Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Koran Magelang dari Masa ke Masa
Umum

Koran Magelang dari Masa ke Masa

Dari surat kabar kolonial sampai situs berita daring, inilah perjalanan koran Magelang yang terverifikasi, termasuk Radar Magelang dan Magelang Ekspres, serta bagian sejarahnya yang masih belum bisa dipastikan.

Oleh Intan Larasati Rabu, 28 Oktober 2026 · 18.20 WIB
Ilustrasi penjual koran Magelang dan pembaca di sudut alun-alun kota era lampau dengan tumpukan koran
Ilustrasi penjual koran dan pembaca di sudut alun-alun kota era lampau dengan tumpukan koran. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Koran Magelang adalah cermin yang paling jujur tentang bagaimana warga kota dan kabupaten ini membaca zamannya sendiri, dari kabar pasar dan pengumuman pemerintah pada pagi hari, dari berita kecelakaan dan hasil panen pada siang hari, hingga dari tajuk rencana dan surat pembaca pada malam hari. Selembar koran yang dibeli di kios, dilipat di dalam tas, dibaca di warung kopi, lalu dipinjam tetangga sebelah, pernah menjadi jalur utama kabar lokal sebelum gawai dan media sosial mengambil alih peran itu. Artikel ini menelusuri koran Magelang dari masa ke masa, yaitu media cetak yang benar-benar terverifikasi pernah beredar dan dibaca di Magelang, serta media daring lokal yang meneruskan peran itu pada hari ini, dengan satu sikap yang dijaga dari awal sampai akhir, yaitu hanya menulis nama media, tahun, dan angka bila ada sumber yang bisa dikutip.

Sikap itu penting karena sejarah pers lokal sangat mudah dicemari oleh ingatan yang kabur. Banyak warga Magelang yang ingat pernah membaca sebuah koran di masa kecilnya, tetapi ingatan tentang nama koran, tahun terbit, dan penerbitnya sering bercampur dengan koran dari Semarang, Yogyakarta, atau Solo yang juga beredar di Magelang. Bila ingatan semacam itu ditulis sebagai fakta tanpa bukti, sejarah yang dihasilkan justru menyesatkan. Karena itu artikel ini membedakan dengan tegas tiga hal, yaitu media yang keberadaannya terverifikasi oleh sumber yang bisa dikutip, media yang keberadaannya tampak pada hari ini lewat situsnya yang aktif, dan media yang namanya pernah disebut tetapi tahun berdirinya belum ditemukan dalam sumber yang bisa diverifikasi. Perbedaan itu bukan kelemahan artikel, melainkan cara artikel ini menjaga kepercayaan pembacanya.

Sebelum masuk ke Magelang, ada baiknya pembaca memahami satu hal mendasar tentang koran. Koran berbeda dari buku dan majalah karena ia terbit berkala dengan tenggat yang ketat, isinya terikat pada hari itu juga, dan ia hidup dari dua sumber sekaligus, yaitu uang pembaca yang membeli eksemplar dan uang pengiklan yang memasang iklan di halamannya. Karena hidup dari pembaca dan pengiklan, koran harus dekat dengan wilayah edarnya. Koran yang terbit di Semarang akan memberitakan Semarang lebih banyak daripada Magelang, dan koran yang terbit di Yogyakarta akan memberitakan Yogyakarta lebih banyak daripada Magelang. Di sinilah letak pentingnya koran lokal, yaitu koran yang redaksinya berada di wilayah itu sendiri, wartawannya meliput jalan dan pasar di wilayah itu sendiri, dan pengiklannya adalah usaha di wilayah itu sendiri. Kehadiran koran lokal adalah tanda bahwa sebuah kota sudah cukup besar dan cukup ramai untuk mempunyai kabarnya sendiri, bukan hanya menjadi pinggiran dari kabar kota lain.

Magelang mempunyai syarat itu sejak lama. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Kedu, kota militer dengan garnisun dan akademi militer, kota pendidikan dengan sekolah dan perguruan tinggi, serta kota perdagangan yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Gambaran tentang kedudukan Magelang sebagai pusat wilayah Kedu dapat dibaca pada sejarah Kota Magelang yang sudah tayang di portal ini. Kota dengan peran sebesar itu hampir pasti mempunyai pembaca koran sejak lama, karena pegawai pemerintah, perwira, guru, pedagang, dan pelajar adalah kelompok yang paling membutuhkan kabar tertulis. Namun kebutuhan saja belum cukup menjadi bukti sejarah. Artikel ini tidak menulis nama koran Magelang pada era tertentu hanya karena kota ini layak mempunyai koran pada era itu. Nama koran hanya ditulis bila sumbernya ditemukan, dan bila sumbernya tidak ditemukan, kekosongan itu ditulis secara terbuka.

Koran Magelang dan Awal Pers di Hindia Belanda

Sejarah pers di Hindia Belanda dimulai dari surat kabar berbahasa Belanda yang terbit untuk kalangan Eropa dan pegawai pemerintah kolonial. Jurnal pendidikan sejarah Universitas Jambi yang membahas sejarah pers di Hindia Belanda mencatat bahwa surat kabar Bataviasche Nouvelles menjadi titik awal perkembangan surat kabar di Hindia Belanda, dan dalam sumber lain tentang tokoh pers Tirto Adhi Soerjo disebutkan bahwa medium surat kabar sudah hadir di wilayah ini sejak Bataviase Nouvelles didirikan pada tahun 1744. Dua ejaan nama itu, Bataviasche Nouvelles dan Bataviase Nouvelles, merujuk pada terbitan yang sama pada masa awal, dan perbedaan ejaan itu wajar karena ejaan Belanda pada abad ke-18 belum baku seperti sekarang. Isi surat kabar awal semacam itu adalah pengumuman resmi, kabar perdagangan, dan kehidupan orang Eropa, bukan kabar masyarakat pribumi. Surat kabar itu dicetak oleh pemerintah kolonial, diedarkan di kalangan terbatas, dan dibaca oleh orang yang menguasai bahasa Belanda, sehingga jangkauannya sangat jauh dari rakyat kebanyakan di pedalaman Jawa, termasuk di Magelang.

Perubahan besar datang ketika kaum pribumi yang terdidik mulai menerbitkan surat kabarnya sendiri dalam bahasa Melayu, bahasa pergaulan yang dipahami di banyak daerah. Tokoh yang paling sering disebut dalam sejarah ini adalah Tirto Adhi Soerjo, yang menerbitkan Medan Prijaji pada tahun 1907 di Bandung. Menurut riwayat Tirto Adhi Soerjo yang dirangkum dari berbagai sumber, Medan Prijaji digambarkan sebagai surat kabar yang dimiliki dan dikerjakan oleh pribumi, mulai dari reporter, redaktur, sampai pencetaknya, dengan pembaca yang juga pribumi. Surat kabar itu memuat keluhan dan penderitaan bangsanya, kritik terhadap pemerintah kolonial dan kaki tangannya, serta ajakan agar bangsanya berorganisasi dan memajukan diri lewat usaha dan perdagangan. Gaya penulisannya disebut radikal, penuh sindiran, dan tidak mau berbasa basi. Untuk pembaca Magelang pada masa itu, kabar semacam ini penting bukan karena Medan Prijaji terbit di Magelang, melainkan karena ia menunjukkan bahwa surat kabar sudah berubah fungsi, dari pengumuman penguasa menjadi suara rakyat yang terperintah. Surat kabar tidak lagi hanya memberitahu apa yang diputuskan pemerintah, tetapi juga menanyakan apakah keputusan itu adil.

Pada masa pergerakan, surat kabar menjadi sekolah politik yang murah. Satu eksemplar yang dibeli oleh satu orang bisa dibaca bergiliran oleh banyak orang, dibacakan di warung, didiskusikan di surau dan di sekolah, lalu dikutip dalam rapat organisasi. Di kota seperti Magelang, yang mempunyai sekolah, asrama militer, dan kantor pemerintah, peredaran surat kabar dari Semarang, Yogyakarta, dan Solo hampir pasti terjadi, karena kota kota itu adalah pusat penerbitan di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada masa itu. Namun artikel ini menegaskan batasnya di sini, yaitu peredaran koran dari kota lain di Magelang pada masa pergerakan adalah kesimpulan yang masuk akal dari letak geografis dan peran kota, bukan bukti tentang sebuah koran yang diterbitkan di Magelang pada masa itu. Sampai riset artikel ini selesai, tidak ditemukan sumber yang bisa dikutip tentang nama koran yang diterbitkan di Magelang pada masa kolonial beserta tahun terbitnya, sehingga artikel ini tidak menulis satu pun nama koran kolonial Magelang sebagai fakta. Bila di kemudian hari arsip perpustakaan, katalog Perpustakaan Nasional, atau koleksi museum menemukan nama itu, barulah nama itu layak ditulis.

Keterbatasan itu juga berlaku untuk masa pendudukan Jepang. Pada masa itu pers dijadikan alat propaganda, semua terbitan harus tunduk pada pemerintah pendudukan, dan banyak terbitan ditutup atau disensor. Untuk Magelang secara khusus, riset artikel ini tidak menemukan daftar terbitan lokal Magelang pada masa pendudukan Jepang yang bisa dikutip dengan nama dan tahun yang pasti. Karena itu artikel ini tidak mengarang daftar itu. Yang bisa dikatakan dengan aman adalah bahwa masa pendudukan Jepang adalah masa gelap bagi pers di seluruh Indonesia, dan Magelang tidak terkecuali dari suasana itu, tetapi rincian tentang terbitan Magelang pada masa itu masih menunggu penelusuran arsip yang lebih dalam.

Koran Magelang pada Masa Pergerakan dan Kemerdekaan

Masa kemerdekaan adalah masa ketika pers Indonesia berubah dari pers pergerakan menjadi pers nasional. Surat kabar tidak lagi hanya melawan penjajah, tetapi juga membantu membangun negara yang baru merdeka, menyebarkan kabar pemerintahan, mengabarkan jalannya revolusi, dan mendidik warga negara yang baru. Di Jawa Tengah, salah satu surat kabar yang lahir pada masa ini dan masih hidup sampai sekarang adalah Suara Merdeka. Menurut riwayatnya, Suara Merdeka didirikan oleh H. Hetami dan edisi pertamanya terbit pada 11 Februari 1950, mula mula sebagai surat kabar sore yang terbit di Solo, dengan cetakan pertama sebanyak 5.000 eksemplar, dibantu tiga reporter, yaitu HR. Wahjoedi, Soelaiman, dan Retno Koestiyah. Pada awalnya Suara Merdeka belum mempunyai mesin cetak sendiri sehingga menumpang di kantor De Locomotief, surat kabar Belanda di Semarang, lalu pada tahun 1956 berubah menjadi surat kabar pagi setelah H. Hetami mempunyai mesin cetak sendiri, dan kemudian berkantor di bekas kantor surat kabar Het Noorden yang dinasionalisasi pemerintah Indonesia pada bulan Maret 1963. Rincian itu dikutip di sini bukan untuk menceritakan Semarang, melainkan untuk menunjukkan betapa sulitnya menerbitkan koran pada masa itu, dari menumpang mesin cetak sampai mencari kantor, dan betapa besarnya perjuangan di balik satu nama koran yang kini terasa biasa saja.

Bagi Magelang, Suara Merdeka penting karena wilayah edarnya mencakup Jawa Tengah, termasuk wilayah Kedu yang di dalamnya ada Magelang. Situs Suara Merdeka pada hari ini masih mempunyai rubrik Kedu, yang menunjukkan bahwa wilayah ini tetap menjadi wilayah liputan yang diakui oleh koran yang berpusat di Semarang itu. Dengan kata lain, selama puluhan tahun, sebagian besar kabar Magelang yang dibaca warga dalam bentuk koran cetak kemungkinan besar datang lewat koran regional Jawa Tengah seperti Suara Merdeka, bukan lewat koran yang redaksinya berada di Magelang sendiri. Hal itu bukan aib, melainkan pola umum di Indonesia, di mana koran regional yang kuat dari ibu kota provinsi menjadi koran harian bagi banyak kabupaten dan kota di sekitarnya. Warga Magelang yang berlangganan koran pada masa itu mungkin membaca berita nasional dan berita Jawa Tengah di halaman depan, lalu mencari nama Magelang di halaman daerah, dan merasa kotanya diperhatikan bila namanya muncul di sana.

Pola itu juga menjelaskan mengapa sejarah koran Magelang tidak bisa ditulis hanya dari nama koran yang berpusat di Magelang. Sejarah koran yang dibaca warga Magelang adalah sejarah yang lebih luas, yaitu sejarah koran yang beredar di Magelang, baik yang diterbitkan di Magelang maupun yang diterbitkan di kota lain tetapi dibaca setiap hari di Magelang. Artikel ini memakai pengertian yang luas itu, tetapi tetap menjaga kejujurannya dengan menyebut pusat terbit setiap koran. Suara Merdeka disebut sebagai koran Semarang yang meliput Kedu, bukan sebagai koran Magelang. Jawa Pos disebut sebagai koran Surabaya yang jaringannya sampai ke Magelang, bukan sebagai koran Magelang. Hanya koran yang namanya sendiri memakai nama Magelang dan redaksinya meliput Magelang sebagai wilayah utamanya yang disebut sebagai koran Magelang dalam arti sempit, dan untuk kelompok itulah artikel ini memberi perhatian terbesar pada bagian berikutnya.

Pada masa awal kemerdekaan, Magelang juga mempunyai peran yang membuat kabarnya penting secara nasional. Kota ini adalah kota militer, dan peristiwa yang terjadi di kota militer pada masa revolusi dan pada masa sesudahnya hampir selalu menjadi berita nasional. Namun sekali lagi, pentingnya Magelang sebagai objek berita tidak sama dengan Magelang sebagai pusat penerbitan. Sebuah kota bisa sangat sering diberitakan tanpa mempunyai korannya sendiri, bila wartawan dari kota lain yang datang meliputnya. Karena itu artikel ini tidak menyimpulkan bahwa Magelang pasti mempunyai koran sendiri pada tahun tertentu hanya karena Magelang sering menjadi berita pada tahun itu. Kesimpulan semacam itu adalah lompatan logika, dan artikel ini menolak lompatan itu.

Koran Magelang pada Masa Orde Baru dan Reformasi

Masa Orde Baru adalah masa ketika pers Indonesia dikendalikan dengan ketat lewat izin terbit. Koran harus mempunyai Surat Izin Usaha Penerbitan Pers, dan izin itu bisa dicabut oleh pemerintah bila koran dinilai melanggar aturan. Sistem izin itu membuat jumlah koran terbatas, membuat koran besar semakin besar, dan membuat koran kecil sulit lahir dan sulit bertahan. Bagi kota seukuran Magelang, sistem itu berarti peluang untuk mempunyai koran harian sendiri menjadi sangat kecil, karena izin, modal percetakan, dan jaringan distribusi semuanya terkonsentrasi pada penerbit besar di ibu kota provinsi dan ibu kota negara. Warga Magelang pada masa Orde Baru kemungkinan besar membaca koran regional Jawa Tengah dan koran nasional, dengan kabar Magelang yang muncul sesekali di halaman daerah, bukan setiap hari di halaman utama.

Peristiwa yang paling diingat dari masa itu adalah pembredelan, yaitu pencabutan izin terbit koran yang dinilai kritis terhadap pemerintah. Pembredelan membuat wartawan dan pembaca sama sama belajar bahwa koran bisa hilang dalam semalam, bukan karena bangkrut, tetapi karena dicabut izinnya. Suasana itu membuat banyak orang berhati hati dalam menulis dan dalam membaca. Tajuk rencana menjadi lebih halus, kritik dibungkus dengan bahasa yang tidak langsung, dan kabar yang sensitif sering hanya beredar dari mulut ke mulut. Untuk sejarah koran Magelang, masa Orde Baru adalah masa yang paling sulit ditelusuri, karena koran yang tidak pernah mendapat izin tidak pernah terbit secara resmi, dan koran yang pernah terbit tetapi dicabut izinnya sering tidak meninggalkan arsip yang mudah ditemukan. Artikel ini tidak menulis daftar koran Magelang pada masa Orde Baru, karena daftar itu tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip.

Reformasi pada tahun 1998 mengubah keadaan itu secara mendasar. Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang diundangkan pada 23 September 1999, menegaskan kebebasan pers, menghapus sensor dan pembredelan, dan menghapus keharusan izin bagi perusahaan pers. Dalam kajian hukum tentang kebebasan pers sebelum dan sesudah reformasi, Undang Undang Pers yang lama, yaitu Undang Undang Nomor 11 Tahun 1966 yang diubah dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 1982, digambarkan sebagai aturan yang menjadi belenggu karena mewajibkan izin terbit yang bisa dipakai untuk mengendalikan isi redaksi dan untuk membredel, sedangkan Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 digambarkan sebagai jaminan kebebasan pers karena tidak ada lagi pembredelan dan tidak ada lagi keharusan memperbarui izin. Perubahan hukum itu membuka pintu bagi lahirnya banyak media baru di seluruh Indonesia, termasuk media lokal di kota kota seperti Magelang. Sejak saat itu, mendirikan media tidak lagi harus menunggu izin penguasa, tetapi harus bersaing di pasar pembaca dan pengiklan, dan persaingan itulah yang menentukan media mana yang bertahan dan media mana yang gugur.

Dampak reformasi terhadap koran Magelang terasa dalam dua arah yang berlawanan. Di satu sisi, kebebasan pers membuat media lokal lebih mudah lahir, karena siapa pun bisa menerbitkan koran atau situs berita tanpa takut dibredel. Di sisi lain, kebebasan itu datang bersamaan dengan perubahan teknologi yang justru mengancam koran cetak, yaitu internet dan media sosial. Koran lokal yang baru lahir pada era reformasi harus bersaing bukan hanya dengan koran besar, tetapi juga dengan situs berita gratis, grup percakapan, dan akun media sosial yang menyebarkan kabar lebih cepat dan tanpa biaya cetak. Karena itu sejarah koran Magelang pada era reformasi tidak bisa dipisahkan dari sejarah media daring Magelang, dan bagian berikutnya akan menguraikan keduanya secara berurutan, mulai dari koran cetak yang namanya paling dikenal di Magelang sampai ke media daring yang meneruskan peran itu.

Radar Magelang dan Jaringan Koran Daerah

Nama koran Magelang yang paling dikenal oleh pembaca pada dua dekade terakhir adalah Radar Magelang. Bukti keberadaannya sangat kuat dan mudah dilacak, karena nama itu muncul sebagai sumber dalam berbagai tulisan ilmiah dan pemberitaan selama lebih dari dua dekade. Sebuah tulisan yang membahas insiden Kaloran dan ketakutan terhadap komunisme mencatat laporan Radar Magelang pada 13 April 2001, dan sebuah jurnal pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta mengutip tulisan Agus Subagyo yang dimuat di Radar Magelang pada 28 Januari 2002. Dua kutipan itu saja sudah cukup untuk memastikan bahwa Radar Magelang sudah terbit dan dibaca pada awal tahun 2000-an, yaitu pada masa awal reformasi, ketika banyak media baru lahir dan koran daerah mulai menguat. Pada tahun 2024, Radar Magelang masih muncul sebagai sumber dalam daftar pustaka karya ilmiah, misalnya dalam pemberitaan tentang kasus demam berdarah di Wonosobo pada bulan Maret 2024, dan pada tahun 2025 masih muncul sebagai sumber pemberitaan tentang Festival Lima Gunung di Magelang. Jejak yang membentang dari tahun 2001 sampai tahun 2025 itu menunjukkan koran yang bertahan lama, bukan terbitan sesaat.

Radar Magelang adalah bagian dari jaringan Jawa Pos, dan dalam berbagai kutipan ia disebut dengan nama Jawa Pos Radar Magelang. Jaringan itu penting untuk dipahami, karena ia menjelaskan bagaimana koran daerah bisa bertahan. Jawa Pos sendiri adalah koran harian yang berpusat di Surabaya, didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949, dan kemudian berkembang menjadi jaringan koran daerah terbesar di Indonesia di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan setelah tahun 1982, ketika koran yang hampir bangkrut itu dibeli oleh PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo. Model jaringan itu bekerja dengan cara membagi wilayah, yaitu koran induk di Surabaya memberi dukungan modal, teknologi cetak, dan jaringan berita nasional, sedangkan koran daerah seperti Radar Magelang memberi liputan lokal yang tidak bisa diberikan oleh koran induk. Model itu memungkinkan koran daerah mempunyai halaman lokal yang tebal, wartawan yang tinggal di wilayah edarnya, dan pengiklan lokal yang memasang iklan di halaman yang dibaca tetangganya sendiri.

Pada hari ini, Radar Magelang dapat dibaca lewat situsnya di radarmagelang.jawapos.com, yang masih aktif dan memuat berita Magelang dan wilayah sekitarnya. Situs itu adalah bukti paling mudah yang bisa diperiksa oleh siapa pun, karena cukup dibuka dari gawai, maka pembaca akan melihat sendiri bahwa Radar Magelang masih memberitakan Magelang pada tahun 2026. Namun artikel ini menegaskan satu batas penting, yaitu tahun berdirinya Radar Magelang secara persis tidak ditulis di sini, karena sumber yang bisa dikutip tentang tanggal pendirian itu tidak ditemukan dalam riset ini. Kutipan tertua yang ditemukan adalah tahun 2001, tetapi kutipan tertua bukan sama dengan tahun berdiri, karena sebuah koran bisa saja sudah terbit bertahun tahun sebelum ia dikutip dalam tulisan ilmiah. Menulis tahun 2001 sebagai tahun berdiri hanya karena itulah kutipan tertua yang ditemukan adalah kesalahan yang harus dihindari, dan artikel ini memilih untuk menulis bahwa Radar Magelang sudah terverifikasi terbit pada tahun 2001, tanpa mengklaim tahun berdirinya.

Hal yang sama berlaku untuk angka oplah Radar Magelang. Artikel ini tidak menulis angka oplah, jumlah eksemplar yang dicetak setiap hari, atau jumlah pembaca Radar Magelang, karena angka itu tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip. Angka oplah adalah data bisnis yang sering tidak dipublikasikan, dan menebaknya dari ramainya situs atau dari banyaknya kutipan adalah cara yang tidak bertanggung jawab. Yang bisa dikatakan adalah bahwa Radar Magelang bertahan dari era koran cetak sampai era daring, dan bertahan selama lebih dari dua dekade adalah prestasi yang tidak kecil di tengah banyaknya koran daerah yang gugur. Bertahan bukan hanya soal modal, tetapi juga soal kepercayaan pembaca, karena pembaca yang kecewa akan berhenti membeli, dan pengiklan yang kecewa akan berhenti memasang iklan.

Peran Radar Magelang bagi Magelang juga patut dipahami lewat isinya, bukan hanya lewat namanya. Koran daerah seperti Radar Magelang memberitakan hal hal yang tidak akan diberitakan koran nasional, misalnya hasil rapat pemerintah kabupaten, keluhan warga tentang jalan rusak di satu kecamatan, prestasi siswa di satu sekolah, dan jadwal pertunjukan kesenian di satu desa. Kabar semacam itu mungkin terasa kecil bila dibaca dari Jakarta, tetapi sangat besar bila dibaca oleh warga yang jalannya rusak, anaknya berprestasi, atau desanya mengadakan pertunjukan. Di sinilah koran lokal membuktikan nilainya, yaitu ia membuat warga merasa kotanya diperhatikan, bukan hanya menjadi nama di peta. Pengunjung yang ingin memahami Magelang lewat korannya, bukan hanya lewat brosur wisatanya, akan menemukan Magelang yang lebih hidup di halaman koran daerah daripada di halaman koran nasional.

Magelang Ekspres dan Media Daring Lokal

Nama kedua yang terverifikasi kuat sebagai media Magelang adalah Magelang Ekspres. Bukti keberadaannya juga mudah dilacak, karena nama itu muncul sebagai sumber dalam tulisan ilmiah dan pemberitaan. Sebuah jurnal hukum dari Universitas Muhammadiyah Magelang mengutip berita Magelang Ekspres pada tahun 2021 tentang sebuah kasus di Magelang, dengan alamat situs magelangekspres.com pada waktu itu. Pada tahun 2025, Magelang Ekspres masih muncul sebagai sumber dalam daftar pustaka karya ilmiah, misalnya dalam pemberitaan tentang kunjungan ke Candi Borobudur yang turun sampai 30 persen karena pembatasan, dengan alamat situs magelangekspres.disway.id pada waktu itu. Perpindahan alamat dari magelangekspres.com ke magelangekspres.disway.id itu sendiri adalah cerita tentang perubahan media di Indonesia, yaitu media lokal yang bergabung dengan jaringan yang lebih besar, dalam hal ini jaringan Disway yang terkait dengan Dahlan Iskan, tokoh yang juga membesarkan Jawa Pos. Pada hari ini, situs Magelang Ekspres di magelangekspres.disway.id masih aktif dan dapat dibuka, dan ia memuat berita Magelang dan kabupaten sekitarnya.

Sebagaimana Radar Magelang, tahun berdirinya Magelang Ekspres secara persis tidak ditulis di sini, karena sumber yang bisa dikutip tentang tanggal pendirian itu tidak ditemukan dalam riset ini. Kutipan tertua yang ditemukan adalah tahun 2021, tetapi sekali lagi, kutipan tertua bukan sama dengan tahun berdiri. Sebuah dokumen lama tentang jaringan Jawa Pos memang pernah mencantumkan nama Magelang Ekspres di antara puluhan koran dalam jaringan itu, tetapi dokumen itu tidak memberi tanggal pendirian Magelang Ekspres, sehingga ia hanya bisa dipakai sebagai bukti bahwa nama itu sudah dikenal dalam jaringan koran daerah, bukan sebagai bukti tahun lahirnya. Artikel ini juga tidak menulis angka oplah Magelang Ekspres, karena angka itu tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip. Kejujuran tentang dua hal itu, yaitu tahun berdiri dan oplah, berlaku untuk semua media dalam artikel ini, dan pembaca berhak tahu bahwa artikel ini tidak menutupi kekosongan itu dengan tebakan.

Magelang Ekspres penting bukan hanya karena namanya memakai nama Magelang, tetapi karena ia menunjukkan perubahan bentuk media lokal dari koran cetak menjadi media daring. Pada masa awalnya, media dengan nama Ekspres di banyak daerah di Indonesia adalah koran cetak harian yang terbit di daerah, dengan nama daerah di depannya, misalnya Padang Ekspres, Palembang Ekspres, dan Magelang Ekspres. Pola penamaan itu adalah pola jaringan koran daerah, di mana satu merek dipakai di banyak kota dengan redaksi lokal di setiap kota. Pada era daring, merek itu pindah ke situs berita, dengan alamat yang memakai nama jaringan, seperti disway.id, tetapi isi beritanya tetap lokal. Perubahan itu adalah perubahan yang wajar, karena pembaca sudah berpindah dari kios koran ke gawai, dan media yang tidak berpindah akan kehilangan pembacanya.

Di samping Radar Magelang dan Magelang Ekspres, ada pula media yang memberitakan Magelang tetapi tidak bisa disebut sebagai media yang bermarkas di Magelang. Contoh yang paling jelas adalah BorobudurNews, situs berita dengan semboyan More Than Information di borobudurnews.com yang masih aktif pada hari ini dan sering memberitakan Borobudur dan Magelang. Namun bukti yang tersedia menunjukkan bahwa BorobudurNews dikelola oleh PT Borobudur Media Group yang alamatnya tercatat di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan di Magelang. Karena itu artikel ini tidak memasukkan BorobudurNews ke dalam daftar media yang bermarkas di Magelang, meskipun ia memberitakan Magelang. Perbedaan itu penting, karena media yang bermarkas di suatu kota dan media yang memberitakan suatu kota adalah dua hal yang berbeda. Media yang bermarkas di Magelang mempunyai wartawan yang tinggal di Magelang, kantor yang bisa didatangi warga Magelang, dan pengiklan yang usahanya ada di Magelang, sedangkan media yang hanya memberitakan Magelang bisa saja redaksinya berada di kota lain.

Contoh lain adalah Suara Merdeka dan koran nasional seperti Kompas, yang memberitakan Magelang tetapi berpusat di Semarang dan Jakarta. Media semacam itu tetap penting bagi warga Magelang, karena ia memberi kabar nasional dan regional yang tidak bisa diberikan oleh media lokal saja, tetapi ia tidak menggantikan media lokal. Hubungan antara media lokal dan media regional atau nasional adalah hubungan pelengkap, bukan hubungan pengganti. Media lokal memberi kedalaman tentang satu kota, media regional memberi keluasan tentang satu provinsi, dan media nasional memberi keluasan tentang satu negara. Warga yang hanya membaca media nasional akan tahu tentang Indonesia tetapi tidak tahu tentang jalan di kecamatannya, sedangkan warga yang hanya membaca media lokal akan tahu tentang kecamatannya tetapi tidak tahu tentang kebijakan nasional yang memengaruhi kecamatannya. Keduanya dibutuhkan.

Koran Magelang yang Beredar dari Semarang dan Yogyakarta

Untuk memahami koran Magelang secara utuh, pembaca perlu memahami peta pers Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena Magelang berada di antara tiga pusat penerbitan besar, yaitu Semarang di utara, Yogyakarta di selatan, dan Solo di timur. Ketiga kota itu mempunyai koran yang kuat, percetakan yang besar, dan jaringan distribusi yang sampai ke Magelang. Koran dari Semarang, seperti Suara Merdeka, membawa kabar Jawa Tengah ke Magelang setiap pagi. Koran dari Yogyakarta membawa kabar Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk kabar tentang Borobudur yang secara administratif berada di Magelang tetapi secara budaya dan pariwisata sangat lekat dengan Yogyakarta. Koran dari Solo membawa kabar Jawa Tengah bagian timur dan budaya Jawa yang juga hidup di Magelang. Warga Magelang yang berlangganan koran pada masa cetak mungkin berlangganan lebih dari satu koran, satu untuk kabar daerahnya dan satu untuk kabar nasionalnya, atau satu untuk kabar pagi dan satu untuk kabar sore.

Peta itu juga menjelaskan mengapa gedung percetakan dan toko buku di Magelang sering menjadi tempat bertemunya pembaca dari berbagai latar belakang. Di toko buku dan di kios koran, pembaca bisa membandingkan bagaimana satu peristiwa yang sama diberitakan oleh koran yang berbeda, dengan sudut pandang yang berbeda, dan dengan pilihan kata yang berbeda. Perbandingan itu adalah pendidikan media yang paling dasar, yaitu belajar bahwa satu peristiwa bisa diceritakan dengan banyak cara, dan bahwa pembaca harus membaca lebih dari satu sumber sebelum menyimpulkan. Di era media sosial, pendidikan semacam itu semakin penting, karena kabar kini datang bukan hanya dari koran, tetapi juga dari tangkapan layar, video pendek, dan pesan berantai yang sumbernya sering tidak jelas. Kebiasaan lama membaca koran, yaitu membaca judul, membaca isi, memeriksa sumber, dan membandingkan dengan koran lain, adalah kebiasaan yang masih sangat berguna pada hari ini.

Gedung gedung tua di Magelang juga menjadi saksi bisu dari era koran cetak itu. Bangunan kantor pemerintah, sekolah lama, dan rumah tinggal bergaya kolonial yang masih berdiri di pusat kota adalah tempat tempat di mana koran pernah dibaca, didiskusikan, dan disimpan. Gambaran tentang bangunan bangunan itu dapat dibaca pada gedung tua di Magelang yang sudah tayang di portal ini, dan museum di Magelang yang menyimpan benda benda sejarah kota ini. Koran lama, bila masih tersimpan di perpustakaan atau di museum, adalah arsip yang sangat berharga, karena ia merekam harga barang, nama pejabat, jadwal pertunjukan, dan iklan usaha pada zamannya, hal hal kecil yang tidak akan dicatat oleh buku sejarah besar. Sayangnya, arsip koran lokal sering tidak tersimpan dengan baik, karena kertas koran mudah rusak, mudah dimakan rayap, dan sering dibuang setelah dibaca. Karena itu penelusuran arsip koran Magelang pada masa depan sangat membutuhkan kerja sama antara perpustakaan, museum, dan warga yang masih menyimpan koran lama di rumahnya.

Dari Kios Koran ke Layar Gawai

Perubahan terbesar dalam sejarah koran Magelang terjadi pada dua dekade terakhir, ketika pembaca berpindah dari kios koran ke layar gawai. Pada masa koran cetak, pembaca harus pergi ke kios, membayar dengan uang tunai, dan membawa pulang selembar kertas yang beratnya terasa di tangan. Pada masa daring, pembaca cukup membuka gawai, mengetuk tautan, dan membaca berita dalam hitungan detik, tanpa membayar per eksemplar, tetapi dengan membayar lewat kuota internet dan dengan melihat iklan di layar. Perubahan itu mengubah ekonomi media secara mendasar, karena pendapatan dari penjualan eksemplar hilang, dan pendapatan dari iklan berpindah dari halaman koran ke layar situs dan media sosial. Media yang berhasil beradaptasi adalah media yang berhasil mengubah pembaca koran menjadi pengunjung situs, dan pengunjung situs menjadi pembaca setia yang kembali setiap hari.

Perubahan itu juga mengubah cara wartawan bekerja. Wartawan koran cetak mempunyai tenggat satu kali sehari, yaitu tenggat naik cetak pada malam hari, sehingga ia mempunyai waktu seharian untuk memeriksa fakta, mewawancarai narasumber, dan menulis dengan tenang. Wartawan media daring mempunyai tenggat setiap menit, karena berita harus tayang secepat mungkin sebelum pesaing menayangkannya, sehingga ia harus bekerja lebih cepat, tetapi juga lebih rentan terhadap kesalahan. Kecepatan itu adalah berkah dan kutukan sekaligus, berkah karena kabar penting bisa sampai ke warga dalam hitungan menit, kutukan karena kabar yang belum diperiksa bisa menyebar lebih cepat daripada koreksinya. Untuk pembaca Magelang, perubahan itu berarti kabar tentang kecelakaan, bencana, atau pengumuman pemerintah kini bisa dibaca jauh lebih cepat daripada masa koran cetak, tetapi pembaca juga harus lebih waspada terhadap kabar yang belum terverifikasi.

Di tengah perubahan itu, radio dan koran ternyata mempunyai nasib yang mirip. Sebagaimana diuraikan pada Radio Magelang dari masa ke masa yang sudah tayang di portal ini, stasiun radio Magelang yang tercatat pada tahun 2020 harus beradaptasi dengan siaran daring dan media sosial, dan sebagian namanya masih hidup di ruang digital meskipun frekuensi FM-nya belum tentu sama. Koran Magelang mengalami hal yang sama, yaitu namanya masih hidup di situs berita, meskipun bentuk cetaknya mungkin sudah berubah atau sudah berhenti. Kemiripan itu menunjukkan bahwa perubahan media bukan hanya soal koran atau radio, melainkan soal seluruh cara warga mendapatkan kabar, dari media yang dibeli menjadi media yang diakses, dari media yang dijadwalkan menjadi media yang selalu tersedia.

Bioskop di Magelang juga mengalami perubahan yang mirip, dari gedung pertunjukan yang harus didatangi menjadi layanan yang bisa diakses dari rumah, dan gambaran tentang perubahan itu dapat dibaca pada bioskop di Magelang yang sudah tayang di portal ini. Perbandingan antara koran, radio, dan bioskop itu penting, karena ia menunjukkan bahwa media lokal bukan hanya soal teknologi, tetapi soal kebiasaan warga. Warga yang dulu pergi ke kios koran pada pagi hari, menyalakan radio pada siang hari, dan pergi ke bioskop pada malam hari, kini melakukan ketiganya dari gawai yang sama, di tempat yang sama, dan pada waktu yang sama. Media lokal yang bertahan adalah media yang berhasil masuk ke dalam kebiasaan baru itu, bukan media yang hanya merindukan kebiasaan lama.

Pada hari ini, koran Magelang dalam arti luas masih hidup dalam tiga bentuk sekaligus. Bentuk pertama adalah situs berita dari jaringan koran daerah, seperti Radar Magelang dan Magelang Ekspres, yang meneruskan merek koran cetak ke dalam bentuk daring. Bentuk kedua adalah situs berita regional dan nasional, seperti Suara Merdeka, yang tetap meliput Magelang lewat rubrik Kedu dan rubrik daerahnya. Bentuk ketiga adalah portal berita lokal yang lahir langsung sebagai media daring, termasuk portal ini sendiri, KabarTidar, yang memberitakan Kota Magelang dan Kabupaten Magelang tanpa pernah menjadi koran cetak. Ketiga bentuk itu saling melengkapi, dan warga Magelang yang ingin memahami kotanya secara utuh sebaiknya membaca ketiganya, bukan hanya satu. Membaca satu media saja sama dengan mendengarkan satu saksi saja, sedangkan membaca banyak media sama dengan mendengarkan banyak saksi, dan kebenaran biasanya terletak di antara kesaksian yang saling melengkapi itu.

Yang Belum Terverifikasi, Sebuah Catatan Kejujuran

Bagian ini sengaja ditulis sebagai catatan kejujuran, bukan sebagai daftar, karena riset artikel ini tidak menemukan beberapa hal yang sebenarnya sangat ingin ditulis. Pertama, nama koran yang diterbitkan di Magelang pada masa kolonial beserta tahun terbitnya tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip. Kedua, nama koran yang diterbitkan di Magelang pada masa pendudukan Jepang beserta tahun terbitnya juga tidak ditemukan. Ketiga, tahun berdirinya Radar Magelang secara persis tidak ditemukan, meskipun bukti bahwa ia sudah terbit pada tahun 2001 sangat kuat. Keempat, tahun berdirinya Magelang Ekspres secara persis juga tidak ditemukan, meskipun bukti bahwa ia sudah terbit pada tahun 2021 sangat kuat. Kelima, angka oplah, jumlah eksemplar, dan jumlah pembaca untuk koran Magelang mana pun tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip, sehingga artikel ini tidak menulis satu pun angka oplah untuk koran Magelang. Keenam, daftar koran Magelang yang sudah tutup beserta tahun tutupnya tidak ditemukan, sehingga artikel ini tidak menyebut satu pun koran Magelang sebagai koran yang sudah tutup dengan tahun tertentu.

Kekosongan itu bukan berarti koran semacam itu tidak pernah ada. Sangat mungkin Magelang pernah mempunyai terbitan lokal pada masa kolonial, pada masa kemerdekaan, dan pada masa Orde Baru, yang namanya kini hanya tersimpan di arsip perpustakaan, di katalog lelang buku lama, atau di ingatan warga yang sudah lanjut usia. Namun kemungkinan bukan bukti, dan artikel ini menolak mengubah kemungkinan menjadi fakta. Bila pembaca mempunyai arsip koran lama Magelang, foto kios koran lama, atau potongan koran dengan nama dan tanggal yang jelas, arsip itu sangat berharga untuk melengkapi sejarah ini, dan redaksi portal ini tentu akan menyambut bukti semacam itu dengan tangan terbuka. Sejarah pers lokal memang paling lengkap bila ditulis bersama oleh warga yang pernah membacanya, bukan hanya oleh penulis yang duduk di depan layar.

Pengunjung juga perlu waspada terhadap daftar koran yang beredar di internet tanpa sumber yang jelas. Banyak situs daftar koran yang menyalin satu sama lain tanpa memeriksa, sehingga koran yang sudah lama berhenti masih tercantum sebagai koran aktif, koran dari kota lain masih tercantum sebagai koran Magelang, dan tahun berdiri yang ditebak masih tercantum sebagai fakta. Cara paling aman untuk memeriksa sebuah koran adalah membuka situsnya sendiri, memeriksa apakah situs itu masih diperbarui, memeriksa alamat redaksinya, dan memeriksa apakah namanya muncul sebagai sumber dalam tulisan yang bisa dilacak. Bila sebuah koran hanya muncul dalam satu daftar tanpa satu pun kutipan yang bisa dilacak, maka koran itu patut diragukan, bukan langsung dipercaya.

Artikel ini juga tidak mengklaim bahwa semua koran yang disebut di sini masih terbit dalam bentuk cetak pada tahun 2026. Radar Magelang dan Magelang Ekspres dipastikan masih mempunyai situs yang aktif pada tahun 2026, tetapi bentuk cetaknya pada hari ini tidak dipastikan di sini, karena informasi tentang cetak dan distribusi pada hari ini tidak ditemukan dalam sumber yang bisa dikutip. Perbedaan antara situs yang aktif dan koran cetak yang masih terbit adalah perbedaan yang penting, karena banyak koran daerah yang sudah berhenti mencetak tetapi masih memberitakan lewat situsnya, dan banyak pula situs berita yang memakai nama koran lama tetapi tidak lagi mencetak. Artikel ini menyebut keduanya sebagai media yang aktif secara daring, bukan sebagai koran cetak yang masih terbit, kecuali bila ada bukti cetaknya.

Cara Membaca Koran Magelang Hari Ini

Bagi pembaca yang ingin membaca koran Magelang hari ini, langkah pertama adalah membuka situs Radar Magelang dan situs Magelang Ekspres, lalu membandingkan bagaimana kedua media itu memberitakan peristiwa yang sama di Magelang. Perbandingan itu akan menunjukkan perbedaan sudut pandang, perbedaan pilihan foto, dan perbedaan narasumber, dan dari perbedaan itu pembaca bisa menilai sendiri media mana yang lebih lengkap dan media mana yang lebih cepat. Langkah kedua adalah membaca pula situs Suara Merdeka, khususnya rubrik Kedu, untuk melihat bagaimana Magelang diberitakan dari sudut pandang regional Jawa Tengah. Langkah ketiga adalah membaca portal berita lokal yang lahir sebagai media daring, termasuk portal ini, untuk melihat kabar Magelang yang ditulis oleh redaksi yang memang tinggal di Magelang.

Langkah keempat adalah memeriksa sumber dari setiap kabar yang dibaca, terutama kabar yang dibagikan lewat media sosial. Bila sebuah kabar hanya berupa tangkapan layar tanpa tautan ke situs berita, tanpa nama penulis, dan tanpa tanggal yang jelas, maka kabar itu patut diragukan, bukan langsung dibagikan. Bila sebuah kabar berasal dari situs berita yang jelas, dengan nama penulis, tanggal terbit, dan narasumber yang disebut namanya, maka kabar itu lebih layak dipercaya, meskipun tetap harus dibandingkan dengan sumber lain. Kebiasaan memeriksa sumber itu adalah warisan terbaik dari era koran cetak, karena koran cetak selalu mencantumkan nama, tanggal, dan sumbernya di halaman yang bisa disimpan dan ditunjukkan kepada orang lain, sedangkan kabar media sosial sering datang tanpa jejak yang bisa ditunjukkan.

Akhirnya, koran Magelang layak dikenang bukan hanya sebagai tumpukan kertas, tetapi sebagai bukti bahwa warga Magelang selalu ingin tahu tentang kotanya sendiri. Dari surat kabar berbahasa Belanda pada tahun 1744 yang hanya dibaca kalangan Eropa, dari Medan Prijaji pada tahun 1907 yang menjadi suara pribumi, dari Suara Merdeka pada 11 Februari 1950 yang lahir dari perjuangan mencari mesin cetak, dari Radar Magelang yang sudah terverifikasi terbit pada tahun 2001, dari Magelang Ekspres yang sudah terverifikasi terbit pada tahun 2021, sampai ke situs berita yang dibaca dari gawai pada hari ini, benang merahnya tetap sama, yaitu kabar lokal adalah kebutuhan warga, bukan kemewahan. Selama ada warga Magelang yang ingin tahu apa yang terjadi di jalan, di pasar, di sekolah, dan di kantor pemerintah di kotanya, selama itu pula koran Magelang, dalam bentuk apa pun, akan tetap mempunyai alasan untuk terbit. Daftar sumber yang dipakai artikel ini dapat ditelusuri pada catatan riset yang menyertai draf ini, dan gambaran umum tentang Jawa Pos serta Suara Merdeka dapat dibaca pada riwayat Jawa Pos dan riwayat Suara Merdeka, sedangkan dasar hukum kebebasan pers pasca reformasi dapat dibaca pada kajian Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *