Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Kuliner » Warung Legendaris Jalan Pemuda Magelang: Kupat Tahu Pojok…
Kuliner

Warung Legendaris Jalan Pemuda Magelang: Kupat Tahu Pojok hingga Lumpia Basah Pecinan

Di antara Alun-Alun dan Pasar Rejowinangun, Jalan Pemuda menyimpan rasa-rasa lama yang diwariskan lintas generasi. Inilah warung-warungnya, beserta sejarah kawasan yang menghidupinya.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 20.37 WIB
Warung Legendaris Jalan Pemuda Magelang: Kupat Tahu Pojok hingga Lumpia Basah Pecinan
Ilustrasi gerobak lumpia basah mengepulkan uap di depan deretan ruko tua Jalan Pemuda pada sore hari, dengan lampion merah dan Kelenteng Liong Hok Bio di kejauhan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Warung-warung legendaris di Jalan Pemuda, Kota Magelang, tidak bisa dipahami hanya sebagai daftar tempat makan. Jalan ini adalah kawasan Pecinan, pusat pertokoan lama yang membentang di antara Alun-Alun Kota Magelang dan Pasar Rejowinangun. Di sepanjang jalur itulah, selama puluhan tahun, pedagang kaki lima, warung keluarga, dan depot es bertahan dengan resep yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian masih berjualan di tempat yang sama, sebagian bermula dari gerobak di pojok alun-alun atau gang di sekitar Jalan Pemuda, lalu berpindah mengikuti perkembangan kota. Yang tetap sama adalah cara mereka bertahan: menu tidak banyak berubah, rasa dijaga, dan pelanggan datang karena ingatan, bukan sekadar karena lapar.

Artikel ini menyusuri warung-warung legendaris di kawasan Jalan Pemuda dan lingkar dekatnya, dengan satu prinsip yang dijaga sejak awal. Nama warung, tahun berdiri, dan kisah asal-usul hanya ditulis bila ada liputan atau tulisan yang menyebutnya. Bila sebuah nama hanya tercatat di direktori lokasi daring tanpa kisah yang terverifikasi, artikel ini menyebutnya apa adanya, tanpa menambahkan tahun berdiri atau kisah pendiri yang tidak ditemukan sumbernya. Dengan cara itu, pembaca mendapat gambaran yang jujur tentang kawasan ini: ada warung yang sejarahnya terdokumentasi dengan baik, ada pula warung yang dikenal warga dari mulut ke mulut, dan keduanya sama-sama bagian dari Jalan Pemuda.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, cara terbaik menikmati kawasan ini adalah berjalan kaki. Pedestrian di sepanjang Jalan Pemuda memungkinkan pengunjung berhenti di satu warung, melanjutkan ke gang di sebelahnya, lalu kembali ke jalan utama untuk mencari camilan sore atau minuman dingin. Jalan Pemuda bukan kawasan kuliner yang tertata seperti pusat jajanan modern. Ia adalah jalan pertokoan tua yang kulinernya menyatu dengan aktivitas sehari-hari: orang berbelanja, orang pulang kerja, orang mampir sebelum pulang, dan pedagang kaki lima membuka lapaknya pada jam-jam tertentu. Di situlah letak daya tariknya.

Warung Legendaris di Jalan Pemuda dan Kawasan Pecinan Kota Magelang

Jalan Pemuda di Kota Magelang dikenal sebagai Pecinan. Kawasan ini terletak di sepanjang Jalan Pemuda, diapit oleh dua ruang publik kota, yaitu Alun-Alun Kota Magelang dan Pasar Rejowinangun. Posisi itu menjelaskan mengapa kawasan ini sejak lama menjadi tempat orang berkumpul dan berdagang. Orang yang selesai berbelanja di pasar bisa berjalan ke arah alun-alun, dan orang yang selesai berurusan di pusat kota bisa mampir makan sebelum pulang. Arus orang itulah yang menghidupi warung-warung di sini.

Pada era 1970 hingga 1980-an, kawasan di sepanjang Jalan Pemuda ini menjadi pusat perekonomian dan perdagangan se-Karesidenan Kedu. Gambaran itu ditulis dalam artikel di situs Pilar Statistik Pemerintah Kota Magelang, yang juga mencatat bahwa kawasan ini memiliki bangunan-bangunan otentik dengan beragam model arsitektur dari berbagai era yang masih bertahan hingga kini. Di tengah kawasan itu berdiri Kelenteng Liong Hok Bio di titik nol kilometer Magelang, yang berdiri sejak 1864, meski pernah mengalami kebakaran pada 2014. Kelenteng itu bukan sekadar penanda keagamaan. Ia adalah penanda geografis dan historis bahwa kawasan ini memang pusat lama kota.

Sejarah Pecinan Magelang juga berkaitan dengan sejarah panjang kedatangan etnis Tionghoa di Magelang, yang menurut artikel yang sama berkaitan dengan peristiwa Geger Pecinan di Batavia pada tahun 1700-an. Perlu dicatat, artikel ini tidak menguraikan peristiwa itu secara rinci, karena sumber yang dibaca untuk artikel ini tidak memberikan uraian kronologis yang cukup untuk ditulis ulang secara aman. Yang dapat dikatakan dengan sumber yang ada adalah bahwa jejak permukiman dan perdagangan Tionghoa di kawasan ini sudah sangat tua, dan jejak itu masih dapat ditelusuri lewat gang-gang di kanan dan kiri Jalan Pemuda.

Sebuah kajian dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta tentang kawasan ini mencatat bahwa keturunan Tionghoa yang datang ke kawasan ini pada tahun 1898 menghidupkan kawasan tersebut dengan memulai kegiatan berdagang di sepanjang Jalan Pemuda. Bangunan yang awalnya merupakan hunian kemudian berubah menjadi bangunan komersial yang sering disebut ruko, seiring pertumbuhan yang condong ke arah ekonomi. Kebijakan pembagian kawasan hunian berdasarkan ras pada era itu, menurut kajian tersebut, menguntungkan masyarakat keturunan Tionghoa, dan kawasan hunian mereka inilah yang sering disebut Pecinan. Kajian itu juga mencatat bahwa kawasan Pecinan yang diapit Alun-Alun dan Pasar Rejowinangun menjadi lokasi dengan potensi pengunjung yang tinggi, dan pusat perekonomian kota pada era itu berada di kawasan ini.

Pada masa penjajahan Belanda, kawasan Pecinan memang dikonsentrasikan sebagai pusat aktivitas perekonomian di Magelang yang kala itu masih berbentuk karesidenan, sehingga membutuhkan infrastruktur transportasi dan perdagangan yang memadai. Pihak kolonial membangun infrastruktur di Jalan Pemuda, termasuk mengatur berbagai jenis dagangan maupun model transaksi secara khusus agar jalan ini menjadi ramai. Warisan dari masa itu masih terasa sampai sekarang: Jalan Pemuda adalah jalan pertokoan, bukan jalan permukiman yang sepi. Toko-toko berderet, trotoar menjadi tempat pedagang kaki lima berjajar, dan proses tawar-menawar masih menjadi cara berbelanja yang khas di kawasan ini.

Namun kejayaan itu tidak bertahan tanpa guncangan. Popularitas Pecinan terus meredup sejak era 1990-an. Menurut pantauan litbang BorobudurNews yang dikutip artikel Pilar Statistik, pada tahun 2019 saja, setidaknya 30 persen pertokoan di Pecinan Magelang tutup karena perubahan perilaku konsumen, dan kondisi itu diperparah dengan imbas pandemi Covid-19. Pada tahun 2021, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Magelang menggagas pendirian Gapura Bhineka Tunggal Ika sebagai upaya menghidupkan kembali kawasan Pecinan. Gapura itu diresmikan pada Selasa malam, 1 Juni 2021, di kompleks Pecinan. Festival pada perayaan seperti Imlek dan Cap Go Meh pun menghidupkan kembali aura budaya peranakan di kawasan ini.

Di tengah perubahan itu, kuliner menjadi salah satu alasan paling kuat bagi orang untuk tetap datang. Artikel Pilar Statistik mencatat, pada pertengahan 2025, saat penulisnya berjalan dari ujung Kelenteng Liong Hok Bio hingga perempatan Pasar Rejowinangun, beberapa toko yang semula tutup permanen tampak telah buka kembali, berganti konsep menjadi kafe-kafe kekinian dan toko-toko baru. Sayangnya, menurut penulis itu, tidak banyak kuliner otentik khas Tionghoa yang bisa ditemukan di sepanjang jalan utama Jalan Pemuda. Padahal, ragam kuliner adalah ciri khas utama sebuah kawasan Pecinan dan merupakan magnet kuat yang bisa menarik wisatawan. Di sinilah warung-warung lama memegang peran penting: mereka adalah bukti bahwa rasa lama masih bisa ditemukan, meski tidak selalu di etalase utama jalan.

Artikel Pilar Statistik juga mencatat angka yang memberi gambaran skala kawasan ini. Menurut pantauan citra satelit yang dikutip artikel itu, deretan pertokoan di jalan utama Pemuda saat ini kurang lebih berjumlah 126 pertokoan. Pedestrian pertokoan tua di sepanjang Jalan Pemuda disebut membentang sekitar 800 meter. Angka-angka itu penting karena menunjukkan bahwa Jalan Pemuda bukan satu titik, melainkan satu jalur. Warung legendaris di sini tidak berkumpul di satu food court, melainkan tersebar di jalan utama, gang, dan lingkar dekatnya.

Untuk memahami jejak perdagangan lama di kawasan ini lebih lengkap, pembaca dapat membaca artikel KabarTidar tentang menyusuri Pecinan Magelang, Jalan Pemuda, dan jejak perdagangan lama. Artikel itu menjadi pintu masuk yang baik sebelum menyusuri warung-warungnya, karena ia menjelaskan mengapa jalan ini terbentuk sebagai pusat dagang, dan bukan sekadar deretan toko.

Jalan Pemuda Bukan Sekadar Alamat, Melainkan Kawasan

Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal adalah soal alamat. Banyak warung legendaris Magelang yang disebut-sebut berada di Jalan Pemuda sebenarnya bermula di pojok Alun-Alun, di gang di sekitar Jalan Pemuda, atau di jalan yang berdekatan dengan kawasan Pecinan. Sebagian kemudian berpindah ke jalan lain di Kecamatan Magelang Tengah, tetapi tetap berada dalam lingkar pusat kota lama yang sama. Artikel ini membedakan dengan tegas antara warung yang berjualan di Jalan Pemuda, warung yang bermula di kawasan Pecinan, dan warung yang berada di lingkar dekat Pecinan. Pembedaan itu penting agar pembaca tidak datang ke alamat yang keliru.

Perpindahan adalah hal yang wajar bagi warung rakyat. Warung yang bermula dari gerobak keliling bisa menyewa kios semi permanen, lalu pindah ke kios yang lebih besar, lalu pindah lagi karena perubahan tata kota, pembangunan pusat perbelanjaan, atau keputusan keluarga. Karena itu, alamat yang tercantum dalam liputan beberapa tahun lalu belum tentu sama dengan alamat hari ini. Pembaca yang berencana datang sebaiknya memeriksa kondisi terkini pada hari keberangkatan, terutama untuk warung yang dalam artikel ini dicatat pernah berpindah.

Hal kedua yang perlu diluruskan adalah soal nama jalan yang sama di tempat yang berbeda. Di wilayah Magelang, ada Jalan Pemuda di Kota Magelang dan ada Jalan Pemuda di Muntilan, Kabupaten Magelang. Keduanya sama-sama memiliki toko dan warung lama. Dalam penelusuran untuk artikel ini, sejumlah hasil pencarian tentang Jalan Pemuda ternyata mengarah ke Muntilan, misalnya toko jajanan tradisional yang berada di Jalan Pemuda Muntilan dan penjual pukis yang berada di Jalan Pemuda Muntilan. Keduanya tidak dimasukkan dalam artikel ini, karena artikel ini khusus membahas Kota Magelang. Pembaca yang mencari dengan kata kunci Jalan Pemuda Magelang perlu memeriksa kecamatan dan kotanya, agar tidak salah tujuan.

Dengan batasan itu, artikel ini menyusun warung-warung berikut berdasarkan kekuatan sumbernya. Warung yang kisahnya terdokumentasi dalam beberapa liputan dibahas lebih panjang. Warung yang hanya tercatat namanya di direktori lokasi dibahas secara singkat dan jujur, tanpa tambahan kisah yang tidak terverifikasi. Warung yang hanya dikenal sebagai jenis dagangan di sebuah gang, seperti bakpao kaki lima di Gang Lengkongsari, dibahas sebagai fenomena gang, bukan sebagai satu nama usaha yang dipastikan.

Kupat Tahu Pojok: Warung Paling Sering Disebut dari Kawasan Pecinan

Jika ada satu nama yang hampir selalu disebut ketika orang membicarakan kuliner legendaris Magelang, nama itu adalah Kupat Tahu Pojok. Warung ini diberitakan sudah berdiri sejak 1942. Pada awal mula berdirinya, warung ini berjualan di pojok Alun-Alun Magelang, sehingga dinamakan Kupat Tahu Pojok. Kisah itu diulang dalam beberapa liputan, termasuk liputan yang menyebut bahwa pendirinya, Setu Ahmad Danuri, pada awalnya menjajakan kupat tahu sambil berkeliling Kota Magelang dengan gerobak. Perlahan, setelah mengumpulkan uang dan pelanggan, ia mampu menyewa warung semi permanen yang terletak di area Alun-Alun Magelang.

Nama warung ini sendiri menyimpan kisah perubahan bentuk. Menurut salah satu liputan, warung tersebut pada awalnya dikenal dengan nama warung Ngesengan, karena wujudnya yang terbuat dari seng. Lama-kelamaan, karena letaknya yang di pojok alun-alun, orang-orang menyebutnya sebagai warung kupat tahu Pojok, dan nama itu yang melekat sampai sekarang. Kisah semacam ini menunjukkan bagaimana nama warung rakyat sering kali bukan hasil dari perancangan merek, melainkan hasil dari kebiasaan orang menyebut tempat.

Isi sepiring kupat tahu Pojok, menurut liputan-liputan itu, terdiri dari potongan ketupat, tahu goreng, taoge, kol, bakwan goreng, seledri, dan bawang goreng, yang kemudian disiram saus kacang cair dan kecap. Hasilnya adalah cita rasa gurih dengan rasa manis yang dominan. Dalam bahasa Jawa, kupat berarti ketupat. Hidangan ini disebut-sebut terinspirasi oleh pengaruh masakan ala Tiongkok, dan masih tergolong satu rumpun dengan kuliner nusantara lainnya seperti tahu gimbal, ketupat sayur, dan ketoprak. Yang membedakannya, menurut liputan tersebut, adalah kupat tahu tidak sama dengan tahu kupat: tahu kupat biasanya memiliki isian lebih sederhana, tahu yang digunakan berjenis tahu kuning, dan menggunakan bumbu kacang yang ditumbuk.

Salah satu kunci Kupat Tahu Pojok mempertahankan popularitasnya, menurut liputan yang sama, adalah konsistensi menu. Sejak dulu, warung ini tidak pernah menambah atau memodifikasi menunya secara signifikan. Racikan potongan ketupat, tahu goreng, taoge, kol, dan bakwan goreng yang disiram kecap kacang dipertahankan apa adanya. Bagi pelanggan lama, konsistensi itu adalah janji. Mereka datang bukan untuk kejutan menu baru, melainkan untuk memastikan bahwa rasa yang mereka kenal puluhan tahun lalu masih ada.

Warung ini juga dikenal karena dindingnya yang dipenuhi foto-foto tokoh ternama yang pernah bersantap di sana. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama keluarga disebut sebagai salah satu pelanggan setia. Sejumlah liputan juga menyebut nama-nama lain, dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri Pertahanan Prabowo, hingga komedian Indro Warkop. Bahkan, menurut salah satu liputan, mendiang Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, dikabarkan pernah beberapa kali memesan kupat tahu buatan warung ini sebagai salah satu menu jamuan makan dalam beberapa perayaan hari kemerdekaan di Istana Negara. Artikel ini menulis nama-nama itu sebagai apa yang diberitakan, bukan sebagai daftar yang diverifikasi satu per satu dari arsip kepresidenan, karena sumber yang tersedia adalah liputan, bukan dokumen resmi.

Saat ini, Kupat Tahu Pojok dikelola oleh generasi ketiga pemiliknya. Salah satu liputan menyebut operasional warung sehari-hari dilanjutkan oleh Sri Kuntari bersama beberapa anggota generasi ketiga usaha ini. Warung ini juga disebut memiliki pelanggan utama dari kalangan tentara, dari kadet Akademi Militer hingga para jenderal, yang memang sudah pernah menyambangi warung ini. Kedekatan dengan Akademi Militer masuk akal secara geografis, karena Kota Magelang memang dikenal sebagai kota pendidikan militer, dan pusat kota lama berada dalam jangkauan yang mudah dari kawasan tersebut.

Soal alamat terkini Kupat Tahu Pojok, pembaca perlu berhati-hati. Sejumlah liputan lama menyebut warung ini berada di antara deretan kios di pinggir jalan protokol, tidak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang. Liputan lain menyebut warung ini sudah berpindah ke kawasan Jalan Tentara Pelajar. Sebuah tulisan yang lebih baru mencatat bahwa jejak menetap warung ini mengeras menjadi kios di Jalan Tentara Pelajar Nomor 14, Cacaban, Magelang Tengah, kira-kira tiga ratus meter ke selatan Alun-Alun, dan pada Mei 2023, liputan dan catatan lokal menyebut relokasi ke shelter di Jalan Sutopo Nomor 15, Cacaban, Magelang Tengah. Tulisan itu juga mengingatkan bahwa warung rakyat bisa bergeser mengikuti kondisi lapangan, sehingga nasihat paling jujur adalah memeriksa pada hari keberangkatan. Artikel ini mengikuti kehati-hatian itu: Kupat Tahu Pojok dibahas sebagai warung dari kawasan Pecinan dan pusat kota lama, bukan sebagai warung yang alamatnya dipastikan berada di satu nomor tertentu di Jalan Pemuda hari ini.

Perlu juga dicatat adanya perbedaan tahun dalam sumber-sumber yang ditemukan. Sebagian besar liputan menyebut 1942, tetapi ada pula tulisan yang menyebut warung ini berdiri sejak 1960-an. Perbedaan itu tidak disembunyikan dalam artikel ini. Artikel ini memakai 1942 karena tahun itu diulang dalam beberapa liputan independen, tetapi pembaca perlu tahu bahwa tradisi lisan warung rakyat sering kali tidak memiliki satu dokumen pendirian yang dapat dirujuk. Yang lebih pasti adalah bahwa warung ini sudah berjualan selama puluhan tahun, melewati masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang, dan dikelola lintas generasi.

Lumpia Basah Pak Elok: Gerobak di Kawasan Pecinan yang Tak Pernah Sepi

Berbeda dengan Kupat Tahu Pojok yang kini memiliki kios, Lumpia Basah Pak Elok adalah kisah gerobak. Menurut liputan, penjual lumpia basah ini menjajakan dagangannya dengan gerobak dorong di kawasan Pecinan, sekitar Toko Saniter di Jalan Pemuda, Magelang. Warung gerobak yang sangat sederhana itu disebut tidak pernah sepi, apalagi saat menjelang magrib. Ini adalah gambaran yang sangat khas Jalan Pemuda: warung legendaris tidak selalu berarti bangunan besar. Kadang, ia hanya gerobak, wajan, dan antrean orang yang sudah tahu jamnya.

Lumpia basah Pak Elok disebut-sebut sebagai makanan legendaris di Magelang karena penjualnya telah berjualan hingga lebih dari 20 tahun. Isiannya, menurut liputan itu, terdiri dari irisan tahu, rebung, daun bawang, dan daging ayam, yang dimasak di atas anglo atau tungku sebelum dibungkus dengan kulit lumpia. Campuran isian tersebut sudah diberi bumbu yang membuatnya nikmat, dan penyajian yang masih hangat dari wajan membuat banyak pembeli ketagihan. Proses memasak yang masih sederhana, dengan anglo, adalah bagian dari daya tariknya: pembeli tidak hanya membeli lumpia, tetapi juga menyaksikan prosesnya.

Lumpia basah sendiri sedikit berbeda dengan lumpia khas Semarang. Menurut liputan itu, lumpia basah memiliki tekstur lebih basah, meski dikenal sebagai jajanan khas Jawa Barat. Di Magelang, lumpia basah cukup banyak ditemukan, dan Pak Elok adalah salah satu penjualnya yang paling sering disebut. Tulisan lain tentang kuliner malam Magelang menambahkan gambaran yang sejalan: lumpia Pak Elok disajikan basah, langsung dari penggorengan dengan isian yang masih lembap dan hangat, kulitnya tidak digoreng kering tetapi dibiarkan lentur agar menyatu dengan isiannya, dan isiannya dimasak dadakan di atas wajan sehingga aroma tumisannya menggoda, apalagi saat malam hari.

Yang menarik dari Lumpia Basah Pak Elok adalah posisinya dalam ritme harian Jalan Pemuda. Ia bukan sarapan, melainkan camilan sore dan malam. Orang yang sudah makan berat, misalnya kupat tahu atau nasi, sering memburu lumpia basah sebagai makanan penutup ringan. Pola itu menunjukkan pembagian waktu yang tidak tertulis di kawasan ini: pagi untuk sarapan berat, siang untuk makan siang, sore menjelang magrib untuk camilan gerobak, dan malam untuk kuliner malam. Pembaca yang datang pada pagi hari dan mencari lumpia basah Pak Elok kemungkinan tidak akan menemukannya, bukan karena warungnya tutup permanen, melainkan karena jamnya memang sore dan malam.

Namun, ada catatan kehati-hatian yang juga berlaku di sini. Tulisan lain tentang kuliner malam Magelang menyebut gerobak lumpia basah Pak Elok biasanya mangkal dekat kawasan Jalan Singosari atau dekat Ronde Miroso, yang berbeda dengan liputan yang menyebut kawasan Pecinan sekitar Toko Saniter di Jalan Pemuda. Perbedaan lokasi mangkal semacam ini wajar untuk pedagang gerobak, yang titik mangkalnya bisa bergeser dari waktu ke waktu. Artikel ini menulis kedua gambaran itu sebagai kemungkinan titik mangkal yang pernah diberitakan, dan menyarankan pembaca untuk bertanya kepada warga sekitar Jalan Pemuda bila tidak menemukan gerobak di satu titik. Bagi warung gerobak, bertanya kepada warga adalah cara paling dapat diandalkan, lebih daripada mengandalkan satu alamat daring.

Depot Es Semanggi: Sirup Buatan Sendiri dari Gerobak di Depan Kelenteng

Depot Es Semanggi adalah kisah minuman yang bermula dari gerobak di ujung kawasan Pecinan. Menurut liputan, usaha ini sudah ada sejak tahun 1960-an. Pada awalnya, es ini dijual menggunakan gerobak dan berlokasi di depan kelenteng di pojokan Alun-Alun Magelang, tepatnya di bawah pohon asem di depan Kelenteng Liong Hok Bio. Usaha ini diwariskan secara turun-temurun, dan saat ini dipegang oleh generasi ketiga. Cita rasanya, menurut penerus usaha itu, masih sama dari dulu sampai sekarang, karena resep sirupnya tidak berubah.

Nama Es Semanggi sendiri, menurut penuturan penjual yang dikutip liputan, bukan berasal dari pemiliknya. Pada awalnya, es ini belum ada namanya. Sampai akhirnya ada seorang tentara yang datang membeli es dan heran mengapa es seenak itu tidak memiliki nama. Tentara itu kemudian berkata bahwa es itu diberi nama Es Semanggi saja, karena di Jakarta, tempat ia dinas, ada daerah bernama Semanggi. Kisah penamaan oleh pelanggan semacam ini, seperti kisah penamaan Kupat Tahu Pojok, menunjukkan pola yang sama: nama warung legendaris sering kali lahir dari percakapan sehari-hari, bukan dari rapat pemasaran.

Ciri khas Depot Es Semanggi yang paling sering disebut adalah sirupnya. Semua jenis sirup di depot ini dibuat khusus secara rumahan, diolah sendiri, sehingga es ini memiliki cita rasa yang autentik dibanding tempat lain. Saat pengunjung tiba, mereka akan melihat barisan botol berjejer rapi yang berisi aneka warna sirup. Warna sirup menentukan rasanya: sirup merah muda untuk es pleret atau dawet, sirup hijau yang rasanya lebih masam untuk es tape, serta warna lainnya seperti cokelat, gula jawa, dan sirup bening atau putih yang biasanya diminum bersama kelapa muda. Sirup yang dibuat sendiri sesuai resep generasi pertama inilah yang disebut sebagai kunci mengapa depot ini masih bisa bertahan, meski sudah banyak kedai es yang lebih modern bertebaran di Magelang.

Depot Es Semanggi memiliki kurang lebih 19 varian es. Menu yang paling populer, menurut liputan, adalah es pleret, yang terdiri dari sirup, santan, dan pleret. Pleret terbuat dari tepung beras dan air yang dimasak dan dicetak bulat, atau berbentuk silinder dan agak pipih. Di daerah lain, pleret juga dikenal dengan nama gempol. Selain es pleret, depot ini juga memiliki menu khusus seperti es susu dan es cokelat, dengan isian yang bisa dipilih sendiri, seperti roti, dawet, pleret, tape, atau kelapa muda. Menu favorit lain yang disebut dalam liputan adalah es cokelat pleret, es tape pleret, dan es campur Semanggi yang memadukan pleret, cincau, tape, dan sirup khas depot.

Seperti Kupat Tahu Pojok, Depot Es Semanggi juga berpindah lokasi mengikuti perkembangan kota. Menurut keterangan karyawan depot yang dikutip liputan, usaha ini pertama kali berada di sekitar kelenteng, kemudian setelah pusat perbelanjaan Matahari buka, depot ini pindah ke basement pusat perbelanjaan tersebut di seberang Alun-Alun Magelang. Liputan lain menyebut lokasi depot ini di Jalan Semarang-Yogyakarta Nomor 367, Magelang Utara, dan menyebut bahwa depot ini buka setiap hari pada jam-jam siang. Perbedaan penyebutan lokasi ini kemungkinan mencerminkan adanya lebih dari satu titik atau perpindahan dari waktu ke waktu. Artikel ini tidak menetapkan satu alamat sebagai alamat tunggal yang pasti hari ini. Yang pasti, menurut sumber-sumber itu, adalah asal-usulnya di kawasan Pecinan dan Alun-Alun, serta resep sirupnya yang dipertahankan lintas generasi.

Es Semanggi juga menunjukkan satu hal penting tentang kuliner Jalan Pemuda: minuman bisa menjadi penanda zaman. Pada tahun 1960-an, es gerobak di depan kelenteng adalah hiburan sederhana bagi orang yang berjalan di pusat kota. Puluhan tahun kemudian, es yang sama dijual di basement mal, tetapi resepnya tidak berubah. Pelanggan lama datang untuk memastikan bahwa rasa itu masih ada, dan pelanggan baru datang karena penasaran dengan cerita di baliknya. Di situlah letak kekuatan warung legendaris: ia menjual rasa, tetapi juga menjual kesinambungan.

Sop Senerek Bu Atmo: Warung di Lingkar Dekat Pecinan yang Wajib Disebut

Sop Senerek Bu Atmo sebenarnya tidak berada di Jalan Pemuda. Ia berada di Jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 3, Cacaban, Magelang Tengah, setelah sebelumnya berjualan di Jalan Veteran selama lima tahun pertama. Artikel ini tetap membahasnya, dengan penanda yang jelas bahwa ia adalah warung di lingkar dekat Pecinan, karena tidak mungkin membicarakan kuliner legendaris pusat kota lama Magelang tanpa menyebutnya, dan karena lokasinya masih berada dalam kawasan pusat kota lama yang sama, tidak jauh dari Jalan Pemuda dan Alun-Alun.

Sop Senerek Bu Atmo telah berjualan sejak tahun 1967, menurut sejumlah liputan. Warung ini tidak pernah membuka cabang, dan hanya dapat ditemukan di satu lokasi itu. Hingga kini, warung ini tetap mempertahankan resep turun-temurun. Proses memasaknya masih menggunakan tungku tradisional dan kayu bakar, sehingga menghasilkan aroma kaldu yang lebih kaya dan autentik. Aroma asap dari kayu bakar memberikan sentuhan khas pada kuahnya, sensasi yang sulit ditemukan pada sop yang dimasak dengan kompor modern.

Nama senerek sendiri berasal dari kata Belanda snert, yang berarti kacang polong. Karena lidah masyarakat sulit melafalkan snert, istilah itu perlahan berubah menjadi senerek. Dalam perkembangannya, masyarakat Magelang mengganti kacang polong dengan kacang merah, karena disesuaikan dengan lidah masyarakat atau karena kacang merah lebih mudah didapat. Alasan pastinya, menurut salah satu liputan, belum dapat dijelaskan secara pasti hingga kini, tetapi dugaan terkuat adalah penyesuaian selera dan ketersediaan bahan. Satu porsi sop senerek Bu Atmo terdiri dari nasi, kacang merah, wortel, bayam, dan berbagai pilihan daging, seperti sapi, ayam, iso, babat, atau campuran dari semuanya.

Warung ini selalu ramai oleh pelanggan lokal maupun wisatawan, terutama pada pagi hingga siang hari. Kedatangan sebelum pukul 15.00 disarankan oleh sejumlah tulisan, agar tidak kehabisan menu. Artikel ini tidak mencantumkan harga, karena harga yang tercantum dalam liputan dari tahun yang berbeda-beda sudah tidak dapat dipastikan masih berlaku hari ini, dan mencantumkan angka yang kedaluwarsa justru akan menyesatkan pembaca. Yang dapat dikatakan adalah bahwa warung ini dikenal dengan harga yang terjangkau menurut liputan-liputan itu, dan dengan porsi yang mengenyangkan.

Ada pula perbedaan tahun dalam sumber tentang warung ini. Satu tulisan menyebut Bu Atmo mulai berjualan sejak tahun 1958, sementara sejumlah liputan lain menyebut 1967. Artikel ini memakai 1967 karena tahun itu diulang dalam beberapa liputan, termasuk liputan yang menguraikan perpindahan dari Jalan Veteran ke Jalan Mangkubumi. Perbedaan ini dicatat secara terbuka, agar pembaca memahami bahwa sejarah warung rakyat sering kali memiliki lebih dari satu versi tahun, dan versi yang paling sering diulang belum tentu sama dengan dokumen pendirian resmi yang mungkin tidak pernah ada.

Kehadiran Sop Senerek Bu Atmo dalam artikel tentang Jalan Pemuda juga mengajarkan satu hal tentang cara membaca peta kuliner kota lama. Pusat kota lama bukanlah satu jalan, melainkan satu kawasan yang terdiri dari beberapa jalan yang saling berdekatan: Jalan Pemuda, Jalan Veteran, Jalan Mangkubumi, Jalan Tentara Pelajar, dan Jalan Sutopo, semuanya berada di Kecamatan Magelang Tengah. Warung-warung legendaris tersebar di jalan-jalan itu, dan pengunjung yang hanya berjalan di Jalan Pemuda saja akan melewatkan sebagian dari mereka. Karena itu, rute yang masuk akal adalah menjadikan Jalan Pemuda sebagai poros, lalu menyimpang sebentar ke jalan-jalan di sekitarnya.

Gang-Gang di Sekitar Jalan Pemuda: Bakpao, Masakan Tionghoa, dan Pasar Tukangan

Jika jalan utama Jalan Pemuda adalah etalase, gang-gang di sekitarnya adalah dapurnya. Artikel Pilar Statistik mencatat bahwa potensi Pecinan Magelang tidak hanya soal menghidupkan deretan pertokoan di jalan utama Pemuda, melainkan juga pertokoan dan kios usaha mikro, kecil, dan menengah di jalan-jalan dan gang-gang sekitar Jalan Pemuda yang memiliki daya tarik tersendiri. Di antaranya, artikel itu menyebut deretan restoran masakan Tionghoa di Jalan Daha beserta kuliner malam lumpia basah kaki limanya, Jalan Jenggolo hingga Pasar Tukangan, kuliner usaha mikro di Jalan Kalingga, serta gang-gang seperti Lengkongsari yang terkenal dengan bakpao kaki limanya yang legendaris.

Bakpao kaki lima Gang Lengkongsari adalah contoh warung yang dikenal dari jenis dagangannya dan lokasinya, bukan dari satu nama usaha yang terdokumentasi dengan lengkap dalam sumber yang dibaca untuk artikel ini. Artikel ini tidak menambahkan nama penjual, tahun berdiri, atau alamat nomor tertentu untuk bakpao ini, karena sumber yang tersedia hanya menyebutnya sebagai bakpao kaki lima yang legendaris di Gang Lengkongsari. Yang dapat dikatakan adalah bahwa gang ini berada di sisi kawasan Pecinan, dan bakpao kaki lima di sana menjadi salah satu alasan orang menyimpang dari jalan utama. Bagi pembaca, ini adalah pengingat bahwa di kawasan Pecinan, menemukan warung legendaris kadang berarti bertanya kepada warga dan mengikuti antrean, bukan mengikuti papan nama besar.

Jalan Daha, yang disebut dalam artikel Pilar Statistik sebagai deretan restoran masakan Tionghoa, menunjukkan sisi lain dari kuliner Pecinan: masakan Tionghoa yang disajikan di restoran, bukan hanya jajanan kaki lima. Jalan Jenggolo hingga Pasar Tukangan menunjukkan sisi pasarnya: kawasan di mana orang berbelanja bahan dan jajanan, dengan lorong atau gang sempit yang dimanfaatkan sebagai pasar, yang dalam tulisan lama tentang Pecinan Magelang disebut sebagai Pasar Petukangan atau Pasar Pecinan. Pasar ini disebut unik karena benar-benar memanfaatkan lorong atau gang sempit di kawasan ini, dan barang dagangan yang digelar sangat lengkap, bahkan beberapa jenis barang sangat sulit dijumpai di pasar-pasar tradisional lainnya.

Di kawasan Pecinan, pengunjung juga dapat menemukan sajian kuliner khas Magelang maupun masakan nusantara lainnya, seperti kupat tahu Magelang, gudeg Yogyakarta, masakan Padang, hingga masakan peranakan Tionghoa. Keragaman itu adalah cerminan dari sejarah kawasan ini sebagai pusat dagang: orang dari berbagai latar belakang datang, berdagang, dan makan di tempat yang sama. Masakan peranakan Tionghoa, dalam hal ini, bukan sekadar satu menu, melainkan hasil dari pertemuan antara bahan dan teknik masak Tionghoa dengan selera Jawa. Kupat tahu yang disebut terinspirasi masakan Tionghoa dan sop senerek yang berasal dari kata Belanda adalah dua contoh paling jelas dari pertemuan itu.

Pasar Rejowinangun, yang berada di salah satu ujung kawasan Pecinan, juga layak disebut sebagai bagian dari ekosistem kuliner Jalan Pemuda. Pasar ini bukan hanya pusat perdagangan tradisional, tetapi juga destinasi wisata kuliner yang menyimpan banyak jajanan pasar autentik, dari lupis, klepon, hingga grontol jagung yang mulai langka. Pengunjung yang menyusuri Jalan Pemuda pada pagi hari dapat melanjutkan ke pasar untuk mencari jajanan pasar, lalu kembali ke jalan utama untuk makan siang. Rute semacam ini menunjukkan bahwa kuliner Jalan Pemuda tidak berdiri sendiri: ia terhubung dengan pasar, alun-alun, dan gang-gang di sekitarnya.

Warung di Deretan Pertokoan: Soto Pojok dan Warung Makan Tempo Doeloe

Selain nama-nama besar yang kisahnya terdokumentasi dalam liputan, ada pula warung-warung di Jalan Pemuda yang namanya tercatat di direktori lokasi daring, tetapi kisah pendiriannya tidak ditemukan dalam sumber yang dibaca untuk artikel ini. Dua di antaranya adalah Soto Pojok Pak H. Dul dan Warung Makan Tempo Doeloe. Artikel ini menyebut keduanya secara singkat, dengan batasan sumber yang jelas, agar pembaca tahu bahwa nama-nama ini ada, tetapi artikel ini tidak mengarang sejarah untuk mereka.

Soto Pojok Pak H. Dul tercatat di direktori lokasi dengan alamat Jalan Pemuda Nomor 9, Magelang, dengan menu yang tercantum meliputi soto ayam, rawon, gudeg, empal, dan pecel. Warung Makan Tempo Doeloe tercatat di direktori lokasi dengan alamat Jalan Pemuda Nomor 19, Magelang, dengan menu yang tercantum meliputi gudeg, soto ayam, nasi pecel, dan sate. Kedua catatan itu berasal dari direktori lokasi, bukan dari liputan yang menguraikan sejarah warung. Karena itu, artikel ini tidak menulis tahun berdiri, nama pendiri, atau kisah asal-usul untuk keduanya. Pembaca yang tertarik dapat mengunjungi keduanya sebagai bagian dari deretan pertokoan Jalan Pemuda, dan menilai sendiri dari rasa dan suasananya.

Keberadaan warung-warung semacam ini penting untuk dipahami. Tidak semua warung legendaris memiliki liputan. Sebagian warung dikenal hanya oleh warga sekitar, pelanggan tetap, dan orang yang kebetulan lewat. Mereka tidak memiliki situs web, tidak memiliki akun media sosial yang dikelola dengan baik, dan tidak pernah diwawancarai media. Namun, mereka tetap bertahan karena ada orang yang kembali. Dalam konteks Jalan Pemuda, warung-warung inilah yang membuat jalan ini tetap hidup pada hari-hari biasa, bukan hanya pada hari festival.

Di sisi lain, pembaca juga perlu berhati-hati dengan nama yang mirip. Soto Pojok, misalnya, adalah nama yang dapat merujuk ke lebih dari satu tempat, dan direktori lokasi mencatat lebih dari satu entri dengan nama yang mirip di wilayah Magelang. Karena itu, artikel ini menulis nama lengkap Soto Pojok Pak H. Dul untuk entri di Jalan Pemuda Nomor 9, dan tidak menyamakan entri itu dengan entri Soto Pojok lainnya yang tercatat di alamat berbeda. Ketelitian semacam ini mungkin terasa sepele, tetapi ia menentukan apakah pembaca tiba di tempat yang benar.

Mengapa Warung Lama di Jalan Pemuda Bisa Bertahan

Ada beberapa pola yang berulang pada warung-warung legendaris di kawasan ini. Pola pertama adalah konsistensi menu. Kupat Tahu Pojok tidak menambah atau memodifikasi menunya secara signifikan. Depot Es Semanggi mempertahankan resep sirup dari generasi pertama. Sop Senerek Bu Atmo tidak membuka cabang dan mempertahankan cara memasak dengan tungku kayu bakar. Lumpia Basah Pak Elok mempertahankan isian dan cara memasak dengan anglo. Dalam semua kasus, perubahan yang dihindari bukanlah perubahan kecil, melainkan perubahan yang akan mengubah identitas rasa.

Pola kedua adalah pewarisan keluarga. Kupat Tahu Pojok kini dikelola generasi ketiga. Depot Es Semanggi kini dipegang generasi ketiga. Sop Senerek Bu Atmo diteruskan lintas generasi. Pewarisan ini bukan sekadar penyerahan kunci warung, melainkan penyerahan pengetahuan yang tidak tertulis: takaran bumbu, cara memilih bahan, cara mengatur api, dan cara melayani pelanggan tetap. Pengetahuan semacam itu sulit dipindahkan ke cabang baru tanpa kehilangan sesuatu, dan itulah salah satu alasan mengapa banyak warung legendaris tidak membuka cabang.

Pola ketiga adalah lokasi yang menjadi bagian dari identitas. Warung yang bermula dari gerobak di pojok alun-alun membawa nama pojok itu sampai sekarang. Warung yang bermula dari gerobak di depan kelenteng membawa cerita kelenteng itu sampai sekarang. Warung gerobak di kawasan Pecinan membawa nama Pecinan itu sampai sekarang. Ketika warung berpindah, ia membawa nama dan cerita itu bersamanya, dan pelanggan lama mengikutinya. Ini berbeda dengan gerai modern yang identitasnya melekat pada bangunan dan desain interior. Identitas warung lama melekat pada rasa dan cerita, sehingga ia bisa berpindah bangunan tanpa kehilangan pelanggan, selama rasanya tetap sama.

Pola keempat adalah pelanggan tetap yang menjadi penyebar cerita. Foto-foto tokoh ternama di dinding Kupat Tahu Pojok, misalnya, bukan sekadar hiasan. Ia adalah bukti sosial yang dilihat pelanggan baru begitu mereka masuk. Cerita tentang tentara yang memberi nama Es Semanggi juga disebarkan dari mulut ke mulut, bukan dari iklan. Cerita tentang lumpia basah yang tidak pernah sepi menjelang magrib juga disebarkan oleh orang yang pernah antre. Dalam ekonomi warung lama, pelanggan tetap adalah media promosi yang paling dapat diandalkan.

Pola kelima adalah kesederhanaan. Warung-warung ini tidak berusaha menjadi segalanya. Kupat Tahu Pojok menjual kupat tahu. Depot Es Semanggi menjual es dengan sirup buatannya. Lumpia Basah Pak Elok menjual lumpia basah. Sop Senerek Bu Atmo menjual sop senerek. Kesederhanaan itu memungkinkan mereka menguasai satu hal dengan sangat baik, dan memungkinkan pelanggan mengingat mereka dengan satu kalimat. Dalam dunia kuliner yang penuh dengan menu yang terus bertambah, kesederhanaan justru menjadi pembeda.

Namun, pola-pola itu juga memiliki sisi rapuh. Pewarisan keluarga bergantung pada apakah generasi berikutnya mau dan mampu meneruskan usaha. Konsistensi menu bergantung pada apakah bahan yang sama masih tersedia dengan kualitas yang sama. Lokasi yang berpindah bergantung pada apakah pelanggan lama masih dapat menemukan warung yang baru. Dan pelanggan tetap, seiring waktu, akan menua dan berkurang. Karena itu, warung legendaris tidak bertahan dengan sendirinya. Ia bertahan karena ada orang yang terus datang, ada keluarga yang terus meneruskan, dan ada kawasan yang terus menghidupinya.

Apa yang Berubah di Jalan Pemuda dan Apa yang Masih Bisa Ditemukan

Perubahan paling nyata di Jalan Pemuda adalah perubahan fungsi pertokoan. Toko-toko yang tutup permanen sebagian telah buka kembali dengan konsep baru, menjadi kafe-kafe kekinian dan toko-toko baru. Perubahan itu, menurut artikel Pilar Statistik, terjadi pada pertengahan 2025, saat penulisnya berjalan dari ujung Kelenteng Liong Hok Bio hingga perempatan Pasar Rejowinangun. Perubahan ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia menunjukkan bahwa kawasan ini masih menarik bagi pelaku usaha baru. Di sisi lain, ia menimbulkan kekhawatiran bahwa kuliner otentik khas Tionghoa semakin sulit ditemukan di sepanjang jalan utama.

Jam operasional pertokoan juga berubah. Menurut liputan tentang Gapura Bhineka Tunggal Ika, popularitas Pecinan meredup sejak era 1990-an, dan jam operasional pertokoan hanya sampai pukul 20.00 WIB, sehingga kawasan tersebut sepi ketika malam hari. Bagi pengunjung yang datang pada malam hari dengan harapan menemukan kawasan yang gemerlap seperti kawasan Pecinan di kota lain, kenyataan ini perlu diketahui sejak awal. Jalan Pemuda pada malam hari bukan kawasan yang ramai sepanjang malam. Ia ramai pada jam-jam tertentu, terutama sore menjelang magrib untuk kuliner kaki lima, dan pada saat festival.

Festival adalah momen ketika Jalan Pemuda kembali ke suasana lamanya. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh menghidupkan kembali aura budaya peranakan di kawasan ini. Lampion menghiasi jalan, kesenian khas Tionghoa ditampilkan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah menjajakan makanan, obat, dan pakaian. Pada momen-momen itu, kuliner bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari perayaan. Pengunjung yang datang pada saat festival akan mendapatkan gambaran yang berbeda tentang Jalan Pemuda dibandingkan pengunjung yang datang pada hari biasa. Keduanya sah, tetapi keduanya tidak sama.

Upaya menghidupkan kembali Pecinan juga datang dari pelaku usaha sendiri. Pendirian Gapura Bhineka Tunggal Ika pada 2021 adalah upaya swadaya para pengusaha di Pecinan untuk membangkitkan lagi geliat ekonomi di kawasan tersebut. Ide itu, menurut Ketua PSMTI Kota Magelang Slamet Santoso yang dikutip liputan, muncul empat tahun sebelum peresmian, ketika ada isu akan dibangun jalan tol Yogyakarta-Borobudur-Magelang. Kekhawatirannya adalah pembangunan tol itu akan meredupkan Jalan Pemuda. Gapura itu diharapkan menjadi ikon bahwa Pecinan kembali gemerlap. Artikel ini tidak menilai apakah harapan itu tercapai sepenuhnya, karena sumber yang dibaca tidak memberikan ukuran keberhasilan yang dapat diverifikasi. Yang dapat dikatakan adalah bahwa gapura itu ada, dan ia menjadi penanda visual bahwa kawasan ini sedang berupaya bangkit.

Di tengah semua perubahan itu, warung-warung lama tetap menjadi jangkar. Mereka adalah alasan bagi orang yang sudah lama meninggalkan Magelang untuk kembali ke Jalan Pemuda. Mereka adalah alasan bagi orang tua untuk mengajak anaknya makan di tempat yang dulu mereka datangi bersama orang tua mereka. Dan mereka adalah alasan bagi wisatawan yang sudah mengunjungi Candi Borobudur untuk mampir ke pusat kota, bukan langsung pulang. Dalam pengertian itu, warung legendaris bukan sekadar tempat makan. Ia adalah titik ingatan kota.

Cara Menyusuri Warung Legendaris Jalan Pemuda dengan Bijak

Menyusuri Jalan Pemuda sebaiknya dimulai dari salah satu ujungnya, yaitu Alun-Alun Kota Magelang atau Pasar Rejowinangun, lalu berjalan ke ujung lainnya. Dengan cara itu, pengunjung dapat melihat keseluruhan jalur, bukan hanya satu titik. Mulailah pada pagi hari untuk sarapan berat, seperti kupat tahu atau sop senerek di lingkar dekatnya. Lanjutkan dengan berjalan di pedestrian, berhenti di gang-gang sekitar untuk mencari bakpao atau jajanan kaki lima. Pada siang hari yang terik, es dengan sirup buatan sendiri menjadi pilihan yang masuk akal. Pada sore menjelang magrib, carilah gerobak lumpia basah di kawasan Pecinan. Pola waktu ini bukan jadwal resmi, melainkan ritme yang terbaca dari liputan-liputan tentang warung-warung itu.

Datanglah dengan uang pecahan kecil, karena banyak pedagang kaki lima di kawasan ini berjualan secara tunai dan dengan harga yang relatif terjangkau menurut liputan. Artikel ini sengaja tidak mencantumkan harga, karena harga dapat berubah dan liputan dari tahun yang berbeda mencantumkan angka yang berbeda pula. Membawa uang pecahan kecil adalah saran praktis yang berlaku untuk hampir semua pedagang kaki lima, tanpa perlu mengandalkan satu angka harga tertentu.

Bertanyalah kepada warga sekitar bila tidak menemukan warung yang dicari. Untuk warung gerobak, titik mangkal dapat bergeser. Untuk warung yang pernah berpindah, alamat lama dalam liputan dapat menyesatkan. Warga sekitar, pedagang di toko sebelah, atau juru parkir sering kali tahu ke mana warung itu pindah. Cara ini mungkin terasa kuno, tetapi ia adalah cara yang paling sesuai dengan cara warung-warung ini dikenal: dari mulut ke mulut.

Periksa kondisi terkini sebelum berangkat, terutama untuk warung yang dalam artikel ini dicatat pernah berpindah, seperti Kupat Tahu Pojok dan Depot Es Semanggi. Periksa pula apakah warung buka pada hari kunjungan, karena warung keluarga dapat tutup pada hari-hari tertentu tanpa pemberitahuan daring. Artikel ini tidak mencantumkan jam buka, karena jam buka yang tercantum di direktori lokasi dan liputan lama dapat berubah, dan mencantumkan jam yang keliru akan lebih merugikan daripada tidak mencantumkannya sama sekali.

Terakhir, hargai warungnya sebagai tempat usaha, bukan sebagai latar foto semata. Warung-warung ini berukuran kecil, dengan tempat duduk terbatas. Antrean pada hari libur adalah hal yang wajar. Foto-foto tokoh ternama di dinding Kupat Tahu Pojok, misalnya, adalah bagian dari sejarah warung, bukan dekorasi yang dipasang untuk keperluan foto. Datang, makan, mengobrol sebentar dengan penjual bila memungkinkan, dan pulang dengan cerita yang dapat diceritakan kembali adalah cara terbaik menghargai warung legendaris.

Penutup: Jalan Pemuda dan Rasa yang Tidak Ingin Berubah

Warung-warung legendaris di Jalan Pemuda, Kota Magelang, pada akhirnya bercerita tentang satu hal: rasa yang tidak ingin berubah, di kawasan yang terus berubah. Jalan Pemuda pernah menjadi pusat perekonomian dan perdagangan se-Karesidenan Kedu pada era 1970 hingga 1980-an, lalu meredup sejak era 1990-an, lalu berupaya bangkit kembali dengan gapura, festival, dan kafe-kafe baru. Di tengah semua itu, kupat tahu dari pojok alun-alun, lumpia basah dari gerobak di kawasan Pecinan, es dengan sirup buatan sendiri dari gerobak di depan kelenteng, dan sop senerek dari tungku kayu bakar di lingkar dekatnya tetap bertahan dengan cara mereka masing-masing.

Artikel ini tidak mengklaim telah menemukan semua warung legendaris di Jalan Pemuda. Masih ada warung-warung yang hanya dikenal warga sekitar, yang tidak memiliki liputan, dan yang namanya hanya tercatat di direktori lokasi. Masih ada gang-gang yang belum disusuri satu per satu, dan masih ada pedagang kaki lima yang muncul pada jam-jam tertentu tanpa papan nama. Keterbatasan itu diakui secara terbuka, karena mengakui keterbatasan adalah bagian dari kejujuran jurnalistik.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa Jalan Pemuda layak disusuri dengan berjalan kaki, dengan rasa ingin tahu, dan dengan kesediaan untuk bertanya. Warung-warung legendaris di sini tidak akan menyambut pengunjung dengan papan reklame besar. Mereka menyambut dengan aroma tumisan dari wajan, dengan sirup warna-warni di dalam botol, dengan kuah kacang yang disiram di atas ketupat dan tahu, dan dengan kuah kaldu yang dimasak di atas tungku kayu bakar. Bagi kota, warung-warung itu adalah warisan rasa. Bagi pengunjung, mereka adalah alasan untuk kembali. Informasi lebih lanjut tentang kawasan ini, termasuk sejarah perdagangannya, dapat dibaca dalam artikel Pilar Statistik Pemerintah Kota Magelang tentang upaya mengembalikan potensi wisata Pecinan Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *