Museum OHD Magelang: Koleksi Seni Seratus Tahun dari Seorang Dokter
Di Jalan Jenggolo, Kota Magelang, berdiri museum swasta berisi lebih dari 2.000 karya seni modern dan kontemporer Indonesia, dikumpulkan seorang dokter selama puluhan tahun hingga menjadi rujukan kurator dunia.

Di sebuah jalan yang tenang di Kota Magelang, Museum OHD Magelang menyimpan salah satu koleksi seni modern dan kontemporer Indonesia terbesar di negeri ini. Museum ini bukan museum pemerintah dan bangunannya tidak megah, tetapi isinya membuat para kurator dari berbagai negara datang untuk belajar tentang seni Indonesia.
Jawaban singkatnya begini: Museum OHD Magelang adalah museum swasta yang dibangun oleh dr. Oei Hong Djien, seorang dokter asal Magelang yang mengoleksi seni Indonesia selama puluhan tahun. Koleksinya mencapai lebih dari 2.000 karya, mulai dari lukisan, patung, instalasi, hingga karya di atas kertas, dan dipamerkan di tiga gedung di Jalan Jenggolo Nomor 14, Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.
Artikel ini menelusuri siapa Oei Hong Djien, bagaimana sebuah koleksi pribadi berubah menjadi museum, apa saja isi koleksinya, dan mengapa museum sebesar ini justru jarang dibicarakan di luar kalangan seni. Informasi jam buka dan harga tiket tidak ditulis di sini, karena tidak terverifikasi dari sumber resmi yang terkini; calon pengunjung disarankan mengecek kanal resmi museum sebelum datang.
Dokter dari Magelang yang menjadi kolektor
Oei Hong Djien lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 5 April 1939. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1964. Setelah itu, ia mengambil kekhususan patologi anatomi di Katholieke Universiteit Nijmegen, Belanda, pada tahun 1966 hingga 1968.
Di luar profesinya sebagai dokter, Oei Hong Djien pernah membantu pelayanan medis misi Katolik secara sukarela. Latar belakang kedokteran ini penting untuk memahami cara ia mengoleksi: teliti, sabar, dan terbiasa bekerja dengan dokumentasi. Sikap itu kelak terlihat pada cara ia merawat dan menata koleksinya.
Ketertarikannya pada seni sudah muncul sejak muda. Sekitar tahun 1965, ia membeli lukisan pertamanya. Namun, pada masa itu ia belum mengoleksi secara serius. Ia baru benar-benar serius mengoleksi karya-karya penting sekitar tiga dekade sebelum wawancara yang dijalaninya pada tahun 2011, atau sekitar tahun 1980-an.
Awal keseriusannya itu ditandai dengan pembelian karya-karya Affandi yang bernilai tinggi langsung dari sang seniman. Untuk membelinya, ia bahkan mencicil dari bulan ke bulan. Cara ini menunjukkan bahwa koleksinya tidak dibangun dari dana berlebih semata, melainkan dari komitmen yang dipelihara dalam waktu lama.
Pada masa itu, dunia seni Indonesia sangat berbeda dengan sekarang. Belum ada balai lelang, galeri yang ada hanya sedikit, dan para seniman menggelar pameran dengan usaha sendiri. Tidak ada kurator, tidak ada gagasan pameran yang tertulis, dan tidak ada katalog. Kolektor pun masih sangat sedikit.
Karena kolektor masih langka, banyak seniman muda datang kepada Oei Hong Djien. Mereka membutuhkan dukungan untuk membayar biaya kuliah, membeli bahan berkarya, dan bertahan hidup sebagai seniman. Hubungan inilah yang membuat koleksinya tumbuh dari kedekatan personal, bukan semata-mata dari transaksi jual beli.
Kedekatan itu pula yang menjelaskan mengapa banyak karya dalam koleksinya berasal dari Yogyakarta. Yogyakarta dekat dengan Magelang, tempat Oei Hong Djien tinggal, dan menjadi pusat tempat para seniman muda berkumpul. Dari kota itulah sumber karya seni mengalir ke koleksinya.
Museum OHD Magelang: dari dinding kosong menjadi museum
Oei Hong Djien sendiri mengaku tidak pernah berniat membangun museum. Ketika mulai membeli lukisan, ia bahkan tidak menganggap dirinya seorang kolektor. Ia hanya seseorang yang tidak suka tinggal dengan dinding kosong.
Namun, kebiasaan membeli itu berubah menjadi kegemaran yang sulit dihentikan, terutama karena hubungannya yang dekat dengan para seniman. Para seniman itulah yang mendorongnya membangun ruang agar koleksinya bisa dilihat dari sudut pandang kuratorial. Baginya, seseorang tidak bisa disebut kolektor bila tidak bisa menampilkan koleksinya dalam konteks yang tepat.
Untuk waktu yang lama, ia tidak memiliki dana untuk membangun ruang pamer. Ia bahkan pernah membeli lukisan dengan uang pinjaman. Pada masa itu, perhatiannya lebih tercurah pada ruang penyimpanan yang memadai dan pada konservasi karya.
Museum yang berdiri sekarang bermula dari sebuah rumah kecil di samping halaman belakang rumahnya. Rumah kecil itu dibeli, dibongkar, dan dibangun kembali dari nol menjadi museum. Museum itu pun menjadi perpanjangan dari rumah tinggalnya, bukan bangunan yang berdiri terpisah dari kehidupan sehari-hari.
Pada awalnya, banyak orang menertawakan bangunan museumnya yang kecil dan murah. Namun, seiring waktu, pengunjung dari seluruh dunia datang dan menyebut koleksinya sebagai yang terbaik yang pernah mereka lihat dalam seni Indonesia. Pengakuan itu menegaskan keyakinan Oei Hong Djien bahwa yang terpenting adalah isi koleksi, bukan gedung yang mahal dan megah.
Setelah memiliki ruang pamer yang tetap, cara mengoleksinya pun berubah. Sebelumnya, ia membeli lukisan tanpa banyak pertimbangan. Setelah museum berdiri, ia merasa bertanggung jawab untuk membeli dengan lebih selektif. Setiap karya yang dipertimbangkan harus menjawab tiga pertanyaan: apakah karya itu memiliki nilai sejarah, apakah cocok dengan koleksinya, dan apakah menambah nilai pada apa yang sudah dimilikinya.
Perubahan sikap ini membuat koleksinya semakin terarah. Ia mengincar karya-karya yang menunjukkan perkembangan seorang seniman pada masa-masa penting dan formatifnya. Contohnya adalah lukisan-lukisan Masriadi dari tahun 1999 hingga 2006, serta karya-karya Hendra Gunawan dari masa revolusi, masa di penjara, hingga masa setelah bebas.
Ia juga menerima gambar-gambar kecil dan sketsa karya Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Kartono Yudhokusumo, dan seniman lain yang kondisinya buruk sehingga tidak memiliki nilai komersial. Baginya, karya-karya itu memiliki nilai museum, karena mendokumentasikan sejarah. Dari sinilah ia menyebut museumnya sebagai dokumentasi paling lengkap atas sejarah kebudayaan Indonesia.
Tiga gedung di Jalan Jenggolo
Untuk menampilkan koleksinya, Oei Hong Djien membangun tiga gedung museum di Jalan Jenggolo Nomor 14, Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, dengan kode pos 56122. Gedung pertama dibangun pada tahun 1997, gedung kedua pada tahun 2006, dan gedung ketiga diresmikan pada 5 April 2012.
Gedung ketiga itu memiliki cerita sendiri. Dalam wawancara tahun 2011, Oei Hong Djien menjelaskan bahwa ruang baru itu berasal dari alih fungsi barak tembakau miliknya menjadi ruang museum. Ruang itu direncanakan selesai pada April 2012 dan diperuntukkan bagi pameran temporer dari koleksinya.
Untuk ruang ketiga itu, ia merencanakan pameran retrospeksi Hendra Gunawan, S. Sudjojono, atau Widayat, serta pameran tematik tentang potret dan lanskap imajiner. Ia juga berencana mengundang usulan dari kurator lain dan mensponsori pameran mereka, serta menjadikan ruang itu sebagai tempat wacana seni dan budaya.
Pada rencana itu, ia tidak akan menjadi direktur museum ketiga tersebut. Menantunya yang akan mengelolanya, sementara ia sendiri tetap menjadi kurator yang memilih karya untuk pameran-pameran berikutnya. Rencana ini menunjukkan pembagian peran yang ia siapkan agar museum bisa berjalan melampaui dirinya sendiri.
Yang menarik, museum ini menyatu dengan rumah tinggalnya. Dalam gambaran yang disampaikan media seni, karya seni terdapat di hampir setiap sudut dan setiap dinding rumahnya, dan rumah itu meluber ke museum. Bahkan fasad museum dirancang oleh Widayat, salah satu seniman modern terkemuka Indonesia yang lahir pada tahun 1919.
Kesatuan antara rumah dan museum ini menjelaskan suasana tempat itu. Pengunjung tidak memasuki gedung pamer yang dingin dan impersonal, melainkan ruang hidup seorang kolektor yang dindingnya dipenuhi karya. Suasana inilah yang membuat banyak pengunjung menggambarkannya lebih sebagai galeri pribadi yang hangat ketimbang museum formal.
Meski demikian, museum ini terbuka untuk publik. Keterbukaan ini penting, karena sejak awal Oei Hong Djien membangun museum agar koleksinya bisa dilihat orang banyak, bukan hanya dinikmati sendiri di dalam rumah.
Isi koleksi: seratus tahun seni Indonesia
Koleksi Museum OHD Magelang membentang sepanjang seratus tahun perjalanan seni Indonesia. Rentang itu dimulai dari masa kolonial hingga masa pascakolonial, dengan titik awal pada lukisan-lukisan Raden Saleh, yang menurut sumber yang dikutip media seni hidup pada tahun 1807 hingga 1880.
Dari titik awal itu, koleksi bergerak melewati para maestro seni modern Indonesia. Nama-nama seperti Affandi, S. Sudjojono, dan Hendra Gunawan menjadi penopang utama koleksi. Selain itu, terdapat pula karya Widayat dan Lee Man Fong, serta seniman-seniman Eropa yang tinggal di Indonesia pada masa itu.
Jumlah koleksinya mencapai lebih dari 2.000 karya seni modern dan kontemporer. Bentuknya beragam: lukisan, patung, instalasi, dan karya di atas kertas. Sebagian besar koleksi ini telah diterbitkan dalam buku berjudul Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of dr. Oei Hong Djien, yang ditulis oleh Dr. Helena Spanjaard pada tahun 2004.
Oei Hong Djien menerapkan satu aturan dalam mengoleksi: ia hanya mengoleksi seni Indonesia. Bahkan aturan itu ia jaga dengan ketat. Ia tidak merambah hingga seni tradisional Bali, dan membatasi diri pada seni modern dan kontemporer saja. Alasannya sederhana: dana, ruang, waktu, dan pengetahuannya tidak cukup untuk menjangkau seluruh kesenian Indonesia yang begitu luas.
Keterbatasan itu justru membuat koleksinya dalam. Karena tidak ada buku sejarah seni Indonesia yang bisa menjadi rujukan pada masa ia mulai mengoleksi, ia harus mendidik dirinya sendiri. Yang tersedia hanya artikel-artikel lepas di majalah. Selebihnya, ia belajar lewat pengamatan, pengalaman, dan riset yang ia lakukan sendiri. Ia pun menulis dan mengkurasi pameran di museumnya sendiri.
Di antara isi koleksi, terdapat penemuan-penemuan yang tidak pernah dijumpai kolektor lain. Salah satunya adalah lukisan-lukisan revolusi karya Soedibio dari akhir tahun 1940-an, yang bergaya sangat surealis. Penemuan semacam ini menunjukkan nilai lain dari seorang kolektor: menemukan seniman muda yang belum dikenal dan seniman lama yang terlupakan memiliki arti yang sama pentingnya dalam menerangi sejarah.
Koleksi ini juga merekam perkembangan seni kontemporer Indonesia yang sempat tidak dipahami banyak orang. Pada tahun 1980-an, para kolektor yang berbasis di Jakarta umumnya mengoleksi maestro lama yang masih hidup pada masa itu. Sementara itu, sumber karya berada di Yogyakarta, dan Oei Hong Djien berhubungan erat dengan para seniman muda di sana.
Ia mendesak para kolektor Jakarta untuk membeli seni Indonesia masa kini dan mendukung seniman lokal. Menurutnya, tanpa dukungan itu, tidak akan ada penerus para maestro lama. Namun, para kolektor itu tidak tertarik, karena seni kontemporer pada masa itu sulit dipahami. Karya-karya kelompok Jendela, misalnya, terasa sama sekali baru bagi mereka.
Karena itu, Oei Hong Djien bersama beberapa temannya terus membeli karya-karya yang lebih baru dan lebih muda. Keputusan ini kelak terbukti penting, karena karya-karya itulah yang merekam wajah seni Indonesia pada masa transisi, ketika para maestro lama perlahan digantikan generasi berikutnya.
Kolektor sebagai penyelamat karya
Salah satu peran Oei Hong Djien yang paling sering ditekankan adalah perannya sebagai penyelamat karya. Menurutnya, pemerintah tidak peduli membangun museum, dan museum-museum yang ada pun tidak terawat dengan baik. Karya seni di dalamnya sangat membutuhkan konservasi.
Dalam kondisi seperti itu, tugas penyelamatan jatuh ke tangan para kolektor. Oei Hong Djien sendiri harus mendatangkan konservator dari luar negeri, dengan biaya yang sangat besar. Selain itu, ia harus menyediakan ruang untuk karya-karya baru yang ia selamatkan, sekaligus menjaga museum tetap terbuka untuk publik.
Kerusakan karya menjadi ancaman nyata. Ia menyebut bahwa banyak karya seni hilang selama puluhan tahun, terutama setelah invasi Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Beberapa karya yang berhasil ia pulihkan dari kolektor atau pedagang lain berada dalam kondisi terbakar atau rusak parah.
Satu angka yang ia sebutkan menggambarkan parahnya kehilangan itu: sekitar 45 lukisan S. Sudjojono terbakar pada masa revolusi di Yogyakarta. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan pengingat bahwa sebagian sejarah seni Indonesia musnah sebelum sempat didokumentasikan.
Pengalaman inilah yang membuat Oei Hong Djien menghargai karya-karya yang secara komersial tidak bernilai. Sketsa-sketsa kecil dalam kondisi buruk tetap ia simpan, karena nilai museumnya lebih penting daripada harga pasarnya. Sikap ini membedakan kolektor yang sekadar berinvestasi dengan kolektor yang mendokumentasikan sejarah.
Peran penyelamatan ini juga terlihat dalam hubungannya dengan pasar seni. Pada pertengahan tahun 1990-an, balai lelang mulai masuk ke kawasan, diawali Christie lalu Sotheby di Singapura. Ketika Sotheby memintanya menulis esai untuk katalog maestro lama, ia mendorong mereka untuk mempromosikan nama-nama yang lebih baru. Mereka menolak, dengan alasan bahwa mempromosikan seniman baru adalah tugas galeri.
Padahal, pada masa itu belum ada galeri yang cukup profesional untuk membimbing dan membangun pasar bagi seniman muda. Oei Hong Djien bahkan pernah menawarkan bantuan kepada balai lelang dalam hal itu, tetapi mereka tidak tertarik.
Keadaan berubah pada tahun 2007, setelah gelombang seni kontemporer Tiongkok. Seni kontemporer Indonesia mendadak meledak. Balai lelang yang dulu enggan justru melompati galeri dan melelang karya langsung dari studio seniman, bahkan mendikte apa yang harus dilukis seniman. Suasananya menjadi tidak sehat: pameran terjual habis dan orang rela membayar harga tinggi.
Ketika gelembung itu pecah tidak lama kemudian, hanya sedikit nama yang bertahan. Bagi Oei Hong Djien, peristiwa itu menjadi pelajaran bagi galeri, seniman, dan terutama kolektor: pasar yang panas bukan jaminan bagi kelangsungan seni, dan yang bertahan adalah karya yang memiliki nilai sejarah dan dokumentasi.
Museum sebagai ruang belajar dan penelitian
Museum OHD Magelang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pamer. Oei Hong Djien selalu berhubungan dengan sekolah-sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, yang datang tidak hanya dari Magelang tetapi juga dari luar daerah. Kurator-kurator museum dari seluruh dunia pun berkunjung secara teratur.
Bahkan, sejumlah profesional seni yang ingin mempelajari seni Indonesia memulai orientasi mereka di museum ini. Oei Hong Djien selalu berusaha menyediakan ruang untuk penelitian dan studi. Dengan cara ini, museum menjadi semacam gerbang pertama bagi siapa pun yang ingin memahami seni Indonesia secara serius.
Jangkauan museum ini melampaui Magelang. Oei Hong Djien pernah meminjamkan karya-karyanya untuk berbagai pameran seni Indonesia di Singapura, Belanda, dan Korea, serta pameran-pameran di Jepang, Hong Kong, Finlandia, dan Australia. Pinjaman semacam ini menunjukkan bahwa koleksi Magelang ini diakui sebagai rujukan di tingkat internasional.
Pengakuan itu juga tercermin dalam peran kelembagaannya. Ia pernah menjadi penasihat Galeri Nasional Singapura untuk seni Indonesia. Sebelumnya, ia menjadi anggota dewan Museum Seni Singapura, setelah dua periode menjadi penasihat kehormatan di sana. Peran-peran ini menegaskan bahwa seorang kolektor dari kota kecil bisa menjadi rujukan bagi institusi besar di luar negeri.
Di dalam museum, Oei Hong Djien menulis dan mengkurasi pamerannya sendiri. Ia tidak menyerahkan seluruh penataan kepada orang lain, karena pengetahuannya tentang koleksi itu tumbuh dari pengalaman mengoleksi selama puluhan tahun. Pendekatan ini membuat setiap pameran membawa sudut pandang personal sang kolektor.
Pameran di museum ini tidak statis. Ruang pameran temporer yang dibangun pada gedung ketiga dirancang untuk pameran yang berganti, baik retrospeksi seniman maupun pameran tematik. Para pengunjung dalam ulasan perjalanan mereka pun melaporkan bahwa pameran di museum ini berganti secara berkala, sehingga tidak semua koleksi bisa dipamerkan sekaligus.
Para pengunjung itu juga melaporkan bahwa pemandu di museum sangat membantu dan berusaha menjawab pertanyaan pengunjung. Bagi pengunjung yang belum banyak mengenal seni Indonesia, kehadiran pemandu menjadi jembatan penting. Perlu dicatat, gambaran ini berasal dari ulasan pengunjung, bukan dari pernyataan resmi museum, sehingga pengalaman setiap pengunjung bisa berbeda.
Bagi pengunjung umum, museum ini menawarkan cara menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua jam, menurut laporan para pengunjung tersebut. Waktu itu cukup untuk menyusuri ruang-ruang pamer, berhenti pada karya-karya yang menarik perhatian, dan berdiskusi dengan pemandu bila tersedia.
Mengapa museum sebesar ini jarang dibicarakan
Pertanyaan yang wajar muncul: mengapa museum dengan koleksi sebesar ini jarang dibicarakan di media arus utama? Salah satu jawabannya terletak pada lokasinya. Dunia seni Indonesia cenderung berpusat di Jakarta dan Yogyakarta, sementara Magelang berada di luar kedua pusat itu. Museum yang berada di kota kecil mudah luput dari radar pemberitaan, betapapun penting isinya.
Jawaban lain terletak pada sifat museum itu sendiri. Museum OHD Magelang adalah museum swasta yang lahir dari koleksi pribadi, bukan dari proyek pemerintah yang disertai publisitas besar. Ia tidak memiliki gedung megah yang mudah dijadikan latar foto, dan tidak menggelar pameran blockbuster yang dirancang untuk menarik massa.
Namun, justru di sinilah letak keistimewaannya. Museum ini membuktikan bahwa yang terpenting dari sebuah museum adalah isi koleksinya, bukan kemegahan bangunannya. Pengunjung dari seluruh dunia yang menyebut koleksinya sebagai yang terbaik dalam seni Indonesia tidak memuji arsitekturnya, melainkan kedalaman dan kelengkapan dokumentasinya.
Museum ini juga membuktikan bahwa dokumentasi sejarah seni bisa lahir dari inisiatif perorangan. Ketika institusi publik belum mampu membangun dan merawat museum seni, seorang dokter dari Magelang mengambil alih peran itu dengan dananya sendiri, dengan pinjaman, dengan cicilan, dan dengan kesabaran puluhan tahun.
Bagi Kota Magelang sendiri, keberadaan museum ini adalah aset yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kota ini dikenal karena Candi Borobudur di dekatnya, karena kulinernya, dan karena alamnya. Museum seni modern dan kontemporer kelas internasional di tengah kota seharusnya bisa menjadi alasan tambahan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Museum ini juga melengkapi wajah Magelang sebagai kota budaya. Di satu sisi ada candi-candi kuno dari abad ke-8 dan ke-9. Di sisi lain, di Jalan Jenggolo, ada koleksi yang merekam seratus tahun seni Indonesia modern. Keduanya bersama-sama menunjukkan bahwa Magelang bukan hanya kota masa lalu, melainkan juga kota yang menyimpan percakapan panjang tentang seni.
Museum OHD Magelang beralamat di Jalan Jenggolo Nomor 14, Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah, dengan kode pos 56122. Alamat ini tercantum secara konsisten di berbagai sumber, termasuk situs resmi museum di ohdmuseum.com.
Namun, untuk jam buka dan harga tiket, artikel ini sengaja tidak mencantumkan angka. Penelusuran untuk artikel ini tidak menemukan informasi jam buka dan harga tiket yang terverifikasi dari sumber resmi yang terkini. Situs resmi museum hanya menampilkan halaman pembuka, sementara direktori daring menampilkan status yang tidak dapat dipastikan keakuratannya.
Karena itu, calon pengunjung disarankan mengecek kanal resmi museum di ohdmuseum.com sebelum datang. Konfirmasi langsung adalah cara paling aman, mengingat museum swasta dapat mengubah jadwal pameran dan jam kunjung dari waktu ke waktu.
Yang bisa dipastikan dari berbagai sumber adalah bahwa museum ini terbuka untuk publik. Pengunjung dapat menyaksikan koleksi seni modern dan kontemporer Indonesia yang dipamerkan secara bergiliran, serta memanfaatkan pemandu bila tersedia untuk memahami konteks karya-karyanya.
Bagi yang berencana berkunjung, ada baiknya meluangkan waktu sekitar satu hingga dua jam, sebagaimana dilaporkan para pengunjung sebelumnya. Waktu itu memungkinkan pengunjung untuk tidak sekadar lewat, melainkan benar-benar melihat perkembangan seni Indonesia dari masa kolonial hingga masa kini dalam satu kunjungan.
Pada akhirnya, Museum OHD Magelang adalah pengingat bahwa sejarah seni Indonesia tidak hanya tersimpan di ibu kota. Sebagian dari sejarah itu tersimpan di sebuah rumah di Magelang, di dinding-dinding yang pernah kosong, dan di tiga gedung yang dibangun seorang dokter yang tidak pernah berniat menjadi kolektor, tetapi berakhir menjadi salah satu penjaga terpenting seni Indonesia.
Sumber: ASEF culture360, wawancara dengan Oei Hong Djien (tautan); Prasetya Universitas Brawijaya (tautan).
Baca juga: Kelenteng Liong Hok Bio Magelang: dari Tanah Hibah 1864, Kebakaran 2014, hingga Kirab Cap Go Meh


