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dalam posisi sejajar mata. Gardu pandang di puncak menjadi destinasi yang digemari anak-anak muda, dan jika beruntung, pengunjung bisa menyaksikan elang Jawa terbang mengitari puncak dari jarak dekat. Elang Jawa adalah burung endemik, dan salah satu mangsanya adalah monyet ekor panjang yang banyak dijumpai di lokasi Gunung Tidar. Perpaduan itu, konservasi flora, satwa endemik, dan panorama dua gunung api, membuat Tidar berfungsi sekaligus sebagai ruang terbuka hijau di tengah kota.

Mendaki Gunung Tidar: 1.002 Anak Tangga

Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menapaki 1.002 anak tangga. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai puncaknya adalah sekitar satu jam, dengan kesempatan menikmati panorama alam sambil menghirup udara segar di bawah rindangnya pepohonan pinus. Di beberapa titik terdapat area beristirahat agar pengunjung dapat melepas lelah serta menikmati suasana teduh dan udara segar di sepanjang jalur pendakian. Tersedia pula fasilitas umum seperti toilet dan tempat duduk, dan tidak perlu khawatir meniti anak tangga di malam hari karena tersedia penerangan di sepanjang jalan. Sebanyak 57 petugas berjaga dengan pembagian tiga waktu kerja sehari, yakni pukul 07.00–15.00, 15.00–23.00, dan 23.00–07.00, terdiri atas petugas keamanan, petugas kesehatan, pemandu wisata, petugas tiket, petugas administrasi, dan petugas penata lokasi.

Gunung Tidar, menurut laporan 2025, buka sepanjang hari, dengan jumlah pengunjung sekitar 800-an orang per hari, dan pada akhir pekan bisa mencapai 2.000–3.000 orang per hari. Mereka membayar retribusi Rp5.000 di pintu masuk Kebun Raya. Wisatawan domestik yang rutin datang umumnya rombongan pengajian, dari pondok pesantren, atau masyarakat di berbagai daerah di Jawa dan sekitarnya. Sedangkan wisatawan mancanegara yang datang umumnya berasal dari Amerika, Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah. Banyak wisatawan mancanegara yang datang pada pagi buta kemudian sampai di puncak demi menikmati matahari terbit, setelah itu biasanya lanjut berkunjung ke Candi Borobudur dan berbagai destinasi wisata di kawasan Magelang seperti Puncak Telemoyo dan Nepal Van Java di Kaliangkrik.

Bagi pengunjung, ada beberapa hal praktis yang patut diperhatikan. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk menikmati udara yang paling segar dan pemandangan panoramik Kota Magelang yang paling jernih dari titik-titik pandang di sepanjang jalur. Bawalah air minum sendiri karena penjual minuman di dalam kawasan terbatas, dan simpan makanan di dalam tas karena monyet-monyet di sini dikenal jail dan bisa tiba-tiba mengambil makanan dari tangan wisatawan. Kunjungi situs-situs ziarah dan makam dengan pakaian yang sopan dan sikap penuh hormat, karena area-area itu dijaga kesuciannya oleh warga setempat. Satu catatan kejujuran: tarif dan jam kunjung di berbagai sumber daring tidak seragam, ada yang menyebut Rp3.000, Rp5.000, hingga Rp20.000, sehingga angka Rp5.000 di atas ditulis sebagai laporan 2025 dan sebaiknya dikonfirmasi ulang sebelum berangkat.

Bukit Tidar juga menjadi salah satu perhentian tur kota gratis Magelang Berkelana dalam rangkaian Magelang Flower Festival, bersama Kebun Bibit Senopati, Plengkung, dan Alun-alun. Artinya, bukit ini bukan hanya destinasi mandiri, melainkan bagian dari rute pengenalan Kota Magelang itu sendiri: dari alun-alun, pengunjung diajak memahami kota ini lewat bukit yang menjadi porosnya.

Dari berbagai sudut Kota Magelang, siluet Gunung Tidar mudah dikenali. Bukit ini berdiri di tengah kota, di antara permukiman, jalan, dan kawasan militer, sehingga ia berfungsi sekaligus sebagai penanda arah dan pengingat sejarah: ke mana pun warga Magelang memandang, ada bukit yang konon memaku pulau ini, tempat para peziarah berdoa, taruna ditempa, dan pemimpin belajar bersama. Tidar bukan sekadar latar pemandangan kota, melainkan poros yang memberi kota ini namanya dalam kisah-kisah yang diceritakan turun-temurun.

Pada akhirnya, Gunung Tidar adalah satu bukit dengan empat lapisan yang saling mengunci: mitos paku yang menenangkan Jawa, jalur ziarah para peziarah, kawah candradimuka para perwira dan pemimpin, serta kebun raya yang merawat flora dan satwa di tengah kota. Filosofi namanya, mukti dan kadadar, berhasil setelah ditempa dan diuji, merangkum semuanya: tidak ada yang sampai ke puncak Tidar tanpa menaiki seribu anak tangga, dan tidak ada yang memahami Magelang tanpa memahami bukit yang menjadi porosnya.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *