Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Candi Asu dan Candi Pendem di Sengi, Jejak…
Wisata

Candi Asu dan Candi Pendem di Sengi, Jejak Sunyi Mataram Kuno di Lereng Merapi

Di tengah sawah Desa Sengi, dua bangunan batu dari abad kesembilan berdiri tanpa atap dan tanpa keramaian. Artikel ini menelusuri nama, prasasti, dan nasib Candi Asu serta Candi Pendem, dan menjelaskan mengapa situs yang sunyi ini justru menyimpan pelajaran sejarah yang berharga.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 15.05 WIB
Ilustrasi Candi Asu dan Candi Pendem di tengah sawah
Ilustrasi dua candi batu kecil di tengah sawah hijau dengan sungai berkelok dan Gunung Merapi di kejauhan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Candi Asu adalah nama yang pertama kali terdengar ganjil bagi banyak orang yang baru mendengarnya, padahal di balik nama itu tersimpan sebuah situs Hindu dari masa Mataram Kuno yang berdiri tenang di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Candi ini tidak berdiri sendirian, sebab di dekatnya terdapat Candi Pendem, dan keduanya kerap disebut sebagai candi kembar karena sama-sama berada di kompleks Sengi, sama-sama menghadap ke barat, dan sama-sama menyimpan kisah tentang sebuah peradaban yang pernah tumbuh subur di lereng Gunung Merapi sebelum akhirnya ditinggalkan. Artikel ini mengajak pembaca mengenal kedua candi itu dari sumber yang dapat ditelusuri, membedakan fakta dari cerita rakyat, dan memahami mengapa situs yang sunyi ini layak dijaga.

Untuk sampai ke Sengi, pengunjung umumnya melewati jalanan pedesaan Dukun yang dikelilingi sawah dan kebun warga. Suasananya berbeda jauh dari kawasan candi besar yang ramai oleh rombongan wisatawan. Di Sengi, candi berada di tengah lahan pertanian, sehingga kunjungan terasa lebih seperti bertamu ke halaman rumah warga daripada memasuki sebuah objek wisata yang tertata rapi. Justru di situlah letak pesonanya, karena pengunjung dapat melihat langsung bagaimana sebuah peninggalan abad kesembilan masih hidup berdampingan dengan kegiatan pertanian sehari-hari. Warga yang melintas, anak-anak yang berangkat sekolah, dan petani yang menuju sawah menjadi bagian dari pemandangan yang sama dengan batu-batu candi yang sudah berusia lebih dari seribu tahun.

Penyebutan candi kembar dalam artikel ini perlu dipahami secara hati-hati. Candi Asu dan Candi Pendem memang berdekatan dan sama-sama berasal dari tradisi Hindu di kompleks Sengi, tetapi keduanya adalah bangunan yang berbeda dengan ukuran, kondisi, dan kisah penemuan yang tidak sama. Di kompleks yang sama, menurut sejumlah sumber, juga terdapat Candi Lumbung, sehingga kompleks Sengi sebenarnya merupakan gugusan, bukan sekadar sepasang bangunan. Menyederhanakan ketiganya menjadi satu cerita yang sama justru akan mengaburkan fakta, dan karena itu artikel ini menguraikan Candi Asu dan Candi Pendem satu per satu, sambil menempatkan Candi Lumbung sebagai tetangga yang perlu disebut agar gambaran kompleksnya utuh.

Di Mana Letak Candi Asu dan Candi Pendem

Candi Asu dan Candi Pendem sama-sama terletak di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi ini berada di lereng Gunung Merapi, di sebelah barat Sungai Tingsing Pabelan, menurut uraian yang dimuat dalam sejumlah tulisan tentang situs ini. Posisi di lereng gunung api aktif menjelaskan banyak hal tentang nasib kedua candi, mulai dari kemungkinan tertimbun material vulkanik hingga bentuknya yang tidak utuh sampai sekarang. Sungai di dekatnya juga menjadi penanda bentang alam yang penting, karena permukiman dan bangunan suci pada masa Mataram Kuno umumnya tumbuh di dekat sumber air dan jalur yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain.

Candi Pendem terletak tidak jauh dari Candi Asu, dan jarak keduanya sering digambarkan hanya sekitar seratus meter sampai kurang dari dua ratus meter, tergantung titik ukur yang dipakai oleh masing-masing sumber. Perbedaan angka ini wajar, karena yang diukur bisa saja jarak antarpagar, antarpusat bangunan, atau jarak tempuh menyusuri pematang sawah. Yang pasti, keduanya dapat dikunjungi dalam satu perjalanan kaki yang singkat, tanpa perlu berpindah kendaraan. Pengunjung yang datang ke Candi Asu umumnya dapat melanjutkan langkah ke Candi Pendem dengan berjalan melewati lahan pertanian warga, dan karena itu penting untuk meminta izin, menjaga pematang, dan tidak merusak tanaman.

Candi Pendem memiliki keunikan yang langsung terasa ketika pengunjung tiba di lokasinya. Bangunan ini berada lebih rendah daripada permukaan sawah di sekitarnya, kira-kira dua sampai tiga meter di bawah permukaan lahan, sehingga sebagian tubuhnya tampak seperti terpendam. Nama Pendem sendiri merujuk pada keadaan itu, karena kata pendem dalam bahasa Jawa berkaitan dengan sesuatu yang terpendam atau tertanam di dalam tanah. Untuk menjaga bangunan dari genangan, di sekitar dasar candi dibuat saluran kecil pembuangan air, sehingga air hujan tidak menggenangi bangunan. Detail sederhana ini menunjukkan bahwa pelestarian situs di tengah sawah bukan hanya soal menjaga batu, tetapi juga soal mengatur air.

Berbeda dengan Candi Pendem yang berada di cekungan, Candi Asu berdiri di lahan yang lebih mudah dikenali sebagai sebuah bangunan candi, meski juga sudah tidak utuh. Bentuknya bujur sangkar, dengan lebar sekitar 7,94 meter menurut uraian berbahasa Jawa tentang situs ini, dan tinggi sisanya sekitar 2,5 meter karena bagian atapnya sudah runtuh dan sebagian batunya hilang. Angka-angka ini penting dicatat apa adanya, karena menunjukkan bahwa yang tersisa dari Candi Asu terutama adalah bagian kaki dan tubuhnya. Pengunjung yang membayangkan sebuah candi menjulang dengan atap bertingkat perlu menyesuaikan harapan, sebab yang akan ditemui adalah bangunan rendah yang justru mengajak orang untuk memperhatikan detail pahatan, susunan batu, dan sumuran di tengahnya.

Asal Usul Nama Candi Asu Menurut Sumber

Nama asli Candi Asu tidak diketahui dengan pasti, dan hal ini ditegaskan dalam jurnal pendidikan yang membahas potensi situs ini sebagai sumber belajar. Ketidakpastian itu sendiri adalah fakta yang patut disampaikan, karena banyak tempat bersejarah di Jawa yang namanya dikenal sekarang merupakan nama yang diberikan oleh masyarakat di sekitarnya pada masa kemudian, bukan nama resmi dari masa pembangunannya. Dalam kasus Candi Asu, terdapat dua penjelasan yang paling sering dikutip, dan keduanya perlu disajikan berdampingan agar pembaca tidak mengira salah satunya sudah pasti benar.

Penjelasan pertama mengaitkan nama Asu dengan arca Nandi di dalam bilik candi. Nandi adalah lembu kendaraan Dewa Siwa, dan arca itu dalam keadaan sudah aus serta rusak sehingga bentuknya tidak lagi jelas menyerupai lembu. Warga yang menemukannya kemudian mengira bentuk itu lebih mirip anjing, yang dalam bahasa Jawa disebut asu, sehingga nama Asu melekat pada candi tersebut. Penjelasan ini dimuat dalam buku Candi Indonesia Seri Jawa karya Edi Sedyawati dan kawan-kawan yang terbit pada 2013, sebagaimana dikutip dalam tulisan perjalanan yang menelusuri jejak Rakai Kayuwangi di Magelang. Kehadiran arca Nandi juga menjadi petunjuk penting tentang corak keagamaan situs ini, karena Nandi menandai pemujaan terhadap Siwa sebagai dewa tertinggi dalam tradisi Hindu yang dianut masyarakat pada masanya.

Penjelasan kedua mengaitkan nama Asu dengan kata ngaso atau aso, yang berarti beristirahat. Menurut pendapat ini, tempat tersebut dahulu dipahami sebagai tempat untuk berhenti dan melepas lelah. Penjelasan ini terasa lebih halus dan tidak bergantung pada bentuk arca yang rusak, tetapi sumber-sumber yang mengutipnya juga menyajikan pendapat ini sebagai kemungkinan, bukan sebagai kepastian. Menyajikan kedua penjelasan secara sejajar adalah sikap yang paling jujur, karena hingga kini belum ada prasasti atau dokumen sezaman yang secara tegas menyatakan bahwa pembangun candi menamainya Asu.

Di luar dua penjelasan tersebut, beredar pula cerita rakyat tentang seorang perempuan yang dikutuk menjadi hewan karena perilakunya. Cerita semacam itu hidup dalam tradisi lisan dan menarik sebagai bahan cerita, tetapi kedudukannya berbeda dengan bukti prasasti dan kajian arkeologi. Artikel ini menyebut cerita itu hanya sebagai tradisi lisan yang beredar di masyarakat, bukan sebagai sejarah pembangunan candi. Sikap ini penting, karena mencampuradukkan legenda dengan fakta akan membuat pembaca sulit membedakan mana kisah yang diwariskan secara lisan dan mana kesimpulan yang didukung oleh bukti tertulis. Pengunjung yang mendengar cerita itu dari warga sebaiknya menikmatinya sebagai kekayaan budaya lisan, sambil tetap berpegang pada prasasti ketika berbicara tentang usia dan fungsi candi.

Candi Asu dan Prasasti dari Abad Kesembilan

Informasi tentang Candi Asu diperoleh antara lain dari prasasti Sri Manggala II, Kurambitan I, dan Kurambitan II yang berangka tahun 880, sebagaimana diuraikan dalam jurnal Universitas Negeri Yogyakarta. Berdasarkan prasasti-prasasti itu, Candi Asu diperkirakan berdiri pada tahun 860, pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Perkiraan ini perlu dibaca dengan kata diperkirakan, karena prasasti tidak selalu menyebut tanggal pembangunan sebuah bangunan secara langsung, melainkan memberikan petunjuk tentang tokoh, wilayah, dan peristiwa yang memungkinkan para ahli menyusun kronologi. Sumber lain menyebut angka yang sedikit berbeda, yaitu 869 Masehi, dengan merujuk pada prasasti Sri Manggala I, Sri Manggala II, dan Kurambitan. Perbedaan angka antara satu tulisan dengan tulisan lain menunjukkan bahwa penanggalan situs ini masih menjadi bahan kajian, dan pembaca sebaiknya memahami rentang abad kesembilan sebagai kerangka yang paling aman, dengan 860 dan 869 sebagai perkiraan yang dikutip dari sumber yang berbeda.

Apa pun perbedaan angka pastinya, prasasti-prasasti itu menempatkan Candi Asu pada masa Kerajaan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu. Pada masa itu, wilayah Magelang merupakan bagian dari pusat peradaban Jawa yang membangun banyak candi, baik Hindu maupun Buddha, di sepanjang lembah dan lereng gunung. Candi Asu menjadi bukti bahwa pembangunan suci tidak hanya terpusat pada bangunan-bangunan besar yang kini terkenal, tetapi juga tersebar di permukiman dan kawasan pertanian. Setiap candi kecil seperti ini menyimpan informasi tentang jaringan masyarakatnya, tentang siapa yang memerintah, dewa apa yang dipuja, dan bagaimana sebuah komunitas mengatur tanah serta air di sekitar tempat sucinya.

Fungsi Candi Asu sebagai tempat peribadatan Hindu ditegaskan oleh keberadaan arca Nandi dan oleh isi prasasti yang menyebut tempat ini sebagai tempat ibadah untuk memuja para dewa dan arwah leluhur. Dalam tradisi Hindu Jawa Kuno, pemujaan terhadap leluhur dan dewa tidak selalu terpisah secara kaku, karena keduanya sama-sama menjadi bagian dari cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam, dan yang ilahi. Candi dengan sumuran di tengahnya juga menguatkan dugaan tentang fungsi pemujaan leluhur, karena menurut arkeolog Soekmono, sumuran semacam itu berkaitan dengan pemujaan kepada leluhur, sebagaimana dikutip dalam uraian berbahasa Jawa tentang Candi Asu. Dengan demikian, Candi Asu bukan sekadar tumpukan batu, melainkan ruang yang dahulu dipakai untuk berdoa, memberi persembahan, dan mengingat mereka yang telah tiada.

Prasasti Kurambitan I dan Kurambitan II sendiri ditemukan dalam bentuk tugu batu atau lingga di dekat situs, dan prasasti Sri Manggala ditemukan sekitar 250 meter di sebelah utara Candi Pendem menurut inventarisasi yang merujuk pada kajian Degroot. Detail lokasi penemuan ini penting, karena menunjukkan bahwa prasasti tidak selalu ditemukan menempel pada bangunan yang dibahasnya, melainkan tersebar di sekitar kompleks. Bagi pembaca awam, hal ini bisa terasa membingungkan, tetapi bagi arkeolog, sebaran prasasti justru membantu memetakan wilayah kekuasaan, batas tanah perdikan, dan jaringan tempat suci pada masa itu. Karena itu, ketika sebuah tulisan menyebut bahwa sebuah candi dibangun pada tahun tertentu berdasarkan prasasti, yang dimaksud biasanya adalah kesimpulan dari gabungan beberapa prasasti dan kajian perbandingan, bukan satu kalimat prasasti yang menyebut nama candi secara harfiah.

Bangunan Candi Asu yang Tidak Selesai

Salah satu hal yang paling menarik dari Candi Asu adalah keadaannya yang tidak utuh, dan para ahli menafsirkan keadaan itu bukan semata-mata akibat kerusakan, melainkan karena pembangunannya memang belum selesai. Struktur bangunan sudah tidak memiliki atap, dan dindingnya polos tanpa hiasan pada sebagian sisinya. Tangga menuju badan candi setinggi sekitar 2,5 meter dihiasi makara, tetapi pahatannya tampak belum selesai. Selasar selebar sekitar 69 sentimeter mengelilingi tubuh candi, dan di dinding kakinya masih dapat dinikmati aneka ornamen. Rangkaian detail ini melukiskan sebuah proyek pembangunan yang berhenti di tengah jalan, bukan sebuah bangunan megah yang runtuh seluruhnya.

Penjelasan yang paling sering dikutip untuk berhentinya pembangunan adalah bencana letusan Gunung Merapi. Jurnal Universitas Negeri Yogyakarta mengutip Ashari pada 2013 yang menyebutkan bahwa bencana Merapi pada abad kesembilan bahkan telah melumpuhkan sistem kemasyarakatan di masyarakat kompleks Candi Asu, dan bencana itu diperkirakan menjadi salah satu penyebab pindahnya ibu kota kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Penjelasan ini harus dibaca sebagai perkiraan yang didasarkan pada gabungan bukti geologi dan sejarah, bukan sebagai kepastian mutlak. Letusan gunung api memang dapat mengubur permukiman, merusak lahan pertanian, dan memutus jalur air, sehingga sebuah komunitas bisa saja meninggalkan tempat sucinya untuk waktu yang lama. Setelah erupsi, material vulkanik mengubur Candi Asu selama ratusan tahun, hingga kemudian ditemukan lagi dan digali dengan bantuan warga.

Kisah penemuan kembali oleh seorang berkebangsaan Belanda yang dibantu warga untuk melakukan ekskavasi sering dikutip dalam tulisan populer tentang Candi Asu. Artikel ini menyebut kisah itu sebagai bagian dari riwayat yang beredar dalam tulisan populer, karena sumber-sumber yang tersedia tidak selalu menyebut nama penemu, tahun penemuan, dan lembaga yang menanganinya secara rinci. Sikap hati-hati ini penting agar artikel tidak menciptakan tokoh dan tanggal yang tidak dapat diverifikasi. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa candi ini pernah lama terpendam, kemudian dikenali kembali, dan kini berdiri sebagai situs yang dapat dikunjungi, meski tidak pernah kembali ke bentuk utuhnya.

Bagi pengunjung, keadaan yang tidak selesai ini justru menjadi bahan belajar yang berharga. Di Candi Asu, orang dapat melihat tahapan kerja para pemahat batu, mulai dari balok yang sudah dipotong, ornamen yang sudah mulai dipahat, hingga bagian yang masih polos. Hal ini berbeda dengan candi yang sudah dipugar sepenuhnya, di mana jejak proses pembangunan sering tertutup oleh hasil restorasi. Karena itu, jurnal pendidikan menilai situs ini memiliki potensi sebagai sumber belajar, sebab lingkungan alam di sekitarnya mendukung kegiatan eksplorasi fenomena alam maupun sosial. Guru yang membawa murid ke Sengi dapat mengajak mereka mengamati batu, membaca bentang alam, dan bertanya mengapa sebuah bangunan bisa berhenti dibangun, tanpa harus menghafal tanggal semata.

Candi Pendem, Tetangga yang Lebih Besar dan Lebih Rendah

Candi Pendem sering kalah terkenal dari Candi Asu, padahal ukurannya lebih besar. Inventarisasi yang merujuk pada kajian Degroot mencatat bahwa dasar Candi Pendem berbentuk bujur sangkar berukuran 12,80 meter kali 12,80 meter, dengan tonjolan di sisi barat untuk tangga, sedangkan tubuh candinya berbentuk bujur sangkar bertingkat dengan ukuran 7,15 meter kali 7,15 meter dan relung di sisi utara, timur, dan selatan. Bilik tengahnya kira-kira berbentuk bujur sangkar dengan sisi sekitar 3,20 meter. Angka-angka ini menggambarkan sebuah bangunan tunggal yang menghadap ke barat, dengan orientasi yang dicatat mencapai 249 derajat 37 menit menurut Siswoyo pada 1996. Keadaan pelestariannya dicatat hanya menyisakan dasar dan kaki tubuh candi, sehingga pengunjung perlu membayangkan bentuk aslinya dari denah yang tersisa.

Di tengah Candi Pendem terdapat sumuran yang lebih besar dan lebih dalam daripada sumuran di Candi Asu, menurut uraian berbahasa Jawa tentang situs ini. Di sekitar candi juga terdapat relief gana, yaitu sosok pengiring yang dalam tradisi Hindu sering dikaitkan dengan pengikut Siwa. Keberadaan relief gana menjadi salah satu penanda latar Hindu dari candi ini, di samping orientasi, denah, dan temuan prasasti di sekitarnya. Selain itu, di sudut barat daya kaki candi terdapat lubang-lubang yang oleh sebagian penulis disamakan dengan papan permainan congklak. Lubang-lubang itu menambah misteri, karena fungsinya tidak dapat dipastikan hanya dari bentuknya. Ada kemungkinan lubang itu berkaitan dengan kegiatan ritual, penanda konstruksi, atau pemakaian di masa kemudian, tetapi artikel ini tidak menetapkan satu fungsi sebagai fakta, karena sumber yang tersedia hanya mencatat keberadaannya dan membandingkannya dengan congklak sebagai gambaran visual.

Nama Pendem juga berkaitan dengan riwayat tertimbunnya candi oleh lahar Merapi. Uraian berbahasa Jawa menyebutkan bahwa candi ini dahulu pernah terpendam karena aliran lahar Gunung Merapi, sehingga disebut Candi Pendem. Yang tersisa kini hanyalah reruntuhan, dan atapnya tidak tersusun, kemungkinan karena masih tertimbun atau batunya telah hilang. Penjelasan ini sejalan dengan gambaran umum tentang kompleks Sengi sebagai kawasan yang rentan terhadap material vulkanik. Di sisi lain, keberadaan saluran kecil di dasar candi menunjukkan adanya upaya untuk menjaga bangunan agar tidak tergenang saat hujan, sebuah perawatan sederhana yang justru menentukan apakah batu-batu yang tersisa dapat bertahan lebih lama.

Membandingkan Candi Asu dan Candi Pendem secara berdampingan memberi pelajaran tentang keragaman candi kecil di Magelang. Candi Asu lebih kecil, dengan lebar sekitar 7,9 meter, dan dikenal karena arca Nandi serta kisah namanya yang unik. Candi Pendem lebih besar, berada di cekungan, dan dikenal karena sumurannya yang dalam serta relief gananya. Keduanya menghadap ke barat, keduanya berada di tepi Kali Pabelan dan Kali Tlingsing menurut uraian berbahasa Jawa, dan keduanya memiliki sumuran yang dikaitkan dengan pemujaan leluhur. Persamaan dan perbedaan ini menunjukkan bahwa kompleks Sengi bukan sekadar kumpulan bangunan yang seragam, melainkan kawasan suci dengan beberapa bangunan yang masing-masing memiliki peran dan riwayatnya sendiri.

Candi Lumbung dan Gugusan Sengi yang Lebih Luas

Selain Candi Asu dan Candi Pendem, kompleks Sengi juga dikaitkan dengan Candi Lumbung. Nama Lumbung, menurut uraian berbahasa Jawa, diberikan karena candi itu dianggap dahulu berfungsi sebagai lumbung padi. Penjelasan ini perlu dibaca sebagai penamaan oleh masyarakat, bukan sebagai fungsi yang sudah dibuktikan oleh prasasti. Riwayat Candi Lumbung sendiri cukup panjang, karena bangunan ini pernah berada di tepi Sungai Apu, anak Sungai Pabelan, di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, lalu dipindahkan karena tanah tumpuannya terancam longsor. Pada 2010, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah mengamankan candi itu ke tempat sementara di tepi jalan menuju Ketep Pass, sekitar 500 meter dari lokasi aslinya, setelah tanah tumpuannya hanya tinggal sekitar satu meter dari tebing sungai setinggi tujuh meter. Setelah itu, kaki Candi Lumbung ditata di lokasi baru di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun.

Kisah pemindahan Candi Lumbung penting untuk artikel ini karena dua alasan. Pertama, kisah itu menunjukkan bahwa candi-candi di Magelang tidak hanya terancam oleh letusan, tetapi juga oleh erosi tebing sungai dan banjir lahar dingin pascaerupsi. Kedua, kisah itu mengingatkan bahwa kompleks Sengi yang dikunjungi sekarang adalah hasil dari sejarah panjang, termasuk keputusan pelestarian pada masa modern. Candi Lumbung yang kini berada di Sengi memiliki tinggi sekitar 7,20 meter dan luas bangunan sekitar 64,60 meter persegi menurut pemberitaan tentang pemindahannya, dengan bagian puncak yang sudah runtuh dan hilang. Berdasarkan prasasti, Candi Lumbung kemungkinan merupakan pendharmaan bagi Bathara di Salingsingan, yang ditunjukkan dengan persembahan khusus berupa payung emas dari Rakai Kayuwangi. Kata kemungkinan di sini penting, karena menunjukkan bahwa kesimpulan itu adalah tafsir atas prasasti, bukan kalimat prasasti itu sendiri.

Dengan menempatkan Candi Lumbung dalam gambaran yang sama, pembaca dapat memahami mengapa Sengi disebut sebagai kompleks, bukan sekadar lokasi dua candi. Di satu kawasan yang relatif sempit, terdapat tiga bangunan Hindu dari masa yang berdekatan, ditambah prasasti-prasasti yang tersebar di sekitarnya. Kawasan seperti ini memberi gambaran tentang kepadatan permukiman suci pada masa Mataram Kuno, di mana tempat ibadah tidak berdiri jauh dari sawah, sungai, dan jalur penduduk. Bagi wisatawan, hal ini berarti kunjungan ke Sengi dapat dirancang sebagai penelusuran gugusan, bukan sekadar singgah di satu bangunan. Bagi warga Sengi, hal ini berarti pelestarian tidak bisa hanya mengurusi satu candi, melainkan seluruh bentang lahan di sekitarnya.

Jangan Samakan dengan Mendut, Ngawen, dan Pawon

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika membicarakan candi-candi di Magelang adalah menyamakan semua candi Hindu dan Buddha sebagai satu kelompok yang sama. Candi Asu dan Candi Pendem di Sengi berbeda dari Candi Ngawen di Muntilan yang juga sudah dibahas oleh KabarTidar, berbeda dari Candi Mendut yang terkenal dengan arca Buddha besarnya, dan berbeda dari Candi Pawon yang berada di antara Mendut dan Borobudur. Perbedaan itu bukan hanya soal lokasi, tetapi juga soal corak keagamaan, denah, dan riwayat pemugarannya. Candi Mendut dan Pawon berkaitan erat dengan kawasan Borobudur dan tradisi Buddha, sedangkan Candi Asu dan Candi Pendem bercorak Hindu dan berkaitan dengan prasasti-prasasti dari masa Rakai Kayuwangi. Menyamakan keduanya hanya karena sama-sama terbuat dari batu andesit dan sama-sama berada di Kabupaten Magelang akan menghilangkan kekhasan masing-masing.

Perbedaan lain terletak pada skala dan pengalaman berkunjung. Candi Mendut dan kawasan Borobudur dikelola sebagai destinasi besar dengan fasilitas lengkap, sedangkan Sengi adalah situs pedesaan yang sunyi dan berada di tengah sawah. Pengalaman di Sengi lebih menuntut kemandirian, karena pengunjung perlu mencari informasi sendiri, bertanya kepada warga, dan berjalan kaki menyusuri pematang. Justru karena itu, Sengi cocok bagi pengunjung yang sudah pernah mengunjungi candi besar dan ingin memahami sisi lain dari peradaban yang sama, yaitu candi-candi kecil yang dahulu melayani komunitas lokal. Perbandingan ini bukan untuk merendahkan salah satu pihak, melainkan untuk membantu pembaca memilih kunjungan yang sesuai dengan minatnya.

Dari sisi sejarah, Candi Asu dan Candi Pendem juga mengingatkan bahwa Mataram Kuno bukanlah kerajaan yang hanya membangun satu monumen raksasa, melainkan jaringan kekuasaan dan keagamaan yang tersebar. Prasasti-prasasti di sekitar Sengi menunjukkan adanya tokoh penguasa, wilayah perdikan, dan persembahan, yang semuanya berkaitan dengan cara kerajaan mengatur tanah dan masyarakatnya. Candi-candi kecil menjadi simpul dari jaringan itu, tempat masyarakat setempat beribadah sekaligus menegaskan hubungannya dengan pusat kekuasaan. Memahami hal ini membuat kunjungan ke Sengi terasa lebih bermakna, karena setiap batu yang tersisa bukan sekadar sisa bangunan, melainkan jejak dari sebuah sistem sosial yang pernah bekerja.

Merapi, Sungai, dan Sawah di Sekitar Situs

Tidak mungkin memahami Candi Asu dan Candi Pendem tanpa memahami Gunung Merapi. Gunung api ini adalah tetangga yang memberi kesuburan sekaligus ancaman bagi lerengnya. Abu vulkanik menyuburkan tanah sehingga sawah di sekitar Sengi dapat ditanami, tetapi letusan dan lahar dapat mengubur bangunan, merusak saluran air, dan memaksa penduduk mengungsi. Kisah Candi Asu yang pembangunannya tidak selesai dan Candi Pendem yang terpendam adalah dua wajah dari hubungan yang sama antara manusia dan gunung api. Karena itu, kunjungan ke Sengi sebaiknya juga menjadi kesempatan untuk belajar tentang mitigasi, tentang bagaimana masyarakat lereng Merapi membaca tanda alam, menjaga jalur evakuasi, dan menata permukiman agar tetap aman.

KabarTidar sebelumnya telah membahas lahar hujan Merapi dan jalur evakuasi di lereng gunung itu, dan pembahasan tersebut relevan untuk memahami konteks Sengi. Candi-candi di Sengi berada di kawasan yang sama-sama dipengaruhi oleh sistem sungai yang berhulu di Merapi, sehingga perubahan alur sungai, pendangkalan, dan banjir lahar dapat memengaruhi situs dari waktu ke waktu. Saluran kecil di dasar Candi Pendem adalah contoh sederhana dari adaptasi terhadap air, tetapi adaptasi yang lebih besar, seperti pemindahan Candi Lumbung dari tebing sungai yang tergerus, menunjukkan bahwa pelestarian candi di kawasan ini selalu berkaitan dengan pengelolaan sungai dan lahan. Pengunjung yang memperhatikan saluran, pematang, dan tebing sungai di sekitar situs akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap daripada sekadar memotret batu candi.

Sawah di sekitar situs juga bukan sekadar latar foto. Sawah adalah ruang hidup warga Sengi yang harus dihormati oleh pengunjung. Pematang yang tampak seperti jalan setapak adalah batas lahan dan saluran air yang penting bagi petani. Menginjak tanaman, membuang sampah, atau memanjat batu candi dapat merusak situs dan mengganggu warga. Etika berkunjung yang paling sederhana adalah berjalan pada jalur yang sudah biasa dilalui, tidak mengambil batu atau fragmen apa pun, tidak mencoret-coret, dan bertanya kepada warga bila ragu tentang arah. Dengan sikap itu, wisata sejarah dapat berjalan berdampingan dengan pertanian, bukan mengganggunya.

Bentang alam Sengi juga menawarkan pemandangan yang sering luput dari perhatian. Dari sekitar Candi Pendem, menurut inventarisasi yang dikutip sebelumnya, tampak pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi, dan Candi Asu terlihat dari sana. Pemandangan dua gunung sekaligus dari satu titik adalah pengalaman yang tidak dapat diperoleh di semua situs, dan hal ini menegaskan bahwa candi-candi di Sengi dibangun dengan kesadaran akan lanskapnya. Para pembangunnya memilih tempat yang tidak hanya dekat dengan sungai, tetapi juga memiliki pandangan ke arah gunung yang dianggap sakral. Bagi pengunjung masa kini, momen terbaik untuk menikmati pemandangan itu adalah pagi hari ketika udara masih jernih, sebelum kabut dan awan menutupi puncak.

Cara Menikmati Kunjungan ke Sengi

Kunjungan ke Candi Asu dan Candi Pendem sebaiknya direncanakan sebagai perjalanan santai, bukan sebagai kunjungan kilat. Karena situsnya berada di tengah sawah dan tidak memiliki fasilitas wisata besar, pengunjung perlu membawa bekal air minum, memakai alas kaki yang nyaman untuk berjalan di pematang, dan memakai topi atau pelindung dari panas. Pakaian yang sopan juga dianjurkan, karena situs ini adalah peninggalan suci dan berada di lingkungan permukiman warga. Tidak ada salahnya menyapa warga dan bertanya tentang arah, karena warga setempat adalah penjaga sehari-hari dari situs yang tidak selalu dijaga oleh petugas.

Pengunjung yang membawa anak-anak dapat menjadikan kunjungan ini sebagai pelajaran lapangan yang hidup. Anak dapat diajak menghitung sisi denah bujur sangkar, mengamati perbedaan antara batu yang sudah dipahat dan batu yang masih polos, serta mencari sumuran di tengah candi dengan bimbingan orang dewasa. Anak juga dapat diajak membedakan antara fakta dan cerita, misalnya dengan bertanya mana bagian yang diketahui dari prasasti dan mana bagian yang berasal dari cerita rakyat. Cara belajar seperti ini jauh lebih membekas daripada sekadar menghafal nama candi, karena anak belajar berpikir kritis sejak dini. Setelah dari Sengi, keluarga dapat mampir ke warung-warung di lereng Merapi yang telah dibahas KabarTidar, untuk beristirahat sambil menikmati suasana pedesaan.

Bagi pecinta fotografi, Candi Asu dan Candi Pendem menawarkan objek yang menantang karena ukurannya kecil dan latarnya adalah sawah yang luas. Foto yang baik di sini bukan foto yang membuat candi tampak megah dengan sudut yang menipu, melainkan foto yang jujur menunjukkan skala sebenarnya, yaitu bangunan rendah di tengah lahan pertanian dengan gunung di kejauhan. Memotret pada pagi atau sore hari akan memberi cahaya yang lembut dan bayangan yang menegaskan tekstur batu. Pengunjung sebaiknya tidak memanjat candi demi mendapatkan sudut foto, karena tindakan itu dapat merusak batu dan membahayakan diri sendiri. Foto yang menghormati situs justru akan lebih bercerita, karena menunjukkan hubungan antara bangunan, sawah, dan gunung.

Kunjungan ke Sengi juga dapat dipadukan dengan penelusuran candi-candi lain di Magelang, asalkan rutenya direncanakan dengan realistis. Jarak antarsitus di Magelang tidak selalu dekat, dan jalan pedesaan memerlukan waktu tempuh yang lebih lama daripada yang tampak di peta. Karena itu, satu hari sebaiknya diisi dengan dua atau tiga situs saja, agar pengunjung memiliki waktu untuk berhenti, bertanya, dan mengamati. Sengi dapat dipasangkan dengan situs di Kecamatan Dukun dan sekitarnya, atau dengan kawasan Borobudur sebagai pembanding antara candi kecil pedesaan dan kawasan candi besar. Apa pun rutenya, yang terpenting adalah tidak terburu-buru, karena situs sunyi justru menuntut kesabaran.

Apa yang Masih Menjadi Pertanyaan Para Ahli

Meskipun prasasti dan kajian arkeologi sudah memberi kerangka yang cukup jelas, masih banyak pertanyaan tentang kompleks Sengi yang belum terjawab secara pasti. Pertanyaan pertama berkaitan dengan nama asli candi, karena hingga kini nama Asu dan Pendem dipahami sebagai nama pemberian masyarakat kemudian. Pertanyaan kedua berkaitan dengan fungsi masing-masing bangunan secara rinci, karena denah dan sumuran memberi petunjuk umum tentang pemujaan Hindu dan leluhur, tetapi tidak menjelaskan seluruh rangkaian ritual yang dahulu dilakukan di sana. Pertanyaan ketiga berkaitan dengan kronologi yang tepat, karena perbedaan angka 860 dan 869 dalam sumber yang berbeda menunjukkan bahwa penanggalan masih bergantung pada tafsir atas prasasti yang tersebar.

Pertanyaan lain berkaitan dengan hubungan antara ketiga candi di kompleks Sengi. Apakah ketiganya dibangun dalam satu program yang sama, atau dibangun bertahap oleh komunitas yang berbeda dalam satu kawasan, masih memerlukan kajian perbandingan tentang gaya pahat, jenis batu, dan susunan denah. Pertanyaan tentang lubang-lubang di kaki Candi Pendem juga belum terjawab, karena bentuknya yang menyerupai congklak baru sebatas perbandingan visual. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan kelemahan, melainkan undangan untuk penelitian lebih lanjut. Situs yang masih menyimpan pertanyaan justru lebih menarik, karena pengunjung diajak untuk ikut berpikir, bukan sekadar menerima jawaban jadi.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, para ahli memerlukan kerja sama antara arkeolog, ahli epigrafi yang membaca prasasti, ahli geologi yang mempelajari material vulkanik, dan warga setempat yang mengetahui riwayat lahan dari generasi ke generasi. Warga Sengi, misalnya, dapat bercerita tentang perubahan alur sungai, tentang batu-batu yang pernah terlihat sebelum tertimbun, atau tentang lahan yang dahulu berbeda fungsinya. Cerita-cerita semacam itu, bila dicatat dengan teliti dan dibandingkan dengan bukti fisik, dapat menjadi petunjuk penelitian yang berharga. Karena itu, pelestarian situs tidak cukup hanya dengan menjaga batu, tetapi juga dengan mendokumentasikan pengetahuan warga sebelum hilang.

Bagi pembaca umum, kejujuran tentang hal yang belum diketahui adalah bagian dari literasi sejarah. Artikel yang mengaku tahu segalanya justru patut dicurigai, karena sejarah candi berusia seribu tahun tidak mungkin diketahui seluruhnya dari segelintir prasasti. Artikel ini memilih untuk menyebut kata diperkirakan, kemungkinan, dan menurut sumber pada bagian-bagian yang memang belum pasti, agar pembaca dapat membedakan antara fakta yang kuat dan tafsir yang masih terbuka. Sikap ini juga melindungi situs dari klaim berlebihan, misalnya klaim tentang kutukan atau kesaktian yang tidak dapat dibuktikan, yang bila disebarkan sebagai fakta justru dapat merusak pemahaman publik tentang sejarah.

Menjaga Candi Asu dan Candi Pendem untuk Generasi Berikutnya

Pelestarian Candi Asu dan Candi Pendem menghadapi tantangan yang berbeda dari pelestarian candi besar. Tantangan pertama adalah lokasinya di tengah sawah, sehingga situs rentan terhadap perubahan tata guna lahan, perluasan permukiman, dan perubahan saluran air. Tantangan kedua adalah ancaman alam, berupa letusan, lahar, dan erosi sungai, yang tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dapat dikurangi risikonya dengan pemantauan dan perencanaan. Tantangan ketiga adalah minimnya kunjungan, yang di satu sisi melindungi situs dari kerusakan akibat keramaian, tetapi di sisi lain membuat situs kurang mendapat perhatian dan anggaran perawatan. Menyeimbangkan ketiga tantangan itu memerlukan kerja sama antara pemerintah, ahli, dan warga.

Peran warga Sengi dalam pelestarian sangat penting, karena merekalah yang setiap hari melihat situs, menjaga lahan di sekitarnya, dan menyambut pengunjung. Dukungan bagi warga dapat berbentuk pelatihan pemandu lokal, bantuan dokumentasi, dan pengembangan usaha kecil yang tidak merusak situs, misalnya warung atau jasa pemandu yang dikelola warga. Dengan cara itu, kehadiran wisatawan memberi manfaat ekonomi bagi warga, sehingga warga memiliki alasan nyata untuk menjaga situs. Sebaliknya, bila wisatawan datang tanpa memberi manfaat dan justru merusak sawah, warga dapat kehilangan alasan untuk menyambut mereka. Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang membuat warga merasa menjadi tuan rumah, bukan sekadar penonton.

Peran pengunjung juga tidak kalah penting. Setiap pengunjung yang datang dengan sikap hormat, tidak merusak, dan mau belajar sudah berkontribusi pada pelestarian. Pengunjung yang membagikan foto dan cerita dengan keterangan yang akurat juga membantu, karena informasi yang benar akan menarik pengunjung berikutnya yang juga menghormati situs. Sebaliknya, pengunjung yang menyebarkan klaim yang tidak berdasar, misalnya menyebut legenda sebagai fakta sejarah, justru dapat menimbulkan harapan yang salah dan perilaku yang merusak. Karena itu, artikel ini mengajak pembaca untuk membagikan kisah Sengi dengan cara yang jujur, yaitu menyebut sumbernya, mengakui hal yang belum pasti, dan menekankan keindahan situs yang sunyi.

Pada akhirnya, Candi Asu dan Candi Pendem mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu megah dan ramai. Kadang sejarah justru hadir dalam bentuk bangunan rendah di tengah sawah, dengan dinding yang polos, atap yang hilang, dan sumuran yang dalam. Bangunan seperti itulah yang mengajak orang untuk berhenti sejenak, memperhatikan detail, dan membayangkan kehidupan masyarakat seribu tahun yang lalu. Sengi mungkin tidak akan pernah seramai kawasan candi besar, dan memang tidak perlu menjadi seperti itu. Kesunyiannya adalah bagian dari nilainya, dan tugas generasi sekarang adalah memastikan bahwa kesunyian itu tetap terjaga, agar generasi berikutnya masih dapat datang, berjalan di pematang, dan mendengar kisah Mataram Kuno dari batu-batu yang masih bertahan di lereng Merapi.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *