Jalan Magelang-Yogyakarta: Sejarah Jalur yang Tak Pernah Sepi
Lima puluh kilometer yang dilalui pelajar, pedagang, dan wisatawan Borobudur setiap hari ini sudah sibuk ratusan tahun sebelum aspal — ini kisah jalurnya, tanpa melebih-lebihkan.

MAGELANG, Jalan Magelang-Yogyakarta adalah salah satu jalur tersibuk di Jawa Tengah bagian selatan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 50 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar satu hingga dua jam menurut data agregator perjalanan, tergantung moda dan kondisi lalu lintas. Jalur ini menghubungkan Kota Magelang di utara dengan Kota Yogyakarta di selatan, melalui Mertoyudan, Muntilan, Salam, dan Tempel, sebelum memasuki wilayah Sleman. Setiap hari, jalur ini dilalui pelajar, pekerja, pedagang, wisatawan menuju Borobudur, dan kendaraan barang yang bergerak antara dua pusat ekonomi dan pendidikan. Artikel ini menelusuri sejarah jalur itu, dari masa ketika Magelang menjadi pusat Karesidenan Kedu hingga masa ketika jalur ini menjadi koridor wisata dan komuter modern, dengan catatan yang jelas tentang mana bagian sejarah yang terverifikasi dan mana yang masih berupa gambaran umum.
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah nama jalurnya. Di wilayah Yogyakarta dan Sleman, jalur ini dikenal sebagai Jalan Magelang, dan penanda kilometernya masih dipakai dalam percakapan sehari-hari, misalnya Jalan Magelang kilometer 7 di Jombor atau kilometer 12 dan 15 di Sleman. Di wilayah Magelang, jalur yang sama dikenal melalui nama-nama jalan kota, seperti Jalan Soekarno Hatta di koridor selatan Kota Magelang dan jalan utama menuju Mertoyudan dan Muntilan. Perbedaan nama ini wajar, karena satu jalur fisik dapat memiliki nama yang berbeda di tiap daerah yang dilaluinya. Yang menyatukan semuanya adalah fungsinya: satu koridor utara-selatan yang menghubungkan Magelang dan Yogyakarta tanpa terputus.
Hal kedua yang perlu dipahami adalah posisi Magelang dalam sejarah Jawa. Magelang bukan kota yang muncul karena jalur ini, melainkan kota yang sudah tua jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda memegang kendali. Menurut prosiding Seminar Nasional Ilmu Sosial dan Teknologi Universitas Batam yang ditulis peneliti Universitas Sanata Dharma, Magelang sudah dikenal sejak masa Mataram Kuno karena kesuburan tanahnya dan posisinya di tengah Pulau Jawa, yang dalam istilah lokal disebut pakuning tengah pulo Jowo, atau paku di tengah Pulau Jawa. Pada masa Mataram Islam, Magelang menjadi lumbung karena dikelilingi gunung-gunung besar, dan menjadi bagian dari negaragung, yaitu wilayah inti Mataram Islam. Sejarah panjang inilah yang membuat jalur Magelang-Yogyakarta bukan sekadar jalan antar kota, melainkan jalur yang menghubungkan dua pusat kekuasaan dan kebudayaan Jawa.
Jalan Magelang-Yogyakarta: jalur yang tak pernah sepi
Gambaran paling sederhana tentang jalur ini adalah bahwa ia tidak pernah sepi, bukan karena satu peristiwa, melainkan karena fungsinya yang berlapis. Pada pagi hari, jalur ini dipadati kendaraan dari Magelang menuju Yogyakarta untuk sekolah, kuliah, dan kerja, serta kendaraan dari Yogyakarta menuju Magelang untuk keperluan yang sebaliknya. Pada siang hari, jalur ini dipadati wisatawan menuju Borobudur dan Muntilan, serta kendaraan barang yang mengangkut hasil pertanian dari lereng gunung menuju pasar kota. Pada sore hari, arus berbalik, dan pada malam hari, bus antarkota dan kendaraan travel masih melintasinya. Ritme harian inilah yang membuat jalur ini terasa hidup pada hampir setiap jam.
Ritme itu juga menjelaskan mengapa jalur ini memiliki banyak titik singgah. Muntilan, misalnya, bukan hanya kota transit, melainkan pusat perdagangan dan pendidikan yang memiliki pasar, sekolah, dan kawasan pertokoan sendiri, sebagaimana dibahas dalam artikel KabarTidar tentang Pasar Muntilan. Salam adalah gerbang antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman, tempat karakter jalan mulai berubah dari koridor kabupaten menjadi koridor pinggiran kota Yogyakarta. Tempel adalah simpul di Sleman yang menghubungkan jalur Magelang dengan jalur menuju Kaliurang dan kawasan utara Yogyakarta. Setiap simpul itu memiliki kehidupan sendiri, dan jalur ini adalah benang yang mengikat semuanya.
Bagi pendatang, memahami jalur ini sebagai rangkaian simpul jauh lebih berguna daripada menghafal satu nama jalan. Pendatang yang hendak ke Borobudur, misalnya, tidak perlu sampai ke Kota Yogyakarta, melainkan berbelok di Muntilan atau Mungkid menuju kawasan candi. Pendatang yang hendak ke kawasan kampus Yogyakarta dapat melanjutkan perjalanan hingga Sleman dan Kota Yogyakarta. Pendatang yang hendak ke bandara Yogyakarta dapat memilih rute yang menghubungkan Magelang dengan bandara melalui Purworejo dan Salaman atau melalui Yogyakarta, tergantung layanan bus yang dipilih. Jalur ini, dengan kata lain, adalah koridor dengan banyak cabang, bukan jalan tunggal dengan satu tujuan.
Magelang sebagai pusat Kedu dan simpul jalan
Sejarah jalur Magelang-Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari sejarah Magelang sebagai pusat pemerintahan. Menurut prosiding yang sama, pada 1817 pemerintah Hindia Belanda membentuk Kedu sebagai karesidenan tersendiri, dan setahun kemudian, pada 1818, Magelang dijadikan ibu kota Karesidenan Kedu. Pada 1906, Magelang ditetapkan sebagai kota otonom, dan pada 1926 memperoleh status stadsgemeente, yaitu kotapraja yang berhak mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Rangkaian tanggal ini menunjukkan bahwa Magelang, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, bukan kota kecil yang terpinggirkan, melainkan pusat administrasi yang penting di Jawa Tengah bagian selatan.
Sebagai pusat karesidenan, Magelang membutuhkan jalan yang andal menuju pusat-pusat lain, terutama Yogyakarta di selatan dan Semarang di utara. Jalan menuju Yogyakarta adalah yang paling penting secara politik dan budaya, karena Yogyakarta adalah pusat Kesultanan yang memiliki hubungan panjang dengan wilayah Kedu. Jalan menuju Semarang penting secara perdagangan dan administrasi, karena Semarang adalah pusat pantai utara dan jalur menuju Batavia. Magelang, yang berada di tengah-tengah, menjadi simpul yang menghubungkan keduanya. Posisi simpul inilah yang menjelaskan mengapa jalan-jalan di Magelang, termasuk jalan menuju Yogyakarta, selalu ramai: ia bukan jalan ujung, melainkan jalan tengah.
Pada masa Mataram Islam, Magelang sudah menjadi pemasok hasil pertanian bagi pusat kekuasaan, karena tanahnya subur dan dikelilingi gunung-gunung yang memberi air. Jalur menuju Yogyakarta pada masa itu tentu belum berupa jalan aspal seperti hari ini, melainkan jalan tanah dan jalan setapak yang dilalui pedati, kuda, dan pejalan kaki. Namun, fungsinya sudah sama: mengangkut hasil bumi dari Kedu menuju pusat, dan mengangkut barang, utusan, dan tentara dari pusat menuju Kedu. Bila jalur hari ini terasa sibuk, kesibukan itu adalah kelanjutan dari fungsi yang sudah berusia ratusan tahun, bukan fenomena baru.
Jalan Raya Pos dan konteks Daendels: apa yang dapat dan tidak dapat dikatakan
Nama yang paling sering dikaitkan dengan sejarah jalan di Jawa adalah Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels, yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Menurut berbagai sumber sejarah, jalan itu membentang dari Anyer hingga Panarukan, dan pembangunannya melibatkan pengerahan tenaga kerja paksa yang dikenal sebagai rodi. Pembangunan itu dimulai dengan perintah Daendels pada Juni 1808, dengan prioritas menghubungkan Batavia dan Semarang dalam waktu singkat, lalu diperluas ke arah Yogyakarta dan Surabaya pada 1811. Sebagian ruas jalan itu merupakan pembangunan baru, tetapi sebagian besar merupakan penyambungan jalan-jalan kecil yang sudah ada menjadi satu jaringan yang utuh.
Artikel ini menulis konteks Jalan Raya Pos dengan hati-hati, karena hubungan langsung antara Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan dan ruas Magelang-Yogyakarta tidak dapat dinyatakan secara sederhana. Jalan Raya Pos yang terkenal adalah jalur pantai utara Jawa, sedangkan Magelang-Yogyakarta adalah jalur pedalaman yang menghubungkan Kedu dan Yogyakarta. Kedua jalur itu berkaitan dalam jaringan jalan kolonial secara umum, tetapi artikel ini tidak mengklaim bahwa ruas Magelang-Yogyakarta dibangun pada tanggal tertentu oleh Daendels, karena klaim semacam itu membutuhkan sumber spesifik tentang ruas itu yang tidak diakses dalam riset ini. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa pembangunan jalan pada masa Daendels menandai babak penting dalam sejarah jaringan jalan Jawa, dan jalur Magelang-Yogyakarta berkembang dalam jaringan yang sama pada masa kolonial dan sesudahnya.
Kehati-hatian yang sama berlaku untuk angka korban pembangunan Jalan Raya Pos. Sejumlah sumber menyebut perkiraan sekitar 12.000 korban di sepanjang rute, tetapi sejarawan Indonesia Asvi Warman Adam, sebagaimana dikutip dalam sumber yang diakses, menyatakan bahwa angka itu tidak memiliki bukti yang kuat dan mungkin mencerminkan propaganda anti-Daendels. Artikel ini menyebut perdebatan itu, bukan memilih satu angka secara diam-diam, karena sejarah jalan di Jawa tidak boleh ditulis dengan mengorbankan ketepatan demi kesan dramatis. Penderitaan pekerja rodi adalah fakta sejarah yang serius, tetapi jumlah pastinya, bila tidak dapat diverifikasi, harus ditulis sebagai perkiraan yang diperdebatkan, bukan sebagai angka pasti.
Yang lebih penting daripada perdebatan angka adalah perubahan yang dibawa jaringan jalan itu. Jalan yang baik mengubah pola permukiman, perdagangan, dan kekuasaan. Kota-kota yang dilalui jalan menjadi lebih ramai, pasar-pasar tumbuh di simpul jalan, dan permukiman memanjang mengikuti jalan, membentuk apa yang disebut sebagai kota pita. Pola itu masih tampak pada jalur Magelang-Yogyakarta hari ini, di mana pertokoan, permukiman, dan fasilitas umum memanjang di sepanjang jalan, dari Mertoyudan hingga Sleman. Jalan, dengan kata lain, tidak hanya menghubungkan tempat, melainkan juga membentuk tempat.
Ruas demi ruas: Mertoyudan, Muntilan, Salam, Tempel, Sleman
Ruas pertama dari Kota Magelang ke selatan adalah Mertoyudan. Mertoyudan adalah kecamatan di Kabupaten Magelang yang berbatasan langsung dengan Kota Magelang, dan penduduknya adalah yang terbanyak di kabupaten pada 2020, yaitu 110.684 jiwa. Ruas ini adalah ruas yang paling perkotaan di antara ruas-ruas kabupaten, dengan permukiman, pertokoan, dan fasilitas pendidikan yang padat. Bagi pendatang, ruas Mertoyudan adalah tanda bahwa perjalanan dari kota menuju kabupaten sudah dimulai, meskipun secara visual perbedaannya tidak selalu terasa, karena permukiman kota dan kabupaten menyatu di koridor ini.
Ruas kedua adalah Muntilan, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Magelang menurut data agregator Omio, dengan waktu tempuh sekitar 25 hingga 30 menit dengan bus. Muntilan adalah simpul terpenting di jalur ini, karena di sinilah jalur menuju Borobudur bercabang dari jalur menuju Yogyakarta. Muntilan juga dikenal dengan pasar, kawasan pertokoan, dan tradisi seni serta perdagangan yang kuat. Bagi wisatawan, Muntilan adalah tempat untuk berhenti, makan, dan memastikan arah sebelum melanjutkan perjalanan. Bagi warga, Muntilan adalah pusat kecamatan yang melayani wilayah yang luas di sekitarnya.
Ruas ketiga adalah Salam, kecamatan paling selatan di Kabupaten Magelang yang berbatasan dengan Kabupaten Sleman. Salam adalah gerbang administratif antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun gerbang ini tidak ditandai dengan gapura besar yang selalu tampak dalam pemberitaan, secara administratif perpindahan dari Salam ke Tempel berarti perpindahan provinsi. Bagi pendatang, Salam adalah pengingat bahwa perjalanan Magelang-Yogyakarta adalah perjalanan antarprovinsi, meskipun jaraknya hanya sekitar 50 kilometer dan budayanya terasa menyatu.
Ruas keempat adalah Tempel di Kabupaten Sleman, yang menjadi simpul menuju Kaliurang dan kawasan utara Yogyakarta, serta menuju Kota Yogyakarta melalui Jalan Magelang. Menurut data Moovit, bus Jogja-Tempel melayani koridor ini, dengan halte-halte di sepanjang Jalan Magelang di Sleman, termasuk di kawasan kilometer 7 Jombor, kilometer 8, kilometer 12, dan kilometer 15. Data Moovit juga menunjukkan bahwa bus pertama dan terakhir pada koridor ini umumnya beroperasi pada pagi hingga sore atau petang hari, meskipun jadwal pastinya berubah menurut hari dan operator. Pendatang yang mengandalkan bus koridor ini sebaiknya memeriksa jadwal pada hari perjalanan, bukan mengandalkan jadwal lama.
Ruas terakhir adalah Sleman hingga Kota Yogyakarta, di mana Jalan Magelang memasuki kawasan perkotaan Yogyakarta yang lebih padat. Di ruas ini, jalur Magelang bertemu dengan jaringan bus kota Yogyakarta, termasuk jalur-jalur yang melayani Giwangan, Jombor, dan kawasan Malioboro. Pendatang yang tiba di Yogyakarta melalui jalur ini dapat melanjutkan perjalanan dengan bus kota, taksi, atau ojek menuju stasiun, bandara, atau penginapan. Ruas ini adalah ruas yang paling kompleks, karena di sinilah jalur antarkota bertemu dengan jaringan kota, dan pendatang perlu lebih cermat membaca petunjuk halte dan nomor bus.
Bus, shuttle, dan kendaraan pribadi di jalur ini
Jalur Magelang-Yogyakarta dilayani berbagai moda, dari bus antarkota hingga shuttle. Menurut data agregator 12go dan Omio, banyak layanan shuttle dan bus beroperasi setiap hari pada koridor ini, dengan durasi sekitar satu hingga satu setengah jam pada layanan shuttle. Operator yang disebut dalam data agregator antara lain Putra Remaja, Daytrans, Joglosemar, Sabila Shuttle, Cititrans, dan Semeru Trans. Daftar ini dikutip sebagai gambaran operator yang tercatat dalam data agregator, bukan sebagai daftar resmi atau rekomendasi. Operator, jadwal, dan titik keberangkatan dapat berubah, sehingga pendatang sebaiknya memeriksa aplikasi pemesanan atau loket resmi sebelum berangkat.
Selain bus dan shuttle, jalur ini juga dilayani DAMRI pada rute-rute yang berkaitan dengan Borobudur dan bandara, sebagaimana dibahas dalam artikel KabarTidar tentang transportasi umum di Magelang. Rute DAMRI dari kawasan Kaliurang melalui Pakem, Tempel, dan Muntilan adalah salah satu contoh layanan yang menghubungkan jalur Magelang-Yogyakarta dengan kawasan wisata di utara Yogyakarta. Layanan semacam ini penting, karena menunjukkan bahwa jalur ini tidak hanya menghubungkan dua kota, melainkan juga menghubungkan kawasan wisata di sekitarnya.
Kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama bagi banyak keluarga yang bepergian pada jalur ini, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Bagi pengemudi kendaraan pribadi, hal yang perlu diperhatikan adalah kepadatan pada jam-jam tertentu, terutama pagi hari ketika arus komuter dan wisatawan berangkat bersamaan, dan sore hari ketika arus kembali. Jalan Magelang di Sleman, jalan utama Muntilan, dan koridor Mertoyudan adalah titik-titik yang paling mudah padat. Memberi jeda waktu dan berangkat sedikit lebih pagi sering kali lebih efektif daripada mencari jalan alternatif yang belum dikenal.
Pendatang yang mengendarai kendaraan pribadi juga perlu memperhatikan bahwa jalur ini melintasi banyak pasar, sekolah, dan permukiman yang langsung berbatasan dengan jalan. Kendaraan yang berhenti mendadak, pejalan kaki yang menyeberang, dan kendaraan yang keluar masuk dari gang adalah pemandangan biasa di jalur ini. Kecepatan yang wajar dan kewaspadaan di kawasan pasar dan sekolah bukan hanya soal keselamatan, melainkan juga soal menghormati kehidupan warga yang tinggal di sepanjang jalur. Jalur ini adalah jalan warga, bukan jalan tol, dan pengemudi pendatang adalah tamu di dalamnya.
Jalur wisata: Borobudur, candi-candi kecil, dan lereng gunung
Jalur Magelang-Yogyakarta adalah jalur wisata, bukan hanya jalur komuter. Cabang terpentingnya adalah jalur menuju Candi Borobudur, yang berbelok dari koridor utama di kawasan Muntilan dan Mungkid. Borobudur adalah Warisan Dunia UNESCO dan tujuan wisata utama di Kabupaten Magelang, dan hampir setiap wisatawan yang datang dari Yogyakarta menuju Borobudur akan melewati sebagian jalur ini. Karena itu, kepadatan jalur ini pada pagi hari akhir pekan sering kali dipengaruhi oleh rombongan wisata yang berangkat bersamaan menuju Borobudur.
Selain Borobudur, jalur ini juga dekat dengan candi-candi kecil yang sering kali luput dari perhatian wisatawan, seperti Candi Ngawen di Muntilan yang telah dibahas dalam artikel KabarTidar tentang Candi Ngawen Muntilan. Candi-candi kecil ini adalah bukti bahwa kawasan di sepanjang jalur ini sudah menjadi kawasan permukiman dan keagamaan sejak masa Mataram Kuno, jauh sebelum jalan aspal ada. Wisatawan yang hanya melewati jalur ini tanpa berhenti akan kehilangan lapisan sejarah yang paling tua dari kawasan ini.
Jalur ini juga menghubungkan wisatawan dengan kawasan lereng gunung di sekitarnya, meskipun lereng gunung itu sendiri tidak berada tepat di jalur utama. Dari Muntilan dan Mungkid, wisatawan dapat menuju kawasan lereng Merapi di Srumbung dan Dukun, atau kembali ke arah Kota Magelang menuju lereng Sumbing di Sawangan dan Kaliangkrik. Jalur Magelang-Yogyakarta, dengan kata lain, adalah tulang punggung yang darinya cabang-cabang wisata bercabang ke segala arah. Memahami tulang punggung ini membantu wisatawan merencanakan perjalanan yang lebih efisien, tanpa harus kembali ke titik awal setiap kali berganti tujuan.
Apa yang berubah dan apa yang tidak berubah
Yang berubah dari jalur ini adalah permukaannya, kendaraannya, dan kecepatannya. Jalan tanah dan pedati telah digantikan jalan aspal dan bus, shuttle, serta mobil pribadi. Waktu tempuh yang dulu memakan waktu seharian kini memakan waktu satu hingga dua jam. Fasilitas di sepanjang jalan, dari SPBU hingga rumah makan dan penginapan, telah tumbuh mengikuti arus kendaraan. Perubahan ini adalah perubahan yang nyata dan dapat dirasakan setiap pengguna jalan.
Yang tidak berubah adalah fungsinya. Jalur ini tetap menghubungkan pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan di Magelang dan Yogyakarta. Jalur ini tetap dilalui hasil pertanian dari Kedu menuju pasar kota, dan tetap dilalui pelajar dan pekerja yang bergerak antara dua kota. Jalur ini tetap menjadi tempat bertemunya warga dari dua provinsi yang budayanya menyatu, meskipun administrasinya berbeda. Fungsi yang bertahan ratusan tahun ini adalah alasan mengapa jalur ini tak pernah sepi: ia bukan jalan menuju satu tempat, melainkan jalan yang menghidupi banyak tempat.
Yang juga tidak berubah adalah tantangan di jalur ini, yaitu kepadatan, keselamatan, dan keadilan akses. Kepadatan akan selalu menjadi persoalan pada jalur yang menghubungkan dua pusat yang terus tumbuh. Keselamatan akan selalu menjadi persoalan pada jalan yang dilalui kendaraan besar, kendaraan kecil, pejalan kaki, dan pedagang dalam satu ruang yang sama. Keadilan akses akan selalu menjadi persoalan, karena warga di kecamatan yang jauh dari jalur utama tidak selalu menikmati kemudahan yang sama dengan warga di koridor utama. Tantangan-tantangan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan melebarkan jalan, melainkan juga dengan menata angkutan umum, halte, dan informasi rute.
Menempuh jalur ini dengan cara yang baik
Bagi pendatang yang hendak menempuh jalur ini, panduan praktisnya sederhana. Pertama, tentukan tujuan akhirnya dengan jelas: Kota Yogyakarta, Borobudur, Muntilan, atau kawasan Sleman. Tujuan yang berbeda membutuhkan cabang yang berbeda, dan salah cabang di Muntilan dapat menambah waktu tempuh secara signifikan. Kedua, pilih moda yang sesuai dengan kebutuhan: bus atau shuttle untuk perjalanan langsung, bus umum untuk perjalanan yang fleksibel, dan kendaraan sewa untuk perjalanan berkelompok atau dengan banyak barang.
Ketiga, beri jeda waktu yang cukup, terutama bila memiliki jadwal lanjutan seperti penerbangan, pertemuan, atau kunjungan ke Borobudur yang memiliki jam buka. Waktu tempuh satu hingga dua jam adalah gambaran umum, bukan jaminan. Hujan, kepadatan pasar, dan musim liburan dapat menambah waktu tempuh secara signifikan. Keempat, perhatikan titik turun dengan saksama, terutama di Sleman, di mana penanda kilometer Jalan Magelang masih dipakai sebagai patokan. Menyebut kilometer tujuan kepada pengemudi atau kondektur dapat membantu, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan nama kawasan atau patokan bangunan yang dikenal.
Kelima, hormati warga di sepanjang jalur. Jalur ini bukan sekadar rute wisata, melainkan jalan kehidupan warga yang tinggal, berdagang, dan bersekolah di sepanjangnya. Berkendara dengan kecepatan yang wajar, tidak membunyikan klakson secara berlebihan di kawasan permukiman, dan berhenti hanya di tempat yang aman adalah bentuk penghormatan yang sederhana tetapi penting. Wisatawan yang menghormati jalur akan lebih mudah diterima warga, dan perjalanan pun menjadi lebih menyenangkan bagi semua pihak.
Pada akhirnya, Jalan Magelang-Yogyakarta adalah cermin dari hubungan Magelang dan Yogyakarta itu sendiri: dekat, lama, dan saling membutuhkan. Magelang membutuhkan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan transportasi lanjutan. Yogyakarta membutuhkan Magelang sebagai penyangga pertanian, pariwisata, dan tenaga kerja. Jalan yang menghubungkan keduanya bukan hanya aspal dan marka, melainkan urat nadi dari hubungan itu. Selama kedua kota terus tumbuh, jalur ini akan terus ramai, dan selama jalur ini terus ramai, kisahnya akan terus bertambah, satu perjalanan pada satu waktu.



1 Komentar