Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Mayat Laki-Laki Ditemukan di Lereng Sumbing usai Kebakaran…
Peristiwa

Mayat Laki-Laki Ditemukan di Lereng Sumbing usai Kebakaran Hutan Dipadamkan

Jasad seorang laki-laki ditemukan di lereng Gunung Sumbing usai kebakaran hutan dipadamkan. Tayangan tvOne melaporkan temuan itu pada 25 Oktober 2026, sementara identitas korban dan penyebab kematian belum diumumkan.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 07.22 WIB

MAGELANG, KabarTidar. Mayat seorang laki-laki ditemukan di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, usai petugas memadamkan kebakaran hutan di kawasan itu. Temuan tersebut dilaporkan stasiun televisi tvOne dalam dua segmen berita pada 25 Oktober 2026.

Menurut tayangan tvOne, warga menemukan jasad laki-laki itu di lokasi kebakaran. Petugas kepolisian dan penyidik tampak memeriksa lokasi yang sudah hangus dan diberi garis pembatas, sebelum jasad dimasukkan ke dalam kantong jenazah berwarna oranye. Personel pemadam kebakaran Kabupaten Magelang juga tampak berada di lokasi setelah api dipadamkan.

Api Diduga Berasal dari Pembakaran Sampah

Teks yang tampil di layar tayangan tvOne menyebut api diduga dipicu oleh pembakaran sampah. Tayangan itu tidak menjelaskan lebih jauh siapa yang melakukan pembakaran tersebut, dan tidak menyatakan bahwa korban meninggal karena kebakaran itu sendiri atau ditemukan meninggal di lokasi setelah api padam.

Hingga tayangan tersebut dibuat, identitas korban dan penyebab kematiannya belum diumumkan. Petugas yang tampak memeriksa lokasi yang diberi garis pembatas menunjukkan bahwa peristiwa itu masih dalam penanganan aparat, dan keterangan resmi lanjutan masih ditunggu.

306 Hektare Hutan Lindung Terbakar

Kebakaran yang mendahului temuan jasad itu telah berlangsung selama berhari-hari. TVRI Jawa Tengah pada 22 Oktober 2026 melaporkan kebakaran hutan dan lahan di Gunung Sumbing telah membakar sekitar 306 hektare hutan lindung, dengan kobaran api yang tampak di punggung gunung pada malam hari dan asap tebal pada siang hari.

Api juga terpantau dari permukiman warga. Rekaman Radar Magelang pada 21 Oktober 2026 memperlihatkan jilatan api di puncak Sumbing yang terlihat jelas dari Potrobangsan, Kota Magelang, pada malam hari. Pada hari yang sama, api dilaporkan merembet dari arah Magelang menuju Temanggung, dan kebakaran juga dilaporkan terjadi di Desa Jamprang dan Desa Tanggulanom, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung.

Kebakaran yang sama sebelumnya diberitakan meluas hingga 779,4 hektare, sebelum sisi Magelang dinyatakan berhasil padam dengan 213,4 hektare vegetasi hangus. Temuan jasad pada 25 Oktober itu terjadi setelah rangkaian pemadaman tersebut.

Sepekan Api Sebelum Temuan Jasad

Kebakaran di Sumbing telah berlangsung sejak Senin, 19 Oktober 2026, dan hingga Jumat, 23 Oktober 2026, api masih belum padam sepenuhnya. Skala kebakaran itu membuat penanganannya melibatkan bantuan udara. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya mengusulkan agar satu unit helikopter water bombing yang beroperasi di Gunung Lawu digeser untuk membantu pemadaman di Sumbing, dan surat pengajuan telah dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut dua helikopter dari TNI disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara oleh BNPB, dan penanganan kebakaran di Lawu dan Sumbing telah ditingkatkan menyusul penetapan status tanggap darurat. Upaya darat oleh petugas pemadam dan relawan, dipadukan dengan pemadaman udara, akhirnya membuat sisi Magelang dinyatakan padam, meski temuan jasad beberapa hari kemudian menunjukkan bahwa kawasan bekas kebakaran masih menyimpan peristiwa yang harus diungkap.

Prosedur Setelah Jasad Ditemukan

Dalam penanganan temuan jasad, aparat umumnya memulai dengan mengamankan lokasi dan memasang garis pembatas, seperti yang tampak dalam tayangan tvOne. Penyidik kemudian memeriksa lokasi untuk mencari petunjuk tentang identitas korban dan peristiwa yang menimpanya, sebelum jasad dievakuasi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Proses identifikasi menjadi kunci berikutnya. Jika korban membawa tanda pengenal atau dikenali warga sekitar, identitas dapat diumumkan relatif cepat. Jika tidak, polisi biasanya mencocokkan ciri-ciri jasad dengan laporan orang hilang dan memeriksa keterangan saksi di sekitar lokasi. Selama proses itu berjalan, korban dalam pemberitaan disebut tanpa nama, dan penyebab kematian tidak dinyatakan sebelum ada hasil pemeriksaan resmi.

Kebakaran Sumbing yang Hampir Tahunan

Kebakaran di Sumbing bukan peristiwa yang asing bagi warga lerengnya. Sebuah ulasan akun Mlaku Magelang yang menautkan kebakaran Oktober 2026 dengan catatan masa kolonial menyebut kebakaran di puncak Sumbing hampir terjadi setiap tahun, dan diperparah kekeringan pada masa Super El Nino.

Ulasan itu mencatat tradisi membakar alang-alang untuk pakan ternak yang sudah berlangsung sejak 1883, kebakaran pada 1912 yang menghanguskan lima dusun di Desa Kajitan, serta kebakaran pada 1913 yang sempat dikira letusan gunung sebelum dikaitkan dengan peziarah Makam Ki Ageng Makukuhan. Catatan panjang itu menjadi latar mengapa setiap kebakaran baru di Sumbing selalu menyita perhatian warga di kedua sisi gunung, Magelang dan Temanggung.

Perkembangan penyelidikan, termasuk identitas korban dan hasil pemeriksaan atas jasad yang ditemukan, akan melengkapi kabar ini setelah diumumkan secara resmi oleh aparat yang menangani.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *