Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Magelang Raya » Permainan Tradisional Anak Magelang yang Mulai Hilang dan…
Magelang Raya

Permainan Tradisional Anak Magelang yang Mulai Hilang dan Perlu Dilestarikan

Dulu, sore anak Magelang diisi lompat tali, petak umpet, dan gobak sodor di halaman dan lapangan kampung. Kini permainan itu makin jarang terlihat, tetapi festival di Magelang membuktikan anak-anak masih antusias begitu diberi panggung dan teman bermain.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 20.37 WIB
Permainan Tradisional Anak Magelang yang Mulai Hilang dan Perlu Dilestarikan
Ilustrasi anak-anak bermain engklek dan egrang di halaman kampung Magelang pada sore hari, dengan latar rumah sederhana dan pohon di dalam gambar. (Ilustrasi: KabarTidar)

Permainan tradisional anak Magelang yang mulai hilang itu nyata: egrang, gobak sodor, engklek, dakon atau congklak, lompat tali, petak umpet, bentengan, gasing, dan bakiak pernah mengisi sore anak-anak di halaman rumah, di gang, dan di lapangan kampung, tetapi kini semakin jarang terlihat dimainkan. Permainan-permainan itu tidak hilang karena tidak lagi menyenangkan, melainkan karena ruang bermain menyempit, gawai menawarkan hiburan yang lebih cepat, dan semakin sedikit orang dewasa yang sempat mengajarkannya. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan-permainan itu menyimpan latihan gerak, strategi, kejujuran, dan kebersamaan yang sulit digantikan oleh permainan di layar.

Di Jawa, permainan anak semacam ini sering disebut dolanan. Dolanan bukan sekadar hiburan pengisi waktu. Dolanan adalah cara anak belajar bergaul, belajar kalah dan menang dengan lapang, serta belajar menaati kesepakatan yang dibuat bersama. Aturannya tidak tertulis di buku tebal, melainkan diingat, disepakati, dan diwariskan dari kakak kepada adik, dari tetangga kepada tetangga. Karena itulah, ketika sebuah permainan berhenti dimainkan, yang hilang bukan hanya gerakannya, melainkan juga cara anak-anak belajar hidup bersama.

Artikel ini mengajak pembaca mengenali kembali permainan-permainan tradisional yang dulu akrab di Magelang dan di banyak daerah Jawa Tengah, memahami aturan mainnya dengan benar, dan melihat upaya pelestarian yang sudah pernah dilakukan di Magelang. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan: permainan ini memang sederhana, alatnya murah, dan tempatnya bisa di mana saja. Justru kesederhanaan itulah yang membuatnya layak dijaga.

Permainan Tradisional Anak Magelang yang Mulai Jarang Dimainkan

Yang dimaksud permainan tradisional anak Magelang di sini adalah permainan yang dikenal luas di wilayah ini, baik karena dimainkan turun-temurun di kampung-kampung maupun karena diperkenalkan lewat festival dan kegiatan sekolah di Kabupaten Magelang. Beberapa di antaranya memakai nama Jawa, seperti dakon untuk congklak dan jangkungan untuk egrang di Jawa Tengah. Nama boleh berbeda dari satu daerah ke daerah lain, tetapi cara bermain dan nilai yang diajarkannya tetap serupa.

Permainan-permainan ini dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok. Ada permainan ketangkasan dan keseimbangan, seperti egrang dan engklek. Ada permainan strategi dan kerja sama tim, seperti gobak sodor dan bentengan. Ada permainan ketelitian dan berhitung, seperti dakon. Ada pula permainan kelincahan dan irama, seperti lompat tali dan petak umpet. Setiap kelompok melatih hal yang berbeda, dan semuanya dimainkan bersama, bukan sendirian.

Berikut ini penjelasan masing-masing permainan, termasuk aturan mainnya secara umum sebagaimana dikenal di masyarakat. Aturan permainan tradisional memang bisa berbeda sedikit dari satu kampung ke kampung lain, karena aturan itu lahir dari kesepakatan pemainnya. Perbedaan itu wajar, selama prinsip dasarnya sama dan disepakati sebelum permainan dimulai.

Gobak Sodor: Menembus Penjagaan dengan Kerja Sama Tim

Gobak sodor adalah permainan beregu yang dimainkan di lapangan yang digambari garis-garis penjagaan dengan kapur. Lapangannya menyerupai lapangan bulu tangkis, tetapi tanpa garis rangkap. Lapangan itu dibagi menjadi beberapa petak persegi panjang oleh garis-garis penjagaan, dan satu garis lurus di tengahnya disebut garis sodor.

Pemain dibagi menjadi dua tim, yaitu tim penjaga dan tim penyerang. Setiap tim biasanya terdiri atas tiga sampai lima orang, menyesuaikan jumlah pemain yang ada. Tim penjaga menempati garis-garis penjagaan: penjaga garis horizontal menjaga garisnya masing-masing, sedangkan satu penjaga garis vertikal menjaga garis tengah yang membelah lapangan. Selama permainan, kaki penjaga harus tetap berada di garis jaga. Penjaga garis pertama mempunyai tugas tambahan sebagai sodor, yaitu boleh bergerak melewati garis sodor.

Tim penyerang harus berusaha melewati semua garis penjagaan dari pangkalan hingga garis akhir, lalu kembali lagi ke pangkalan tanpa disentuh tim penjaga. Jika ada pemain penyerang yang berhasil kembali ke pangkalan tanpa disentuh, tim penyerang dinyatakan menang. Sebaliknya, jika pemain penyerang tersentuh penjaga atau keluar dari batas lapangan, giliran berpindah dan peran kedua tim bertukar.

Gobak sodor melatih kecepatan berlari, kecermatan membaca celah, dan kekompakan tim. Seorang pemain tidak bisa menang sendirian: ia harus mengecoh penjaga agar temannya bisa lewat, dan ia harus tahu kapan berlari dan kapan menunggu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gobak sodor didefinisikan sebagai permainan anak-anak yang terdiri atas dua kelompok, satu kelompok sebagai penjaga benteng dan kelompok yang lain berusaha menembus benteng lawan. Nama lain permainan ini di beberapa daerah adalah galah asin, galasin, dan gobag.

Engklek: Melompat Satu Kaki di Atas Petak Kapur

Engklek dimainkan dengan menggambar pola petak-petak di tanah atau di lantai, biasanya berjumlah enam sampai sepuluh petak, tergantung variasi daerah. Setiap pemain berbekal gacuk, yaitu pecahan genting, keramik, atau batu datar yang dilemparkan ke petak. Giliran bermain ditentukan dengan hompimpa, dan jika hanya dua orang, biasanya dengan suit.

Pemain pertama melempar gacuk ke petak pertama. Gacuk harus jatuh di dalam petak tanpa menyentuh garis. Jika gagal, giliran berpindah ke pemain berikutnya. Pemain yang berhasil kemudian melompat dari petak ke petak dengan satu kaki, kecuali di petak istirahat yang boleh dipijak dengan kedua kaki. Petak yang berisi gacuk tidak boleh diinjak, sehingga pemain harus melompatinya.

Saat kembali ke petak awal, pemain harus mengambil gacuknya tanpa menginjak garis dan tanpa kehilangan keseimbangan. Jika berhasil melewati satu putaran tanpa kesalahan, pemain melempar gacuk ke petak berikutnya, dan begitu seterusnya. Giliran berakhir bila gacuk keluar dari petak atau menyentuh garis, bila pemain menginjak garis, atau bila pemain jatuh kehilangan keseimbangan.

Pemain yang telah menyelesaikan satu putaran berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan sawahnya. Di petak sawah itu, pemain yang bersangkutan boleh menginjak dengan kedua kaki, sedangkan pemain lain tidak boleh menginjaknya selama permainan. Pemain yang memiliki petak terbanyak pada akhir permainan dinyatakan sebagai pemenang. Engklek melatih keseimbangan, ketangkasan, konsentrasi, dan kejujuran, karena pemain sendirilah yang mengakui bila kakinya menyentuh garis.

Dakon atau Congklak: Menghitung Biji dengan Strategi

Dakon, yang di banyak daerah disebut congklak, adalah permainan papan yang dimainkan dua orang yang duduk berhadapan. Papannya terbuat dari kayu dan mempunyai enam belas lubang: empat belas lubang kecil yang terbagi untuk dua pemain, masing-masing tujuh lubang, dan dua lubang besar di kedua ujung papan sebagai lumbung, tempat menyimpan hasil.

Setiap lubang kecil diisi biji dalam jumlah yang sama, biasanya tujuh biji, sehingga seluruhnya berjumlah sembilan puluh delapan biji. Biji itu dapat berupa biji sawo, biji sirsak, kerikil kecil, cangkang kerang kecil, atau biji tiruan dari plastik. Jumlah biji per lubang dapat disepakati bersama, karena dalam tradisi dakon di Yogyakarta, jumlah kecik per lubang disepakati kedua belah pihak, kira-kira lima sampai delapan biji, agar pemain tidak kesulitan mengambil dan membagikannya.

Cara bermainnya adalah pemain mengambil semua biji dari salah satu lubangnya, lalu membagikannya satu per satu ke lubang-lubang berikutnya. Biji ditabur searah jarum jam dalam versi congklak yang umum, dan lumbung sendiri diisi satu biji ketika dilewati, sedangkan lumbung lawan dilewati begitu saja. Jika biji terakhir jatuh di lumbung sendiri, pemain mendapat giliran lagi. Jika biji terakhir jatuh di lubang yang masih berisi biji, biji di lubang itu diambil dan ditabur kembali sampai habis.

Jika biji terakhir jatuh di lubang kosong milik sendiri, dan lubang di seberangnya berisi biji lawan, pemain berhak mengambil biji lawan itu beserta biji terakhirnya dan memasukkannya ke lumbung sendiri. Langkah ini dalam tradisi dakon disebut mikul atau gotongan. Jika biji terakhir jatuh di lubang kosong milik lawan, pemain tidak mendapat apa-apa dan giliran berpindah. Permainan berakhir bila semua lubang kecil kosong, dan pemenangnya adalah pemain yang mengumpulkan biji terbanyak di lumbungnya.

Dakon melatih kemampuan berhitung, konsentrasi, kesabaran, dan strategi. Pemain harus memperkirakan ke mana biji terakhirnya akan jatuh, lubang mana yang sebaiknya dibuka lebih dulu, dan kapan saat yang tepat untuk menembak biji lawan. Permainan ini tenang dan tidak membutuhkan lapangan luas, sehingga cocok dimainkan di serambi rumah, di teras, atau di sudut kelas pada jam istirahat.

Egrang: Berjalan di Atas Bambu dengan Keseimbangan

Egrang adalah permainan yang memakai sepasang tongkat bambu panjang dengan pijakan di bagian bawahnya. Anak berdiri di atas pijakan itu, memegang kedua tongkatnya, lalu berjalan atau berlari sambil menjaga keseimbangan. Di Jawa Tengah, egrang juga dikenal dengan nama jangkungan, yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Di daerah lain, permainan ini mempunyai nama yang berbeda-beda, antara lain tengkak-tengkak di sebagian wilayah Sumatra Barat dan ingkau di Bengkulu.

Permainan egrang tidak membutuhkan lapangan khusus. Arena permainan hanya memerlukan tanah yang cukup lapang, kira-kira sepanjang tujuh sampai lima belas meter dan lebar tiga sampai empat meter. Biasanya egrang dimainkan oleh anak berusia tujuh sampai tiga belas tahun, dan bila dilombakan, minimal dua orang bermain, dengan pemenang ditentukan dari siapa yang paling cepat menyentuh garis finis.

Memainkan egrang tidak mudah. Dibutuhkan kemampuan menyeimbangkan diri, dan hanya yang terbiasa berlatih yang dapat berjalan cepat tanpa jatuh. Karena itu, egrang melatih keberanian, fokus, dan ketekunan: anak yang baru belajar akan sering turun dan naik lagi, sampai akhirnya tubuhnya menemukan keseimbangan. Egrang sering dilombakan pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, dan kini juga dimainkan dalam acara khitanan, car free day, dan masa pengenalan kampus.

Selain egrang bambu, dikenal pula egrang batok, yaitu egrang yang dibuat dari batok kelapa dengan tali sebagai pegangan kaki. Versi ini lebih pendek dan lebih mudah untuk anak yang baru belajar, tetapi tetap melatih keseimbangan dan keberanian melangkah.

Lompat Tali: Kelincahan, Irama, dan Nyanyian Bersama

Lompat tali, yang juga dikenal sebagai lompat karet atau main karet, dimainkan dengan tali yang dibuat dari rangkaian karet gelang yang disambung-sambung hingga panjang. Dua orang memegang kedua ujung tali dan memutar atau merentangkannya, sedangkan pemain lain melompat melewatinya. Dalam versi lompat karet, tali direntangkan di antara dua pemegang pada ketinggian yang makin lama makin naik, mulai dari mata kaki, lutut, pinggang, hingga atas kepala.

Pemain harus melompat tanpa menyangkut tali. Bila kakinya menyangkut, giliran berpindah ke pemain berikutnya. Dalam versi tali yang diputar, pemain melompat mengikuti putaran tali sambil menyanyikan lagu atau menghitung, sehingga permainan ini sekaligus melatih irama, daya tahan, dan kerja sama antara pemutar dan pelompat.

Lompat tali melatih kekuatan kaki, kelincahan, dan ketepatan waktu. Anak belajar membaca tempo putaran tali, mengatur napas, dan mengendalikan tubuhnya di udara. Permainan ini murah dan mudah: cukup karet gelang bekas yang dirangkai, atau seutas tali, dan halaman yang cukup untuk dua pemegang dan satu pelompat.

Petak Umpet: Bersembunyi, Menghitung, dan Berani Mencari

Petak umpet adalah permainan mencari teman yang bersembunyi, dan dapat dimainkan dua orang atau lebih, di rumah maupun di lapangan. Permainan diawali dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi penjaga, yaitu pemain yang bertugas mencari teman-temannya.

Penjaga menutup mata dan menelungkupkan kepala pada tembok atau tiang yang dijadikan benteng, sambil menghitung sampai hitungan yang disepakati. Sementara itu, pemain lain bersembunyi. Setelah hitungan selesai, penjaga mencari teman-temannya yang bersembunyi. Jika penjaga menemukan seorang teman, ia harus segera berlari menuju benteng dan menyebutkan nama teman itu. Anak yang ketahuan pun harus cepat-cepat berlari ke benteng. Jika anak yang ketahuan lebih cepat sampai di benteng daripada penjaga, ia tidak menjadi penjaga pada putaran berikutnya.

Setelah semua pemain diketahui persembunyiannya, permainan dapat diulang dengan penjaga yang baru. Petak umpet melatih keberanian, ketelitian mengamati lingkungan, dan kemampuan mengambil keputusan cepat: kapan harus tetap bersembunyi dan kapan harus berlari ke benteng. Permainan ini juga mengajarkan kejujuran, karena pemain yang ketahuan harus mengakui bahwa dirinya sudah ditemukan.

Bentengan: Menjaga Benteng dan Menyelamatkan Tawanan

Bentengan adalah permainan beregu yang memakai tiang, bambu, atau batu bata sebagai benteng masing-masing kelompok. Setiap kelompok biasanya beranggotakan empat sampai enam orang, dan masing-masing kelompok mempunyai kawasan kekuasaan yang disepakati di awal permainan.

Kelompok yang keluar dari bentengnya dianggap menyerbu lebih dulu. Pemain yang memasuki kawasan lawan dan tersentuh pemain lawan akan ditahan di dekat benteng lawan, dengan jarak sekitar tiga sampai lima meter dari benteng. Pemain yang ditahan dapat kembali bebas bila disentuh kembali oleh teman satu kelompoknya.

Pemenang bentengan adalah kelompok yang berhasil menyentuh benteng lawan tanpa terkena sentuhan pemain lawan. Skor dapat ditentukan sesuai kesepakatan. Bentengan sangat mengandalkan gerak tubuh yang lincah, strategi menyerang dan bertahan, serta kerja sama tim: ada yang bertugas menjaga benteng, ada yang menyerbu, dan ada yang menyelamatkan tawanan. Permainan ini juga melatih sportivitas, karena pemain yang tersentuh harus mengakui dirinya tertangkap dan berjalan menuju tempat tahanan tanpa berdebat.

Gasing dan Bakiak: Putaran Kayu dan Langkah Serempak

Gasing adalah mainan tradisional dari kayu yang diputar dengan tali hingga berputar lama di atas tanah. Anak melilitkan tali pada badan gasing, lalu melemparkannya dengan cara tertentu sehingga gasing berputar tegak. Gasing yang berputar paling lama, atau yang berhasil menyenggol gasing lawan, dinyatakan menang, tergantung kesepakatan. Gasing melatih ketepatan tangan, kesabaran, dan pengamatan: anak belajar seberapa kuat lemparan yang diperlukan dan bagaimana permukaan tanah memengaruhi putaran.

Bakiak adalah permainan memakai sepasang sandal kayu panjang yang dipakai bersama oleh beberapa anak sekaligus. Setiap anak menapakkan kakinya pada satu bakiak panjang, lalu kelompok itu berjalan bersama dengan langkah yang serempak. Bila satu anak melangkah terlalu cepat atau terlalu lambat, kelompok itu goyah dan bisa jatuh. Karena itu, bakiak komunal melatih kekompakan gerak dalam satu ritme kelompok, komunikasi, dan tanggung jawab terhadap teman satu tim. Bakiak juga sering dilombakan dalam bentuk bakiak raksasa atau bakiak tandem beregu.

Selain permainan di atas, masih ada dolanan lain yang dikenal di Jawa, seperti jamuran, cublak-cublak suweng, dan tembang dolanan seperti Gundul-gundul Pacul. Tembang dolanan biasanya dinyanyikan sambil bermain melingkar, sehingga anak sekaligus belajar bahasa, irama, dan kebersamaan. Keberagaman ini menunjukkan bahwa dolanan bukan satu permainan saja, melainkan satu dunia bermain yang kaya.

Mengapa Permainan Tradisional Mulai Hilang

Penelitian tentang permainan tradisional di Indonesia menemukan tiga faktor utama yang membuat permainan ini semakin jarang dimainkan: teknologi digital, terbatasnya ruang bermain, dan rendahnya paparan dari keluarga dan sekolah. Anak-anak kini lebih memilih permainan digital yang langsung tersedia di gawai, sementara halaman rumah semakin sempit, lapangan kampung berubah fungsi, dan orang tua serta guru semakin jarang mengenalkan dolanan kepada anak.

Faktor-faktor itu saling berkaitan. Bila anak tidak pernah melihat orang dewasa bermain egrang atau gobak sodor, ia tidak akan tahu bahwa permainan itu ada. Bila sekolah tidak pernah menyediakan waktu dan tempat untuk dolanan, anak tidak akan sempat mencobanya. Bila lingkungan sekitar tidak lagi mempunyai lapangan yang aman, anak tidak mempunyai tempat untuk bermain beregu. Akibatnya, permainan tradisional tidak kalah karena tidak menarik, melainkan karena tidak lagi diberi kesempatan.

Perlu dicatat bahwa permainan digital sendiri bukan musuh. Permainan digital dapat melatih hal-hal tertentu, dan sebagian permainan tradisional bahkan sudah diadaptasi ke dalam bentuk digital, seperti aplikasi congklak. Persoalannya adalah ketika permainan digital menjadi satu-satunya bentuk bermain, sehingga anak kehilangan pengalaman bergerak bersama, bernegosiasi aturan, dan menghadapi kekalahan secara langsung. Di situlah dolanan mempunyai peran yang tidak tergantikan.

Di Magelang, gejala yang sama pernah disampaikan secara terbuka oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang. Kepala dinasnya pada waktu itu, Slamet Achmad Husein, menyebut bahwa pada era modern permainan tradisional sudah jarang dimainkan generasi saat ini, bahkan tingkat pengetahuan terhadap permainan tradisional sudah sangat menurun. Ia juga menyebut bahwa permainan tradisional dianggap tak semenarik permainan modern dan dianggap kuno, padahal permainan itu banyak mengandung nilai dan pesan moral yang baik untuk melatih tumbuh kembang anak.

Apa yang Dilatih Permainan Tradisional

Permainan tradisional melatih tubuh anak secara menyeluruh. Egrang dan engklek melatih keseimbangan dan ketangkasan. Gobak sodor, bentengan, dan lompat tali melatih kecepatan, kelincahan, dan daya tahan. Dakon melatih motorik halus dan kemampuan berhitung. Petak umpet melatih ketelitian dan keberanian bergerak di lingkungan sekitar. Semua itu terjadi sambil bermain, bukan sambil berlatih dengan beban yang terasa berat.

Permainan tradisional juga melatih kemampuan sosial yang tidak diajarkan lewat hafalan. Anak belajar membuat kesepakatan sebelum bermain, misalnya menentukan batas lapangan, jumlah pemain, dan cara menentukan giliran. Anak belajar menaati kesepakatan itu selama bermain, mengakui kesalahan sendiri, dan menerima kekalahan tanpa merusak permainan. Anak belajar bekerja sama, karena hampir semua dolanan beregu hanya bisa dimenangkan oleh tim, bukan oleh satu orang.

Lebih jauh lagi, permainan tradisional menanamkan karakter. Nilai-nilai yang terkandung dalam dolanan, sebagaimana disampaikan dalam berbagai kegiatan pelestarian, antara lain kekompakan, kejujuran, kebersamaan, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab. Anak yang bermain bentengan belajar bahwa menyelamatkan tawanan sama pentingnya dengan menyerang. Anak yang bermain dakon belajar bahwa satu langkah yang tergesa-gesa dapat mengubah hasil akhir. Anak yang bermain petak umpet belajar bahwa kejujuran membuat permainan tetap berjalan.

Nilai-nilai itu sejalan dengan tujuan pendidikan karakter di sekolah. Karena itu, tidak mengherankan bila sejumlah daerah mulai memasukkan permainan tradisional ke dalam kegiatan pembelajaran, misalnya sebagai materi tambahan dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, atau sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Pengenalan lewat sekolah membuat pelestarian budaya menjadi bagian dari kegiatan belajar, bukan sekadar acara tahunan.

Upaya Pelestarian Permainan Tradisional di Magelang

Magelang mempunyai catatan pelestarian yang dapat diverifikasi. Pada Rabu, 11 September 2024, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang menggelar Festival Permainan Tradisional di Gedung Mandala Wisata TIC Borobudur. Kegiatan itu diikuti 21 peserta dari unsur sekolah dasar yang mewakili 21 kecamatan di Kabupaten Magelang, dan dari kegiatan itu dipilih tiga penyaji terbaik, sedangkan setiap peserta mendapat sertifikat penghargaan sebagai peserta festival.

Dalam festival itu, anak-anak dikenalkan pada tembang dolanan seperti Cublak-cublak Suweng dan Gundul-gundul Pacul, serta permainan tradisional seperti congklak, petak umpet, lompat tali, dan permainan lainnya. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang pada waktu itu, Mantep Sudarsono, menyampaikan bahwa festival tersebut merupakan bagian dari ekspresi budaya untuk memberi edukasi dan pemahaman kepada masyarakat, khususnya anak-anak, tentang nilai-nilai, filosofi, serta konteks aktualisasi kebudayaan.

Setahun kemudian, Magelang kembali menjadi panggung dolanan tingkat provinsi. Pada Sabtu, 12 Juli 2025, peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Jawa Tengah digelar di Kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, dalam acara bertajuk Do-Land Festival. Sejumlah permainan tradisional khas Jawa Tengah dimainkan dalam acara itu, antara lain otok-otok dan dakon, di samping prosesi tedak siten.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, bersama Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Bupati Magelang Grengseng Pamuji, dan Ketua Forum Anak Jawa Tengah Prajnaputra Piyakusuma, membuka acara dengan memutar mainan otok-otok di atas panggung. Menteri Arifah kemudian melihat dan menjajal permainan dakon bersama anak-anak, sambil duduk lesehan. Ia menyampaikan bahwa fokus kegiatan itu adalah bermain permainan tradisional, menyanyikan lagu daerah dan lagu nasional, serta mendengarkan dongeng tentang pahlawan, sebagai upaya agar anak terlepas dari gawai dan meminimalkan penggunaan gawai.

Dua kegiatan itu menunjukkan satu hal penting: dolanan tidak punah karena tidak disukai anak. Ketika anak diberi panggung, diberi waktu, dan diajak bermain bersama, mereka antusias. Di berbagai daerah lain, pengalaman yang sama terulang: pengenalan lewat praktik langsung, bukan sekadar ceramah, berhasil menumbuhkan antusiasme dan rasa ingin tahu anak, termasuk pada permainan yang baru mereka kenal. Anak-anak ternyata masih semangat mengikuti permainan tradisional ketika budaya lokal diberi ruang yang konsisten.

Karena itu, pelestarian dolanan di Magelang tidak perlu dimulai dari nol. Festival yang sudah pernah digelar, ruang-ruang publik yang sudah ada, dan sekolah-sekolah yang sudah mengenal dolanan adalah modal awal. Yang diperlukan adalah keberlanjutan: dolanan tidak hanya hadir pada peringatan hari besar, melainkan juga hadir dalam kegiatan rutin, di halaman sekolah, di ruang publik keluarga, dan di rumah.

Ruang Bermain Keluarga di Magelang

Ruang bermain adalah syarat pertama agar dolanan kembali hidup. Anak membutuhkan halaman yang aman, lapangan yang tidak selalu penuh kendaraan, dan taman yang mengundang keluarga untuk datang dan tinggal agak lama. Di Kota Magelang, ruang-ruang hijau keluarga mempunyai peran itu: tempat orang tua duduk mengawasi sambil anak berlari, melompat, dan bermain bersama teman-temannya.

Sebagai gambaran ruang hijau keluarga di jantung Kota Magelang, pembaca dapat melihat ulasan tentang Taman Kyai Langgeng, ruang hijau keluarga di jantung Kota Magelang. Taman semacam itu penting bukan karena bangunannya, melainkan karena fungsinya: memberi tempat bagi keluarga untuk berkumpul di luar rumah, sehingga anak mempunyai kesempatan untuk bermain dengan anak lain, bukan hanya dengan layar.

Orang tua juga dapat memulai dari hal yang paling sederhana di rumah: menyediakan papan dakon atau menggambar petak engklek dengan kapur di halaman, merangkai karet gelang menjadi tali lompat, atau mengajak anak bermain petak umpet di pekarangan pada sore hari. Tidak diperlukan biaya besar. Yang diperlukan adalah waktu dan kesediaan orang dewasa untuk bermain bersama, bukan hanya menyuruh anak bermain sendiri.

Cara Sederhana Mengenalkan Kembali Dolanan kepada Anak

Mengenalkan dolanan tidak harus menunggu festival. Langkah pertama adalah memperkenalkan satu permainan dalam satu waktu, bukan semuanya sekaligus. Pilih permainan yang sesuai dengan usia dan jumlah anak. Untuk anak yang baru mulai, dakon dan petak umpet adalah pilihan yang ramah, karena aturannya mudah dan tidak membutuhkan banyak pemain. Untuk anak yang sudah lincah, engklek dan lompat tali dapat menjadi langkah berikutnya. Untuk kelompok yang lebih besar, gobak sodor dan bentengan akan terasa lebih seru.

Langkah kedua adalah menyepakati aturan sebelum bermain. Ajak anak menggambar lapangan gobak sodor bersama, menentukan batas lapangan bentengan, atau menyepakati jumlah biji dakon per lubang. Kesepakatan di awal membuat permainan berjalan lebih adil dan mengurangi perselisihan di tengah permainan. Bila terjadi perbedaan aturan dengan yang dikenal di kampung lain, tidak perlu diperdebatkan panjang: pakai aturan yang disepakati bersama pada hari itu, dan catat bila ingin mencoba variasi lain pada kesempatan berikutnya.

Langkah ketiga adalah memberi contoh, bukan sekadar perintah. Anak lebih mudah tertarik bila melihat orang tuanya, gurunya, atau kakaknya ikut bermain, ikut kalah, dan ikut tertawa. Dalam Do-Land Festival di Borobudur, para pejabat yang hadir tidak hanya memberi sambutan, melainkan ikut memutar otok-otok dan menjajal dakon bersama anak-anak. Contoh semacam itu, dalam skala rumah tangga, adalah orang tua yang mau duduk lesehan bermain dakon, atau guru yang mau ikut menjaga garis dalam gobak sodor pada jam istirahat.

Langkah keempat adalah menjaga keselamatan. Pilih permukaan tanah yang rata untuk egrang dan engklek, singkirkan benda tajam dari lapangan, dan pastikan permainan bentengan dan gobak sodor dimainkan di tempat yang cukup luas dan jauh dari jalan raya. Untuk egrang, anak yang baru belajar sebaiknya didampingi dan mulai dari pijakan yang rendah, seperti egrang batok, sebelum mencoba egrang bambu yang lebih tinggi. Keselamatan yang dijaga membuat orang tua tenang, dan ketenangan itu membuat anak lebih leluasa bermain.

Langkah kelima adalah menghubungkan dolanan dengan cerita. Ceritakan bahwa dakon dikenal di Jawa Tengah dengan nama dakon, bahwa egrang di Jawa Tengah disebut jangkungan, dan bahwa gobak sodor mempunyai nama lain di daerah lain. Cerita semacam itu membuat anak memahami bahwa permainan yang ia mainkan adalah bagian dari kebudayaan yang lebih luas, bukan sekadar permainan iseng. Bila memungkinkan, ajak anak menyanyikan tembang dolanan seperti Cublak-cublak Suweng dan Gundul-gundul Pacul, yang dikenalkan dalam festival di Magelang, agar bahasa dan irama Jawa ikut hidup bersama permainan.

Langkah keenam adalah memberi dolanan tempat dalam rutinitas. Misalnya, satu sore dalam sepekan ditetapkan sebagai sore dolanan di halaman, tanpa gawai, dengan permainan yang berganti setiap pekan. Di sekolah, dolanan dapat hadir pada jam istirahat yang diawasi, pada kegiatan ekstrakurikuler, atau pada lomba antarkelas yang sederhana. Rutinitas yang ringan tetapi konsisten lebih bertahan lama daripada acara besar yang hanya terjadi sekali setahun.

Terakhir, dokumentasikan dengan sederhana. Foto atau catatan tentang permainan yang sudah dicoba, aturan yang disepakati, dan pemenang pada hari itu dapat menjadi arsip keluarga atau kelas. Arsip semacam itu membantu anak mengingat aturan permainan, dan membantu orang dewasa berikutnya yang ingin melanjutkan kegiatan yang sama. Dokumentasi tidak perlu mewah; yang penting adalah permainan itu tercatat dan dapat diulang.

Menjaga Dolanan Tanpa Menolak Zaman

Pelestarian permainan tradisional tidak berarti menolak teknologi. Anak-anak Magelang hidup di zaman digital, dan mereka akan tetap memakai gawai untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangannya: gawai untuk keperluan yang tepat, dan dolanan untuk pengalaman yang tidak dapat digantikan layar, yaitu bergerak bersama, bernegosiasi, dan merasakan menang dan kalah secara langsung.

Penelitian tentang pelestarian permainan tradisional menyarankan dua jalan yang dapat berjalan beriringan: mengadaptasi permainan tradisional ke dalam bentuk digital yang edukatif, dan mengintegrasikannya ke dalam pendidikan. Jalan pertama membuat anak mengenal dolanan lewat medium yang sudah akrab baginya. Jalan kedua memastikan anak tidak hanya mengenal, melainkan juga mempraktikkan dolanan bersama teman-temannya. Keduanya membutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, dan komunitas, karena tidak satu pihak pun dapat menjaga warisan ini sendirian.

Informasi tentang upaya mengenalkan kembali permainan tradisional di tingkat provinsi, termasuk Do-Land Festival di Borobudur, dapat dibaca pada laporan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di laman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tentang Do-Land Festival. Laporan itu menegaskan bahwa festival tersebut dimaksudkan sebagai upaya mengenalkan kembali kekayaan permainan tradisional Indonesia, sekaligus meminimalkan penggunaan gawai pada anak.

Di Magelang, warisan dolanan masih mempunyai pijakan yang kuat: festival permainan tradisional pernah digelar untuk siswa sekolah dasar dari seluruh kecamatan, dan peringatan Hari Anak Nasional tingkat provinsi pernah dipusatkan di Borobudur dengan dolanan sebagai fokusnya. Pijakan itu tidak boleh dibiarkan menjadi kenangan acara semata. Ia harus dilanjutkan menjadi kebiasaan: di halaman rumah, di sekolah, dan di ruang publik.

Permainan tradisional anak Magelang yang mulai hilang sesungguhnya belum hilang. Ia masih hidup dalam ingatan orang tua, dalam papan dakon yang tersimpan di lemari, dalam kapur yang masih bisa menggambar petak engklek di halaman, dan dalam anak-anak yang, begitu diajak bermain, ternyata masih antusias. Tugas generasi sekarang bukan menciptakan permainan baru yang lebih hebat, melainkan memberi permainan lama itu waktu, tempat, dan teman bermain. Bila tiga hal itu tersedia, dolanan akan menemukan jalannya sendiri kembali ke sore anak-anak Magelang.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *