Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Pendidikan » Sekolah-Sekolah Tua di Kota Magelang dan Ceritanya: dari…
Pendidikan

Sekolah-Sekolah Tua di Kota Magelang dan Ceritanya: dari MULO sampai SMA Negeri 1

Di Kampung Botton dan Bayeman berdiri gedung sekolah dari awal abad ke-20 yang sudah melewati tiga zaman pendidikan. Inilah cerita SMP Negeri 1, SMP Negeri 4, SMA Negeri 1, dan kompleks Tarakanita yang sejarahnya terverifikasi.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 22.17 WIB
Sekolah-Sekolah Tua di Kota Magelang dan Ceritanya: dari MULO sampai SMA Negeri 1
Ilustrasi gedung sekolah kolonial beratap tinggi dengan jendela besar dan pepohonan, dengan siswa berseragam berjalan di halaman luas. (Ilustrasi: KabarTidar)

Kota Magelang memiliki sekolah-sekolah yang usianya lebih tua daripada Republik Indonesia sendiri, dan sebagian gedungnya sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda. Di Kampung Botton, di Jalan Pahlawan, berdiri gedung-gedung sekolah yang dahulu menampung MULO, sekolah menengah Belanda untuk pribumi dan timur asing, lalu berubah fungsi dari zaman ke zaman: dari sekolah kolonial menjadi sekolah zaman Jepang, dari sekolah darurat masa revolusi menjadi sekolah negeri masa kemerdekaan. Artikel ini menelusuri sekolah-sekolah tua di Kota Magelang yang keberadaan dan sejarahnya terverifikasi, dan menjelaskan mengapa gedung-gedung itu penting bukan hanya sebagai tempat belajar, melainkan sebagai saksi sejarah kota.

Jawaban singkatnya begini: sekolah tertua yang terdokumentasi kuat di Kota Magelang adalah sekolah-sekolah di kawasan Botton dan Bayeman, yakni SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 4 yang gedungnya berasal dari awal abad ke-20, SMA Negeri 1 yang lahir dari penyatuan dua SMA pada 5 Januari 1950, serta kompleks sekolah Tarakanita yang dikelola sejak 1954 dari sekolah-sekolah yang sudah ada sebelumnya. Sekolah-sekolah ini tidak hanya tua dalam angka, tetapi juga menyimpan cerita tentang siapa yang boleh bersekolah pada zamannya, bahasa pengantar apa yang dipakai, dan bagaimana pendidikan di Magelang bertahan melewati perang, revolusi, dan pergantian kurikulum.

Artikel ini berbeda dari artikel sekolah kejuruan Magelang yang terbit sebelumnya di KabarTidar. Artikel sekolah kejuruan membahas jalur pendidikan vokasi dan keterampilan kerja, sedangkan artikel ini membahas sekolah-sekolah tua bersejarah, dari semua jalur, yang usianya puluhan tahun dan gedung atau lembaganya menyimpan cerita sejarah. Artikel ini hanya menulis sekolah yang keberadaan dan sejarahnya terverifikasi dalam sumber resmi sekolah, situs yayasan, atau ensiklopedia yang merujuk pada buku sejarah sekolah. Sekolah yang sejarahnya tidak ditemukan dalam sumber yang bisa diverifikasi tidak ditulis di sini, dan ketidakpastian tanggal yang ada dalam sumber ditulis apa adanya, bukan dibulatkan menjadi kepastian.

Sekolah-sekolah tua di Kota Magelang dan ceritanya: dari MULO sampai SMA Negeri 1

Untuk memahami sekolah-sekolah tua Magelang, pembaca perlu memahami peta pendidikan kota ini pada zaman Hindia Belanda. Menurut situs resmi SMP Negeri 1 Magelang dan SMP Negeri 4 Magelang, pada masa Hindia Belanda di Kota Magelang hanya terdapat empat sekolah tingkat menengah, yakni MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, Sekolah Yayasan Kristen, Sekolah Menengah milik Perguruan Taman Siswa, dan Sekolah Menengah Tingkat Atas MOSVIA atau Middlebare Opleiding School Voor Inlandische Ambtenaren, sekolah yang mendidik calon-calon pamong praja. Daftar empat sekolah ini penting, karena menunjukkan betapa terbatasnya akses pendidikan menengah pada zaman itu: hanya sedikit anak yang bisa melanjutkan sekolah setelah sekolah dasar, dan sebagian besar anak tidak memiliki kesempatan itu.

MULO adalah jenis sekolah yang paling sering muncul dalam sejarah sekolah-sekolah tua Magelang. MULO merupakan sekolah rendah yang diperluas untuk masyarakat pribumi dan timur asing, setingkat sekolah menengah pertama dan menengah atas pada masa kini, yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, dengan lama pendidikan tiga sampai empat tahun, menurut penjelasan situs SMP Negeri 1 Magelang. Pada zaman kolonial, proses belajar mengajar di MULO masih memakai sabak sebagai tempat menulis dan grip sebagai pensilnya. Sabak terbuat dari lempengan batu hitam tipis berukuran sekitar 30 kali 20 sentimeter, dan grip adalah semacam batu hitam yang diruncingkan dengan cara digosokkan pada pecahan genteng. Bila ingin menghapus tulisan, siswa menggosok sabak dengan daun atau kain sampai bersih. Para siswa pada saat itu masih memakai jarit dan beskap dengan ikat di kepala, dan tentunya belum beralas kaki, alias masih nyeker, menurut penuturan situs sekolah itu. Gambaran ini, betapa pun sederhananya, menunjukkan jarak yang jauh antara sekolah masa itu dan sekolah masa kini, dan mengapa gedung-gedung tua itu layak diingat.

Kampung Botton adalah kunci geografis dari cerita ini. SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 4 sama-sama berada di Kampung Botton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, di koridor Jalan Pahlawan yang dahulu bernama Bottonweg. Pada zaman Belanda, kawasan ini adalah kawasan pendidikan dan permukiman elite, dan gedung-gedung sekolahnya dibangun dengan standar yang tinggi, dengan halaman luas dan ruang kelas yang besar. Hingga kini, kedua sekolah itu masih menempati gedung-gedung tua tersebut, meskipun sudah beberapa kali direnovasi. Bagi pejalan kaki yang melintasi Jalan Pahlawan, gedung-gedung sekolah ini adalah penanda visual sejarah kota yang masih berfungsi, bukan museum yang diam.

SMP Negeri 1 Magelang: gedung 1912 dan sekolah zaman Jepang

SMP Negeri 1 Magelang terletak di Jalan Pahlawan Nomor 66, Kota Magelang, di Kampung Botton. Menurut situs resmi sekolah itu, bangunan sekolah ini sudah ada sejak tahun 1912, dan menurut salah satu sumber yang dikutip situs itu, bangunan ini berdiri pertama kali pada tanggal 11 Maret 1912 dan terletak di Bottonweg 21, Magelang, dan difungsikan pertama kali sebagai MULO milik pemerintah. Situs sekolah itu sendiri memberi catatan kejujuran yang patut dihargai: hal ini belum bisa dikatakan akurat, mengingat beberapa sumber lain menyebutkan bahwa bangunan ini sudah ada sejak tahun 1912, sedangkan sumber lain menyebutkan bahwa MULO pertama didirikan pada tahun 1914. Artikel ini menulis ketidakpastian ini apa adanya, karena sejarah gedung yang dibangun lebih dari seabad lalu memang sering memiliki beberapa versi tanggal, dan pembaca berhak tahu bahwa tanggal 11 Maret 1912 adalah versi dari salah satu sumber, bukan kesepakatan semua sumber.

Lembaga SMP Negeri 1 Magelang sendiri, sebagai sekolah, berdiri pada masa penjajahan Jepang, yaitu tahun 1942, menurut ensiklopedia daring yang merujuk pada penulisan sejarah sekolah. Pada masa itu sekolah ini lebih dikenal dengan nama SMP Botton, karena letaknya berada di Kampung Botton. Sekolah menengah pada masa penjajahan Jepang diberi nama Syoto Chu Gakko. Saat dibukanya SMP Magelang yang terletak di Jalan Botton, yang sekarang Jalan Pahlawan, sekolah tersebut baru mempunyai empat kelas, dengan jumlah guru empat orang, yakni Soetedjo Atmodipoerwo yang merangkap direktur, Soediman, Mardiyo, dan P. Siagian. Mata pelajaran yang disajikan adalah pelajaran-pelajaran umum di samping bahasa Jepang serta bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, dan kegiatan belajar mengajar pada saat itu harus disesuaikan dengan kurikulum dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh penguasa Jepang.

Perbedaan antara usia gedung dan usia lembaga ini penting dipahami pembaca. Gedung SMP Negeri 1 berasal dari zaman Belanda sebagai MULO, tetapi lembaga SMP-nya lahir pada zaman Jepang. Dengan kata lain, gedung itu lebih tua daripada sekolah yang menempatinya sekarang, dan gedung itu sudah mengalami setidaknya tiga zaman pendidikan: zaman Belanda dengan bahasa Belanda sebagai pengantar, zaman Jepang dengan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia sebagai pengantar, dan zaman kemerdekaan dengan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Setiap zaman meninggalkan jejaknya, baik pada bangunan yang direnovasi berkali-kali, maupun pada tradisi sekolah yang diwariskan dari satu generasi guru ke generasi berikutnya.

Luas tanah SMP Negeri 1 Magelang tercatat 7.717 meter persegi, menurut ensiklopedia daring yang sama. Angka ini menunjukkan betapa luasnya lahan sekolah-sekolah tua di Botton dibandingkan sekolah-sekolah baru yang lahannya sering kali sempit. Halaman yang luas bukan sekadar kemewahan, melainkan bagian dari desain pendidikan zaman dulu, ketika upacara, olahraga, dan kegiatan luar kelas membutuhkan ruang terbuka yang besar. Hingga kini, halaman luas itu masih menjadi ciri sekolah-sekolah tua Magelang, dan menjadi salah satu alasan mengapa gedung-gedung itu terasa berbeda begitu pengunjung memasukinya: udara dan ruangnya lebih lapang daripada sekolah-sekolah yang dibangun pada lahan sempit di masa kini.

SMP Negeri 4 Magelang: gedung 1911 dan julukan sekolah ndoro

Tidak jauh dari SMP Negeri 1, di Jalan Pahlawan Nomor 41, Kota Magelang, berdiri SMP Negeri 4 Magelang. Menurut situs resmi sekolah itu, SMP Negeri 4 merupakan sekolah tua yang memiliki luas tanah 5.600 meter persegi, terletak di Kampung Botton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara. Lulusan pertama sekolah ini sekitar tahun 1977, sedangkan berdasarkan beberapa informasi yang ada, gedung sekolah ini dibangun pada tahun 1911. Sebelum SMP Negeri 4 berdiri, gedung sekolah ini digunakan untuk Sekolah Menengah Ekonomi Pertama atau SMEP Magelang. Seperti halnya SMP Negeri 1, gedung SMP Negeri 4 lebih tua daripada lembaga yang menempatinya sekarang, dan gedung itu sudah berganti fungsi beberapa kali sebelum menjadi SMP Negeri 4.

SMP Negeri 4 memiliki julukan yang terkenal di kalangan orang-orang tempo dulu: sekolah ndoro atau sekolah priyayi. Menurut situs sekolah itu, pada zaman dahulu hanya golongan priyayi saja yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah ndoro. Julukan ini bukan sekadar nama panggilan, melainkan cermin dari struktur sosial zaman kolonial dan awal kemerdekaan, ketika pendidikan menengah adalah barang mewah yang hanya bisa dijangkau keluarga berada dan keluarga pegawai. Anak-anak dari keluarga biasa, betapa pun pandainya, sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama, karena biaya sekolah, bahasa pengantar Belanda, dan jarak sosial yang tinggi menjadi penghalang yang nyata.

Julukan sekolah ndoro juga mengandung ironi yang patut direnungkan. Gedung yang dahulu hanya bisa dimasuki anak-anak priyayi kini menjadi sekolah negeri yang terbuka bagi anak-anak dari semua latar belakang, melalui sistem penerimaan yang berlaku umum. Perubahan ini adalah gambaran kecil dari perubahan besar pendidikan Indonesia: dari pendidikan yang terbatas bagi segelintir orang menjadi pendidikan yang menjadi hak semua anak. Bila pembaca mengunjungi SMP Negeri 4 hari ini, ia akan melihat anak-anak dari berbagai latar belakang belajar di gedung yang sama tempat anak-anak priyayi belajar seabad lalu, dan perbedaan itu adalah cerita yang layak diceritakan kepada generasi muda.

Situs SMP Negeri 4 juga menyampaikan refleksi yang jujur tentang kondisi sekolah itu. Menurut situs tersebut, sekolah ini telah memberi sumbangsih yang besar terhadap bangsa dan negara serta masyarakat, bukan karena faktor usianya yang tua, melainkan karena kualitas dan kiprah sekolah dalam menyiapkan lulusan yang bermutu. Di sisi lain, situs itu juga menyampaikan kenyataan yang dilematis: kurangnya keseimbangan antara kualitas yang dihasilkan dengan sarana pendukung yang ada, dan harapan agar hasil yang baik serta semangat yang tinggi dalam menampilkan prestasi yang maksimal diimbangi dengan perhatian serta bantuan yang memadai. Refleksi ini penting, karena gedung tua yang bersejarah juga membutuhkan perawatan, dan prestasi sekolah tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan sarana dan prasarananya.

SMA Negeri 1 Magelang: sekolah menengah atas tertua di Kota Magelang dan Karesidenan Kedu

SMA Negeri 1 Magelang adalah sekolah menengah atas tertua yang ada di Kota Magelang dan Karesidenan Kedu, menurut ensiklopedia daring yang merujuk pada buku sejarah sekolah. Sejarahnya bermula pada masa revolusi, ketika pendidikan berkembang dengan pesatnya setelah kemerdekaan dan sekolah-sekolah didirikan, baik sekolah rakyat, SMP, SMA, bahkan universitas. Kota Magelang pun tidak ketinggalan. Pada tahun 1947 didirikan SMA Persiapan di bawah pimpinan Soedarsono, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Pusat, bertempat di gedung Christelijke MULO. Pengajar-pengajarnya dipinjam dari berbagai kantor, karena pada waktu itu Kementerian Kemakmuran dan Kementerian Keuangan dengan segala bagiannya berkedudukan di Magelang, sehingga kota ini memiliki banyak kaum intelektual.

Untuk menarik pemuda-pemuda, pada bulan Juli 1949 pemerintah mendirikan SMP dan SMA bertempat di gedung SMP Negeri 1 sekarang, dengan Ir. Soeroto sebagai direktur. Pada bulan September 1949 didirikan SMA Darurat dengan menempati gedung SMA Al-Iman sekarang, di Jalan Bayeman, di bawah pimpinan Siregar. Akhirnya, pada bulan Januari 1950 kedua SMA disatukan: SMA bagian B menempati bekas Ambachtsschool atau sekolah pertukangan, dan bagian C di RST atau rumah sakit tentara. Menurut buku Sejarah SMA Negeri Magelang yang ditulis Novo pada 2021, SMA Negeri Magelang resmi berdiri setelah kedua SMA tersebut disatukan, yaitu pada tanggal 5 Januari 1950. Tanggal inilah yang menjadi hari jadi sekolah itu.

Perjalanan SMA Negeri Magelang setelah berdiri tidak langsung mulus. Pada tahun 1952 bagian C ditutup, sehingga wilayah Karesidenan Kedu hanya mempunyai SMA bagian B. Pada bulan Agustus 1955 SMA bagian C dibuka kembali, dilengkapi bagian A yang menempati gedung SMP, dengan kegiatan belajar mengajar yang berlangsung pada sore hari. Barulah pada tahun 1959 SMA Negeri Magelang mempunyai gedung sendiri di Jalan Cepaka, dengan bagian A, B, dan C yang bersama-sama masuk pagi, dengan jumlah 23 kelas, 835 orang siswa, dan 36 orang guru, di bawah pimpinan yang pada waktu itu memakai istilah direktur, R. Tedjana. Gedung di Jalan Cepaka inilah yang menjadi rumah SMA Negeri 1 Magelang hingga kini, dan menjadi penanda bahwa sekolah ini akhirnya memiliki tempat yang tetap setelah bertahun-tahun menumpang di gedung-gedung lain.

Cerita SMA Negeri 1 Magelang adalah cerita tentang pendidikan di tengah revolusi. Sekolah ini lahir bukan dari rencana pembangunan yang tenang, melainkan dari kebutuhan mendesak untuk menampung pemuda-pemuda yang hasrat belajarnya berkobar di tengah pertempuran, dengan guru yang dipinjam dari kantor-kantor pemerintah, bangku yang didatangkan dari Jepara karena gedung terlalu sempit, dan kelas yang masuk pagi dan sore bergantian karena kekurangan pengajar dan ruang. Cerita ini mengingatkan pembaca bahwa sekolah-sekolah tua Magelang bukan hanya gedung tua, melainkan lembaga yang lahir dari perjuangan, dan bahwa kemudahan bersekolah hari ini adalah hasil dari masa ketika bersekolah itu sendiri adalah perjuangan.

Gedung SMA Negeri 1 di Jalan Cepaka juga memiliki ciri arsitektur yang masih terasa hingga kini. Menurut penulisan tentang sekolah-sekolah di Kota Magelang, SMA Negeri 1 Magelang masih memiliki corak Belanda yang melekat, yang terlihat dari bangunan gedung utama yang disebut Gedung Induk, yang terdiri dari tiga lantai dan lantainya dilapisi kayu. Lantai kayu, jendela besar, dan langit-langit tinggi adalah ciri bangunan kolonial yang dirancang untuk iklim tropis sebelum pendingin ruangan ditemukan: udara mengalir, cahaya masuk, dan ruang terasa sejuk meskipun tanpa mesin. Ciri-ciri ini adalah warisan arsitektur yang patut dirawat, karena begitu gedung direnovasi tanpa memperhatikan ciri aslinya, warisan itu hilang dan tidak bisa dikembalikan.

Kompleks Tarakanita: sekolah Katolik yang tumbuh dari SR Pendowo

Kelompok sekolah tua berikutnya di Kota Magelang adalah kompleks sekolah Tarakanita, yang dikelola Yayasan Tarakanita Wilayah Jawa Tengah. Menurut situs resmi yayasan itu, pada tahun 1954 Kongregasi Carolus Borromeus yang berkarya di Kota Magelang menerima penyerahan hak milik dari pimpinan Suster-Suster Ordo Santo Fransiskus, yang disahkan oleh Vikariat Semarang pada tanggal 7 Agustus 1954 oleh Mgr. A. Soegijopranoto. Sejak saat itulah Kongregasi Carolus Borromeus memulai karya pelayanannya di bidang pendidikan di Magelang, dari anak usia dini sampai tingkat SMA. Tetapi sekolah-sekolah yang diserahkan itu sendiri sudah ada sebelumnya, sehingga usia lembaga-lembaga di kompleks ini sebenarnya lebih tua daripada tahun 1954.

Sekolah pertama yang dikelola sejak 1954 adalah SD Tarakanita Magelang, yang dulunya bernama SR Pendowo Koelon, singkatan dari Sekolah Rakyat Pendowo Kulon. Sejak 1975 sekolah ini menempati bangunan di Jalan Tentara Pelajar Nomor 25, Bayeman, Magelang. Bersamaan dengan SD itu, sejak 1954 yayasan juga mengelola SGKP atau Sekolah Guru Kepandaian Putri, yang bertempat di Jalan A. Yani Nomor 20, Magelang. Sekolah guru itu berubah nama beberapa kali: pada tahun 1960 berubah menjadi SKKA Pius X, pada tahun 1976 berubah lagi menjadi SMKK Pius X, dan sejak 1994 berubah menjadi SMK Pius X sampai sekarang. Rangkaian perubahan nama ini mencerminkan perubahan sistem pendidikan Indonesia sendiri, dari sekolah guru khusus putri menjadi sekolah kejuruan yang terbuka bagi semua.

Perkembangan berikutnya adalah berdirinya TK Pius X pada 1961, yang bertempat di Biara Pius X dan sejak 1974 menempati bangunan di Bayeman, tepatnya di Jalan Tentara Pelajar Nomor 25, Magelang, satu kompleks dengan SD Tarakanita. Kemudian pada 1967 berdirinya SMP Tarakanita Magelang, yang bertempat di bangunan yang dulunya dipakai SR Pendowo Wetan, satu kompleks dengan SMK Pius X di Jalan A. Yani Nomor 20, Magelang. Kantor perwakilan yayasan di Magelang sendiri berdiri pada 1981 dengan masih menginduk di Yogyakarta, lalu pada 2000 menjadi Kantor Yayasan Tarakanita Cabang Jawa Tengah, dan pada 2002 berubah menjadi Kantor Wilayah Jawa Tengah yang menempati bangunan di kompleks TK Pius X dan SD Tarakanita di Jalan Tentara Pelajar Nomor 25.

Cerita Tarakanita menunjukkan satu pola yang berbeda dari sekolah negeri di Botton. Sekolah-sekolah Tarakanita tumbuh sebagai satu kompleks pendidikan yang saling melengkapi, dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah, di dua lokasi utama, Bayeman dan Jalan A. Yani, yang letaknya berdekatan di pusat kota. Pola kompleks ini memungkinkan satu keluarga menyekolahkan anak-anaknya dari kecil sampai remaja dalam satu yayasan, dengan nilai dan tradisi yang berkesinambungan. Pola ini juga menunjukkan peran besar yayasan keagamaan dalam pendidikan Magelang: jauh sebelum pemerintah mampu menyediakan sekolah di semua jenjang, yayasan-yayasan seperti Tarakanita dan Yayasan Perguruan Kristen Indonesia sudah menyediakan pendidikan bagi masyarakat kota.

Peran yayasan keagamaan itu juga tampak dari jejak gedung Christelijke MULO yang dipakai SMA Persiapan pada 1947, dan dari gedung SMA Al-Iman di Jalan Bayeman yang dipakai SMA Darurat pada 1949. Nama-nama gedung itu menunjukkan bahwa pada masa awal kemerdekaan, sekolah-sekolah negeri yang baru lahir sering kali menumpang di gedung-gedung sekolah swasta dan yayasan, karena pemerintah belum memiliki gedung sendiri. Kerja sama dan pinjam-meminjam gedung antara pemerintah dan yayasan adalah bagian dari sejarah pendidikan Magelang yang jarang diceritakan, tetapi menentukan: tanpa gedung-gedung yayasan itu, SMA-SMA pertama Magelang mungkin tidak memiliki tempat untuk memulai.

Pembanding yang jujur: tidak semua sekolah bernomor itu tua

Untuk menghindari kesalahpahaman, artikel ini perlu menegaskan bahwa tidak semua sekolah negeri di Kota Magelang berusia tua. SMA Negeri 2 Magelang, misalnya, adalah sekolah yang relatif muda. Menurut ensiklopedia daring dan laporan praktik lapangan mahasiswa, SMA Negeri 2 Magelang dibuka sebagai Unit Gedung Baru berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0180/O/1979 tanggal 3 September 1979, dengan bangunan awal yang terdiri atas sembilan ruang kelas, dua laboratorium kimia dan biologi serta fisika, satu perpustakaan, satu ruang keterampilan, satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, satu ruang tata usaha, gudang, kamar mandi, dan satu rumah penjaga di sebelah utara. Sekolah ini terletak di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, sekitar tiga sampai empat kilometer dari Alun-Alun Kota Magelang.

Perbandingan ini penting karena nomor sekolah sering disalahartikan sebagai urutan usia. SMA Negeri 2 bukan berarti didirikan setelah SMA Negeri 1 dalam selisih waktu yang pendek, melainkan hampir tiga dekade kemudian, pada 1979, ketika Kota Magelang sudah membutuhkan sekolah menengah atas tambahan di wilayah utara. Begitu pula SMP Negeri 4 bukan berarti lebih muda daripada SMP Negeri 1 hanya karena nomornya lebih besar: gedung SMP Negeri 4 berasal dari 1911, sedangkan gedung SMP Negeri 1 berasal dari 1912, sehingga keduanya sama-sama berasal dari awal abad ke-20. Nomor sekolah adalah nomor administratif, bukan penanda usia gedung atau lembaga, dan pembaca yang ingin mengetahui usia sebuah sekolah sebaiknya mengecek sejarah resmi sekolah itu, bukan menebak dari nomornya.

Di luar sekolah-sekolah yang dibahas di sini, tentu masih ada sekolah-sekolah tua lain di Kota Magelang, termasuk sekolah-sekolah swasta dan madrasah yang sejarahnya panjang. Artikel ini tidak menulisnya bukan karena sekolah-sekolah itu tidak penting, melainkan karena sejarahnya tidak ditemukan dalam sumber yang bisa diverifikasi pada saat riset. Bila pembaca mengetahui sekolah tua lain di Kota Magelang dengan dokumen sejarah yang jelas, seperti buku kenang-kenangan, arsip yayasan, atau situs resmi sekolah, informasi itu layak ditambahkan pada pembaruan artikel ini. Sejarah pendidikan kota ini masih memiliki banyak bab yang belum ditulis, dan setiap dokumen sejarah sekolah yang tersimpan di lemari arsip adalah bab yang menunggu dibaca.

Mengapa gedung sekolah tua perlu dirawat

Gedung sekolah tua menghadapi dilema yang sama di seluruh Indonesia: di satu sisi ia adalah warisan sejarah yang patut dilestarikan, di sisi lain ia adalah tempat belajar yang harus memenuhi standar keselamatan, kenyamanan, dan teknologi masa kini. Renovasi yang ceroboh bisa menghilangkan ciri asli gedung, seperti lantai kayu Gedung Induk SMA Negeri 1 atau jendela besar gedung-gedung Botton, sedangkan penolakan terhadap renovasi bisa membuat gedung tidak aman dan tidak nyaman bagi siswa. Jalan tengahnya adalah renovasi yang menghormati arsitektur asli: mempertahankan struktur, material, dan proporsi yang menjadi ciri gedung, sambil memperbarui instalasi listrik, sanitasi, dan fasilitas belajar yang memang harus diperbarui.

Perawatan gedung sekolah tua juga membutuhkan dana dan perhatian yang tidak selalu tersedia. Situs SMP Negeri 4 Magelang, sebagaimana dikutip di atas, menyampaikan harapan agar prestasi sekolah diimbangi dengan perhatian dan bantuan yang memadai untuk kemajuan sekolah. Harapan ini berlaku umum: sekolah tua yang berprestasi sering kali justru luput dari bantuan, karena dianggap sudah mampu berdiri sendiri, padahal gedung tuanya membutuhkan perawatan yang lebih mahal daripada gedung baru. Pemerintah kota, alumni, dan masyarakat sekitar memiliki peran di sini. Alumni sekolah-sekolah tua Magelang, yang kini tersebar di berbagai profesi, adalah sumber daya yang besar bagi perawatan gedung almamaternya, baik melalui sumbangan, keahlian, maupun advokasi kepada pemerintah.

Selain perawatan fisik, sekolah-sekolah tua juga membutuhkan perawatan ingatan. Buku kenang-kenangan dasa warsa SMA Negeri 1 Magelang tahun 1960, yang diriwayatkan oleh B. Soemarto, mantan guru sekolah itu, adalah contoh dokumen ingatan yang sangat berharga: tanpa buku itu, banyak detail tentang SMA Persiapan 1947, SMA Darurat 1949, dan penyatuan 1950 mungkin sudah hilang. Sekolah-sekolah lain sebaiknya meniru praktik ini: menulis sejarahnya secara berkala, mewawancarai guru-guru senior dan alumni sebelum mereka tiada, dan menyimpan arsip foto, surat, dan dokumen di tempat yang aman. Ingatan yang tidak ditulis akan hilang bersama orang-orang yang mengingatnya, sedangkan ingatan yang ditulis akan menjadi bahan ajar bagi generasi berikutnya.

Bagi siswa yang belajar di sekolah tua hari ini, gedung dan sejarah sekolahnya adalah pelajaran yang hidup. Siswa SMP Negeri 1 yang berjalan di koridor gedung bekas MULO sedang berjalan di tempat siswa zaman Belanda belajar dengan sabak dan grip. Siswa SMP Negeri 4 yang belajar di gedung sekolah ndoro sedang belajar di tempat yang dahulu hanya bisa dimasuki anak-anak priyayi. Siswa SMA Negeri 1 yang belajar di Gedung Induk berlantai kayu sedang belajar di tempat pemuda-pemuda revolusi menuntut ilmu di tengah keterbatasan. Bila guru menceritakan sejarah ini kepada siswa, maka gedung sekolah berubah dari sekadar bangunan menjadi buku teks yang bisa disentuh, dan rasa bangga terhadap sekolah tumbuh dari pemahaman, bukan dari hafalan semboyan.

Bagi warga Kota Magelang yang bukan alumni sekolah-sekolah ini, gedung-gedung sekolah tua tetap memiliki nilai. Gedung-gedung itu adalah penanda visual sejarah kota, sama seperti jembatan tua, masjid tua, dan kelenteng tua yang sudah dibahas dalam artikel-artikel KabarTidar sebelumnya. Kota yang merawat gedung sekolah tuanya adalah kota yang menghargai pendidikan sebagai bagian dari identitasnya, bukan hanya sebagai layanan. Sebaliknya, kota yang membiarkan gedung sekolah tuanya rusak atau dirobohkan tanpa dokumentasi sedang menghapus satu bab dari sejarahnya sendiri, dan bab yang dihapus itu tidak bisa ditulis ulang dengan gedung baru yang megah.

Penutup: sekolah tua sebagai cermin kota

Sekolah-sekolah tua di Kota Magelang adalah cermin dari kota itu sendiri: kota yang sejak zaman Belanda sudah menjadi pusat pendidikan, kota yang pada masa revolusi menjadi tempat pemuda-pemuda menuntut ilmu di tengah pertempuran, dan kota yang hingga kini masih mengandalkan sekolah-sekolahnya sebagai pusat pembentukan generasi muda. Dari MULO di Bottonweg sampai SMA Negeri 1 di Jalan Cepaka, dari SR Pendowo sampai kompleks Tarakanita, benang merahnya sama: pendidikan di Magelang selalu diperjuangkan, baik oleh pemerintah, yayasan, guru, maupun siswa sendiri, dan perjuangan itu meninggalkan jejak pada gedung-gedung yang masih berdiri.

Sebagai penutup, artikel ini menegaskan kembali batas-batasnya. Sekolah yang ditulis di sini adalah sekolah yang sejarahnya terverifikasi: SMP Negeri 1 Magelang dengan gedung yang menurut salah satu sumber berdiri 11 Maret 1912 dan lembaga yang berdiri 1942, SMP Negeri 4 Magelang dengan gedung yang menurut beberapa informasi dibangun 1911 dan pernah dipakai SMEP, SMA Negeri 1 Magelang yang resmi berdiri 5 Januari 1950 dan menempati gedung sendiri di Jalan Cepaka sejak 1959, serta kompleks Tarakanita yang dikelola Kongregasi Carolus Borromeus sejak 1954 dari sekolah-sekolah yang sudah ada sebelumnya. Ketidakpastian tanggal, seperti perbedaan versi tentang tahun berdirinya MULO pertama, ditulis apa adanya dengan atribusi. Sekolah-sekolah lain yang sejarahnya belum terverifikasi tidak ditulis di sini, dan pembaca yang memiliki dokumen sejarah sekolah tua di Kota Magelang dipersilakan menyampaikannya sebagai bahan pembaruan artikel ini, agar cerita pendidikan kota ini semakin lengkap.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

  1. Ping-balik: Sejarah Kota Magelang

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *