Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Investasi Kabupaten Magelang Capai Rp4,647 Triliun sejak 2021…
Ekonomi

Investasi Kabupaten Magelang Capai Rp4,647 Triliun sejak 2021 hingga Triwulan III 2026

Akumulasi realisasi investasi Kabupaten Magelang sejak 2021 hingga Triwulan III 2026 diperkirakan mencapai Rp4,647 triliun, dengan penekanan bahwa investasi harus memberdayakan masyarakat, bukan sekadar mengejar keuntungan.

Oleh Intan Larasati Kamis, 29 Oktober 2026 · 06.53 WIB
Ilustrasi gedung usaha kecil dan grafik pertumbuhan investasi Kabupaten Magelang
Ilustrasi gedung usaha kecil dengan grafik pertumbuhan investasi. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Akumulasi realisasi investasi Kabupaten Magelang sejak 2021 hingga Triwulan III 2026 diperkirakan mencapai Rp4,647 triliun. Angka itu disampaikan dalam forum Magelang Growth Investment in Collaboration (MAGiC) 2026 yang digelar di GOR Gemilang, Kabupaten Magelang, Selasa, 27 Oktober 2026, dengan tema Investasi untuk Pemberdayaan Masyarakat.

Forum ini merupakan penyelenggaraan kedua MAGiC. Ia menjadi ajang promosi peluang investasi sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, investor, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Penekanan forum ini, sebagaimana diberitakan BorobudurNews, adalah investasi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi usaha.

Investasi Kabupaten Magelang Harus Memberdayakan Masyarakat

Bupati Magelang Grengseng Pamuji yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom menegaskan bahwa investasi yang masuk ke Kabupaten Magelang harus selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang daerah. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat perlu menjadi tujuan utama dalam kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.

“Pemerintah Kabupaten Magelang tentu berharap investasi yang ada nanti selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang di Kabupaten Magelang, khususnya terkait pemberdayaan masyarakat. Kami melihat investasi, pemerintah, dan dunia usaha itu muaranya adalah pemberdayaan masyarakat,” ujar Grengseng.

Meski tidak dapat hadir secara langsung karena sedang dalam perjalanan, Grengseng menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Magelang untuk mendampingi investor dalam memenuhi persyaratan perizinan. Pemerintah daerah, kata dia, tidak ingin proses perizinan menjadi penghambat masuknya investasi.

“Pemerintah daerah Kabupaten Magelang tidak akan mempersulit. Kami berharap investasi yang ada merupakan investasi berkelanjutan, dengan arah pemberdayaan masyarakat sebagai pedoman kami dalam mendampingi para pengusaha dan investor untuk berkolaborasi,” tegasnya.

Komitmen mendampingi perizinan itu menjadi syarat yang dinyatakan secara terbuka dalam forum. Artinya, kemudahan berusaha dijanjikan lewat pendampingan, bukan lewat pengabaian persyaratan. Investor tetap harus memenuhi persyaratan perizinan, tetapi pemerintah daerah menyatakan tidak akan membiarkan proses itu menghambat investasi.

Syaratnya: Masyarakat Terlibat, Bukan Tersisih

Wakil Bupati Magelang Sahid yang membuka MAGiC 2026 menyampaikan bahwa Kabupaten Magelang memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pertanian, UMKM, dan usaha lokal. Lebih dari 70 persen pemanfaatan ruang di Kabupaten Magelang digunakan untuk kegiatan pertanian, kondisi yang turut membentuk kehidupan sosial masyarakat, semangat gotong royong, serta kearifan lokal yang perlu dipertahankan dalam proses pembangunan daerah.

Menurut Sahid, pengembangan investasi harus memperhatikan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan usaha, mulai dari penyediaan tenaga kerja hingga pasokan bahan baku. Ia juga berharap pemanfaatan ruang untuk kegiatan pariwisata memberikan kesempatan kepada masyarakat pemilik tanah agar dapat terlibat secara optimal dan tidak tersisih dari perkembangan investasi.

“Investasi perlu kita pandang bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi yang berorientasi pada keuntungan usaha, tetapi juga sebagai salah satu instrumen pembangunan yang dapat memperluas kesempatan kerja, mengembangkan usaha lokal, meningkatkan keterampilan masyarakat, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” kata Sahid.

Sahid menambahkan, pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, atau pertemuan antara investor dan pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Upaya tersebut harus diwujudkan melalui kolaborasi konkret yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia mencontohkan pengembangan Tumpeng Menoreh di Desa Ngargoretno sebagai model investasi yang melibatkan masyarakat dan layak menjadi inspirasi bagi pengembangan usaha di wilayah lain.

“Investasi berjalan dan kondusif karena masyarakat terlibat dan dilibatkan,” ujarnya. Kalimat itu merangkum syarat yang diajukan forum: investasi dinilai berjalan baik bila masyarakat menjadi bagian dari kegiatan usaha, bukan sekadar penonton di sekitar lokasi usaha.

Angka Investasi Kabupaten Magelang 2021 hingga 2026

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Magelang, Budi Daryanto, memaparkan bahwa realisasi investasi Kabupaten Magelang selama periode 2021 hingga 2025 mengalami fluktuasi. Realisasi tertinggi terjadi pada 2023 dengan nilai Rp1,184 triliun, sedangkan realisasi terendah tercatat pada 2021 sebesar Rp312,8 miliar.

Adapun realisasi investasi pada 2026 hingga Triwulan III diperkirakan mencapai Rp513,22 miliar. Dengan demikian, akumulasi realisasi investasi sejak 2021 hingga Triwulan III 2026 diperkirakan mencapai Rp4,647 triliun. Perlu ditegaskan, angka Rp4,647 triliun itu adalah akumulasi sejak 2021, bukan capaian satu tahun 2026 saja, dan seluruh angka tersebut disampaikan sebagai perkiraan.

Grengseng menilai Kabupaten Magelang memiliki keunggulan komparatif yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sejumlah sektor yang dinilai berpotensi dikembangkan antara lain pariwisata, pertanian, industri rumah tangga, dan industri mikro. Pengembangan berbagai sektor tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak perekonomian daerah sekaligus memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat.

Sektor pariwisata sendiri memiliki rantai nilai yang panjang dan dapat menjadi media pemasaran produk unggulan Kabupaten Magelang, menurut Sahid. Kunjungan wisatawan diharapkan mampu menggerakkan usaha lokal sekaligus memperluas peluang ekonomi masyarakat. Di Magelang, promosi pariwisata juga berjalan lewat ajang seperti Borobudur Beyond Tourism Expo (BBTE) 2026 di Borobudur, yang mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan calon pembeli.

Peluang investasi di daerah ini juga didukung pembangunan Tol Yogyakarta-Bawen yang ditargetkan mencapai tahap konstruksi hingga 2028. Peningkatan konektivitas tersebut diharapkan mempermudah akses menuju Kabupaten Magelang sekaligus meningkatkan daya tarik daerah bagi investor.

Kegiatan MAGiC 2026 turut menghadirkan Pengelola Tumpeng Menoreh, Erik Kristanto, serta Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. Wihana Kirana Jaya, sebagai narasumber. Melalui forum ini, Pemerintah Kabupaten Magelang berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat semakin konkret.

Keberhasilan investasi, menurut forum ini, tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari terbukanya lapangan kerja, berkembangnya usaha lokal, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Ukuran itulah yang membedakan investasi yang sekadar masuk dengan investasi yang memberdayakan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *