Petani Milenial Magelang: yang Bertahan di Sawah dan yang Jualan Online
Tidak ada satu jalan yang benar bagi semua petani muda Magelang. Yang bertahan di sawah menjaga produksi tetap berjalan, yang jualan online mengejar harga yang lebih baik — dan jalan yang paling masuk akal bagi banyak orang justru menggabungkan keduanya secara bertahap.

Petani milenial Magelang hidup di antara dua gambaran yang sering dipertentangkan: yang bertahan di sawah dan yang jualan online. Gambaran pertama adalah petani muda yang tetap mengolah lahan, menanam, memanen, dan menjual hasil panen melalui jalur yang sudah lama ada, seperti tengkulak, pasar, dan koperasi. Gambaran kedua adalah petani muda yang memotret hasil panennya, mengemasnya dengan kemasan yang menarik, dan menjualnya melalui media sosial dan lokapasar daring. Keduanya sama-sama petani, keduanya sama-sama muda, tetapi cara mereka bekerja, cara mereka menghitung untung, dan risiko yang mereka hadapi sangat berbeda. Artikel ini membahas kedua pola itu secara berimbang, tanpa mengagungkan salah satunya dan tanpa merendahkan yang lainnya.
Jawaban singkatnya begini: tidak ada satu jalan yang benar bagi semua petani muda di Magelang. Petani yang bertahan di sawah menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan, tetapi menghadapi harga yang sering tidak menentu dan beban kerja yang berat. Petani yang jualan online berpotensi mendapat harga yang lebih baik dan pasar yang lebih luas, tetapi menghadapi biaya kemasan, ongkos kirim, persaingan daring, dan tuntutan untuk selalu tampil di media sosial. Jalan yang paling masuk akal bagi banyak petani muda justru gabungan keduanya: produksi yang kuat di sawah, ditambah penjualan daring untuk sebagian hasil panen yang memiliki nilai tambah, tanpa meninggalkan jalur penjualan lama sepenuhnya.
Artikel ini sengaja tidak menyebut nama petani muda tertentu di Magelang, tidak menyebut desa tertentu sebagai contoh keberhasilan, dan tidak mencantumkan angka pendapatan atau penjualan siapa pun. Hal itu bukan karena tidak ada petani muda di Magelang, melainkan karena tidak ada nama, desa, dan angka semacam itu yang dapat diverifikasi dari sumber-sumber yang tersedia untuk penulisan artikel ini. Yang dapat dibahas secara bertanggung jawab adalah pola-pola usaha, program-program nasional yang menyasar petani muda, tantangan struktural yang dihadapi generasi muda di pertanian, dan konteks Magelang sebagai daerah pertanian lereng gunung. Pembaca yang mencari kisah perorangan sebaiknya menunggu liputan lapangan yang mewawancarai petani secara langsung, bukan mengandalkan artikel yang mengarang tokoh.
Konteks nasionalnya perlu dipahami terlebih dahulu. Menurut laporan FAO dan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dikutip AsiaToday, hampir 80 persen petani Indonesia berusia di atas 40 tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2023, sementara pertanian tetap menjadi sektor pekerjaan terbesar yang menyerap sekitar 40 juta orang atau 30 persen dari total angkatan kerja. Angka itu menunjukkan masalah regenerasi yang nyata: petani semakin tua, sementara kebutuhan pangan tidak berkurang. Program Petani Keren yang diluncurkan FAO dan Kemenpora, menurut laporan yang sama, melatih 100 anak muda dari berbagai daerah di Jakarta dan Lampung antara tahun 2024 dan 2025 dalam sistem pertanian inovatif, kewirausahaan, dan pertanian berkelanjutan. Skala program itu masih kecil dibandingkan jumlah petani yang menua, tetapi ia menunjukkan arah yang ditempuh pemerintah dan lembaga internasional: menarik anak muda kembali ke pertanian dengan keterampilan modern dan kewirausahaan.
Petani Milenial Magelang: Dua Pola yang Sama-Sama Bertani, Berbeda Cara Menjual
Istilah petani milenial sendiri perlu dijelaskan, karena ia sering dipakai secara longgar. Dalam program-program pemerintah, istilah ini umumnya merujuk pada petani muda yang didorong untuk bertani secara modern dan berwirausaha, bukan sekadar petani yang kebetulan berusia muda. Kementerian Pertanian, menurut laporan Sekretariat Kabinet tentang program petani milenial, menargetkan 100.000 generasi muda untuk dilatih di sektor pertanian, melalui pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, hibah program YESS, Program Wirausaha Muda Pertanian, dan Duta Petani Milenial. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, dikutip dalam laporan itu mengatakan bahwa petani semakin tua sementara kebutuhan pangan tidak berkurang, sehingga regenerasi petani sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan. Program itu, menurut laporan yang sama, tercatat telah memberi manfaat kepada lebih dari 500.000 orang, termasuk melalui anggaran negara dan hibah internasional, dan sebagian peserta telah mendapat akses Kredit Usaha Rakyat dengan total 6 triliun rupiah. Angka-angka itu dikutip dengan atribusi yang jelas, karena ia menyangkut program nasional, bukan kondisi khusus Magelang.
Di Magelang, konteks pertaniannya memiliki ciri khas lereng gunung. Kabupaten Magelang dikenal sebagai daerah penghasil sayur dari lereng Sumbing, dan KabarTidar sebelumnya telah membahas kawasan ini dalam artikel tentang sentra sayur lereng Sumbing, serta kopi lereng Sumbing dalam artikel tersendiri. Lereng gunung memberi keunggulan berupa tanah yang subur dan udara yang sejuk, tetapi juga memberi tantangan berupa lahan yang miring, akses jalan yang terbatas di beberapa titik, dan risiko cuaca yang berubah cepat. Petani muda di kawasan semacam ini tidak hanya harus menguasai teknik bertani, melainkan juga harus memahami medan tempat ia bekerja. Itulah sebabnya pola bertahan di sawah tetap relevan: tanpa petani yang benar-benar mengolah lahan, tidak ada produk apa pun yang dapat dijual, baik secara daring maupun luring.
Pola pertama, yaitu petani muda yang bertahan di sawah, adalah pola yang paling dekat dengan gambaran petani pada umumnya. Ia bekerja di lahan, mengikuti musim tanam, merawat tanaman, dan menjual hasil panen dalam jumlah besar kepada pembeli yang sudah dikenal. Kelebihannya adalah kepastian relatif dalam hal pembeli: bila panen berhasil, ada jalur yang sudah jelas untuk menjualnya, tanpa harus mencari pembeli satu per satu. Kekurangannya adalah posisi tawar yang lemah: petani sering menjadi pihak yang paling kecil dalam rantai distribusi, sehingga ketika harga jatuh, ia yang pertama merasakannya, dan ketika harga naik di pasar eceran, kenaikan itu belum tentu sampai ke tangannya. Pola ini juga menuntut tenaga fisik yang besar dan waktu yang panjang, sehingga banyak anak muda yang menganggapnya melelahkan dan kurang menjanjikan dibandingkan pekerjaan di kota.
Pola kedua, yaitu petani muda yang jualan online, membalik sebagian logika itu. Ia tetap harus bertani, tetapi sebagian waktunya dipakai untuk memotret produk, menulis deskripsi, mengemas, mengirim paket, dan membalas pesan pembeli. Kelebihannya adalah ia dapat menjangkau pembeli langsung di kota-kota besar, menetapkan harga sendiri, dan membangun merek untuk produknya, misalnya dengan kemasan yang rapi dan cerita tentang asal produk. Kekurangannya adalah ia harus menguasai keterampilan yang sama sekali berbeda dari bertani: fotografi, penulisan, pelayanan pelanggan, dan pengelolaan pengiriman. Satu ulasan buruk dari pembeli, satu paket yang rusak di perjalanan, atau satu musim panen yang gagal dapat merusak reputasi daring yang dibangun berbulan-bulan. Petani daring juga harus bersaing dengan ribuan penjual lain di lokapasar yang sama, banyak di antaranya bukan petani, melainkan pedagang besar dengan modal yang jauh lebih besar.
Perbedaan kedua pola ini sering disederhanakan menjadi pertentangan antara tradisional dan modern, padahal keduanya saling membutuhkan. Petani daring yang tidak memiliki produksi yang kuat akan kehabisan stok dan kehilangan pembeli, sedangkan petani sawah yang tidak memiliki akses pasar yang baik akan terus bergantung pada harga yang ditentukan pihak lain. Karena itu, gambaran yang lebih akurat bukan dua kubu yang bersaing, melainkan dua keterampilan yang dapat dimiliki oleh orang yang sama pada tahapan yang berbeda. Petani muda yang hari ini hanya menjual ke tengkulak dapat mulai menjual sebagian kecil hasil panennya secara daring, dan petani muda yang hari ini sibuk berjualan daring tetap membutuhkan lahan dan keterampilan bertani yang kuat agar usahanya berkelanjutan.
Modal yang Paling Berat: Lahan, Bukan Sekadar Semangat
Tantangan terbesar bagi petani muda sering bukan semangat, melainkan lahan. Sebuah survei yang dikutip dalam tulisan Tulodo tentang anak muda di pertanian menemukan bahwa tujuh dari sepuluh anak muda berusia 18 sampai 30 tahun di Jawa Timur yang diwawancarai pada pertengahan 2021 menganggap kepemilikan lahan sebagai hal yang penting untuk memasuki dan bertahan di pertanian, tetapi hanya tiga dari sepuluh yang memiliki lahan sendiri, dengan lebih dari separuh lahan pertanian berasal dari warisan keluarga. Survei itu dilakukan di Jawa Timur, bukan di Magelang, sehingga hasilnya tidak dapat dipindahkan begitu saja ke Magelang, tetapi pola yang digambarkannya bersifat umum dan patut diperhatikan: anak muda yang tidak memiliki lahan harus menyewa, menggarap lahan keluarga dengan bagi hasil, atau bekerja sebagai buruh tani, dan ketiga pilihan itu memiliki keterbatasan masing-masing.
Sewa lahan membutuhkan modal di muka dan menuntut petani untuk menghasilkan cukup uang dalam satu musim untuk menutup sewa dan biaya produksi. Menggarap lahan keluarga memang menghemat sewa, tetapi sering disertai kewajiban kepada keluarga dan keterbatasan dalam mengambil keputusan, misalnya tentang jenis tanaman yang ditanam atau cara menjual hasil panen. Bekerja sebagai buruh tani memberi penghasilan yang lebih pasti dalam jangka pendek, tetapi tidak memberi kepemilikan atas hasil dan tidak memberi pengalaman mengelola usaha tani secara mandiri. Ketiga situasi ini menunjukkan bahwa regenerasi petani bukan hanya soal menarik minat anak muda, melainkan juga soal memberi mereka akses yang nyata terhadap lahan, modal, dan pasar.
Modal usaha adalah tantangan kedua yang sering diremehkan. Bertani membutuhkan biaya untuk benih, pupuk, peralatan, dan tenaga kerja, jauh sebelum panen menghasilkan uang. Petani muda yang tidak memiliki tabungan atau akses kredit akan kesulitan menutup biaya-biaya itu, terutama bila panen gagal karena cuaca atau hama. Kredit Usaha Rakyat yang disebut dalam laporan Sekretariat Kabinet adalah salah satu jalur yang dibuka bagi peserta program petani milenial, tetapi akses kredit tetap membutuhkan agunan, riwayat keuangan, dan kemampuan mengelola pinjaman. Petani muda yang mengambil kredit tanpa perhitungan yang matang dapat terjebak dalam utang, terutama bila ia sekaligus menanggung biaya kemasan dan promosi daring yang tidak segera kembali.
Pendidikan dan pelatihan adalah jembatan yang menghubungkan semangat dengan keterampilan. Program-program seperti Duta Petani Milenial, Duta Petani Andalan, dan Program Wirausaha Muda Pertanian, yang disebut dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2020-2025 dan dikutip oleh Tulodo, menunjukkan bahwa pemerintah telah lama menempatkan anak muda sebagai sorotan dalam pembangunan pertanian. Namun pelatihan yang baik harus diikuti dengan pendampingan setelah pelatihan, karena keterampilan bertani dan berjualan tidak dapat dikuasai hanya dalam beberapa hari. Pendampingan dari penyuluh pertanian, perguruan tinggi, dan kelompok tani menjadi penting, dan KabarTidar sebelumnya telah membahas salah satu bentuk pendampingan itu dalam artikel tentang Universitas Tidar yang mendampingi kelompok tani delima unggul. Pendampingan semacam ini menunjukkan bahwa petani muda tidak harus berjalan sendiri, dan bahwa lembaga pendidikan dapat menjadi mitra, bukan sekadar pemberi ceramah.
Kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga memegang peran yang sering dilupakan dalam cerita petani milenial. Petani muda yang bergabung dengan kelompok tani dapat berbagi peralatan, membeli sarana produksi secara bersama dengan harga yang lebih baik, dan menjual hasil panen dalam jumlah yang lebih besar sehingga posisi tawarnya meningkat. Kelompok tani yang baik juga menjadi tempat belajar, tempat berbagi informasi tentang harga dan cuaca, dan tempat untuk mengakses program pemerintah. Sebaliknya, petani muda yang bekerja sendiri-sendiri, baik di sawah maupun daring, akan lebih mudah kelelahan dan lebih sulit bertahan ketika menghadapi musim yang buruk. Regenerasi petani karena itu bukan hanya soal individu yang hebat, melainkan soal kelompok yang kuat.
Jualan Online: Peluang Nyata, Biaya Tersembunyi, dan Reputasi yang Rapuh
Jualan online sering digambarkan sebagai jalan pintas menuju harga yang lebih baik, padahal ia memiliki biaya tersembunyi yang harus dihitung dengan jujur. Kemasan yang menarik membutuhkan biaya, dan kemasan yang buruk dapat membuat produk rusak di perjalanan. Ongkos kirim dari Magelang ke kota-kota besar membutuhkan perhitungan, karena pembeli daring sangat sensitif terhadap ongkos kirim yang tinggi. Foto produk yang baik membutuhkan waktu dan keterampilan, dan deskripsi produk yang jujur membutuhkan keberanian untuk menyebut kekurangan produk bila ada. Petani muda yang mengabaikan biaya-biaya ini sering menemukan bahwa harga jual yang tampak tinggi ternyata habis untuk kemasan, kirim, dan potongan platform, sehingga keuntungan bersihnya tidak jauh berbeda dari menjual secara konvensional.
Reputasi daring adalah aset yang paling rapuh bagi petani yang jualan online. Satu paket yang terlambat, satu produk yang tidak segar, atau satu balasan pesan yang kasar dapat menjadi ulasan buruk yang dibaca oleh ratusan calon pembeli. Berbeda dengan pasar tradisional, di mana kekecewaan pembeli hanya diketahui oleh orang-orang di sekitarnya, kekecewaan pembeli daring terekam dan tersebar. Karena itu, petani daring harus memiliki standar yang konsisten: produk yang dikirim harus sama dengan foto dan deskripsi, pengiriman harus tepat waktu, dan komunikasi dengan pembeli harus sopan dan cepat. Standar semacam ini membutuhkan disiplin yang tidak kalah beratnya dengan disiplin bertani, dan banyak petani muda yang gagal di daring bukan karena produknya buruk, melainkan karena ia tidak siap dengan disiplin pelayanan ini.
Konten media sosial adalah bagian lain dari jualan online yang sering disalahpahami. Banyak petani muda merasa harus selalu tampil di depan kamera, membuat video setiap hari, dan mengikuti tren yang berubah cepat, padahal yang dibutuhkan pembeli sebenarnya adalah kepercayaan, bukan hiburan. Video yang menunjukkan proses bertani secara jujur, foto panen yang apa adanya, dan penjelasan yang jelas tentang asal produk sering lebih meyakinkan daripada video yang dibuat-buat. Petani muda yang memaksakan diri menjadi kreator konten penuh waktu berisiko mengabaikan sawahnya, dan sawah yang terabaikan akan menghasilkan produk yang buruk, yang pada akhirnya merusak konten itu sendiri. Keseimbangan antara bertani dan berjualan adalah kunci yang harus dijaga setiap hari.
Produk yang cocok dijual online juga tidak semua sama. Produk yang tahan lama, mudah dikemas, dan memiliki cerita yang kuat, seperti kopi, produk olahan, dan kerajinan, umumnya lebih mudah dijual daring daripada sayur segar yang mudah rusak dan berat. Sayur segar dari lereng Sumbing memang diminati, tetapi pengiriman sayur segar membutuhkan kemasan dingin, pengiriman cepat, dan pasar yang dekat, sehingga tidak semua petani sayur dapat langsung menjual daring ke seluruh Indonesia. Petani muda yang memahami batas produknya akan lebih berhasil daripada petani yang memaksakan semua produknya dijual daring. Memilih produk yang tepat untuk daring, dan menjual produk lainnya melalui jalur konvensional, adalah keputusan bisnis yang sehat, bukan tanda kegagalan.
Platform daring juga memiliki aturan yang berubah-ubah, mulai dari potongan biaya, sistem peringkat, hingga kebijakan pengiriman. Petani muda yang hanya bergantung pada satu platform berisiko kehilangan pasarnya bila platform itu mengubah aturan atau menutup akunnya. Karena itu, petani daring yang bijak membangun lebih dari satu saluran: media sosial untuk bercerita, lokapasar untuk berjualan, dan kontak langsung dengan pembeli tetap untuk pesanan berulang. Saluran yang beragam ini memang membutuhkan kerja lebih banyak, tetapi ia memberi ketahanan yang tidak dimiliki oleh petani yang hanya bergantung pada satu aplikasi.
Yang Bertahan di Sawah: Nilai yang Tidak Terlihat dari Harga Panen
Petani muda yang bertahan di sawah sering digambarkan sebagai pihak yang tertinggal, padahal ia memegang nilai yang tidak terlihat dari harga panen semata. Ia menjaga lahan tetap produktif, menjaga pengetahuan tentang musim dan tanah yang hanya dapat dipelajari dengan bekerja langsung di lapangan, dan menjaga ketersediaan pangan di daerahnya. Bila semua petani muda meninggalkan sawah untuk berjualan daring, tidak akan ada produk yang dapat dijual, dan rantai pangan akan terputus dari hulunya. Karena itu, bertahan di sawah bukan pilihan yang kurang modern, melainkan fondasi yang memungkinkan semua bentuk penjualan, termasuk penjualan daring, untuk ada.
Petani sawah juga memiliki pengetahuan lokal yang tidak dapat digantikan oleh aplikasi. Ia tahu kapan hujan biasanya turun di lerengnya, tanah mana yang cocok untuk tanaman tertentu, dan hama apa yang sedang menyerang di musim ini. Pengetahuan semacam ini diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun dan dari belajar kepada petani yang lebih tua, dan ia menjadi semakin berharga ketika cuaca semakin tidak menentu. Petani muda yang menghormati pengetahuan petani tua, sambil membawa pengetahuan baru dari pelatihan dan internet, akan menjadi petani yang jauh lebih kuat daripada petani muda yang menganggap pengetahuan lama sudah tidak berguna.
Hubungan antara petani muda dan petani tua juga perlu dibahas secara jujur. Dalam kajian tentang program petani milenial di Jawa Barat yang tersimpan di repositori Universitas Erasmus, ditemukan adanya ketegangan antara petani muda yang disebut kapitalis dengan petani tua mengenai praktik pengolahan lahan yang dianggap tidak berkelanjutan dan berpotensi merusak reproduksi sosial pertanian. Kajian itu juga menemukan bahwa hanya peserta dari kelompok tertentu yang merasakan manfaat program, sementara sisanya tetap berjuang. Temuan ini tidak dapat dipindahkan begitu saja ke Magelang, tetapi ia menjadi pengingat bahwa program petani muda tidak otomatis adil dan tidak otomatis berhasil. Program yang baik harus memperhatikan siapa yang mendapat manfaat, siapa yang tersisih, dan apakah praktik yang didorong benar-benar berkelanjutan untuk tanah dan masyarakat setempat.
Keberlanjutan tanah adalah isu yang menghubungkan kedua pola. Petani sawah yang menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan demi hasil jangka pendek dapat merusak tanahnya sendiri, sedangkan petani daring yang menuntut pasokan besar secara terus-menerus dapat mendorong petani untuk menguras tanah demi memenuhi pesanan. Sebaliknya, petani yang merawat tanahnya, melakukan rotasi tanaman, dan mengelola air dengan baik akan memiliki usaha yang lebih tahan lama, baik ia menjual secara konvensional maupun daring. Keberlanjutan bukan slogan, melainkan perhitungan jangka panjang: tanah yang rusak hari ini adalah panen yang hilang di musim-musim berikutnya.
Pendidikan anak-anak petani juga berkaitan dengan regenerasi. KabarTidar sebelumnya telah membahas wisata edukasi pertanian untuk anak di Magelang, yang menunjukkan bahwa anak-anak dapat dikenalkan pada pertanian sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan. Pengenalan semacam ini penting, karena banyak anak muda yang meninggalkan pertanian bukan karena mereka membenci bertani, melainkan karena mereka tidak pernah melihat pertanian sebagai pekerjaan yang bermartabat dan menjanjikan. Bila anak-anak hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan yang melelahkan dan miskin, mereka akan meninggalkannya begitu memiliki pilihan lain. Bila mereka melihat pertanian sebagai usaha yang modern, terorganisasi, dan dihargai, mereka akan lebih terbuka untuk mempertimbangkannya sebagai pilihan hidup.
Jalan Tengah yang Paling Masuk Akal bagi Petani Muda Magelang
Jalan tengah yang paling masuk akal bagi banyak petani muda di Magelang adalah menggabungkan kekuatan kedua pola secara bertahap. Tahap pertama adalah memastikan produksi yang kuat: lahan yang terawat, tanaman yang sesuai dengan kondisi lereng, dan panen yang konsisten. Tahap kedua adalah menjual sebagian hasil panen melalui jalur konvensional untuk menjaga arus kas, sambil mencoba menjual sebagian kecil hasil panen yang memiliki nilai tambah melalui daring. Tahap ketiga, bila penjualan daring terbukti menguntungkan dan dapat dikelola tanpa mengorbankan produksi, barulah porsi daring diperbesar secara perlahan. Urutan ini penting, karena membalik urutannya, yaitu sibuk berjualan daring sebelum produksi kuat, sering berakhir dengan kekecewaan pembeli dan kelelahan petani.
Kerja sama adalah kunci lain dari jalan tengah ini. Petani muda yang bergabung dengan kelompok tani dapat berbagi tugas: sebagian anggota fokus pada produksi, sebagian fokus pada pengemasan dan penjualan daring, dan sebagian fokus pada pencatatan keuangan. Pembagian tugas semacam ini jauh lebih realistis daripada menuntut satu orang untuk menguasai semua keterampilan sekaligus. Kelompok yang bekerja sama juga dapat membeli kemasan secara bersama, mengirim paket secara bersama, dan membangun merek bersama yang lebih kuat daripada merek perorangan. Merek bersama ini, bila dikelola dengan jujur, dapat menjadi aset desa yang bertahan lebih lama daripada akun media sosial perorangan.
Pemerintah daerah dan lembaga pendamping memiliki peran untuk membuat jalan tengah ini lebih mudah. Pelatihan yang dibutuhkan petani muda bukan hanya pelatihan bertani, melainkan juga pelatihan pengemasan, pencatatan keuangan, dan pemasaran daring yang praktis dan dapat langsung dipakai. Akses terhadap informasi harga pasar yang transparan juga penting, karena petani yang mengetahui harga pasar tidak mudah dirugikan dalam penjualan. Fasilitas pengiriman dan pengemasan bersama di tingkat desa atau kecamatan, bila tersedia, dapat menekan biaya yang selama ini menjadi penghalang bagi petani kecil untuk berjualan daring. Hal-hal ini tidak disebutkan sebagai janji, melainkan sebagai kebutuhan yang dapat ditanyakan kepada instansi terkait dan diperjuangkan melalui kelompok tani.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang petani milenial Magelang bukan pertanyaan tentang siapa yang lebih modern, melainkan tentang siapa yang dapat bertahan dan menyejahterakan keluarganya tanpa merusak tanah dan hubungannya dengan masyarakat. Petani yang bertahan di sawah dan petani yang jualan online sama-sama menjawab pertanyaan itu dengan cara yang berbeda, dan keduanya layak dihormati selama mereka bekerja dengan jujur, merawat tanahnya, dan menghargai pembelinya. Generasi muda Magelang tidak membutuhkan satu teladan tunggal, melainkan banyak teladan yang menunjukkan bahwa bertani dapat menjadi pilihan hidup yang bermartabat, baik dengan cangkul di sawah maupun dengan ponsel di tangan, asalkan keduanya dijalankan dengan kesabaran, perhitungan, dan rasa tanggung jawab yang sama.


