Jumat, 23 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Kota Magelang Siapkan Sekolah Aman Bencana
Pendidikan

Kota Magelang Siapkan Sekolah Aman Bencana

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono membuka sosialisasi pembentukan SPAB di Aula Adipura Kencana. Sekolah diminta menyiapkan SOP, titik kumpul, dan latihan evakuasi demi keselamatan siswa.

Oleh Intan Larasati Jumat, 23 Oktober 2026 · 21.35 WIB
Ilustrasi Sekolah Aman Bencana Kota Magelang: guru dan siswa mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul
Ilustrasi: Guru dan siswa berjalan tertib mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul, bagian dari kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG — Program Sekolah Aman Bencana Kota Magelang mulai disiapkan melalui Sosialisasi Pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dibuka Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, di Aula Adipura Kencana, Kota Magelang, Rabu (21/10/2026). Dalam sosialisasi tersebut ditegaskan bahwa satuan pendidikan atau sekolah perlu menyiapkan sistem peringatan dini (early warning system), jalur evakuasi, dan simulasi kebencanaan secara berkala agar warga sekolah mengetahui langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

Sekolah Aman Bencana Kota Magelang Butuh Prosedur yang Jelas

Menurut Damar, kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui prosedur yang jelas dan dapat dipraktikkan. Persiapan itu dimulai dari penyusunan prosedur operasional standar (SOP), penetapan titik kumpul, hingga latihan evakuasi. Dengan persiapan tersebut, keselamatan peserta didik dan seluruh warga sekolah dapat lebih terjaga.

“Satuan pendidikan yang aman secara otomatis akan menjaga keselamatan anak-anak kita. Ketika keselamatan mereka terjamin, maka masa depan mereka pun dapat terjaga dengan baik,” ujar Damar.

Program SPAB mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana. Regulasi tersebut menjadi dasar bagi sekolah untuk menyusun kesiapsiagaan secara terencana, bukan sekadar merespons setelah bencana terjadi. Kesiapsiagaan semacam ini relevan bagi kawasan Magelang yang berada di sekitar Gunung Merapi, sebagaimana terlihat pada pemantauan guguran lava Merapi di alur Bebeng dan Krasak yang terus dilakukan.

BPBD Dampingi Sekolah Sesuaikan Prosedur Keselamatan

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Magelang, Puji Hartono, mengatakan sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada tenaga pendidik dan kependidikan mengenai risiko bencana serta langkah praktis untuk menghadapinya. Pemahaman mengenai risiko dinilai penting agar setiap sekolah mengenali potensi ancaman di lingkungannya masing-masing.

Kesiapsiagaan tersebut, lanjut Puji, memerlukan koordinasi antara sekolah, BPBD, dan instansi teknis terkait. Koordinasi itu diperlukan agar prosedur keselamatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Kegiatan sosialisasi ini diikuti perwakilan guru dan tenaga kependidikan dari jenjang TK, PAUD, SD, hingga SMP se-Kota Magelang.

Tiga Pilar SPAB Jadi Kerangka Kesiapsiagaan Sekolah

Secara nasional, SPAB merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak bencana di satuan pendidikan. Penyelenggaraannya mencakup tahap prabencana, pengelolaan layanan pendidikan saat darurat bencana, serta tahap pascabencana atau pemulihan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019. Kementerian pendidikan menilai pengetahuan penanganan bencana pada tingkat sekolah merupakan kebutuhan mendasar untuk mengurangi risiko, mengingat anak-anak memiliki kerentanan yang tinggi karena keterbatasan pemahaman mengenai risiko yang dapat terjadi di sekitarnya.

Kerangka SPAB bertumpu pada tiga pilar. Pilar pertama adalah fasilitas belajar yang aman, pilar kedua berupa manajemen bencana di sekolah, dan pilar ketiga adalah pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Melalui ketiga pilar tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya memiliki bangunan dan sarana yang aman, tetapi juga warga sekolah yang memahami prosedur penyelamatan diri dan mampu menjaga keberlangsungan layanan pendidikan dalam situasi darurat. Dalam pelaksanaannya, satuan pendidikan berperan merancang kurikulum kebencanaan, menggelar simulasi evakuasi, dan membentuk komite penanganan kebencanaan sekolah. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Prasinta Dewi, menyebut SPAB merupakan bagian penting dari sistem ketangguhan desa atau Desa Tangguh Bencana (Destana). “Bila Destana fokus di lingkup pemerintahan desa atau kelurahan, maka SPAB fokus pada pencegahan dan penanganan bencana di satuan pendidikan,” ujar Prasinta, sebagaimana dikutip Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kebutuhan akan kesiapsiagaan sekolah juga didukung data nasional. Menurut Prasinta, sebanyak 126.679 satuan pendidikan atau 46,5 persen dari 272 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia berada di wilayah dengan risiko bencana alam sedang dan tinggi. Di kawasan Magelang, upaya serupa lebih dulu berjalan di Kabupaten Magelang. Pada September 2026, SMP Negeri 1 Dukun, SMP Negeri 2 Dukun, dan SMP Negeri 1 Salam berkolaborasi menggelar Sosialisasi Budaya Sekolah Aman, Nyaman, dan Siaga Bencana di Kecamatan Srumbung. Kepala SMP Negeri 1 Dukun, Dini Murdiyatun, dalam kegiatan itu mengatakan, “Sekolah aman bukan hanya tentang bangunan yang kuat, tetapi tentang warga sekolah yang siap, peduli, dan mampu bekerja sama.” Sosialisasi pembentukan SPAB di Kota Magelang tersebut dilaporkan BorobudurNews dengan foto dokumentasi Bagian Prokompim Kota Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *