Madrasah Diniyah dan TPQ: Pendidikan Agama Akar Rumput di Magelang
Pendidikan agama sore hari di Magelang hidup dari guru ngaji, orang tua, dan komunitas — bukan dari gedung megah, melainkan dari ketekunan yang dijaga setiap sore.

Madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Magelang adalah pendidikan agama akar rumput yang tumbuh dari masjid, musala, dan rumah warga, lalu berjalan berdampingan dengan sekolah formal. Anak-anak yang pagi hingga siang belajar di sekolah dasar atau menengah, pada sore hari sering melanjutkan belajar di madrasah diniyah atau TPQ di kampungnya. Di sana mereka belajar membaca Al-Qur’an, menghafal surah-surah pendek, memahami dasar-dasar ibadah, dan mengenal akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran lembaga-lembaga ini sudah begitu melekat sehingga bagi banyak keluarga di Kota dan Kabupaten Magelang, pendidikan agama sore hari bukan lagi kegiatan tambahan, melainkan bagian dari ritme keluarga itu sendiri.
Artikel ini menjelaskan apa itu madrasah diniyah dan TPQ, bagaimana keduanya berbeda, siapa yang mengajar dan membiayainya, serta tantangan apa yang dihadapi lembaga-lembaga tersebut di Magelang. Artikel ini tidak memuat daftar alamat lengkap, jumlah lembaga, atau besaran insentif guru di Magelang, karena angka-angka itu tidak terverifikasi dari sumber yang dapat dikutip dalam penulisan draf ini. Pembaca yang membutuhkan data mutakhir disarankan menghubungi Kantor Kementerian Agama setempat atau pengurus lembaga yang bersangkutan. Kejujuran tentang batas data ini penting, sebab daftar yang dikarang justru dapat menyesatkan orang tua yang sedang mencari tempat belajar bagi anaknya.
Secara nasional, madrasah diniyah dan TPQ berada dalam pembinaan Kementerian Agama. Madrasah diniyah takmiliyah dikenal sebagai pendidikan diniyah pelengkap yang memperdalam agama Islam di luar jalur pendidikan formal, sementara TPQ, yang dalam nomenklatur Kementerian Agama juga disebut Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), berfokus pada pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak, terutama kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Jurnal ilmiah tentang pendidikan diniyah mencatat bahwa madrasah diniyah memiliki jenjang, antara lain madrasah diniyah ula atau awaliyah untuk tingkat dasar, dan perkembangannya telah mendapat pengakuan pemerintah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Pengakuan itu penting karena menempatkan lembaga komunitas ini bukan sebagai kegiatan pinggiran, melainkan sebagai unsur pendidikan yang sah dan dilindungi.
Di Magelang, jejak lembaga ini dapat dilihat dari contoh yang terdokumentasi dalam pengabdian masyarakat perguruan tinggi, antara lain TPQ Al-Ikhlas di Dusun Banar, Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Laporan pengabdian itu mencatat peran TPQ dalam meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an dan pengkajian kitab fikih pada anak, sekaligus kendala yang umum dihadapi TPQ: keterbatasan sarana prasarana dan kekurangan tenaga pengajar. Temuan itu selaras dengan gambaran umum pendidikan diniyah di banyak daerah, yakni lembaga yang kuat karena dukungan warga, tetapi rapuh dalam hal sumber daya. Satu TPQ dapat menjadi bukti nyata bahwa pendidikan agama tidak selalu membutuhkan gedung megah; ia membutuhkan guru yang tekun, orang tua yang peduli, dan komunitas yang menjaga keberlanjutannya.
Madrasah diniyah dan TPQ di Magelang: apa bedanya
Perbedaan paling dasar antara madrasah diniyah dan TPQ terletak pada cakupan materinya. TPQ berpusat pada Al-Qur’an: anak belajar mengenal huruf hijaiyah, melafalkan dengan tajwid yang benar, menghafal surah-surah pendek, dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an secara rutin. Metode yang dipakai dapat berbeda-beda antarlembaga, tetapi tujuannya sama, yaitu anak mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan benar. Sementara itu, madrasah diniyah memiliki cakupan yang lebih luas. Selain membaca Al-Qur’an, santri madrasah diniyah belajar akidah, fikih, hadis, sejarah Islam, dan akhlak, dengan porsi yang disesuaikan dengan jenjangnya. Karena itu, seorang anak dapat mengikuti keduanya sekaligus: TPQ untuk menguatkan bacaan Al-Qur’an, dan madrasah diniyah untuk memperdalam pemahaman agama secara lebih sistematis.
Perbedaan kedua terletak pada jenjang dan kurikulumnya. Menurut literatur pendidikan diniyah, madrasah diniyah memiliki jenjang ula untuk tingkat dasar, wustha untuk tingkat menengah, dan ulya untuk tingkat atas, yang masing-masing dirancang mengikuti perkembangan usia dan kemampuan santri. TPQ umumnya melayani anak usia dini hingga anak sekolah dasar, meskipun tidak ada batas usia yang kaku, karena banyak remaja dan orang dewasa yang juga belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an di TPQ. Perbedaan ini membuat keduanya saling melengkapi, bukan saling bersaing. Orang tua yang memahami perbedaan ini dapat memilih dengan lebih tepat: untuk anak yang baru belajar membaca Al-Qur’an, TPQ adalah pintu masuk yang paling ramah; untuk anak yang sudah lancar membaca dan ingin memperdalam ilmu agama, madrasah diniyah adalah jenjang berikutnya.
Perbedaan ketiga adalah kedekatan dengan struktur formal. Madrasah diniyah takmiliyah diselenggarakan sebagai pendidikan pelengkap, sehingga santri tetap bersekolah di jalur formal pada pagi atau siang hari, lalu belajar agama pada sore hari. Model ini sudah lama berjalan di Indonesia dan memungkinkan anak memperoleh dua hal sekaligus: ijazah formal dan bekal agama. TPQ bahkan lebih fleksibel lagi, karena waktu belajarnya sering disesuaikan dengan kesepakatan pengelola dan orang tua, misalnya setelah Ashar atau setelah Magrib. Fleksibilitas ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan, sebab tanpa jadwal yang konsisten, kehadiran santri mudah goyah oleh kesibukan keluarga dan kegiatan lain.
Di Magelang, kedua jenis lembaga ini umumnya diselenggarakan oleh masyarakat, yayasan, takmir masjid, atau organisasi keagamaan. Pemerintah, melalui Kementerian Agama, melakukan pembinaan, pendataan, dan dalam beberapa program memberikan insentif atau bantuan, tetapi penyelenggaraan sehari-hari tetap berada di tangan komunitas. Model ini menjelaskan mengapa mutu antarlembaga dapat sangat bervariasi: lembaga yang pengurusnya aktif dan gurunya terlatih dapat berkembang pesat, sementara lembaga yang pengurusnya pasif dapat berjalan seadanya. Variasi ini bukan alasan untuk meremehkan lembaga kecil; justru lembaga kecil yang dikelola dengan sungguh-sungguh sering menjadi tempat paling hangat bagi anak untuk belajar agama.
Siapa yang mengajar di madrasah diniyah dan TPQ
Guru madrasah diniyah dan TPQ, yang sering disebut ustaz, ustazah, atau guru ngaji, umumnya berasal dari komunitas setempat. Sebagian adalah lulusan pesantren atau madrasah, sebagian adalah guru sekolah formal yang mengajar tambahan pada sore hari, dan sebagian lagi adalah warga yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan terpanggil untuk mengajar. Latar belakang yang beragam ini adalah kekayaan sekaligus pekerjaan rumah. Kekayaannya adalah kedekatan guru dengan santri dan keluarga, sehingga pembelajaran terasa personal dan penuh perhatian. Pekerjaan rumahnya adalah kebutuhan pelatihan yang berkelanjutan, terutama dalam metode mengajar anak, tajwid, dan pengelolaan kelas.
Laporan pengabdian di TPQ Al-Ikhlas, Deyangan, Mertoyudan, mencatat secara terbuka bahwa kekurangan tenaga pengajar dan minimnya pelatihan kreativitas mengajar menjadi masalah nyata, dan bahwa program pengabdian yang memperkenalkan metode mengajar yang lebih interaktif serta pembentukan kelompok dukungan orang tua membawa perbaikan dalam pengelolaan TPQ tersebut. Pengalaman itu mengandung pelajaran yang dapat digeneralisasi dengan hati-hati: pelatihan guru dan keterlibatan orang tua adalah dua tuas perbaikan yang paling mungkin dilakukan tanpa menunggu anggaran besar. Sebuah TPQ tidak selalu membutuhkan gedung baru untuk menjadi lebih baik; ia membutuhkan guru yang mendapat kesempatan belajar metode baru dan orang tua yang hadir mendukung.
Kesejahteraan guru ngaji adalah isu yang berulang dalam pembahasan pendidikan diniyah di Indonesia. Literatur pendidikan Islam mencatat bahwa pendanaan pendidikan, termasuk madrasah diniyah dan TPQ, secara normatif menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, tetapi dalam praktiknya banyak lembaga masih mengandalkan swadaya masyarakat. Di beberapa daerah, pemerintah daerah memberikan insentif kepada guru madrasah diniyah dan LPQ, tetapi besaran dan cakupannya berbeda-beda antar daerah dan antar tahun anggaran. Karena itu, artikel ini tidak mencantumkan angka insentif untuk Magelang: angka yang berlaku di satu daerah tidak boleh dipindahkan begitu saja ke daerah lain, dan angka lama tidak boleh disajikan sebagai angka yang berlaku saat ini.
Meski demikian, penting untuk memahami bahwa banyak guru ngaji mengajar dengan imbalan yang jauh dari memadai bila diukur dengan standar upah formal, dan tetap bertahan karena panggilan dan penghargaan komunitas. Penghargaan itu nyata dalam bentuk penghormatan warga, bantuan sembako pada hari besar, atau dukungan untuk kegiatan lembaga, tetapi penghargaan sosial tidak menggantikan kebutuhan ekonomi. Diskusi yang jujur tentang kesejahteraan guru diniyah perlu memisahkan dua hal: apresiasi atas ketulusan guru, dan tanggung jawab kelembagaan untuk memperbaiki insentif, pelatihan, dan status mereka. Keduanya harus berjalan bersama, sebab ketulusan tanpa dukungan kelembagaan akan habis terkikis oleh waktu.
Bagaimana pembelajaran sore hari itu berjalan
Hari belajar di TPQ dan madrasah diniyah biasanya dimulai pada sore hari, setelah anak pulang dari sekolah formal. Anak-anak datang dengan seragam sekolah yang sudah berganti, atau dengan pakaian biasa, membawa buku dan Al-Qur’an kecil. Pembelajaran dibuka dengan doa, dilanjutkan dengan setoran bacaan secara bergiliran, sementara anak lain mengerjakan latihan menulis huruf atau menghafal. Guru berkeliling, menyimak satu per satu, membetulkan makhraj dan panjang pendek bacaan, dan memberi semangat kepada anak yang masih terbata-bata. Suasana seperti ini, yang mungkin tampak sederhana, justru mengandung prinsip pedagogis yang kuat: belajar membaca Al-Qur’an membutuhkan pembiasaan, koreksi individual, dan kesabaran yang tidak dapat digantikan oleh ceramah massal.
Pada madrasah diniyah, pembelajaran lebih terstruktur karena ada jenjang dan materi yang berurutan. Santri belajar fikih dasar, misalnya tata cara wudu dan salat, melalui penjelasan guru dan praktik langsung. Mereka belajar akidah melalui kisah dan hafalan singkat, belajar hadis melalui matan-matan pendek yang mudah diingat, dan belajar akhlak melalui pembiasaan: salam, sopan santun kepada guru, dan kepedulian kepada teman. Metode yang dipakai sering memadukan sorogan, yaitu santri menyetor bacaan kepada guru, dengan bandongan atau klasikal, yaitu guru menjelaskan materi kepada kelompok. Kombinasi ini memungkinkan guru memperhatikan kemampuan individual sekaligus menjaga kebersamaan kelas.
Tantangan pembelajaran sore hari adalah kelelahan anak. Setelah seharian di sekolah formal, anak datang ke TPQ atau madrasah diniyah dengan energi yang sudah berkurang. Guru yang baik memahami hal ini dan mengatur ritme belajar: selingan permainan edukatif, jeda istirahat, dan penghargaan kecil bagi anak yang rajin dapat menjaga semangat. Laporan pengabdian di Deyangan menunjukkan bahwa metode mengajar yang lebih interaktif dan menarik meningkatkan partisipasi, dan temuan itu sejalan dengan prinsip umum pendidikan anak: anak belajar lebih baik ketika ia merasa senang dan aman, bukan ketika ia merasa tertekan. Karena itu, kualitas sebuah TPQ tidak hanya diukur dari seberapa banyak hafalan yang ditargetkan, tetapi juga dari seberapa betah anak datang setiap sore.
Peran orang tua dalam pembelajaran sore hari tidak dapat digantikan. Orang tua yang mengantar, menanyakan setoran bacaan anak, dan menyediakan waktu mengaji di rumah akan memperkuat apa yang diajarkan guru. Sebaliknya, anak yang orang tuanya tidak pernah menanyakan perkembangan belajarnya cenderung mudah berhenti di tengah jalan. Pembentukan kelompok dukungan orang tua, seperti yang dicatat dalam laporan pengabdian di Deyangan, adalah langkah praktis yang dapat ditiru lembaga lain: orang tua tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi mitra yang ikut menjaga keberlangsungan lembaga, membantu pengadaan sarana sederhana, dan mengingatkan anak untuk hadir secara rutin.
Peran madrasah diniyah dan TPQ bagi kampung dan kota
Di tingkat kampung, TPQ dan madrasah diniyah berfungsi sebagai simpul sosial. Masjid yang menyelenggarakan TPQ menjadi ramai pada sore hari, anak-anak saling mengenal lintas keluarga, dan orang tua saling bertemu saat mengantar dan menjemput. Kegiatan seperti peringatan hari besar Islam, lomba baca Al-Qur’an, dan bakti sosial kecil sering lahir dari komunitas ini. Dengan demikian, lembaga pendidikan agama juga menjadi lembaga kebersamaan: ia mempertemukan warga yang mungkin jarang bertemu di luar urusan ibadah, dan memberi anak rasa memiliki terhadap kampungnya sendiri.
Di tingkat kota dan kabupaten, jaringan TPQ dan madrasah diniyah menjadi penopang pendidikan karakter yang tidak selalu terlihat dalam statistik pendidikan formal. Sekolah formal mengajarkan agama dalam jam pelajaran yang terbatas, sementara madrasah diniyah dan TPQ memberi ruang pendalaman yang lebih intensif dan berkelanjutan. Bagi keluarga yang menginginkan anaknya memiliki dasar agama yang kuat, kedua lembaga ini adalah jawaban yang terjangkau dan dekat dengan rumah. Keterjangkauan dan kedekatan ini penting, sebab tidak semua keluarga mampu menyekolahkan anak ke pesantren atau sekolah Islam swasta yang biayanya lebih besar.
Peran ini juga berkaitan dengan pencegahan masalah sosial pada remaja. Pembahasan pendidikan diniyah di berbagai daerah sering mengaitkan penguatan pendidikan agama dengan perlindungan generasi muda dari pengaruh negatif, dan pemerintah daerah di beberapa tempat menempatkan insentif guru diniyah sebagai bagian dari upaya tersebut. Kaitan ini perlu dinyatakan secara proporsional: pendidikan agama bukan obat tunggal bagi masalah sosial, tetapi pembiasaan nilai, pengawasan komunitas, dan kegiatan positif pada sore hari memang mengurangi waktu luang anak yang tidak terarah. Seorang anak yang sore harinya diisi dengan mengaji, berkumpul dengan teman yang baik, dan didampingi guru yang peduli, memiliki jangkar yang lebih kuat daripada anak yang sore harinya dibiarkan tanpa kegiatan.
Dalam konteks Magelang yang memiliki banyak pesantren dan tradisi keagamaan yang kuat, madrasah diniyah dan TPQ juga menjadi jembatan menuju jenjang pendidikan agama yang lebih tinggi. Santri yang menonjol di madrasah diniyah dapat melanjutkan ke pesantren atau madrasah formal, sementara anak yang belajar di TPQ memperoleh bekal bacaan Al-Qur’an yang akan berguna sepanjang hidupnya, apa pun jalur pendidikan yang ditempuhnya kelak. Jembatan ini bekerja dalam dua arah: pesantren dan madrasah formal mendapat santri yang sudah memiliki dasar, dan masyarakat mendapat warga yang melek Al-Qur’an dan memahami dasar agamanya.
Tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan diniyah
Tantangan pertama adalah sarana dan prasarana. Banyak TPQ dan madrasah diniyah belajar di serambi masjid, ruang kelas sederhana, atau rumah warga, dengan bangku dan papan tulis yang terbatas. Pada musim hujan, ruangan yang bocor atau becek dapat mengganggu belajar. Pada musim kemarau, ruangan yang panas tanpa ventilasi memadai membuat anak cepat lelah. Keterbatasan ini, yang dicatat dalam laporan pengabdian di Deyangan, bukan keluhan semata, melainkan kondisi nyata yang dihadapi pengelola setiap hari. Perbaikannya tidak selalu membutuhkan pembangunan gedung baru; perbaikan atap, penambahan rak buku, dan pengadaan Al-Qur’an dan buku ajar yang cukup sering sudah sangat membantu.
Tantangan kedua adalah regenerasi guru. Guru ngaji senior yang sudah mengajar puluhan tahun mulai menua, sementara generasi muda yang mampu mengajar belum tentu bersedia menggantikan dengan imbalan yang terbatas. Tanpa regenerasi yang direncanakan, sebuah TPQ dapat berhenti begitu saja ketika gurunya tidak lagi mampu mengajar. Regenerasi membutuhkan pembinaan yang disengaja: santri senior diberi kesempatan menjadi asisten guru, alumni yang kuliah di kota diajak mengajar pada akhir pekan, dan pengurus memberi penghargaan yang layak kepada guru muda. Lembaga yang memikirkan regenerasi sejak dini akan lebih tahan lama daripada lembaga yang bergantung pada satu sosok.
Tantangan ketiga adalah persaingan dengan gawai dan kegiatan lain. Anak masa kini pulang sekolah dan langsung berhadapan dengan gawai, permainan daring, dan tontonan video yang jauh lebih menggoda daripada setoran bacaan. TPQ dan madrasah diniyah tidak dapat bersaing dengan gawai melalui larangan semata; mereka perlu membuat belajar agama terasa hidup, misalnya melalui metode yang interaktif, kegiatan kelompok, dan perayaan kecil atas capaian santri. Orang tua memegang kunci di sini: aturan penggunaan gawai di rumah dan kebiasaan mengaji bersama keluarga akan menentukan apakah anak memandang TPQ sebagai beban atau sebagai bagian yang menyenangkan dari harinya.
Tantangan keempat adalah administrasi dan pendataan. Lembaga komunitas sering berjalan dengan pencatatan yang sederhana, sehingga data santri, guru, dan sarana tidak selalu mutakhir. Padahal, data yang rapi adalah syarat untuk mengakses pembinaan dan bantuan dari pemerintah. Pengurus yang mau meluangkan waktu untuk mendata lembaganya, mengikuti pembinaan dari Kantor Kementerian Agama, dan menjaga laporan sederhana akan lebih mudah memperoleh dukungan. Tantangan ini bersifat teknis, tetapi dampaknya strategis: lembaga yang tidak terdata berisiko tidak terlihat dalam perencanaan, sementara lembaga yang terdata memiliki peluang lebih besar untuk dibina.
Apa yang dapat dilakukan keluarga dan warga
Bagi orang tua yang sedang memilih TPQ atau madrasah diniyah untuk anaknya, langkah pertama adalah mengunjungi lembaga itu pada jam belajar, bukan hanya mendengar cerita dari tetangga. Perhatikan apakah guru menyimak bacaan anak satu per satu, apakah anak-anak tampak betah, dan apakah pengelola terbuka menjawab pertanyaan tentang jadwal dan materi. Langkah kedua adalah menyesuaikan pilihan dengan kemampuan anak: anak yang belum lancar membaca Al-Qur’an sebaiknya dimulai dari TPQ, sementara anak yang sudah lancar dapat ditambah dengan madrasah diniyah. Langkah ketiga adalah komitmen kehadiran: pendidikan agama sore hari hanya berhasil bila dijalani secara rutin, bukan musiman menjelang Ramadan saja.
Bagi warga yang tidak memiliki anak usia TPQ, dukungan tetap dapat diberikan dalam bentuk lain. Menjadi pengurus, menyumbang buku atau Al-Qur’an, membantu perbaikan ruangan, atau sekadar menghadiri kegiatan lembaga pada hari besar adalah bentuk dukungan yang nyata. Bagi alumni, kembali mengajar satu atau dua kali seminggu adalah sumbangan yang sangat berharga, terutama bagi lembaga yang kekurangan guru. Bagi pemerintah desa dan kelurahan, memasukkan pembinaan TPQ dan madrasah diniyah dalam perencanaan kegiatan kemasyarakatan adalah langkah yang sejalan dengan peran lembaga ini sebagai simpul sosial.
Bagi pengelola lembaga, tiga langkah praktis patut dipertimbangkan. Pertama, susun jadwal yang konsisten dan komunikasikan kepada orang tua, sehingga kehadiran santri dapat dipantau. Kedua, adakan pelatihan sederhana bagi guru, misalnya berbagi metode mengajar antarlembaga atau mengundang pembina dari Kantor Kementerian Agama. Ketiga, libatkan orang tua melalui pertemuan berkala dan kelompok dukungan, seperti yang terbukti membantu di Deyangan. Ketiga langkah ini tidak membutuhkan anggaran besar, tetapi membutuhkan ketekunan pengurus, dan ketekunan itulah yang membedakan lembaga yang bertahan dengan lembaga yang perlahan sepi.
Pada akhirnya, madrasah diniyah dan TPQ di Magelang adalah cerita tentang pendidikan yang tumbuh dari bawah, dijaga oleh warga, dan dibina oleh negara. Kekuatan mereka terletak pada kedekatan dengan keluarga dan kampung, sementara pekerjaan rumah mereka terletak pada sarana, regenerasi guru, dan pendataan. Artikel ini sengaja tidak mengarang angka dan daftar yang belum terverifikasi, sebab menghormati lembaga-lembaga ini berarti juga menghormati fakta tentang mereka. Yang dapat dikatakan dengan yakin adalah: selama masih ada anak yang datang pada sore hari dengan Al-Qur’an di tangan, dan masih ada guru yang setia menyimak bacaannya satu per satu, pendidikan agama akar rumput di Magelang tetap hidup, dan masa depannya bergantung pada apakah warga, pemerintah, dan keluarga mau terus menjaganya bersama.
Baca juga: Pondok Pesantren di Magelang dan rujukan pembinaan pendidikan diniyah dari Jurnal Kawakib tentang dinamika TPQ dan madrasah diniyah.


