Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Desa Bahasa Borobudur, Kampung Belajar Bahasa Asing di…
Pendidikan

Desa Bahasa Borobudur, Kampung Belajar Bahasa Asing di Kawasan Candi

Berbeda dengan kampung kursus yang dipenuhi puluhan lembaga, Desa Bahasa Borobudur bertumpu pada satu lembaga yang diberdayakan bersama sumber daya desa. Artikel ini menelusuri program, camp, homestay, dan hal yang wajib dikonfirmasi sebelum datang.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 13.47 WIB
Desa Bahasa Borobudur, peserta camp belajar bahasa Inggris bersama warga di dusun kawasan Borobudur
Ilustrasi peserta camp yang berlatih percakapan bahasa Inggris bersama warga di halaman rumah dusun dengan latar perbukitan hijau. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Desa Bahasa Borobudur adalah kampung belajar bahasa asing di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, yang dikenal juga dengan nama Kampung Inggris Borobudur. Berbeda dengan kampung bahasa yang dipenuhi puluhan lembaga kursus, tempat ini bertumpu pada satu lembaga kursus yang diberdayakan bersama sumber daya desa, sehingga warga, homestay, dan ruang belajar tumbuh sebagai satu kesatuan. Di sinilah letak keunikan yang membuatnya layak ditulis: Desa Bahasa Borobudur bukan sekadar tempat kursus, melainkan sebuah dusun yang menjadikan bahasa sebagai kegiatan bersama, dari ruang kelas hingga dapur homestay dan dari panggung pertunjukan hingga kunjungan ke Candi Borobudur.

Keberadaan tempat ini terverifikasi dari beberapa sumber yang dapat diperiksa. Sebuah tesis pendidikan yang membahas kampung Inggris di Indonesia menyebut Kampung Inggris Magelang dengan nama Desa Bahasa Borobudur, dan menjelaskan perbedaannya dengan kampung Inggris lain. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Jurnal Kiprah Pendidikan pada April 2023 meneliti program literasi di Desa Bahasa Borobudur dengan cara observasi partisipan dan wawancara mendalam kepada pengelola, peserta, dan kepala dusun. Sebuah buklet English Camp tahun 2024 mendokumentasikan kegiatan belajar selama sepekan di tempat ini, dari pembukaan program hingga malam perpisahan. Direktori lokasi mencatatnya sebagai sekolah bahasa dengan kategori tambahan kamp pemondokan dan penginapan, yang beralamat di Parakan RT dan RW 02, Kabupaten Magelang. Keempat jejak itu, yang berasal dari dunia akademik, dokumen kegiatan sekolah, dan direktori lokasi, saling menguatkan bahwa Desa Bahasa Borobudur adalah tempat dan program yang nyata, bukan sekadar nama di internet.

Artikel ini menguraikan apa itu Desa Bahasa Borobudur, program apa saja yang terdokumentasi di sana, bagaimana model belajarnya bekerja dalam kegiatan camp, apa peran homestay dan warga, serta apa yang perlu diketahui calon peserta sebelum datang. Artikel ini juga menegaskan batas informasi yang tersedia. Biaya kursus, jadwal program terkini, dan kontak pendaftaran tidak dicantumkan karena tidak ditemukan dalam sumber resmi atau sumber terpercaya yang dapat diverifikasi pada saat penulisan. Situs web lama tempat ini, kampunginggrisborobudur.com, pada saat diperiksa pada 27 Oktober 2026 menampilkan pemberitahuan bahwa domainnya sudah kedaluwarsa, sehingga situs itu tidak dapat dipakai sebagai rujukan pendaftaran. Calon peserta disarankan mengonfirmasi program dan biaya melalui jalur yang dapat diverifikasi, misalnya melalui sekolah atau lembaga yang pernah bekerja sama dengan tempat ini, sebelum memutuskan berangkat.

Desa Bahasa Borobudur dan Program Belajarnya

Penelitian pada Jurnal Kiprah Pendidikan tahun 2023 merumuskan dua tujuan, yaitu mendeskripsikan wujud program dalam menumbuhkembangkan budaya literasi di Desa Bahasa Borobudur, dan mendeskripsikan pengaruh program itu terhadap tingkat literasi masyarakat di sana. Subjek penelitiannya adalah tiga orang pengelola, yang terdiri atas satu orang perintis dan dua orang staf, dua orang peserta, dan satu orang kepala dusun. Metode yang dipakai adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dan keabsahan datanya dijaga dengan triangulasi, yaitu membandingkan hasil dari beberapa teknik dan sumber. Cara penelitian semacam itu penting dicatat, karena ia menunjukkan bahwa gambaran tentang Desa Bahasa Borobudur dalam artikel ini bersandar pada pengamatan langsung dan wawancara, bukan pada brosur promosi semata.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa wujud program pendidikan literasi di Desa Bahasa Borobudur terdiri atas wujud nonfisik dan wujud fisik. Wujud nonfisik berupa program pengajaran lima bahasa, yang disebut sebagai program utama Desa Bahasa Borobudur, serta tiga program lain, yaitu SPEC, Pesantren Bahasa, dan Kedai 3 Bahasa. Wujud fisik berupa pengadaan fasilitas utama dan fasilitas pendukung pendidikan literasi. Penelitian itu tidak merinci nama kelima bahasa yang diajarkan dalam ringkasan yang tersedia, sehingga artikel ini tidak menyebut daftar bahasa itu, agar tidak mengarang rincian yang tidak terverifikasi. Yang dapat dinyatakan dengan aman adalah bahwa pengajaran lima bahasa adalah program utama tempat ini, dan bahwa program itu dijalankan bersama tiga program pendukung yang namanya terdokumentasi.

Nama SPEC, Pesantren Bahasa, dan Kedai 3 Bahasa itu sendiri memberi gambaran tentang corak tempat ini. SPEC adalah program yang namanya mengacu pada kegiatan berbahasa, Pesantren Bahasa menunjukkan kaitan dengan pola pendidikan pesantren yang memadukan belajar dan kehidupan berasrama, dan Kedai 3 Bahasa menunjukkan ruang belajar yang dikemas dalam suasana kedai, tempat bahasa dipakai dalam percakapan sehari-hari, bukan hanya di dalam kelas. Artikel ini tidak merinci kurikulum masing-masing program, karena rincian itu tidak tersedia dalam sumber yang dibaca. Akan tetapi, keberadaan tiga program dengan corak berbeda itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Desa Bahasa Borobudur tidak hanya menawarkan satu bentuk kelas, melainkan beberapa jalur belajar yang dapat dipilih sesuai kebutuhan peserta.

Penelitian itu juga menilai bahwa wujud program literasi di Desa Bahasa Borobudur telah memenuhi prinsip pendidikan literasi dan prinsip program Gerakan Literasi Nasional. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Bahasa Borobudur cukup berpengaruh dalam upaya menumbuhkembangkan budaya literasi dan tingkat literasi masyarakat, baik dalam bidang kecakapan berbahasa maupun dalam bidang kehidupan masyarakat yang lain. Temuan itu penting karena ia menggeser cara memandang tempat kursus: pengaruhnya tidak hanya diukur dari nilai ujian peserta, melainkan juga dari perubahan pada masyarakat sekitar, dari kebiasaan berbahasa hingga kehidupan sehari-hari warga yang terlibat sebagai tuan rumah, pendamping, dan pelaku usaha pendukung.

Fasilitas fisik yang disebut dalam penelitian itu, yaitu fasilitas utama dan fasilitas pendukung pendidikan literasi, dapat dibayangkan dari dokumen kegiatan camp yang tersedia. Buklet English Camp 2024 menyebut adanya Hall Desa Bahasa sebagai pusat kegiatan, tempat pembagian homestay, makan bersama, istirahat, dan pertunjukan. Hall semacam itu adalah fasilitas utama yang memungkinkan kegiatan kelompok besar berjalan, sementara homestay warga adalah fasilitas pendukung yang memungkinkan peserta tinggal dan berinteraksi di luar jam kelas. Kombinasi keduanya adalah ciri kampung belajar: belajar tidak berhenti ketika kelas selesai, karena peserta pulang ke rumah warga dan melanjutkan percakapan di sana.

Desa Bahasa Borobudur di Antara Kampung Inggris Lain di Indonesia

Tesis pendidikan yang membahas program imersi bahasa Inggris di Pare mencatat bahwa di Indonesia terdapat sejumlah tempat belajar bahasa yang dikenal sebagai kampung Inggris. Tesis itu menyebut enam kampung Inggris, yaitu di Magelang, Bandung, Sumatra Barat, Solo, Jakarta, dan Kediri. Kampung Inggris Pare di Kediri disebut sebagai yang tertua, dan satu-satunya kampung Inggris yang terdiri atas lebih dari seratus lembaga kursus. Kampung Inggris Bandung disebut memiliki dua lembaga kursus terkenal. Kampung Inggris Sumatra Barat, yang terkenal dengan Harau Valley School, disebut banyak dikunjungi untuk kursus bahasa Inggris serta persiapan ujian TOEFL dan IELTS. Kampung Inggris Solo, yang disebut Solo English Camp, disebut hanya belajar pada malam hari setelah magrib dan pagi hari setelah subuh, agar tidak mengganggu belajar di sekolah atau kampus. Kampung Inggris Jakarta, yang disebut Easy English Center, disebut mengadaptasi langsung model Pare.

Di antara keenamnya, Kampung Inggris Magelang atau Desa Bahasa Borobudur disebut berbeda. Tesis itu menyatakan bahwa di sana hanya ada satu lembaga kursus di dalam sebuah desa, tetapi desa itu diberdayakan sumber dayanya, sehingga tempat itu lebih dikenal sebagai Desa Bahasa. Perbedaan itu adalah kunci untuk memahami tempat ini. Di Pare, peserta memilih di antara ratusan lembaga kursus yang bersaing dan saling melengkapi. Di Borobudur, peserta datang ke satu ekosistem desa, tempat lembaga kursus, warga, homestay, dan kegiatan budaya berjalan bersama. Pilihan antara keduanya bukan soal mana yang lebih baik secara mutlak, melainkan soal model belajar apa yang cocok untuk peserta: keramaian pilihan di Pare, atau kebersamaan desa di Borobudur.

Model satu desa itu juga menjelaskan mengapa penelitian tentang Desa Bahasa Borobudur menaruh perhatian besar pada masyarakat sekitar. Ketika hanya ada satu lembaga kursus di sebuah desa, maka lembaga itu tidak dapat dipisahkan dari desanya. Warga yang menyediakan homestay, warga yang terlibat dalam kegiatan learning by doing, dan kepala dusun yang menjadi subjek penelitian, semuanya adalah bagian dari program, bukan sekadar latar. Sebaliknya, di kampung kursus yang besar, warga sekitar dapat menjadi penonton dari kegiatan kursus. Di Desa Bahasa Borobudur, warga adalah pelaku, dan itulah yang membuat sebutan desa bahasa lebih tepat daripada sebutan kawasan kursus.

Perbandingan itu juga membantu calon peserta mengatur harapan. Peserta yang datang ke Desa Bahasa Borobudur sebaiknya tidak membayangkan deretan papan nama kursus di sepanjang jalan seperti di Pare. Yang akan ditemui adalah sebuah dusun dengan hall kegiatan, homestay warga, dan program yang dijalankan bersama masyarakat. Peserta yang mencari suasana belajar yang tenang, dekat dengan kawasan wisata candi, dan dibungkus kehidupan desa, akan lebih cocok dengan model ini. Peserta yang mencari banyak pilihan lembaga dan jadwal yang sangat fleksibel mungkin lebih cocok dengan kampung kursus yang besar. Kejujuran tentang perbedaan model itu adalah bagian dari tanggung jawab artikel ini kepada pembaca.

Seperti Apa English Camp di Desa Bahasa Borobudur

Gambaran paling konkret tentang kegiatan belajar di Desa Bahasa Borobudur datang dari buklet English Camp SMP Islam Al Azhar 19 Cibubur, yang diselenggarakan di Kampung Inggris Borobudur, Magelang, pada 19 hingga 25 Juni 2024. Buklet itu bukan brosur promosi, melainkan panduan kegiatan yang memuat susunan panitia, tata tertib, perlengkapan, data keberangkatan, dan rundown kegiatan harian. Karena itu, buklet ini adalah sumber yang baik untuk memahami bagaimana sepekan belajar di Desa Bahasa Borobudur benar-benar berjalan, dari pagi hingga malam, dari kelas hingga homestay.

Rombongan berangkat dari Jakarta pada 19 Juni 2024, bermalam di kereta menuju Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Desa Bahasa pada pagi 20 Juni 2024. Setibanya di Desa Bahasa, peserta makan pagi dan menerima pembagian homestay di Hall Desa Bahasa, kemudian mengikuti pembukaan program dan penjelasan kegiatan English Camp selama di Desa Bahasa. Pada siang harinya, peserta diperkenalkan pada kehidupan desa melalui kunjungan ke peternakan kambing etawa serta kegiatan pembuatan tempe dan gula jawa, dengan tujuan menanamkan nilai keramahan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan melalui interaksi langsung dengan warga. Pola ini, yaitu belajar bahasa yang dipadukan dengan belajar kehidupan desa, adalah ciri yang membedakan camp di sini dari kursus di dalam kelas semata.

Hari-hari berikutnya mengikuti pola yang berulang dan terstruktur. Setiap pagi dimulai sangat dini, dengan panggilan bangun pada pukul 03.30, dilanjutkan salat tahajud dan salat subuh berjamaah. Pukul 05.00 hingga 06.00 diisi kegiatan Learning by Doing Sapta Pesona di homestay masing-masing, yaitu praktik nilai-nilai sadar wisata dalam kehidupan sehari-hari di rumah warga. Setelah mandi dan makan pagi, peserta mengikuti pendalaman metode bahasa Inggris yang menyenangkan ala Desa Bahasa Borobudur, istirahat pada tengah hari di Hall Desa Bahasa, lalu pembekalan materi dan praktik bersama penutur asli pada sore hari, termasuk sesi tanya jawab dengan penutur asli. Malam hari ditutup dengan makan malam bersama di Hall Desa Bahasa, dilanjutkan story telling atau pembuatan konten tentang kegiatan hari itu, sebelum peserta kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat.

Dua kegiatan khusus memberi warna pada camp itu. Pada 22 Juni 2024, peserta mengikuti kegiatan hunting tourist di Candi Borobudur, yaitu praktik berbicara bahasa Inggris dengan wisatawan di kawasan candi, lalu kembali ke Desa Bahasa untuk pendalaman metode bahasa Inggris dan pertunjukan bunyi angklung Borobudur. Pada 23 Juni 2024, peserta berkegiatan di masyarakat melalui proses budidaya lebah madu dan pembuatan rengginang, lalu mengikuti fun magic dan fun games ala Desa Bahasa Borobudur pada sore hari, dan malam perpisahan yang menampilkan kreativitas berbicara di depan umum dan hiburan dari setiap kelompok. Rangkaian itu menunjukkan bahwa belajar bahasa di sini tidak dipisahkan dari budaya, alam, dan usaha warga: madu, rengginang, angklung, dan candi adalah materi belajar yang hidup, bukan sekadar contoh di buku.

Tujuan camp itu, sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buklet, selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, juga menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong, kemandirian, dan kerja sama, serta tadabbur alam, yaitu perenungan atas kenikmatan yang diberikan Tuhan. Tujuan yang dirumuskan dengan bahasa nilai itu selaras dengan temuan penelitian 2023, bahwa pengaruh Desa Bahasa Borobudur tidak hanya pada kecakapan berbahasa, melainkan juga pada kehidupan masyarakat yang lain. Camp semacam ini, dengan kata lain, adalah kegiatan pendidikan karakter yang dibungkus kegiatan bahasa, dan bahasa adalah kendaraan, bukan satu-satunya tujuan.

Tata tertib dalam buklet itu juga menggambarkan suasana camp yang dijaga dengan ketat. Selama kegiatan, alat komunikasi peserta disimpan oleh panitia, peserta wajib menaati batasan zona putra dan putri yang ditentukan, wajib bersikap sopan dan menjunjung adab kepada semua pihak yang terlibat, serta wajib menjaga ketertiban, kelestarian, dan kebersihan lingkungan. Aturan-aturan itu penting dicatat karena ia menjelaskan bahwa camp di Desa Bahasa Borobudur bukan liburan bebas, melainkan kegiatan terstruktur dengan pendampingan guru dan panitia. Calon peserta, terutama orang tua yang mempertimbangkan camp untuk anaknya, perlu memahami karakter itu sejak awal, agar harapan tentang camp sesuai dengan kenyataannya.

Contoh camp tahun 2024 itu adalah satu contoh kegiatan, bukan jadwal yang berlaku setiap tahun. Artikel ini tidak menyatakan bahwa rundown yang sama berlaku pada tahun berjalan, karena jadwal camp bergantung pada penyelenggara dan kesepakatan dengan pengelola Desa Bahasa. Akan tetapi, contoh itu tetap berharga sebagai bukti nyata bahwa program di tempat ini berjalan dan diminati sekolah dari luar daerah, dalam hal ini sebuah sekolah di Cibubur yang mengirim rombongan dengan kereta, bus, dan pendamping guru selama sepekan. Bukti semacam itu lebih kuat daripada sekadar klaim bahwa tempat ini ramai, karena ia menunjukkan siapa yang datang, berapa lama mereka tinggal, dan apa yang mereka kerjakan setiap hari.

Homestay, Warga, dan Ekonomi Desa Bahasa Borobudur

Homestay adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Desa Bahasa Borobudur. Dalam camp 2024, peserta tidak menginap di hotel, melainkan di homestay warga yang dibagikan di Hall Desa Bahasa, dan setiap pagi mereka melakukan kegiatan Sapta Pesona di homestay masing-masing. Pola itu berarti warga bukan hanya penyedia kamar, melainkan juga pendamping kehidupan sehari-hari peserta: mereka menyediakan makan, mengatur ritme pagi, dan menjadi lawan bicara pertama di luar kelas. Bagi warga, homestay adalah sumber penghasilan. Bagi peserta, homestay adalah ruang belajar yang paling jujur, karena di sana bahasa harus dipakai untuk keperluan nyata, seperti meminta sesuatu, mengucapkan terima kasih, dan bercerita tentang hari yang telah dilalui.

Penelitian tentang kepuasan pelanggan Homestay Syariah Desa Bahasa Borobudur, yang diterbitkan pada jurnal ekonomi dan akuntansi pada Maret 2023, menambah gambaran tentang sisi usaha tempat ini. Penelitian itu menemukan bahwa nilai kualitas, nilai harga, nilai emosional, dan nilai sosial memengaruhi kepuasan pelanggan homestay syariah di Desa Bahasa Borobudur. Temuan itu, meskipun ditulis dalam bahasa penelitian, sebenarnya mudah dipahami: tamu menilai homestay bukan hanya dari kamar dan harga, melainkan juga dari perasaan diterima dan dari hubungan sosial yang terjalin dengan tuan rumah. Di kampung belajar, hubungan sosial itu adalah bagian dari produk, bukan sekadar pelengkap, karena tamu yang merasa diterima akan lebih berani berbicara, dan keberanian berbicara adalah modal utama belajar bahasa.

Sebutan syariah pada homestay itu juga perlu dipahami secara proporsional. Penelitian yang sama meneliti Homestay Syariah Desa Bahasa Borobudur sebagai sebuah usaha penginapan, dan camp 2024 yang didokumentasikan dalam buklet juga menjalankan kegiatan dengan ritme ibadah berjamaah yang jelas, dari tahajud hingga salat lima waktu. Kedua jejak itu menunjukkan bahwa suasana keagamaan adalah bagian dari karakter tempat ini, sekurang-kurangnya dalam kegiatan yang terdokumentasi. Artikel ini tidak menyatakan bahwa semua program di Desa Bahasa Borobudur berlabel syariah, karena sumber yang dibaca tidak menyatakan hal itu secara umum. Yang dapat dinyatakan adalah bahwa homestay syariah adalah salah satu usaha yang terdokumentasi di sana, dan bahwa camp yang terdokumentasi menjalankan kegiatan dengan ritme ibadah yang terstruktur.

Bagi warga sekitar, keberadaan Desa Bahasa Borobudur membuka peluang ekonomi yang beragam, dari homestay hingga penyediaan makan, dari pendampingan kegiatan hingga penjualan produk desa seperti madu dan rengginang yang dikenalkan dalam camp. Peluang itu selaras dengan temuan penelitian 2023, bahwa program literasi di tempat ini berpengaruh pada kehidupan masyarakat di luar kecakapan berbahasa. Akan tetapi, artikel ini tidak mengklaim angka penghasilan warga atau jumlah homestay yang beroperasi saat ini, karena angka semacam itu tidak tersedia dalam sumber yang dibaca. Calon mitra warga atau calon peserta yang membutuhkan angka pasti sebaiknya menanyakannya langsung kepada pengelola, bukan mengandalkan perkiraan dari artikel ini.

Kaitan antara Desa Bahasa Borobudur dan kawasan wisata di sekitarnya juga patut diperhatikan. Kawasan Borobudur adalah kawasan wisata yang ramai, dengan pasar rakyat, terminal, dan kampung seni di sekitarnya. Pembaca yang ingin memahami denyut ekonomi warga di kawasan itu dapat membaca artikel KabarTidar tentang Pasar Borobudur, pasar rakyat di kawasan wisata Candi Borobudur yang kini menjadi prioritas penataan Pemerintah Kabupaten Magelang. Pasar, terminal, kampung seni, dan desa bahasa adalah simpul-simpul yang berbeda dari satu kawasan yang sama: pasar menggerakkan dagang harian, terminal menggerakkan pergerakan orang, kampung seni menggerakkan kerajinan dan pertunjukan, dan desa bahasa menggerakkan belajar. Memahami kawasan Borobudur sebagai jaringan simpul semacam itu lebih tepat daripada memahaminya sebagai sekadar halaman candi.

Kawasan Borobudur sebagai Latar Belajar Bahasa

Belajar bahasa di kawasan Borobudur memiliki keuntungan yang tidak dimiliki kawasan kursus di tengah kota, yaitu kehadiran wisatawan dari berbagai negara di kawasan candi. Kegiatan hunting tourist dalam camp 2024 memanfaatkan keuntungan itu secara langsung: peserta diajak ke Candi Borobudur untuk praktik berbicara dengan wisatawan. Praktik semacam itu adalah ujian yang jujur bagi pembelajar bahasa, karena lawan bicara tidak mengenal peserta, tidak mengetahui materi yang sedang dipelajari, dan tidak akan berpura-pura memahami ucapan yang tidak jelas. Keberanian yang tumbuh dari praktik itu tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh latihan di dalam kelas, betapa pun baiknya kelas itu.

Candi Borobudur sendiri adalah latar yang memberi bobot pada kegiatan belajar itu. Candi ini adalah candi Buddha Mahayana dari abad ke-9, yang dibangun pada masa Dinasti Sailendra, dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1991. Candi ini sering disebut sebagai candi Buddha terbesar di dunia, dengan sembilan tingkat yang terdiri atas enam teras persegi dan tiga teras melingkar, yang puncaknya berupa stupa utama. Pengetahuan dasar tentang candi itu berguna bagi peserta camp, karena wisatawan yang ditemui dalam hunting tourist sering kali bertanya tentang candi, dan peserta yang dapat menjelaskan sedikit tentang tempat itu dalam bahasa Inggris sedang mempraktikkan dua keterampilan sekaligus, yaitu berbahasa dan menjadi tuan rumah yang baik bagi tamunya.

Latar kawasan itu juga memberi materi belajar yang tidak habis-habis. Relief candi, pasar rakyat, terminal, kampung seni, perbukitan Menoreh, dan kehidupan desa di sekitar Borobudur adalah topik percakapan yang tersedia setiap hari. Peserta camp 2024, misalnya, tidak hanya belajar kosakata dari buku, melainkan juga belajar kata-kata yang berkaitan dengan peternakan kambing etawa, pembuatan tempe dan gula jawa, budidaya lebah madu, pembuatan rengginang, dan bunyi angklung. Kosakata semacam itu mungkin tidak muncul dalam ujian standar, tetapi ia adalah kosakata yang membuat pembelajar mampu bercerita tentang negerinya sendiri dalam bahasa asing, dan kemampuan bercerita tentang negeri sendiri adalah salah satu tujuan belajar bahasa yang paling bermakna.

Di sisi lain, kawasan wisata yang ramai juga menuntut sikap yang tepat dari peserta. Sapta Pesona, yang dipraktikkan setiap pagi di homestay dalam camp 2024, adalah pengingat bahwa wisatawan dan pembelajar bahasa adalah tamu di desa orang. Sikap aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan yang terkandung dalam Sapta Pesona bukan sekadar slogan pariwisata, melainkan aturan perilaku yang menjaga hubungan baik antara peserta, warga, dan wisatawan. Desa bahasa yang baik mengajarkan bahasa sekaligus adab, dan camp 2024 menunjukkan bahwa kedua hal itu diajarkan bersama, dari pagi hingga malam, dari hall hingga homestay.

Siapa yang Cocok Belajar di Desa Bahasa Borobudur

Dari bukti yang tersedia, Desa Bahasa Borobudur paling cocok untuk tiga kelompok. Kelompok pertama adalah rombongan sekolah yang ingin mengadakan camp bahasa selama beberapa hari, dengan pendampingan guru, jadwal terstruktur, dan kegiatan budaya yang menyertainya. Buklet camp 2024 adalah contoh kelompok ini, dan pola kegiatannya, dari pembukaan hingga malam perpisahan, dapat menjadi gambaran bagi sekolah lain yang mempertimbangkan kegiatan serupa. Kelompok kedua adalah peserta perorangan atau kelompok kecil yang ingin belajar bahasa dalam suasana desa yang tenang, dengan homestay warga dan interaksi sehari-hari sebagai bagian dari belajar. Kelompok ketiga adalah warga sekitar dan masyarakat Borobudur sendiri, yang menurut penelitian 2023 ikut merasakan pengaruh program literasi, baik dalam kecakapan berbahasa maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, ada harapan yang sebaiknya tidak dibawa ke tempat ini. Peserta yang membayangkan deretan lembaga kursus dengan banyak pilihan jadwal seperti di Pare akan kecewa, karena model Desa Bahasa Borobudur adalah satu ekosistem desa, bukan pasar kursus. Peserta yang mencari kursus singkat satu atau dua jam di tengah perjalanan wisata juga perlu menyesuaikan harapan, karena kegiatan yang terdokumentasi di sini berbentuk program dan camp yang terstruktur, bukan kelas kilat di pinggir jalan. Peserta yang membutuhkan kepastian biaya, jadwal, dan kurikulum terkini wajib mengonfirmasi langsung kepada pengelola sebelum berangkat, karena artikel ini sengaja tidak mencantumkan ketiganya tanpa sumber yang terverifikasi.

Bagi orang tua yang mempertimbangkan camp untuk anaknya, ada beberapa hal yang patut ditanyakan kepada penyelenggara sebelum mendaftar. Pertama, siapa pendamping dan bagaimana rasio pendamping terhadap peserta selama camp berlangsung. Kedua, bagaimana pengaturan homestay, termasuk pemisahan zona putra dan putri, sebagaimana diatur dalam tata tertib camp 2024. Ketiga, bagaimana kebijakan penggunaan alat komunikasi selama camp, karena camp 2024 menyimpan alat komunikasi peserta pada panitia. Keempat, apa saja kegiatan di luar kelas, termasuk kunjungan ke candi dan kegiatan bersama warga, serta bagaimana keamanan kegiatan itu diatur. Kelima, apa yang menjadi luaran belajar yang dapat ditunjukkan setelah camp selesai, misalnya pertunjukan, presentasi, atau portofolio cerita. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan bentuk tanggung jawab orang tua, dan penyelenggara yang baik akan menjawabnya dengan terbuka.

Bagi sekolah yang ingin mengadakan camp serupa, buklet 2024 memberi contoh struktur yang dapat ditiru dan disesuaikan, yaitu pembukaan program yang jelas, pembagian homestay yang teratur, ritme harian yang konsisten, kegiatan budaya yang terintegrasi, praktik bersama penutur asli, kunjungan ke candi, dan malam perpisahan yang memberi ruang bagi peserta untuk tampil. Struktur itu dapat disesuaikan dengan jenjang sekolah dan lama camp, tetapi prinsipnya tetap sama: bahasa dipelajari melalui kehidupan, bukan hanya melalui buku. Sekolah juga sebaiknya memastikan bahwa kegiatan camp menghormati warga tuan rumah, misalnya dengan menjaga kebersihan homestay, menaati adab setempat, dan memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan harapan mereka kepada rombongan.

Yang Perlu Dikonfirmasi Sebelum Datang ke Desa Bahasa Borobudur

Bagian ini adalah bagian yang paling penting bagi pembaca yang serius ingin datang, karena ia berisi batas-batas informasi artikel ini. Pertama, alamat yang tercantum pada direktori lokasi adalah Parakan RT dan RW 02, Kabupaten Magelang. Alamat itu adalah patokan awal, bukan alamat lengkap dengan nama dusun dan desa administratif yang terverifikasi dari sumber resmi pemerintah desa. Pembaca yang membutuhkan alamat lengkap untuk perjalanan sebaiknya mengonfirmasinya kepada pengelola atau kepada pihak yang pernah bekerja sama dengan tempat ini, dan sebaiknya tidak mengandalkan satu direktori daring saja.

Kedua, situs web lama tempat ini sudah kedaluwarsa pada saat diperiksa pada 27 Oktober 2026. Hal itu tidak berarti programnya berhenti, karena program dapat berjalan tanpa situs web, dan bukti kegiatan terbaru yang dibaca berasal dari tahun 2024. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa calon peserta tidak dapat mengandalkan situs web lama untuk pendaftaran atau informasi terkini. Kehati-hatian itu penting, karena situs web yang kedaluwarsa dapat dialihkan ke pihak lain, dan informasi yang tampil di sana setelah kedaluwarsa belum tentu berasal dari pengelola asli. Jalur konfirmasi yang lebih aman adalah melalui sekolah atau lembaga yang terdokumentasi pernah mengadakan kegiatan di sana, atau melalui kontak pengelola yang dapat diverifikasi dari sumber lain.

Ketiga, biaya, jadwal program terkini, daftar bahasa yang diajarkan secara rinci, dan kurikulum masing-masing program tidak dicantumkan dalam artikel ini karena tidak terverifikasi. Penelitian 2023 menyebut pengajaran lima bahasa sebagai program utama, tetapi tidak merinci nama kelimanya dalam ringkasan yang tersedia. Penelitian itu juga menyebut SPEC, Pesantren Bahasa, dan Kedai 3 Bahasa, tetapi tidak merinci kurikulum ketiganya. Artikel ini memilih untuk menyampaikan nama-nama itu apa adanya, tanpa menambahkan rincian yang tidak bersumber, daripada menyajikan daftar yang tampak lengkap tetapi sebenarnya karangan. Pembaca yang membutuhkan rincian itu sebaiknya menanyakannya langsung kepada pengelola dan meminta penjelasan tertulis sebelum membayar biaya apa pun.

Keempat, status operasional terkini tempat ini tidak dapat dinyatakan secara mutlak dari sumber yang dibaca. Direktori lokasi mencatat statusnya aktif, dan dokumen kegiatan terakhir yang dibaca berasal dari tahun 2024. Kedua jejak itu menunjukkan bahwa tempat ini beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak membuktikan jadwal kegiatan pada minggu berjalan. Sekali lagi, konfirmasi langsung adalah langkah yang tidak dapat digantikan oleh artikel ini. Artikel yang jujur tentang batas informasinya lebih berguna daripada artikel yang tampak lengkap tetapi menyesatkan, karena pembaca yang kecewa oleh informasi yang keliru akan kehilangan kepercayaan, bukan hanya kepada satu artikel, melainkan kepada portal yang menerbitkannya.

Pada akhirnya, Desa Bahasa Borobudur adalah bukti bahwa belajar bahasa tidak harus terjadi di gedung kursus di tengah kota. Ia dapat terjadi di sebuah dusun di kawasan Borobudur, di hall kegiatan, di homestay warga, di peternakan kambing, di tempat pembuatan tempe dan gula jawa, di tempat budidaya lebah madu, dan di pelataran candi tempat wisatawan ditemui untuk diajak bercakap-cakap. Model satu desa dengan satu lembaga kursus yang diberdayakan bersama sumber daya desa itu adalah model yang langka di antara kampung Inggris Indonesia, dan kelangkaan itulah yang membuatnya layak dikenal. Bagi pembaca yang mencari tempat belajar bahasa dengan suasana desa, kawasan wisata, dan kebersamaan warga, Desa Bahasa Borobudur patut dimasukkan dalam daftar pertimbangan, dengan satu catatan yang selalu menyertai artikel ini: konfirmasikan program dan biaya terkini kepada pengelola sebelum berangkat, karena informasi yang terverifikasi adalah bekal terbaik untuk perjalanan belajar apa pun. Untuk gambaran kegiatan camp yang terdokumentasi, pembaca dapat merujuk pada buklet English Camp Kampung Inggris Borobudur 2024 dan pada tesis tentang kampung Inggris di Indonesia yang menyebut Desa Bahasa Borobudur sebagai Kampung Inggris Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *